- Instalansi panen air hujan mulai menjamur di Kalurahan Balong. Warga yakin cara ini bisa membantu mereka hadapi kemarau.
- Kebiasaan menampung air hujan ini sendiri terbentuk sejak ratusan tahun lalu oleh leluhur di desa tersebut. Perubahan tata ruang, terutama karena pembangunan Jalur Lintas Selatan dari Banten hingga Jawa Timur yang mengenai kawasan karst Gunungkidul, menyebabkan mata air yang ada turut susut termasuk telaga yang jadi pasokan utamanya.
- Gusdurian di Banguntpaan, Bantul, menjadi komunitas lain yang memanfaatkan sistem panen air hujan untuk memenuhi kebutuhan. Mereka membangun instalasinya pada Januari lalu.
- Halik Sandera, pegiat Sekolah Air Hujan yang berbasis di Sleman, Yogyakarta, menyebut, instalasi panen hujan adalah solusi efektif penanganan krisis air. Sayangnya sistem ini tak pemerintah lirik sebagai cara mengentaskan krisis tersebut.
Warga Kalurahan Balong, Kapanewon Girisobo, Yogyakarta, mulai memanfaatkan air hujan yang turun di ujung musim penghujan awal April. Dengan begitu, mereka tak perlu khawatir memenuhi kebutuhan minum tahun ini. Jadi, desa yang langganan krisis saat kemarau itu bisa menyaring lebih dari 5.000 meter kubik air hujan dan menyimpannya di balai desa.
Mereka sudah mengantisipasi kemarau panjang yang BRIN umumkan akhir Maret lalu. Lembaga ini memperkirakan El Nino berlangsung April hingga Oktober nanti dengan suhu yang lebih panas dari kemarau biasanya.
Warga lalu mengantisipasi dengan memanen air hujan sejak Januari lalu. Instalasi penampungan hujan menggunakan sistem penyaringan ini higienis karena menggunakan teknologi yang telah teruji oleh Sekolah Air Hujan (SAH) yang sudah ada di banyak wilayah.
“Kami memprediksi berdasarkan penanggalan tradisional titimangsa kalau kemarau tahun ini jadi lebih panjang waktunya. Makanya membangun instalasi dengan air yang siap konsumsi karena ini yang paling penting” kata Purwanta, Carik Kalurahan Balong.
Wilayah di ujung selatan Gunungkidul ini membangun instalasi pemanen air hujan pada Desember 2025. Tujuannya, meminimalisasi krisis air yang berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.
Hampir tidak ada sumur di wilayah itu karena kontur yang seluruhnya kawasan karst. “Pernah dua kali membangun sumur bor bantuan dari pemerintah, sudah mengebor sampai 100 meter tetap tidak ada air,” kata Purwanta, Sekretaris Kalurahan Balong.
Dulu, telaga jadi salah satu sumber air warga. Sekarang, sudah jadi lapangan bola karena tak ada lagi air yang keluar.
“Sumber air lainnya dari air hujan, tapi hanya dengan bak penampungan terbuka tidak dengan teknologi penyaringan,” kata pria 45 tahun itu.
Kebiasaan menampung air hujan ini sendiri terbentuk sejak ratusan tahun lalu oleh leluhur di desa tersebut. Perubahan tata ruang, terutama karena pembangunan Jalur Lintas Selatan dari Banten hingga Jawa Timur yang mengenai kawasan karst Gunungkidul, menyebabkan mata air yang ada turut susut termasuk telaga yang jadi pasokan utamanya.
Dengan sistem panen hujan itu, Purwanta yakin kebutuhan air saat kemarau dapat lebih teratasi. Air siap konsumsi yang sudah terkumpul itu sekitar 5 juta liter cukup untuk kebutuhan minum sebanyak 4.003 penduduk di sana.

Mudah dan murah
Purwanta bilang, desanya memilih instalasi panen air hujan karena lebih hemat biaya ketimbang cara lain untuk memenuhi kebutuhan.
“Adaptasi penerapannya juga lebih dekat dengan masyarakat kami yang sebelumnya menggunakan tampungan air, harapannya tinggal pasang penyaringnya saja.”
Biaya untuk pemasangan pipa beserta penyaring air siap konsumsi ini tak sampai Rp1 juta untuk rumah tangga. Instalasinya juga relatif mudah dengan arsitektur rumah warga yang memang kebanyakan sudah memiliki talang.
Menurutnya, cara ini lebih ramah lingkungan karena tak seperti sumur bor yang harus merusak tanah. “Perawatannya juga mudah tidak perlu banyak biaya, terpenting atap dalam kondisi bersih saja.”
Painah, ibu rumah tangga di Balong, menyebut, air hasil panen hujan itu lebih hemat ketimbang langganan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), atau beli dari truk tangki. Dia tak perlu membayar sepeserpun untuk tiap galon air yang dia ambil dari balai desa.
Dia mengakut tidak pernah dapat gangguan kesehatan selama mengonsumsi air dari sistem tersebut, sejak Januari lalu.
“Airnya bersih, terjamin higienis. Malah saya merasa lebih segar dan sehat kalau dari sana,” kata Ketua PKK Kalurahan Balong itu.
Akses terhadap sumber air dari panen hujan ini, lanjutnya, lebih mudah ketimbang sumber lain. Sebab, air dari PDAM lebih sering mati karena banyaknya pengguna dalam satu waktu yang sama, sementara truk tangki yang menjajakan air perlu antri dalam pengantarannya.
Karena kelebihan ini, warga, terutama kelompok ibu rumah tangga, mulai meminatinya.
“Sudah banyak yang tertarik untuk bikin di rumah masing-masing, karena kalau hanya mengandalkan yang ada di balai desa harus berbagi dengan warga lainnya juga.”
Makin banyaknya praktik panen hujan di tiap rumah tangga, menurutnya, akan menjamin pemenuhan kebutuhan air.
“Karena hujan, kan, menyebar merata tidak hanya di balai desa saja, jadi mestinya dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tidak ada lagi krisis air.”

