- Bagi Suku Bajo di Torosiaje, Gorontalo, penentuan awal ramadan untuk umat muslim berpuasa tidak dilakukan dengan melihat hilal di langit, tapi memantau laut dengan melihat padang lamun.
- Dalam bahasa Suku Bajo, lamun disebut sammo. Kalau sammo sudah berbunga, maka itu menandakan bahwa awal Ramadan sudah tiba. Tanda ini juga bisa dipakai untuk menentukan awal bulan Syawal atau Idul Fitri.
- Dalam laporan Japesda, spesies lamun yang ditemukan di Torosiaje meliputi Enhalus acoroides (tutupan seluas 70,25%), Oceana serrulata (69,27%), Thalassia hemprichii (50%). Lalu spesies pendukung lainnya seperti Cymodocea rotundata (17,56%), Halophila ovalis (5%), dan Halodule pinifolia (2,82%).
- Hubungan emosional dan spiritual ini membuat Suku Bajo memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca laut, termasuk melalui fenomena arus, ombak, dan pertumbuhan biota seperti lamun.
Bagi sebagian besar umat muslim, datangnya bulan suci Ramadan ditandai dengan pengamatan hilal atau bulan sabit tipis di ufuk langit. Namun, di perairan Teluk Tomini, tepatnya di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, masyarakat Suku Bajo memiliki cara unik menentukan kapan dimulainya bulan puasa.
Alih-alih menengadah ke langit mengamati hilal, para sesepuh Bajo, dulunya membaca tanda-tanda awal Ramadan justru dari laut, yakni dengan memastikan kemunculan bunga lamun. Selain sebagai sebuah tradisi, praktik ini menjadi cerminan dari sistem pengetahuan lokal masyarakat yang terintegrasi dengan alam.
Suku Bajo memiliki kearifan bahwa perubahan musim dan siklus biologis di laut adalah isyarat dari alam. Ketika bunga lamun mulai bermekaran di padang lamun, itulah sinyal alam bahwa bulan penuh berkah telah tiba.
“Dalam Suku Bajo, lamun itu artinya sammo. Kalau sammo sudah berbunga, itu pertanda awal Ramadan dan juga bisa dipakai untuk menentukan awal bulan Syawal atau Idul Fitri,” kata Husain Onte, tokoh masyarakat Bajo di Desa Torosiaje, kepada Mongabay Indonesia, Senin (24/2/2026).

Husain bercerita, dulu orang-orang tua Suku Bajo belum mengenal konsep waktu berbasis jam dan kalender, sehingga alam memberikan penanda bagi mereka. Salah satunya, dengan memperhatikan detil; ketika lamun mengeluarkan seperti gabus-gabus kecil yang berarti itu adalah bunganya, merupakan pertanda bulan baru tiba. Praktik ini sampai sekarang masih tetap dijadikan sebagai rujukan oleh sebagian masyarakat Bajo di Torosiaje.
Desa Torosiaje secara umum dikenal sebagai perkampungan terapung di laut dangkal. Rumah-rumah didirikan dengan tiang pancang yang menancap ke laut dan permukiman warga masing-masing terhubung jembatan kayu. Untuk mencapai perkampungan ini, harus ditempuh dengan ojek perahu sekira lima menit. Perkampungan ini juga di beberapa titik dikelilingi padang lamun, bahkan ojek perahu akan melewati padang lamun saat menuju rumah warga.
“Jadi kalau mau melihat tanda-tanda awal bulan Ramadan, bisa melihat dari kampung atau naik perahu ke titik terdapat padang lamun. Jika muncul bunga, itu pertanda sudah masuk satu Ramadan. Tapi karena di zaman moderen sekarang, sebagian besar warga mengikuti pengumuman dari pemerintah,” kata Husain.

Pendataan lamun
Saiful Rahman, Abdulkadir Rahardjanto, dan Husamah, dalam buku berjudul “Mengenal Padang Lamun (Seagrass Beds)” menyebut bahwa lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup terendam di perairan laut dangkal dan estuari. Tumbuhan ini memiliki struktur lengkap berupa daun, seludang, rhizoma (rimpang) yang menjalar di dasar, serta akar yang tumbuh dari rhizoma.
Kumpulan satu atau beberapa jenis lamun membentuk hamparan luas yang disebut padang lamun. Menurut mereka, ekosistem padang lamun termasuk yang paling produktif di laut dan berperan penting dalam dinamika nutrien pesisir. Sebagai satu-satunya kelompok tumbuhan laut berbunga yang sepenuhnya beradaptasi dengan salinitas tinggi, lamun memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati yang memungkinkannya hidup terbenam di air.

Di Torosiaje, penggunaan bunga lamun sebagai penanda Ramadan membawa pesan konservasi yang kuat. Ummul Uffia Abubakar, staf lapangan Japesda, sebuah NGO lingkungan di Gorontalo, menegaskan bahwa lamun di Torosiaje bukan sekadar rumput laut biasa, melainkan nursery ground atau tempat perlindungan dan sumber makanan bagi berbagai spesies ikan. Sebut saja, ikan terumbu karang Choerodon anchorago yang banyak ditemukan di sana.
Dengan menjaga ekosistem pesisir, masyarakat secara tidak langsung memastikan keberlanjutan tradisi dan ibadah mereka. Jika lamun rusak akibat illegal fishing atau pencemaran, maka tidak hanya hasil tangkapan menurun, tetapi juga isyarat alam untuk memulai bulan suci Ramadan akan hilang.
“Meskipun teknologi moderen kini masuk Torosiaje, cerita tentang bunga lamun penanda Ramadan tetap menjadi pengingat penting bahwa bagi Suku Bajo, urusan langit dan laut adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam harmoni alam,” ungkap Ummul, Senin (24/2/2026).

