- Produktivitas kepiting di Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus merosot sejak industri nikel dari tambang sampai kawasan industri nikel Morosi dengan pengelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). PT Obsidian Stainless Steel (OSS), antara lain pemilik smelter besar di sana. Hasil tangkapan dan budidaya kepiting yang sebelumnya bisa mencapai satu ton-an, kini turun hanya belasan kilogram.
- Tajuddin, nelayan asal Kapoiala Baru, Konawe katakan, selain produktivitas yang menurun, periode panen pun melambat dari masa normal 3-4 bulan, kini bisa mencapai setahunan. Para nelayan acapkali gagal menikmati hasil panen lantaran kepiting hasil budidaya mati secara massal. Sebagian nelayan terpaksa beralih pekerjaan.
- Berdasar catatan petugas penyuluh perikanan, area tambak di kawasan industri smelter Konawe menyisakan luas 842 hektar per 2024. Jumlah itu menyusut 965 hektar hanya dalam kurun waktu lima tahun. Bahkan berkurang 2.000 hektar lebih dibanding luasan pada 2015 menurut data Map Biomas Auriga Nusantara.
- La Sara, Guru Besar Ilmu Perikanan Universitas Halu Oleo (UHO) menyebut, ekosistem mangrove berperan vital bagi kepiting bakau selain sebagai tempat berlindung, juga membantu menyediakan makanan seperti daun dan ranting busuk atau detritus. Saat ekosistem tersebut terdegradasi, keberlanjutan kepiting bakau juga terancam.
Produktivitas kepiting di Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus merosot sejak industri nikel dari tambang sampai kawasan industri nikel Morosi dengan pengelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). PT Obsidian Stainless Steel (OSS), antara lain pemilik smelter besar di sana. Hasil tangkapan dan budidaya kepiting yang sebelumnya bisa mencapai satu ton-an, kini turun hanya belasan kilogram.
Bukan hanya produktivitas, periode panen pun melambat dari masa normal 3-4 bulan, kini bisa setahunan. Para nelayan acapkali gagal menikmati hasil panen lantaran kepiting hasil budidaya mati massal.
“Ruginya berlipat karena biaya perawatan, pemakaian pupuk tak kembali,” ujar Tajuddin, nelayan asal Desa Kapoiala Baru kepada Mongabay, akhir 2025.
Terus menerus alami kerugian, sebagian warga memilih berhenti mengelola tambak dan beralih membuka usaha. Salah satunya, mendirikan kos-kosan bermodal uang kredit dari bank dengan menjaminkan sertifikat lahan tambak. Ada pula yang terpaksa menjual tambak Rp5.000 per meter.
Berdasarkan catatan petugas penyuluh perikanan, tambak di kawasan industri smelter Konawe tersisa 842 hektar per 2024. Jumlah itu menyusut 965 hektar hanya dalam waktu lima tahun. Bahkan berkurang 2.000 hektar lebih dibanding luasan pada 2015 menurut data Map Biomas Auriga Nusantara.
Dengan usia hampir kepala tujuh, dia tak punya pilihan kecuali bertahan menyambung hidup dari bertambak dan menangkap kepiting bakau, meski tak punya kepastian hasil.
“Tidak ada pekerjaan lain, kita mau apa cuma itu.”
Tanpa banyak tahu, perusahaan nikel ujuk-ujuk datang berkegiatan dan berkontribusi besar terhadap perubahan ruang hidupnya. Lokasi tambak hanya berjarak sekitar satu kilometer dari PLTU OSS.
Bibir pematang tambak berdampingan sepelemparan batu dari tepi jalan hauling ke smelter OSS. Berbekal motor bebek keluaran awal 2000-an, dia tak memiliki akses lain kecuali jalanan berdebu saat panas dan berlumpur tatkala hujan itu untuk sampai ke tambak.
Kondisi lahan tambak relatif merata keruh gelap menyerupai kopi susu. Jejak partikel debu batubara mengapung di permukaan tambak.

Tajuddin sudah cukup lama tak menikmati panen sejak smelter mulai beroperasi. “Oi ini perusahaan kasih capek kita. Capekku saya kerjakan ini,” katanya sambil memandangi salah satu petakan tambak yang mengering terbengkalai.
