- Konflik manusia dengan macan tutul jawa yang terjadi di Desa Tundagan dan Desa Hantara, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, merupakan dampak krisis ruang di bentang hutan Pasir Panjang, akibat perubahan lanskap dan meningkatnya aktivitas manusia.
- Pemangsaan ternak terjadi berulang karena ruang jelajah macan tutul beririsan dengan sebaran kandang ternak warga yang minim pengamanan dan dekat kawasan hutan.
- Berbagai upaya mitigasi, mulai dari penguatan kandang hingga penggantian ternak, mampu meredam konflik sosial, tetapi belum menyentuh akar persoalan ekologis.
- Selama perubahan ruang, pergeseran satwa mangsa, dan jalur perburuan dibiarkan tanpa pengelolaan yang adil, konflik manusia dan macan tutul akan terus berulang dengan kerugian di kedua pihak.
Tak ada yang lebih berat ketimbang meredam amarah. Itu yang dirasakan Lukas Andriana, aparatur bidang ekonomi di Desa Tundagan, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dalam menghadapi konflik macan tutul jawa.
Kematian 80 ekor ayam dan 24 domba kurun waktu 8 bulan, bukan angka kecil jika dihitung rupiah. Dugaan kuat, sebab kematian karena Pathera pardus melas yang mendekati perkampungan warga.
Peristiwa dimulai akhir 2024. Kecurigaan warga muncul karena kejadiannya malam hingga dini hari.
“Lokasinya tidak acak. Terjadi di tempat yang sama hingga ternak benar-benar habis, lalu pindah ke kandang lain,” jelasnya, Senin (24/11/2025).
Awalnya, warga membiarkan kejadian tersebut. Namun, alih-alih mereda, frekuensi serangan justru meningkat. Ternak yang disasar umumnya anakan domba di bawah 20 kilogram. Bangkainya ditemukan tidak jauh dari kandang.
Berdasarkan pengamatan warga dan hasil pemantauan kamera jebak, Lukas menyebut satwa yang memangsa ternak adalah macan tutul. Indikasi terlihat dari serangan berulang dan pola gigitan konsisten di tengkuk dan leher ternak.
“Berdasarkan jejak dan sisa bangkai, warga menduga terdapat tiga individu macan di sekitar desa. Satu induk dan anaknya, serta satu individu lain. Kemungkinan besar, anakan ini yang belajar berburu.”

Serangan terjadi pada kandang ternak dekat ruang jelajah satwa. Lukas mencatat, di Tundagan terdapat 205 kandang yang tersebar di empat tipe ruang. Sebanyak 113 kandang di area permukiman, 49 kandang di kebun, 39 kandang di sawah, dan 4 kandang di kawasan hutan. Sebaran ini mengikuti lokasi lahan yang dimiliki dan dimanfaatkan warga.
Secara administratif, Tundangan yang luasnya 672 hektar, berbatasan langsung dengan kawasan hutan Pasir Panjang yang dikelola Perum Perhutani. Dari sisi demografi dan mata pencaharian, mayoritas 3.000 jiwa penduduknya bekerja pada sektor pertanian.
Keberadaan kandang tidak ditentukan kedekatan hutan, melainkan kepemilikan lahan warga.
“Jadi bukan kandang yang mendekati hutan,” jelasnya.

Alasan penempatan kandang, disesuaikan posisi ladang atau kebun untuk memantau ternak sekaligus mengelola lahan pertanian dalam satu waktu. Setiap kandang, rata-rata berisi minimal lima ekor domba.
Namun, pengamanan kandang tergolong minim. Bagian bawah tidak ditutup rapat, sehingga mudah diakses macan. Kondisi ini dikarenakan dalam 15 tahun terakhir tidak ada serangan ternak seperti sekarang.
“Saat ini serangannya beruntun.”
Pemerintah Kabupaten Kuningan turun tangan, menerapkan skema penggantian ternak. Pihak desa diminta menerima laporan setiap kejadian dan mencatat kerugian warga. Cara ini meredam ketegangan.
“Pemerintah daerah mengganti ternak yang dimangsa, sehingga warga bisa diarahkan untuk beradaptasi tanpa melakukan balasan,” kata Lukas yang punya latar pendidikan kehutanan.

Warga melakukan penjagaan di sekitar kandang. Sesekali, mereka menggunakan bunyi-bunyian seperti lodong untuk menghalau satwa dilindungi tersebut.
Lukas juga menceritakan, penggunaan kotoran singa juga dilakukan sebagai upaya mencegah konflik. Kotoran tersebut didatangkan dari Taman Safari melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, lalu ditempatkan di kandang ternak yang posisinya paling dekat hutan.
Kotoran singa juga disebar sebagai penanda batas, sepanjang 1-3 kilometer. Tujuannya, agar macan tutul mencium bau predator yang lebih besar, sehingga diharapkan menghindar area tersebut.

