- Rio Ahmad, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Blue Forests, mulai terlibat di kegiatan rehabilitasi mangrove sejak 2010, di akhir mahasiswa kuliah. Ia peneliti biologi terumbu karang namun kini lebih banyak di kegiatan rehabilitasi mangrove.
- Melalui Blue Forests—sebelumnya MAP Indonesia, Rio getol mendorong model rehablitasi yang disebut Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), model rehabilitasi mangrove dengan terlebih dahulu memperbaiki ekosistemnya.
- Di bawah kepemimpinan Rio, Blue Forests meluaskan sayap ke sembilan provinsi, dari Papua hingga Riau, dan akan segera menambah satu lokasi di Nusa Tenggara Timur. Di setiap tempat, Blue Forests membawa semangat yang sama: memulihkan mangrove dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
- Rio tahu betul bahwa jalan yang ditempuh Blue Forests tidak mudah. Banyak program penanaman mangrove gagal karena tergesa-gesa mencari hasil. Banyak pula proyek yang berakhir sia-sia, menghabiskan dana tanpa jejak yang jelas. Namun ia percaya, jika manusia mau sabar, alam punya caranya sendiri untuk pulih.
Sore itu, lengang. Di ruang kerjanya, Rio Ahmad, seorang biolog yang kini memimpin organisasi lingkungan Blue Forests, membuka cerita panjangnya tentang perjalanan hidup yang lekat dengan mangrove.
Lelaki kelahiran Makassar, 24 Oktober 1985 ini, awalnya tak pernah menyangka jalan hidup akan terpaut erat dengan ekosistem pesisir.
“Dari awal saya memang mengikuti kajian-kajian kelautan dan pesisir,” katanya membuka percakapan, “Tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa hidup saya akan begitu dekat dengan mangrove.”
Rio menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin, Makassar. Dia masuk jurusan biologi pada 2003 dan lulus tujuh tahun kemudian. Fokus studinya bukan botani, melainkan biologi lingkungan dan kelautan.
Skripsinya mengulik kerentanan karang di Kepulauan Spermonde, sebuah riset hasil kerja sama Indonesia–Jerman bernama SPICE. Dari penelitian itu Rio mengenal rapuhnya ekosistem pesisir dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
“Saya belajar bahwa laut itu tidak bisa hanya dilihat dari kacamata ekonomi, tapi sebagai rumah bagi jutaan kehidupan,” katanya.
Momen itu terjadi pada akhir 2010. Saat menghadiri acara penutupan program SPICE, Rio berkenalan dengan Ben Brown, pegiat konservasi asal Amerika yang kala itu baru mendirikan mangrove action project (MAP) Indonesia. Pertemuan sederhana di sebuah rumah makan itu membuka jalannya masuk ke dunia mangrove.
“Pak Ben bilang, minggu depan ada pelatihan, kamu mau ikut gabung di tim saya?” kenang Rio. Kala itu, dia masih masih mahasiswa tingkat akhir.
Pelatihan itu adalah ecological mangrove rehabilitation (EMR), sebuah pendekatan revolusioner oleh Robin Lewis, ahli mangrove dunia.
Usai pelatihan, dia kian sadar EMR bukan sekadar metode rehabilitasi, melainkan sebuah filosofi baru.
“Filosofinya begini, kalau kita kerja sama dengan alam, pulihlah alam. Kalau kita perbaiki faktor-faktor pengganggu, seperti aliran pasang surut, maka mangrove akan tumbuh sendiri. Kita bukan pusat kebenaran, hanya bagian dari alam.”
Pengalaman itu membuat Rio mantap bergabung dengan MAP Indonesia, yang kala itu menjadi organisasi paling getol mendorong EMR di dunia. Selama hampir empat tahun, dia banyak terlibat dalam berbagai proyek rehabilitasi mangrove, mulai dari Sulawesi Utara hingga pesisir Sulawesi Selatan.