Pada Agustus 2025, Japesda melakukan monitoring ekosistem pesisir lamun dan mangrove partisipatif, yakni melibatkan nelayan, termasuk Husain Onte yang juga sebagai ketua kelompok nelayan. Laporan Japesda berjudul “Monitoring Ekosistem Pesisir Lamun dan Mangrove: Desa Torosiaje, Popayato, Gorontalo”, memberikan gambaran nyata mengenai kondisi “kalender laut” ini di Desa Torosiaje. Berdasarkan pendataan di tiga lokasi: yakni Bonda, Pulau Torosiaje Kecil, dan Pulau Torosiaje Besar, ditemukan enam jenis spesies lamun yang menyusun ekosistem tersebut.
Spesies yang ditemukan meliputi Enhalus acoroides, jenis paling dominan dengan rata-rata tutupan mencapai 70,25%, Oceana serrulata memiliki tutupan sebesar 69,27%, dan Thalassia hemprichii menyumbang tutupan sebesar 50%. Lalu, spesies pendukung lain seperti Cymodocea rotundata (17,56%), Halophila ovalis (5%), dan Halodule pinifolia (2,82%).
Secara keseluruhan, kualitas ekologi lamun di Torosiaje berada pada kategori sedang atau moderate dengan nilai Seagrass Ecological Quality Index (SEQI) sebesar 0,65. Menariknya, di titik Pulau Torosiaje Besar, kondisi lamun berada pada kategori baik dengan nilai SEQI mencapai 0,73. Tiga lokasi ini juga dikelola nelayan Torosiaje sebagai lokasi penutupan sementara untuk penangkapan gurita. Hal ini menandakan bahwa “kalender laut” Suku Bajo di area tersebut masih berfungsi secara maksimal dalam ekosistem.
Ekosistem lamun memiliki fungsi ekologis yang sama dengan terumbu karang dan juga hutan mangrove. Lamun penting dalam ekosistem perairan, yaitu area ini memiliki fungsi sebagai tempat mencari makan (feeding ground), pemijahan (spawning ground), dan daerah pembesaran (nursery ground).
“Lamun juga penting karena sebagai sumber pakan dan juga pendapatan bagi nelayan skala kecil yang ada di Torosiaje,” ungkap Ummul.

Laut sebagai ibu
Kearifan dalam menentukan waktu ibadah melalui tanda alam ini sejalan dengan filosofi mendalam Suku Bajo yang memandang laut sebagai entitas sakral. Dalam penelitian berjudul, “Kosmologi laut dan etika lingkungan: Analisis antropologi ekologi terhadap praktik kehidupan Suku Bajo di Desa Mekar Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe” yang dilakukan Mursin, Zulzaman, dan Hardin dari Universitas Halu Oleo, disebutkan bahwa Suku Bajo memaknai laut sebagai ibu yang memberi kehidupan, perlindungan, dan keberlanjutan.
“Filosofi ini menempatkan laut sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga, bukan dieksploitasi berlebihan,” tulis para peneliti di jurnal Sabana, edisi Desember 2025.
Filosofi laut sebagai ibu berperan penting mewarisi pengetahuan lokal dan identitas sosial Suku Bajo. Melalui cerita lisan, petuah orang tua, dan praktik keseharian di laut, nilai penghormatan terhadap laut ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Dengan demikian, filosofi ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi menjadi landasan keberlanjutan sosial, budaya, dan ekologis masyarakat Bajo.
Filosofi ini tumbuh dari sejarah panjang kehidupan orang Bajo yang turun-temurun menggantungkan seluruh aspek hidupnya pada laut, mulai dari pangan, tempat tinggal, hingga identitas budaya. Hubungan emosional dan spiritual yang intim ini membuat Suku Bajo memiliki kemampuan luar biasa membaca bahasa laut, termasuk melalui fenomena arus, ombak, dan pertumbuhan biota seperti lamun.
Referensi:
Japesda. (2025). Monitoring Ekosistem Pesisir Lamun dan Mangrove: Desa Torosiaje, Popayato, Gorontalo. Gorontalo: Japesda & Blue Ventures.
Mursin, Zulzaman, & Hardin. (2025). Kosmologi laut dan etika lingkungan: Analisis antropologi ekologi terhadap praktik kehidupan Suku Bajo di Desa Mekar Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. SABANA (Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara), 4(3), 470-484. https://journal.literasisains.id/index.php/sabana/article/view/7260
Rahman, S., Rahardjanto, A., & Husamah, H. (2022). Mengenal padang lamun (seagrass beds).
*****
Ritual Tolak Bala Suku Bajo Torosiaje: Kearifan Lokal Menolak Bencana