Pemilu 2014, Walhi Berharap Parlemen Tereduksi dari Perusak Lingkungan

Jika parlemen maupun pemerintah yang terpilih peduli lingkungan dan bukan bagian dari para perusak lingkungan, tentu mereka akan peduli dan bersuara keras pada kerusakan lingkungan di negeri ini. Foto: Eyes on The Forest

Walhi meminta jaminan perbaikan rekrutmen politik pada Pemilu 2014 hingga mampu mereduksi para perusak lingkungan dari parlemen dan pemerintahan. Jika melihat proses politik elektoral melalui Pemilu 2014, dinilai masih berpotensi melanggengkan oligarki partai, transaksional, pengawasan publik  minim dan masih sarat politik uang.

Oslan Purba dari Eksekutif Nasional Walhi mengatakan, sejak reformasi 1998, proses transisi demokrasi Indonesia belum mampu menciptakan kesejahteraan dan keadilan. Kebijakan lingkungan yang diproduksi pemerintah dan DPR/DPRD masih kental corak eksploitatif, liberal, dan berorientasi pasar. “Juga mendorong penghancuran lingkungan hidup serta melanggar hak asasi manusia. Juga  masih bersandarkan pada skema utang luar negeri,” katanya dalam siaran pers kepada media, Kamis(12/4/13).

Fakta lain,  katanya, perlawanan rakyat mempertahankan hak atas lingkungan hidup bersih dan sehat, wilayah kelola, serta hak-hak atas tanah, dihadapkan tindakan kekerasan dan kriminalisasi aparat negara. Dia mencontohkan, Anwar Sadat, Direktur Walhi Sumatera Selataj (Sumsel) menjadi bukti nyata upaya pembungkaman terhadap aktivis.

Peran modal,  tidak bisa dilepaskan di sini. Cabang-cabang produksi negara yang penting, misal pertambangan, perkebunan skala besar, industri properti, proyek infrastruktur, dan migas, menjadi arena kuasa mereka. “Rakyat jelata pun berhadap-hadapan dengan negara dan kuasa modal besar.”

Walhi menilai, ketiadaan platform demokratisasi dan agenda perubahan menjadi penyebab belum terwujudnya kesejahteraan dan keadilan. “Juga kegagalan pemerintahan SBY – Budiono menterjemahkan mandat transisi dan tuntutan reformasi serta dominannya kepentingan-kepentingan politik elit konservatif yang mengakibatkan kemadegan laju perubahan politik.”

KNLH Walhi

Terkait masalah ini, Walhi akan menyelenggarakan Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH) di Surabaya pada 18 – 22 April 2013 mengusung tema “Bersih-bersih Parlemen dari Para Perusak Lingkungan.”. “Ini untuk menggugah kesadaran politik publik tidak lagi memberikan suara kepada mereka yang terlibat perusakan lingkungan.”  Lebih jauh, Walhi berharap muncul sikap lebih radikal dalam mewujudkan suatu perubahan lebih struktural guna mencapai keadilan ekologis, dan kesejateraan rakyat.

Kredit

Topik

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

Perairan Nusantara menyimpan rahasia besar berupa spesies “fosil hidup” yang sanggup bertahan melewati berbagai kepunahan massal, termasuk letusan dahsyat gunung api purba. Di tengah arus modernitas, kedalaman laut dan sungai pedalaman Indonesia menjadi benteng terakhir bagi satwa yang melampaui waktu. Mulai dari kemunculan kembali Coelacanth yang sempat dianggap punah jutaan tahun silam hingga keberadaan predator […]

Artikel terbaru

Semua artikel