Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah

Irfan Maulana 24 Jul 2026
Cerita fitur

Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?

M Ambari 24 Jul 2026
Cerita fitur

Mengapa Burung Langka Terus jadi Buruan di Sumatera?

Novia Harlina 23 Jul 2026

Tokek Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan di Alam?

Falahi Mubarok 23 Jul 2026

‘Ular Berkepala Dua’: Siasat Bertahan Ular Piton Calabar

Akhyari Hananto 22 Jul 2026
Cerita fitur

Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh

Triyo Handoko 22 Jul 2026
Semua berita

Berita utama

Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah

Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?

M Ambari 24 Jul 2026

Mengapa Burung Langka Terus jadi Buruan di Sumatera?

Novia Harlina 23 Jul 2026

Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh

Triyo Handoko 22 Jul 2026

Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?

Fathul Rahman 22 Jul 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter

Akhyari Hananto 24 Jul 2026

Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas.

Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya terdapat sekitar 300–350 deret gigi kecil berukuran hanya sekitar enam milimeter. Meski demikian, gigi-gigi tersebut bukanlah senjata untuk mencabik mangsa besar. Makanan hiu paus terutama berupa plankton dan ikan-ikan kecil yang di Indonesia Timur dikenal sebagai ikan furi. Makanan itu diperoleh dengan cara menyaring air laut melalui lembaran penyaring dan lima pasang insangnya yang besar.

Penampilan hiu paus juga mudah dikenali. Tubuhnya berwarna keabu-abuan dengan bagian perut putih serta dihiasi bintik dan garis kekuningan yang membentuk pola menyerupai kotak. Di Indonesia, ciri tersebut membuatnya dikenal sebagai hiu totol atau gurano bintang. Menariknya, pola bintik setiap individu berbeda, layaknya sidik jari pada manusia. Ciri khas ini dapat membantu membedakan satu hiu paus dari individu lainnya.

Walaupun mampu hidup hingga sekitar 70 tahun, hiu paus bukan perenang yang cepat. Kecepatannya hanya sekitar lima kilometer per jam. Gerakan yang lambat membuatnya rentan bertabrakan dengan kapal. Namun, di balik gaya berenangnya yang santai, hiu paus merupakan penyelam tangguh. Ikan ini mampu mencapai kedalaman sekitar 1.000 meter, meskipun lebih menyukai perairan dangkal pada kedalaman sekitar 50 meter.

Hiu paus hidup di perairan tropis dan hangat. Di Indonesia, kemunculannya tercatat antara lain di Nabire, Kaimana, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sabang, Situbondo, dan Nusa Tenggara. Kehadirannya penting bagi keseimbangan ekosistem laut sekaligus berpotensi mendukung wisata bahari yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sayangnya, perkembangbiakan hiu paus berlangsung sangat lambat sehingga populasinya rentan menghadapi perburuan dan berbagai gangguan di laut. Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai ikan yang dilindungi penuh sejak 2013. Perlindungan ini penting agar sang raksasa berbintik tetap dapat menjelajahi perairan Indonesia, bukan hanya sebagai daya tarik laut, tetapi juga sebagai bagian penting dari kekayaan hayati Nusantara.

Artikel asli ditulis oleh M. Ambari.

Foto utama: Hiu paus di perairan Teluk Saleh. Foto: Konservasi Indonesia/Ismail Syakurachman..

Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam

Akhyari Hananto 24 Jul 2026

Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai.

Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. Anak pesut keluar dengan posisi ekor terlebih dahulu. Cara ini membantu mengurangi risiko bayi menghirup air sebelum seluruh tubuhnya berhasil dilahirkan.

Bayi pesut juga memiliki rambut-rambut halus di sekitar moncong. Rambut tersebut menjadi penanda bahwa pesut merupakan mamalia, meskipun kemudian menghilang seiring pertumbuhannya. Setelah lahir, bayi akan menyusu melalui kelenjar susu induknya yang berada di bagian bawah tubuh, dekat area anus.

Keunikan lain terlihat dari bentuk lehernya yang lentur. Tidak seperti kebanyakan lumba-lumba, pesut dapat menggerakkan kepala ke berbagai arah. Kemampuan ini memudahkannya bermanuver dan mencari mangsa di sungai yang keruh, dangkal, dan memiliki banyak cabang.

