- Paus kepala melon (Peponocephala electra) adalah mamalia laut yang hidup di perairan laut dalam tropis dan subtropis.
- Meski nama depannya paus, namun paus kepala melon masuk famili lumba-lumba samudera (Delphinidae). Penamaan tersebut tak lepas dari kemiripian fisiknya dengan paus, dan kepala bulat menyerupai buah melon.
- Di Indonesia, masih banyak yang belum mengenal paus kepala melon. Umumnya, menyebutnya paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata). Paus kepala melon sering disebut paus pembunuh palsu, hanya karena mirip paus pembunuh kerdil.
- Aksi perdagangan paus kepala melon tercatat di dua negara, Filipina dan Jepang. Kemungkinan, hewan laut ini diburu untuk dikonsumsi atau untuk kebutuhan lainnya.
Paus kepala melon (Peponocephala electra) adalah mamalia laut yang hidup di perairan laut dalam tropis dan subtropis.
Uniknya, meski bernama depan paus, namun kepala melon masuk famili lumba-lumba samudera (Delphinidae). Penamaan tersebut tak lepas dari kemiripian fisiknya dengan paus, dan kepala bulat menyerupai buah melon.
Di Indonesia, paus kepala melon bisa ditemukan di semua perairan dengan kategori laut dalam. Salah satunya, Laut Banda. Saat muncul ke permukaan, biasanya berkelompok lebih dari tiga individu.
Secara morfologi, paus kepala melon memiliki kepala runcing dan kerucut yang akan terlihat segitiga dari atas, dengan warna tubuh dominan abu-abu. Saat dewasa, ia bisa tumbuh hingga 2,75 meter dengan berat berkisar 225 kilogram. Biasanya, jantan lebih berat ketimbang betina saat dewasa dan memiliki kepala lebih bulat, sirip lebih panjang, sirip punggung lebih tinggi, dan ekor lebih lebar. Kematangan fisik paus kepala melon pada usia 13-15 tahun dan hidup hingga 45 tahun.
Sekar Mira, peneliti mamalia laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan di Indonesia masih banyak yang belum mengenal paus kepala melon. Umumnya, menyebutnya paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata).
Meski masuk golongan Delphinidae, namun keduanya memiliki perbedaan, yaitu warna putih yang ada di sekitar mulut. Pada paus pembunuh kerdil, warna tersebut menyebar ke sekitar wajah, sementara paus kepala melon tidak.
Itu pula yang dialami Sekar saat menjalani ekspesidi OceanX leg 2 belum lama ini. Saat itu, muncul ke permukaan mamalia laut yang diyakini paus kepala melon. Saat berada di lapangan, keyakinan itu belum ada, karena fisiknya mirip mamalia laut lain.
“Makanya, paus kepala melon sering disebut paus pembunuh palsu, hanya karena mirip saja,” ucapnya kepada Mongabay, Selasa (24/2/2026).
Masih banyaknya ilmuwan atau nelayan yang belum mengenali detil paus kepala melon, bisa terjadi karena memang kemunculannya di perairan Indonesia sangat jarang. Ia hidup di kedalaman antara 4-5 ribu meter.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan statusnya dalam kelompok Risiko Rendah atau Least Concern. Peringkat tersebut menjadi yang terendah atau nomor tujuh dari daftar status konservasi. Menurut Sekar, status tersebut menjelaskan juga bahwa paus kepala melon masih belum banyak terekspos.
“Masih sedikit yang mempelajari.”

Perdagangan
The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) mengelompokkan paus kepalan melon dalam Appendix II.
Sekar menyebut, hewan yang masuk kategori tersebut, adalah yang statusnya aman atau tidak dalam ancaman punah, namun harus dikendalikan aktivitas perdagangannya.
“Di posisi seperti ini, Indonesia leading, karena sudah ada undang-undang yang melindungi seluruh mamalia laut. Artinya, preverensinya jauh ke depan kita.”
Indonesia sudah unggul karena mulai ada perhatian dan pengelolaan lebih baik lagi dengan memberi perlindungan penuh semua hewan laut berstatus kritis. Semua itu diyakini akan berdampak signifikan pada konservasi biota laut yang terancam.
Aksi perdagangan paus kepala melon tercatat di dua negara, Filipina dan Jepang. Kemungkinan, hewan laut ini diburu untuk dikonsumsi atau untuk kebutuhan lainnya.
“Tapi, perdagangannya bisa lebih luas lagi,” tambahnya.
Perburuan tersebut, sampai sekarang tidak terdengar atau terdeteksi di Indonesia. Dia yakin, masyarakat Indonesia tidak melakukannya, karena memiliki pilihan sumber makanan lain, yang sama lezatnya.
Walau minim catatan ilmiah, paus kepala melon diketahui memiliki keunikan sendiri dibandingkan spesies lain. Salah satunya, gigi berbentuk kerucut (conical) dan memiliki kesamaan dengan mamalia laut yang satu kelompok dalam Delphinidae.
Paus kepala melon tidak memiliki gigi seri, namun gigi gerahamnya terletak di atas dan bawah mulut. Ciri tersebut uniknya dimiliki jenis paus seperti paus sperma, yang berbeda famili.
“Jadi, paus kepala melon itu lumba-lumba. Namun karena ukurannya agak besar, orang biasa menyebutnya paus. Lalu, kepala jenongnya memang mirip melon, makanya dinamai kepala melon,” paparnya.

Laut Sawu
Selain laut Banda, sebuah peneilitian yang dilakukan Raudina dan kolega dari Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Semarang berhasil menemukan paus kepala melon di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.
Laut Sawu juga menjadi lokasi favorit kelompok lumba-lumba seperti paus sperma (Physeter macrocephalus) dan paus pembunuh kerdil. Namun, dibandingkan jenis lumba-lumba seperti pemintal dan risso, kemunculan paus kepala melon terhitung sedikit.
Walau bukan spesies umum yang biasa bermigrasi, paus kepala melon diketahui bisa melakukan perpindahan lokasi dengan cepat, khususnya di sekitar perairan Indo-Pasifik yang bersuhu tropis dan subtropis.
Indonesia menjadi pintu masuk paus kepala melon melalui perairan Indonesia timur. Termasuk, perairan laut Sawu yang sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut.
Baik paus atau lumba-lumba, keduanya adalah bagian dari cetacea, yang mencakup juga pesut. Paus kepala melon benapas dengan paru-paru, melahirkan dan menyusui. Jenis ini juga dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
Referensi:
A. S. Raudina, S. Redjeki, and N. Taufiq-Spj, “Biodiversitas dan Tingkah Laku Kemunculan Cetacea di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur,” Journal of Marine Research, vol. 10, no. 4, pp. 453-462, Nov. 2021. https://doi.org/10.14710/jmr.v10i4.30433
*****
Dua Ekor Paus Kepala Melon Mati Terdampar di Alor, Hendak Dikonsumsi Warga