- Buaya senyulong dulu menempati bentang alam sungai dan rawa yang luas. Mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Semenanjung Malaysia. Kini kehidupannya menghadapi tekanan habitat. Keberadaan senyulong, terus di pantau di lahan basah Mesangat Suwi, Kalimantan Timur.
- Selama tiga generasi atau 75 tahun terakhir, populasi senyulong menyusut hingga 30 persen. Kini jumlahnya diperkirakan kurang dari 2.500 ekor. Berdasarkan IUCN, statusnya juga Genting (Endangered/EN).
- Senyulong sejatinya adalah bioindikator. Sebagai apex atau predator puncak di lahan basah, keberadaannya menyiratkan bahwa ekosistem di wilayahnya dalam keadaan baik-baik saja.
- Iklim yang makin tak menentu membuat pola ekologis senyulong berantakan. Pergeseran ini bukan sekadar gangguan kecil, tetapi ancaman langsung siklus hidupnya. Jika sarang dibuat di waktu salah, telur bisa gagal menetas. Jika rawa terlalu kering, betina tak punya tempat aman bertelur.
Nama senyulong masih terdengar asing. Padahal, spesies ini dulu menempati bentang alam sungai dan rawa yang luas. Mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Semenanjung Malaysia. Di Jawa, kini keberadaannya mulai sulit ditemukan. Sementara di Sumatera dan Kalimantan, menyisakan beberapa tempat, itupun terfragmentasi dan menghadapi tekanan.
Dalam sedikit ruang hidup tersisa itu, senyulong mencoba bertahan hidup. Populasinya terus menurun. Selama tiga generasi atau 75 tahun terakhir, jumlahnya menyusut hingga 30 persen. Kini jumlahnya diperkirakan kurang dari 2.500 ekor. Jika pada 2014 IUCN menyatakan spesies ini Rentan (Vulnerable/VU), pada 2022 senyulong menyandang status Genting (Endangered/EN).
Berbeda dengan buaya yang kerap digambarkan sebagai pemakan hewan berkaki empat seperti wildebeest atau banteng, senyulong gemar makan ikan. Nelayan Kutai bahkan menganggap kehadiran senyulong di sungai merupakan pertanda bahwa di tempat itu banyak ikan.
“Buaya senyulong merupakan spesialis pemakan ikan. Moncongnya yang pipih secara biologis dapat menangkap ikan efisien,” ungkap Brian Martin, peneliti program doktoral, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.

Lihat saja moncongnya, runcing seperti capit. Moncong itu bisa digerakkan dengan cepat di dalam air mengikuti manuver ikan. Gara-gara moncongnya yang unik itu, senyulong juga disebut buaya sapit oleh sebagian masyarakat Kalimantan. Sementara, nama senyulong lebih banyak dipakai oleh pemakai Bahasa Melayu seperti di Sumatera, yang kurang lebih berarti moncong panjang. Nama ilmiahnya Tomistoma schlegelii dari Bahasa Yunani yang berarti mulut tajam.
Senyulong sejatinya adalah bioindikator. Sebagai apex atau predator puncak di lahan basah, keberadaannya menyiratkan bahwa ekosistem di wilayahnya dalam keadaan baik-baik saja. Namun kini, sesuatu tengah berubah.

Krisis Iklim
“Saya memulai survei tahun 2017. Setelah kemarau panjang di 2015 kondisi rawa dan danau di lahan basah Mesangat, Kalimantan Timur, masih banyak spot terbuka dan gampang diakses,” ungkapnya kepada Mongabay, Kamis (6/11/2025).
Brian Martin adalah anggota IUCN SSC Crocodile Specialist Group. Dia juga Direktur Lapangan Yayasan Ulin Nusantara Lestari. Yayasan ini pada 2023 diganjar Kalpataru. Pada 2017 lalu, dia terlibat dalam survei senyulong di lahan basah Mesangat Suwi. Kawasan ini memiliki spesies kunci antara lain senyulong (T. schlegelii), buaya siam (Crocodylus siamensis), dan ikan belida (Leptotilos javanicus).
Namun, kondisi Mesangat sekarang berubah. Menurutnya, sejak tahun 2020, sangat susah mengakses lokasi observasi buaya karena telah surut dan kering. Perahu pun sulit bermanuver di kawasan tersebut. Musim banjir yang seharusnya terjadi pada Desember dan Januari bergeser ke Maret dan April.
Selama ini hanya sedikit sarang liar senyulong yang berhasil didokumentasikan. Sarang itu ada di hutan rawa gambut di hulu yang terpencil, di pangkal pohon besar, di tepi lahan pertanian, ada juga di atas hamparan tumbuhan air yang mengapung.
Senyulong membangun sarang di musim kemarau. Setiap sarang berisi 13-41 telur, merupakan telur terbesar dari jenis buaya yang masih ada. Telur itu menetas setelah 70-80 hari, saat akhir kemarau atau awal penghujan. Sementara senyulong betina mencapai kematangan seksual pada umur 20 tahun, saat itu dia berukuran 2,5-3 meter.
Iklim yang makin tak menentu membuat pola ekologis senyulong berantakan. Pergeseran ini bukan sekadar gangguan kecil, tetapi ancaman langsung siklus hidupnya. Jika sarang dibuat di waktu salah, telur bisa gagal menetas. Jika rawa terlalu kering, betina tak punya tempat aman bertelur.
Dalam kesempatan sebelumnya, Herdhanu Jayanto, seorang konservasionis dan lulusan New Mexico Highlands University, Amerika menjelaskan, penelitian secara khusus dampak krisis iklim ke senyulong belum pernah ada. Sejauh yang dia tahu, riset dampak krisis iklim dilakukan untuk buaya muara.
“Beberapa ada penelitian di buaya muara seperti Fukuda et al 2022 dan Barham et al 2025 yang bisa jadi proxy ke senyulong,” jelasnya, Sabtu, (1/11/2025).

