- Climate Fest Vol. 2 di Taman Budaya Sumatera Barat menjadi ruang kreatif anak muda untuk menyuarakan keresahan atas krisis iklim, konflik lingkungan, hingga isu HAM melalui musik, seni, dan pertunjukan kolektif.
- Band-band seperti The Jansen, Ghostbusterhc, dan Lintang Utara membawakan lagu-lagu bertema perjuangan rakyat, penolakan proyek geothermal Gunung Talang, hingga solidaritas terhadap pejuang HAM dan korban kekerasan.
- LBH Padang menyebut Climate Fest bukan sekadar hiburan, melainkan “ruang politik rakyat” untuk membangun kesadaran publik soal krisis iklim, transisi energi berkeadilan, dan dampak proyek-proyek ekstraktif terhadap masyarakat adat, petani, dan nelayan di Sumbar.
- Melalui festival bertajuk Voice of The Earth, berbagai komunitas, musisi, dan anak muda mendorong narasi bahwa transisi energi tidak boleh melahirkan ketidakadilan baru seperti perampasan ruang hidup, konflik agraria, dan kerusakan ekosistem, melainkan harus menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan.
Lautan muda mudi di lapangan Taman Budaya Sumatera Barat (Sumbar) malam itu sampai penuhi depan panggung. Mereka kompak bernyanyi saat petikan gitar dan dentuman drum band Ghostbuster membelah malam di ajang Climate Fest gelaran LBH Padang, Sabtu (18/4/26) .
Penyelenggara sengaja tidak memasang barikade agar para pengunjung dapat terhubung dan saling menjaga satu sama lain.
Seturut itu, Pion di Udara, satu dari 10 lagu andalan dalam album Insulin Adrenalin besutan band hardcore asal Padang itu terus menggetarkan panggung. Lagu ini Ghosbuster dedikasikan kepada para pejuang hak asasi manusia (HAM) seperti Munir, Widji Thukul dan lainnya.

Aksi orasi Aang Bengal, sang vokalis menghangatkan suasana malam itu. Band Lintang Utara mengawali agenda festival tahunan itu.
Lirik lagu-lagunya yang sarat pesan mengingatkan pada ancaman dampak sosial dan ekologis atas rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Talang, sebuah potret akan persoalan iklim dan lingkungan di Tanah Minang.
“Kami akan bertahanan pada talang..menyemai benih kehidupan sawah dan ladang…satu kan tangan kepalkan dan juga hadang.. investor yang membahayakan talang…”
Band indie asal Padang ini terkenal dengan lagu-lagunya yang sarat persoalan sosial dan lingkungan. Selain ‘Lestari,’ beberapa lagu Lintang Utara yang cukup populer adalah ‘Merdeka di Desa’ dan juga ‘Bebas Suara’, Tujuh Tahun, hingga Talang Melawan yang mereka dedikasikan untuk perjuangan warga Talang.
Bagi Lintang Utara, masalah-masalah seperti transisi energi berkeadilan, konflik geothermal sampai isu terbaru tentang penyiraman air keras terhadap Andri Yunus penting disampaikan dalam ruang-ruang kreatif hari ini. Semua lini, katanya, harus diisi. “Seni sebagai medianya,” kata Madrid, sang vokalis juga alumni Universitas Negeri Padang ini.
The Jansen, punk rock asal Bogor turut meramaikan festival yang berlangsung selama tiga hari itu. Adji Pamungkas, basis The Jansen mengatakan, partisipasinya dalam festival ini merupakan ekspresi dari kegelisahan atas persoalan sosial dan lingkungan di Indonesia.
“Sebagai musisi kita punya cara untuk turun berpartisipasi dalam menyampaikan isu-isu. Mungkin tidak harus secara lagu, tapi berpartisipasi di even yang menyuarakan isu lingkungan dan mengumpulkan banyak orang disitu kita bersuara. Jadi nggak harus karya secara langsung menyuarakan isu-isu itu,” kata Adji.
Beberapa grup band lain turut meramaikan ajang ini. Selain The Jansen, Ghostbuster dan Lintang Utara ada juga band-band lain turut berpartisipasi, seperti Kevin Cotok, Razem The Venyamin, Western Tiger, Tardub, Jordansson dan Voudgrip.

Ruang politik rakyat
Selama tiga hari, Taman Budaya Sumbar seolah menjadi saksi hidup betapa kegelisahan akan degradasi lingkungan, dampak perubahan iklim telah menjadi kegelisahan bersama.
LBH Padang, selaku penyelenggara kegiatan menyebut, sejak awal, meniatkan even tersebut bukan sekadar hiburan. Tetapi, juga ruang politik rakyat, edukasi publik dan juga ekspresi kreatif.
“Festival ini juga menjadi ruang untuk mengembalikan suara masyarakat dalam isu iklim, mengangkat pengalaman langsung komunitas terdampak, mendorong partisipasi generasi muda dalam isu transisi energi yang berkeadilan,” kata Diki Rafiqi, Direktur LBH Padang.
Festival bertajuk Voice of The Earth ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang menggabungkan pendekatan edukatif, partisipatif, dan kultural. Menurut Diki, krisis iklim yang terjadi hari ini telah menjelma sebagai krisis multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan politik. Karena itu, ia tidak lagi dapat sebagai fenomena alam semata.
“Climate Fest Vol. 2 ini hadir untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, selain itu di Climate Fest ini juga akan membuka ruang dialog antara masyarakat, komunitas, akademisi, dan pemangku kebijakan terkait isu energi dan lingkungan di Sumatera Barat,” kata Diki.
Di Sumbar, dampak krisis ini semakin nyata. Intensitas bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan terus meningkat. Masyarakat yang bergantung pada alam, petani, nelayan, masyarakat adat, menjadi kelompok yang paling terdampak atas situasi ini.
“Kami menilai situasi ini merupakan konsekuensi dari model pembangunan yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai ruang hidup yang harus dijaga.”
Ekspansi industri ekstraktif, proyek energi skala besar, serta kebijakan pembangunan yang minim partisipasi publik, katanya, sudah mempercepat kerusakan ekologis sekaligus mempersempit ruang hidup dan akses masyarakat.

LBH Padang berharap, melalui Climate Fest Vol. 2 ini dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai krisis iklim dan keadilan energi di Sumbar. Diki sepakat bahwa transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan sebagai langkah penting untuk menekan emisi karbon.
“Namun dalam praktiknya, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang kompleks. Berbagai proyek energi, termasuk yang diklaim sebagai energi bersih, seringkali dijalankan dengan pola sentralistik, eksploitatif, minim transparansi, dan mengabaikan partisipasi masyarakat,” katanya.
Walhasil, transisi energi yang berlangsung akhirnya justru berpotensi melahirkan bentuk ketidakadilan baru, perampasan tanah dan ruang hidup, penggusuran masyarakat, konflik agraria, kerusakan ekosistem.
“Dalam konteks ini, Climate Fest Vol. 2 hadir untuk mendorong perspektif transisi energi berkeadilan, yaitu sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan.”

*****
Hutan Sumbar Hilang Setara Luas 40 Lapangan Sepak Bola Tiap Hari