Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Mitologi Masyarakat Lombok Ketika Oarfish Terdampar

Ahmad H Ramdhani 10 Sep 2026
Cerita fitur

Lima Bayi Orangutan Ditemukan di India, Jejak Perdagangan Lintas Negara Mengarah ke Indonesia?

Junaidi Hanafiah 10 Sep 2026

Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih

Derri Nugraha* 10 Sep 2026

Suara Perempuan Adat Papua untuk Tanah dan Hutan

Christopel Paino 9 Sep 2026
Cerita fitur

Menanti Pemulihan Hutan Mangrove Eks PSN di Pesisir Tangerang

Anggita Raissa 9 Sep 2026
Cerita fitur

Ketika IKN Tak Luput dari Kepungan Karhutla

Niken D Sitoningrum 9 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Mitologi Masyarakat Lombok Ketika Oarfish Terdampar

Lima Bayi Orangutan Ditemukan di India, Jejak Perdagangan Lintas Negara Mengarah ke Indonesia?

Junaidi Hanafiah 10 Sep 2026

Menanti Pemulihan Hutan Mangrove Eks PSN di Pesisir Tangerang

Anggita Raissa 9 Sep 2026

Ketika IKN Tak Luput dari Kepungan Karhutla

Niken D Sitoningrum 9 Sep 2026

Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan

Riyad Dafhi Rizki 8 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase

Falahi Mubarok 21 Jul 2026

Ular Siput Jerapah, Jago Kamuflase di Hutan Pegunungan Jawa

Falahi Mubarok 11 Jan 2026

Jago Kamuflase, Inilah Ular Sanca Hijau Papua

Christopel Paino 23 Sep 2025

Uniknya Thanatosis, Seni Berpura-pura Mati di Dunia Satwa

Nuswantoro 19 Mei 2024

Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya.

Misteri Kamuflase Dunia Satwa series

Lebih spesial

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa

Akita Verselita 3 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Tak Ada Harum Semerbak Cengkih di Sabang Akibat Krisis Iklim

Kadek Dian Dwiyanti H.* 10 Sep 2026

Dulu, aroma cengkih semerbak dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh, terutama saat musim panen tiba. Petani menjemur bunga cengkih di depan rumah, sementara angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Namun, kini aroma tersebut semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih tidak berbunga, bahkan mati dengan daun yang berguguran dan hanya menyisakan batang kering.

Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, merasakan perubahan itu di kebunnya. Dari 520 pohon yang dia rawat di lahan seluas empat hektar, hanya 40 pohon yang berbunga dan bisa panen tahun ini.

“Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya.

Selama 10 tahun terakhir, Sayuti juga melihat musim panen cengkih tidak lagi berlangsung setiap tahun seperti sebelumnya. Tanaman kini membutuhkan perawatan lebih, termasuk pupuk agar tidak mudah mati.

“Dulu, itu tidak perlu pupuk, kalau sekarang wajib diberi pupuk biar tidak mati,” katanya.

Hendra, petani cengkih lain di Desa Balohan, mengalami kondisi serupa. Dari 35 pohon miliknya, 10 mati. Pohon yang tersisa pun tidak berbunga lebat. Jika sebelumnya satu pohon bisa menghasilkan sekitar 7 kilogram bunga cengkih, tahun ini hasilnya hanya 2 kilogram.

“Sudah sering seperti ini. Habis panen, kemudian kalau masuk musim kemarau, rata-rata banyak pohon yang mati,” kata Hendra.

Penurunan produksi juga dirasakan pengepul cengkih terbesar di Kota Sabang. Tahun ini, Munar, pengepul cengkih hanya menerima sekitar 110 ton, padahal biasanya mencapai 250 ton setiap musim panen.

Perubahan juga terjadi pada siklus panen. Marizal dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang mengatakan, sejak 2000-an, cengkih tidak lagi bisa dipanen setiap tahun secara merata. Kini, panen berlangsung selang setahun dan bergiliran antar-kecamatan.

“Bagi petani, karena masih kurang pengetahuan tentang perubahan iklim, jadi menganggap masa panen seperti itu normal, padahal sudah terganggu oleh perubahan iklim,” katanya.

Selain perubahan iklim, tanaman cengkih juga menghadapi serangan hama penggerek batang, cacar daun, serta jamur akar putih yang dapat membuat tanaman mati. Kondisi kemarau dapat memperparah tanaman yang sebelumnya telah terinfeksi.

Data Stasiun Meteorologi Maimun Saleh menunjukkan curah hujan tahunan di Sabang pada 1981-2025 turun dengan laju 15 milimeter per tahun, sementara suhu udara rata-rata meningkat 0,012 derajat Celsius per tahun. BMKG juga mencatat variabilitas iklim yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Ireng Darwati, peneliti BRIN, cengkih membutuhkan curah hujan sekitar 1.500-3.500 milimeter per tahun dan fase kering sekitar dua hingga tiga bulan untuk berbunga. Jika hujan turun terus-menerus, bunga dapat gagal terbentuk.

“Pucuk tunas yang sudah membentuk bunga akan berubah menjadi daun jika hujan turun terus-menerus,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, petani didorong melakukan perawatan kebun secara lebih intensif. Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, perbaikan pola tanam, serta penggunaan bibit dari pohon induk terpilih menjadi bagian dari strategi adaptasi.

“Penggunaan bibit dari pohon induk terpilih, pemupukan berimbang, sanitasi kebun, pengendalian hama penyakit, dan perbaikan pola tanam tetap menjadi kunci menjaga produktivitas,” kata Ireng.

Foto utama: Kuncup bunga cengkih (Syzygium aromaticum) di kebun Sayuti yang mulai memerah belum menunjukkan bentuk bulat sempurna, menandakan tanaman masih membutuhkan waktu sebelum dipanen. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia

Kuncup bunga cengkih (Syzygium aromaticum) di kebun Sayuti yang mulai memerah belum menunjukkan bentuk bulat sempurna, menandakan tanaman masih membutuhkan waktu sebelum dipanen. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia

Mengenal Ular Putih Papua yang Belum Memiliki Antivenom

Editor 10 Sep 2026

Di balik hutan tropis Papua yang lembap, hidup ular putih papua (Micropechis ikaheka), jenis ular berbisa tinggi dengan persebaran sangat terbatas. Spesies ini hanya ditemukan di Papua dan sejumlah pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru.

Ular ini pertama kali ditemukan pada 1829 oleh naturalis Prancis René Primevère Lesson. Awalnya, spesimen tersebut ditempatkan dalam genus Coluber. Setelah struktur anatomi dan taringnya dipelajari, ular ini kemudian dimasukkan ke genus tersendiri, Micropechis. Hingga kini, M. ikaheka merupakan satu-satunya spesies dalam genus tersebut.

Nama “ikaheka” berarti “belut tanah”, merujuk pada kebiasaannya hidup di tempat lembap dan tersembunyi. Habitatnya meliputi rawa, hutan dataran rendah, tepian sungai, hingga tumpukan sabut kelapa yang membusuk di perkebunan.

Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 2,1 meter. Tubuhnya silindris, berotot, dan ditutupi sisik halus yang terkadang tampak berkilau. Matanya berukuran kecil, sesuai dengan kebiasaannya bergerak di dalam tanah atau di bawah tumpukan vegetasi.

Meski disebut ular putih, warna tubuhnya tidak selalu sama. Sebagian populasi memiliki tubuh putih pucat dengan belang merah tua atau cokelat, sedangkan populasi lain dapat berwarna hitam polos. Perbedaan itu diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan tekanan evolusi di masing-masing wilayah.

Ancaman utama ular ini terletak pada komposisi bisanya. Racun M. ikaheka disebut mengandung neurotoksin, hemotoksin, sitotoksin, dan kardiotoksin. Gabungan tersebut dapat mengganggu sistem saraf, merusak jaringan dan otot, menyebabkan perdarahan internal, serta memengaruhi kerja jantung.

Gejalanya dapat muncul dalam hitungan menit, mulai dari kesulitan bernapas, kelumpuhan, nyeri otot, hingga kejang. Hingga kini, belum tersedia antivenom khusus yang terbukti efektif dan tersedia luas di Papua. Antivenom polivalen asal Australia disebut memiliki potensi, tetapi efektivitasnya masih dipertanyakan.

Di Pulau Karkar, Papua Nugini, ular ini dilaporkan berkaitan dengan sekitar 40 persen kasus gigitan ular berbisa. Ular putih Papua juga cenderung menggigit sambil “mengunyah” sehingga racun lebih banyak masuk ke tubuh korban. Bahkan, bangkainya tetap perlu dihindari karena refleks saraf setelah kematian masih dapat memicu gigitan.

Meski berbahaya, ular putih papua bukan satwa yang semestinya dimusnahkan. Sebagai predator, ia memangsa tikus, bandikut, kodok, bengkarung, dan ular lain. Perannya membantu mengendalikan populasi hewan kecil dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Satwa nokturnal ini berkembang biak dengan bertelur dan lebih aktif pada malam hari. Kebiasaannya bersembunyi di tumpukan vegetasi membuat pertemuan dengan manusia dapat terjadi tanpa disengaja, terutama di perkebunan.

