Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro

Suryadi 12 Jul 2026

12 Individu Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Dangkal, Berpotensi Rentan Punah

Akhyari Hananto 12 Jul 2026
Cerita fitur

Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]

Junaidi Hanafiah 12 Jul 2026

Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica

Nuswantoro 11 Jul 2026
Cerita fitur

Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang

Novia Harlina 11 Jul 2026
Cerita fitur

Menyoal Mandatori Biodiesel B50

Achmad Rizki Muazam 11 Jul 2026
Semua berita

Berita utama

Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro

Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]

Junaidi Hanafiah 12 Jul 2026

Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang

Novia Harlina 11 Jul 2026

Menyoal Mandatori Biodiesel B50

Achmad Rizki Muazam 11 Jul 2026

Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]

Junaidi Hanafiah 10 Jul 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

Jejak Ular Sanca Hijau Utara di Hutan Papua

Falahi Mubarok 28 Apr 2026

Jago Kamuflase, Inilah Ular Sanca Hijau Papua

Christopel Paino 23 Sep 2025

Sanca Bulan, Ular Endemik Papua yang Terancam Perburuan

Christopel Paino 10 Sep 2025

Piton Zaitun, Ular Penguasa Hutan Papua

Christopel Paino 16 Jul 2025

Bentang alam Papua menyimpan kekayaan herpetofauna luar biasa yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular endemik unik, mulai dari perilaku sanca hijau utara dengan kemampuan kamuflase tingkat tinggi hingga spesies berbisa seperti ular putih yang hingga kini belum memiliki antivenom. Dinamika kehidupan para penguasa rimba ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya ancaman perburuan liar untuk […]

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

13 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Anatomi Hujan Jakarta: Ada “Penumpang Gelap” Beracun di Setiap Tetesnya

Editor 12 Jul 2026

Bayangkan Anda sedang berdiri di bawah rintik hujan Jakarta, menikmati udara yang perlahan mendingin. Namun, sains punya kabar kurang romantis: air hujan tersebut tidak lagi murni. Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tetes air hujan yang membasahi Ibu Kota kini telah terkontaminasi mikroplastik, serpihan plastik tak kasat mata yang berukuran kurang dari 5 milimeter hingga 1 mikrometer.

Muhammad Reza Cordova, Profesor Riset BRIN, bersama timnya telah melacak fenomena ini sejak 2022. Hasilnya mengejutkan: di wilayah pesisir Jakarta saja, rata-rata ada 15 partikel mikroplastik yang jatuh di setiap meter persegi tanah setiap harinya. Dalam dunia sains, fenomena langit yang “muntah” plastik ini disebut sebagai atmospheric microplastic deposition.

Bagaimana bisa plastik naik ke langit? Ini adalah konsekuensi dari hukum alam yang brutal: plastik tidak pernah benar-benar hancur, mereka hanya menolak hancur dan memilih menua menjadi potongan yang lebih kecil. Di kota sibuk seperti Jakarta, yang menghasilkan ribuan ton sampah plastik setiap hari, degradasi plastik terjadi secara masif di ruang terbuka. Ditambah lagi dengan gesekan ban kendaraan di aspal, asap pembakaran, hingga serat kain sintetis dari pakaian yang kita jemur. Partikel yang super ringan ini kemudian terbawa oleh hembusan angin dan udara hangat, terbang tinggi ke atmosfer, berbaur dengan awan, dan akhirnya turun kembali ke bumi saat hujan deras tiba.

Masalahnya, partikel mikroplastik ini bukanlah remahan biasa. Mereka layaknya “spons beracun” yang membawa zat kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol A) dan ftalat. Ketika jatuh ke bumi, mikroplastik ini mengalir ke sungai, meresap ke lahan pertanian, hingga mencemari sumber air baku. Karena ukurannya yang kelewat kecil, filter air minum paling canggih sekalipun kerap kebobolan.

Dampaknya? Plastik-plastik ini menyusup ke rantai makanan dan berakhir di dalam tubuh kita. Sains bahkan telah membuktikan bahwa zat aditif pada mikroplastik dapat mengacaukan hormon, memicu kanker, dan yang paling mengerikan, partikel ini kini telah ditemukan di dalam darah hingga jaringan otak manusia.

Jakarta, dengan lebih dari 10 juta manusia di dalamnya, kini bukan lagi sekadar konsumen plastik, melainkan “pusat emisi” mikroplastik yang bisa terbang jauh melintasi batas kota melalui angin. Riset dari BRIN ini adalah sebuah sindiran keras dari alam: sampah plastik yang kita buang sembarangan hari ini, ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya bertualang ke langit, menunggu waktu untuk jatuh kembali tepat di atas kepala kita.

