Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan

Luh De Suriyani 21 Okt 2026

Rawa Gambut Terbakar, Bagaimana Nasib Ikan dan Masyarakat Lahan Basah Sumatera Selatan?

Nopri Ismi 21 Okt 2026
Cerita fitur

Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi Bencana Nasional

Irfan Maulana 21 Okt 2026

Karst Gunungsewu Dalam Kungkungan Industri Wisata

Achmad Rizki Muazam 20 Okt 2026

Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular

Akhyari Hananto 20 Okt 2026
Cerita fitur

Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Ambon

Christ Belseran *, Cristin Pesiwarissa 20 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan

Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi Bencana Nasional

Irfan Maulana 21 Okt 2026

Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Ambon

Christ Belseran *, Cristin Pesiwarissa 20 Okt 2026

Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau

Indah Suci Safitri 20 Okt 2026

Petugas Gagalkan Penyelundupan Kuda Laut dan Emas ke Singapura

Yogi Eka Sahputra 20 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua

Akita Verselita 14 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Editor 21 Okt 2026

Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026.

Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari lokasi belum mengakhiri penderitaannya. Luka bakar merusak jaringan tubuhnya, hingga dokter hewan memutuskan mengamputasi empat ruas jari kakinya.

“Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS.

Cedera tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan Novita bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Pemulihannya memerlukan perhatian berkelanjutan. Untuk mendukung perawatan, Yayasan BOS meluncurkan penggalangan dana “Beri Novita Kesempatan Kedua” pada 10 Oktober,dengan target US$20.000.. Hinga 17 Oktober malam, dana yang terkumpul mencapai US$3.427.

Novita bukan satu-satunya orangutan yang kehilangan tempat aman akibat kebakaran. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu. Delapan yang dinyatakan sehat mulai dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, pada 9 Oktober. Pemilihan lokasi mempertimbangkan pakan, air, ruang jelajah, dan keterhubungan hutan.

“Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat.

Skala ancaman terlihat dalam analisis Geopix. Sepanjang 1 Juni-12 Oktober 2026, organisasi tersebut mencatat 572.261 titik panas di Kalimantan, dengan 440.010 atau sekitar 76,89 persen berada di habitat orangutan.

Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Titik panas merupakan bagian dari data pemantauan yang digunakan bersama citra satelit dan peta untuk menilai kondisi kawasan. Analisis Geopix juga menyoroti dampak kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting dan Sebangau, termasuk ancaman terhadap hutan gambut yang menopang kehidupan orangutan.

Ketika hutan terbakar, orangutan menghadapi lebih dari luka fisik. Pohon pakan dapat musnah, jalur jelajah terputus, dan satwa terdorong keluar kawasan untuk mencari makanan atau perlindungan, sehingga risiko konflik dengan manusia meningkat.

“Kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan,” kata Annisa Rahmawati, pengampanye senior satwa liar Geopix. Organisasi tersebut mendesak penetapan status darurat konservasi orangutan kalimantan serta rencana penyelamatan dengan target, anggaran, tanggung jawab, dan evaluasi yang jelas.

Bagi Novita dan orangutan lain yang dievakuasi, perawatan merupakan langkah awal; kelangsungan hidup mereka juga memerlukan habitat yang aman dan mampu menyediakan kebutuhan hidupnya.

Foto utama: Novita, orangutan berusia sekitar 5 tahun bertahan di pohon, akibat habitatnya terbakar. Foto: Dok. BOSF.

Cara Warga Ende Panen Gurita yang Melimpah

Putri Nurazizah* 21 Okt 2026

Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir.

Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang semakin tinggi. Kondisinya membuatnya berhenti melaut. Air laut yang keruh membuatnya kesulitan untuk memancing gurita. Desa Maurongga memiliki potensi laut yang menjanjikan, khususnya pada sektor gurita.

