Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

3 Tahun Penjara, Vonis Hakim untuk Penyelundup Satwa Liar Dilindungi di Aceh

Junaidi Hanafiah 21 Jun 2026

Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu

Luh De Suriyani 21 Jun 2026
Cerita fitur

Deforestasi di Kalimantan Picu Bencana dan Konflik Agraria

Riyad Dafhi Rizki 21 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus

Larius Kogoya 21 Jun 2026

Menyoal Bank Tanah di Wilayah Adat Pekurehua

Sarjan Lahay 20 Jun 2026

Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang

Yogi Eka Sahputra 20 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Deforestasi di Kalimantan Picu Bencana dan Konflik Agraria

Foto: Larius Kogoya/Mongabay Indonesia

Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus

Larius Kogoya 21 Jun 2026

Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]

Junaidi Hanafiah 20 Jun 2026

Dua Dekade Konflik Agraria Sinar Mas di Jambi, Akankah Ada Penyelesaian?

Teguh Suprayitno 19 Jun 2026

Warga Dairi Layangkan Surat Protes Izin Baru Tambang Seng ke Kementerian Lingkungan

Ayat S Karokaro 19 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende

Taufik Wijaya 12 Jun 2026

Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global

Nuswantoro 4 Jun 2026

Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan

Triyo Handoko 22 Mei 2026

Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua

Akhyari Hananto 18 Mei 2026

Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat […]

Ancaman Nyata El Nino Godzilla series

Lebih spesial

11 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
10 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan

Akhyari Hananto 21 Jun 2026

Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang industri dari bawah.

Penjelasan resminya adalah keragaman genetik. GAPKI bersama Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit menyebut langkah ini sebagai upaya memperkaya varietas dan mendongkrak produktivitas yang stagnan. Para petani dan organisasi masyarakat sipil tidak meyakini penjelasan itu.

Gunawan dari Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menunjuk akar masalah yang berbeda. Data Kementerian Pertanian Oktober 2025 menunjukkan 40 hingga 70 persen benih sawit yang beredar belum bersertifikat. Benih ilegal dan pengawasan yang lemah itulah yang membuat produktivitas stagnan, bukan kurangnya varietas dari Afrika. “Jika produktivitas sawit stagnan, persoalannya bukan semata genetika tanaman, melainkan tata kelola yang sejak lama dibiarkan bocor di banyak sisi,” katanya.

Bagi petani kecil, masuknya benih impor bisa mendistorsi harga benih lokal. Perusahaan besar bisa menyesuaikan diri dengan varietas baru, petani kecil tidak punya kemewahan itu. Benih dari Afrika belum terbukti cocok dengan kondisi tanah, iklim, dan penyakit lokal Indonesia. Risiko gagal panen ditanggung petani sendiri. “Realitasnya adalah petani kecil berada dalam posisi yang lebih rentan,” kata Gunawan.

Marselinus Andri dari SPKS menambahkan bahwa masalah produktivitas sawit jauh lebih kompleks dari sekadar soal bibit. Keterbatasan akses pupuk, realisasi program peremajaan sawit rakyat yang rendah, dan infrastruktur yang tidak memadai adalah hambatan nyata di lapangan yang tidak akan terselesaikan dengan benih impor.

Di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih besar. Achmad Surambo dari Sawit Watch mencurigai impor benih dari Afrika berkaitan dengan rencana ekspansi perkebunan sawit ke Papua. Dalam rapat dengan kepala daerah se-Papua Desember 2025, Presiden Prabowo menyatakan Papua harus ditanami sawit untuk bahan bakar minyak, dengan target 600.000 hektar kebun baru. Padahal riset Sawit Watch menunjukkan daya dukung lingkungan Papua untuk sawit sudah hampir habis, dengan 75.308 hektar perkebunan yang sudah ada berada di wilayah sensitif seperti hutan primer dan kawasan konservasi.

Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia. Tapi benihnya datang dari Afrika, petani kecilnya menanggung risiko terbesar, dan hutan Papua yang tersisa mungkin menjadi sasaran berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi soal benih. Pertanyaannya adalah untuk siapa industri sebesar ini sebenarnya dijalankan.

Sudah Dicoba Berabad-abad, Zebra Tidak Bisa Dijinakkan Seperti Kuda. Ini Alasannya

Akhyari Hananto 20 Jun 2026

Pada akhir abad ke-19, Lord Walter Rothschild, bangsawan eksentrik dan kolektor satwa dari Inggris, melatih enam zebra untuk menarik keretanya dan memamerkannya di jalanan London. Pemandangan itu menjadi sensasi. Rothschild ingin membuktikan bahwa zebra bisa dijinakkan seperti kuda. Ia gagal, tapi bukan karena kurang berusaha.

