- Sampah yang bisa diubah menjadi pupuk sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum. Namun masih banyak yang belum tahu caranya, juga belum mau. Salah satu faktor penyebabnya, karena membuat pupuk dianggap sulit dan membutuhkan peralatan rumit.
- Ember tumpuk terdiri dari dua buah ember yang ditumpuk. Ember bagian atas berfungsi sebagai wadah sampah organik. Bagian ini diberi lubang sehingga air yang dihasilkan akan menetes ke ember bawah. Ada tambahan keran untuk mengeluarkan lindi yang dihasilkan di ember bawah. Cara kerjanya, masukkan sampah sayur dan buah secara berkala. Aroma senyawa volatilnya akan mengundang BSF datang dan meletakkan telur-telurnya.
- Larva Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens dikenal sangat rakus mengurai sisa makanan, limbah dapur, dan sampah organik lainnya. Dalam penguraian sampah, siklus hidup BSF ini kemudian dimanfaatkan untuk membantu mempercepat proses terbentuknya lindi.
- Lalat tentara hitam mudah dibedakan dari lalat rumah. Tubuhnya lebih ramping dan panjang. Sekilas seperti tawon namun hanya memiliki satu pasang sayap, sementara tawon dua pasang. Berbeda dengan lalat rumah, mata dan kepalanya kecil. Warnanya hitam mengkilat, sementara lalat rumah abu-abu kusam.
Setiap hari orang menghasilkan sampah. Tapi berapa banyak yang mau membuat pupuk? Nasih Widya Yuwono punya kerisauan akan hal itu. Sebagai dosen ilmu kesuburan tanah, juga mengampu mata kuliah keharaan tanaman, dia paham benar bahwa biomassa yang mudah busuk bisa diolah menjadi pupuk yang kaya nutrisi bagi tanaman.
Sampah yang bisa diubah menjadi pupuk sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum. Namun masih banyak yang belum tahu caranya, juga belum mau. Salah satu faktor penyebabnya, karena membuat pupuk dianggap sulit dan membutuhkan peralatan rumit.
Kerisauan itu kian relevan ketika melihat kondisi Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai kota pelajar dan wisata itu juga menghadapi persoalan serius terkait sampah. Di sudut-sudut kampung dan kawasan padat penduduk, sampah rumah tangga kerap menumpuk karena tak terangkut tepat waktu.
Tap masalah ini tak semata soal pengangkutan, namun juga soal cara pandang terhadap sampah. Sampah masih dianggap residu yang harus dibuang sejauh mungkin, bukan sumber daya yang bisa diolah di dekat tempat dihasilkan. Padahal, sebagian besar sampah rumah tangga di Yogyakarta adalah sampah organik, biomassa, bahan terbaik pupuk alami.
Nasih pun putar otak. Andai di setiap rumah ada reaktor pupuk sederhana, persoalan sampah bisa diselesaikan di tingkat rumah. Matanya tertuju pada ember, wadah yang hampir selalu ada di lingkungan tempat tinggal. Dengan modifikasi sederhana, dua buah ember dijadikan reaktor pupuk dengan cara ditumpuk. Reaktor itu kemudian diberi nama ember tumpuk.
Saat ini ember tumpuk menjadi salah satu teknologi yang paling sederhana dan murah untuk mengolah sampah organik dapur menjadi pupuk organik cair.
“Dengan setiap orang bisa membuat pupuk, semua orang mau membuat pupuk, Jogja bisa menjadi pabrik pupuk,” kata dosen Fakultas Pertanian UGM ini kepada Mongabay dalam sebuah kesempatan.

Perjalanan panjang
Kini frase ember tumpuk mulai lekat di telinga warga. Apalagi bagi pegiat bank sampah. Tapi istilah itu bukan hadir tiba-tiba, melainkan buah dari perjalanan panjang. Semuanya berawal lebih dari 25 tahun lalu.
Pria kelahiran Wonogiri 1965 ini mengisahkan, ketertarikannya dengan pupuk organik cair dimulai saat dirinya masih mahasiswa. Kala itu, dia harus membuat kompos dari limbah sayuran yang diperoleh dari pasar. Saat pembuatan kompos itu kerap dihasilkan cairan yang sangat berbau, yang kelak orang mengenalnya sebagai lindi.
Selain itu, Nasih juga berkesempatan melihat TPA sampah di Piyungan, Bantul. Pengalaman menyaksikan gunungan sampah yang sebagian besar organik itu menghantuinya. Dia pun berpikir, kapan bisa memanfaatkan lindi yang berbau dan mengubahnya menjadi tidak berbau.
