- Matinya sejumlah satwa terancam punah seperti gajah sumatera dan orangutan tapanuli, sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa besarnya daya rusak becana banjir sumatera.
- Dalam jangka panjang, dampak bencana banjir sumatera dapat menganggu koridor tradisional satwa, sehingga dapat meningkatkan interaksi negatif manusia dan satwa liar.
- Pemerintah harus lebih serius mengelola habitat gajah dan satwa terancam punah lainnya, dan memandang bencana alam sebagai krisis ekologi dan sosial sekaligus.
- Menurunnya habitat dan populasi gajah, harimau, orangutan dan satwa lainnya, sejalan dengan penyebab banjir sumatera, yakni deforestasi. Menjaga habitat mereka (satwa) sama dengan menjaga manusia dari ancaman bencana di masa depan.
Berkat kecerdasan serta kemampuan alaminya -seperti berenang serta mendeteksi getaran dan suara- gajah liar merupakan satwa yang sangat jarang menjadi korban selama periode bencana, setidaknya sepanjang abad ke-21.
Hal ini diperkuat dengan tidak adanya gajah liar yang hilang atau mati pada peristiwa tsunami Samudera Hindia yang menewaskan hampir seperempat juta orang di sejumlah negara (Thailand, India, Sri Lanka, dan Indonesia) yang menjadi rumah bagi spesies gajah asia terancam punah.
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan University of Virginia (UVA) Magazine (2008), Michael Garstang, Profesor Ilmu Lingkungan UVA, yang menganalisis perisitiwa tsunami Samudera Hindia berkesimpulan: “Gajah memiliki kemampuan bertahan hidup melampaui pemahaman manusia, melalui integrasi berbagai indra tajam dan kecerdasan emosional yang tinggi.”
Namun, nasib berbeda dialami satu individu gajah sumatera (Elephas Maximus sumatranus) yang terseret dan mati akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera, akhir November 2025 lalu.
“Ini mengindikasikan betapa dasyatnya banjir bandang kemarin. Gajah dengan segala kecerdasan dan kemampuan berenang yang ulung, bahkan tak mampu menyelamatkan diri,” kata Syamsuardi, Ketua PJHS (Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa) kepada Mongabay Indonesia, Senin (22/12/2025).
Dalam sejumlah foto yang tersebar di sosial media, gajah tersebut ditemukan di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (29/11/2025). Arus banjir besar bersama tumpukan kayu dan lumpur diduga menyeretnya hingga ke tengah kampung.
“Gajah tersebut mungkin sempat menerima hantaman kayu yang sangat kuat hingga terseret arus,” lanjutnya.
Sejauh ini hanya satu individu gajah sumatera yang diketahui menjadi korban. Sementara korban manusia mencapai 1.135 jiwa, 173 jiwa hilang, dan diperkirakan 489.600 jiwa mengungsi, dikutip dari situs BNPB per 26 Desember 2025.
Mengutip dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Indonesia 2019–2029, gajah sumatera tersebar di 22 kantong habitat di 7 provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung (KLHK Indonesia, 2019).
Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia, sebagian besar titik bencana banjir berada di kantong-kantong habitat gajah sumatera, khususnya di bagian utara Aceh yang memiliki 6 kantong habitat gajah sumatera.
Misalnya, di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Gayo Lues. Sementara di Sumatera Utara, kantong habitat gajah yang terdampak banjir berada di sekitar Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan.
Syamsuardi mengatakan, untuk jangka panjang, peristiwa bencana yang terjadi di sekitar kantong habitat gajah akan meningkatkan potensi konflik manusia–gajah.
“Ini dikarenakan gajah kehilangan jalur tradisionalnya yang biasa digunakan untuk mencari makan, air dan penggaraman, sehingga potensi konflik akan menjadi tinggi karena pergerakan gajah akan cendung mendekati areal perkebunan dan permukiman masyarakat,” jelasnya.

Merujuk penelitian Kuswanda dan kolega (2022), konflik manusia–gajah rentang tahun 2000–2022 menyentuh angka 2.402 kasus. Ini terjadi di semua kantong habitat gajah sumatera. Sementara dalam beberapa tahun belakangan, konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Misalnya di Aceh, seperti yang dilaporkan Mongabay Indonesia sebelumnya, konflik manusia–gajah pada 2022 mencapai 136 kasus, 2023 (149 kasus), dan 2024 (114 kasus). Sementara di Riau, konflik sepanjang tahun 2025 mencapai 15 kasus, dikutip dari Tribun Pekanbaru.
