Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Ratifikasi ILO C-188, Bagaimana Masa Depan Industri Perikanan Indonesia?

M Ambari 27 Jun 2026
Cerita fitur

Dorong Penguatan Pengakuan Wilayah Konservasi Masyarakat Adat

Christ J Belseran 27 Jun 2026

25 Tahun Memburu Anjing Hantu Amazon, Ilmuwan Temukan Populasinya Jauh Lebih Besar dari Perkiraan

Akhyari Hananto 27 Jun 2026
Cerita fitur

Byar Pet Listrik di Jateng, Saatnya Serius Manfaatkan Energi Terbarukan

Wulan Yanuarwati 27 Jun 2026

Populasi Orangutan Tapanuli Berkurang Tujuh Persen Akibat Bencana Sumatera

Nuswantoro dan Junaidi Hanafiah 26 Jun 2026
Cerita fitur

Menelusuri Karhutla Riau di Hutan Alam dan Gambut Perusahaan

Suryadi 26 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Dorong Penguatan Pengakuan Wilayah Konservasi Masyarakat Adat

Byar Pet Listrik di Jateng, Saatnya Serius Manfaatkan Energi Terbarukan

Wulan Yanuarwati 27 Jun 2026

Menelusuri Karhutla Riau di Hutan Alam dan Gambut Perusahaan

Suryadi 26 Jun 2026

Kontroversi PLTSa dalam Mengatasi Darurat Sampah

Eko Widianto 26 Jun 2026
WTP PDAM Tirta Mountala yang berada di Wisata Kolam Mata Ie kering pada 2023. Foto: Nurul Hasanah/ Mongabay Indonesia

Krisis Air Bersih Hantui Aceh Besar Kala Karst Terus Tergerus

Nurul Hasanah 25 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Upaya Menyelamatkan Burung Kicau dari Kepunahan

Eko Widianto 20 Mar 2026

Nasib Burung Kicau, Jadi Incaran Perburuan di Alam Liar

Petrus Riski 4 Okt 2025

Studi: Seperti Manusia, Ternyata Burung Kicau Memiliki Selera Lagu yang Berbeda

Abhishyant Kidangoor 30 Apr 2025

Burung-Burung Kicau yang Masih Terus Diburu dan Diperdagangkan Ilegal

Keith Anthony S. Fabro 4 Des 2024

Krisis keanekaragaman hayati Indonesia tersingkap erat melalui lensa jurnalisme investigasi dan konservasi. Di balik pesona suara dan tingginya minat masyarakat terhadap kontes burung, terdapat sisi gelap berupa masifnya perburuan liar, penyelundupan antarpulau seperti jalur Sumatra ke Jawa, hingga pemanfaatan platform digital untuk perdagangan ilegal. Seluruh laporan memotret urgensi penyelamatan satwa, pentingnya pemanfaatan data dalam memantau […]

Nestapa Burung Berkicau Nusantara series

Lebih spesial

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

11 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Tersembunyi di Lumpur dan Dahan Bakau, Ular Ini Berbisa dan Tidak Segan Memangsa Ular Lain

Akhyari Hananto 27 Jun 2026

Di hutan mangrove Asia Tenggara, ada ular yang tersembunyi sempurna di dua dunia sekaligus: di dahan rendah di antara dedaunan, dan di permukaan lumpur gelap di bawahnya. Warnanya bervariasi dari hitam legam, hijau gelap, abu-abu, hingga cokelat keunguan, menyatu sempurna dengan akar bakau, lumpur, dan bayangan kontras hutan pesisir. Siang hari ia hampir tidak bergerak, melingkar satu hingga dua meter dari permukaan, menunggu dengan kesabaran yang hampir tidak terlihat.

Namanya ular viper bakau (Trimeresurus purpureomaculatus), atau Mangrove Viper. Dan ia lebih berbahaya dari yang penampilannya sugestikan.

Ular ini termasuk kelompok pit viper dari famili Viperidae, dengan panjang maksimum sekitar 100 sentimeter. Di antara mata dan hidungnya terdapat organ lubang yang sangat sensitif terhadap panas inframerah, memungkinkannya mendeteksi bayangan panas mangsa berdarah panas dalam kegelapan total. Saat malam, ia menjadi pemburu aktif. Saat siang, kamuflasenya adalah senjata utama.

