Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Made Kuter berjalan menyusuri sawahnya sembari menyebar racun tikus di beberapa titik. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia
Cerita fitur

Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama

I Gusti Ayu Septiari 7 Agu 2026

Agama mwanzae, Kadal Penghuni Bebatuan Sabana yang Seolah Mengenakan Kostum “Spider-Man”

Akhyari Hananto 6 Agu 2026
Cerita fitur

Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat

Yogi Eka Sahputra 6 Agu 2026

Kucing Kuwuk Minim Perhatian Dunia Konservasi?

Falahi Mubarok 6 Agu 2026
Cerita fitur

Food Estate Nusa Tenggara Timur, Berharap Untung Malah Buntung

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 6 Agu 2026
Cerita fitur

Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan

Riyad Dafhi Rizki 6 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Made Kuter berjalan menyusuri sawahnya sembari menyebar racun tikus di beberapa titik. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia

Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama

Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat

Yogi Eka Sahputra 6 Agu 2026
Tanaman jagung menghijau di lahan food estate blok B seluas 65 are di Desa Fatuketi. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia

Food Estate Nusa Tenggara Timur, Berharap Untung Malah Buntung

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 6 Agu 2026

Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan

Riyad Dafhi Rizki 6 Agu 2026

Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang

Elviza Diana 5 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Made Kuter berjalan menyusuri sawahnya sembari menyebar racun tikus di beberapa titik. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan

Akhyari Hananto 7 Agu 2026

Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung.

Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak hidroponik, sedangkan cabai, terong, dan tomat ditanam menggunakan polybag.

Tanaman tersebut dirawat oleh para siswa yang tergabung dalam Green School. Mereka belajar menyiapkan media tanam, membuat pupuk cair, memilih bibit, dan menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Para siswa juga memperoleh pelatihan dari praktisi dan petani hidroponik.

Hidroponik adalah cara menanam tanpa menggunakan tanah. Akar tanaman memperoleh air dan unsur hara dari larutan khusus. Metode ini cocok digunakan di sekolah atau kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas. Botol plastik bekas pun dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam sederhana.

Kegiatan tersebut membuat pelajaran biologi dan lingkungan menjadi lebih mudah dipahami. Siswa tidak hanya menghafal bagian tumbuhan, tetapi juga melihat langsung bagaimana akar menyerap nutrisi, daun melakukan fotosintesis, serta air, cahaya, dan pupuk memengaruhi pertumbuhan.

Hasil panen tidak berhenti di kebun. Sebagian sayuran diberikan kepada siswa tata boga untuk diolah menjadi makanan. Dengan demikian, mereka dapat mengikuti perjalanan pangan dari benih, tanaman, panen, hingga menjadi hidangan.

Pengalaman dari sekolah juga dibawa pulang. Salah satu siswa mulai membantu orang tuanya menanam cabai, terong, melon, dan tomat di halaman rumah. Tanaman dalam polybag tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.

Selain menanam, para siswa mempelajari pengelolaan sampah dengan prinsip 3R: mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sebagian botol plastik digunakan kembali sebagai wadah tanaman. Cara ini menunjukkan bahwa produksi pangan dapat berjalan bersama upaya mengurangi sampah.

SMA Negeri 1 Turen merupakan satu dari 754 sekolah di Jawa Timur yang mengikuti program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan atau SIKAP. Program ini melibatkan lebih dari 110.000 siswa SMA, SMK, dan SLB.

Setiap sekolah didorong memanfaatkan lahan yang tersedia, termasuk lahan sempit atau area yang sebelumnya tidak digunakan. Jenis tanaman dan hewan yang dibudidayakan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing. Selain sayuran, sekolah juga dapat mengembangkan budidaya ikan lele, ayam petelur, atau ternak lainnya.

Dalam kedaulatan pangan, masyarakat perlu memiliki makanan yang cukup dan mudah diperoleh. Sementara itu, kedaulatan pangan menekankan kemampuan masyarakat menentukan cara menghasilkan dan mengelola pangannya sendiri sesuai kondisi setempat.