Penglihatan bukan satu-satunya andalan pesut. Mamalia ini dilengkapi sistem sonar yang sangat canggih. Pesut memancarkan suara ultrasonik berfrekuensi tinggi, lalu membaca pantulannya untuk mengenali benda, menentukan arah, dan menemukan ikan atau udang. Sementara itu, suara berfrekuensi lebih rendah digunakan untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

Pesut juga memiliki strategi berburu yang menarik. Mereka dapat menyemprotkan air dari mulut untuk mengejutkan atau membingungkan mangsa. Perilaku serupa juga dilakukan saat bermain dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi.

Bahkan ketika beristirahat, pesut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Sebagian otaknya tetap aktif agar satwa ini dapat mengendalikan pernapasan dan naik ke permukaan untuk mengambil udara. Adaptasi tersebut memungkinkan pesut menjalani seluruh hidupnya di dalam air tanpa kehilangan kemampuan bernapas secara sadar.

Populasi pesut mahakam juga memiliki perjalanan evolusi yang istimewa. Penelitian DNA menunjukkan bahwa mereka telah terpisah dari pesut pesisir sejak sekitar 500 ribu tahun lalu. Selama itu, tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan air tawar hingga tidak lagi mampu hidup di laut.

Sayangnya, ruang hidup satwa ini terus menyusut. Dahulu pesut masih dijumpai hingga hilir Mahakam, termasuk sekitar Samarinda. Sekarang, sekitar 90 persen populasinya terkonsentrasi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Jumlahnya hanya berkisar 60–80 individu dan cenderung menurun.

Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena pesut berkembang biak sangat lambat. Masa kehamilannya sekitar 14 bulan, mencapai usia kawin pada umur sembilan tahun, dan hanya melahirkan satu anak setiap dua hingga lima tahun. Karena itu, kematian beberapa individu saja dapat berdampak besar terhadap keseluruhan populasi.

Sekitar 70 persen kematian pesut diduga disebabkan jeratan jaring insang. Ancaman lainnya meliputi tabrakan kapal, polusi suara, sedimentasi, berkurangnya ikan, pencemaran bahan kimia dan logam berat, serta mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh.

Harapan tetap ada. Kawasan konservasi berzonasi telah ditetapkan, pemantauan populasi dilakukan secara visual dan akustik, sementara vegetasi sempadan sungai mulai dipulihkan. Nelayan juga memasang banana pinger, alat penghasil suara yang menjauhkan pesut dari jaring. Sebanyak 158 nelayan telah berpartisipasi dan selama alat itu digunakan, tidak tercatat kematian pesut akibat jeratan.

Artikel asli ditulis oleh Akita Verselita.

Foto utama: Pesut mahakam (Orcaella brevirostris), si lumba-lumba air tawar, yang makin terancam. Foto: Dok. RASI

Charlie Heatubun, Ahli Palem yang Mendeskripsikan 50 Spesies Baru

Akhyari Hananto 23 Jul 2026

Bagi Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, hutan Papua bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati. Hutan merupakan ruang penelitian sekaligus sumber pengetahuan yang dapat menentukan arah pembangunan. Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua ini dikenal sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mempelajari flora Papua.

Ketertarikan Charlie terhadap palem berawal dari keunikan bentuknya. Palem bahkan kerap disebut sebagai “pangeran” dunia tumbuhan karena tampilannya yang anggun, mudah dikenali, dan memiliki banyak manfaat. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1995 dengan penelitian tentang palem. Setahun kemudian, Charlie mulai mengikuti berbagai ekspedisi botani di Papua dan wilayah lain. Pada 2000, ia resmi bergabung dalam proyek Palms of New Guinea, sebuah penelitian besar yang hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku pada 2024.