Data Tananua Flores menunjukkan total perikanan tangkap Maurongga pada 2025 mencapai 1.096 dari tujuh jenis tangkapan. Gurita menjadi peringkat pertama dengan 479,8 kg yaitu senilai Rp16.074.000. Saat itu belum ada nelayan yang memancing gurita, melihat potensi gurita yang tinggi, akhirnya Imran mulai bergerak untuk memanfaatkan potensi tersebut dengan mulai memancing gurita.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah nelayan gurita bertambah menjadi 7 orang setelah mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua. Bagi mereka, menangkap gurita bukan hanya soal mendapat hasil sebanyak-banyaknya. Laut yang menjadi sumber kehidupan juga perlu dikelola dengan baik, walaupun sulit terlepas dari berbagai  ancaman. 

“Tahun 2022,  kami dibantu perahu ukuran 1 GT oleh pemerintah Kabupaten Ende sebanyak tujuh unit. Tahun kemarin kami dapat lagi delapan unit. Saya jadi dikenal dan nelayan kami dapat bantuan berkat pemberitaan tentang gurita,” katanya.

Namun, masih banyak nelayan yang menangkap ikan dengan cara merusak, seperti racun hingga bom. “Jadi, kami terkadang harus berhadapan dengan nelayan-nelayan dari luar daerah kami yang sering menangkap ikan menggunakan bom dan potasium,” ujar Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi.

Padahal, nelayan di Maurongga telah menjaga laut dengan menerapkan sistem praktik buka tutup kawasan. Upaya yang dilakukan kerap membuahkan hasil, menurut Imran, sejak penerapan sistem buka tutup area tangkap, berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat. 

“Satu bagian ditutup selama tiga bulan dan satunya dibuka.Dibuat bergantian agar ada wilayah untuk nelayan beraktivitas mencari gurita,” ujar Imran.

Bernadus Sambut, Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores katakan, mereka membekali nelayan mereka untuk konsisten dalam menjaga ekosistem laut, tak hanya tentang larangan penggunaan alat tangkap tak ramah, tetapi juga mengedukasi mereka terkait dampak sampah bagi lautan. 

Foto utama: Aswan nelayan gurita Kodim Ocotpus Desa Kotodirumali, Nagekeo menangkap gurita di dasar laut dengan menyelam dan gunakan peralatan tradisional. Foto : Mia Margaretha Holo/Mongabay Indonesia.

Leluhur Kelelawar Diduga Berasal dari Eropa, Bagaimana Mencapai Indonesia?

Editor 21 Okt 2026

Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal?

Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang kelelawar modern kemungkinan besar berasal dari Eropa, kemudian keturunannya menyebar hingga mencapai Asia Tenggara, Oseania, dan Australia.

Penelitian Ariadna E. Morales dan kolega dalam jurnal Nature menggabungkan genom 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup dengan data 44 fosil. Analisis tersebut menghasilkan dukungan statistik sebesar 99,2 persen untuk Eropa sebagai wilayah asal nenek moyang kelelawar modern.

“Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga, kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,” tulis para peneliti. Dari Eropa, garis keturunannya menyebar ke Afrika, lalu berkembang menuju benua lain. Kondisi iklim hangat sekitar 56 juta tahun lalu turut dikaitkan dengan perluasan wilayah dan keragaman kelompok ini.

Salah satu jalur penyebaran membawa kelompok Yinpterochiroptera dari Afrika menuju Asia. Perjalanannya berlanjut melalui jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara hingga Oseania serta Australia. Kelelawar pemakan buah dan kelelawar tapal kuda yang kini ditemukan di Indonesia merupakan bagian dari sejarah ekspansi tersebut.

Penelitian juga memberikan petunjuk tentang perkembangan kemampuan navigasi. Penempatan fosil Vielasia dalam kelompok kelelawar purba menunjukkan bahwa ekolokasi laring telah berkembang sebelum kelompok modern beragam. Temuan ini mengindikasikan hubungan antara kemampuan terbang dan ekolokasi sejak awal perjalanan evolusinya.

Di Indonesia, sejarah panjang itu tercermin dalam keragaman kelelawar yang tinggi. Studi Ramadhana dan kolega menyebut 239 spesies, terdiri atas 158 pemakan serangga dan 81 pemakan tumbuhan. Sulawesi menjadi pusat endemisme penting, dengan sekitar 72 spesies tercatat dan 18 di antaranya endemik. Dalam survei di Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, tim menjaring 474 individu dari 23 spesies selama 31 malam pada Juni-Juli 2024. Pengamatan mencakup hutan sekunder, perkebunan, dan sungai, memperlihatkan pentingnya beragam habitat bagi kehidupan kelelawar.