Sekolah memang tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan masyarakat. Namun, sekolah dapat membekali siswa dengan keterampilan dasar untuk menanam, mengolah, dan menghargai makanan. Mereka juga belajar bahwa pangan tidak langsung muncul di pasar, tetapi membutuhkan tanah atau media tanam, air, waktu, tenaga, dan pengetahuan.

Kebun sekolah pada akhirnya bukan sekadar tempat menanam sayuran. Ia menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan sains, lingkungan, gizi, pengelolaan sampah, dan kewirausahaan. Dari kegiatan sederhana itulah, kemandirian pangan dapat mulai tumbuh.

Artikel asli ditulis oleh Eko Widianto.

Foto utama: SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang terapkan green schol untuk ajari siswa kedaulatan pangan sejak dini. Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia.

3 Cara Unik Hewan Melindungi Diri dari Racunnya Sendiri

Akhyari Hananto 6 Agu 2026

Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri?

Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan kecil lainnya. Zat beracun dari makanan tersebut dikumpulkan dan disimpan di dalam tubuh, lalu digunakan untuk melindungi diri dari pemangsa.

Salah satu jenis racunnya adalah batrachotoxin. Racun ini menyerang saluran natrium, yaitu bagian kecil pada permukaan sel yang bekerja seperti pintu. Pintu ini mengatur keluar-masuknya natrium agar saraf, otot, dan jantung dapat bekerja dengan baik.

Dalam keadaan normal, pintu tersebut akan membuka dan menutup sesuai kebutuhan. Namun, batrachotoxin membuatnya terus terbuka. Akibatnya, aliran natrium menjadi tidak terkendali. Saraf kesulitan mengirimkan pesan, otot tidak dapat berkontraksi dengan normal, dan jantung bisa berhenti bekerja.

Untuk melindungi diri dari racun, hewan memiliki beberapa cara. Cara pertama adalah mengubah bentuk bagian tubuh yang menjadi sasaran racun. Perubahan kecil akibat mutasi genetik membuat racun tidak dapat menempel pada targetnya.

Bayangkan racun sebagai kunci dan protein di dalam tubuh sebagai lubang kuncinya. Jika bentuk lubang kunci sedikit berubah, kunci tersebut tidak lagi cocok. Racun pun gagal bekerja. Mekanisme ini ditemukan pada sejumlah katak beracun.

Cara kedua adalah membuang racun dari tubuh sebelum menimbulkan kerusakan. Kemampuan ini juga dimiliki beberapa hewan yang memangsa satwa beracun. Tubuh mereka dapat memecah, menetralkan, atau mengeluarkan racun yang masuk bersama makanan.

Cara ketiga adalah menyimpan racun dengan aman. Mekanisme ini disebut sekuestrasi. Tubuh hewan menangkap racun dan mengikatnya agar tidak bergerak bebas menuju saraf, otot, atau jantung.

Para peneliti awalnya menduga saluran natrium pada katak Phyllobates telah berubah sehingga kebal terhadap batrachotoxin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa saluran tersebut tetap dapat terkena racun. Jika racunnya sampai ke sana, katak seharusnya juga berada dalam bahaya.

Karena itu, ilmuwan menduga katak menggunakan sejenis “protein spons”. Protein ini bekerja seperti pembungkus yang menangkap dan menahan molekul racun. Dengan cara tersebut, racun dapat dibawa menuju tempat penyimpanan tanpa menyentuh bagian tubuh yang rentan.

Mekanisme serupa ditemukan pada katak Amerika Rana catesbeiana. Katak ini memiliki protein bernama saxiphilin yang mampu mengikat saxitoxin, salah satu jenis racun kuat. Racun yang telah terikat tidak dapat menyerang targetnya dengan mudah.

Meski demikian, bukan berarti hewan beracun kebal terhadap semua racun. Sistem perlindungan mereka biasanya hanya cocok untuk jenis racun tertentu. Jumlah racun yang terlalu besar atau kegagalan sistem penyimpanan tetap dapat membahayakan tubuh mereka.

Jadi, hewan beracun tidak mati karena tubuhnya memiliki sistem pengamanan khusus. Ada yang mengubah sasaran racun, membuang racun, atau mengikat dan menyimpannya dengan aman.

Foto utama: Katak biru beracun ini bernama Dendrobates tinctorius “azureus”. Foto: Wikimedia Commons/Quartl – Own work/CC BY-SA 3.0.