Bisanya bersifat hemotoksik, merusak jaringan sel, pembuluh darah, dan mengganggu sistem pembekuan darah. Selama ini gigitan ular pohon dianggap hanya menyebabkan efek lokal yang ringan. Bukti klinis menunjukkan sebaliknya. Sebuah laporan kasus dari Singapura mendokumentasikan seorang pria berusia 40 tahun yang digigit di tangan kanan oleh ular bakau. “Gigitannya berbisa parah, dapat menyebabkan efek lokal signifikan, seperti pembengkakan luas dan nekrosis jaringan,” tulis Mong dan Tan dalam publikasi mereka di jurnal Wilderness & Environmental Medicine (2016). Pasien akhirnya membaik setelah mendapat enam vial antivenom polivalen India, meski antivenom spesifik untuk ular bakau sendiri tidak tersedia secara lokal.

Persebarannya luas: Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Singapura, Semenanjung Malaysia, dan Indonesia. Hutan mangrove adalah habitatnya yang ideal. Akar-akar bakau yang kompleks menyediakan tempat persembunyian sempurna, sementara ekosistem mangrove yang kaya menyediakan melimpahnya mangsa.

Tapi ada satu perilaku yang lama luput dari perhatian peneliti. Ular bakau dikenal sebagai ular arboreal yang jarang turun ke tanah. Sebuah observasi yang dipublikasikan di jurnal Herpetology Notes oleh Figueroa dan McCleary (2021) mengubah gambaran itu. Di hutan mangrove Pasir Ris Park, Singapura, seekor ular bakau juvenil turun ke lumpur dan memangsa seekor ular lumpur (Fordonia leucobalia). Peristiwa itu mendokumentasikan perilaku ofiofagi, memangsa ular lain, sekaligus membuktikan bahwa viper bakau adalah pemburu oportunis yang jauh lebih fleksibel dari yang diperkirakan. Ketika ada kesempatan, ia tidak ragu meninggalkan pohon dan mengejar mangsa di atas lumpur.

Viper bakau bukan ular yang agresif tanpa alasan. Ia menyerang cepat ketika merasa terancam, dan itulah yang membuatnya berbahaya bagi manusia yang tidak sengaja mendekat di habitat mangrove. Tapi di ekosistem tempat ia hidup, ia adalah predator puncak yang membantu menjaga keseimbangan populasi di salah satu habitat pesisir paling penting di dunia. Tersembunyi di lumpur dan dahan bakau, jarang terlihat, jarang diteliti, tapi selalu ada.

Kucing Adalah Hewan Peliharaan Terpopuler di Dunia, dan Salah Satu Predator Paling Merusak

Akhyari Hananto 27 Jun 2026

Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar.

Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar mamalia setiap tahun, ditambah ratusan juta burung dan reptil. Bukan hanya dari kucing liar, tapi juga dari kucing rumahan yang dibiarkan bebas berkeliaran. Kajian U.S. Fish and Wildlife Service mengaitkan kucing dengan kepunahan sedikitnya 33 spesies.

Dampak paling parah terjadi di ekosistem pulau, di mana fauna berevolusi tanpa predator seperti kucing sehingga tidak punya pertahanan alami. Numbat di Australia Barat kini tersisa kurang dari 1.000 individu, dengan predasi kucing sebagai ancaman utama. Burung kakapo di Selandia Baru bertahan berkat upaya konservasi masif tapi tetap rentan. Di Tasmania, seekor kucing yang masuk ke fasilitas penangkaran burung beo perut oranye pada 2013 membunuh beberapa individu dari spesies yang sudah sangat tertekan.

Ancaman dari kucing tidak hanya soal predasi langsung. Kucing adalah inang utama parasit Toxoplasma gondii. Di Hawaii, parasit ini berkontribusi pada kematian burung nene dan anjing laut biksu Hawaii. Di Florida, wabah leukemia kucing menyerang macan kumbang Florida pada 2000-an. Di Eropa, kawin silang kucing liar Skotlandia dengan kucing rumahan mengancam kemurnian genetik spesies liar itu secara perlahan.

