- Sebuah inisiatif digagas Pondok Pesantren (Ponpes) Shafiyah, Dusun Sidomulyo, Desa Gitik, Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) untuk mengurangi timbulan sampah dengan melarang penggunaan sachet. Para santri juga diminta memilah sampah sejak dari dalam kamar.
- Mohammad Alaika Rahmatullah, Manajer Divisi Edukasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menilai, praktik pengolahan sampah oleh Ponpes Shafiyah menunjukkan adanya kesadaran awal yang cukup baik terkait pengurangan dan pengelolaan sampah.
- Selama ini, sampah organik mendominasi timbulan sampah di Indonesia. Bahkan, komposisinya mencapai 68% dari total volume sampah yang ada. Sayangnya, di waktu yang sama, sampah organik ini justru banyak berakhir di Tempat Pengolahan Akhir (TPA).
- Zahro, Fasilitator Daerah Eco Bhinneka Muhammadiyah Regional Banyuwangi menyebut, pola diet dan kelola sampah bisa jadi contoh bagi pesantren-pesantren lainnya dan non pesantren dalam kehidupan sehari-hari.
Abdul Aziz , segera ke sudut rumah setelah mendengar curhatan istrinya, Nurun Shariyah perihal tugas sekolah putrinya.
“Kita coba pakai ini, Ma. Kan bisa juga dibuat puzzle. Ini kan ada gambarnya, tinggal digunting. Nanti bisa disusun mengikuti pola gambar yang suda ada di kardus ini,” katanya, sambil memperlihatkan kardus bekas.
Tak dinyana, sampai di sekolah, puzzle dari kardus bekas itu mendapat respon baik dari guru anaknya. Bahkan, mendapat nilai plus karena dinilai kreatif.
Sejak saat itu, Aziz kerap memanfaatkan barang bekas untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah anaknya. Termasuk ketika mengerjakan tugas untuk membuat bola dengan memanfaatkan kertas bekas.
Berkat kebiasaannya itu pula, Aziz lantas sampai pada sebuah kesimpulan: barang bekas pun jika termanfaatkan, pasti ada gunanya.
“Buktinya, kardus bekas ternyata bisa menjadi media belajar untuk anak-anak. Dalam konteks pengolahan sampah, itu kan masuk guna ulang atau reuse,” katanya, di Komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Shafiyah, Dusun Sidomulyo, Desa Gitik, Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), Minggu (11/1/26).
Sejak saat itu, Aziz dan Nurun, membuat aturan diet sampahm seperti pelarangan pakai shampo, sabun, deterjen sachet. Sebab itu, kantin ponpes juga tidak menyediakan barang-barang itu.
Agar aturan berjalan maksimal, Aziz juga sampaikan kebijakan itu dalam pertemuan wali santri jelang masa liburan di tahun 2016. Namun, tetap saja beberapa wali masih mengirim kebutuhan anaknya dalam kemasan sachet.
“Alasannya, karena kata mereka lebih simpel dan mudah disimpan katanya. Kami tidak bisa berbuat banyak, tapi tiap ketemu wali santri, kami tetap coba reminder lagi,” jelas Aziz.
Saat COVID-19 melanda, Pesantren Shafiyah coba kurangi sampah dari sisi camilan. Caranya, hanya sediakan camilan dan minuman sistem refill untuk membiasakan santri membawa wadah sendiri. Oleh Aziz, program yang terbungkus dengan istilah “Pakai yang Ada” itu kemudian dia daftarkan ajang Gaharu Bumi Innovation Challenge pada 2024.
Kompetisi itu terselenggara atas kerjasama Ashoka dan Kok Bisa dengan dukungan Kementerian Dalam Negeri dan Ford Foundation. Hasilnya, mereka berhasil masuk 3 Inovasi Paling Menginspirasi untuk Kategori Keluarga.

Inovasi sosial
Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC) adalah sebuah gerakan inovasi sosial untuk mengajak masyarakat Indonesia menjadi pembaharu (changemakers) mengatasi krisis iklim melalui aksi nyata di tingkat keluarga, anak muda, dan komunitas.
“Kami juga tak menyangka, itu akan jadi branding aktivitas kami dalam isu sampah ini,” kata Aziz.
Nurun bilang, setelah mendapat Penghargaan Gaharu Bumi, makin yakin bahwa dia tidak sendiri. Gerakan yang dia mulai dari lingkungan kecil itu, banyak juga orang di luar yang juga bergerak menjaga bumi sejak dari rumah.
“Di momentum itu, kami jadi sadar dan yakin. Pakai yang ada dan lakukan yang bisa, itu memang penting untuk dimulai. Buktinya, yang bergerak dalam isu ini banyak dengan konsennya masing-masing,” kata Nurun.
Di momen menerima penghargaan itu, Nurun mendapat jejaring dan ilmu, termasuk, bagaimana cara memilah sampah yang dia terapkan di pesantren. Masing-masing kamar santri, dia lengkapi bak sampah yang terbuat dari timba bekas cat untuk sampah terpilah.
