Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Bagaimana Nasib Orangutan Kalimantan yang Terkepung Karhutla?

Falahi Mubarok 24 Okt 2026

Gelagapan Tangani Karhutla, Pemerintah Malah Kambinghitamkan Tradisi Masyarakat Adat?

Yulia Adiningsih 24 Okt 2026
Cerita fitur

Masyarakat Negeri Liang Jaga Laut Lewat Kewang-Sasi

Edison Waas 23 Okt 2026

Mengapa Hutan Jongot di Sumatera Selatan Selamat dari Karhutla?

Taufik Wijaya 23 Okt 2026

Menjelajah Lebih dari 1.800 Kilometer, Pari Manta Raksasa Dewasa Tetap Pulang ke Terumbu yang Sama

Akhyari Hananto 23 Okt 2026
Cerita fitur

Warga Khawatir Sulit Air dan Terdampak Pasca Penetapan Zonasi Taman Nasional Gunung Mutis

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 23 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Masyarakat Negeri Liang Jaga Laut Lewat Kewang-Sasi

Lodya Oematan (kaos putih) dan Nordi Bai sedang menyiram tanaman-tanman stroberi di kebun milik Lodya di Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia

Warga Khawatir Sulit Air dan Terdampak Pasca Penetapan Zonasi Taman Nasional Gunung Mutis

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 23 Okt 2026

Menyelisik Dana Karbon Kalimantan Timur

Yuda Almerio 22 Okt 2026

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Nasib Rakyat dan Lingkungan?

Irfan Maulana 21 Okt 2026

Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan

Luh De Suriyani 21 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua

Akita Verselita 14 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Gurita Raksasa hingga 19 Meter Pernah Menghuni Lautan Zaman Dinosaurus

Editor 24 Okt 2026

Lautan pada zaman dinosaurus menyimpan penghuni yang ukurannya sulit dibayangkan: gurita dengan panjang total diperkirakan mencapai 7-19 meter. Pada batas atas perkiraan itu, panjangnya mendekati paus sperma dewasa.

Hewan tersebut adalah Nanaimoteuthis haggarti, gurita bersirip yang menghuni Samudra Pasifik Utara kuno pada masa Kapur Akhir. Ukurannya menjadikan spesies ini kandidat salah satu invertebrata nonkolonial terbesar dalam sejarah Bumi. Menariknya, gambaran mengenai raksasa ini disusun dari fosil rahang, tanpa penemuan tubuh utuh yang memperlihatkan panjang lengannya secara langsung.

Penelitian yang dipimpin Shin Ikegami bersama tim Universitas Hokkaido dan Natural History Museum London menganalisis 27 fosil rahang dari Jepang serta Kanada. Hasilnya diterbitkan dalam jurnal Science pada 23 April 2026.

Untuk memperkirakan ukuran tubuh, peneliti membandingkan proporsi rahang dengan tubuh gurita modern. Karena itu, angka 19 meter perlu dipahami sebagai batas atas estimasi. Zoe Hughes, kurator fosil sefalopoda Natural History Museum London, menggambarkan perbedaan ukurannya dengan temuan yang biasa ia jumpai.

“Kebanyakan gurita Kapur yang saya tahu seukuran telapak tangan,” katanya. “Ini jauh, jauh lebih besar.”

Selain ukuran, rahang tersebut menyimpan petunjuk tentang kebiasaan makan. Keausan yang kuat menunjukkan bahwa gurita ini kemungkinan sering menghancurkan mangsa bercangkang keras. Permukaan rahang kanan dan kirinya juga tidak aus secara merata, mengindikasikan kecenderungan menggunakan salah satu sisi ketika mengolah makanan.

Pola ini menyerupai dominasi sisi tubuh pada sejumlah hewan modern, meskipun belum cukup untuk memastikan kecerdasannya. Tubuh besar dan kemampuan menghancurkan mangsa mendukung dugaan bahwa N. haggarti menempati posisi tinggi dalam rantai makanan, kemungkinan bersaing dengan reptil laut besar seperti mosasaurus.

Tim peneliti juga mengkaji Nanaimoteuthis jeletzkyi, kerabat yang diperkirakan memiliki panjang 3-8 meter dan hidup sekitar 100-72 juta tahun lalu. Kedua spesies sempat dikaitkan dengan kelompok cumi-cumi vampir sebelum diidentifikasi ulang sebagai gurita bersirip atau Cirrata.

Kelompok ini masih memiliki anggota yang hidup sekarang, termasuk gurita dumbo yang berukuran jauh lebih kecil. Perbandingan tersebut memperlihatkan keragaman ukuran gurita bersirip sepanjang sejarah evolusinya. Namun, hubungan kelompok itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa gurita dumbo merupakan keturunan langsung kedua spesies purba tersebut.