Berbasis komunitas
Gusdurian di Banguntpaan, Bantul, menjadi komunitas lain yang memanfaatkan sistem panen air hujan untuk memenuhi kebutuhan. Mereka membangun instalasinya pada Januari lalu.
Sebelumnya, Gusdurian memanfaatkan galon isi ulang untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Sekarang mereka tinggal membuka keran dari perangkat elektrolisis untuk mendapatkan air segar.
Mereka rata-rata butuh 1 galon per hari untuk 15 orang yang beraktivitas di sana. “Sekarang sudah tidak pakai galon isi ulang, jadi lebih hemat karena bisanya habis Rp8.000 per hari kalau sebulan sudah Rp240.000,” kata Nur Solikhin, pengurus Gusdurian.
Kapasitas penampungan air hujan di sana sebanyak 6.000 liter dengan tiga toren. Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan air hingga enam bulan selama musim kemarau.
Gusdurian beranggapan, substitusi kebutuhan air dari beli ke panen hujan bukan cuma hemat, tapi bisa memberi contoh ke anggota.
“Kami memang punya nilai dan program terkait masalah lingkungan, air yang selama ini dikonsumsi dari tanah yang berdampak luas pada penurunan kualitas ekologis.”
Program ramah lingkungan itu adalah Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi (Jagat). Sistem panen hujan yang sudah teruji ini akan mereka promosikan melalui agenda itu.
Solikhin menjelaskan, selama mengonsumsi air dari sistem tersebut tidak ada anggota Gusdurian yang mengalami kendala kesehatan.
“Secara perawatan juga mudah dan murah, kami juga punya SOP [standar operasional prosedur] untuk memastikan kualitasnya. Sekarang banyak anggota yang mulai ambil dari sini juga untuk kebutuhan rumah masing-masing.”
Standar operasi itu mengatur pembersihan talang sebagai penyalur air hujan sebulan sekali, penampungan setelah 10 menit hujan, hingga awal musim hujan belum melakukan penampungan. Pemeriksaan partikel yang terkandung dalam air juga rutin dengan total dissolved solids (TDS) yang selama ini hasilnya selalu di bawah 10 miligram per liter.
“Hasil TDS itu menunjukan kualitas airnya mendekati kemurniannya, dibanding galon isi ulang yang nilainya rata-rata 50 miligram per liter maka lebih sehat air hujan.”

Solusi krisis air
Halik Sandera, pegiat Sekolah Air Hujan yang berbasis di Sleman, Yogyakarta, menyebut, instalasi panen hujan adalah solusi efektif penanganan krisis air. Sayangnya sistem ini tak pemerintah lirik sebagai cara mengentaskan krisis tersebut.
Selama ini, katanya, pemerintah cenderung melakukan pembangunan sumur bor dan pengangkutan tangki air.
“Cara mereka ini tidak berkelanjutan dan mahal, misalnya sumur bor itu kalau di Gunungkidul malah kadang tidak cocok karena lebih sering setelah ratusan meter mengebor tidak menemukan sumber air,” katanya.
Sementara pengangkutan tangki air tak menyelesaikan akar masalah krisis air. Padahal, biaya pembelian air dalam truk tangki jika membangun instalasi panen hujan, bisa menghasilkan lebih banyak dan berkelanjutan.
Pembangunan instalasi panen hujan, menurutnya, swadaya komunitas warga.
“Mestinya dengan anggaran, sumber daya manusia, dan kapasitas otoritasnya bisa dimanfaatkan untuk sistem ini yang ramah lingkungan.”
Halik menyebut, penerapan instalasi panen hujan juga lebih mudah ketimbang sumur bor. Selain itu, implementasinya juga menyesuaikan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat sehingga lebih aplikatif tanpa batas standar khusus.
Kini, SAH sedang mengurus hak intelektual teknologi yang mereka kembangkan.
“Supaya kedepan tidak ada yang mengklaim untuk dikomersialisasi dengan royalti, agar semua warga bisa menerapkannya tanpa direpotkan dengan izin paten.”
Secara regulasi, Undang-undang 17/2019 tentang Sumber Daya Air sudah mengakomodasi praktik baik itu. Termasuk lewat Peraturan Menteri PU 11/PRT/M/2014 tentang Pengelolaan Air Hujan pada Bangunan Gedung yang menyebut hujan sebagai sumber air baku yang sah dan dianjurkan karena memastikan siklus hidrologi lebih terjamin.
Bahkan, BPOM telah menjamin air hujan aman dengan standarisasi.
“Mestinya regulasi yang ada turut didukung dengan program nyata, terutama dengan program dan anggaran yang lebih konkrit.”

*****