Beberapa dekade kemudian, pemerintah kolonial Jerman di Tanganyika mencoba hal yang sama dengan motivasi yang lebih praktis: zebra tahan terhadap lalat tsetse yang mematikan bagi kuda, sehingga ideal untuk mengangkut beban di wilayah pedalaman Afrika. Mereka menangkap zebra liar, melatihnya untuk menarik gerobak, dan menghadapi kenyataan yang sama: zebra yang agresif, mudah panik, dan tingkat kematian tinggi di penangkaran akibat stres. Proyek itu dihentikan.

Dua eksperimen terpisah, dua abad berbeda, satu kesimpulan yang sama. Zebra tidak bisa didomestikasi secara massal. Pertanyaannya bukan lagi apakah sudah cukup dicoba, melainkan mengapa secara biologis hal itu hampir mustahil dilakukan.

Jawabannya ada pada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan.

Pertama, temperamen. Zebra memiliki insting “kabur dulu, pikir kemudian” yang sangat kuat, hasil adaptasi jutaan tahun hidup berdampingan dengan predator di savana Afrika. Penelitian yang membandingkan flight initiation distance antara kuda dan zebra dataran menunjukkan bahwa zebra secara konsisten menjaga jarak lebih jauh dari manusia dan lebih sulit terbiasa dengan kehadiran manusia. Ini adalah hambatan mendasar bahkan sebelum pelatihan dimulai.

Kedua, fisiologi. Zebra sangat rentan terhadap capture myopathy, kondisi mematikan yang dipicu oleh stres ekstrem saat hewan ditangkap atau dipindahkan dari lingkungan alaminya. Studi makroevolusi menunjukkan bahwa kerentanan terhadap kondisi ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam domestikasi mamalia berkuku. Pada zebra, sensitivitas terhadap stres ini jauh lebih tinggi dibanding kuda yang sudah ribuan tahun terbiasa dengan manusia.

Ketiga, struktur sosial. Kuda liar hidup dalam kawanan yang stabil di bawah satu pejantan dominan, struktur yang memungkinkan manusia mengambil peran sebagai pemimpin kawanan dan membangun kepercayaan secara kolektif. Zebra Grévy, spesies terbesar dan paling langka, hidup dalam kelompok yang cair dan terus berubah tanpa pemimpin tetap. Tidak ada hierarki yang bisa dimasuki manusia. Pelatihan harus dilakukan per individu, satu per satu, pendekatan yang tidak bisa diskalakan menjadi domestikasi massal.

Kuda, sapi, dan anjing berhasil didomestikasi karena memenuhi paket sifat yang tepat: temperamen relatif tenang, struktur sosial hierarkis, kemampuan berkembang biak cepat di penangkaran, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan buatan. Zebra tidak memenuhi kriteria itu, bukan karena ia inferior, melainkan karena evolusinya membentuknya untuk tujuan yang berbeda.

Zebra memiliki satu keunggulan nyata yang tidak dimiliki kuda: ketahanan terhadap lalat tsetse, parasit yang mematikan bagi ternak di sebagian besar Afrika sub-Sahara. Di atas kertas, itu adalah alasan kuat untuk menjinakkannya. Tapi biologi tidak bekerja di atas kertas. Tiga faktor itulah alasannya: temperamen yang terlalu reaktif, fisiologi yang terlalu rentan stres, dan struktur sosial yang tidak memberi ruang bagi manusia untuk masuk. Dua abad percobaan sudah cukup membuktikan bahwa beberapa sifat alami tidak bisa dikalahkan hanya dengan kemauan manusia.

Disebut Ular Bodoh karena Tidak Mau Kabur, Padahal Serangannya Lebih Cepat dari Kedipan Mata

Akhyari Hananto 19 Jun 2026

Di hutan Papua, jika seseorang melihat ular berbahaya di jalur yang dilalui rombongan, ia tidak akan berteriak “awas ada ular.” Ia akan berkata dengan tenang kepada orang di sampingnya: “hati-hati, ada tali.” Tujuannya agar rombongan tidak panik. Sebab panik, dalam kasus ini, bisa berakibat fatal.

Ular yang dimaksud adalah Death Adder, atau yang oleh masyarakat Papua disebut ular bodoh. Nama itu muncul bukan karena ularnya tidak berbahaya, melainkan karena perilakunya yang tampak pasif: ketika disentuh dengan kayu atau benda lain, ia memilih diam. Tidak kabur, tidak menyerang, hanya diam. “Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN.

