Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Cerita fitur

Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?

Falahi Mubarok 2 Okt 2026
Cerita fitur

Cerita di Hari Tani, dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan

L Darmawan, Luh De Suriyani, Triyo Handoko 2 Okt 2026

Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat

Akhyari Hananto 1 Okt 2026
Cerita fitur

Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar

Riyad Dafhi Rizki 1 Okt 2026

Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh

Junaidi Hanafiah 1 Okt 2026

Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan

Eko Widianto 1 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?

Falahi Mubarok 2 Okt 2026

Cerita di Hari Tani, dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan

L Darmawan, Luh De Suriyani, Triyo Handoko 2 Okt 2026

Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal

Kadek Dian Dwiyanti H.* 1 Okt 2026

Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar

Riyad Dafhi Rizki 1 Okt 2026

Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara

Yuda Almerio 30 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal

Kadek Dian Dwiyanti H.* 1 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok

Editor 2 Okt 2026

Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan.

“Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008.

Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak.

BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan.

“Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat.

Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi.

Analisis WALHI mencatat sekitar 700 hektar tutupan hutan di Kecamatan Batang Barus hilang sepanjang 1995-2024. Di Kabupaten Solok, sekitar 6.000 hektar tutupan hutan berubah menjadi lahan pertanian selama 2000-2024. Tommy menilai kondisi lahan hulu berkaitan dengan kemampuan kawasan menyerap air, menahan erosi, dan menjaga kestabilan tanah. Meski demikian, peran masing-masing perubahan lahan dalam galodo ini masih memerlukan kajian.

Isril Berd, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Sumatera Barat, juga menyoroti lereng yang terjal serta material batuan dan lumpur di hulu. Menurutnya, gabungan kondisi medan dan hujan lebat membuat air serta material dapat bergerak cepat menuju Arosuka. Dia meminta perubahan penggunaan lahan ikut diperiksa tanpa menjadikannya satu-satunya penyebab.

Bagi ahli lingkungan Indang Dewata, upaya mengurangi risiko perlu mencakup reboisasi, pemanfaatan lahan berbasis agroforestri, dan tata ruang yang mempertimbangkan ancaman bencana. Galodo Arosuka meninggalkan pekerjaan mendesak: memulihkan kawasan terdampak sekaligus menilai kembali cara hulu dan daerah aliran sungainya dikelola.

Foto utama: Batu dan lumpur memenuhi area perkantoran usai banjir bandang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia.

Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina

Editor 2 Okt 2026

Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina.

Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan individu dominan memperoleh akses lebih baik terhadap sumber daya dan kesempatan berkembang biak. Kemampuan mengubah jenis kelamin membantu kelompok menyesuaikan diri ketika kehilangan anggota yang berperan dalam reproduksi.

Penelitian yang dipimpin Laura Casas menelusuri proses itu melalui analisis ekspresi gen, yakni bagaimana gen bekerja selama perubahan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi sekaligus di seluruh tubuh.

“Perubahan kelamin melibatkan perubahan ekspresi gen yang sangat kompleks dan cepat. Otak ikan badut mengalami perubahan signifikan terlebih dahulu, diikuti perubahan pada gonad,” ungkap Casas dan koleganya.

Gonad merupakan organ reproduksi. Peneliti menemukan aktivitas tinggi pada gen yang mengkode enzim aromatase, yang berperan dalam produksi estrogen. Aktivitas tersebut ditemukan di otak maupun gonad ikan yang sedang berubah jenis kelamin, menunjukkan pentingnya pengaturan hormon dalam proses ini.

Kehidupan ikan badut juga erat dengan anemon laut. Di terumbu karang dangkal, tentakel anemon menyediakan tempat berlindung dari predator. Lapisan lendir khusus pada tubuh ikan badut membantu melindunginya dari sengatan inangnya.

Hubungan tersebut menguntungkan kedua pihak. Ikan badut mendapat perlindungan dan makanan, sementara anemon memperoleh bantuan untuk mengusir pengganggu serta membersihkan parasit. Sebelum menetap, ikan badut melakukan gerakan menyerupai “tarian” untuk menyesuaikan diri dengan anemon.

Makanan ikan badut antara lain zooplankton dan invertebrata kecil yang hidup di sekitar tempat berlindungnya. Dengan demikian, anemon menjadi bagian penting dari ruang hidup ikan ini, bukan sekadar tempat bersembunyi.

Meski populer sebagai ikan hias, pengambilan ikan badut dari alam menjadi tekanan bagi populasinya di beberapa wilayah. Artikel tersebut juga menyoroti perubahan iklim dan pengasaman laut sebagai ancaman terhadap ikan maupun habitatnya.