“Pascabencana, konflik manusia dan gajah bisa jadi makin meningkat, dan ini diperburuk dengan eksploitasi habitat gajah yang tidak terkontrol,” katanya.
Berdasarkan dokumen analisis Yayasan Auriga Nusantara, dalam rentang 2007–2020 ada 1,3 juta hektar habitat gajah sumatera yang hilang akibat konversi hutan menjadi lahan perkebunan skala besar (Auriga Nusantara, 2021).
Saat ini, luasan habitat gajah tersisa 4,6 juta hektar, dengan perkiraan populasi 928–1.379 individu, berdasarkan kompilasi data Forum Konservasi Gajah Indonesia (KLHK Indonesia, 2019).

Tidak hanya gajah
Di kawasan Batang Toru, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, satu individu orangutan tapanuli -satu dari tiga spesies orangutan paling terancam punah di dunia- turut menjadi korban bencana banjir dan longsor di Sumatera.
Dikutip dari BBC Indonesia, saat ditemukan, kondisi tubuh orangutan tersebut sudah rusak, dan diperkirakan telah mengalami proses pembusukan aktif selama lima hingga 10 hari.
Berdasarkan analisis citra satelit Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures di Brunei, 4.800 hektar hutan di lereng gunung terlihat hancur akibat tanah longsor. Namun, karena tutupan awan, dia memperkirakan angka kerusakan menjadi 7.200 hektar.
“Area yang hancur tersebut diperkirakan dihuni sekitar 35 orangutan. Karena kerusakannya dahsyat, tidak akan mengejutkan jika semuanya mati. Itu pukulan besar bagi populasi,” katanya, dikutip dari BBC Indonesia.
Dalam SRAK Orangutan Indonesia 2019-2029, populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) diperkirakan berjumlah 13.710 individu dengan luas habitat sekitar dua juta hektar, sedangkan Pongo tapanuliensis diperkirakan berjumlah antara 577-760 individu dengan luas habitat sekitar 100 ribu hektar (Putro dan kolega, 2019).

Sedikit berbeda dengan orangutan dan gajah, hingga saat ini belum ada catatan matinya harimau sumatera akibat bencana banjir sumatera. Iding Achmad Haidir, Ketua Forum HarimauKita (FHK) mengatakan, hal itu dikarenakan harimau sumatera sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi.
“Hal serupa juga seharusnya terjadi pada gajah dan orangutan. Namun, temuan kematian mereka membuktikan bahwa kejadian banjir dan longsor begitu cepat terjadi. Dan harimau sumatera sepertinya hanya sedikit beruntung dari mereka,” katanya, kepada Mongabay Indonesia, Selasa (16/12/2025).
Namun, Iding mencatat adanya kasus anak harimau sumatera (usia 10-12 bulan) betina kena jerat babi pada 22 November 2025 lalu, atau dua hari sebelum bencana banjir menerjang Sumatera, termasuk Kabupaten Agam, lokasi anak harimau tersebut ditemukan.
Meskipun berangsur pulih setelah dirawat di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMBK) Bukittinggi, Iding mengaku khawatir dengan nasib induk harimau yang gelisah mencari anaknya.
“Keduanya terpisah dua hari sebelum bencana banjir. Anaknya terkena jerat, sementara sang induk entah selamat atau tidak dari terjangan banjir. Hingga saat ini belum ada kabar keberadaan induknya,” kata Iding.
Berdasarkan data Forum Harimau Kita (FHK), diperkirakan populasi liar harimau sumatera sekitar 568 individu. Tersebar dalam 23 lanskap habitat dengan luas sekitar 9 juta hektar, sementara luas total Pulau Sumatera sekitar 47 juta hektar.
Dalam waktu dekat, bencana sumatera mungkin tidak akan berdampak bagi harimau sumatera.
“Tapi dua atau tiga generasi kedepan, bisa jadi populasinya menurun akibat mangsa habis, nutrisi tidak tercukupi, makanan tidak sehat, hingga menyebabkan penyimpangan genetik dan mandul karena fragmentasi habitat yang masif,” kata Iding.