Tapi diam itu menipu. Death Adder (Acanthophis sp.) adalah salah satu ular paling berbisa di dunia, dengan kecepatan serangan yang belum tertandingi oleh ular mana pun: kurang dari 0,13 detik. Lebih cepat dari kedipan mata manusia. Dan gerakannya hampir tidak bisa diprediksi.

Strategi berburunya adalah kebalikan dari hampir semua ular berbisa lain. Alih-alih aktif mencari mangsa, Death Adder memilih satu posisi dan menunggu mangsa datang sendiri. Ia bersembunyi di bawah tumpukan daun lembap, serasah, atau potongan ranting, dengan tubuh melingkar dan hampir tidak terlihat karena warnanya yang menyatu dengan lingkungan. Ekornya berbentuk seperti cacing kecil yang digerakkan sebagai umpan. Ketika seekor hewan mendekat untuk menyelidiki gerakan ekor itu, serangan terjadi dalam sepersekian detik.

Tubuhnya pendek dan gemuk, panjangnya hanya 40 hingga 70 sentimeter, dengan kepala berbentuk kapak, pupil vertikal, dan taring yang panjang. Secara taksonomi ia masuk keluarga Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang, tapi morfologinya lebih menyerupai viper. Warnanya bergaris merah, cokelat, dan hitam dengan perut abu-abu atau krem, kamuflase yang hampir sempurna di lantai hutan.

Pada Juli 2019, seorang anggota Brimob yang tengah bersantai di Kali Iwaka, Timika, meninggal setelah digigit Death Adder. Jessik Kukuh dari Reptile Rescue Timika mengonfirmasi bahwa gigitan spesies ini kerap berujung fatal. Penanganan pertama yang paling penting adalah imobilisasi, meminimalkan gerakan bagian tubuh yang tergigit. Memijat area gigitan untuk mengeluarkan bisa justru mempercepat kerusakan organ.

Yang memperburuk situasi: antivenom untuk Death Adder tidak diproduksi di Indonesia. Satu-satunya antivenom yang tersedia adalah CSL Death Adder Antivenom dari Australia, dengan harga sekitar Rp80 juta per vial. Di daerah terpencil Papua, di mana ular ini paling banyak ditemukan, akses ke antivenom itu hampir tidak ada.

Death Adder adalah endemik Papua dan Australia, dua wilayah yang berbagi warisan biogeografis dari masa ketika keduanya masih menjadi satu daratan. Ia bukan ular yang agresif. Ia bahkan cenderung tidak mau bergerak. Tapi itulah yang membuatnya berbahaya: ia tidak memberi peringatan, tidak lari, dan tidak memberi kesempatan untuk bereaksi. Di Papua, orang yang sudah tahu menyebutnya “tali.” Mereka yang belum tahu, sering tidak mendapat kesempatan untuk belajar.

Dilarang Dikunjungi Manusia, Pulau Ini Dihuni Ribuan Ular yang Bisanya Bisa Jadi Obat

Akhyari Hananto 18 Jun 2026

Dari jauh, Ilha da Queimada Grande tampak seperti pulau tropis biasa di lepas pantai Brasil: hutan lebat, pantai berbatu, dan deburan ombak Atlantik Selatan. Tidak ada bangunan, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jejak manusia. Pemerintah Brasil melarang siapa pun masuk ke sana, kecuali ilmuwan berlisensi yang didampingi dokter.

Tapi larangan itu bukan karena pulau ini tidak menarik. Justru sebaliknya. Di pulau seluas 44 hektare ini hidup antara 2.000 hingga 4.000 ekor Bothrops insularis, ular lancehead emas dengan racun yang bisa membunuh dalam hitungan jam. Dan racun itulah yang kini menjadi incaran para ilmuwan karena menyimpan potensi medis yang sangat besar.

Peneliti dari Instituto Butantan Brasil menemukan bahwa senyawa aktif dalam racun B. insularis memiliki karakteristik unik yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati gangguan pembekuan darah, penyakit jantung, dan berpotensi dikembangkan sebagai terapi kanker. Komponen racunnya mampu memengaruhi sistem peredaran darah dan enzim vital tubuh secara sangat spesifik, menjadikannya bahan penting dalam pengembangan farmasi modern. Tapi untuk mempelajarinya, ilmuwan harus masuk ke pulau yang dilarang, dengan pengawalan dokter, dan risiko kematian yang nyata.