Hidup Tanpa Minyak Sawit, Kita Bisa Maksimalkan Minyak Kelapa dan Bahan Nabati

Akhyari Hananto 6 Agu 2026

Minyak sawit dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahan ini tidak hanya memenuhi wajan untuk menggoreng makanan, tetapi juga dapat ditemukan dalam sabun, sampo, kosmetik, dan berbagai produk rumah tangga. Karena digunakan begitu luas, muncul kesan bahwa manusia modern tidak dapat memasak atau mandi tanpa minyak sawit. Benarkah demikian?

Sebelum minyak sawit mendominasi pasar, masyarakat Indonesia telah lama menggunakan minyak kelapa. Proses pembuatannya relatif sederhana. Daging kelapa diparut, diambil santannya, kemudian dipanaskan selama beberapa jam. Panas membuat air menguap dan merusak kestabilan emulsi santan, sehingga lemak terpisah dan muncul sebagai minyak di permukaan.

Cara lain dilakukan dengan mengeringkan daging kelapa menjadi kopra. Kopra dicincang lalu dipanaskan hingga mengeluarkan minyak. Setelah dingin, minyak disaring dan dapat digunakan untuk memasak. Pengetahuan ini masih dipraktikkan oleh sejumlah masyarakat di Pulau Bangka, pesisir timur Sumatera, dan wilayah lain yang memiliki banyak pohon kelapa.

Peralihan besar terjadi ketika minyak sawit tersedia dengan harga lebih terjangkau. Pasokannya yang melimpah turut mengubah kebiasaan memasak. Teknik menggoreng dengan banyak minyak atau deep frying menjadi semakin umum, baik di rumah maupun dalam industri makanan.

Padahal, teknik memasak Nusantara pada masa lalu tidak selalu bergantung pada minyak. Berbagai bahan pangan lebih sering direbus, dikukus, dibakar, dipanggang, atau dimasak dalam kuah. Sejumlah makanan yang sekarang lazim digoreng pun sebelumnya memiliki versi rebus dan panggang. Pempek, misalnya, dahulu tidak selalu disajikan dengan cara digoreng.

Ketergantungan pada sawit tidak terlepas dari sifat tanamannya yang produktif. Sawit mampu menghasilkan minyak dalam jumlah besar sehingga menarik bagi industri. Namun, keuntungan ini disertai persoalan ketika perkebunan terus diperluas dengan mengubah hutan dan lahan pertanian. Dampaknya dapat berupa hilangnya habitat satwa, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta munculnya konflik lahan dan persoalan ketenagakerjaan.

Minyak sawit juga mudah ditemukan dalam produk perawatan tubuh. Dari satu bahan dasar, industri dapat menghasilkan berbagai senyawa turunan yang membantu membersihkan, menghasilkan busa, mempertahankan tekstur, atau mencampurkan bahan yang sulit menyatu. Meski demikian, fungsi-fungsi tersebut bukan berarti hanya dapat diperoleh dari sawit. Minyak kelapa dan bahan nabati lain juga dapat menjadi sumber alternatif.

Mengurangi ketergantungan pada minyak sawit bukan berarti seluruh penggunaannya harus dihentikan seketika. Langkah yang lebih masuk akal adalah mengurangi konsumsi minyak berlebihan, memperbanyak teknik memasak tanpa menggoreng, serta menghidupkan kembali pengolahan bahan lokal.

Kelangkaan minyak goreng memberi pelajaran penting: persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya sawit, melainkan hilangnya keragaman pilihan. Kita tetap dapat memasak dan mandi tanpa minyak sawit, selama pengetahuan tentang bahan alternatif tidak ikut menghilang.

Artikel asli ditulis oleh Taufik Wijaya. 

Foto: Lempah kuning, kuliner khas Bangka Belitung yang kaya rempah. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Maluku Utara Ternyata Punya Puluhan Jenis Pangan, Apa Saja?

Akhyari Hananto 5 Agu 2026

Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai kepulauan rempah. Wilayah ini juga menyimpan kekayaan pangan yang tumbuh dari kebun, pekarangan, hingga lahan pertanian masyarakat. Sagu, jagung, pisang, sukun, singkong, kacang-kacangan, dan beragam jenis ubi menjadi bagian dari sumber daya genetik yang berpotensi menopang kebutuhan pangan daerah.