Ular putih papua perlu dikenali melalui pendekatan ilmiah dan edukatif. Memahami habitat, perilaku, serta bahayanya dapat membantu manusia menjaga jarak dengan aman tanpa mengabaikan peran pentingnya di alam.

Foto utama: Ular putih papua adalah spesies endemik Papua dan pulau-pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru. Foto: Huda Wiradarma/CC-BY-NC iNaturalist.

Ular putih Papua adalah spesies endemik Papua dan pulau-pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru | Foto oleh Huda Wiradarma, some rights reserved (CC-BY-NC) iNaturalist https://www.inaturalist.org/observations/101949245

Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot

Editor 9 Sep 2026

Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar.

Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia, mengatakan terdapat tekanan bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola.

Penerapan biodiesel 50 atau B50 sejak 1 Juli 2026 menambah kebutuhan subsidi. Ketika harga minyak mentah Brent berada di bawah US$101 per barel, biaya produksi biodiesel menjadi lebih mahal dibandingkan solar fosil. Sebab, harga biodiesel juga dipengaruhi harga minyak sawit mentah sebagai bahan bakunya.

“Sepanjang 2026, tren penurunan harga Brent memperlebar selisih harga antara biodiesel dan solar fosil sehingga kebutuhan subsidi biodiesel meningkat. Dalam kajian kami, kondisi ini berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp80-100 triliun per tahun,” ujar Sudaryadi.

Dana subsidi B50 berasal dari pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Ketika kebutuhan subsidi tumbuh lebih cepat daripada penerimaan pungutan, pembayaran insentif kepada produsen biodiesel berpotensi terganggu.

Pasokan minyak sawit juga menghadapi persaingan antara kebutuhan energi, pangan, dan ekspor. Kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat dari sekitar 12,5 juta ton menjadi 19,8 juta ton pada 2035. Pemerintah didesak membuka data distribusi, stok BBM, dan realisasi pencampuran biodiesel untuk memastikan penyebab langsung kelangkaan.

Agus Praditya Tampubolon, Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR, mengatakan ketahanan energi mencakup ketersediaan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, dan penerimaan masyarakat. Kelangkaan solar yang kembali terjadi pada tahun yang sama menunjukkan persoalan belum terselesaikan.

Pemerintah menduga keterlambatan angkutan dari terminal menuju SPBU serta penyalahgunaan BBM bersubsidi menjadi penyebab antrean. Namun, Trend Asia menilai persoalannya lebih mendasar, yakni ketimpangan distribusi energi antarwilayah.

“Saya mau bilang bahwa energi fosil ini rentan terhadap krisis. Juga ada faktor ketimpangan antar wilayah, dari sekian lama Jawa selalu diprioritaskan,” kata Ahmad Ashov Birry, Direktur Program Trend Asia.

Menurut Ashov, pemerintah perlu mempercepat transisi energi pada sektor publik, terutama transportasi logistik dan angkutan umum. Truk dan kendaraan umum dapat diarahkan menggunakan listrik atau teknologi hibrida karena layanan tersebut menyangkut kebutuhan masyarakat luas.

Dia juga mengkritik B50 sebagai solusi yang berpotensi meningkatkan kebutuhan sawit. Jika kebutuhan bahan baku mendorong perluasan perkebunan, dampaknya dapat berupa deforestasi, emisi karbon, dan bencana ekologis. Persaingan penggunaan minyak sawit untuk pangan dan energi juga berisiko mempengaruhi pasokan minyak goreng.

Antrean panjang di luar Jawa akhirnya memperlihatkan bahwa kelangkaan BBM bukan hanya persoalan stok. Masalah ini menyangkut tata kelola subsidi, ketergantungan pada energi fosil, tekanan terhadap bahan baku, dan ketimpangan akses energi antara Jawa dan wilayah lain.

Foto utama: Suasana antrean BBM di salah satu SPBU di Jambi. Foto: Richaldo Hariandja/Mongabay Indonesia.

Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 9 Sep 2026

Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat yang rutin menjaga habitat satwa tersebut.

“Lutung itu pemalu,” kata Daman, warga Kampung Desa Pantai Bahagia yang menjaga wilayah itu.

Sejak 2012, Daman menjadi relawan penjaga kawasan. Setelah mencari kepiting bakau, dia biasa masuk ke hutan untuk memantau lutung jawa. Selain lutung, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti kera ekor panjang, burung air, kuntul, bangau bluwok, cekakak sungai, hingga blekok sawah.