Bagaimana pulau sekecil ini bisa menjadi habitat dengan konsentrasi ular berbisa tertinggi di dunia? Ribuan tahun lalu, naiknya permukaan laut memutus hubungan darat antara Queimada Grande dan daratan utama Brasil. Ular-ular yang tadinya bagian dari populasi Bothrops jararaca terjebak di ekosistem pulau yang sempit, tanpa predator alami dan tanpa mamalia darat sebagai mangsa. Satu-satunya sumber makanan yang tersedia adalah burung-burung migran yang hinggap sejenak di pepohonan.

Tantangannya: burung bisa terbang dan tidak bisa dikejar. Untuk bertahan, ular-ular ini harus berevolusi. Mereka mengembangkan kemampuan memanjat pohon, bersembunyi di antara ranting, dan yang paling krusial, mengembangkan racun yang bekerja sangat cepat. Tidak ada waktu untuk menunggu mangsa melemah. Racunnya harus melumpuhkan dan membunuh secara instan, sebelum burung sempat terbang menjauh. Para ilmuwan menyebut ini hiperevolusi toksin, proses di mana tekanan lingkungan yang ekstrem menghasilkan racun yang sangat efisien sekaligus sangat berbahaya.

Dalam tubuh manusia, efeknya mengerikan. Gigitan B. insularis bisa menyebabkan gagal ginjal akut, pendarahan otak, nekrosis otot, dan kematian dalam kurang dari enam jam. Bahkan dengan perawatan medis cepat, angka kematiannya tetap signifikan.

Pulau ini juga menyimpan kisah-kisah kelam. Yang paling terkenal adalah tragedi keluarga penjaga mercusuar di awal 1920-an: seluruh anggota keluarga tewas digigit ular saat mencoba melarikan diri ke perahu penyelamat. Sejak itu, mercusuar diotomatisasi dan tidak pernah lagi dijaga manusia.

Di balik semua itu, ada ironi yang jarang dibicarakan. Bothrops insularis kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN, dengan penurunan populasi diperkirakan mencapai 50 persen dalam 15 tahun terakhir, akibat perburuan ilegal, kebakaran, dan kerusakan vegetasi. Seekornya bisa dihargai hingga USD 30.000 di pasar gelap. Tapi spesimen hasil penyelundupan tidak bisa digunakan dalam penelitian resmi karena laboratorium sah tidak akan mengambil risiko etik dan legal.

Seperti yang dikatakan para peneliti: racunnya menjanjikan, tapi tanpa sains, ia hanya racun biasa. Dan sains tidak bisa bekerja jika spesimennya diambil oleh penyelundup sebelum ilmuwan sempat menelitinya.

Seekor Bothrops insularis, atau lancehead emas, sedang menggulung tubuhnya di fasilitas konservasi Instituto Butantan, São Paulo. Ular ini hanya ditemukan secara alami di Ilha da Queimada Grande dan dikenal memiliki racun mematikan yang berevolusi secara unik akibat isolasi ekosistem. Foto: Miguelrangeljr / Wikimedia Commons

Koloni Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan di Tempat yang Tidak Pernah Kena Sinar Matahari

Akhyari Hananto 18 Jun 2026

Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap.

Temuan ini diterbitkan di jurnal Subterranean Biology tahun 2025 oleh tim yang dipimpin István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania.

Gua itu bernama Sulfur Cave, bagian dari sistem gua bawah tanah di Lembah Sarandaporo. Di dalamnya, air panas kaya belerang terus keluar dari dasar bumi. Gas hidrogen sulfida yang memenuhi udara gua bersifat beracun bagi manusia, kadar oksigennya rendah, dan tidak ada cahaya sama sekali. Tapi justru kondisi itulah yang menopang seluruh ekosistem di dalamnya.

Rantai makanannya dimulai dari bakteri pengoksidasi sulfur yang memanfaatkan gas H₂S sebagai sumber energi, membentuk lapisan biofilm di dinding dan dasar sungai gua. Lapisan ini dimakan larva lalat kecil dari keluarga chironomid. Ketika dewasa, lalat-lalat itu beterbangan dalam kawanan padat di atas aliran air belerang yang hangat, menyediakan sumber makanan konstan bagi laba-laba yang menempel di dinding. Tidak ada bahan organik dari luar yang masuk dalam jumlah berarti. Ekosistem ini sepenuhnya mandiri dari sinar matahari.