Hasil identifikasi sumber daya genetik tanaman pada 2020 menunjukkan sedikitnya 49 tanaman pangan dan hortikultura asal Maluku Utara telah terdaftar di Kementerian Pertanian. Jumlah tersebut mencakup 41 aksesi tanaman pangan dan delapan tanaman hortikultura.

Keragamannya meliputi 13 varietas padi, 11 jenis ubi jalar, 9 jenis ubi kayu, 5 jenis kacang tanah, 2 varietas jagung, 1 jenis satu kacang tunggak. Sementara itu, kelompok hortikultura terdiri dari jeruk, bawang merah, dua jenis pisang, serta empat jenis sukun. Data tersebut menggambarkan bahwa sumber karbohidrat masyarakat Maluku Utara sebenarnya jauh lebih beragam daripada beras.

Salah satu pangan yang memiliki potensi besar adalah batatas, sebutan masyarakat setempat untuk ubi jalar. Di Halmahera Barat, tanaman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan petani. Permintaannya datang dari berbagai wilayah, seperti Halmahera Tengah, Ternate, hingga Maluku Tenggara.

Sedikitnya terdapat empat jenis batatas lokal yang dikembangkan petani, yakni batatas warna tinta atau ungu, batatas oranye berdaun menjari, batatas kuning berdaun menjari, dan batatas putih berdaun lebar. Perbedaan warna dan bentuk tersebut menunjukkan keragaman genetik yang penting untuk dipertahankan.

Setiap varietas dapat memiliki karakter berbeda, mulai dari rasa, tekstur, warna daging, kandungan zat gizi, hingga kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Keragaman ini memberi petani lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan tanaman dengan jenis tanah, ketersediaan air, serta kebutuhan pasar.

Batatas juga relatif mudah dibudidayakan. Tanaman ini tidak membutuhkan terlalu banyak air dan dapat ditanam sebagai tanaman sela di antara komoditas lain. Pola tumpang sari tersebut telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Tobaru dan Sahu di Halmahera Barat. Dengan cara ini, satu bidang lahan dapat menghasilkan beberapa jenis pangan sekaligus.

Selain ubi jalar, sagu juga berpotensi menjadi sumber energi penting. Dalam setiap 100 gram, sagu mengandung sekitar 84 gram karbohidrat. Sagu dapat diolah menjadi papeda dan berbagai makanan tradisional lain. Singkong, talas, pisang, dan sukun juga dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Kekayaan pangan Maluku Utara tidak berhenti pada jenis tanamannya, tetapi juga terlihat dalam tradisi pengolahannya. Salah satunya adalah kobong, sajian yang berisi papeda, aneka ubi dan pisang rebus, lalapan sayur, serta kuah ikan. Dalam satu hidangan, masyarakat memperoleh karbohidrat dari beragam tanaman, dilengkapi protein ikan dan sayuran.

Potensi ini membuka peluang untuk mengembangkan berbagai produk olahan. Ubi dapat dijadikan tepung, makanan ringan, atau bahan pangan siap saji. Pisang, sukun, jagung, dan sagu juga dapat diolah menjadi produk yang lebih tahan lama dan bernilai ekonomi tinggi.

Keanekaragaman pangan tersebut merupakan kekayaan biologis sekaligus budaya. Setiap varietas menyimpan hasil adaptasi tanaman, pengalaman petani, dan pengetahuan kuliner yang diwariskan antargenerasi. Menjaganya berarti mempertahankan lebih banyak pilihan pangan untuk masa depan Maluku Utara.

Artikel asli ditulis oleh Mahmud Ichi.

Foto utama: Carolina bersama putrinya memanen ubi jalar, sumber pangan lokal di Maluku. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia.

Macan Tutul dan Macan Kumbang: Dua Nama untuk Predator yang Sama

Akhyari Hananto 5 Agu 2026

Macan tutul mudah dikenali dari bulunya yang berwarna kuning kecokelatan dengan pola totol menyerupai bunga. Sementara itu, macan kumbang tampil dengan mantel hitam legam yang membuatnya terlihat seperti jenis kucing besar berbeda. Padahal, secara ilmiah, keduanya merupakan satwa yang sama.