Bahkan kehadiran kucing saja sudah cukup mengubah perilaku satwa liar. Penelitian menemukan satwa kecil jauh lebih aktif ketika kucing tidak ada, tapi bersembunyi dan mengurangi aktivitas mencari makan saat kucing ada di sekitar. Dalam jangka panjang, tekanan ini memengaruhi reproduksi dan kelangsungan populasi.

Berbagai strategi pengendalian sudah dicoba, dari program tangkap-steril-lepas hingga kombinasi drone, kamera termal, dan kecerdasan buatan seperti yang diterapkan di Kangaroo Island, Australia. Tapi kunci utamanya tetap pada pemilik kucing. Mengurung kucing di dalam rumah atau membatasi waktu luarnya terbukti menurunkan risiko predasi secara signifikan.

Hewan peliharaan terpopuler di dunia ternyata bisa menjadi ancaman terbesar bagi satwa yang tidak pernah memilih untuk hidup berdampingan dengannya. Dan setiap keputusan kecil pemilik kucing, apakah membiarkan kucingnya keluar atau tidak, punya konsekuensi yang jauh lebih luas dari yang pernah mereka bayangkan.

Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun

Akhyari Hananto 26 Jun 2026

Eli Ernawati tidak pernah mendapat pelatihan dari pemerintah. Tidak ada modal dari bank, tidak ada pendampingan dari dinas pertanian. Setiap hari ia memilah kepiting hasil panen suaminya di rumah berdinding batako di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Sebagian dijual ke pengepul, sebagian ke pembeli tetap. Dari aktivitas rumahan itu, ia membiayai beras, listrik, dan ongkos sekolah tiga anaknya. “Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah,” katanya.

Tidak jauh dari rumah Eli, Jamil berdiri di bibir tambaknya setiap sore, menebar cacahan ikan rucah dan kepala ayam ke beberapa sudut kolam. Riak air pecah, capit muncul lebih dulu, lalu tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. Kepiting bakau yang ia besarkan dari ukuran kecil mulai aktif makan. “Kami belajar sendiri. Kalau gagal ya rugi sendiri,” katanya, tertawa kecil.

Itulah gambaran sektor kepiting bakau di pesisir Lombok Timur: menghidupi banyak keluarga, tapi berjalan hampir sepenuhnya tanpa dukungan negara yang berarti.

Model yang dijalankan Jamil sebenarnya cerdas secara ekologis maupun ekonomis. Kepiting kecil hasil tangkapan nelayan yang belum layak jual ditampung di tambak, dibesarkan selama beberapa bulan, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Nelayan tetap punya pasar, kepiting kecil tidak langsung habis diambil dari alam, dan nilai jual meningkat signifikan. “Kalau langsung dijual kecil, harganya murah. Kalau dibesarkan dulu, nilainya beda,” katanya.

Yang membuat budidaya ini lebih menarik adalah kesesuaiannya dengan konservasi mangrove. Kepiting bakau tidak nyaman di air jernih. Ia butuh lingkungan menyerupai muara alami: air payau, sedikit keruh, kaya bahan organik. Akar mangrove menyediakan tempat berlindung, meningkatkan oksigen terlarut, menstabilkan suhu, dan menghasilkan bahan organik yang menjadi pakan alami mikroorganisme di tambak. “Kalau ada mangrove-nya, kepiting akan berdesakan cari tempat berlindung di situ,” kata Herman, Ketua Pokmaswas Sugian.

Dari sini muncul model silvofishery, menggabungkan tambak dengan penanaman mangrove dalam satu kawasan. Model ini bisa menjadi contoh ekonomi biru yang nyata: pendapatan masyarakat tumbuh, mangrove pulih, tekanan terhadap populasi kepiting liar berkurang.

