- Setelah gajah, kali ini harimau benggala bernama Anggun mati di R Zoo, Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pegiat satwa pun serukan evaluasi menyeluruh kebun binatang milik Rahmat Shah, Ketua Umum Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) itu.
- Anggun, merupakan penghuni baru kebun binatang tersebut, bersama satu harimau benggala lain bernama Ganza. Predator puncak itu berasal dari Semarang Zoo yang datang ke sana 17 Maret.
- Novita Kusuma Wardani, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, menyatakan, pemindahan satwa sudah sesuai prosedur. Termasuk pemeriksaan kesehatan dan pendampingan oleh dokter hewan selama perjalanan.
- Singky Soewadji dari Wildlife Observer, menyebut, kajian mereka menunjukkan kebun binatang R Zoo perlu banyak koreksi. Ada beberapa poin penting dan mendesak untuk evaluasi supaya tidak ada lagi satwa liar yang mati karena penanganan yang tidak tepat.
Kabar duka kembali datang dari Kebun Binatang R Zoo, di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut). Setelah kematian gajah sumatera Ratna, satu harimau benggala betina, usia delapan tahun, bernama Anggun, tergeletak mati dalam kandangnya, akhir Maret. Pakar satwa mendesak evaluasi kebun binatang ini.
Anggun merupakan penghuni baru kebun binatang itu, bersama satu harimau benggala lain bernama Ganza. Predator puncak itu berasal dari Semarang Zoo yang datang ke sana 17 Maret.
Rahmat Shah, pemilik R Zoo ketika Mongabay konfirmasi, membenarkan peristiwa itu. Dia tidak mau berkomentar banyak karena, kondisi kesehatan hewan sudah menurun, dan dalam keadaan sakit.
Tim medis, katanya, sudah mengupayakan pertolongan pertama dan berbuat maksimal agar kondisi kesehatan Anggun tidak terus drop.
“Maaf, memang nyampai sudah sakit dan ada lukanya. Semua sudah berusaha untuk penyembuhannya, tetapi tidak tertolong,” katanya.
Informasi yang Mongabay peroleh dari manajemen R Zoo, Anggun mengalami gangguan nafsu makan selama perjalanan. Ia teramati hanya makan kurang lebih setengah kilogram daging pada 18 Maret.
Keduanya tiba di R Zoo pada 21 Maret sekitar pukul 03.00 WIB. Saat kedatangan, harimau benggala ini sudah tidak mau makan.
Sehari pasca kedatangan, Anggun masih belum menunjukkan respons makan dan tetap tidak mau mengonsumsi apapun.
Selanjutnya, 23 Maret, ada pembengkakan pada bahu kanan Anggun. Setelah observasi tim dokter hewan, pembengkakan itu dugaannya berupa abses, lalu ia mendapat penanganan intensif.
Penanganan berupa pemberian antiradang, antibiotik, suportif, dan fluid therapy sesuai kebutuhan Anggun. Berbagai cara untuk membantunya agar mau makan juga tim lakukan, mulai dari variasi pakan dan berbagai metode pemberian pakan penunjang untuk menegakkan diagnosis.
Dari pemeriksaan hematologi dan biochemistry, tim dokter menemukan gangguan fungsi pada organ hati dan ginjal. Pemeriksaan test kit virus yang umum pada golongan feline, hasilnya negatif virus FIP, FPV, FCoV, dan Giardia.
Hingga 27 Maret, Anggun masih tidak mau makan dan masih ada luka abses pada bahu sebelah kanan. Ia mati pukul 13.16 WIB.

Sesuai prosedur
Novita Kusuma Wardani, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, menyatakan, pemindahan satwa sudah sesuai prosedur. Termasuk pemeriksaan kesehatan dan pendampingan oleh dokter hewan selama perjalanan.
Dia tidak mau berkomentar ihwal kesehatan Anggun di wilayah asalnya. Hal itu, katanya, tanggung jawab BBKSDA Jawa Tengah untuk memberikan jawaban.
“Baru di tengah jalan terpantau kondisi harimau benggala ini tidak nafsu makan. Nekropsi sudah dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian harimau ini,” katanya.
Terus matinya satwa di R Zoo, mulai dari rusa hingga kasus Anggun yang teranyar, dia bilang BKSDA terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap seluruh lembaga konservasi di Sumut. Namun, katanya, evaluasi itu tidak boleh hanya berdasarkan asumsi tanpa landasan fakta serta kondisi riil pengelolaan dan penanganan manajemen.
Pengawasan dan pengecekan itu, lanjutnya, mereka lakukan berkala. Adanya kasus seperti Anggun, mendorong pengecekan khusus, termasuk uji laboratorium serta pakannya.
Misal, kematian gajah Ratna yang lalu membuat BKSDA melakukan pengecekan laboratorium soal kualitas air di sana yang juga jadi konsumsi satwa-satwa lain. Hasilnya, mereka temukan riwayat penyakit gajah sebelum pindak ke R Zoo.
Dia bilang, perlakuan terhadap satwa di sana sudah sesuai standar. Begitu juga dengan harimau benggala yang mati ini.
Pengecekan dan evaluasi, katanya, bukan hanya terhadap lembaga konservasi umum saja, tetapi lembaga-lembaga konservasi khusus. Contoh, pada pusat rehabilitasi orang utan dan harimau sumatera.
“Monitoring dan evaluasi terhadap lembaga konservasi, tentu tetap kami lakukan secara rutin, terlebih bila ada kejadian khusus.”

