Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]
Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan.
“Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran.
Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan batu hijau di pesisir. Batu itu dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Satu karung berisi 25 kilogram batu dihargai sekitar Rp20.000.
Imran mulai menangkap gurita di Maurongga pada 2015. Ia mempelajari pekerjaan itu ketika tinggal di kampung asalnya, di pantai selatan Kota Ende. Setelah menetap di Maurongga, ia melihat peluang yang belum digarap nelayan setempat. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,” ujarnya.
Pada 2019, setelah pendampingan Yayasan Tananua, jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang, dua di antaranya perempuan. Nelayan kemudian memperoleh bantuan perahu. Data Yayasan Tananua Flores menunjukkan gurita menjadi hasil tangkapan terbesar Maurongga pada 2025, yakni 479,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp16,07 juta.
Untuk menjaga perairan tempat mereka bekerja, nelayan menerapkan sistem buka tutup wilayah tangkap melalui skema Loi. Ismail Isman, ketua kelompok nelayan LMMA Embo Angi, menjelaskan bahwa perairan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian ditutup selama tiga bulan, sementara nelayan tetap bisa mencari gurita di bagian lainnya. Penutupan lalu dilakukan bergantian.
Menurut Imran, sistem itu memberi waktu bagi gurita untuk berkembang biak. Ia mengatakan berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat dan rata-rata bisa mencapai tiga hingga empat kilogram per ekor.
Namun, nelayan Maurongga masih menghadapi praktik penangkapan yang merusak. Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi, mengatakan kelompoknya kerap berhadapan dengan nelayan luar daerah yang menggunakan bom dan potasium. Imran menyebut ada pula yang menebarkan racun serangga ke perairan.
Kelompok nelayan terus mengawasi wilayah tangkap dan melaporkan pelaku kepada aparat. Pekerjaan itu berisiko: menurut mereka, pelaku dapat bertindak agresif dan kerap membuang barang bukti ketika patroli datang.
“Kita harus jaga laut, ladang uang kita,” kata Nuhu. Yayasan Tananua Flores juga terus mendampingi nelayan, termasuk melalui edukasi tentang alat tangkap yang tidak merusak serta dampak sampah bagi laut.
Foto utama: Pesisir pantai Desa Maurongga, Kecamatan Nangapanda,Kabupaten Ende yang memiliki potensi gurita. Foto : Muhammad Riszky/Jaring Nusa.
Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup
Editor25 Sep 2026
Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis.
“Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan seperti nyatoh, ulin, dan ara,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Pohon-pohon itu menjadi bagian dari lingkungan yang masih dapat digunakan kukang, sementara habitatnya di tempat lain menghadapi perubahan.
Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2017 hingga November 2018, Randi menemukan kukang bangka di sekitar berbagai jenis pohon. Di antaranya karet, petai, nangka, cempedak, pisang, durian, duku, rambutan, dan pelawan. “Semua pohon tersebut terdapat di kelekak,” jelasnya. Penelitian itu dilakukan di sejumlah desa di Kabupaten Bangka.
Hubungan kukang dengan pepohonan tidak berhenti pada kebutuhan akan tempat hidup. Menurut Randi, kukang turut membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan di alam. Satwa ini juga berperan mengendalikan serangga yang dapat menyerang tanaman produktif milik masyarakat maupun tumbuhan hutan. Dengan demikian, keberadaan kukang berkaitan pula dengan kelangsungan tumbuhan di sekitarnya.
Meski demikian, belum ada data pasti mengenai jumlah kukang bangka yang hidup di alam. IUCN Red List menempatkannya dalam kategori Kritis dan menyoroti hilangnya habitat akibat deforestasi, terutama perluasan perkebunan sawit. Randi mengatakan perubahan hutan dan kelekak menjadi perkebunan, wilayah tambang, serta permukiman mengancam kukang di Pulau Bangka.
“Secara umum, populasinya menurun dan terancam, akibat perubahan habitat menjadi perkebunan sawit, daerah tambang, dan perumahan,” ujarnya. Selain kehilangan tempat hidup, kukang bangka menghadapi ancaman dari pemanfaatannya sebagai media praktik sihir. Randi menyebut minyak kukang digunakan untuk tujuan tersebut di Pulau Bangka.