Keberadaan mereka berkaitan dengan kelangsungan tumbuhan dan keseimbangan ekosistem. Kelelawar membantu penyerbukan, termasuk pada durian, menyebarkan biji untuk regenerasi hutan, serta memangsa serangga yang berpotensi menjadi hama. Namun, manfaat tersebut menghadapi tekanan dari perubahan habitat dan perburuan.

“Kerusakan atau hilangnya tutupan hutan sekunder menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup kelelawar serta perburuan menjadi ancaman utama kelelawar di Sulawesi,” tulis peneliti.

Perlindungan hutan sekunder dan kawasan bervegetasi diperlukan untuk mempertahankan keragaman serta kestabilan populasinya. Perjalanan evolusi lintas benua itu kini berhadapan dengan perubahan lingkungan di habitat tempat keturunannya bertahan hidup.

Foto utama: Kelelawar yang memiliki fungsi ekologis sebagai penyerbuk tanaman (pollinators) yang membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

Api Membara di Bromo dan Arjuno, Renggut Korban Jiwa hingga Rusaknya Jalur Pipa Air

Editor 20 Okt 2026

Angin kencang mengubah upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi tragedi. Enam personel terjebak kobaran api di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Tiga orang meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas. Dua korban luka bakar berat dirawat di Surabaya.

Peristiwa ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan ketika medan terjal, keterbatasan air, serta perubahan arah angin bertemu di lokasi kebakaran.

Kebakaran bermula dari laporan api di ladang sekitar Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan taman nasional pada 13 Oktober. Petugas dan warga melakukan pemadaman manual menggunakan alat pemukul atau gepyok karena lokasi sulit dijangkau kendaraan dan jauh dari sumber air. Api sempat dinyatakan padam keesokan harinya, tetapi asap tebal kembali terlihat pada 15 Oktober. Ketika personel berusaha mengendalikan api dan membuat penyekatan, angin kencang menyebabkan sejumlah anggota tim terjebak. Balai Besar TNBTS kemudian menutup area wisata Penanjakan mulai 17 Oktober malam hingga waktu yang belum ditentukan.

BNPB menekankan bahwa keselamatan personel harus menjadi bagian utama penanganan kebakaran. Kondisi api, arah dan kecepatan angin, karakter medan, serta jalur evakuasi perlu terus diperhitungkan.

“Setiap langkah penanganan harus didukung penilaian risiko yang cermat. Juga pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, jalur evakuasi, komunikasi dan koordinasi,” kata Berton SP Panjaitan dari BNPB.

Kesiapan peralatan, prosedur keselamatan, dan kemampuan evakuasi diperlukan agar upaya melindungi lingkungan tidak kembali merenggut nyawa mereka yang berada di garis depan.

Sementara itu, kebakaran melanda kawasan Gunung Arjuno dan Tahura R. Soerjo sejak 16 Oktober. Sebanyak 110 pendaki berhasil dievakuasi.

“Semua berhasil dievakuasi melalui Kop-Kopan. Semua aman dan selamat,” kata Sugeng Hariadi, Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan. Jalur pendakian Arjuno-Welirang ditutup sementara, sedangkan pemadaman dilakukan menggunakan peralatan manual dan sekat bakar. Hingga 17 Oktober 2026, luas terbakar yang tercatat di wilayah Mojokerto mencapai 170 hektar; luasan di Pasuruan belum terakumulasi. Pengendalian difokuskan pada lokasi yang dapat dijangkau dengan aman.

Dampaknya juga menjalar ke kebutuhan dasar warga. Sekitar empat kilometer pipa air bersih Desa Jatiarjo rusak akibat kebakaran. Jaringan tersebut melayani 2.500 rumah dengan sekitar 7.700 jiwa, sehingga warga sementara bergotong royong mengambil air dari sumber terdekat. “Butuh dana puluhan juta untuk memperbaiki jaringan pipa air minum,” kata Dardiri, Kepala Desa Jatiarjo. Dia mendesak penyelidikan penyebab kebakaran yang menurutnya berulang di titik serupa. Walhi Jawa Timur turut meminta penguatan pencegahan.