Ada tiga bak untuk tiga jenis sampah berbeda. Pertama untuk daun, kulit buah dan sejenisnya, kedua, khusus plastik yang bisa olah ulang seperti botol plastik.
“Ketiga, plastik bungkus jajanan atau camilan.”
Dia meyakini, pengurangan sampah bisa dimulai dari gerakan kecil dan diri sendiri.
Nurun sempat kaget ketika pada 2025, salah satunya satrinya, Dhina membuat riset tentang volume sampah harian di pesantren.
“Dia mendapat jumlah sampah organik sekian, sampah non organik sekian. Saya bangga, karena ia punya inisiatif itu. Padahal tanpa ada yang nyuruh.”
Kepada dirinya, Dhina juga mengusulkan agar wali santri membungkus nasi dengan daun atau wadah cuci ulang guna mengurangi sampah saat kunjungan.
“Ya ada yang ikut, ada yang belum. Sampai hari ini pun, tetap kami ingatkan terus. Kami kan tidak bisa memaksa. Kami yakin, pelan-pelan mereka akan memahami maksud imbauan itu.”
Gagasan lain juga pernah santrinya sampaikan untuk mengumpulkan sampah dari luar ponpes dan menjualnya. Hasil dari penjualan sampah itu nanti diberikan kepada santri kurang mampu.
“Kami melakukan ini tidak untuk dilirik siapapun, kami melakukan untuk menjadi bagian kecil yang coba menjaga bumi. Meskipun secara gerakan, masih lingkup pesantren.”
Untuk meningkatkan kapasitas, para santri juga kerap mendapat pelatihan pengelolaan sampah. Seperti pelatihan Jawa Timur Young Changemaker Academy (Jayca) pada 2025. “Kami mengingkan 100% zero waste, meski harus pelan-pelan,” jelas Nurun.
Selain mengelola sampah, beberapa kegiatan lain pernah ponpes gelar. Antara lain, pelatihan membuat pembalut dari kain di 2024 yang merupakan kerjasama dengan Biyung, organisasi yang fokus pada upaya terwujudnya keadilan menstruasi, serta berkontribusi pada usaha pelestarian lingkungan.
Ada juga Kolaborasi Lintas Iman untuk Ibu Bumi (Kolimbu) pada 2024. Kegiatan ini berisi diskusi dengan melibatkan berbagai elemen seperti Asvia, Rumah Edukasi Creative, LKKNU PC Banyuwangi, Pemuda Katolik, Baha’i, HAKKA Indonesia, Ecobhinneka, dan Ecoenzym Ngajaga Bumi.
Awal tahun ini, ponpes juga menggelar edukasi pengurangan sampah plastik sekali pakai bekerjasama dengan Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton).
“Melalui program Jawa Timur Young Changemaker Academy, santri dibekali pemahaman mengenai bahaya partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang kini mulai mencemari rantai makanan. Pematerinya waktu itu Mas Alaika Rahmatullah, Manajer Advokasi Ecoton.”

Mandiri pupuk dan pangan
Aziz menjelaskan, aktivitas lain yang santri lakukan di ponpes adalah ngompos. Hasil dari pembuatan kompos itu kemudian santri aplikasikan di tanaman pangan yang ada di belakang ponpes.
Agar pengomposan berlangsung lebih cepat, mereka menambahkan kotoran kambing. “Jadi kami kan suka ternak. Kami ada kambing beberapa di belakang sini. Kotoran kambing itu kami manfaatkan dalam pengomposan. Hasilnya cepat dan bagus. Sementara untuk air kencing kambing kami siramkan langsung ke tanaman lain.”
Semua sampah di Shafiyah terpilah dan mereka kelola. Sampah organik jadi kompos. Non organik yang bisa guna ulang untuk kerajinan atau jual ke pengepul. Hasilnya, masuk kas pesantren. Sampah plastik kemasan yang tak terolah dia kirim ke Tempat Pembuangan Akhir.
Jika ada santri kedapatan tidak menempatkan sampah secara benar atau tidak terpilah, kata Aziz, ponpes akan memberikan peringatan.
“Jadi, tetap kami lakukan dengan cara reminder. Tapi lama-lama santri sadar dan menempatkan sampah pada tempatnya atau dipilah. Itu sudah ada tanda warna.”
Sejauh ini, aturan soal pilah sampah itu belum dibuat tertulis. Baru sebatas lisan. Namun begitu, para santri saling mengingatkan tatkala mendapati santri lain tidak memilah, atau bahkan membuang sampah sembarangan.
Qoimatin Hoiriyah, santri Shafiyah menceritakan, saat masuk ponpes tahun 2019, sampah di bak masih campur, tidak ada pemilahan. Begitu bak sampah penuh, santri lantas membuang ke TPA di halaman belakang ponpes dan membakarnya.
