- Dalam ingatan yang terjaga dalam tambo atau hikayat, di masa lalu pernah terjadi bencana hidrometeorologi yang membuat sebagian besar Pulau Sumatera tergenang air.
- Diperkirakan, bencana hidrometeorologi di Sumatera pada masa lalu, juga dampak dari aktivitas antropogenik dan cuaca ekstrem.
- Kerusakan alam di Pulau Sumatera pada masa lalu, diperkirakan dampak dari mitos Swarnadwipa dan Swarnabhumi. Mitos itu melegitimasi hasrat komoditas para antropogenik.
- Pengetahuan luhur terkait penataan lingkungan harus menjadi pijakan pemerintah dalam menjaga lingkungan. Selain itu, butuh tekanan moral lebih nyata terhadap para antropogenik atau perusak lingkungan agar mereka jera dan berhenti melakukan kejahatannya.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi di Pulau Sumatera, terutama di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, pada November 2025, meninggalkan arsip kedukaan mendalam. Bukan hanya dirasakan manusia, juga semua makhluk hidup di Sumatera.
Apakah di masa lalu pernah terjadi bencana hidrometeorologi di Sumatera seperti saat ini?
Tidak ada catatan atau bukti sejarah mengenai bencana hidrometeorologi di Sumatera, yang dampaknya cukup besar di masa lalu. Tapi, berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia ada sejumlah tambo atau hikayat mengenai banjir besar di Sumatera.
Misalnya pada masyarakat Minangkabau, mengisahkan leluhur mereka turun dari Gunung Marapi setelah banjir besar, dan terbentuk kelompok masyarakat pada abad ke-12. Diperkirakan banjir besar ini berlangsung pada abad ke-11.
Masyarakat di Sumatera Selatan, juga memiliki hikayat tentang banjir besar yang terjadi pada abad ke-11, dan bahkan disebutkan tahunnya yakni 1035 Masehi. Dikutip dari buku “Batang Hari Sembilan dari Abad ke Abad”, dikisahkan sebuah kelompok masyarakat yang selamat dari banjir besar pada abad ke-11, dan mereka menyebar ke wilayah sekitar Sungai Musi, Sungai Lematang, serta di wilayah perbukitan di Besemah, Jambi, dan Lampung Barat.
Masyarakat di Pulau Bangka juga memiliki hikayat yang sama. Misalnya pada Suku Maras, yang hidup di sekitar Gunung Maras, menyebutkan leluhur mereka datang dari Jawa saat banjir besar. Kapal mereka karam di sekitar Gunung Maras. Peristiwa tersebut sekitar abad ke-11. Sampai saat ini, banjir besar masih menjadi kecemasan bagi orang Maras, sehingga mereka bertahan hidup di sekitar Gunung Maras.

Di luar Sumatera, berdasarkan sejumlah catatan sejarah pada abad ke-11 di Tiongkok, Timur Tengah, Eropa, dan Jawa, terjadi banjir besar.
Di Tiongkok banjir besar melanda Sungai Kuning (Yellow River) pada abad ke-11 hingga 12, yang menyebabkan kematian jutaan jiwa manusia, dan membuat keruntuhan Dinasti Song Utara. Bahkan, bencana tersebut sebagai “krisis iklim pertama” secara global, sebab diperkirakan aktivitas manusia yang mengubah bentang alam sekitar Sungai Kuning, sebagai pemicu bencana hidrometeorologi yang berdampak luar biasa.
Dari abad ke 11 hingga 15, terjadi banjir besar di Eropa, khususnya Polandia dan Eropa Tengah, serta Semenanjung Iberia (Spanyol). Di Yaman, juga terjadi banjir besar pada abad ke-11.
Di Jawa, Raja Airlangga dari Kerajaan Medang Kamulan atau Kahuripan memerintahkan pembangunan Bendungan Waringin Sapta untuk mengatasi banjir tahunan akibat luapan Sungai Brantas. Upaya ini diabadikan dalam Prasasti Kamalagyan yang bertarikh 1037 Masehi.
Di sisi lain, pada masa itu dunia tengah mengalami kenaikan suhu atau yang dikenal sebagai Periode Hangat Abad Pertengahan atau Medieval Warm Period (MWP), yang berlangsung dari tahun 900-1300 Masehi.