Namun, habitat lutung jawa terus menyusut. Berdasarkan data pemerintah Kabupaten Bekasi, dari penetapan kawasan hutan lindung yang awalnya mencapai 10.000 hektar, sekitar 2.338,85 hektar daratan hilang akibat abrasi, 1.700 hektar mengalami penggenangan, dan hampir 90% kawasan hutan beralih fungsi menjadi tambak.

Penelitian juga menunjukkan luas mangrove di Muaragembong menyusut 55% dalam empat dekade terakhir. Desa Pantai Bahagia menjadi salah satu wilayah yang mengalami abrasi paling parah. Kondisi ini turut mengancam lutung jawa yang populasinya di kawasan tersebut kini sekitar 70 individu.

Penyusutan mangrove membuat lutung semakin kesulitan mendapatkan pakan dan air. Daman mengatakan lutung jawa menyukai daun jeruju. Saat musim kemarau, air di sekitar muara Sungai Citarum berubah menjadi payau akibat intrusi air laut sehingga lutung harus mendekati permukiman untuk mencari air tawar.

“Saya sempat mikir, kenapa lutung lari ke rumah warga? Ternyata mereka mau minum air tawar,” katanya.

Selain kehilangan habitat, lutung jawa juga menghadapi ancaman perburuan. Sekitar 10 tahun lalu, Daman bahkan menyaksikan seekor lutung ditembak hingga jatuh dari pohon. Namun, menurutnya, kondisi mulai berubah setelah masyarakat membentuk kelompok relawan penjaga habitat dan melakukan sosialisasi mengenai status perlindungan lutung jawa.

“Kalau sekarang sudah enggak seperti dulu. Orang sudah tahu lutung dilindungi.”

Didik Prasetyo dari Perhimpunan Pemerhati Primata Indonesia mengatakan, penyempitan habitat membuat lutung keluar hutan dan mendekati permukiman untuk mencari makanan maupun air tawar. Kondisi tersebut membuat satwa semakin rentan terhadap penyakit dan perburuan.

“Gangguan habitat itu berdampak langsung terhadap dinamika populasi. Ukuran kelompok dapat mengecil, satwa menjadi lebih rentan terserang penyakit, serta lebih mudah diburu karena harus berpindah ke area yang terbuka atau mendekati aktivitas manusia,” katanya.

Di tengah kondisi itu, perlindungan lutung jawa di Muaragembong masih banyak bergantung pada masyarakat. Ahmad Qurtbi, Sekretaris Desa Muaragembong, mengatakan perlindungan tidak cukup hanya dengan menetapkan status kawasan dan melarang perburuan.

“Secara yuridis memang ada perlindungannya. Tapi secara faktual, yang menjaga kawasan ini justru masyarakat sendiri. Kami belum melihat adanya upaya perlindungan yang benar-benar dilakukan pemerintah di lapangan,” katanya.

Pemerintah dan masyarakat telah melakukan rehabilitasi mangrove di sejumlah titik pesisir. Bagi masyarakat, mangrove bukan hanya pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga tempat berkembang biak ikan, kepiting bakau, udang, dan burung air. Bagi lutung jawa, hutan mangrove menjadi rumah yang menyediakan pakan, tempat berlindung, sekaligus ruang untuk berpindah.

Foto utama: Lutung jawa sedang bergelantungan di pohon. Dokumentasi: Fattreza Ihsan/ YIARI

Lutung jawa sedang bergelantungan di pohon. Dokumentasi: Fattreza Ihsan/ YIARI

Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon

Editor 9 Sep 2026

Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon.

“Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya.

Enam kukang yang dibawa terdiri dari satu jantan dan lima betina bernama Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka menempuh perjalanan sekitar enam jam dari pusat rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia di Bogor menuju Ujung Kulon.

Sebagian besar kukang tersebut merupakan serahan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam, kemudian dititipkan kepada YIARI untuk menjalani perawatan. Namun, membawa mereka kembali ke hutan bukan perkara sederhana.

Menurut Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kukang hanya dapat dilepasliarkan jika sehat secara fisik dan perilaku. Setiap individu harus menjalani pemeriksaan fisik, darah, rontgen, serta pemeriksaan dan penanganan parasit.

Setelah dinyatakan sehat, kukang menjalani karantina selama sekitar enam minggu. Mereka kemudian dipindahkan ke kandang sosialisasi agar perilaku alaminya dapat diamati. Penilaian mencakup cara makan, grooming, kondisi sosial, dan kemampuan berpindah. Pengamatan perilaku dilakukan selama sekitar 200 jam.