Perlu koreksi
Singky Soewadji dari Wildlife Observer, menyebut, kajian mereka menunjukkan kebun binatang R Zoo perlu banyak koreksi. Ada beberapa poin penting dan mendesak untuk evaluasi supaya tidak ada lagi satwa liar yang mati karena penanganan yang tidak tepat.
Pertama, sarana dan prasarana di sana tidak representatif untuk menjadi sebuah kebun binatang modern. Harusnya R Zoo bisa lebih bagus daripada kebun binatang lain, apalagi Rahmat Shah adalah Ketua Umum Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).
Dia beri contoh Gembira Loka Zoo Yogyakarta yang baik dalam memfasiliasi gajah-gajah di sana.
“Soal fasilitas terbaik buat satwa prioritas seperti gajah Sumatera itu menurut saya yang terbaik di Gembira Loka. Kalau R Zoo kalah jauhlah bila bicara fasilitas ya,” katanya pada Mongabay.
Kedua, kandang-kandang di R Zoo juga tidak representatif buat satwa-satwa di sana. Padahal, kandang merupakan salah satu dari sejumlah fasilitas yang harus berstandar kebun binatang modern.
Ketiga, sumber daya manusia, termasuk dokter hewan, di R Zoo juga belum memenuhi standar. Hal ini terlihat dari penanganan satwa-satwa yang tampak masih banyak kelemahan ketika menangani satwa tengah sakit atau kekebalan tubuhnya menurun.
Dari pengamatan dan analisisnya, dokter hewan di sana belum mampu mengerjakan tugas dengan benar. Masih minim pengalaman menangani satwa liar.
“Perlu diberikan mentor yang berpengalaman seperti dokter hewan Anhar Lubis, bisa ‘dicuri’ ilmunya. Bukan hanya karena megang kucing sudah langsung disuruh menangani harimau, itu salah besar dan inilah yang terjadi di kebun binatang tersebut.”
Keempat, maintenance atau perawatan R Zoo masih di bawah rata-rata. Misal, kualitas air buruk, padahal itu penting untuk kebutuhan satwa. Juga, pakan yang terindikasi buruk, terutama minimnya pemberian nutrisi terbaik buat satwa-satwa yang ada.
“Jadi, satwa-satwa yang mati itu tidak ditangani dengan baik dan benar, kualitas air yang buruk dan pemberian nutrisi saya duga minim dan tidak sesuai standar.”
Dia pun mendesak Kementerian Kehutanan melakukan investigasi dengan melibatkan tim independen, mulai dari pakar, akademisi, praktisi satwa liar yang di dalamnya juga melibatkan tim dari Ditjen Gakkum LHK. Karena, banyak keganjilan atas kematian Anggun.
Alasan penurunan kesehatan sejak perjalanan dari Semarang ke Sumut, katanya, terkesan hanya pembenaran. Sebab, mustahil harimau itu tiba-tiba drop di perjalanan dan kondisi terus memburuk hingga mati di R Zoo.
Kementerian Kehutanan, katanya, sudah menetapkan aturan standar dalam tukar-menukar satwa. Salah satu syarat pentingnya adalah satwa harus dalam keadaan sehat.
Di tempat asal, sebelum proses pengiriman, harimau benggala itu harus karantina terlebih dahulu. Pemeriksaan darah serta kondisi kesehatannya sangat seksama sebelum mengambil keputusan untuk memberangkatkannya ke provinsi lain, termasuk memastikan adanya virus atau kuman yang bisa menularkannya ke satwa lain atau ke manusia di sekitar.
Harimau baru bisa berangkat jika hasil karantina dan pemeriksaan membuahkan hasil yang baik. Sisi lain, harimau memiliki daya tahan tubuh cukup baik dan mampu tidak makan tiga hari asal tetap minum.
Dia ragu, Anggun tidak mendapat minum dalam perjalanan empat hari. Karena itu, dia percaya kondisi si belang baik-baik saja saat berangkat. Jika kondisi memang tidak sehat dari awal, maka syarat pemindahan sebenarnya tidak terpenuhi.
“Berarti, otoritas di tempat asal dan otoritas tempat tujuan melanggar aturan tetap atau standar tukar-menukar satwa.”
Karena itu, dia melihat penjelasan harimau benggala itu drop di tengah jalan hanyalah alibi supaya otoritas terkait tidak mendapat sanksi karena pelanggaran.
Asumsi lain, Anggun mati di R Zoo, tetapi agar tidak mendapatkan sanksi, maka manajemen perusahaan juga memberikan pernyataan si belang itu kesehatannya sudah menurun ketika di perjalanan. Atau, harimau itu mati karena tidak maksimal tim medis kebun binatang.
“Fasilitas yang kurang baik, sumber daya manusia khususnya dokter hewan, kandang dan maintenance yang buruk kemungkinan besar menjadi faktor utama harimau benggala ini mati.”

*****