Kerusakan di masa Sriwijaya?
Yulion Zalpa, kandidat doctoral political ecology di Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan ada kemungkinan terjadi pemanfaatan secara berlebihan kekayaan alam pada masa Kedatuan Sriwijaya. Misalnya dari aktivitas penambangan emas, penebangan kayu untuk dimanfaatkan kulit atau batangnya, seperti pohon kayu manis, gaharu, unglen, dan sebagainya.
Jadi, ketika berulang kali terjadi curah hujan ekstrem di awal abad ke-11 Masehi, membuat banyak wilayah kekuasaan Kedatuan Sriwijaya mengalami bencana hidrometeorologi.
Tata kelola air yang dikembangkan Kedatuan Sriwijaya seperti membuat bendungan, kolam, kanal, dan menanam sejumlah tanaman yang dapat menjaga air, seperti dinyatakan dalam Prasasti Talang Tuwo, mungkin tidak mampu menghindar dari bencana hidrometeorologi.
“Catatan sejarah menyebutkan Kedatuan Sriwijaya mulai mengalami kemunduran pada abad ke-12 Masehi, sehingga saya berasumsi Sriwijaya runtuh merupakan dampak dari bencana hidrometeorologi seperti dialami Dinasti Song Utara di Tiongkok.”
“Tapi teori ini butuh pembuktian melalui penelitian. Misalnya, penelitian geologi di lingkungan sejumlah peninggalan Kedatuan Sriwijaya. Baik di Sumatera Selatan maupun di Jambi,” katanya.
Sebagai sebuah pengetahuan, Prasasti Talang Tuwo tetap menjadi pembelajaran yang baik dalam upaya mitigasi banjir.

Rini Widyantini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), saat menerima Mego Pinandito, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), di kantornya, Rabu (17/12/2025), menjelaskan Prasasti Talang Tuwo merupakan pengarsipan dari upaya mitigasi banjir yang sangat baik dilakukan Sriwijaya.
Upaya tersebut melalui pembuatan sebuah taman (Taman Sriksetra) yang dirancang dengan sistem hidraulika kuno berupa kanal, kolam, telaga, dan parit untuk mengatur aliran air. Kawasan tersebut juga ditanami berbagai jenis pohon yang mampu menampung air saat hujan deras, dan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.

Retno Purwanti, arkeolog dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang banyak melakukan penelitian tentang Kedatuan Sriwijaya, membenarkan jika percandian Hindu-Buddha di Pulau Sumatera mulai bergeser ke wilayah dataran tinggi sejak abad ke-13 Masehi. Seperti di Sumatera Barat, peninggalan Kerajaan Dharmasraya.
Dengan sebaran candi ini, dapat diperkirakan berlangsung perpindahan kelompok manusia dari wilayah dataran rendah ke dataran tinggi atau arus balik; dilihat dari jejak megalitikum di dataran tinggi pada abad ke-11 dan 12 Masehi.
Apakah perpindahan ini sebagai dampak banjir besar?
“Belum ada data atau informasi mengenai bencana banjir besar sebagai penyebab perpindahan kelompok manusia dari dataran rendah ke dataran tinggi di Sumatera, awal abad pertengahan,” kata Retno, Jumat (19/12/2025).

Mitos Sumatera kaya
Sejak awal masehi, di wilayah Asia, khususnya India, lahir mitos mengenai Pulau Sumatera. Pulau ini digambarkan sebagai pulau kaya emas dan rempah-rempah. Mereka menyebutnya “Swarnadwipa” dan “Swarnabhumi”.
Mitos ini menghadirkan para pendatang ke Sumatera dari berbagai wilayah di Asia. Ingin merayakan kekakayaan tersebut.
“Kejayaan Kedatuan Sriwijaya di Asia Tenggara seakan membuktikan mitos tersebut, sehingga pascakeruntuhan Sriwijaya menghadirkan banyak pendatang baru ke Sumatera. Terutama, para bajak laut. Mereka menjadi antropogenik, sehingga menghilangkan berbagai pengetahuan milik masyarakat lokal, termasuk pengetahuan mitigasi dari bencana hidrometeorologi dan bencana geologi,” kata Yulion.
Mitos tentang Sumatera kaya ini terus berkembang hingga hari ini. “Bahkan bukan hanya Sumatera, juga semua wilayah di Nusantara. Nusantara dinyatakan sebagai negeri kaya sumber daya alam. Bukan hanya emas, juga minyak bumi, batubara, panas bumi, nikel, hingga logam tanah jarang. Mitos ini tumbuh bukan hanya di daratan Asia, juga di Eropa dan Amerika.”

