Sekitar 66 juta tahun silam, sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi dengan kekuatan yang mengubah sejarah kehidupan selamanya. Peristiwa ini memicu malapetaka global: batuan superpanas terlontar ke atmosfer hingga memanaskan udara mencapai 226 derajat Celsius, tsunami setinggi satu mil menyapu daratan, dan kebakaran hutan meluas ke berbagai benua. Lebih jauh lagi, partikel sulfur yang meluncur ke atmosfer menghalangi sinar matahari selama satu dekade, memicu musim dingin nuklir dan hujan asam yang merusak rantai makanan secara permanen.
Sebanyak 75 persen spesies di Bumi punah dalam peristiwa yang kini dikenal sebagai kepunahan Kapur-Paleogen, termasuk dinosaurus non-unggas yang selama jutaan tahun mendominasi daratan. Namun di tengah kehancuran total itu, beberapa garis keturunan mamalia, burung purba, dan kura-kura berhasil selamat. Mereka bukan sekadar beruntung; ada kombinasi faktor biologis, ekologis, dan perilaku yang secara tidak sengaja mempersiapkan mereka untuk dunia yang sama sekali berbeda. Pertanyaannya: mengapa raksasa-raksasa itu tumbang, sementara nenek moyang mamalia justru lolos?
Ukuran Tubuh: Keunggulan yang Berubah Jadi Kutukan
Dalam paleontologi, ukuran tubuh sering menjadi variabel utama dalam ketahanan terhadap perubahan iklim. Peneliti menekankan bahwa bagi apex predator seperti
atau herbivora raksasa seperti Triceratops, ukuran yang sebelumnya merupakan keunggulan evolusioner justru menjadi beban mematikan saat bencana terjadi. Selama puluhan juta tahun, tubuh besar memberi mereka keunggulan dalam berburu, mempertahankan wilayah, dan bersaing memperebutkan sumber daya. Namun dalam hitungan bulan setelah hantaman asteroid, semua keunggulan itu berbalik arah.
Hewan-hewan berukuran besar membutuhkan asupan energi luar biasa untuk mempertahankan metabolisme mereka. Seekor T. rex dewasa diperkirakan membutuhkan ratusan kilogram daging setiap minggu. Ketika ekosistem kolaps dan sumber makanan langka, kebutuhan energi sebesar itu mustahil terpenuhi. Tubuh besar juga membuat mereka kesulitan mencari perlindungan dari gelombang panas ekstrem dan kejutan tekanan udara yang ditimbulkan oleh ledakan pasca-hantaman.

Sebaliknya, mamalia kecil dan kadal seukuran luak justru diuntungkan oleh proporsi tubuh mereka yang ringkas. Mereka mampu berlindung di dalam liang atau bawah tanah, menggali jauh dari jangkauan api dan panas permukaan. Lingkungan bawah tanah bertindak seperti bunker alami yang menstabilkan suhu, menyimpan kelembaban, dan menyediakan akses ke akar serta serangga tanah yang masih bisa dimakan. Keunggulan sederhana ini ternyata menjadi penentu kelangsungan hidup yang paling krusial.
Siapa yang Bergantung pada Matahari, Siapa yang Tidak
Ketika debu dan partikel sulfur dari hantaman asteroid menutupi atmosfer dan secara efektif memutus fotosintesis global, dunia tumbuhan mengalami kemunduran masif yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tanpa sinar matahari, tumbuhan mati dalam skala besar. Rantai makanan yang bergantung langsung pada vegetasi hidup pun runtuh seketika, mulai dari herbivora besar hingga karnivora yang memangsa mereka. Satwa yang sangat bergantung pada tumbuhan hijau menjadi kelompok paling rentan, tanpa jalan keluar dari spiral kelaparan yang tak terelakkan.
Sebaliknya, ekosistem perairan dalam dan perairan tawar memberikan perlindungan yang lebih baik. Makhluk hidup yang mengonsumsi detritus, yaitu materi organik yang telah membusuk, memiliki peluang bertahan jauh lebih tinggi karena sumber makanan mereka tidak bergantung pada sinar matahari secara langsung. Lapisan sedimen di dasar danau dan sungai menyimpan cadangan organik yang cukup untuk menopang kehidupan selama bertahun-tahun. Garis keturunan Nautilus modern dan beberapa jenis hiu purba berhasil melewati ambang kepunahan dengan memanfaatkan sumber daya dasar laut ini.

Kemampuan diet generalis juga menjadi penyelamat yang tak ternilai. Mamalia kecil seperti Purgatorius janisae, salah satu primata paling awal yang dikenal, bertahan dengan memanfaatkan serangga, buah-buahan busuk, biji-bijian, dan umbi yang masih tersedia di celah-celah lingkungan yang hancur. Kemampuan beralih antara sumber makanan yang sangat berbeda, tanpa bergantung pada satu jenis saja, memberikan mereka daya tahan metabolik yang jauh melampaui para spesialis makanan yang tidak punya pilihan lain.
Selain fitur fisik dan pola makan, fleksibilitas perilaku memainkan peran yang tidak kalah penting dalam menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang tidak. Burung purba, sebagai keturunan langsung dinosaurus theropoda, bertahan justru karena kemampuan terbang memungkinkan mereka berpindah secara cepat ke wilayah yang kurang terdampak bencana. Tidak seperti hewan darat yang terjebak di lingkungan yang terbakar atau tertutup abu, burung bisa menjangkau wilayah pesisir, lembah terlindung, atau zona mikroklimat yang masih menyediakan makanan dan tempat berlindung. Laju pertumbuhan anak burung yang cepat pun berarti mereka lebih cepat mandiri dan tidak terus-menerus membebani sumber daya induknya di masa-masa paling kritis. Kombinasi mobilitas tinggi dan siklus reproduksi yang efisien menjadikan burung sebagai salah satu kelompok paling tangguh dalam menghadapi kepunahan massal ini.
Anomali dari Belahan Bumi Selatan
Masih ada pertanyaan yang menantang pemahaman kita tentang kepunahan ini. Penemuan fosil buaya darat raksasa Tewkensuchus salamanquensis di Argentina, dengan berat mencapai 300 kilogram, menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana spesies sebesar ini bisa selamat dari kolapsnya ekosistem yang meluluhlantakkan dinosaurus di belahan bumi utara? Ukuran tubuhnya jelas tidak memberikan keunggulan; seharusnya, berdasarkan logika yang sama yang membunuh dinosaurus besar, ia pun tidak akan lolos.

Satu teori menyebut bahwa dampak asteroid di belahan bumi selatan mungkin tidak seintens di utara, sebagian karena pola penyebaran debu dan partikel atmosfer yang tidak merata secara global. Ada pula argumen bahwa keanekaragaman ekosistem di Amerika Selatan kala itu memberikan lebih banyak celah ekologis untuk bertahan. Anomali seperti ini mengingatkan kita bahwa kepunahan massal bukanlah peristiwa seragam yang menyapu semua wilayah dengan kekuatan yang sama, melainkan sebuah bencana dengan nuansa geografis dan ekologis yang masih belum sepenuhnya kita pahami hingga hari ini.
**
Referensi:
Guilherme Hermanson , Serjoscha W. Evers; Ecological selectivity of diet on turtle K/Pg survivorship. Biol Lett 1 March 2026; 22 (3): 20250790. https://doi.org/10.1098/rsbl.2025.0790
Penn State. (2010, February 10). Why did mammals survive the ‘K/T extinction’? ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2010/01/100131221348.htm