Langka Sani, Ketua Pusat Penangkaran Satwa Alobi Foundation, mengatakan perburuan serta jual beli kukang bangka melalui media sosial juga masih terjadi. Dalam tiga tahun menjelang 2022, PPS Alobi menerima sekitar 50 kukang bangka, baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Sebagian besar merupakan serahan masyarakat. Pada Februari 2022, Alobi bersama sejumlah pihak melepasliarkan empat kukang bangka di kawasan Hutan Lindung Bangka Island Outdoor.
Bagi Langka, penyelamatan kukang tidak cukup berhenti ketika satwa itu dilepasliarkan. Pohon dan kawasan tempatnya hidup juga perlu dijaga. “Hal terpenting perlindungan habitat itu sendiri. Kelekak harus dipertahankan dan dilestarikan,” katanya.
Kelekak menunjukkan bahwa tanah warisan masyarakat dapat menyediakan tempat bagi pohon hutan, tanaman yang dimanfaatkan warga, dan kukang bangka sekaligus. Ketika kelekak berubah menjadi penggunaan lahan lain, kukang kehilangan bagian dari ruang hidup yang selama ini masih tersisa baginya.
Foto utama: Kukang bangka [Nycticebus bancanus] yang berada di PPS Alobi, Bangka, Kepualauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.
Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede
Editor24 Sep 2026
Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan.
Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang membuat mata air menyusut dan sawah mengering. Melalui Nunas Nede, mereka memohon hujan sekaligus mengingatkan diri untuk menjaga sumber air.
Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di desa. Air tersebut kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Warga membawa hasil bumi, berdoa, berzikir, lalu menikmati makanan bersama.
Amaq Marni, pemangku adat berusia 73 tahun, mengatakan ritual ini mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan.
“Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya.
Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bersama. Warga membersihkan kawasan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran, serta menanam pohon. Anak muda membantu membawa perlengkapan dan membersihkan aliran yang tersumbat.
Masyarakat juga mempertahankan aturan tidak tertulis, termasuk larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan. Pepohonan di sekitar mata air dijaga karena warga memahami hubungannya dengan keberlangsungan pasokan air.
“Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” ujar Marni.
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan musim menambah kecemasan petani. Hujan semakin sulit diperkirakan, debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam menjadi tidak menentu.
“Dulu musim gampang ditebak. Sekarang kadang hujan terlambat, kadang terlalu deras. Kami petani jadi bingung,” kata Amaq Sati, yang mengikuti ritual sejak kecil.
Muhamad Kadri, Kepala Desa Kesik, mengatakan sebagian besar lahan pertanian desa bergantung pada irigasi dari mata air alami. Karena itu, kehilangan sumber air berarti kehilangan penghidupan.
Nunas Nede sekaligus menjadi ruang mempererat gotong royong dan mewariskan pengetahuan lingkungan. Anak-anak serta remaja diajak mengikuti prosesi, membersihkan mata air, dan mendengarkan cerita para tetua tentang sejarah sumber air desa.
“Kalau anak muda tidak dikenalkan sejak sekarang, nanti mereka hanya tahu air keluar dari keran tanpa tahu bagaimana menjaganya,” kata Kadri.
Meski mulai menarik perhatian pengunjung dari luar desa, warga berusaha mempertahankan makna ritual agar tidak berubah menjadi sekadar pertunjukan wisata. Bagi mereka, merawat Nunas Nede berarti menjaga pengetahuan leluhur tentang air, pepohonan, dan pertanian. Tradisi itu terus hidup melalui pekerjaan bersama untuk memastikan mata air tetap mengalir bagi kehidupan desa dan generasi mendatang.
Foto utama: Prosesi ritual Nunas Nede di Lombok. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia.
Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet
Editor24 Sep 2026
Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah.
“Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika itu. Individu dewasa yang ditemuinya berukuran sekitar 40 sentimeter, bertubuh ramping, dan tidak menunjukkan perilaku agresif.
Pola tubuhnya yang samar membantu ular ini menyatu dengan serasah di lantai hutan. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, membenarkan bahwa kemampuan tersebut membuatnya sulit ditemukan. “Kamuflasenya memang sangat baik,” ujarnya.
Selain penampilannya, cara ular ini makan juga menarik perhatian. Ular siput jerapah memiliki rahang yang beradaptasi untuk mengambil tubuh siput dari dalam cangkangnya. Leonardus menggambarkannya, “Seperti menyedot daging siput dari cangkangnya.” Kebutuhannya akan mangsa dan kondisi tempat hidup tertentu membuat ular ini peka terhadap perubahan di sekitarnya.
“Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” kata Leonardus. Karena itu, perjumpaannya di antara serasah tebal dan tanah yang lembab memberi gambaran tentang tempat hidup yang dibutuhkan ular tersebut.
Namun, temuan satu ular tidak cukup untuk menyatakan seluruh hutan berada dalam kondisi sehat. Ganjar mengingatkan, “Bila hanya satu spesies, agak susah dijadikan kesimpulan umum sebagai indikator kesehatan hutan.” Menurutnya, penilaian seperti itu perlu melihat kumpulan spesies atau komunitas.
Ganjar juga meluruskan anggapan bahwa ular siput jerapah hanya hidup di pegunungan. Meski dijumpai di Gunung Slamet, catatan koleksi dan temuan lapangan menunjukkan spesies bernama ilmiah Aplopeltura boa ini juga dapat ditemukan di dataran rendah, bahkan gambut.
Bagi Leonardus, ancamannya tidak terbatas pada perubahan alami. Ia melihat longsor di beberapa titik jalur observasi, sementara aktivitas manusia turut menjadi perhatian. “Beberapa laporan menyebut ular ini kadang diburu untuk dipelihara karena bentuknya yang unik.”
Perjumpaan malam itu memperlihatkan betapa mudahnya ular siput jerapah luput dari pandangan. Di balik kamuflasenya, kelangsungan hidupnya berkaitan erat dengan kondisi tempat ia berlindung dan mencari makan.
Foto utama: Ular siput jerapah yang jago kamuflase di lantai hutan. Foto: Dok. Leonardus Adi Saktyari.
Belasan Bekantan Mati Terbakar Akibat Karhutla, Peringatan Perlindungan Satwa di Kalimantan Selatan
Editor23 Sep 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam manusia. Di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bekantan ditemukan mati terbakar pada Minggu, 13 September 2026. Tragedi ini memperlihatkan rentannya satwa ketika api mengepung habitat mereka.
Alamsyah, Kepala Desa Balimau, menyebut warga dan petugas menemukan 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh dewasa dan satu anakan. Sementara itu, BKSDA Kalimantan Selatan mencatat 12 bekantan terdampak, bersama satu ular piton dan satu king kobra.
Alamsyah menduga api berasal dari desa tetangga, lalu menyeberangi sungai melalui percikan yang terbawa angin. Vegetasi kering di padang rumbia membuat kobaran cepat membesar. Bekantan diperkirakan kesulitan melarikan diri karena api berada di satu sisi, sementara petugas dan warga berkumpul di sisi lain.
Pemadaman juga terkendala sumber air yang mengering. Warga hanya memiliki pompa portabel sehingga harus meminta bantuan petugas dan kendaraan tangki dari luar desa.
Menurut Alamsyah, permintaan perlindungan habitat bekantan sudah disampaikan sejak 2016, tetapi belum mendapat respons. Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya muncul setelah satwa mati.
Ancaman serupa membayangi habitat bekantan di Desa Sungai Rutas Hulu dan Sungai Rutas, Kabupaten Tapin. Meski tidak ada bekantan dilaporkan menjadi korban dalam kebakaran terbaru, vegetasi yang menjadi tempat hidup dan sumber pakan mereka ikut terbakar. Pemulihannya membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Sepanjang Januari hingga 15 September 2026, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 3.256 kejadian kebakaran dengan luas terdampak 21.696 hektar. Di tengah kebakaran yang meluas, perlindungan satwa menghadapi persoalan pembagian kewenangan.
Data BKSDA pada 2025 mencatat 3.757 bekantan tersebar di 11 kabupaten/kota. Hanya 1.281 individu berada di kawasan konservasi. Sebanyak 2.476 lainnya, sekitar dua pertiga populasi yang tercatat, hidup di luar kawasan tersebut.
Agus Ngurah, Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, mengatakan pihaknya memiliki mekanisme pencegahan hingga penyelamatan, termasuk patroli, pemantauan titik panas, dan kesiagaan Wildlife Rescue Unit. Namun, mekanisme itu kebanyakan berjalan di kawasan konservasi yang menjadi wilayah kerjanya.
Untuk habitat di luar kawasan konservasi, perlindungan membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pengelola lahan. BKSDA mendorong skema areal preservasi guna memperluas ruang perlindungan satwa.
Muhammad Arief Soendjoto, Guru Besar Ilmu Konservasi Flora dan Fauna Universitas Lambung Mangkurat, mengkritik penanganan karhutla yang dinilainya masih terlalu berfokus pada pemadaman.
