- Masyarakat petani menganggap babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi) sebagai hama yang merusak ladang pertanian. Intensitas babi turun ke ladang hingga ke permukiman warga sekitar tiga kali selama musim panen.
- Masyarakat menyetujui usaha konservasi babi kutil Bawean. Pemahaman masyarakat terhadap pentingnya konservasi babi kutil Bawean telah berkembang, namun belum merata di seluruh wilayah.
- Babi kutil Bawean merupakan satwa endemik Pulau Bawean, sebuah pulau kecil seluas 196,3 kilometer persegi. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status terancam punah (Endangered).
- Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) melakukan konservasi secara ex situ. Ada tiga individu, terdiri atas dua jantan dan satu betina. Tujuannya, mengamankan babi kutil Bawean secara ex situ.
Arkham, warga Desa Pundakit Timur, di Pulau Bawean, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim) risau lantaran babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi), turun dari hutan dan merusak ladang mereka. Berbagai tanaman seperti padi, jagung dan singkong menjadi santapan.
“Hampir setiap malam babi kutil Bawean turun ke ladang. Terutama menjelang panen,” kata Arkhan kepada Faldy Devalen Fehabtoro, Ketua Bhakti Bhumi Naraya (Binaya) Foundation.
Sebelumnya, Faldy meneliti meneliti hubungan karakteristik ekosistem dan persepsi masyarakat terhadap ekologi babi kutil Bawean.
Riset Januari-Maret 2025 itu berlangsung di Cagar Alam (CA) dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean terkait karakteristik ekosistem dan di desa penyangga. Meliputi Desa Kumalasa, Teluk Jatidawang, Dekat Agung, dan Desa Pundakit Timur, untuk melihat persepsi masyarakat.
Masyarakat petani menganggap babi kutil Bawean sebagai hama yang merusak ladang pertanian. Selama musim panen, babi-babi kutil itu biasa turun ke ladang dan permukiman hingga tiga kali.
Untuk mengusirnya, warga mengerahkan anjing penjaga dan menanam tanaman pagar untuk melindungi kebun. Sedangkan Desa Kumalasa menggunakan jaring untuk menjaga komoditas tanaman.
Sayangnya, sebagian warga di desa penyangga lain justru memburu dan membunuh kawanan babi itu. Bahkan, aktivitas perburuan itu juga berlangsung di cagar alam dan SM dengan dalih mengendalikan hama.
Faldy menemukan tanda aktivitas perburuan liar seperti jejak anjing milik pemburu, jerat sling baja, benang, dan tombak. Dampak dari praktik perburuan ini, populasi babi kutil Bawean di habitatnya pun menurun.
Selain perburuan, populasi babi kutil Bawean menyusut dampak kerusakan habitat karena penebangan liar. Para pelaku menebang kayu untuk bahan bakar dan bahan bangunan.
Faldy temukan bekas potongan pohon kayu buluh (Irvingia malayana). “Kayu buluh menjadi target utama karena memiliki nilai ekonomis,” katanya.
Dia mendorong pemerintah dan para pihak melakukan mitigasi untuk tangani konflik ini. Mengingat, mayoritas masyarakat merupakan petani yang bergantung pada hasil pertanian.
“Konflik berdampak negatif secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Serta mengancam kelestarian babi kutil Bawean.”

Satwa endemik
Penelitian oleh Faldy menunjukkan responden di empat desa penyangga akui dampak negatif konflik antara manusia dan babi kutil Bawean ini. Mereka kerap gagal panen lantaran tanaman seperti padi, singkong, ubi, jagung, pisang, kacang tanah dan kelapa rusak akibat serangan babi kutil.
Masyarakat, katanya, menyetujui usaha konservasi babi kutil Bawean karena menyadari pentingnya peran spesies pada ekosistem hutan antra lain sebagai proses penyebaran biji-bijian tanaman hutan.
“Aktivitas babi kutil Bawean dinilai bermanfaat bagi regenerasi alami vegetasi, yang mendukung kelestarian ekosistem hutan Pulau Bawean,” katanya.
Babi kutil Bawean merupakan satwa endemik Pulau Bawean, pulau kecil seluas 196,3 kilometer persegi. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status terancam punah (endangered).
Mark Rademaker dari VHL University of Applied Sciences Belanda, menyebut, pada 2016 perkiraan populasi babi ini capai 230 individu. Populasi rendah dan terfragmentasi. Survei dia menggunakan 100 kamera jebak.
Berdasarkan penelitian Rademaker, babi kutil Bawean merupakan salah jenis paling langka di dunia. Sedangkan Rode-Margono pada 2020 memperkirakan populasi antara 172-467 individu dan tersebar di hutan lindung seluas 46,6 kilometer persegi.
Ciri khusus babi kutil Bawean memiliki surai memanjang dari kepala hingga ekor sepanjang tulang belakang. Selain itu, memiliki tiga pasang tonjolan daging yang mengeras (kutil) di sekitar moncongnya.
Hanya babi jantan yang memiliki kutil seukuran buah anggur ini.
Habitat babi kutil Bawean terdiri atas hutan campuran, hutan jati, semak belukar, hutan terdegradasi dan hutan dataran tinggi.
Babi kutil Bawean memiliki aktivitas untuk mengatur suhu tubuh, mengurangi stres panas, perlindungan dari ektoparasit dan memberi kenyamanan fisik.
Selain itu, babi kutil Bawean membuat sarang yang menjadi area penting dalam siklus reproduksi, terutama menjelang dan selama musim kelahiran.

