- Gen Z menunjukkan kepedulian dalam Hari Sungai Sedunia 2025. Mereka turun di Bantaran Sungai Cipinang, Jakarta Timur. Tidak hanya itu, setiap minggu, mereka yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Kota Bogor ini kerap bersihkan sungai yang ada di Cilebut.
- KPC, biasa membersihkan sungai Ciliwung di daerah Cilebut, Kabupaten Bogor. Reza, salah satu anggota, bilang, mereka pernah memperoleh hingga 2,5 ton sampah saat membersihkan sungai hanya sepanjang 100 meter.
- Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup, menilai kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, dia mengimbau masyarakat jaga sungai. Menurutnya, kondisi sungai di Indonesia sangat memprihatinkan. Bahkan, di Jakarta, seluruh sungainya tidak ada yang layak manusia gunakan.
- Hasil pemantauan mutu air semester pertama 2025 pada 4.480 di 1.480 sungai menunjukkan 70,70% di antaranya tercemar. Hanya 29,30% yang memenuhi baku mutu, umumnya di kawasan hulu.
Sampah-sampah masih menenuhi Sungai Ciliwung dari plastik sampai kasur bekas. Tanca Renzo, cekatan memungut plastik dari Sungai Ciliwung, daerah Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (27/9/25) pagi.
Dia pungut dan masukkan sampah-sampah itu ke dalam karung berukuran 15 kilogram tak jauh darinya. Bersama dua rekannya, Reza Novitra dan Sahrul Renaldi, dia lalu menggotong karung-karung itu ke atas mobil pengangkut sampah.
Tidak hanya tiga pemuda yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Kota Bogor ini saja yang terlihat sibuk di bantaran sungai bersejarah ini. Terlihat anggota TNI, Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Jakarta, Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air, dan komunitas lain seperti Bambon Lestari Depok, Konsorsium Lingkungan Hidup Banten, Sahabat Lingkungan Karawang, dan Green Ranger SMPN 34 Depok.
Mereka bersihkan sungai dari sampah plastik, lumpur, hingga besi bekas kasur. Juga sebagian lain, memotong rumput yang tumbuh tinggi di bantaran sungai.
Momen itu merupakan peringatan Hari Sungai Sedunia 2025. “Harapan kami, aksi seperti ini tidak berhenti di peringatan Hari Sungai saja, tetapi menjadi kegiatan rutin agar sungai benar-benar pulih,” ujar Renzo.

Mereka pun rutin bersihkan sungai seminggu sekali. KPC, katanya, biasa membersihkan sungai Ciliwung di daerah Cilebut, Kabupaten Bogor. Reza bilang, mereka pernah memperoleh hingga 2,5 ton sampah saat membersihkan sungai hanya sepanjang 100 meter.
“Paling banyak (sampah) styrofoam, kain-kain juga banyak, baju-baju bekas, dan karpet. Itu kita bisa bikin thrifting di sungai,” kelakarnya saat Mongabay temui di sela-sela bersih sungai.
Selain bersih-bersih sungai, mereka kerap mengadakan kegiatan edukasi jaga sungai di sekolah-sekolah. Lewat KPC, mereka juga terlibat dalam agenda pemulihan sungai.
Sahrul mengaku prihatin melihat kondisi sungai di Jabodetabek, khususnya Banjir Kanal Timur (BKT) di Klender, Jakarta Timur. Dia bilang, air sungainya keruh berwarna hitam dan berbau menyengat.
“Miris banget sih, terutama BKT. Itu banyak limbahnya, air keruh warna hitam, bukan coklat lagi. Sudah bisa dibilang nggak kayak sungai-sungai di luar negeri. Jadi kurang, masih memprihatinkan lah sungai Indonesia,” katanya.
Kepedulian tiga pemuda asal Bogor ini pada sungai muncul karena keprihatinan mereka melihat kondisi sungai di tempat tinggal. Renzo menjadi saksi atas perubahan fisik sungai di Cilebut.
Sejak kecil, dia biasa bermain di sungai. Tapi, saat ini, tempat mainnya tak sejernih dulu.
“Waktu saya masih SD masih jernih tuh airnya; kalau sekarang tuh keruh. Kalau dulu sampahnya nggak terlalu banyak, sekarang banyak styrofoam,” katanya
Siswa sekolah menengah atas (SMA) ini berharap, sungai-sungai di Indonesia bisa kembali jernih di masa depan. Baginya, sungai merupakan wahana bermain yang penting bagi anak-anak yang tinggal di pinggiran.
Ketiga pemuda itu pun berharap pemerintah dapat menindak tegas pelaku pencemaran sungai, terutama pelaku industri. Reza mengatakan, kerap menemukan pelaku industri yang membuang limbah ke sungai.
Dia beberapa kali melihat industri tekstil membuang limbah cair ke sungai. “Gelembung kayak busa gitu, kayak tumpahan deterjen gitu. Jadi airnya itu berwarna putih. Terus banyak ikan-ikan pada mati,” ujarnya.
Menurutnya, kalau pemerintah bertindak tegas terhadap pelaku pencemaran sungai, tentu ke depan sungai-sungai di Indonesia bisa jauh lebih bersih. Selain itu, tindakan pemerintah juga dapat memberikan contoh kepada masyarakat. Secara tidak langsung, masyarakat akan teredukasi agar tidak membuang sampah sembarangan ke sungai.
“Masih minim sih sebenernya (kesadaran masyarakat). Tapi ya pastinya nggak dari kesadaran doang. Kita (masyarakat) harus dapat edukasi juga. Entah itu dari pemerintah, entah itu komunitas juga. Jadi biar masyarakat lebih sadarlah.”