Tangkap kepiting tidak lagi semujur dulu. Dulu, dia dengan mudah mendapatkan kepiting dengan mengambil langsung pakai tangan. Kini, alat tangkap bubu kerap melompong meski terpasang berhari-hari. Alhasil, dia kerap pulang hanya membawa pakaian basah di badan.
Saat Mongabay mengunjunginya November lalu, beberapa alat tangkap bubu Tajuddin yang berbentuk kotak dan bulat itu teronggok begitu saja di pinggir pematang. Sebagian dia tumpuk di bawah kolong rumah panggungnya.
“Sekarang apa mo ditangkap, kepiting mati semua, tiada mi.”
Kini kegiatan sehari-harinya lebih banyak berada di rumah bersama anak lelaki bungsunya setelah sang istri meninggal dunia setahun lalu.
Suhuria, warga lain juga ceritakan hal serupa. Ibu tiga anak ini salah satu yang bertahan dalam mengelola tambak. Lokasinya sekitar satu kilometer sebelah timur PLTU OSS dan Sungai Motui. Luas tambak sekitar 14 hektar.
Terlihat deretan pohon mangrove di sebagian pematang. Pohon-pohon itu sengaja dia tanam sejak puluhan tahun lalu. Selain itu, tampak pula tumpukan material bekas pembakaran batubara yang menggunung berjarak tidak sampai 500 meter di sisi barat dan timur.
Demi mengurangi intensitas kerugian dia hanya memanfaatkan beberapa petak tambak untuk membudidayakan bandeng dan udang. “Nda ada mi kepiting selama ada ini tambang. Sering mati di tempat, tidak ada mi dapa. ” katanya sambil menghela napas panjang.
Dulu, budidaya kepiting bakau menjadi salah satu sumber penghasilan andalan karena bisa rutin menjual berulang kali dalam satu masa penebaran benih. Bandeng dan udang memiliki waktu sekali panen tiap kurun 3-4 bulan, meski volume penjualan lebih besar daripada kepiting.
Selain benih dibeli, tambaknya berisi kepiting dari kawasan mangrove di tepi pematang yang terbawa arus saat proses pengairan. Bahkan keseringan dijumpai keluar masuk dari sungai melewati pematang.
Dia mengantongi rupiah ratusan ribu hingga jutaan sekali menjual kepiting. Karena rutinitas menjual kepiting dia setidaknya mudah menutupi kebutuhan sehari-hari yang mendesak. Seperti kebutuhan pendidikan anak-anaknya, atau logistik dapur agar bisa terus mengepul setiap waktu.
Selama lima tahun belakangan dia mengelola tambak seorang diri. Suaminya, Amir mengidap suatu penyakit yang mengharuskan jeda dari rutinitas berat. Karena itu, semua pekerjaan tambak, mulai dari mengairi hingga pemupukan dia kerjakan sendiri. Bahkan tak jarang dia harus turun ke dalam tambak saat malam untuk menyumbat lubang pematang yang bocor.
Suhuria beberapa kali berjibaku mempertahankan keberadaan lahan tambaknya dari kepentingan perusahaan. Semisal pada 2018 saat OSS hendak menggusur tambak untuk membangun jalan hauling. Dia menolak tawaran perusahaan yang ingin membeli tambak Rp15.000 per meter.
Menurut dia, harga itu terlalu murah bila ketimbang keuntungan dari bertambak yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
“Bagaimana mau beli Rp15.000 nah kita setengah mati kerja. Mereka sering datang mau na bayar Rp40 juta, Rp30 juta, tapi kita tidak mau.”
Jerih payah penolakannya berhasil setelah perusahaan memindahkan rencana lokasi badan jalan sekian meter dari petakan tambak.
Rintangan belum berhenti. Masih di tahun yang sama perusahaan kembali menawarkan ingin membeli tanah sebagian tambaknya untuk mendirikan tower transmisi listrik. Sekali lagi, dia menolaknya.
Bukan tanpa alasan Suhuria bersikukuh mempertahankan tambak karena dari hasil tambak itu pula bisa menyekolahkan ketiga anaknya sampai perguruan tinggi. Semua berhasil merengkuh gelar sarjana ilmu kesehatan dari kampus Sulawesi dan Jawa. Dari bertambak pula, dia dan suami bisa berhaji.