Pada 2016, Nasih mulai menemukan jawabannya. Seorang mahasiswa yang meneliti pengelolaan limbah ikan, mendapati sampel yang dijemur tidak berbau menyengat. Satu soal selesai.
Sebelumnya, pada 2013, Nasih mengenal jenis lalat yaitu Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens lewat referensi yang ada. Berbeda dengan lalat rumah (Musca domestica), BSF tidak hinggap di makanan manusia, tidak membawa penyakit, tidak tertarik datang ke rumah, dan tidak mengganggu.
Larva BSF dikenal sangat rakus mengurai sisa makanan, limbah dapur, dan sampah organik lainnya. Dalam penguraian sampah, siklus hidup BSF ini kemudian dimanfaatkan untuk membantu mempercepat proses terbentuknya lindi.
“Waktu itu saya sendiri belum pernah ketemu lalat BSF dan komunitas BSF masih eksklusif,” ungkap Nasih.
Baru pada 2015 Nasih menjumpai kedatangan lalat BSF dari lingkungan. Sebelum menemukan ember tumpuk, reaktor sampah dibuat dengan tong biru. Meski sederhana, ukurannya lebih besar dan tidak praktis.
Tiga tahun kemudian ember tumpuk lahir, sebuah inovasi mengubah sampah menjadi pupuk organik cair skala rumah tangga. Pada 2018, untuk pertama kali ember tumpuk diperkenalkan dalam sebuah acara di TVRI Yogyakarta.
Seperti namanya, ember tumpuk terdiri dari dua buah ember yang ditumpuk. Ember bagian atas berfungsi sebagai wadah sampah organik. Bagian ini diberi lubang sehingga air yang dihasilkan akan menetes ke ember bawah. Ada tambahan keran untuk mengeluarkan lindi yang dihasilkan di ember bawah.
Cara kerjanya, masukkan sampah sayur dan buah secara berkala. Aroma senyawa volatilnya akan mengundang BSF datang dan meletakkan telur-telurnya. Sampah baru ditambahkan setelah koloni larva terbentuk. Sementara lindi yang dihasilkan harus dijemur dalam botol untuk menghilangkan bau sebelumndigunakan untuk menyemprot tanah dan daun.

Trilogi biomassa
Lagu Koesplus itu terngiang-ngiang di telinga Nasih. Liriknya, “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.
“Ini sangat inspiratif, sehingga kami bergerak untuk mengolah setiap tongkat, setiap tumbuhan, bahkan juga batuan untuk memperbanyak tumbuhan. Karena kami tahu tumbuhan ini menjadi kunci untuk berbagai kebutuhan umat manusia dari pangan, energi, dan bahan-bahan lainnya,” papar Nasih dalam sebuah diskusi yang disiarkan daring.
Dalam penjelasannya, biomassa itu terdiri tiga bagian yang kemudian dikenalkan sebagai konsep tribio atau trilogi biomassa. Bagian yang keras seperti kayu atau bambu, bisa diolah menjadi arang melalui proses pirolisis atau pembakaran tanpa oksigen. Arang yang dihasilkan lalu direndam dalam POC sehingga menjadi biochar. Fungsinya untuk pembenah tanah.
Mengutip hasil penelitian, biochar memiliki sejumlah keunggulan dibanding bahan pembenah tanah lain. Biochar dapat mengurangi laju CO2, mampu bertahan ratusan tahun, dan berfungsi sebagai konservasi karbon, serta membentuk habitat baik bagi mikro organisme.
Bagian yang lunak dan hancur diolah menjadi kompos. Contoh bagian ini antara lain daun, atau kotoran ternak. Kompos bagi tanah bisa bermanfaat 3 hingga 5 tahun. Cara membuatnya, daun cukup ditimbun dalam wadah. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa ditambahkan inokulan atau starter.
Bagian yang berair, bisa diolah menjadi pupuk organik cair (POC). Contoh bagian ini antara lain sayur, buah, yang umumnya dihasilkan dari sampah dapur. Sebagai sumber hara tanaman, manfaat POC untuk jangka waktu singkat. Ember tumpuk dipakai untuk mengolah sampah dapur ini menjadi pupuk cair dengan bantuan BSF.
“Tiga bagian ini digabungkan dengan abu dan mikroba. Kita perkenalkan lewat konsep kalam, yaitu komposit kompos, arang, lindi, abu, dan mikroba. Ini bisa digunakan untuk membenahi semua jenis tanah,” ujar Nasih.
Kelima unsur tersebut bekerja sama menciptakan ekosistem yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam komposisi yang seimbang, pertumbuhan tanaman akan optimal. Bahkan jika diterapan pada lahan tandus dan berbatu sekalipun. Komposisinya, 10 bagian kompos, 10 bagian arang, lindi secukupnya, 1 bagian abu, dan mikroba secukupnya.