Proses rehabilitasi tidak selalu berjalan mulus. Jika kukang mengalami diare, kebotakan, tidak mau makan, atau perubahan kondisi lainnya, satwa tersebut harus kembali diperiksa di klinik.

“Tantangan terbesar justru saat kukang datang dalam kondisi parah, terutama akibat sengatan listrik,” kata Indri.

Luka berat dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih. Dalam kasus tertentu, penyembuhan bekas amputasi akibat sengatan listrik berlangsung hingga 10 bulan, belum termasuk pemulihan perilakunya.

Ujung Kulon juga tidak dipilih secara sembarangan. Lokasi pelepasliaran ditentukan melalui kajian biologis, kondisi ekosistem, ketersediaan pakan, dan keberadaan satwa lain yang berpotensi berinteraksi dengan kukang.

Setibanya di kawasan taman nasional, keenam kukang tidak langsung dilepas. Mereka menjalani masa habituasi di kandang yang disesuaikan dengan kebutuhan alaminya. Tahapan ini membantu kukang beradaptasi dengan lingkungan sebelum benar-benar hidup bebas.

“Pelepasliaran bukanlah akhir dari proses,” jelas Indri.

Pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan kukang mampu mencari makan, berpindah, dan bertahan secara mandiri. Masyarakat sekitar juga berperan menjaga keselamatannya dengan tidak menangkap, memelihara, memburu, atau memperjualbelikan kukang.

Kukang merupakan bagian penting dari rantai kehidupan hutan, termasuk membantu mengendalikan populasi serangga. Karena itu, memulangkan kukang bukan sekadar membuka kandang. Proses tersebut berarti memastikan satwa dapat kembali hidup aman di rumahnya yang sesungguhnya: hutan.

Foto utama: Butuh proses panjang untuk mengembalikan kukang jawa ke habitatnya di TNUK. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga

Editor 8 Sep 2026

Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga.

Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 tahun, kelompok ini memperbanyak anggrek secara vegetatif melalui metode stek, yakni memisahkan rumpun atau cabang dari batang maupun pseudobulb.

Dalam satu tanaman induk dapat tumbuh hingga 50 anakan. Bibit kemudian dipindahkan ke wadah berbahan sabut kelapa dan ditempatkan pada pohon-pohon rindang, seperti rambutan, langsat, dan cengkeh. Anggrek tumbuh baik pada musim hujan dan biasanya berbunga menjelang musim kemarau.

Pada awalnya, anggota kelompok mengambil anggrek dari Hutan Campaga untuk dipelihara atau dijual. Usaha tersebut mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah per bulan. Namun, mereka kemudian menyadari populasi anggrek di hutan semakin berkurang, terutama anggrek bulan.

“Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan,” kata Asri.

Kelompok tersebut kini justru mengembalikan anggrek ke habitatnya. Sekitar 1.500 bibit telah ditanam kembali di Hutan Campaga. Anggrek juga ditempelkan pada pohon-pohon di sepanjang jalan desa dan kawasan wisata permandian Erbol.

Hutan Campaga seluas 23 hektar dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis anggrek, pohon beringin tua Erasa Lego-lego, dan mata air Tombolo. Keberadaannya juga menjaga pasokan air bagi ratusan hektar sawah serta kebun di sekitarnya.

Perbanyakan anggrek dipusatkan di sebuah greenhouse berukuran 10 × 12 meter. Tempat tersebut menampung sekitar 78 spesies, termasuk anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), anggrek macan (Grammatophyllum speciosum), anggrek pandan (Dipodium scandens), dan Dendrobium.

“Ini adalah tempat belajar bagaimana merawat dan memelihara anggrek mulai dari kecil sampai berbunga,” jelas Asri. Menurutnya, sekitar 99 persen tanaman yang dikeluarkan dari greenhouse dapat tumbuh dengan baik.

Permintaan anggrek yang meningkat membuat kelompok kesulitan menyediakan stok karena produksi melalui stek terbatas. Mereka berharap dapat mempelajari kultur jaringan agar mampu menghasilkan bibit lebih banyak.

Menurut peneliti anggrek Universitas Hasanuddin, Rinaldi Sjahrir, kultur jaringan efektif mengatasi kelangkaan anggrek. Namun, metode tersebut membutuhkan ruangan bersih, lemari tanam steril, media yang tepat, serta keterampilan khusus untuk mencegah kontaminasi.

Bagi Asri, anggrek bukan lagi tanaman yang sekadar diambil dari hutan. Melalui perbanyakan dan penanaman kembali, anggrek dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus tetap lestari di habitat asalnya.

Foto utama: Muhammad Asri (54) selama 27 tahun telah mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian anggrek di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.