Perjalanan ilmiahnya membawanya ke berbagai medan ekstrem, mulai dari pesisir hingga puncak pegunungan. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia mencari palem zebra atau Caryota zebrina di Pegunungan Cycloop. Charlie dan tim harus mendaki seharian, lalu bertahan hampir satu minggu dengan berlindung di bawah batu tanpa bisa mandi karena tidak tersedia air. Kerja keras itu terbayar ketika palem zebra dipublikasikan sebagai spesies baru pada 2000.

Temuan penting lainnya justru bermula secara tidak terduga. Ketika menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan di Raja Ampat, Charlie melihat sebuah palem besar di samping gedung pertemuan. Sampelnya kemudian diteliti melalui analisis filogenetik di Inggris dan terbukti merupakan marga baru yang diberi nama Wallaceodoxa. Hingga kini, Charlie telah memublikasikan 50 spesies baru yang termasuk dalam lima marga baru.

Namun, kiprah Charlie tidak berhenti pada penemuan dan publikasi ilmiah. Sebagai Ketua Badan Riset dan Inovasi Daerah Papua Barat, ia berupaya membawa hasil penelitian ke dalam kebijakan publik. Riset menjadi bahan penyusunan policy brief, pengakuan dan perlindungan masyarakat adat, serta kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Bagi Charlie, sains harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Karena itu, penelitian keanekaragaman hayati perlu dihubungkan dengan pengetahuan tradisional, pengembangan ekowisata, komoditas lokal non-deforestasi, dan ekonomi berbasis alam. Perjalanan Charlie menunjukkan bahwa seorang ilmuwan dapat bekerja di antara hutan, laboratorium, dan ruang kebijakan, memastikan kekayaan alam Papua menjadi dasar bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Artikel asli ditulis oleh Ridzki R Sigit.

Foto utama: Charlie Heatubun muda, dalam sebuah ekspediai botani di Papua. Dok: Pribadi.

Gharonk, Merintis Wisata Selam untuk Meneliti Hiu di Morotai

Editor 23 Jul 2026

Darmawan Ahmad Mukharror, yang akrab disapa Gharonk, memulai perjalanannya mengenal dunia bawah laut pada usia 34 tahun. Meski terbilang terlambat belajar menyelam, pengalaman itu justru mengubah arah hidupnya. Ketertarikannya terhadap hiu tumbuh setelah menonton film The Sharkman, yang memperlihatkan sisi lain predator laut tersebut.

Selama ini, hiu lebih sering digambarkan sebagai hewan ganas yang mengancam manusia. Padahal, informasi mengenai perilaku dan peran pentingnya bagi ekosistem laut masih jarang diketahui masyarakat. Hal inilah yang mendorong Gharonk untuk mengenal hiu secara lebih mendalam.

Pada 2014, ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang memiliki sertifikat PADI AWARE Shark Conservation Diver Instructor, yaitu instruktur selam spesialis konservasi hiu. Insinyur Teknik Kimia lulusan Institut Teknologi Bandung itu kemudian melanjutkan pendidikan magister di bidang Ilmu Kelautan, Universitas Indonesia.

Gharonk menemukan bahwa kebanyakan penelitian hiu di Indonesia masih berfokus pada individu yang ditangkap nelayan dan didaratkan di pelabuhan. Penelitian semacam itu umumnya mengkaji bentuk tubuh, aspek biologi, dan makanan hiu. Sementara, perilaku hiu di habitat alaminya belum banyak diteliti. Padahal, studi perilaku membutuhkan pengamatan jangka panjang, bahkan hingga puluhan tahun.

Untuk membiayai penelitian secara berkelanjutan, Gharonk mendirikan Shark Diving Indonesia di Morotai, Maluku Utara. Pendapatan dari wisata selam dan dana pribadinya digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati perjumpaan dengan hiu, tetapi juga belajar memahami perilakunya di alam.

Penelitiannya berfokus pada hiu karang dan interaksinya dengan manusia di Morotai dan Halmahera. Ia menggunakan metode kamera bawah air dengan umpan atau BRUV serta sensus video bawah air. Teknik ini dapat merekam perilaku, keragaman, dan kelimpahan ikan dengan biaya relatif murah serta dampak minimal terhadap lingkungan.

