- Di Jember, sekelompok anak muda dalam Komunitas Wiskomunalian menularkan pengetahuan lingkungan pada masyarakat. Mereka masuk ke sekolah-sekolah dan memberikan edukasi lingkungan.
- Syazwan Luftan Riady, pendiri Wiskomunalian, menyebut, gerakan itu berasal dari dorongan ilmu yang dia dapat di Sekolah Alam Raya, yang mengajarinya tentang kesadaran lingkungan. Sekolah ini merupakan organisasi yang berdiri supaya generasi muda peduli dan mengambil aksi nyata terhadap krisis iklim.
- Di jenjang sekolah dasar, lanjutnya, Wiskomunalian memakai metode belajar sambil bermain, seperti adu cepat pilah sampah. Untuk tingkat SMP dan SMA, memakai metode reflektif yang menyuguhkan gambar atau cerita, lalu siswa boleh menggambar situasi yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Baik itu tempat tinggal atau sekolah.
- Putri Lisya Anggraini, Founder Ecosociopreneur, mengapresiasi Wiskomunalian. Menurutnya, kegiatan anak-anak muda ini tidak hanya bersih-bersih, tapi menyelamatkan bumi sejak dalam pikiran melalui edukasi dan penguatan komunitas.
Syazwan Luftan Riady hampir selalu habiskan liburan sekolah di rumah neneknya di salah satu desa di Kecamatan Tempurejo, Jember, Jawa Timur. Satu waktu, saat masih duduk di Kelas 6 SD, dia saksikan langsung anak seusianya membuang sampah di sungai.
“Nak, segera buang sampah itu ke sungai. Keranjangnya sudah penuh,” katanya mencontohkan kata-kata orangtua untuk buang sampah di sungai.
Pemandangan itu kerap dia lihat dan terekam di kepala. Syzwan protes dengan kondisi itu. Dia dan kawan-kawannya gemar berjalan di bantaran sungai lalu menelusuri sampah (trash walk) di sepanjang jalan itu. Kegiatan itu mereka lakukan sejak dia masih duduk di kelas 6 SD.
Belakangan, dia lalu menggagas Komunitas Wiskomunalian yang mengurus sampah dengan konsep reduce, reuse & recycle.
Giatnya fokus melakukan pada penyelesaian masalah lingkungan, seperti pencemaran sungai karena sampah dan pemberdayaan anak muda di Jember.
Gerakan itu, katanya, karena dorongan ilmu yang dia dapat di Sekolah Alam Raya, yang mengajari tentang kesadaran lingkungan. Sekolah ini merupakan organisasi yang berdiri supaya generasi muda peduli dan mengambil aksi nyata terhadap krisis iklim.
Hasil trash walk, pun dia jadikan bahan pembuatan ecobrick. Produk itu tak berjalan lama, karena mereka harus mencuci bersih sampah plastik dan botol bekas yang mereka temukan itu.
“Namun susur sampah itu tetap berjalan dari waktu ke waktu, tapi sampahnya kami tumpuk lalu dialihkan ke tempat penampungan terdekat untuk diangkut ke TPA.”
Wiskomunalian, katanya, merupakan istilah yang terdiri dari dua kata, wisdom (kebijaksanaan) dan communal (bersama). Dia poles jadi wiskomunalian yang berarti ingin bijaksana bersama dalam urusan persampahan.
Sebab, katanya, urusan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Nama itu muncul sebelum nerima penghargaan Ashoka Young Changemaker, baru muncul tahun 2019-an,” ucap penerima penghargaan Ashoka Young Changemaker (AYC) 2021 dan Pemimpin Muda untuk Iklim dari Teens Go Green ID itu.

Penyuluhan di sekolah
Seiring waktu, Wiskomunalian tidak hanya telusuri sampah di sungai dan persawahan. Mereka pun kampanye lingkungan ke sekolah-sekolah.
Luftan tidak ingat berapa sekolah yang sudah dia sambangi. Yang jelas, kegiatan itu berlanjut sampai SMA. Mereka mulai dengan memberikan pengantar ke pihak sekolah, menceritakan profil kelompok, fokus, metode yang mereka pakai, sampai tujuan yang ingin mereka capai.
“Yaitu menyadarkan teman-teman soal lingkungan, khususnya isu sampah dengan konsep Reduce, Reuse & Recycle,” ucap Mahasiswa Semester 4 Universitas Brawijaya itu
Di jenjang sekolah dasar, Wiskomunalian memakai metode belajar sambil bermain, seperti adu cepat pilah sampah. Untuk tingkat SMP dan SMA, memakai metode reflektif yang menyuguhkan gambar atau cerita, lalu siswa boleh menggambar situasi yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Baik itu tempat tinggal atau sekolah.
Selain itu, dia juga sering ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Pakusari, Jember. Kegiatan itu dia lakukan bersama tim Wiskomunalian guna mendata sampah, berbincang dengan petugas, dan pemulung di sana.
Di sana, dia menemukan fakta sampah-sampah itu tercampur dari sampah basah dan kering.
“Kalau melihat di beberapa titik, Jember itu sudah sedia tempat sampah yang terpisah, antara yang organik dan anorganik. Tapi ketika ke TPA, sampah itu nyampur. Jadi kami mikir, itu kan percuma dipisah, tapi akhirnya tercampur.”
Sisi lain, dia menemukan tempat sampah yang memang tidak memisahkan kedua sampah itu. Misal, di depan rumah-rumah warga, gang, atau depan ruang instansi. Kedua jenis sampah ini tercampur dari titik pengumpulan pertama, sehingga tidak heran petugas langsung mengangkutnya ke TPA dalam kondisi tercampur.
Sementara, TPA Pakusari sudah overload. “Kondisi ini perlu evaluasi bersama.”