Pengasaman terjadi ketika laut menyerap karbon dioksida berlebihan sehingga pH air menurun. Menurut keterangan Ocean Conservancy, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan ikan badut mengenali petunjuk bau dan suara untuk bernavigasi serta mendeteksi predator.

Kemampuan berubah jenis kelamin memperlihatkan cara ikan badut mempertahankan reproduksi kelompoknya. Namun, keberlangsungan hidupnya tetap berkaitan dengan kondisi anemon, habitat terumbu karang, dan tekanan penangkapan. Keunikan reproduksinya berjalan bersama ketergantungan yang kuat pada lingkungan laut tempatnya hidup.

Foto utama: Sepasang ikan badut di perairan Bali. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.

Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?

Editor 1 Okt 2026

Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara.

Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan banyak kejadian yang merugikan kucing kuwuk berawal dari kurangnya pengetahuan kita tentang satwa tersebut. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” ujarnya.

Salah satu risiko muncul dari cara masyarakat menangani hewan yang dianggap mengganggu tanaman. Jerat tidak dapat memilih satwa yang akan tertangkap. Begitu pula penggunaan racun untuk membasmi tikus atau bajing: hewan yang terpapar racun berpotensi dimangsa kucing kuwuk. Padahal, kucing kuwuk sendiri memangsa hewan kecil, termasuk kelompok pengerat, sehingga berpotensi membantu mengendalikan tikus di sekitar lahan pertanian.

Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, menekankan bahwa risiko keracunan tersebut tidak boleh dianggap pasti terjadi dalam setiap kasus. “Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.”

Kesalahpahaman lain muncul saat warga menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Menurut Meidi, anak satwa itu belum tentu ditelantarkan; induknya mungkin sedang mencari makan. Kemiripannya dengan kucing peliharaan juga dapat membuat orang mengira kucing kuwuk bisa dirawat di rumah. Jika satwa tersebut terluka, Meidi menyarankan warga menghubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar.

Sejauh ini, Yayasan Cikananga belum memiliki catatan sistematis mengenai jumlah kucing kuwuk yang menjadi korban penangkapan, jerat, atau racun. “Jadi, kami belum bisa sebut angka karena belum benar-benar mendokumentasikan,” kata Meidi. Tanpa data itu, besarnya masalah belum dapat digambarkan secara pasti.

Erwin mengusulkan koeksistensi sebagai dasar hubungan warga dengan satwa liar: memahami bahwa keduanya berbagi ruang dan setiap makhluk memiliki peran. Edukasi, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kehidupan masyarakat yang dituju dan dilakukan terus-menerus. “Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.”

Bagi warga yang berjumpa kucing kuwuk, langkah awalnya sederhana: membiarkannya tetap berada di habitatnya dan tidak menangkapnya. Dengan mengenali perannya sebagai pemangsa hewan kecil, masyarakat dapat mengurangi risiko konflik sekaligus memberi ruang bagi satwa liar ini untuk tetap hidup di sekitar hutan dan kebun.

Foto utama: Kucing kuwuk bukan hewan peliharaan dan statusnya dilindungi. Foto: Dok. Risa Adelia.

Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?

Editor 1 Okt 2026

Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang.

Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut.

“Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.”

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh.

Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut.

Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut.

Tim peneliti juga menyoroti hubungan tarantula dengan amfibi. Mereka menghimpun sekitar 60 pengamatan dari 10 negara mengenai katak dan kodok yang menggunakan persembunyian tarantula. Menurut Zamani, tempat tersebut dapat membantu amfibi berlindung dari predator.

“Mereka memakan serangga yang dapat membahayakan laba-laba, telurnya, dan anak-anaknya. Dapat dikatakan, tarantula tidak seseram yang digambarkan selama ini,” paparnya.

Berbagai pengamatan itu memperlihatkan bahwa liang tarantula bukan sekadar tempat tinggal satu hewan. Di dalam dan sekitarnya, ada hubungan yang melibatkan perlindungan, makanan, serta ancaman. Bulu tubuh, perilaku menghindar, dan kehadiran hewan lain menjadi bagian dari cara tarantula menghadapi kehidupan di habitatnya.

Tarantula sendiri dapat hidup di bawah tanah maupun di pepohonan pada wilayah hangat. Perbedaan tempat hidup itu membantu menjelaskan mengapa pertahanannya beragam: sebagian mengandalkan bulu sebagai penghalang, sementara yang lain menjauh dari jalur semut. Hubungan-hubungan tersebut membuat perilaku tarantula lebih kompleks daripada kesan menakutkan yang sering melekat padanya.

Foto utama: Tarantula merupakan sebutan untuk laba-laba ukuran besar dan berbulu. Foto: Pixabay/Stelogic/Free to use.

Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai

Editor 30 Sep 2026

Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut.

Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri atas 50 hektare area cemara laut dan 20 hektare wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali,” katanya.

Sebelum pohon-pohon tumbuh, angin dari laut membawa pasir dan kadar garam ke lahan pertanian. Daun tanaman mudah mengering, terutama saat musim kemarau. Menurut Munadi, palawija dan tanaman hortikultura kerap gagal panen. Kelapa pun mengalami gangguan akibat paparan garam.

Tegakan cemara laut membantu mengubah kondisi tersebut. Pohon menghalangi sebagian angin yang membawa pasir dan uap garam. Pasir yang tertahan kemudian mengendap di sekitar tegakan, sementara tanaman di belakangnya mendapat ruang yang lebih terlindungi. Cemara laut juga disebut membantu mengurangi abrasi dan meredam dampak angin kencang.

Perubahan itu dirasakan Marsono Utomo, petani yang kini menanam melon di lahan seluas satu hektare. “Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, ia mengatakan hasil panennya bisa mencapai 10 ton. Namun, saat kemarau, melon tetap memerlukan penyiraman intensif.

Petani lain juga memanfaatkan lahan di kawasan tersebut. Ada yang menanam cabai, terong, semangka, dan pepaya. Tumijo, misalnya, menanam pepaya di lahan seluas 5.000 meter persegi. Ketika produksinya tinggi, hasil panennya dapat mencapai dua ton. Kehadiran pepohonan membuka peluang bertani, meski hasilnya tetap bergantung pada perawatan, cuaca, dan harga jual.

Penelitian Beny Harjadi pada 2017 turut menjelaskan perubahan lingkungan di bawah tegakan cemara laut. “Cemara laut mampu menurunkan pencahayaan matahari hingga 88 persen, sehingga suasana di bawah pohon menjadi lebih teduh.” Pada pantai berpasir, peran pohon juga penting karena butiran pasir mudah terbawa angin dan dapat menutupi tanaman.

Di Lembupurwo, penghijauan yang dimulai hampir dua dekade lalu kini terasa manfaatnya di kebun-kebun warga. Cemara laut menjadi peneduh di tepi pantai sekaligus penghalang angin, pasir, dan uap garam yang dahulu menyulitkan petani menanam.

Foto utama: Melon siap panen hasil budi daya petani Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu

Editor 30 Sep 2026

Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi.

Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia memeriksa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama berasal dari Leang Bulu Bettue dan diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari Leang Cappalombo dan hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya hidup sebelum masyarakat setempat mengenal pertanian.

Pada gigi kedua individu itu, peneliti menemukan alur dan goresan melingkar yang berbeda dari keausan akibat mengunyah makanan. Mereka menafsirkan pola tersebut sebagai bekas kebiasaan menempatkan buah pinang utuh di mulut dan menghisapnya berulang kali.

Bentuk gigi saja belum cukup untuk memastikan apa yang mereka konsumsi. Peneliti kemudian memeriksa jaringan gigi untuk mencari arekolin, senyawa dalam pinang yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Hasil analisis menemukan jejak senyawa tersebut pada sampel dari kedua situs. Bukti kimia itu memperkuat penafsiran terhadap pola keausan gigi.

“Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Adam Brumm dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Science Advances.

Temuan individu dari Leang Bulu Bettue menunjukkan bahwa penggunaan pinang di Sulawesi mungkin telah berlangsung sejak sekitar 25.000 tahun lalu, jauh lebih awal daripada perkiraan sebelumnya yang menempatkan praktik itu sekitar 3.500 tahun lalu. Karena rentang usia fosilnya mencapai 25.000–16.000 tahun, angka 25.000 tahun merujuk pada batas tertua perkiraan tersebut.

Cara mengkonsumsi pinang pada masa itu juga berbeda dari tradisi sirih-pinang yang dikenal sekarang. Dalam tradisi tersebut, biji pinang biasanya dikunyah bersama daun sirih dan kapur. Peneliti menduga kedua individu purba itu justru mengisap buah pinang utuh.

Alasan mereka melakukannya belum diketahui pasti. Peneliti mengemukakan kemungkinan terkait efek pinang pada kewaspadaan, air liur, atau rasa nyeri. Yang lebih jelas terlihat dari fosil adalah akibat kebiasaan berulang itu pada gigi. Melalui dua jenis bukti, alur fisik dan jejak arekolin, gigi manusia Sulawesi memberi gambaran baru tentang lamanya manusia mengenal tanaman yang memengaruhi pikiran.

Foto utama: Tengkorak manusia purba yang diberi nama CPL-2a diteliti untuk mengetahui kondisi giginya. Foto: Fakhri/Griffith University.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.