Spesies yang banyak diamatinya adalah hiu sirip hitam, hiu sirip putih, dan hiu berjalan Halmahera. Ia juga menjumpai hiu karang abu-abu, hiu paus, hiu martil, hingga hiu banteng.

Bagi Gharonk, memahami perilaku hiu penting untuk menciptakan interaksi yang aman dan bertanggung jawab. Hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan aturan bagi wisatawan sekaligus mendukung konservasi. Programnya juga telah melibatkan sembilan mahasiswa dari Universitas Padjadjaran dan Universitas Diponegoro dalam penelitian skripsi.

Melalui Shark Diving Indonesia, Gharonk menunjukkan bahwa pariwisata, pendidikan, penelitian, dan ekonomi masyarakat pesisir dapat berjalan bersama. Hiu tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga satwa liar yang harus dipahami dan dijaga di habitatnya.

Artikel asli ditulis oleh Wahyu Mulyono.

Foto utama: Interaksi Gharonk Bersama Blacktip Reef Shark. Salah satu metode penelitian untuk melihat perilaku Hiu Karang di habitatnya. Foto: Wahyu Mulyono.

Terkesan Menakutkan tapi Bukan Sekadar Predator, Inilah Peran Besar Buaya Muara

Editor 22 Jul 2026

Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai.

Indonesia mencatat angka konflik manusia dan buaya yang tinggi. Sepanjang 2020–2024, terdapat 820 serangan buaya dengan 414 korban meninggal. Lebih dari 95 persen kasus melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus). Hampir separuh serangan berkaitan dengan aktivitas mencari ikan, sedangkan sekitar sepertiganya terjadi ketika masyarakat melakukan kegiatan domestik seperti mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sanitasi.

Konflik tersebut tidak memiliki penyebab tunggal. Hilangnya habitat, menyusutnya ruang hidup, dan berkurangnya mangsa alami membuat buaya semakin sering memasuki wilayah aktivitas manusia. Pada saat bersamaan, pertumbuhan penduduk dan memudarnya pengetahuan lokal membuat manusia semakin tidak terbiasa berbagi ruang dengan satwa ini. Penyempitan habitat bahkan dapat meningkatkan intensitas perjumpaan, bukan menguranginya.

Padahal, buaya muara memiliki peran penting dalam ekosistem. Saat masih berupa telur hingga berumur satu tahun, buaya rentan menjadi mangsa berbagai satwa. Tingkat kelangsungan hidupnya pada tahun pertama bahkan dapat kurang dari lima persen. Setelah tumbuh, buaya beralih menjadi predator yang membantu mengendalikan populasi satwa lain, termasuk ikan toman, ikan tapah, dan ular.

Sebagai predator yang resilien, buaya muara memiliki toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi habitat. Pergerakan buaya dari perairan tawar menuju daratan, pesisir, hingga laut juga membantu memindahkan biomassa dan nutrien antar ekosistem. Buaya dewasa mengaduk sedimen dasar perairan sehingga nutrien dapat terlepas kembali. Betina yang membangun sarang bahkan berpotensi mengubah struktur habitat di sekitarnya. Karena keunikan tersebut, buaya muara termasuk tiga besar spesies buaya dengan fungsi ekosistem paling unik di dunia.

Lalu, bisakah manusia dan buaya muara berbagi ruang? Ya, manusia dapat hidup berdampingan dengan buaya muara jika ruang hidup manusia dan satwa dikelola dengan baik, didukung ekosistem sehat, fasilitas sanitasi layak, pendidikan, serta kearifan lokal. Praktik ini terlihat pada masyarakat di sekitar Sungai Mamberamo, Mappi, dan Boven Digoel yang saling menghormati ruang hidup serta memanfaatkan buaya secukupnya untuk kebutuhan komunal. Di berbagai daerah Nusantara, buaya juga menjadi bagian dari adat dan kepercayaan. Masyarakat Ujung Kulon menyebutnya “pengantin” atau “nyai”, sementara sejumlah komunitas Dayak dan Bugis-Makassar memandangnya sebagai saudara. Jejak penghormatan serupa muncul dalam sedekah sungai, tari Hudoq, gerbang adat ngango lo huwayo di Gorontalo, hingga tradisi roti buaya masyarakat Betawi.