Predator liar
Upaya mitigasi juga dilakukan di Desa Hantara. Warga berinisiatif memperkuat kandang dengan kayu dan kawat. Menurut M. Sulaeman, tokoh masyakat setempat, warga rela merogoh kocek lebih dalam agar ternaknya aman.
Kandang ukuran 6×2 meter yang diisi lima ekor domba, butuh biaya pasang kawat sekitar Rp2 juta atau setara seekor domba. Namun, sebagian warga memilih kayu dan tambang, karena lebih murah.
“Kayu cukup aman dari luar, tapi kurang sehat untuk ternak karena kadang lembap,” tutur Slamet. Di desa seluas 408 hektar itu, tersebar 100 kadang ternak.
Penguatan kandang difokuskan hanya bagian bawah dan atap. Kedua tempat itu menjadi pintu masuk predator. Sebab, pola luka pada ternak sering berada di leher dan paha.
“Kalau di leher, biasanya tidak dimakan habis. Ada juga yang dibawa keluar jika dombanya kecil. Kalau di paha, biasanya cacat akibat patah kaki tapi tidak mati.”

Sulaiman menjelaskan, serangan hewan ternak selalu terjadi malam hari. Dalam beberapa kejadian, warga hanya menjumpai gerombolan anjing liar sekitar 15 ekor. Ukurannya, lebih kecil dari anjing kampung, warnanya oranye, dengan moncong runcing dan gigi tajam.
“Penampakan langsung macan jarang diketahui,” ujarnya. Dia menduga kondisi itu berkaitan jarak desa ke kawasan hutan yang cukup jauh dan terhalang persawahan
Di Hantara, tercatat 23 ekor domba mati akibat serangan sepanjang 2025. Seluruhnya mendapat penggantian dari pemerintah daerah.
Di balik konflik itu, menurut Sulaeman, kemunculan macan dimaknai warga sebagai tanda nincak larangan, yaitu ketika batas hutan dan ruang hidup manusia tidak lagi dijaga. Istilah macan turun gunung dipahami sebagai pengingat bahwa alam merespons perubahan yang melampaui ruang hidup antara manusia dan lingkungannya.

Kondisi ruang
Galang Aulia, Direktur Yayasan Koorders Lestari Indonesia, menilai konflik macan di Desa Tundagan dan Desa Hantara bukan peristiwa terpisah. Insiden ini bagian dari krisis ruang di sepanjang 40 kilometer bentang hutan Pasir Panjang, yang menghubungkan sejumlah desa dalam satu lanskap. Galang dan tim pada 2024 juga memasang kamera jebak untuk melacak pergerakan macan tutul.
Menurut dia, konflik mencuat akibat ruang jelajah macan beririsan dengan area pemanfaatan masyarakat. Hal itu dipicu perluasan kebun kopi pada 2022 yang terjadi masif di banyak desa.
Meski pola agroforestri kebun kopi tetap berbasis konservasi sekaligus menopang ekonomi warga, tapi perubahan ruang menggeser aktivitas satwa mangsa ke arah kebun. Kondisi ini menarik macan mendekati kampung, hingga memangsa hewan ternak sebagai sumber pakan yang lebih realistis.
“Konsep agroforestri memang baik untuk ekonomi berkelanjutan. Tapi, tidak cukup menjadi jawaban bagi keberlangsungan hidup biodiversitas seperti macan,” paparnya, awal Desember 2025.

Terbukanya jalur menuju hutan turut memicu aktivitas perburuan yang semakin intens. Kata Gilang, jalur tersebut dimanfaatkan pemburu memasang pagar dan jaring untuk menggiring satwa seperti babi atau kijang ke perangkap.
Metode penggiringan, secara tidak langsung mengubah jalur jelajah jenis kucing besar ini. Sebab, jalur mangsanya bergeser dan lebih sering mendekati ruang hidup masyarakat. Konflik pecah.
Galang mencatat, ada 84 ekor domba mati dimangsa di empat desa, termasuk Tundagan dan Hantara. Kini, petani harus bisa mengatur waktu agar bisa bekerja sekaligus berjaga-jaga dari konflik.
“Selama tidak ada koridor satwa, konflik sulit dihindari,” pungkasnya.
*****
Gigi Taring Bermasalah, Apakah Macan Tutul Saka Bisa Hidup di Alam Liar?