Menjaga habitat satwa
Secara alami, lanskap Pulau Sumatera sudah ringkih –dengan gunung-gunung, perbukitan serta lembah-lembah curam- yang dalam. Tanpa dirusak pun, alamnya sudah rentan terhadap bencana.
“Sumatera itu cantik namun ringkih,” kata Iding. “Pemerintah harus sangat hati-hati dalam mengambil keputusan terkait pengeloaan sumber daya alamnya.”
Bencana ini membuktikan, ketika habitat satwa di rusak, manusia juga harus siap dengan gelombang bencana di masa depan.
Syamsuardi menambahkan, satwa dan bencana terhubung melalui kondisi ekosistem hutan. Hilangnya satwa mencerminkan rusaknya fungsi ekologis hutan, yang pada saat bersamaan meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir bandang dan longsor.
“Konservasi satwa terancam punah tidak hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di Sumatera,” katanya.
Merujuk rilis Walhi Nasional pada awal Desember, periode 2016 hingga 2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat rusak akibat aktivitas 631 perusahaan, pemegang izin tambang, HGU sawit, PBPH, geotermal, izin PLTA dan PLTM (Walhi, 2025).
Pemerintah harus lebih serius mengelola habitat gajah dan satwa terancam punah lainnya, dan memandang bencana alam sebagai krisis ekologi dan sosial sekaligus. Perlindungan satwa terancam punah seperti gajah sumatera bukan beban tambahan, tetapi bagian dari strategi jangka panjang pengurangan risiko bencana.
“Tanpa konservasi habitat dan satwa, upaya penanggulangan bencana akan bersifat sementara dan berulang. Juga, memastikan koridor gajah ada dan merestorasi habitat gajah sesuai kebutuhan gajah sehingga pada jalur gajah terdapat terminal gajah yang mampu mengakomodir kebutuhan gajah liar seperti air, pakan dan penggaraman,” terang Syamsuardi.
Terakhir, menurunnya populasi gajah, harimau, orangutan dan satwa lainnya sejalan dengan penyebab banjir sumatera saat ini, yakni deforestasi.
“Jadi, menjaga habitat mereka (satwa) sama dengan menjaga kita dari ancaman bencana di masa depan,” tegasnya.
Referensi:
Auriga Nusantara. (2021). Gajah Sumatera dalam Konsesi. https://auriga.or.id/resource/reference/gajah_sumatera_dalam_konsesi.pdf
Haryanto, R. P., Rinaldi, D., Arief, H., Soekmadi, R., Kuswanda, W., Noorchasanatun, F., … & Simangunsong, Y. D. (2019). Ekologi orangutan Tapanuli. Bogor: Kelompok Kerja Pengelolaan Lansekap Batang Toru Berkelanjutan. https://www.researchgate.net/profile/Dede-Rahman-2/publication/336851911_EKOLOGI_ORANGUTAN_TAPANULI_Pongo_tapanuliensis/links/5db6f75a299bf111d4d7663f/EKOLOGI-ORANGUTAN-TAPANULI-Pongo-tapanuliensis.pdf
KLHK Indonesia. (2019). Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Indonesia 2019-2029. https://cruaceh.org/wp-content/uploads/2022/09/SRAK-Gajah-25-Juni-2019_final-peta.pdf
Kuswanda, W., Garsetiasih, R., Gunawan, H., Situmorang, R. O. P., Hutapea, F. J., Kwatrina, R. T., Karlina, E., Atmoko, T., Zahrah, M., Takandjandji, M., & Gunaryadi, D. (2022). Can Humans and Elephants Coexist? A Review of the Conflict on Sumatra Island, Indonesia. Diversity, 14(6), 420. https://doi.org/10.3390/d14060420
UVA Magazine. (2008). Elephant Speak What the 2004 tsunami can tell us about animal communications. Universitas Virginia. https://uvamagazine.org/articles/elephant_speak#:~:text=Nearly%20a%20quarter%20million%20people,many%20were%20in%20danger%20zones.
Walhi. (2025). Legalisasi Bencana Ekologis di Sumatera dan Tuntutan Tanggung Jawab Negara Serta Korporasi. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). https://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi
*****
Catatan Akhir Tahun: Bencana Banjir dan Mitos Kekayaan Sumatera