Sejarah gurita sulit ditelusuri karena tubuh lunaknya jarang menjadi fosil. Rahangnya yang keras dan menyerupai paruh lebih berpeluang bertahan, tetapi hanya mengungkap sebagian kehidupannya. Kedua spesies Nanaimoteuthis menghilang dari catatan fosil sekitar 72 juta tahun lalu, kira-kira enam juta tahun sebelum kepunahan massal yang mengakhiri zaman Kapur.

Apakah mereka benar-benar punah ketika itu, atau jejak kehidupan berikutnya belum ditemukan, masih menjadi pertanyaan terbuka. Fosil rahang telah memperlihatkan keberadaan gurita raksasa, sementara akhir kisahnya tetap tersembunyi dalam catatan geologi yang belum lengkap.

Foto utama: Gurita hidup terbesar saat ini, gurita Pasifik raksasa, berukuran jauh lebih kecil dibandingkan Nanaimoteuthis haggarti. Foto oleh Abby Wood CC BY-NC-ND 2.0.

Bukit Karst Jadi Resor, Warga Gunungsewu Khawatir Lingkungan Rusak dan Kehilangan Penghidupan

Editor 23 Okt 2026

Bagi Suparjiyanti, keindahan Pantai Sanglen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, merupakan tempat mencari nafkah. Namun, pembangunan resor membuat masa depan usahanya tidak pasti. Bukit karst dipangkas dan dibelah, sementara pedagang diminta meninggalkan kawasan. Sedikitnya 57 keluarga menggantungkan hidup dari berjualan di pantai tersebut. Kekhawatiran kehilangan penghasilan dan akses pantai mendorong Suparjiyanti bersama warga lain, didampingi Walhi Yogyakarta, membawa persoalan itu kepada Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta.

“Kami yang memanfaatkan kawasan itu untuk dagang diminta keluar karena pembangunan resort,” katanya.

Keresahan serupa muncul di Pantai Watu Bolong, tempat sedikitnya 37 keluarga terdampak ekspansi wisata. Yulianto, warga sekaligus anggota Kelompok Sadar Wisata, khawatir proyek baru menggerus usaha yang dibangun masyarakat.

“Kami mengembangkan usaha wisata berbasis komunitas sejak 2020. Proyek itu berpotensi menghilangkan sumber ekonomi warga,” ujarnya. Menurutnya, Pokdarwis tidak dilibatkan dalam sosialisasi proyek. Bagi warga, perubahan kawasan pesisir menyangkut kesempatan bekerja dan keterlibatan dalam menentukan masa depan tempat tinggal mereka.

Investigasi Walhi Jogja mencatat 13 destinasi wisata beroperasi di kawasan karst Gunungsewu. Rizky Abiyoga dari Walhi menyebut pembangunannya mengubah bentang alam sekitar 34,46 hektar. Pemangkasan bukit, menurutnya, berisiko mengganggu fungsi karst sebagai penyimpan air tanah dan penangkap karbon, sekaligus merusak sistem hidrologi alami.

Walhi juga menyoroti penggunaan air untuk hunian, fasilitas penunjang, dan operasional wisata. Berdasarkan perhitungannya pada tiga perusahaan, kebutuhan tersebut mencapai puluhan juta liter per tahun untuk masing-masing fasilitas. Tekanan terhadap air menjadi perhatian karena berkaitan dengan fungsi ekologis kawasan.

Walhi menduga terdapat pelanggaran berlapis, termasuk perubahan morfologi karst, ketiadaan amdal, pelanggaran sempadan pantai, dan pengabaian hak ekonomi warga.

Endah Subekti Kuntariningsih, Bupati Gunungkidul, mengakui sebagian besar industri wisata di kawasan tersebut belum memiliki amdal. Menurutnya, sebagian pengusaha memanfaatkan celah perizinan elektronik dan memilih membayar denda administratif daripada menempuh kajian lingkungan. Sementara itu, 13 destinasi wisata yang dihubungi Mongabay Indonesia belum memberikan jawaban substantif hingga berita terbit, meskipun pesan telah direspons untuk diteruskan kepada manajemen.

Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan akan melakukan pengawasan dan verifikasi lapangan. Ardyanto Nugroho, Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup, menegaskan bahwa dokumen lingkungan semestinya diperoleh sebelum usaha berjalan. Pemeriksaan akan menilai perubahan bentang alam, integritas gua, dan gangguan sistem air bawah tanah. Walhi meminta penanganan tidak berhenti pada denda.