Kelola pakaian bekas
Wiskomunalian memiliki program Wisstore yang bertujuan menggalang dana untuk kegiatan komunitas. Di sini, mereka mengelola baju bekas lalu menjualnya dengan harga terjangkau.
Luftan bilang, kegiatannya bukan hanya soal uang, lebih jauh, merupakan gerakan yang mengadvokasi kekuatan daur dan guna ulang.
Melalui kampanye itu, mereka ingatkan kesadaran tentang bahaya konsumsi berlebihan, mengumpulkan pakaian yang tak terpakai, dan memberikan kehidupan kedua dengan menjualnya kembali di ruang publik.
“Wisstore hadir untuk mengurangi sampah tekstil. Karena 20% dari polusi air di seluruh dunia karena industri tekstil, salah satunya pakaian.”
Anggota Wiskomunalian yang duduk di bangku SMP yang menjalankan program ini. Mereka pakai pola donasi. Pakaian akan mereka jemput atau tunggu pengiriman dari donatur.
Selanjutnya, mereka rapikan pakain itu dan jual di area Car Free Day. Harganya mulai dari Rp5.000 – Rp100.000.
“Perhari ini, WISTORE berhasil mengumpulkan hampir 20 jutaan. Hasilnya digunakan untuk aksi lingkungan.”

Gerakan bersama
Menurut Luftan, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan satu komunitas atau gerakan tetapi harus ada kolaborasi dengan kelompok lain.
Karena itu, dia minta Pemerintah Jember mencari solusi yang variatif masalah persampahan. Salah satunya, dengan menggabungkan gerakan yang lahir secara organik dan mendukungnya dengan pola sistemik.
“TIdak perlu bentuk peraturan daerah, bentuk imbauan pun bisa. Syukur-sukur, bisa diatur dalam Perda.”
Dia contohkan, pengelolaan sampah organik, baik skala rumahan, lembaga sampai hotel, harus bisa menggandeng komunitas yang bergerak di bidang sampah organik. Contoh, dengan komunitas yang memanfaatkan magot atau kompos.
Untuk sampah botol plastik, katanya, perlu cari komunitas yang bergerak di bidang itu. Baik yang memanfaatkannya untuk seni, atau usaha daur ulang.
“Mereka perlu diberi ruang. Jadi enggak semua sampah harus ke TPA. jadi, istilahnya, buat manajemen sistem sirkular.”
Pemerintah Jember, katanya, perlu memberikan ruang ekspresi bagi pelaku seni, usaha, komunitas yang bergerak di isu ini. Tapi, harus berkelanjutan, tidak sekadar seremonial.
Dengan demikian, solusi manajemen lingkungan akan lebih baik bila cepat terlaksana.
“Kalau buat perda dan aturan itu ribet atau prosesnya lama. Maka, perangkat pemerintahan di sini bisa jadi contoh buat rekan-rekannya. Buat ajakan sederhana di media sosial, atau menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.”

Menanti perhatian pemerintah
Putri Lisya Anggraini, Founder Ecosociopreneur, mengapresiasi Wiskomunalian. Kegiatan anak-anak muda ini tidak hanya bersih-bersih, tapi menyelamatkan bumi sejak dalam pikiran melalui edukasi dan penguatan komunitas.
“Ini penting, karena persoalan sampah bukan sekadar soal estetika kota, tapi soal kesehatan ekosistem sungai dan kualitas hidup manusia,” katanya.
Menurut dia, pemerintah tidak boleh hanya memberi apresiasi, tapi menjadikan komunitas seperti Wiskomunalian sebagai mitra strategis dalam tata kelola lingkungan. Gerakan anak muda, katanya, tidak bisa menggantikan sistem, tapi mereka bisa jadi motor perubahan budaya dan perilaku.
Sehingga, lanjutnya, ada integrasi antara keduanya. Pemerintah yang bangun sistem, komunitas yang menguatkan kesadaran dan partisipasinya.
Dukungan terbaik yang bisa pemerintah berikan, katanya, ialah membuat gerakan komunitas ini semakin bertumbuh dan mandiri. Juga, menyediakan fasilitas pilah sampah yang benar-benar berjalan, ruang aktivitas komunitas, dukungan logistik untuk edukasi sekolah, serta bangun kemitraan resmi komunitas dengan Dinas Lingkungan Hidup.
Hal paling krusial, lanjutnya, memastikan sistem pengangkutan sampah terpilah tidak dicampur lagi di hilir. Karena kondisi itu membuat edukasi terhadap masyarakat kehilangan maknanya.
Wiskomunalian merupakan contoh gerakan anak muda yang lahir dari kepedulian ekologis yang nyata dan tumbuh jadi aksi kolektif yang konsisten, mulai dari edukasi lingkungan, trash walk, hingga penguatan organisasi komunitas.
Dalam perspektif ekologi dan konservasi, gerakan seperti ini penting karena menjaga sungai dan ruang hidup bukan hanya soal kebersihan, tetapi soal kesehatan ekosistem dan kualitas hidup masyarakat.
Ke depan, Wiskomunalian bisa semakin kuat dengan memperjelas indikator dampak, membangun sistem regenerasi, serta mengembangkan riset sederhana agar programnya makin terukur dan kredibel.
*Liputan ini sebagai tindak lanjut dari Media Fellowship Climate Communication Workshop*

*****
Insiatif Para Mahasiswa di Jogja Atasi Ketimpangan Pangan dan Krisis Iklim