Macan tutul dan macan kumbang sama-sama termasuk spesies Panthera pardus. Di Pulau Jawa, keduanya masuk dalam subspesies macan tutul jawa, Panthera pardus melas. Sebutan “macan tutul” biasanya digunakan untuk individu berwarna terang dan bertotol, sedangkan “macan kumbang” merujuk pada individu berwarna hitam.

Jadi, perbedaan utama keduanya hanya terletak pada warna bulu. Warna hitam pada macan kumbang terjadi akibat melanisme, yaitu kondisi genetik yang meningkatkan produksi melanin. Melanin merupakan pigmen yang memberi warna gelap pada kulit, rambut, bulu, dan bagian tubuh lainnya.

Meski tampak hitam polos, macan kumbang sebenarnya tetap memiliki pola totol seperti macan tutul biasa. Pola tersebut dapat terlihat ketika tubuhnya terkena cahaya dari sudut tertentu. Artinya, melanisme tidak menghilangkan totol, melainkan membuat warna dasar bulunya menjadi begitu gelap sehingga polanya tersamarkan.

Kesamaan keduanya tidak berhenti pada nama ilmiah. Macan tutul dan macan kumbang memiliki bentuk tubuh, kemampuan berburu, jenis makanan, serta perilaku yang sama. Keduanya merupakan pemanjat pohon yang andal. Ekor panjang membantu mereka menjaga keseimbangan ketika bergerak di atas batang dan dahan.

Mereka juga sama-sama predator penyergap. Pola totol pada macan tutul terang membantu memecah bentuk tubuhnya di antara cahaya dan bayangan hutan. Sementara itu, mantel gelap macan kumbang diduga memberi keuntungan penyamaran di hutan yang rapat dan lembap. Inilah salah satu alasan individu melanistik cukup sering ditemukan di kawasan berhutan lebat seperti Jawa.

Istilah macan kumbang sendiri dapat membingungkan karena bukan nama ilmiah untuk satu spesies tertentu. Di dunia Barat, istilah Black Panther dapat digunakan untuk menyebut kucing besar berwarna hitam. Di Asia dan Afrika, sebutan itu biasanya merujuk pada macan tutul melanistik. Di Amerika, istilah serupa dapat digunakan untuk jaguar hitam. Jadi, “panther” atau “macan kumbang” lebih tepat dipahami sebagai sebutan berdasarkan penampilan, bukan nama spesies tersendiri.

Macan tutul berwarna terang dan hitam bahkan dapat hidup berdampingan. Kamera pemantau di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pernah merekam keduanya berjalan beriringan. Mereka juga dapat berpasangan dan berkembang biak karena berasal dari spesies yang sama.

Hasil sementara Java Wide Leopard Survey yang diluncurkan pada Februari 2024 memperkuat gambaran tersebut. Dari 34 individu macan tutul jawa yang berhasil diidentifikasi di 7 bentang alam, 12 diantaranya merupakan individu berwarna hitam. Survei itu menargetkan pengamatan di 21 bentang alam di Pulau Jawa.

Apa pun warna bulunya, keduanya menghadapi ancaman serupa, mulai dari penyusutan dan fragmentasi habitat, berkurangnya mangsa, perburuan, hingga konflik dengan manusia. Setelah harimau jawa dinyatakan punah, macan tutul jawa menjadi satu-satunya predator besar yang tersisa di Pulau Jawa.

Jadi, macan tutul dan macan kumbang bukan dua jenis satwa berbeda. Mereka adalah satu spesies dengan dua tampilan warna, seperti dua variasi mantel dari kucing besar yang sama.

Artikel asli ditulis oleh Nuswantoro.

Foto utama: Macan tutul jawa ini terpantau kamera jebak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akhir 2024 lalu. Foto: Instagram/bbtnbromotenggersemeru.

Bunga Ini Tanda Penghormatan Kepada Pendeta Penjaga Alam Poso

Akhyari Hananto 4 Agu 2026

Sekilas, tumbuhan ini terlihat seperti tanaman hias biasa. Bunganya kecil, berwarna oranye cerah, dan tumbuh menumpang pada tanaman lain. Namun, setelah diperiksa mendalam, tumbuhan dari Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, itu ternyata spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.

