Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Refleksi Hari Lingkungan: Ketika Pengembangan Biodiesel Bisa Ancam Hutan Tersisa

Themmy Doaly 5 Jun 2026

Opini: Aceh dan Lahirnya Hutan Wakaf

Azhar * 5 Jun 2026
Cerita fitur

Ilusi Solusi Gas, Dorong Energi Komunitas di Bali

Luh De Suriyani 5 Jun 2026
Cerita fitur

Terdampak Industri Nikel, Warga Obi Ngadu ke Jakarta  [2]  

Mahmud Ichi dan Rabul Sawal 4 Jun 2026

Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global

Nuswantoro 4 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera

Irfan Maulana 4 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Refleksi Hari Lingkungan: Ketika Pengembangan Biodiesel Bisa Ancam Hutan Tersisa

Ilusi Solusi Gas, Dorong Energi Komunitas di Bali

Luh De Suriyani 5 Jun 2026

Terdampak Industri Nikel, Warga Obi Ngadu ke Jakarta  [2]  

Mahmud Ichi dan Rabul Sawal 4 Jun 2026

Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera

Irfan Maulana 4 Jun 2026

Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis

Irfan Maulana 3 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker

Nuswantoro 25 Mei 2026

Lebah dan Tawon, Kenali Ciri Utama Perbedaannya

Nuswantoro 5 Des 2024

Madu Kelulut dan Kelestarian Hutan Leuser

Junaidi Hanafiah 13 Okt 2021

Studi: Ada Kesamaan Interaksi Lebah Madu dengan Kehidupan Sosial Manusia

Rahmadi Rahmad 18 Des 2020

Lebah madu bukan sekadar produsen komoditas, melainkan pilar penting yang menjaga stabilitas ekosistem dan ketahanan pangan global, namun keberadaan makhluk kecil yang cerdas ini kini berada di titik persimpangan yang krusial akibat perubahan iklim global, alih fungsi lahan oleh industri ekstraktif, dan polusi teknologi yang perlahan mengikis ruang hidup mereka hingga memperpendek umur lebah serta […]

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh series

Lebih spesial

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
7 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

0 cerita

Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kenali Owa Jawa Melalui Suara

Rahmadi Rahmad 23 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Kucing Kuwuk, Predator Terkecil Sang Penopang Ekosistem yang Terlupakan

Akhyari Hananto 5 Jun 2026

September 2025, tiga anak kucing kuwuk ditemukan warga di Bali Barat dalam kondisi memprihatinkan, hampir menjadi mangsa anjing setelah induknya menghilang. Dua di antaranya masih dirawat intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng. Satu kasus lain di Bogor, seekor kuwuk bernama Chiki, kini dalam perawatan di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi.

Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti berita hewan yang diselamatkan. Bagi para ahli, ini adalah gejala dari pola yang jauh lebih besar.

Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), atau kucing akar, adalah jenis kucing liar terkecil sekaligus paling adaptif di Asia. Beratnya hanya 3 hingga 7 kilogram, tubuhnya berbintik, dan kemampuannya berburu tikus serta burung menjadikannya penjaga keseimbangan ekosistem yang sesungguhnya. Persebarannya luas, dari Pakistan, India, Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Indonesia, menghuni hutan primer, hutan sekunder, agroforestri, sawah, bahkan perkebunan.

Tapi luas sebaran itu menipu. “Kita mengira populasinya stabil karena masih sering ditemukan, padahal banyak kawasan terjadi penurunan signifikan,” tulis kajian IUCN Red List 2022 tentang spesies ini. Di berbagai wilayah Asia Tenggara, populasinya menurun akibat kehilangan habitat dan tekanan manusia. Ironisnya, belum ada satu pun survei komprehensif yang mampu memotret jumlah individu secara akurat.