Tapi potensi itu belum mendapat kebijakan yang sepadan. Mastur, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur, mengakui potensinya besar tapi menyebut keterbatasan kewenangan sejak UU Nomor 23 Tahun 2014 memindahkan pengelolaan pesisir ke provinsi sebagai kendala intervensi langsung. Akibatnya, pengembangan kepiting bakau berjalan atas inisiatif warga sendiri, tanpa peta jalan yang jelas, tanpa sentra budidaya yang ditata, dan tanpa integrasi dengan program rehabilitasi mangrove.

Rantai pemasaran pun masih dikuasai pengepul. Petambak berada di posisi tawar lemah, harga di tingkat warga bisa jatuh ketika pasokan melimpah sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi.

Pemerintah Provinsi NTB menargetkan rehabilitasi mangrove 2.000 hektar bekerja sama dengan Jepang. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim menyebut habitat yang pulih akan mengembalikan kepiting ke ekosistemnya. “Kalau habitatnya bagus, maka kepiting juga akan kembali.”

Tapi warga Sugian membutuhkan lebih dari sekadar mangrove yang ditanam. Mereka butuh pelatihan teknis, akses modal, penguatan koperasi, dan keberpihakan kebijakan yang konkret. Selama itu belum ada, kepiting bakau akan terus menghidupi keluarga-keluarga pesisir Lombok dengan cara yang sama seperti Eli dan Jamil: otodidak, mandiri, dan tanpa jaring pengaman jika gagal.

Babi Kutil Bawean: Salah Satu Babi Paling Langka di Dunia, Terancam dari Segala Arah

Akhyari Hananto 26 Jun 2026

Hampir setiap malam menjelang panen, Arkham dan petani lain di Desa Pundakit Timur, Pulau Bawean, harus berjaga. Kawanan babi kutil turun dari hutan, memasuki ladang, dan memakan padi, jagung, singkong, serta pisang yang sudah mereka rawat berbulan-bulan. Bagi para petani, babi kutil adalah hama. Bagi para ilmuwan, ia adalah salah satu mamalia paling terancam punah di dunia.

Babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi) adalah satwa endemik Pulau Bawean, sebuah pulau kecil seluas 196,3 kilometer persegi di Laut Jawa, bagian dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur. IUCN menetapkan statusnya sebagai Endangered atau terancam punah. Populasinya diperkirakan antara 172 hingga 467 individu, tersebar di hutan lindung seluas hanya 46,6 kilometer persegi. Mark Rademaker dari VHL University of Applied Sciences Belanda, yang melakukan survei menggunakan 100 kamera jebak pada 2016, menyebut spesies ini sebagai salah satu babi paling langka di dunia.

Ciri fisiknya khas: surai memanjang dari kepala hingga ekor sepanjang tulang belakang, dan tiga pasang tonjolan daging mengeras di sekitar moncong. Kutil seukuran buah anggur itu hanya dimiliki babi jantan, dan menjadi penanda spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Ancaman terhadapnya datang dari beberapa arah sekaligus. Faldy Devalen Fehabtoro, Ketua Binaya Foundation yang meneliti ekologi babi kutil Bawean sepanjang Januari hingga Maret 2025, menemukan tanda-tanda perburuan liar di dalam kawasan cagar alam dan suaka margasatwa: jejak anjing pemburu, jerat sling baja, benang, dan tombak. Sebagian warga desa penyangga memburu babi kutil dengan dalih mengendalikan hama, bahkan di dalam kawasan yang seharusnya dilindungi.

Penebangan liar memperparah situasi. Kayu buluh (Irvingia malayana) menjadi target utama karena nilai ekonomisnya, dan hilangnya pohon-pohon ini merusak habitat babi kutil yang bergantung pada hutan campuran dan hutan dataran tinggi Bawean.

Di luar ancaman dari manusia, ada ancaman yang tidak kasat mata: virus African Swine Fever (ASF). Jochen Klaus Menner, Kurator Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), menyebut virus ini sebagai ancaman paling serius saat ini. “Manusia bisa menularkan ke babi,” katanya. Karena babi kutil Bawean terisolasi di pulau kecil tanpa kemungkinan migrasi, satu wabah ASF bisa memicu kematian massal dan kepunahan dalam waktu singkat. “Babi kutil Bawean paling terancam di dunia saat ini,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, PCBA sudah melakukan konservasi ex-situ dengan memelihara tiga individu, dua jantan dan satu betina, di luar habitat alaminya. Belum ada rencana reintroduksi ke alam liar dalam waktu dekat. Tujuannya sederhana: memastikan ada individu yang selamat jika wabah melanda populasi liar.

