- Tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mulai terjadi pada Selasa (2/2/2026). Desa Padasari terdiri dari lima dusun. Terdapat dua dusun yang terdampak tanah bergerak, yakni Padasari dan Padareka, sedangkan tiga dusun lainnya tak terimbas.
- Hingga kini, ada 860 rumah yang terdampak, sebanyak 413 rusak berat. Bencana tanah bergerak terjadi dipicu hujan lebat. Awalnya, warga mendengar suara gemeretak pada bangunan rumah mereka yang kemudian retak-retak sehingga tidak dapat ditempati dan membahayakan.
- Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi hingga Minggu (10/2/2026) sebanyak 2.460 jiwa. Para pengungsi mengungsi di Majelis Az Zikir wa Rotibain, Dusun Pengasinan, SDN 2 Padasari, Dusun Lebak RW 05, Gedung Serbaguna Desa Penujah, Ponpes Dawuhan Padasari, Dusun Tengah Desa Tamansari, serta Desa Mokaha, Kecamatan Jatinegara.
- Gerakan tanah yang terjadi di Desa Padasari dikategorikan sebagai longsor tipe rayapan (soil creeping). Fenomena ini dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang menyebabkan tanah mengalami penjenuhan air.
Bencana tanah gerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng), kembali terjadi, Selasa (2/2/26). Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Minggu (10/2/26) jumlah pengungsi tercatat capai 2.460 jiwa terdiri dari anak-anak hingga lansia.
Sebanyak 860 rumah terdampak peristiwa ini, 413 di antaranya rusak berat. Dugaan kuat, hujan lebat menjadi pemicu bencana ini. Warga menceritakan, sebelum kejadian, mereka mendengar suara gemeratak pada bangunan rumah. Sejenak kemudian, mereka mendapati dinding dan struktur bangunan rumah retak-retak hingga tak lagi bisa mereka tempati.
Desa Padasari terdiri dari lima dusun. Pusat bencana mencakup dua dusun, yakni Padasari dan Padareka. Tiga dusun lainnya relatif tak terdampak.
Insiden tanah gerak di Padasari ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya terjadi pada empat tahun silam, 14 Januari 2022 malam. Kala itu, 36 rumah rusak berat, 103 rusak ringan dan 107 rusak sedang, sehingga total keseluruhan rumah rusak mencapai 246 unit.

Muhammad Afifudin, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tegal mengatakan, selain sebabkan 413 rumah rusak berat, sebanyak 189 rumah juga dilaporkan rusak sedang dan 97 rusak ringan.
“Untuk sementara, warga terdampak mengungsi ke tempat aman karena tempat tinggal mereka tak lagi bisa mereka tempati,” katanya.
Para pengungsi tersebar di beberapa lokasi. Antara lain, di Majelis Az Zikir wa Rotibain, Dusun Pengasinan, SDN 2 Padasari, Dusun Lebak, Gedung Serbaguna Desa Penujah, Ponpes Dawuhan Padasari, Dusun Tengah Desa Tamansari, serta Desa Mokaha, Kecamatan Jatinegara.
Saat ini, kata Afif, pemerintah tengah melakukan kajian untuk menentukan lokasi relokasi warga.
“Badan Geologi dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) Jawa Tengah sedang melakukan kajian lokasi sehingga nantinya tempat relokasi itu betul-betul aman,” katanya
Agus Sugiharto. Kepala Dinas ESDM Jateng menyatakan, sudah penilaian beberapa tempat yang berpotensi menjadi lokasi hunian sementara (huntara) warga. Asesmen dilakukan terhadap empat titik, terdiri dari tiga calon lahan relokasi dan satu lokasi pondok pesantren eksisting milik Perhutani.
Tiga lokasi berada di Desa Padasari, Desa Lebakwangi, dan Desa Capar, Kecamatan Jatinegara dengan luas bervariasi, yakni 3.238 hektar, 5.081 hektar, hingga 10.042 hektar. Sedangkan untuk hunian sementara akan berada di kawasan milik Perum Perhutani KPH Pekalongan Barat dengan luas 10–20 hektar.
Pada bagian lain, Bergas C Penanggungan, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, mengatakan, proses relokasi akan menunggu surat rekomendasi kesiapan lahan.
Untuk keperluan itu, mereka juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) provinsi dan kabupaten untuk kesiapan alat berat, land clearing dan perataan lahan.
“Pekerjaan dilakukan simultan agar pembangunan bisa segera dimulai.”