“Dedicated survey untuk kucing kuwuk belum ada sepertinya,” kata Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group. Sebagian besar data yang ada bersifat anekdot, berasal dari laporan warga atau temuan insidental di lapangan. Ketika survei satwa liar dilakukan, fokusnya hampir selalu pada harimau atau macan tutul. Rekaman kuwuk hanya dianggap data sampingan.

Ancaman terhadap spesies ini tidak datang dari satu arah. Deforestasi untuk sawit, karet, dan kawasan wisata terus menggerus habitatnya. Perdagangan ilegal berlangsung di grup Facebook dan marketplace dengan modus terselubung. Di Bali, Balai Konservasi Sumber Daya Alam bahkan mencatat kasus kepemilikan kuwuk oleh warga asing. Tahun lalu, seorang warga negara Prancis dideportasi setelah kedapatan membawa kucing hutan tanpa dokumen resmi.

Ada satu ancaman lagi yang jarang disorot: hibridisasi dengan kucing domestik. Kawin silang antara kuwuk liar dengan kucing peliharaan menghasilkan “hybrid cat” yang diminati pasar, sekaligus mengaburkan kemurnian genetik spesies liar. “Satwa liar kehilangan jati diri, sementara masyarakat makin sulit membedakan mana yang liar dan hasil persilangan,” kata Femke den Haas, pendiri Jakarta Animal Aid Network.

Meski masuk dalam Appendix II CITES dan dilindungi secara hukum di Indonesia, upaya konservasi kuwuk terus tersandung minimnya data dasar. Tanpa angka populasi yang jelas, sulit merancang strategi penyelamatan yang tepat sasaran.

Para ahli mendorong survei sistematis dengan kamera jebak yang secara khusus menargetkan spesies ini, analisis genetik, penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal, dan edukasi publik tentang peran ekologis kuwuk. Perluasan kawasan lindung untuk mencegah fragmentasi habitat juga mendesak.

Kucing kuwuk bukan satwa yang mudah menarik perhatian. Ia tidak sebesar harimau, tidak sekarismatik orangutan. Tapi di setiap sawah yang terjaga dari ledakan populasi tikus, ada kemungkinan besar seekor kuwuk yang bekerja diam-diam di baliknya. Penopang ekosistem yang terlupakan, bahkan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.

Di Lereng Muria, Macan Tutul Dipanggil ‘Kyai’

Akhyari Hananto 5 Jun 2026

Mukadi, petani kopi berusia 46 tahun dari Desa Japan di lereng Gunung Muria, belum pernah melihat langsung macan tutul. Tapi ia pernah menemukan jejaknya di lahan sendiri, bekas kaki dan sisa kijang yang dimangsa. Reaksinya bukan panik atau melapor. “Hewan sebuas apapun, bila tidak disakiti, tidak akan mengganggu,” ujarnya.

Sikap seperti ini bukan keanehan di lereng Muria. Ia adalah bagian dari cara pandang yang sudah lama mengakar di komunitas petani di kawasan pegunungan yang membentang di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara, Jawa Tengah. Di beberapa desa setempat, macan tutul jawa (Panthera pardus melas) tidak sekadar disebut sebagai predator puncak. Dalam narasi lisan masyarakat, satwa ini disebut kyai, penjaga rimba, sosok yang merepresentasikan keseimbangan antara manusia dan alam.

Riman, petani kopi berusia 83 tahun yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di lereng Muria, pernah merasakan sendiri dampak konflik dengan satwa ini ketika ternaknya diserang macan tutul. Namun alih-alih dendam, kejadian itu justru mempertegas keyakinannya. “Hubungan manusia dengan satwa harus kita perhatikan,” katanya.

Keyakinan seperti ini, ternyata, punya nilai konservasi yang nyata. Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria), mencatat bahwa sikap hormat petani lokal terhadap macan tutul menjadi salah satu faktor yang membantu kelangsungan hidup satwa ini di kawasan tersebut. Pada 2018, PEKA Muria bersama sejumlah pihak melakukan pemantauan menggunakan kamera jebak di titik-titik strategis. Hasilnya: sekitar 14 individu dewasa macan tutul terdeteksi di kawasan hutan Muria.