Suhuria masih berkutat mengelola tambak di tengah gempuran dampak pencemaran lingkungan. Kondisi yang membawanya menjadi lebih akrab mengalami gagal panen.
Dia cerita sudah beberapa tahun berhenti membudidayakan kepiting bakau. Pasalnya, acapkali lebih duluan mati di tambak sebelum waktu panen tiba. Dia rugi modal membeli bibit puluhan kilogram tidak pernah berbalik hasil penjualan.
“Kalaupun ada cuma dua ekor. Gara-gara itang (hitam) air. Kiri kanan debu.”
Di tambak menyisakan budidaya ikan bandeng dan udang. Itupun, untuk panen, dia harus menunggu setahunan, meski hasil juga tak maksimal karena ikan dan udang hasil panen mengerdil.
Suhuria sempat coba menyiasati dengan menambah jumlah pupuk untuk meningkatkan kesuburan tambak. Namun, kualitas air yang buruk dengan warnanya yang kehitam-hitaman membuat usahanya sia-sia.
Meski tak begitu menghasilkan, dia tak memiliki pilihan lain.
“Kasih turun ki terus (menebar benih). Bagaimana kalau tidak kasih turun apa yang mo diambil kasihan tidak ada pendapatan, tidak makan gaji.”
“Seandainya kita makan gaji, ada ji ditunggu-tunggu.”

Hasil riset Walhi
Riset Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulteng 2024 mengonfirmasi dugaan paparan racun dari smelter dan PLTU OSS sebagai penyebab turunnya produktivitas kepiting di Konawe.
Melalui uji laboratorium sampel air dan sedimen sungai titik pembuangan limbah cair PLTU dan lahan tambak warga ditemukan konsentrasi kandungan logam berat kadmium (Cd) berkadar 0,0977 mg/L.
Angka itu jauh melebihi batas baku mutu 0,01 mg/L, sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Selain itu, hasil uji juga menemukan kandungan logam berat tembaga (Cu) sebesar 0,048 mg/L, melebihi ketentuan batas aman 0,02 mg/L.
Riset kolaborasi antara Saintek Avicena Kendari dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Indonesia Jata, Palu setahun sebelumnya juga ungkap temuan serupa. Hasil penelitian yang berlangsung setahun sebelumnya itu juga mengungkap kandungan kadmium (Cd) dan timbal (Pb) pada sedimen Sungai Motui yang menjadi sumber pasokan tambak warga.
Dalam penelitiannya, para periset mengambil sampel sedimen di sembilan titik. Berdasarkan hasil uji sampel tercatat kadar kadmium pada sedimen Sungai Motui di stasiun B dan C rata-rata berkisar 16.234 mg/kg sampai 17.729 mg/kg. Melebihi baku mutu 15 mg/kg sebagaimana diatur PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Sementara kadar timbal sebesar 20,739 mg/kg-23,496 sedikit lebih rendah dari standar baku mutu 25 mg/kg.
Yuyun Ismawati Drwiega, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation menyatakan, paparan debu batubara berisiko meningkatan beban pencemaran logam berat di lingkungan air.
Paparan itu, katanya, bisa berasal dari beberapa kegiatan seperti aktivitas bongkar muat di dermaga jetty atau distribusi pengangkutan batubara tanpa penutup.
Sumber polutan, katanya, juga bisa dari aktivitas pembakaran di PLTU dalam menghasilkan energi listrik. Dimana, aktivitas tersebut dapat menghasilkan fly ash dan bottom ash. Bottom ash merupakan partikel padat berdiameter 10 mikrometer (PM10) berbentuk kasar seperti butiran pasir.
Sementara debu fly ash berupa residu berbutir lebih halus dari helai rambut dengan diameter 2,5 mikrometer (PM2,5) yang menyebar secara tak kasat mata. Mudah menyusup, bahkan di lubang sekecil jarum suntik sekalipun.
Menurut Yuyun, fly ash dan bottom ash mengandung sejumlah konsentrasi logam berat antara lain merkuri, arsenik, timbal, kadmium, dan kromium.
“Apapun konsentrasi yang ada di fly ash dan bottom ash itu pasti cukup tinggi logam berat maupun racun lain. Karena dia adalah konsentrat dari hasil pembakaran, jadi pasti tinggi,” katanya, Desember lalu.