Dia belajar bahwa kegagalan rehabilitasi sering terjadi bukan karena mangrove tidak bisa tumbuh, melainkan karena manusia terlalu memaksakan diri.
“Upaya rehabilitasi mangrove di seluruh dunia itu gagal 80 persen. Kenapa? Karena terlalu fokus pada menanam bibit. Padahal kalau ekosistemnya pulih, tanpa menanam pun mangrove akan tumbuh.”
Tahun 2015, menjadi babak baru. Saat itu, Rio tengah bekerja di Papua untuk memimpin Blue Forests, yang lahir dari semangat MAP Indonesia. Di bawahnya, Blue Forests melebar ke sembilan provinsi, dari Papua hingga Riau, dan akan segera menambah satu lokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Masyarakat jadi aktor utama
Di setiap tempat, Blue Forests membawa semangat yang sama: memulihkan mangrove dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
“Blue Forests sekarang kerja di sembilan provinsi. Dari Papua Tengah, Papua Selatan, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Kalimantan Barat, sampai Riau.”
EMR, katanya, berbeda jauh dengan pendekatan konvensional. Jika metode biasa mengukur keberhasilan dengan survival rate atau berapa banyak bibit tumbuh setelah penanaman, maka EMR mengukur keberhasilan dari kemampuan alam menumbuhkan kembali bibitnya sendiri, yang disebut seedling rate.
“Kalau EMR, kami hitung berapa laju pertumbuhan bibit secara alami setelah perbaikan ekosistem. Jadi esensinya mendukung regenerasi alami,” katanya.
Target Blue Forests adalah 1.250 bibit per hektar per tahun. Jika angka itu tercapai, apalagi dengan keragaman spesies yang meningkat hingga 50%, rehabilitasi berhasil. Selama bekerja sama dengan mitra komunitas, Blue Forest telah merehabilitasi 2.332 hektar mangrove di berbagai wilayah.
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan masyarakat memperoleh penghidupan yang sehat dari ekosistem ini hingga mereka punya alasan kuat untuk terus menjaganya.
Saat ini, monetisasi nilai finansial mangrove masih sangat terbatas, baik dalam bentuk hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, maupun jasa ekosistem. Padahal nilai ekonomi riilnya sangat besar.
Riset Blue Forest di sistem mangrove Papua (Bintuni dan Timika) misal, menunjukkan nilai ekonomi mangrove mencapai Rp380 juta per hektar per tahun. Namun yang benar-benar dapat dinikmati secara finansial baru sekitar 1%, atau Rp3,8 juta per hektar per tahun.
“Inilah kesenjangan yang membuat banyak pihak menilai lebih menguntungkan jika mangrove dialihfungsikan menjadi tambak, kebun sawit, atau bahkan reklamasi,” kata Rio.

Selain itu, tantangan lain terletak pada political will dan tata kelola ruang pesisir. Mangrove seharusnya tidak dipandang semata sebagai ekosistem karbon biru, melainkan juga sebagai pilar ekonomi biru. Mengelolanya dengan tepat, mangrove dapat menjadi fondasi sumber ekonomi penting bagi negara sekaligus bagi masyarakat pesisir. Dengan begitu, alokasi ruang di pesisir akan memberi ruang yang memadai bagi mangrove, bukan justru menggesernya.
Alokasi ruang untuk reklamasi atau aktivitas ekstraktif dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) tidak harus diwujudkan demi mempertahankan fungsi ekosistem. Tidak mengejar nilai finansial jangka pendek.
“Jika arah pembangunan hanya mendorong alih fungsi, risiko ecological collapse akan semakin besar.”
Menurut Rio, perlu ruang dialog yang terbuka dan akomodatif untuk temukan model tata kelola yang adil secara sosial dan ekosistem.