Angka itu kecil, tapi signifikan. Macan tutul jawa adalah satu-satunya predator puncak yang tersisa di Pulau Jawa, dan populasinya terus tertekan oleh fragmentasi habitat dan perburuan. Keberadaan 14 individu di Muria menjadikan kawasan ini salah satu kantong penting yang masih bertahan.

Namun tekanan tetap ada. PEKA Muria terus melakukan pemantauan rutin dan pendataan desa-desa yang mengalami konflik satwa-manusia. Ketika konflik terjadi, pendekatannya bukan pembalasan, melainkan edukasi, termasuk membantu warga membangun kandang ternak yang lebih aman. Ancaman perburuan juga tetap diwaspadai, meski belum ada laporan temuan resmi dari petugas kehutanan setempat yang mengamankan area sekitar 2.400 hektar.

Untuk jangka panjang, Hendra Gunawan, peneliti utama dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, mendorong perubahan status kawasan hutan Muria dari hutan produksi dan hutan lindung menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Status Tahura akan memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat, membuka ruang untuk penelitian dan ekowisata, sekaligus menciptakan landasan kolaborasi konservasi yang lebih kokoh antara berbagai pihak.

Gunung Muria bukan hutan yang luas. Tapi ia menyimpan sesuatu yang semakin langka di Pulau Jawa: komunitas manusia yang masih memilih untuk hidup berdampingan dengan predator puncak, bukan menyingkirkannya. Selama pandangan itu bertahan, macan tutul di Muria masih punya kesempatan bertahan hidup.

Empat Ular Pohon Baru Ditemukan , Salah Satunya Membelit Elang Hidup-hidup

Akhyari Hananto 5 Jun 2026

Seorang herpetolog sedang melakukan ekspedisi di hutan tropis Papua Nugini ketika ia menyaksikan sesuatu yang jarang sekali dilihat manusia: seekor ular hitam legam membelit dan melumpuhkan seekor elang hidup-hidup, dengan bentang sayap mangsa mencapai 1,2 meter. Ular itu tidak ia kenali. Dan memang seharusnya begitu, karena ular itu belum pernah ada dalam catatan ilmiah mana pun.

Fred Kraus, herpetolog dari University of Michigan, mempublikasikan temuannya di jurnal Zootaxa pada April 2025. Hasilnya: empat spesies ular pohon baru dari genus Dendrelaphis, semuanya ditemukan di pulau-pulau terpencil dalam gugusan Kepulauan Louisiade dan Woodlark di Provinsi Milne Bay, Papua Nugini.

Ular yang membelit elang itu diidentifikasi sebagai Dendrelaphis anthracina, dinamai dari kata Latin untuk “hitam arang.” Tubuhnya bisa mencapai 142 cm, berwarna hitam mengkilap dengan dagu putih mencolok. Selain perilakunya yang agresif, spesies ini ditemukan di berbagai tipe habitat, dari hutan hujan primer hingga kebun dan pekarangan yang dikelola manusia.

Di Pulau Misima, Kraus menemukan spesies kedua: Dendrelaphis atra, yang juga berwarna hitam namun tanpa kilap, matte black. Individu mudanya berwarna abu-abu kecoklatan yang berubah menjadi hitam solid seiring usia. Sepanjang 125 cm, ular ini ditemukan tidak hanya di hutan, tetapi juga di area pertambangan dan sekitar bangunan.

Pulau Rossel menjadi lokasi penemuan ketiga, Dendrelaphis melanarkys, yang paling mudah dikenali secara visual: mata jingga terang, sisik gelap berpola menyerupai jaring, dan lidah berwarna gelap. Namanya diambil dari kata Yunani untuk “hitam” dan “jaring.” Dengan panjang hampir 150 cm, ia adalah yang terbesar di antara keempat spesies baru ini.