Handoyo, peneliti dari Pusat Riset Kependudukan BRIN, menjelaskan secara antropologi pengetahuan, penyebutan Swarnadwipa atau Swarnabhumi bisa dipahami sebagai resource imaginary. Narasi yang menyatakan sebuah wilayah terbaca sebagai sumber komoditas seperti emas dan kekayaan alam lainnya. Tapi, banyak pendapat bahwa golden land pada teks-teks yang tercatat di India (Hindu-Buddha) itu kabur atau tidak jelas, dan sering diperebutkan maknanya di era moderen.
“Jadi, lebih merupakan konsep atau mitos fleksibel ketimbang peta geografis yang tegas,” jelasnya, Sabtu (20/12/2025).
Mereka yang datang atas mitos tersebut, bukan hanya menghasilkan kontak budaya berupa hibridisasi pengetahuan, juga berlangsung perubahan skala dan logika penguasaan wilayah.
“Ketika lanskap dikelola untuk ekstraksi dan kontrol seperti melalui konsesi, batas-batas administrasi, klasifikasi hutan atau lahan, rezim property, maka praktik dan pengetahuan lokal bisa didelegitimasi karena dianggap liar atau tertinggal sehingga terputus dari ruang hidupnya.”
“Tapi, bukan mitos tersebut yang menyebabkan adanya migrasi kemudian terjadi kerusakan. Mitos tersebut seperti memberi legitimasi hasrat komoditas yang melahirkan rezim ekonomi-politik ekstraktif, dan faktor ini yang signifikan meminggirkan pengetahuan lokal. Termasuk pengetahuan mitigasi bencana,” kata Handoyo.

Pengetahuan dari bencana
Banjir besar atau bencana hidrometeorologi membuat masyarakat di Sumatera memiliki sejumlah pengetahuan sebagai upaya menghindari bencana tersebut.
Misalnya mereka membangun rumah panggung dengan ketinggian berkisar 3-5 meter atau lebih. Mereka membuat rumah rakit jika hidup di bantaran sungai; jika menetap di wilayah dataran tinggi, memilih lembah sebagai wilayah permukiman dan tidak membangun rumah di lereng perbukitan atau tepi sungai; serta melakukan tata kelola air, seperti membuat aliran, tebat atau danau kecil sebagai tempat penampungan air.
Kemudian pangan lebih mengandalkan dari hasil alam, sehingga tidak banyak mengubah bentang alam untuk dijadikan perkebunan. Juga, menetapkan sejumlah wilayah larangan, seperti hutan larangan, bukit larangan, lubuk atau sungai larangan, dan lainnya. Mereka juga melahirkan sejumlah legenda, falsafah, tradisi, ritus, seni, dan lainnya, yang tujuannya menjaga pengetahuan tentang penjagaan alam.
“Mereka juga banyak menanam bambu dan pohon andalas, sebagai upaya menahan longsor dan banjir. Kedua jenis tanaman itu banyak manfaatnya bagi pelestarian lingkungan,” kata Retno.
Sementara di Jawa, yang banyak ditanam adalah bambu dan beringin. Misalnya, petirtaan atau tempat pemandian suci Watu Gede di Malang, dari masa Singasari sampai sekarang, sekelilingnya masih banyak ditumbuhi bambu betung. Sementara, petirtaan dari zaman Panembahan Senopati di Kotagede, banyak ditanam pohon beringin.

Berdasarkan pemantauan Mongabay Indonesia, beberapa wilayah di dataran tinggi Sumatera, mulai Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, dan Sumatera Barat, yang belum banyak ditemukan perkebunan sawit atau perkebunan monokultur lainnya, banyak ditemukan rumpun bambu betung di tepian sungai atau di lereng-lereng perbukitan.
Bambu betung ini selain menjaga tanah terhindar longsor, menjaga keberadaan air, juga dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber bahan kerajinan anyaman dan bangunan, serta pangan (rebung).
“Guna menyelamatkan Sumatera ke depan, termasuk wilayah lainnya di Indonesia, saya pikir berbagai pengetahuan menjaga lingkungan yang dilahirkan para leluhur, dapat dijadikan pijakan pembangunan di Indonesia, dan mitigasi krisis iklim yang sudah kita rasakan dampaknya saat ini,” kata Retno.
“Kita butuh mitos baru mengenai Indonesia. Mitos yang tidak membuat para antropogenik mendapatkan legitimasi hasrat komoditasnya,” terang Yulion.
Hal lebih mendesak adalah membangun tekanan moral nyata, seperti sanksi sosial, rasa malu publik, dan keberanian menyebut perusak lingkungan sebagai pelaku kezaliman. Ada gerakan doa bersama yang bukan seremonial, melainkan teguran sosial yang keras dan terang-terangan.
“Bukan hanya memohon agar Tuhan membuka hati para perusak, tapi juga memohon agar Tuhan memberi hukuman kepada penjahat lingkungan yang terus membangkang, yang merusak hutan, gambut, sungai, lalu menzalimi manusia demi keuntungan pribadi dan kelompok,” tegas Handoyo.
*****