Dua spesies yang membangun koloni ini, Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans, umumnya hidup soliter. Di Sulfur Cave, keduanya hidup berdampingan tanpa konflik, berbagi ruang dan mangsa. Kepadatan mencapai rata-rata 650 individu T. domestica dan 800 individu P. vagans per meter persegi. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai “kolonialitas fakultatif”, kemampuan spesies soliter untuk beralih hidup berkelompok ketika kondisi lingkungan memungkinkan.

Adaptasi mereka tidak hanya pada perilaku. Analisis genetik menunjukkan bahwa populasi T. domestica di Sulfur Cave sudah berbeda DNA-nya dari populasi permukaan, tanpa pertukaran individu antara keduanya. Mikrobioma laba-laba gua lebih sederhana dari kerabat mereka di luar, didominasi bakteri Wolbachia dan Mycoplasma yang membantu inang beradaptasi dengan kekurangan oksigen dan paparan senyawa beracun.

Pola reproduksinya pun berbeda. Betina menghasilkan rata-rata hanya 16 butir telur per kantung, lebih sedikit dari populasi permukaan, tapi ukuran telurnya lebih besar. Jumlah telur meningkat hampir dua kali lipat di awal musim panas dibanding musim dingin, menunjukkan bahwa meski hidup di gua tertutup, siklus reproduksi mereka masih dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan luar.

Koloni di Sulfur Cave memperlihatkan bahwa ekosistem kompleks bisa terbentuk tanpa cahaya matahari sama sekali. Yang dibutuhkan hanya sumber energi alternatif, dalam hal ini kimia belerang, dan waktu yang cukup bagi makhluk hidup untuk menyesuaikan diri. Dua syarat yang rupanya sudah terpenuhi jauh di bawah perbatasan Albania dan Yunani.

Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya

Akhyari Hananto 14 Jun 2026

Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut.

Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, menyentuh air laut.

Bukan karena ia bukan ular laut sungguhan. Ia adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae, berkerabat dekat dengan ular laut pita biru yang hidup di samudra. Tapi seluruh hidupnya, dari lahir hingga mati, dihabiskan di dalam danau air tawar ini. Tidak ada perjalanan ke laut. Tidak ada air asin. Tidak ada jalan pulang ke lautan tempat leluhurnya berasal.

Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya ada di geologi, dan di sebuah letusan gunung berapi pada 1754.

Saat itu, runtuhnya ruang vulkanik membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalam kaldera yang terbentuk. Termasuk nenek moyang ular laut garman. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Makhluk-makhluk laut yang terjebak hanya punya dua pilihan: beradaptasi atau punah. Nenek moyang H. semperi memilih yang pertama.

Adaptasinya tidak sepele. Ular laut pada umumnya memiliki kelenjar garam sublingual yang aktif untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Pada H. semperi, kelenjar itu masih ada tapi hampir tidak aktif karena tidak lagi diperlukan. Secara genetik, penelitian mengonfirmasi bahwa seluruh proses isolasi dan adaptasi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat secara geologis.

Ada spesies lain yang sering dibandingkan dengannya: ular laut crocker (Laticauda crockeri) dari Kepulauan Solomon, yang juga tidak hidup di laut terbuka. Tapi perbedaannya fundamental. Ular laut crocker mendiami air payau dan masih bisa naik ke daratan. H. semperi adalah ular laut sejati yang benar-benar memutus seluruh hubungannya dengan lautan, satu-satunya di dunia yang melakukan lompatan fisiologis se-ekstrem itu.

Tapi keunikan evolusioner itu kini menjadi kerentanan. IUCN menetapkan statusnya sebagai Rentan karena seluruh populasinya hanya ada di satu tempat: Danau Taal. Dan danau itu berada di atas gunung berapi yang masih sangat aktif. Satu letusan besar bisa memusnahkan seluruh spesies ini dalam sekejap.

Ancaman dari manusia menambah tekanan. Pertambakan ikan nila yang masif, pencemaran limbah pertanian, dan eutrofikasi yang menurunkan kadar oksigen di danau mengancam kesehatan ekosistem dan ketersediaan mangsa utama ular ini, yaitu ikan gobi dan belut.

Di danau vulkanis yang tampak tenang itu, seekor ular laut menjalani hidupnya tanpa pernah tahu seperti apa rasanya laut. Ia adalah produk dari bencana geologi yang mengubah nasibnya untuk selamanya, dan kini menghadapi ancaman baru yang jauh lebih sulit dihindari dari letusan mana pun: kerusakan perlahan yang datang dari tepi danau itu sendiri.

Hydrophis semperi adalah satu-satunya ular laut sejati yang berhasil beradaptasi penuh di danau air tawar | Foto oleh Oceana Filipinas

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.