Di tingkat lapangan, Faldy merekomendasikan pembangunan hutan penyangga antara habitat satwa dan area pertanian, pola agroforestri, serta pagar hidup dari tanaman berduri seperti bambu duri dan Lantana camara yang baunya tidak disukai babi. Pendekatan berbasis komunitas juga didorong, termasuk melibatkan tokoh agama, pemerintah desa, dan akademisi.

Ironi terbesar dari situasi ini adalah bahwa masyarakat Bawean sebenarnya memahami pentingnya konservasi babi kutil. Riset Faldy menunjukkan mayoritas responden di empat desa penyangga mengakui peran ekologis babi kutil dalam penyebaran biji dan regenerasi vegetasi hutan. Mereka tahu babi ini penting. Tapi ketika ladang rusak setiap malam menjelang panen, pengetahuan itu sering kalah dari kebutuhan yang lebih mendesak.

252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi

Akhyari Hananto 25 Jun 2026

252 juta tahun lalu, Bumi hampir kehilangan segalanya. Bukan karena asteroid, bukan karena perubahan iklim bertahap. Melainkan karena serangkaian letusan gunung berapi kolosal di Siberia yang berlangsung hampir satu juta tahun, memuntahkan lava, abu, dan gas beracun dalam jumlah yang hampir tidak bisa dibayangkan. Ketika semuanya selesai, 96 persen spesies laut telah musnah dan 70 persen vertebrata darat lenyap dari muka Bumi.

Para ilmuwan menyebutnya The Great Dying, kepunahan massal terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah planet ini.
Letusan itu meninggalkan jejak berupa hamparan batuan vulkanik raksasa yang kini dikenal sebagai Perangkap Siberia atau Siberian Trap, terbentuk dari sekitar 1,5 juta kilometer kubik lava yang dimuntahkan dari retakan di kerak Bumi. Skalanya begitu masif sehingga para ilmuwan selama bertahun-tahun bertanya-tanya: mengapa letusan ini jauh lebih mematikan dibanding letusan besar lainnya dalam sejarah Bumi?

Jawaban itu kini mulai terkuak. Ahli geologi Michael Broadley dari Pusat Penelitian Petrografi dan Geokimia di Prancis dan timnya menganalisis sampel mantel xenolith, yaitu batuan dari lapisan litosfer yang tertangkap oleh magma dan dimuntahkan bersama lava saat erupsi. Dari sampel itu, mereka bisa mengidentifikasi komposisi kimia litosfer Siberia sebelum dan sesudah letusan.

Hasilnya mengejutkan. Litosfer di Siberia sebelum erupsi dipenuhi unsur halogen, termasuk klorin, bromin, dan yodium. Setelah letusan besar, unsur-unsur itu tidak ditemukan lagi dalam sampel, artinya semuanya telah termuntahkan ke atmosfer selama erupsi.
Halogen adalah elemen gas yang sangat beracun, dan dampaknya menjadi jauh lebih berbahaya ketika bergabung dengan molekul lain di atmosfer. Dalam jumlah masif seperti yang dilepaskan oleh Perangkap Siberia, gas-gas ini naik ke lapisan ozon dan menghancurkannya dari dalam. “Kami menyimpulkan bahwa sejumlah besar halogen yang berada di litosfer terlempar jauh hingga atmosfer Bumi selama erupsi. Lapisan ozon seketika rusak dan inilah yang menjadi cikal bakal kepunahan massal,” kata Broadley.