Walhi Jatim mendata hingga Agustus 2026 total sekitar 10.000 hektar hutan di Jatim telah terbakar. Sekitar 80% berada di bawah pengelolaan negara seperti taman nasional, dan tahura.

Foto utama: Api melalap Gunung Arjuno, sekitar 20 hektar ludes.terbakar Foto: UPT Tahura R Soerjo.

Di Balik Layanan Home Care, Ada Limbah Medis yang Perlu Diurus di Kalimantan Selatan

Editor 20 Okt 2026

Enam kantong plastik biru tergeletak di semak pinggir jalan Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ketika diperiksa petugas pada Mei lalu, isinya ternyata limbah medis. Sebagian pembungkus sudah robek, sementara lokasi mudah dijangkau warga, termasuk anak-anak.

Temuan tersebut membuka persoalan di balik berkembangnya layanan kesehatan dari rumah ke rumah: setelah pelayanan selesai, siapa memastikan jarum suntik, perlengkapan infus, dan bahan medis bekas masuk jalur pengelolaan yang aman?

Penelusuran Dinas Lingkungan Hidup Banjarbaru menemukan nota pembelian obat dan perlengkapan medis yang mengarah kepada tenaga kesehatan penyedia layanan home care mandiri. Dia mengakui asal limbah, tetapi membantah membuangnya langsung karena telah membayar pengepul untuk menerimanya. Di tempat pengepul, petugas kembali menemukan limbah medis, tetapi tujuan penyerahan berikutnya tidak jelas. DLH menghentikan penelusuran karena bukti belum cukup untuk memastikan pelaku pembuangan. Limbah kemudian dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara Puskesmas Sungai Besar agar tidak terus berada di ruang terbuka.

Persoalan pengawasan turut muncul dalam perubahan perizinan. Menurut Dinas Kesehatan Banjarbaru, pengajuan praktik mandiri melalui Mal Pelayanan Publik Digital tidak lagi disertai verifikasi lapangan seperti sebelumnya. Akibatnya, jalur pemeriksaan langsung terhadap kondisi praktik dan rencana pengelolaan limbah berkurang. Sementara itu, tempat penyimpanan puskesmas diperuntukkan bagi limbah pelayanannya sendiri, bukan sebagai penampungan praktik luar.

Temuan serupa di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar pada tahun-tahun sebelumnya memperlihatkan masalah yang mencakup pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir.

Syamsul Arifin, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat, menegaskan kewajiban tenaga kesehatan memilah limbah sejak sumbernya. Limbah infeksius, benda tajam, farmasi, dan bahan kimia perlu wadah sesuai jenis serta pencatatan sebelum diserahkan kepada pengelola berwenang. Namun, praktik mandiri penghasil limbah sedikit juga membutuhkan sistem terjangkau.

“Prinsipnya tanggung jawab berjenjang, bukan blame individual,” katanya.

Dia mengusulkan titik pengumpulan yang diatur pemerintah, kerja sama dengan pengelola berizin, serta pembiayaan kolektif. Setiap perpindahan limbah perlu tercatat agar alurnya dapat diperiksa.

Keterbatasan fasilitas memperpanjang persoalan. Kajian Ombudsman Kalsel menyebut belum terdapat perusahaan pengolah dan penimbun limbah medis di provinsi tersebut. Limbah harus dibawa ke luar daerah, dengan hanya empat badan usaha pengangkut yang teridentifikasi dalam kajian. Biaya, tunggakan pembayaran, dan penundaan penjemputan hingga kontainer penuh dapat menghambat pengangkutan. Secara nasional, data SPEED KLH 2025 juga menunjukkan kesenjangan besar antara perkiraan timbulan dan limbah yang tercatat. Selisih itu tidak otomatis berarti pembuangan sembarangan, tetapi menyulitkan penelusuran. Karena itu, penguatan fasilitas, pencatatan, anggaran, dan pengawasan perlu berjalan bersama.

“Penegakan aturan dan fasilitasi bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama,” ujar Syamsul.