Sementara di Pulau Woodlark, ditemukan spesies keempat sekaligus terkecil: Dendrelaphis roseni, sekitar 105 cm. Namanya diambil dari Clark Rosen, pakar herpetologi dan sahabat dekat Kraus yang telah wafat, sebagai penghormatan atas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan.

Keempat spesies ini masing-masing hanya ditemukan di satu pulau, menjadikannya endemik dengan distribusi yang sangat terbatas. Pola ini mencerminkan fenomena spesiasi pulau, di mana populasi yang terisolasi secara geografis berkembang menjadi spesies tersendiri akibat tekanan seleksi alam yang berbeda di tiap lokasi.

Papua Nugini memang bukan sembarang tempat untuk penemuan semacam ini. Negara itu menyimpan lebih dari 5 persen keanekaragaman hayati global, dengan lebih dari 80 spesies ular yang sudah teridentifikasi. Provinsi Milne Bay khususnya dikenal sebagai salah satu kawasan dengan konsentrasi reptil dan amfibi endemik tertinggi di dunia.

Yang menarik, beberapa dari ular ini ditemukan bukan di hutan perawan, melainkan di area yang sudah terganggu aktivitas manusia: pertambangan, kebun, bahkan bekas desa yang ditinggalkan. Ini sekaligus menjadi peringatan, bahwa spesies yang belum kita kenal pun sudah hidup berdampingan dengan tekanan manusia, dan bisa hilang sebelum sempat dipahami.

Bagi Indonesia, yang berbagi lanskap geografi dan ekologi serupa dengan Papua Nugini, penemuan ini adalah pengingat bahwa hutan-hutan kita kemungkinan besar masih menyimpan spesies yang belum pernah tercatat. Pertanyaannya bukan apakah mereka ada, melainkan apakah kita akan menemukannya sebelum habitatnya hilang.

Elva Gemita, Perempuan ‘Harimau’ yang Jejaknya Tak Ikut Pergi

Akhyari Hananto 5 Jun 2026

Elva Gemita tidak pernah menyelesaikan sarjana biologi atau kehutanan. Ia lahir dan besar di pinggir Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, di tengah hutan yang kelak menjadi seluruh hidupnya. Dan ketika ia pergi pada 24 November 2024 di usia 44 tahun karena kanker, dunia konservasi Indonesia kehilangan salah satu suaranya yang paling gigih.

Karir Elva dimulai bukan dari ruang kuliah, melainkan dari lapangan. Pada 2003, ia bekerja sebagai asisten peneliti di Proyek Harimau Jambi kelolaan Zoological Society of London, memantau satwa liar melalui transek garis, mengumpulkan data jejak kaki dan feses, mengoperasikan jebakan kamera, dan membongkar jerat ilegal yang dipasang di dalam hutan. Ia satu-satunya perempuan dalam banyak proyek yang ia ikuti.

“Mba Elva adalah contoh leader yang sangat berkomitmen terhadap visinya, tidak segan langsung terjun ke lapangan memberikan contoh dan menyemangati anggota timnya,” kenang Tomi Ariyanto, rekan kerjanya di periode itu.

Dari lapangan Kerinci, Elva terus bergerak. Ia menjabat Manajer Lapangan di Durrell Institute of Conservation and Ecology bekerja sama dengan Flora and Fauna International, lalu menjadi Koordinator Tim di Taman Nasional Kerinci Seblat. Pada 2016, ia meraih gelar Magister Manajemen Proyek Konservasi dari University of Kent, Inggris, dengan beasiswa yang ia perjuangkan sendiri. Tesisnya tentang strategi pengelolaan harimau Sumatera di Hutan Harapan didasarkan pada data jebakan kamera yang ia kumpulkan selama enam tahun di lapangan.

“Elva itu bahasa Inggrisnya selayak bangsawan Inggris. Dia yang lahir dan besar di kampung, mampu membuktikan itu bukan halangan meraih mimpi kuliah ke luar negeri,” kata Iding Haidir, Ketua Forum Harimau Kita, yang mengaku terinspirasi oleh Elva hingga ia sendiri mendapat beasiswa ke Oxford.