“Ada perusahaan yang sudah didenda dan minta menyusun dokumen evaluasi lingkungan hidup. Itu gak menghapuskan tanggungjawab pidana dan perdata,” kata Abiyoga.

Bagi warga Sanglen dan Watu Bolong, tindak lanjut pengawasan berkaitan langsung dengan keberlanjutan sumber penghidupan mereka. Evaluasi tersebut juga menentukan bagaimana fungsi kawasan karst yang dilindungi dipertahankan di tengah pembangunan pariwisata.

Foto utama: Salah satu destinasi wisata yang membelah karst Gunungsewu. Foto: Walhi Jogja.

Benarkah Garam dan Tanaman Tertentu Bisa Mengusir Ular?

Editor 23 Okt 2026

Menaburkan garam di halaman sering dianggap cara sederhana untuk mencegah ular masuk rumah. Tanaman tertentu pun mendapat reputasi sebagai pengundang atau pengusir reptil ini. 

Namun, menurut Amir Hamidy, herpetolog BRIN, kehadiran ular lebih berkaitan dengan tempat berlindung dan ketersediaan mangsa. Pekarangan yang menyediakan persembunyian bagi tikus, burung, atau hewan kecil lain dapat menjadi lokasi berburu. Karena itu, memahami kondisi lingkungan lebih berguna daripada mengandalkan anggapan tentang aroma tanaman atau bahan yang ditaburkan di sekitar rumah.

“Sebenarnya tanaman itu bukan secara spesifik mengundang ular, tapi memberi ruang untuk ular berlindung,” kata Amir. Anggrek, serai, melati, bambu, dan mint termasuk tanaman yang kerap dikaitkan dengan kehadiran ular, tetapi Amir menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa tanaman tersebut mengundangnya. Aroma bunga bukanlah senyawa pemikat ular. 

Berbeda dengan feromon yang dikeluarkan sesama jenis saat musim kawin, bau tumbuhan tidak memberikan daya tarik serupa. Ular dapat memilih vegetasi karena cocok untuk bersembunyi, menyamarkan tubuh, atau menyediakan makanan.

Sebagai satwa yang cenderung menghindari keterpaparan, ular membutuhkan perlindungan dari lingkungan sekitar. Warna tubuh membantu mereka menyatu dengan tempat tinggalnya, seperti ular hijau di antara dedaunan. Hubungan dengan tanaman juga dapat terjadi melalui mangsa. 

“Kalau tumbuhan menyediakan shelter untuk tikus, bajing, serangga, atau burung yang jadi mangsa ular, ya wajar kalau ular datang,” ujar Amir. 

Sampah makanan yang menarik tikus, misalnya, dapat diikuti kedatangan ular. Kehadiran reptil tersebut merupakan bagian dari hubungan pemangsa dan mangsa yang berlangsung di sekitar permukiman.

Bagaimana dengan garam? Amir menjelaskan bahwa tubuh ular dilindungi sisik, sehingga menaburkan garam bukan cara efektif untuk mengusirnya. “Garam, ijuk, segala macam itu tidak berguna untuk mengusir ular,” katanya.

Dia lebih menyarankan menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan tempat sampah tertutup. Tumpukan kardus, batu, serta barang tidak terpakai juga perlu dibereskan agar tidak menyediakan ruang persembunyian. Upaya tersebut berfokus pada kondisi yang memungkinkan ular dan mangsanya menetap, sehingga tidak bergantung pada bahan yang dipercaya dapat membuat ular menjauh.

Jika berjumpa ular, Amir menyarankan menghindar dan tidak membunuhnya. Ketakutan serta kesulitan mengenali jenis sering membuat semua ular diperlakukan sebagai ancaman yang sama. Padahal, ular memiliki peran penting dalam mengendalikan tikus, yang dapat menjadi hama dan pembawa penyakit. 

“Tidak perlu dibunuh. Orang membunuh semua ular karena takut dan kurang paham identifikasi,” ujarnya. Mengurangi perjumpaan dengan ular dimulai dari memahami kebutuhannya: makanan, perlindungan, dan tempat berkembang biak.

Foto utama: Ular kobra bisa beradaptasi dengan baik pada habitatnya dan sering terlihat di permukiman warga. Foto: Pixabay/beatebasenau/Free to use.

Berkedok Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Diamankan di Kepulauan Riau

Editor 22 Okt 2026

Label makanan ringan pada sebuah kardus ternyata menyembunyikan 1.728 kuda laut kering. Paket yang hendak dikirim ke Kendari itu dihentikan petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah bersama Karantina Kepulauan Riau pada 10 Oktober 2026. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan sinar-X memperlihatkan isi yang tidak sesuai. Ketika kardus dibuka, petugas menemukan ribuan satwa laut dalam kondisi kering.

“Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan,” kata Hasim, Kepala Karantina Kepri. Perwakilan ekspedisi tidak dapat menunjukkan dokumen persyaratan, sehingga pengiriman tidak dilanjutkan.

Identifikasi bersama Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru menemukan tiga jenis dalam paket tersebut. Jumlah terbesar adalah Hippocampus kuda, sebanyak 1.263 individu, disusul Hippocampus spinosissimus sebanyak 452 individu dan Hippocampus comes sebanyak 13 individu.

Ukurannya berkisar 11-19 sentimeter. Seluruhnya diserahkan kepada instansi pengelolaan sumber daya pesisir dan pengawasan perikanan untuk penanganan lebih lanjut. Pihak pengirim serta penerima masih ditelusuri. Hasim mengingatkan bahwa pengiriman satwa dan produk turunannya harus memenuhi ketentuan karantina maupun persyaratan konservasi, sementara perusahaan ekspedisi perlu memastikan kesesuaian isi paket dan dokumennya.

Kasus tersebut memperlihatkan jalur pengiriman kuda laut kering yang membutuhkan pengawasan. Dalam gambaran perdagangan yang lebih luas, IUCN menyebut kuda laut diperjualbelikan hidup untuk akuarium maupun dikeringkan untuk pengobatan tradisional dan cenderamata. Perdagangan kering mendominasi pasar global, sedangkan jalur tidak resmi masih berlangsung.

Penilaian IUCN terhadap Hippocampus trimaculatus, spesies berbeda dari tiga jenis yang disita, memperkirakan penurunan populasi sebesar 50–79 persen dalam tiga generasi terakhir. Tekanannya mencakup penangkapan berlebihan, tangkapan sampingan, serta kerusakan habitat akibat pengerukan dan praktik penangkapan yang merusak.

Pengawasan jalur keluar Kepulauan Riau juga mengungkap kasus terpisah berupa penyelundupan bubuk emas. Bea Cukai Batam menyita 43 bungkus dengan berat bruto sekitar 11,31 kilogram dari delapan penumpang tujuan Singapura pada 22 dan 24 September 2026. Barang disembunyikan dalam tas dan pakaian melalui Pelabuhan Batam Centre serta Harbour Bay. Pemeriksaan awal terhadap seorang penumpang menemukan tujuh bungkusan, kemudian pengembangan melalui analisis risiko mengungkap 36 bungkusan lain dari tujuh penumpang. Pengujian menemukan kandungan emas dengan kadar mencapai 99,530 persen.

“Total nilai barang diperkirakan mencapai Rp29,23 miliar, dengan estimasi kerugian negara yang berhasil diamankan Rp3,65 miliar,” kata Mujiono dari Bea Cukai Batam. Asal-usul emas masih ditelusuri. Meski komoditas dan jalurnya berbeda, kedua pengungkapan menunjukkan pentingnya pemeriksaan isi barang, dokumen, serta pola pengiriman. Untuk kuda laut, pengawasan perdagangan perlu disertai penelitian populasi, pemantauan habitat, dan pengaturan penangkapan sebagaimana ditekankan IUCN.

Foto utama: Kuda laut dengan berbagai jenis dan ukuran. Foto: BRIN.

Ketika Mangrove Menyusut, ke Mana Kucing Bakau Pergi?

Editor 22 Okt 2026

Di antara akar mangrove dan tanah berlumpur, seekor kucing berburu di lingkungan yang dipenuhi air. Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, sementara kakinya memiliki selaput sebagian. Kucing bakau, Prionailurus viverrinus, mampu berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada keberadaan lahan basah yang menyediakan makanan serta perlindungan.

Ketika mangrove berganti menjadi tambak, permukiman, atau kawasan industri, pemburu ikan ini kehilangan bagian penting dari ruang hidupnya.

Nama kucing bakau merujuk pada habitatnya yang mencakup mangrove, rawa, dan sungai.

Selaput pada kakinya membantu pergerakan di air serta di permukaan tanah lunak. Penampilannya juga memiliki ciri yang membedakannya dari kerabat lain. “Kucing bakau adalah kucing terbesar di antara jenis-jenis Prionailurus, dengan wajah lonjong bercirikan hidung khas, bagian bawah tubuh putih, dan telinga belakang berwarna hitam dengan totol putih di tengahnya,” tulis Kuncoro dan kolega dari Universitas Negeri Surabaya. Ciri tubuh tersebut menjadi bagian dari penelitian untuk memastikan identitas satwa yang masih minim datanya di Indonesia.