Tanpa lapisan ozon yang berfungsi, Bumi kehilangan perisai pelindungnya dari radiasi matahari. Makhluk hidup di permukaan dan di laut musnah dengan cepat. Hanya sebagian kecil yang berhasil bertahan, dan mereka yang bertahan mengalami tekanan seleksi alam yang ekstrem hingga DNA mereka berubah. Setiap makhluk hidup yang ada di Bumi hari ini, termasuk manusia, diyakini adalah keturunan dari segelintir makhluk yang berhasil melewati malapetaka itu.

Studi ini dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience dengan judul “End-Permian extinction amplified by plume-induced release of recycled lithospheric volatiles.”
The Great Dying adalah pengingat bahwa kepunahan massal bukan hanya catatan sejarah geologi yang dingin. Ia adalah bukti bahwa kondisi atmosfer dan kimia Bumi bisa berubah dalam skala waktu yang, secara geologis, sangat singkat, dengan konsekuensi yang hampir tidak menyisakan apa pun. Dan bahwa kehidupan yang kita kenal sekarang adalah warisan dari mereka yang, entah bagaimana, berhasil bertahan.

Dijuluki Burung Paling Berbahaya di Dunia, Burung Ini Justru Terancam Punah oleh Manusia

Akhyari Hananto 23 Jun 2026

Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung yang oleh banyak ahli disebut sebagai yang paling berbahaya di dunia.

Tapi ancaman terbesar bagi burung ini bukan datang dari predator. Ia datang dari manusia.

Di Australia, populasi kasuari Selatan kini diperkirakan tinggal kurang dari 5.000 individu dan masuk dalam daftar spesies terancam punah. Deforestasi untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman telah memecah hutan hujan tropis yang dulunya luas menjadi petak-petak kecil yang terisolasi. Fragmentasi ini menghambat pergerakan kasuari untuk mencari makan dan pasangan, serta memutus konektivitas genetik antar populasi.

Jalan raya menjadi ancaman tersendiri. Kasuari dewasa sering tertabrak kendaraan saat menyeberangi jalan yang kini membelah habitat mereka. Anak-anak kasuari yang belum berpengalaman lebih rentan lagi. Anjing domestik dan liar juga kerap menyerang, terutama anakan yang belum mampu mempertahankan diri. Beberapa tahun lalu, seorang pria berusia 75 tahun di Florida meninggal akibat diserang kasuari yang ia pelihara sendiri di propertinya, sebuah pengingat bahwa bahaya itu bekerja dua arah.

Ironisnya, di balik reputasinya yang menakutkan, kasuari Selatan adalah salah satu penyebar biji paling penting di hutan hujan. Ia mampu menelan buah berukuran besar dan biji keras tanpa merusaknya, lalu mengeluarkannya bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses yang disebut endozoochory ini membantu regenerasi hutan dan menjaga keragaman genetik tumbuhan. Beberapa penelitian menunjukkan kasuari Selatan menyebarkan biji dari lebih dari 70 spesies tumbuhan, termasuk pohon-pohon besar yang bijinya terlalu besar untuk dimakan hewan lain. Beberapa jenis tumbuhan bahkan tidak bisa berkecambah tanpa terlebih dahulu melewati saluran pencernaan kasuari.

Selain itu, sebagai predator puncak, kasuari membantu mengendalikan populasi serangga, kadal, amfibi, dan mamalia kecil di ekosistem hutan. Kehadirannya adalah indikator kesehatan hutan: ketika kasuari menghilang dari suatu kawasan, itu pertanda ekosistem di sana sudah terganggu.

Perubahan iklim menambah tekanan. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem mengubah ketersediaan makanan dan komposisi vegetasi di habitat kasuari, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Pemerintah Australia sudah meluncurkan rencana pemulihan nasional, mencakup pembelian lahan untuk koridor satwa liar, pemasangan rambu lalu lintas, dan edukasi pemilik anjing. Tapi WWF memperkirakan tren kepunahan di Australia akan terus memburuk. Dalam sekitar 335 tahun terakhir, sekitar 100 spesies tumbuhan dan hewan unik di Australia sudah punah.

Burung yang bisa membunuh manusia dengan satu tendangan itu ternyata jauh lebih rentan dari yang terlihat. Dan jika ia punah, hutan hujan yang bergantung padanya akan ikut menanggung akibatnya.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.