Puncak kontribusi Elva adalah di Hutan Harapan, Sumatera, tempat ia menjabat sebagai Manajer Departemen Lingkungan, Penelitian, dan Pengembangan sejak 2010. Di sana ia tidak hanya memimpin riset lapangan tentang harimau dan gajah Sumatera, tetapi juga membangun jaringan antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan donor internasional, menjadikan Hutan Harapan sebagai salah satu model restorasi ekosistem paling diakui di Asia Tenggara.

Adam Aziz, Direktur Hutan Harapan, menyebutnya sebagai “pejuang dan pahlawan” bagi hutan dataran rendah yang tersisa. “Dia sangat militan dan berkontribusi luar biasa untuk penyelamatan biodiversitas.”

Kalimat yang paling diingat dari Elva sederhana: “Untuk menjaga biodiversitas hutan dibutuhkan tangan perempuan.” Ia tidak hanya mengucapkannya, ia membuktikannya selama lebih dari dua dekade, di medan yang berat, dalam proyek-proyek yang sering kali tidak mendapat sorotan publik.

Sunarto, ahli ekologi satwa liar yang pernah bekerja bersama Elva di Kerinci-Seblat, merangkumnya dengan tepat. “Berita kepergian Elva meninggalkan kekosongan yang mendalam. Kontribusinya yang luar biasa terhadap konservasi akan menjadi warisan yang abadi.”

Ia pergi di usia yang terlalu muda. Tapi jejaknya di hutan Sumatera tidak ikut pergi. Ia hidup dalam data, dalam kebijakan, dalam orang-orang yang ia latih, dan dalam hutan yang masih berdiri karena ada orang seperti dia yang memilih untuk tidak diam.

King Cobra, Predator Puncak yang Memangsa Sesama Ular Berbisa

Akhyari Hananto 4 Jun 2026

Di antara ribuan spesies ular yang hidup di muka bumi, king cobra (Ophiophagus hannah) menempati posisi yang benar-benar berbeda. Bukan hanya karena tubuhnya yang bisa mencapai 5,5 meter, menjadikannya ular berbisa terpanjang di dunia, tetapi karena satu kebiasaan yang nyaris tak dimiliki ular lain: ia berburu dan memakan ular berbisa lainnya.

Perilaku ini disebut ophiophagy, dan king cobra adalah salah satu contoh paling ekstrem dari adaptasi tersebut. Mangsanya bukan sembarang ular. Ia secara rutin memburu krait (Bungarus sp.) dan kobra sejati (Naja sp.), dua kelompok ular dengan bisa neurotoksik paling mematikan di Asia. Selain keduanya, ular beludak Russell (Daboia russelii), ular tikus, hingga biawak kecil juga sesekali masuk dalam daftarnya, meski lebih bersifat oportunistik. Penelitian menunjukkan bahwa king cobra memiliki ketahanan terhadap racun neurotoksik dari mangsanya sendiri, sebuah adaptasi evolusi yang membuatnya nyaris tak tertandingi di habitatnya.

Meski namanya mengandung kata “kobra,” king cobra bukan bagian dari genus Naja yang mencakup kobra India maupun kobra Mesir. Ia adalah satu-satunya anggota genus Ophiophagus, sebuah nama Latin yang secara harfiah berarti “pemakan ular.” Tudungnya lebih sempit, tubuhnya jauh lebih besar, dan pola makannya jauh lebih terspesialisasi dibanding kobra mana pun.