Rekomendasi mitigasi
Faldy merekomendasikan adanya hutan penyangga yang berperan menjadi batas antara habitat satwa liar dengan area pertanian. Sehingga bisa meminimalisir satwa kerusakan tanaman pertanian, membantu memperbaiki kualitas tanah dan air, meningkatkan keanekaragaman hayati dan menahan erosi.
Dia juga mengusulkan pola pertanian agroforestri yang menggabungkan tanaman pertanian dengan pohon atau vegetasi lain, seperti tanaman buah, kayu, atau getah. Termasuk membuat pagar hidup berupa barisan tanaman rapat yang membentuk pagar alami.
Tanaman pagar yang dia rekomendasikan antara lain bambu duri yang kokoh dan menyulitkan satwa melintas. Selain itu, bunga tai ayam (Lantana camara) yang berduri, tumbuh cepat, dan memiliki bau yang tak disukai satwa. Tanaman jeruk-jerukan yang berduri, dan tumbuh rapat, berbau menyengat dan daunnya pahit.
Rekomendasi berikutnya adalah dengan membuat bunyi-bunyian yang tak satwa sukai. Misalnya, kincir angin yang memanfaatkan kaleng bekas dan botol bekas. Sehingga menimbulkan bunyi nyaring, saat kincir berputar. Babi merupakan mahkluk yang sensitif terhadap gangguan seperti bebunyian untuk menakuti dan menghalaunya.
Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim, melalui bbksdajatim.org menekankan kebijakan yang humanis dan empati dalam mengatasi konflik babi kutil Bawean dengan manusia. Kawasan suaka margasatwa, katanya, bukan pagar yang membatasi masyarakat dari hutan, melainkan jantung ekosistem yang harus terjaga dan terkelola secara kolaboratif.
“Dialog, pendampingan, dan pendekatan yang adaptif menjadi jalan tengah agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga. Sedangkan satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang aman,” katanya.
Sebagian masyarakat, katanya, melihatnya babi kutil Bawean sebagai hama. Untuk itu, ia berusaha mengubah cara pandang masyarakat dengan pendekatan konservasi yang menghargai nilai-nilai sosial di masyarakat. “Masyarakat memiliki pengalaman, tradisi, dan cara pandang sendiri terkait satwa dan lingkungan.”
Nur Patria berusaha membangun pemahaman bersama bahwa menjaga satwa liar berarti menjaga alam dan keberlanjutan kehidupan di Bawean. Apalagi sebagai pulau kecil, ekosistem alami Bawean lebih rapuh dari daratan besar.
Dia jelaskan, usaha konservasi di Bawean diarahkan pada keseimbangan. Meliputi penataan ruang antara hutan dan permukiman, praktik pertanian yang adaptif, pemahaman peran satwa, dan penelitian berkelanjutan menjadi fondasi kebijakan berbasis data.
“Kolaborasi melibatkan masyarakat, pemerintah desa, tokoh agama, media, akademisi, dan mitra konservasi.”

Konservasi ex situ
Jochen Klaus Menner, Kurator Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), menilai, tak hanya pemburuan di alam liar dan kerusakan habitat menjadi ancaman utama babi kutil Bawean. Namun, ada virus African swine fever (ASF) atau virus demam babi Afrika yang menjadi ancaman utama untuk semua jenis babi.
“Manusia bisa menularkan ke babi,” katanya.
Babi kutil Bawean secara fisik dan genetika berbeda dan berada di pulau kecil yang terpisah dari Pulau Jawa. Jadi, jika ada virus ASF maka akan terjadi kematian massal yang mengancam kepunahan.
“Babi kutil Bawean paling terancam di dunia saat ini.”
Untuk itu, PCBA melakukan konservasi secara ex-situ. Ada tiga individu, terdiri atas dua jantan dan satu betina. Tujuannya, mengamankan babi kutil Bawean secara ex-situ.
Sejaub ini, belum ada rencana reintroduksi atau pelepasan ke alam liar. Jika terjadi wabah atau serangan virus di alam, masih ada individu yang selamat.
Sampai saat ini, katanya, Pulau Bawean lumayan aman. “Kita tidak tahu kapan virus itu datang,” katanya.
Jane Karindhu Tumiwang, Paramedis PCBA mengatakan, saat ini fokus pada breeding atau pengembangbiakan. Reintroduksi akan dilakukan jika populasi cukup dan lingkungan siap.
Untuk itu, perlu mengedukasi warga di sekitar hutan yang menjadi habitat babi kutil Bawean.
“Proses panjang, perlu habituasikan di kawasan lebih dulu. Durasi disesuaikan setiap individu,” katanya.
Untuk itu, perlu usaha besar untuk konservasi babi kutil Bawean, mulai mencegah konflik antara satwa dan manusia, maupun menjaga habitat tetap lestari.
*****
Lingkungan Rusak, Warga Pulau Bawean Tolak Ekspansi Tambak Udang