Di hutan Papua, jika seseorang melihat ular berbahaya di jalur yang dilalui rombongan, ia tidak akan berteriak “awas ada ular.” Ia akan berkata dengan tenang kepada orang di sampingnya: “hati-hati, ada tali.” Tujuannya agar rombongan tidak panik. Sebab panik, dalam kasus ini, bisa berakibat fatal.
Ular yang dimaksud adalah Death Adder, atau yang oleh masyarakat Papua disebut ular bodoh. Nama itu muncul bukan karena ularnya tidak berbahaya, melainkan karena perilakunya yang tampak pasif: ketika disentuh dengan kayu atau benda lain, ia memilih diam. Tidak kabur, tidak menyerang, hanya diam. “Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN.
Tapi diam itu menipu. Death Adder (Acanthophis sp.) adalah salah satu ular paling berbisa di dunia, dengan kecepatan serangan yang belum tertandingi oleh ular mana pun: kurang dari 0,13 detik. Lebih cepat dari kedipan mata manusia. Dan gerakannya hampir tidak bisa diprediksi.
Strategi berburunya adalah kebalikan dari hampir semua ular berbisa lain. Alih-alih aktif mencari mangsa, Death Adder memilih satu posisi dan menunggu mangsa datang sendiri. Ia bersembunyi di bawah tumpukan daun lembap, serasah, atau potongan ranting, dengan tubuh melingkar dan hampir tidak terlihat karena warnanya yang menyatu dengan lingkungan. Ekornya berbentuk seperti cacing kecil yang digerakkan sebagai umpan. Ketika seekor hewan mendekat untuk menyelidiki gerakan ekor itu, serangan terjadi dalam sepersekian detik.
Tubuhnya pendek dan gemuk, panjangnya hanya 40 hingga 70 sentimeter, dengan kepala berbentuk kapak, pupil vertikal, dan taring yang panjang. Secara taksonomi ia masuk keluarga Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang, tapi morfologinya lebih menyerupai viper. Warnanya bergaris merah, cokelat, dan hitam dengan perut abu-abu atau krem, kamuflase yang hampir sempurna di lantai hutan.
Pada Juli 2019, seorang anggota Brimob yang tengah bersantai di Kali Iwaka, Timika, meninggal setelah digigit Death Adder. Jessik Kukuh dari Reptile Rescue Timika mengonfirmasi bahwa gigitan spesies ini kerap berujung fatal. Penanganan pertama yang paling penting adalah imobilisasi, meminimalkan gerakan bagian tubuh yang tergigit. Memijat area gigitan untuk mengeluarkan bisa justru mempercepat kerusakan organ.
Yang memperburuk situasi: antivenom untuk Death Adder tidak diproduksi di Indonesia. Satu-satunya antivenom yang tersedia adalah CSL Death Adder Antivenom dari Australia, dengan harga sekitar Rp80 juta per vial. Di daerah terpencil Papua, di mana ular ini paling banyak ditemukan, akses ke antivenom itu hampir tidak ada.
Death Adder adalah endemik Papua dan Australia, dua wilayah yang berbagi warisan biogeografis dari masa ketika keduanya masih menjadi satu daratan. Ia bukan ular yang agresif. Ia bahkan cenderung tidak mau bergerak. Tapi itulah yang membuatnya berbahaya: ia tidak memberi peringatan, tidak lari, dan tidak memberi kesempatan untuk bereaksi. Di Papua, orang yang sudah tahu menyebutnya “tali.” Mereka yang belum tahu, sering tidak mendapat kesempatan untuk belajar.