“Sudah habitatnya habis ditebang, ditambah kebakaran. Jangankan api, asapnya saja pasti membuat mereka susah bernafas. Dia mau lari juga ke mana?” katanya.
Arief menekankan pentingnya pencegahan, pelibatan tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Tanpa langkah tersebut, kebakaran berulang akan terus mempersempit habitat dan menekan populasi satwa liar.
Foto utama: Bekantan yang menyukai habitat hutan mangrove di Kalimantan. Foto: Rhett Butler /Mongabay.
Kucing Tandang Kembali Terekam Setelah 30 Tahun Tak Terpantau di Thailand, Bagaimana di Indonesia?
Editor23 Sep 2026
Seekor kucing tandang betina berjalan perlahan pada malam hari di hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan. Seekor anak mengikuti di belakangnya. Momen yang terekam kamera jebak pada akhir 2025 itu menjadi catatan penting karena spesies tersebut tidak terpantau di Thailand selama 30 tahun.
Kucing tandang (Prionailurus planiceps) terakhir kali tercatat di negara itu pada 1995. Penemuan kembali ini merupakan hasil survei Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand bersama organisasi konservasi Panthera. Sebanyak 13 rekaman diperoleh sepanjang 2024 dan 16 rekaman tambahan pada 2025.
Kemunculan induk bersama anaknya mengindikasikan bahwa kucing tandang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di hutan gambut Thailand Selatan.
“Penemuan kembali ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika sains dan perlindungan kuat berpadu,” kata Kritsana Kaewplang, Direktur Panthera Thailand.
Kucing tandang merupakan salah satu kucing liar yang paling sedikit dipahami. Tubuhnya mungil dengan berat dewasa sekitar 1,5-2,5 kilogram. Namanya berasal dari bentuk kepala yang datar dan memanjang, dengan mata besar serta jarak antar mata yang sempit.
Berbeda dengan kebanyakan kucing, spesies ini menjalani kehidupan semiakuatik. Jari-jarinya berselaput, sedangkan giginya pipih dan runcing untuk menangkap ikan serta katak. Habitatnya berada di sekitar sungai, rawa gambut, dan mangrove.
Populasi globalnya diperkirakan tidak lebih dari 2.500 individu dewasa. Persebarannya meliputi Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, dan Thailand Selatan. IUCN menetapkannya berstatus Genting, sedangkan CITES memasukkannya dalam Apendiks I.
Penemuan di Thailand juga menjadi pengingat penting bagi Indonesia. Kalimantan dinilai sebagai benteng utama kucing tandang di dunia, disusul Sumatera. Namun, penelitian mengenai keberadaannya di Kalimantan bagian Indonesia masih sangat terbatas.
Dalam dua dekade terakhir, kucing tandang termasuk spesies yang paling jarang terekam kamera jebak. Salah satu penelitian bahkan hanya dapat menggunakan 17 foto. Rendahnya jumlah temuan kemungkinan dipengaruhi penempatan kamera yang jarang menyasar tepian sungai, danau, atau kolam, habitat utama spesies tersebut.
Di Sumatera, kucing tandang pernah didata di Taman Nasional Way Kambas, Gunung Leuser, Berbak, Hutan Singkil, dan Sungai Merang. Habitat potensial juga terdapat di sekitar Taman Nasional Sebangau dan dataran rendah Kalimantan Utara.
Ancaman terbesarnya berasal dari konversi hutan rawa menjadi perkebunan sawit, tanaman serat kayu, dan lahan pertanian. Berbeda dengan beberapa kucing liar lain, kucing tandang tidak mudah berpindah ke perbukitan ketika dataran rendah rusak. Kehidupannya sangat bergantung pada lahan basah dan aliran air tawar.
Pembangunan kanal yang mengeringkan gambut, pencemaran air, penangkapan ikan berlebihan, kebakaran hutan, serta penebangan liar turut merusak habitat dan mengurangi ketersediaan mangsanya.
Temuan di Thailand membuktikan bahwa satwa yang lama tidak terlihat belum tentu telah menghilang. Namun, tanpa penelitian yang dirancang sesuai habitat dan perlindungan lahan basah yang serius, kucing tandang dapat lenyap sebelum keberadaannya benar-benar dipahami.
Foto utama: Inilah kucing tandang yang ditemukan kembali keberadaannya di Thailand setelah 30 tahun dicari keberadaannya. Foto: Dok. DNP/Panthera Thailand.
Berlangganan
Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam