Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove dan refleksi mendalam atas fenomena gerhana di langit yang kian terpolusi. Kesucian ibadah menjadi mustahil terwujud tanpa tanah yang sehat, air sungai yang bersih, dan hutan yang tetap tegak berdiri.