Tercemar parah
Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup, menilai kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, dia mengimbau masyarakat jaga sungai.
Kondisi sungai di Indonesia sangat memprihatinkan. Bahkan, di Jakarta, seluruh sungai tidak ada yang layak manusia gunakan.
“Tidak ada satu sungai pun yang layak untuk manusia di DKI Jakarta dan kita masih diam saja,” katanya dalam kegiatan Gerakan Bersih Sungai Cipinang di Kantor KLH, Jakarta Timur.
Hasil pemantauan mutu air semester pertama 2025 pada 4.480 di 1.480 sungai menunjukkan 70,70% di antaranya tercemar. Hanya 29,30% yang memenuhi baku mutu, umumnya di kawasan hulu.
Dia bilang, Jakarta, Kepulauan Riau, dan Papua Selatan merupakan rovinsi dengan sungai yang tercemar parah. Bahkan, seluruh titik pemantauan KLH, kondisi sungainya tercemar.
Pencemaran ini, katanya, bersumber dari limbah industri dan domestik rumah tangga. Limbah industri biasanya berasal dari pabrik tekstil, kimia, logam, makanan, hingga aktivitas pertambangan.
Sementara limbah domestik mayoritas sampah plastik. Riset terbaru Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) bahkan menunjukkan 35 sungai yang mereka teliti tidak ada yang terbebas dari sampah plastik.
Jenis sampah itu di antaranya kantong kresek, styrofoam, sedotan plastik, kain, gelas plastik, botol plastik, dan tali plastik.
Sementara penelitian pada 2022 mencatat, pencemaran plastik di sungai Jakarta sangat serius–plastik mendominasi sekitar 74%-87% dari total sampah di sungai. Riset itu menyebut, setiap orang di Jakarta menyumbang 99,9 gram plastik per hari ke sungai, terutama saat musim hujan.

Menurut Hanif, lemahnya perencanaan perburuk kondisi sungai di kota-kota besar. Padahal, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 mewajibkan penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air Sungai (RPPMA).
Karena itu, tiga RPPMA untuk memulihkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, Citarum, dan Cipinang, serta mempercepat pengesahan empat dokumen lainnya. Juga, mengebut penyusunan 15 dokumen tambahan.
“RPPMA menjadi pedoman teknis dalam pengelolaan sungai, pemantauan kualitas air, serta pencegahan pencemaran secara lintas sektor dan lintas wilayah.”
Dia pun berjanji menggalakkan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran sungai sesuai UU 32/2009 tentang perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
“Hari ini sebagian sungai kita masih menjadi tempat pembuangan limbah industri. Tidak mudah melakukan penertiban karena selalu dibenturkan dengan kepentingan ekonomi dan tenaga kerja.”

*****