Dalam berburu, king cobra mengandalkan penglihatan tajam dan organ Jacobson di langit-langit mulutnya untuk menganalisis partikel kimia yang ditangkap lidah bercabangnya. Dengan cara ini, ia bisa melacak keberadaan mangsa dengan akurasi tinggi sebelum menyerang dengan kecepatan luar biasa. Satu gigitan bisa menyuntikkan hingga 7 mililiter racun, mengandung neurotoksin yang melumpuhkan sistem saraf serta kardiotoksin yang menyerang jantung, cukup untuk membunuh seekor gajah dewasa atau dua puluh manusia sekaligus. Saat merasa terancam, ia mampu mengangkat sepertiga tubuhnya sambil melebarkan tudung dan mendesis keras. Pertunjukan intimidasi ini sering kali cukup mengusir ancaman tanpa perlu satu pun gigitan.

Namun predator seperkasa ini pun tidak kebal dari tekanan manusia. Deforestasi menyusutkan habitat berburunya, sementara perburuan ilegal terus berlangsung untuk keperluan kulit, pengobatan tradisional, dan pertunjukan ular. Konflik dengan manusia semakin sering terjadi seiring menyempitnya ruang hidup king cobra, dan banyak yang akhirnya dibunuh karena dianggap berbahaya. Padahal, sebagai pengendali populasi ular berbisa lain, kehadiran king cobra justru menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Saat ini IUCN mengkategorikannya sebagai spesies Rentan (Vulnerable), sebuah peringatan bahwa tanpa langkah konservasi yang lebih serius, predator puncak dunia ular ini bisa lenyap jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Cinenen Pisang, Burung Mungil Penjahit Daun yang Akrab di Pekarangan Kita

Akhyari Hananto 4 Jun 2026

Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan rumah kita, namun justru paling jarang mendapat perhatian.

Nama Inggrisnya, Common Tailorbird, bukan tanpa alasan. Burung ini membangun sarang dengan cara menjahit lembaran daun menggunakan serat alami dan jaring laba-laba, sebuah teknik yang membuat para pengamat burung berdecak kagum. Afinna Aninnas, peneliti dari Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya, bahkan menyebut teknik konstruksi sarang cinenen pisang bisa menjadi inspirasi bagi manusia dalam merancang struktur bangunan.

Secara penampilan, cinenen pisang memadukan warna hijau zaitun di punggung dan sayap, putih keabu-abuan di bagian bawah tubuh, serta mahkota merah karat yang menjadi ciri khasnya. Paruhnya sedikit panjang dan meruncing, sangat pas untuk menangkap serangga kecil seperti ulat, jangkrik, dan telur semut. Kicauannya nyaring dan variatif, sehingga keberadaannya mudah dideteksi bahkan tanpa melihat langsung.

Cinenen pisang tersebar luas di Pulau Jawa dan berbagai negara Asia, mulai dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, hingga Kamboja. Habitatnya beragam: pekarangan rumah, sawah, semak belukar, hingga hutan produksi. Justru karena terlalu umum itulah, burung ini kerap luput dari agenda riset. “Populasinya masih banyak, sehingga kurang menarik perhatian para peneliti,” kata Afinna. Padahal menurutnya, perilaku burung ini, terutama respons terhadap berbagai intervensi di habitat yang berbeda, masih sangat layak untuk dikaji lebih dalam.

Status konservasi cinenen pisang memang belum masuk kategori dilindungi. Namun itu bukan jaminan keamanannya. Burung ini cukup diminati kalangan kicau mania, sehingga perburuan tetap terjadi, termasuk oleh anak-anak di desa yang menjadikannya sasaran di waktu luang. Jika perburuan berlangsung masif tanpa kontrol, penurunan populasi bukan hal yang mustahil.

Penyitaan besar-besaran di Pelabuhan Bakauheni pada Oktober 2024 yang menyita lebih dari 6.500 burung liar membuktikan bahwa cinenen pisang termasuk salah satu spesies yang paling banyak diperdagangkan. Dari total 121.689 burung kicau Sumatera yang disita antara 2021 dan 2023, sebagian besar adalah prenjak dan cinenen pisang. Burung yang selama ini kita anggap “biasa” itu, ternyata sedang menghadapi tekanan yang tidak biasa.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.