Longsor rayapan
Indra Permanajati, Tim Siaga Bencana Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengatakan, insiden tanah gerak di Desa Padasari merupakan longsor tipe rayapan (soil creeping). Fenomena ini terpicu oleh tingginya intensitas hujan yang menyebabkan tanah jenuh.
“Kecepatannya sangat tergantung pada kadar air di dalam tanah. Kalau hujan deras, gerakannya bisa lebih cepat. Saat hujan berkurang, gerakannya melambat bahkan bisa berhenti sementara,” ujar Indra juga Koordinator Kelompok Keilmuan Geologi Teknik, Hidrogeologi, dan Geologi Tata Lingkungan Jurusan Teknik Geologi Unsoed.
Menurut dia, lokasi itu bukan pertama kali mengalami pergerakan tanah. Sekitar empat tahun lalu, gejala serupa pernah muncul meski dengan skala lebih kecil. Retakan tanah yang terbentuk sejak kejadian sebelumnya diduga menjadi jalur masuk air hujan ke lapisan tanah yang lebih dalam.
“Kemungkinan retakan lama kembali terisi air saat hujan berintensitas tinggi. Air masuk lebih cepat ke dalam tanah, mempercepat proses penjenuhan, dan akhirnya menurunkan daya dukung tanah.”
Indra menerangkan, tanda awal kondisi ini biasanya berupa amblesan tanah. Setelah itu, massa tanah bergerak mengikuti kemiringan lereng melalui bidang gelincir yang umumnya berada di batas antara tanah pelapukan dan batuan dasar.

Secara geologi, katanya, wilayah Padasari termasuk dalam Formasi Halang dan Rambatan yang didominasi batuan sedimen, sebagian besar berkomposisi lempung. Batuan lempung yang telah melapuk berubah menjadi tanah lempung yang bersifat plastis.
“Tanah lempung yang jenuh air akan kehilangan kekuatannya dan menjadi plastis. Kondisi ini memudahkan terjadinya amblesan dan pergerakan tanah, terutama di lereng,” kata Indra.
Dia menilai , kawasan yang sudah mengalami longsor berulang akan sulit kembali stabil untuk permukiman. Karena itu, relokasi warga dari zona rawan menjadi langkah mitigasi paling aman.
“Daerah yang sudah mengalami longsor cenderung akan terus bergerak saat musim hujan. Morfologinya akan menjadi tidak beraturan atau hummocky sehingga kurang layak untuk permukiman.”
Sebagai alternatif pemanfaatan lahan, dia menyarankan kawasan bekas longsoran dijadikan area perkebunan dengan vegetasi berdaya serap air tinggi.
“Lahan bisa dimanfaatkan untuk tanaman yang banyak menyerap air, seperti aren atau tanaman keras lainnya agar membantu mengurangi kejenuhan tanah.”
Untuk wilayah sekitar yang belum terdampak, Indra menekankan pentingnya sistem drainase yang baik agar air hujan tidak langsung meresap ke dalam tanah dalam jumlah besar.
“Saluran air harus segera dibangun dan dijaga fungsinya supaya air permukaan tidak masuk berlebihan ke dalam tanah. Kalau ada retakan, sebaiknya segera ditutup dengan tanah lempung agar infiltrasi air bisa ditekan,” katanya.
Selain itu, bangunan di daerah rawan gerakan tanah disarankan menggunakan material ringan agar tidak menambah beban lereng. “Beban bangunan yang terlalu berat bisa mempercepat pergerakan tanah. Karena itu, konstruksi ringan lebih disarankan di wilayah rawan seperti ini.”
*****