Namun yang jelas, secara biologis krisis iklim dapat mempengaruhi perubahan perilaku, pembuatan sarang, musim kawin, bahkan jenis kelamin bayi-bayi senyulong. Bergesernya musim hujan dan musim kering akan mengacaukan siklus alami mereka. Mulai dari waktu bertelur hingga suhu inkubasi yang menentukan rasio jantan dan betina dalam populasi. Ketidakseimbangan ini berpotensi mengganggu regenerasi dan kelangsungan hidup spesies dilindungi ini.
“Pemanasan global mungkin berpengaruh juga ke rasio seks anakan karena semua buaya jenis kelaminnya TSD atau Temperature Sex Determined saat masa inkubasi telur di sarang,” jelasnya.
Bentang alam yang unik, jelas merupakan tantangan. Namun, memahami ulang perilaku satwa yang hidupnya sangat bergantung pada keseimbangan air ini juga menjadi tantangan tersendiri.
“Hal ini banyak sekali mengubah perilaku satwa bergerak, mulai dari kawin, bersarang, dan bertelur. Ini yang membuat banyak sekali variabel observasi buaya di Kaltim menjadi sangat sulit dan berisiko,” papar Brian.
Rawa Mesangat dan kawasan sekitarnya yang kini berada dalam tekanan besar, hanya salah satu contoh. Krisis iklim dan ekspansi perkebunan sawit di sekitarnya membuat habitat alami terfragmentasi. Dulu, air mengalir bebas dari satu danau ke danau lain. Kini, banyak aliran terputus atau berubah arah. Di permukaan, seolah tak ada yang berubah, tapi bagi seekor buaya pemakan ikan, hilangnya genangan berarti hilangnya kehidupan.
Secara umum, buaya memiliki perilaku adaptif dengan lingkungan. Namun, jika perubahan yang terjadi sangat signifikan dapat berdampak pada perilaku maupun psikologi spesies tersebut. Contohnya, senyulong yang akhirnya menargetkan manusia sebagai mangsanya.
“Terjadi beberapa kasus serangan terhadap manusia akhir-akhir ini di perkebunan sawit Kaltim. Hal ini mugkin dipengaruhi nirpakan yang ada di habitatnya, sehingga individu senyulong menargetkan potensi pakan lain,” ungkap Brian.
Selama ini, serangan umumnya dilakukan buaya muara. Senyulong dianggap tak segarang buaya muara. Bertemu manusia pun malu. Namun kini, ternyata senyulong tak seramah yang diduga.

Pelestarian
Di tengah segala tantangan, ada kisah kearifan yang membuat harapan akan kelestariannya masih ada. Bagi masyarakat Kutai lama di Desa Long Mesangat, senyulong bukan sekadar buaya. Ia dipercaya sebagai roh leluhur yang menjaga keseimbangan alam.
“Buaya Limburan atau senyulong dianggap roh leluhur. Mereka tidak diizinkan menyentuh atau membunuh buaya karena nantinya akan berdampak pada keturunan mereka entah sakit atau musibah,” ungkap Brian.
Pandangan umum masyarakat Kutai moderen pun sangat menghindari pertemuan dengan buaya. Mereka enggan beraktivitas di sungai pada senja atau malam hari. Kepercayaan semacam ini bisa mengurangi konflik antara manusia dengan senyulong.
Lain halnya dengan masyarakat Dayak Kenyah, yang menjadikan buaya sebagai simbol pelindung lahan ketika musim panen padi. Dalam ritual hudoq, topeng buaya dipakai untuk mengusir roh jahat yang mengganggu hasil ladang.
“Buaya apapun jenisnya, merupakan leluhur mereka untuk menjaga hutan dari gangguan masyarakat yang berbuat dosa,” jelas Brian, melalui email.

Meski begitu, tak semua komunitas adat memiliki pandangan yang sama. Beberapa subsuku di hulu Mahakam masih memburu buaya sebagai sumber protein hewani. Namun, inti kearifan mereka tetap sama. Hutan, sungai, dan makhluk yang hidup di dalamnya harus dijaga agar kehidupan manusia lestari. Revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal bisa menjadi jalan tengah pelestarian budaya dan mitigasi krisis iklim.
Di tingkat kebijakan, Herdhanu mencatat, perpindahan otoritas manajemen buaya dari Kemenhut ke KKP berdasarkan UU No. 32 tahun 2024 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem telah membawa aroma tantangan dan peluang baru bagi konservasi buaya dan Tomistoma.
“Salah satu tantangannya ada di UPT Daerah KKP yang tidak sebanyak UPTD Kemenhut (BKSDA). Juga perlunya ada penyesuaian tata kelola dan penanganan buaya di lapangan, walaupun perlindungan wilayah habitat Tomistoma di bawah kawasan konservasi masih berkolaborasi dengan Kemenhut.”
Perubahan tata kelola ini diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan senyulong, tetapi juga memperluas pemahaman bahwa menjaga rawa gambut berarti juga menjaga iklim bumi.
Di tengah suhu global yang terus naik, keberadaan buaya bermoncong panjang di rawa Mesangat menjadi pengingat sederhana bahwa alam hanya akan melindungi manusia sejauh manusia mau melindunginya kembali.
*****