Selain itu, fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang layak juga penting agar masyarakat tidak terlalu sering beraktivitas di habitat buaya. Koeksistensi membutuhkan data populasi yang kuat, pendidikan sesuai kondisi setempat, pelibatan masyarakat, dan pengakuan terhadap kearifan lokal.

Foto utama: Buaya muara yang memiliki manfaat bagi ekosistem lingkungan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Selain Kepala yang Dapat Berputar 270 Derajat, Ini 10 Keunikan Burung Hantu Lainnya

Akhyari Hananto 22 Jul 2026

Burung hantu sering digambarkan sebagai penghuni malam yang misterius. Tatapannya tajam, kepalanya dapat berputar jauh, sementara kepakan sayapnya nyaris tak terdengar. Namun, keunikan burung ini tidak berhenti di situ. Berikut 10 fakta menarik yang memperlihatkan kemampuan luar biasa burung hantu.

  1. Burung hantu ternyata bisa berenang
    Burung hantu tanduk besar pernah terlihat berenang menyeberangi danau di Chicago, Amerika Serikat. Burung tersebut masuk ke dalam air untuk menghindari serangan dua ekor elang pemangsa.
  2. Tidak semuanya aktif pada malam hari
    Meski dikenal sebagai satwa nokturnal, beberapa jenis burung hantu justru berburu pada siang hari. Jenis tersebut antara lain burung hantu abu-abu besar, burung hantu elang utara, dan burung hantu kerdil utara. Kebiasaan ini kemungkinan mengikuti aktivitas mangsanya, seperti burung penyanyi dan mamalia kecil.
  3. Kepalanya dapat berputar hingga 270 derajat
    Burung hantu mempunyai 14 ruas tulang leher, dua kali lebih banyak dibandingkan manusia. Susunan anatomi ini membuat kepalanya mampu berputar hingga 270 derajat. Kemampuan tersebut penting karena matanya tidak dapat bergerak bebas.
  4. Jenis terbesar telah punah
    Burung hantu terbesar yang pernah tercatat adalah Ornimegalonyx dari Kuba. Tingginya mencapai sekitar 1,1 meter. Kaki yang panjang dan kuat menunjukkan bahwa burung ini kemungkinan merupakan pelari cepat, meski para ahli belum mengetahui secara pasti kemampuannya untuk terbang.
  5. Membantu kerja sama petani di Timur Tengah
    Burung hantu serak atau barn owl merupakan pemangsa alami tikus. Sepasang burung hantu dapat memakan hingga 6.000 tikus dalam setahun. Kemampuan ini mendorong petani dan ilmuwan di Yordania serta wilayah Palestina bekerja sama menyediakan kotak sarang sekaligus mengurangi penggunaan pestisida.
  6. Memiliki “mata palsu”
    Burung hantu kerdil utara mempunyai bulu hitam menyerupai mata di belakang kepalanya. Pola tersebut diduga dapat mengecoh atau menghambat predator yang hendak menyerang dari belakang.
  7. Bulunya tidak tahan air
    Bulu burung hantu sangat halus sehingga mendukung kemampuannya terbang dan berburu tanpa suara. Namun, bulu tersebut mudah menyerap air. Karena itulah burung hantu jarang terlihat berburu saat hujan.
  8. Tidak membangun sarang sendiri
    Burung hantu biasanya menempati sarang atau rongga pohon yang telah ditinggalkan burung lain, termasuk burung pelatuk.
  9. Susunan jari kakinya saling berlawanan
    Burung hantu memiliki cakar zigodaktil: dua jari menghadap ke depan dan dua lainnya ke belakang. Susunan ini membuatnya mampu mencengkeram mangsa dengan sangat kuat.
  10. Mampu menempuh perjalanan sangat jauh
    Burung hantu salju yang hidup di Kutub Utara dapat terbang ribuan kilometer ke selatan. Burung ini pernah mencapai Florida, Bermuda, dan bahkan Hawaii setelah menempuh perjalanan sekitar 4.800 kilometer.
Foto utama: Celepuk enggano, burung hantu yang hanya ada di Pulau Enggano. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.