Menurut dia, limbah air bahang pembuangan PLTU berkontribusi mempercepat pelarutan zat logam berat di dalam air. Dia mengibaratkan bentuk sederhananya seperti melarutkan gula saat menyeduh kopi. Kandungan logam berat akan lebih mudah larut ketika berbaur air panas, lalu menyebar terbawa arus sampai nanti mengendap di dasar sedimen.
Mongabay berusaha mengkonfirmasi kepada kedua perusahaan terkait persoalan ini. Bahar, Humas OSS yang dihubungi melalui telepon pada 26 Desember 2025 meminta Mongabay melakukan wawancara langsung setelah tahun baru.
Ketika Mongabay hubungi ulang pada 16 dan 17 Januari, yang bersangkutan tidak merespons.
Demikian pula dengan Ihsan Amar, humas VDN. Upaya untuk mendapat penjelasan perusahaan terkait keluhan para nelayan pada 24 dan 26 Desember 2025 tidak mendapat jawaban. Begitu juga dengan email yang Mongabay kirim pada 12 Januari, tak juga mendapat respons.

Bahaya logam berat
La Sara, Guru Besar Ilmu Perikanan Universitas Halu Oleo (UHO) menyebut, konsentrasi logam berat di air dan sedimen lumpur menjadi bahaya karena bioakumulasi racun ke dalam jaringan tubuh kepiting bakau. Logam berat antara lain seperti kadmium, timbal dan tembaga memiliki sifat kimia sulit terurai di lumpur.
“Makanannya dari detritus, tidak menutup kemungkinan detritus tersebut yang menjadi sumber makanan kepiting bakau itu masuk ke perutnya dan terakumulasi ke dalam. Dan itu sudah beberapa hasil penelitian sebelumnya diduga daerah-daerah yang sudah tercemar logam berat bisa terakumulasi ke dalam tubuh kepiting,” kata La Sara di Kendari, November lalu.
Konsentrasi logam berat akan rutin terserap di tubuh kepiting bakau mengingat substrat lumpur merupakan habitat alami dalam berkembang biak. Vegetasi lumpur mempunyai fungsi ekologis sebagai benteng perlindungan ketika masa molting atau periode berganti kulit.
Saat molting, katanya, kepiting berada dalam kondisi sangat lemah lantaran daya metabolisme tubuh mengalami penurunan drastis. Maka itu, kepiting membutuhkan lumpur untuk membenamkan diri untuk menghindari ancaman predasi dari organisme lain.
“Karena ketika dia melakukan molting itu mengeluarkan bau yang menarik sekali sehingga organisme lain bisa menyerang.”
Kepiting bakau mengalami molting sebagai bagian penting dalam proses pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Dalam siklus hidup kepiting bakau melakukan molting hingga puluhan kali selama tiga masa usia, dimana paling banyak berlangsung di lingkungan alaminya lumpur ekosistem mangrove.
Menurut La Sara, siklus hidup kepiting bakau dimulai dari masa reproduksi melalui proses pemijahan. Kepiting betina kemudian membuahi telur untuk beberapa waktu sampai dua minggu sebelum penetasan. Setelah itu, beruaya ke laut dalam.
Induk kepiting berpindah mengeram di laut dalam bertekanan air tinggi dengan salinitas di atas 30 ppt. Kondisi tersebut memudahkan pelepasan gumpalan telur yang menempel pada rambut pleopod di bawah lipatan perut.
“Saya meneliti di Lawele, Kamaru (Buton) sana jaraknya sampai 12 kilometer dari garis pantai dan saya kumpulkan banyak larvanya.”
Induk kepiting menetas melepaskan larva zoea atau planktonik dan melewati lima tahap zoea. Masa pertumbuhan larva zoea kemudian menjadi megalopa dimana tubuh mulai berpenampilan menyerupai kepiting yang mempunyai ekor.
Larva zoea hingga megalopa bertumbuh kembang di perairan laut memakan plankton sambil menuju kembali ke kawasan mangrove. Di masa ini daya kekebalan tubuh kepiting belum sepenuhnya matang sehingga rentan tidak mampu bertahan hidup jika terpapar zat beracun di lingkungan air.