Setelah banyak mendapat pemahaman akan dampak buruk sampah, perlahan, kebiasaan itu mulai santri tinggalkan. “Tahun 2022 mulai ada pemilahan.”
Dulu, katanya, sempat merasa kesal ketika pondok meminta santri memilah sampah yang mereka hasilkan. Namun, pikirannya mulai terbuka ketika di antara sampah-sampah yang santri hasilkan itu masih bisa termanfaatkan. Bahkan bernilai ekonomi.
Qoim, bilang, kebijakan pilah sampah itou memang tidak tertulis tetapi perlahan-lahan, para santri mulai terbiasa dengan kebiasaan itu.
“Karena sebenarnya kami lebih banyak untuk saling mengingatkan. Karena kan di pesantren kami memposisikan sebagai saudara,” katanya.
Kendati tidak tertulis, Qoim berharap tradisi dien dan pilah sampah di ponpes ini terus berlaku di masa-masa mendatang. Hal itu sangat penting untuk menjaga bumi tetap lestari, bebas dari pencemaran.
“Apalagi, doktrin agama juga mengajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.”

Muhammad Abdul Mu’ti, santri lainnya katakan, dulu, membakar sampah sudah pasti menjadi kebiasaan para santri. Setelah mendapat pengetahuan dari ponpes, dia mengerti dampak negatif dari kebiasaan buruk ini.
Membakar sampah, katanya, akan menyebabkan polusi udara yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan manusia.
Mu’ti pun pernah mengikuti pelatihan membuat ecoenzyim dari pohon pisang. Dia pun tak menyangka bila pelepah dari pohon pisang yang selama ini banyak terbuang bisa termanfaatkan menjadi pupuk cair.
“Awal-awal kaget. Karena setahu saya, pupuk di rumah tidak gitu. Kan biasanya beli di toko pertanian.”
Menurut Mu’ti, pengolahan sampah di ponpes tidak hanya berhenti pada pemilahan. Beberapa di antaranya juga termanfaatkan untuk bahan kerajinan dan produk kreatif lainnya. Seperti untuk tempat bolpen dari botol bekas, tampat buku dari kardus dan sebagainya.
Dia berharap, praktik baik oleh ponpes inbi bisa berkontribusi untuk kurangi timbulan sampah di Indonesia.
“Sebenarnya kan tidak ingin ada sampah plastik sekali pakai. Tapi kan, realitanya, kita tidak bisa menghindar 100 %. Maka misal ada sampah plastik, mungkin dikelola jadi apa. Selain ecobrik.”
Intan Auliya Permatasari, Ketua Kamar Asrama Santri Putri katakan, sebagai ketua kamar, harus ekstra sabar tatkala mendapati santri yang belum memilah sampah. “Sebagai ketua kamar harus ekstra sabar dalam mengingatkan teman-teman lainya dalam pemilahan sampah.”
Kalau ada santri lebih dari dua kali kedapatan membuang sampah pada tempatnya, kena sanksi mengaji, biasa Surah Yasin.

Perkuat kelembagaan
Mohammad Alaika Rahmatullah, Manajer Divisi Edukasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menilai, praktik pengolahan sampah oleh Ponpes Shafiyah menunjukkan kesadaran awal yang baik terkait pengurangan dan pengelolaan sampah.
“Ini praktik yang sangat baik, karena belum banyak pesantren yang bergerak untuk penyelesaian sampah organik di skala kawasan,” katanya.
Alex, sapaan akrabnya bilang, selama ini, sampah organik mendominasi timbulan sampah di Indonesia. Bahkan, komposisi mencapai 68% dari volume sampah.
Sayangnya, di waktu yang sama, sampah organik ini justru banyak berakhir di TPA.
“Padahal, tanpa disadari, banyaknya sampah organik yang tidak terolah ini pada akhirnya menyumbang emisi gas methane dalam jumlah besar,” katanya, Jumat (23/1/26).
Dia menyarankan, koperasi atau kantin pesantren tidak menyediakan penganan dengan kemasan plastik.
Alex juga mendorong penguatan kelembagaan dengan membuat bank sampah khusus atau membangun ekosistem guna ulang (reuse) dengan menjual barang-barang secara refill-return. Jadi santri bisa pakai wadah sendiri untuk beli barang seperti sabun, deterjen, atau lainnya.
Zahro, Fasilitator Daerah Eco Bhinneka Muhammadiyah Regional Banyuwangi menyebut, pola diet dan kelola sampah bisa jadi contoh bagi pesantren-pesantren lainnya dan non pesantren dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya, gaya hidup berkelanjutan ala Pesantren Shafiyah Rogojampi ini dapat menjadi role modeL penerapan perilaku ekologi dalam aktivitas keseharian. Sehingga ayat-ayat kauniyah tentang alam semesta bukan hanya tekstual, juga teraplikasi secara mendalam,” katanya, Januari lalu.
*Liputan ini merupakan Media Fellowship Climate Communication Workshop
*****