Dia katakan, tantangan terbesar EMR bukan pada aspek teknis. Secara ekologis, katanya, memulihkan mangrove bisa sangat cepat. “Bongkar pematang tambak, kasi lancar air, setahun tumbuh mangrove. Itu gampang. Yang sulit itu sosial-ekonomi.”
Rio contohkan pengalaman di Tanakeke, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ketika harga rumput laut jatuh, masyarakat yang sebelumnya setuju memulihkan mangrove dengan mudah membuka kembali tambak.
“Kalau masyarakat tidak merasakan benefit ekonomi jangka pendek, cepat sekali mundur. Padahal kalau mangrove terjaga, ikannya banyak. Tapi hal itu tidak tampak langsung. Ini tantangan beratnya.”
Meski demikian, kisah sukses di Kuricaddi, sebuah lokasi di pesisir Maros, Sulsel, menjadi contoh terbaik bagaimana kesabaran berbuah hasil. “Mereka bilang, ini apa, tidak kelihatan hasilnya. Tapi lima tahun kemudian mangrove tumbuh lebat. Itu bukti bahwa kerja sama dengan alam lebih kuat daripada intervensi teknis,” ujar Rio.

Enam tahapan
Dalam setiap proyek, Blue Forests selalu melalui enam tahapan EMR, mulai dari pengumpulan data historis, survei ekologi dan hidrologi, analisis sosial-ekonomi termasuk tenurial, konsultasi dengan masyarakat, desain rehabilitasi, hingga implementasi dan monitoring.
Kini, Blue Forests tak hanya terkenal sebagai organisasi konservasi, tetapi juga ruang belajar kolektif. Mereka membuktikan bahwa menjaga alam tak bisa dipisahkan dari menjaga manusia. Dengan begitu, rehabilitasi harus berkelindan dengan ekonomi masyarakat.
“Kalau tidak ada kesepakatan sosial, hasilnya tidak bertahan.”
Baginya, keberhasilan bukan hanya saat hutan mangrove menghijau kembali, melainkan ketika masyarakat di sekitarnya ikut merasakan manfaat. “
Yang kami mau, setelah tiga tahun, tanpa kami pun ekosistem itu terus tumbuh dengan sendirinya. Itulah keberhasilan sejati,” katanya
Menurut Rio, menjaga ekosistem pesisir dan hutan mangrove bukan hanya soal menanam bibit dan memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga menghadapi dinamika sosial dan ekonomi.
Berdasarkan pengalaman Rio, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana memadukan kepentingan ekologis dengan kebutuhan masyarakat pesisir.
Secara teknis, rehabilitasi mangrove dengan pendekatan EMR relatif mudah. Perbaikan hidrologi, seperti membuka pematang tambak dan melancarkan aliran pasang surut, dapat mengembalikan fungsi ekosistem dalam waktu singkat.
Sayangnya, keberhasilan teknis tidak menjamin keberlanjutan. Kerap kali masyarakat pesisir, yang kehidupannya bergantung pada tambak atau budidaya rumput laut, kembali merusak mangrove ketika harga komoditas turun.
Kesadaran tentang manfaat jangka panjang ekosistem mangrove juga masih terbatas. Banyak masyarakat belum melihat secara nyata dampak ekologis seperti peningkatan stok ikan, perlindungan pesisir, atau nilai ekonomi ekosistem yang sehat.
Hingga kesepakatan sosial untuk menjaga ekosistem mudah rapuh ketika ada tekanan ekonomi jangka pendek.
Rio katakan, EMR mengharuskan keterlibatan masyarakat sejak tahap awal, mulai dari survei lapangan, perencanaan teknis, hingga implementasi.
Proses ini membutuhkan waktu, kepercayaan, dan komunikasi yang intensif agar komunitas merasa memiliki program dan bersedia menjaga keberlanjutan ekosistem.
*****
Aturan Baru Mangrove dan Lingkungan, Kuatkan Perlindungan atau Sebaliknya?
.