Di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, keberadaan kucing bakau awalnya diduga melalui rekaman kamera jebak. Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 kemudian mengonfirmasinya menggunakan identifikasi morfologi dan analisis gen Cytochrome b. Temuan ini memperkuat catatan keberadaan spesies tersebut di Jawa Timur. Wonorejo menjadi lokasi penting karena mempertemukan lingkungan laut, payau, sungai, dan daratan yang mendukung keragaman flora serta fauna. Namun, konfirmasi keberadaan belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai jumlah individu dan kondisi populasinya.

Data tersebut tetap diperlukan untuk memahami kebutuhan perlindungan kucing bakau dan habitatnya.

Bagi kucing bakau, mangrove menyediakan tempat berburu ikan, kepiting, dan udang, sekaligus tempat induk menyembunyikan anak dari predator serta gangguan manusia. Kerusakan habitat dengan demikian dapat mengurangi makanan dan perlindungan secara bersamaan. Penangkapan ikan berlebihan juga berpotensi menekan ketersediaan mangsa.

Asesmen IUCN Cat Specialist Group yang dikutip artikel menyoroti kerusakan serta fragmentasi lahan basah sebagai pendorong utama penurunan populasi kucing bakau di wilayah sebarannya. Habitat yang terpecah membuat perlindungan tidak cukup hanya mempertahankan satu petak mangrove tanpa memperhatikan lingkungan di sekitarnya.

Hubungan erat dengan mangsa dan habitat membuat kucing bakau relevan dalam pemantauan ekosistem lahan basah. Namun, penilaian kesehatan mangrove perlu melihat keragaman fauna secara lebih luas. “Keanekaragaman dan kelimpahan fauna yang hidup di kawasan hutan mangrove dapat dijadikan indikator untuk menilai tingkat kesehatan ekosistem tersebut,” tulis peneliti dalam kajian.

Foto utama: Kucing bakau yang disebut juga fishing cat karena kemampuan hebatnya berburu mangsa di lahan basah. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay.

Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Editor 21 Okt 2026

Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026.

Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari lokasi belum mengakhiri penderitaannya. Luka bakar merusak jaringan tubuhnya, hingga dokter hewan memutuskan mengamputasi empat ruas jari kakinya.

“Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS.

Cedera tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan Novita bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Pemulihannya memerlukan perhatian berkelanjutan. Untuk mendukung perawatan, Yayasan BOS meluncurkan penggalangan dana “Beri Novita Kesempatan Kedua” pada 10 Oktober,dengan target US$20.000.. Hinga 17 Oktober malam, dana yang terkumpul mencapai US$3.427.

Novita bukan satu-satunya orangutan yang kehilangan tempat aman akibat kebakaran. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu. Delapan yang dinyatakan sehat mulai dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, pada 9 Oktober. Pemilihan lokasi mempertimbangkan pakan, air, ruang jelajah, dan keterhubungan hutan.

“Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat.

Skala ancaman terlihat dalam analisis Geopix. Sepanjang 1 Juni-12 Oktober 2026, organisasi tersebut mencatat 572.261 titik panas di Kalimantan, dengan 440.010 atau sekitar 76,89 persen berada di habitat orangutan.

Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Titik panas merupakan bagian dari data pemantauan yang digunakan bersama citra satelit dan peta untuk menilai kondisi kawasan. Analisis Geopix juga menyoroti dampak kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting dan Sebangau, termasuk ancaman terhadap hutan gambut yang menopang kehidupan orangutan.

Ketika hutan terbakar, orangutan menghadapi lebih dari luka fisik. Pohon pakan dapat musnah, jalur jelajah terputus, dan satwa terdorong keluar kawasan untuk mencari makanan atau perlindungan, sehingga risiko konflik dengan manusia meningkat.

“Kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan,” kata Annisa Rahmawati, pengampanye senior satwa liar Geopix. Organisasi tersebut mendesak penetapan status darurat konservasi orangutan kalimantan serta rencana penyelamatan dengan target, anggaran, tanggung jawab, dan evaluasi yang jelas.

Bagi Novita dan orangutan lain yang dievakuasi, perawatan merupakan langkah awal; kelangsungan hidup mereka juga memerlukan habitat yang aman dan mampu menyediakan kebutuhan hidupnya.

Foto utama: Novita, orangutan berusia sekitar 5 tahun bertahan di pohon, akibat habitatnya terbakar. Foto: Dok. BOSF.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.