Tahap pertumbuhan berlanjut ke jenis megalopa yang berganti kulit untuk bermetamorfosis menjadi juvenil berupa kepiting muda berukuran jempol tangan. Stadia juvenil merupakan era awal kepiting hidup berkembang biak di habitat alami kawasan hutan mangrove.

Kepiting juvenil melakukan molting dengan menggali lubang di lumpur untuk berlindung. Lalu berjenjang tumbuh menjadi kepiting dewasa. Di usia dewasa kepiting bakau kembali berulang kali molting membenamkan tubuh di bawah lumpur atau bersembunyi di balik akar tunjang pohon mangrove.
Ekosistem mangrove berperan vital bagi kepiting bakau selain sebagai tempat berlindung, juga membantu menyediakan makanan seperti daun dan ranting busuk atau detritus. Serta jenis biota air di antaranya udang, ikan dan kerang-kerangan.
“Jadi, jangan diganggu. Ketika gangguan itu terjadi, tidak akan berkelanjutan hidupnya.”
Kepiting bakau merupakan omnivora oportunistik yang memiliki kemampuan sebagai akumulator—menyerap semua jenis makanan ditemui di alam tanpa menyaring racun kandungan logam berat.
Kontaminasi logam berat dapat mempengaruhi proses fisiologi kepiting bakau. Akumulasi zat logam berat di tubuh menyerang jaringan organ hati, otot dan ginjal. Berakibat mengganggu sistem reproduksi—menurunkan kekebalan tubuh hingga menghambat masa pertumbuhan.
“Kalau sudah di luar toleransinya pasti matilah,” jelas mantan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Perikanan (FPIK) UHO itu.
Sementara kelangsungan hidup kepiting bakau di area tambak, menurut La Sara ditentukan sejumlah kondisi. Antara lain salinitas air harus sesuai kadar garam estuari. Selain juga higienitas substrat didominasi lumpur bercampur pasir sebagaimana di habitat alami.
“Salinitasnya tidak boleh terlalu tinggi, terutama untuk pembesaran harus di bawah 30 ppt. Kalau bisa dipertahankan 18 sampai 25 (ppt). Jadi salinitas itu parameter kunci untuk kepiting bakau dengan substrat.”
“Salinitas di luar batas toleransinya tidak akan bertahan. Tidak bertahan karena mati atau tidak berkembang.”
Syarat penentu lain untuk menjamin kelangsungan hidup kepiting bakau di tambak adalah derajat keasaman atau tingkat kebasaan larutan air. Indikator basa normal berkisar antara 7-8 pH. Selain itu, suhu di larutan air harus memenuhi standar normal maksimal antara 27-30 derajat celcius.
“Supaya dia tumbuh dan berkembang bagus, suhunya juga harus dijaga jangan sampai ada buangan limbah hasil pemanasan dibuang di situ. Itu bisa terjadi absurd jadi suhu naik tiba-tiba itu pasti mati.”
Para petambak seringkali mengalami kondisi temperatur air di tambak mereka serasa panas menyengat dalam waktu tertentu seperti pagi menjelang siang hingga saat petang. Kejadian ini diduga akibat aliran pembuangan limbah air bahang dari PLTU OSS. “Panas kalau turun kerja. Kencang itu panasnya. Paling tahan itu setengah jam,” kata Tajuddin.

La Sara mengingatkan pelaku kegiatan industri nikel supaya tidak mengabaikan kelayakan lingkungan di sekitarnya yang menjadi ruang penghidupan warga. Katanya, kepiting bakau merupakan salah satu sumber daya perikanan lumbung pendapatan warga yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai komoditas unggulan di pasar ekspor.
Sejumlah negara tujuan ekspor memberlakukan sistem pengawasan ketat terhadap produk kiriman dari negara luar lebih utama untuk mencegah adanya risiko kesehatan.
Rektor Institut Teknologi Kelautan Buton itu mengingatkan peristiwa pengembalian produk ekspor udang Indonesia oleh otoritas Amerika Serikat pada September 2025 harus menjadi contoh agar tidak terulang.
Insiden itu, katanya, tidak hanya berdampak pada pendapatan negara, tapi juga merugikan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan.
*****
Nasib Nelayan Kepiting di Konawe Dalam Himpitan Industri Nikel