Spesies tersebut diberi nama Rhododendron yombuwurii. Ia termasuk subgenus Vireya, kelompok rhododendron tropis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penemuannya menambah panjang daftar kekayaan hayati Sulawesi, pulau yang dikenal memiliki banyak spesies unik akibat sejarah geologi dan keterpisahan wilayahnya.

Kisah penemuan bermula Juni 2023. Saat melakukan penelitian lapangan di sekitar Tentena, tim peneliti menemukan tanaman hidup dari genus Rhododendron yang tidak menyerupai spesies mana pun yang telah dideskripsikan dari Sulawesi.

Tanaman tersebut telah dibudidayakan di sekitar Air Terjun Saluopa. Ia tumbuh pada substrat anggrek sebagai epifit. Istilah epifit digunakan untuk tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain sebagai tempat hidup, tetapi tidak mengambil makanan dari inangnya seperti parasit.

Berdasarkan informasi dari pengumpul lokal, seluruh substrat itu berasal dari pohon besar yang tumbang di Petirorano, bagian dari Pegunungan Tokorondo. Wilayah tersebut berada pada ketinggian 1.000–1.800 meter di atas permukaan laut, sekitar 19 kilometer sebelah barat Air Terjun Saluopa.

Tanaman itu mampu bertahan setelah dipindahkan ke kawasan air terjun yang berada pada ketinggian 560 meter. Spesimen yang sedang berbunga kemudian dikumpulkan pada Juli dan November 2024 untuk dijadikan bahan herbarium.

Menentukan tumbuhan sebagai spesies baru tidak cukup hanya berdasarkan warna bunga atau bentuk yang tampak berbeda. Peneliti harus mencari ciri diagnostik, yakni karakter khusus yang dapat membedakannya secara konsisten dari kerabat terdekat.

Dalam penelitian ini, mereka memeriksa daun, ranting, susunan bunga, kelopak, mahkota, benang sari, dan ovarium. Pengamatan juga dilakukan dengan mikroskop stereoskopik dan mikroskop elektron. Spesimen tersebut lalu dibandingkan dengan koleksi fisik di Herbarium Bogoriense serta spesimen digital dari sejumlah herbarium internasional.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa R. yombuwurii berkerabat dekat dengan Rhododendron celebicum. Namun, spesies baru ini mempunyai urat daun yang lebih menonjol, posisi perbungaan setengah tegak hingga horizontal, kelopak tanpa rambut di bagian luar, serta mahkota oranye yang lebih kecil. Analisis molekuler juga dilakukan untuk memperkuat penilaian status taksonominya dan memeriksa kemungkinan asal-usul hibrida.

Nama yombuwurii diberikan untuk mengenang Pendeta Yombu Wuri, tokoh agama dan budaya dari Suku Pamona. Semasa hidupnya, ia menyuarakan perdamaian, perlindungan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan Poso melalui khotbah maupun lagu. Ia meninggal pada 20 Mei 2024.

Tumbuhan ini diketahui berbunga dua kali setahun, yakni pada Juni–Juli dan November, serta berbuah pada Januari dan Agustus. Meski demikian, kondisi populasinya di alam belum diketahui. Lokasi asalnya belum dapat dipetakan secara tepat dan populasi liar belum pernah diamati langsung.

Karena informasi yang tersedia masih terbatas, penilaian konservasi sementaranya masuk kategori Data Deficient atau kekurangan data. Status tersebut bukan berarti spesies ini aman, melainkan ilmuwan belum memiliki cukup informasi untuk mengukur risiko kepunahannya.

Penemuan ini mengingatkan bahwa hutan Sulawesi masih menyimpan kehidupan yang belum dikenal ilmu pengetahuan. Menjaga Pegunungan Tokorondo berarti memberi kesempatan kepada spesies lain untuk ditemukan dan dipahami.

Artikel asli ditulis oleh Sarjan Lahay.

Foto utama: Orangye Poso. Foto: Prima Wahyu Kusuma Hutabarat dkk/Taiwania.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.