“Sekarang saya sedang bermimpi adanya proses pengomposan sampah organik kota, 24 jam jadi. Sehingga kita semua tidak repot,” ungkapnya, Jumat (9/1/2026).
Bagi Nasih menanam tak harus menunggu tersedianya lahan yang baik. Kita bahkan bisa membuat tanah yang baik bagi tumbuhnya tanaman. Memuliakan tanah bisa berawal dari sampah.

Sumber pakan dan pangan
Lalat tentara hitam mudah dibedakan dari lalat rumah. Tubuhnya lebih ramping dan panjang. Sekilas seperti tawon namun hanya memiliki satu pasang sayap, sementara tawon dua pasang. Berbeda dengan lalat rumah, mata dan kepalanya kecil. Warnanya hitam mengkilat, sementara lalat rumah abu-abu kusam.
Perhatian khusus para ahli serangga kepada lalat ini terbilang belum lama. Terutama karena kemudian diketahui lalat tentara hitam bisa dimanfaatkan untuk mendaur ulang limbah organik sekaligus menjadi pakan bergizi bagi hewan ternak atau hias.
Merujuk artikel yang ditulis entomolog JK Tomberlin (2020) dari Texas A & M University, Amerika, sebelum tahun 1980 spesies ini masih dianggap hama. Namun, setelah itu beberapa penelitian mengungkapkan potensinya sebagai pakan, dan mendaur ulang limbah organik, meski posisinya sebagai hama belum bergeser. Itu sebabnya, beberapa artikel dalam jurnal yang muncul adalah pengendalian untuk menekan populasi lalat hitam.
Menjelang tahun 1980, beberapa artikel mengapresiasi lalat tentara hitam karena mengkolonisasi materi yang membusuk. Selain itu kehadirannya membantu ilmu forensik menentukan waktu pascakematian. Pergeseran paradigma ke arah positif semakin membesar. Lalat tentara hitam dipandang layak dikembangkan dalam skala industri untuk mendaur limbah organik menjadi biomassa serangga yang dapat digunakan sebagai pakan unggas, perikanan, maupun ternak.
Saat ini jumlah publikasi terkait lalat tentara hitam meningkat secara eksponensial. Sementara itu, makin banyak industri yang melirik pemanfaatannya secara komersial.
Sebuah artikel cukup provokatif terbit pada 2017, oleh Yu Shiang Wang dari Universitas Nasional Taiwan. Bersama rekannya, dia mengulas tentang lalat tentara hitam sebagai makanan manusia dan ternak. Sebagai makanan manusia, larva lalat ini berpotensi digiling dan diubah menjadi protein bertekstur dengan rasa yang kuat. Larva lalat ini mengandung 42 persen protein kasar dan 29 persen lemak.
Entomophagy atau mengonsumsi serangga sebenarnya telah dipraktikkan oleh manusia di banyak tempat. Ulat sagu, belalang, dan laron adalah beberapa contoh makanan berasal dari serangga yang di konsumsi di Indonesia. Para ahli pun sudah menyebut serangga sebagai sumber pangan dan bahkan menyebutnya sebagai sumber pangan masa depan.
Selain memiliki kandungan gizi cukup baik, budidaya serangga dianggap memberi dampak lingkungan yang lebih rendah dibanding, misalnya, peternakan sapi. Lebih sedikit membutuhkan air, tempat, bahkan beberapa di antaranya seperti lalat jenis ini, mengonsumsi limbah organik. Sebagai pakan ternak, semua kualitas ini mengungguli sumber pakan ternak tradisional.
Lalat tentara hitam sangat rakus, dan memiliki usia larva lebih lama dibanding lalat rumah. Usia larvanya mencapai 3 minggu, sementara lalat rumah kurang dari 5 hari. Itu berarti, larva lalat tentara hitam makan lebih banyak limbah dibanding larva lalat rumah.
Referensi:
Tomberlin, J.K., & van Huis, A. (2020). Black soldier fly from pest to ‘crown jewel’ of the insects as feed industry: an historical perspective. Journal of Insects as Food and Feed, 6(1), 1-4. https://doi.org/10.3920/JIFF2020.0003
Wang, Y.-S.; Shelomi, M. Review of Black Soldier Fly (Hermetia illucens) as Animal Feed and Human Food. Foods 2017, 6, 91. https://doi.org/10.3390/foods6100091
*****
Maggot, Belatung Kaya Nutrisi dan Bermanfaat untuk Lingkungan