Ilustrasi limbah medis berupa jarum suntik, botol obat, dan kemasan bekas dibuang di lahan terbuka. Disampingnya terdapat kotak khusus pembuangan benda tajam atau safety box. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia.

Perjalanan Tukik dan Misteri Pulang ke Pantai Kelahiran

Editor 19 Okt 2026

Bagi tukik, jarak antara sarang dan laut merupakan ujian pertama kehidupan. Setelah menetas di pantai berpasir, anak penyu harus merangkak menuju air sambil menghadapi predator. Sebagian tidak pernah mencapai laut, sementara yang berhasil masih harus melanjutkan perjuangan di habitatnya.

“Ancaman akan selalu mengintai tukik yang merangkak pelan menuju laut. Tak jarang, saat proses tersebut dilakukan, predator di darat memakannya,” kata Mohammad Mukhlis Kamal, pakar ekologi perairan dari IPB University. Perjalanan singkat di pantai menjadi fase kritis yang menentukan kesempatan mereka bertahan hidup.

Sebagian besar kehidupan penyu berlangsung di laut, tetapi betina kembali ke pantai untuk bertelur. Menariknya, lokasi tersebut bisa merupakan tempat mereka dahulu menetas.

Penelitian J. Roger Brothers dan Kenneth J. Lohmann dari University of North Carolina, yang diterbitkan dalam Current Biology pada 2015, menemukan hubungan antara kepadatan sarang dan perubahan kecil medan magnet bumi. Temuan itu mendukung dugaan bahwa penyu menggunakan petunjuk geomagnetik untuk menemukan kawasan bertelur, serta mungkin menyimpan ingatan terhadap medan magnet pantai kelahirannya. Namun, mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Mukhlis juga mengingatkan bahwa dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian khusus di Indonesia.

Dari tujuh spesies penyu dunia, enam ditemukan di Indonesia: penyu hijau, sisik, lekang, belimbing, tempayan, dan pipih. Perlindungan sarang serta pendampingan pelepasan tukik menjadi bagian dari kegiatan konservasi. Namun, bantuan manusia tetap perlu memperhatikan kesejahteraan hewan, termasuk kebebasan dari rasa takut, stres, sakit, dan ketidaknyamanan, serta kesempatan mengekspresikan perilaku alami. Pelepasliaran bukan jaminan seluruh tukik akan bertahan. “Alamiahnya, tukik yang dilepasliarkan itu tidak semuanya hidup,” ujar Mukhlis. Upaya konservasi membantu mengurangi ancaman tanpa menghilangkan seluruh risiko alamiah yang mereka hadapi.

Ketika tumbuh dewasa, ancaman penyu juga berkaitan dengan aktivitas manusia.

Iman Wahyudin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut tangkapan tidak disengaja, pengambilan telur, serta pemanfaatan ilegal bagian tubuh masih menjadi persoalan. “Jalur migrasi penyu sebagai spesies migratori masih sering bersinggungan dengan aktivitas perikanan,” katanya. Alih fungsi lahan, sampah, dan limbah turut menekan habitat, sementara keterbatasan data menyulitkan pemahaman mengenai persebaran dan kebutuhan perlindungannya. Karena itu, menjaga penyu membutuhkan perhatian terhadap perjalanan hidupnya secara menyeluruh, dari pantai peneluran hingga perairan yang dilalui.

Rencana Aksi Nasional Konservasi Penyu 2026-2029 berfokus pada penyediaan data dasar, perlindungan, pelestarian, dan pengawasan hukum. Pengembangan pusat pembelajaran atau konservasi di tiga lokasi prioritas juga direncanakan dengan melibatkan organisasi masyarakat sipil dan warga. Pengumpulan data diperlukan agar perlindungan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Bagi penyu yang mampu kembali setelah menempuh perjalanan jauh, keberadaan pantai peneluran yang tetap terjaga menjadi bagian penting untuk melanjutkan siklus kehidupannya dan memberi kesempatan bagi generasi tukik berikutnya.

Foto utama: Tukik menuju laut untuk memulai kehidupannya di Pulau Denawan, Kalimantan Selatan. Foto: Riyad Dafhi Rizki/ Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.