Foto utama: Seorang warga mengabadikan suasana langit Jakarta saat hujan di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Jakarta. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

 

Efek Deforestasi, Nyamuk Hutan Terpaksa “Ganti Selera” Gigit Manusia

Editor 12 Jul 2026

Kerusakan hutan ternyata tidak hanya membuat satwa besar kehilangan rumah, tetapi juga mengubah perilaku serangga kecil seperti nyamuk. Sebuah studi terbaru dari Hutan Atlantik (Atlantic Forest) di Brasil mengungkapkan fenomena sains yang mengkhawatirkan: nyamuk-nyamuk liar kini mulai beralih memburu darah manusia sebagai menu makanan utama mereka. Fenomena ini dipicu oleh menyusutnya habitat alami akibat ulah manusia.

Hutan Atlantik dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Namun, akibat ekspansi manusia dan deforestasi, kini hanya tersisa sepertiga dari luas aslinya dalam bentuk potongan-potongan hutan yang terisolasi. Kehilangan habitat ini memicu efek domino: mamalia, burung, dan amfibi yang biasanya menjadi inang alami, alias sumber darah bagi nyamuk hutan, mulai punah atau bermigrasi. Ketika “makanan” alami mereka menghilang, nyamuk-nyamuk ini harus beradaptasi untuk bertahan hidup. Pilihan paling mudah dan melimpah di sekitar mereka tak lain adalah manusia.

Untuk membuktikan pergeseran perilaku ini, tim peneliti dari Institut Oswaldo Cruz dan Universitas Federal Rio de Janeiro melakukan eksperimen di dua cagar alam yang dikelilingi permukiman. Mereka memasang perangkap cahaya dan berhasil mengumpulkan 1.714 ekor nyamuk dari 52 spesies berbeda. Fokus utama mereka adalah nyamuk betina yang perutnya buncit karena kekenyangan mengisap darah.

Di laboratorium, para ilmuwan menggunakan teknik canggih berupa analisis DNA untuk melacak dari mana asal darah di dalam perut nyamuk tersebut. Hasilnya mengejutkan! Dari sampel yang teridentifikasi secara akurat, mayoritas besar, yaitu 18 dari 24 sampel, berisi darah manusia. Sisanya hanyalah campuran kecil dari darah anjing, tikus, burung, dan amfibi. Bahkan, ada nyamuk yang terdeteksi membawa darah campuran antara amfibi dan manusia, membuktikan betapa fleksibelnya mereka dalam berburu target terdekat.

Perubahan selera makan nyamuk ini bukan sekadar gangguan gatal biasa, melainkan alarm bahaya bagi kesehatan global. Nyamuk-nyamuk hutan ini dikenal sebagai vektor atau pembawa virus mematikan seperti demam kuning, zika, dengue, chikungunya, hingga virus mayaro. Saat mereka beralih menggigit manusia secara rutin, risiko tumpahan penyakit (spillover) dari satwa liar ke populasi manusia meningkat drastis. Manusia yang tinggal di pinggiran hutan, kini berada di garis depan yang paling rentan tertular patogen berbahaya ini.

Sains mengingatkan kita bahwa menjaga keseimbangan ekosistem bukan lagi sekadar urusan melindungi pohon, melainkan perisai utama untuk melindungi diri kita sendiri dari wabah masa depan.

Foto utama: Nyamuk Aedes aegypti. Foto: Wikimedia Commons/Muhammad Mahdi Karim/Lisensi Dokumentasi Bebas GNU

 

Kasus Gigitan Komodo, Apakah Satwa Purba Ini Menyerang Manusia?

Editor 11 Jul 2026

Setiap kali muncul kabar warga atau wisatawan digigit komodo, pertanyaan yang sama selalu mengemuka: mengapa satwa purba ini menyerang manusia?

Banyak orang menganggap komodo (Varanus komodoensis) sebagai predator yang agresif. Padahal, para peneliti menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar kasus justru terjadi karena manusia dan komodo bertemu dalam situasi yang memicu respons alami satwa tersebut.

Komodo merupakan predator puncak yang telah hidup di Kepulauan Komodo, Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, dan sebagian Flores selama jutaan tahun. Mangsa alaminya adalah rusa, babi hutan, monyet, hingga kerbau. Manusia bukan bagian dari menu utama maupun target buruannya.

Lalu, mengapa gigitan ke manusia dapat terjadi?

Menurut para peneliti, komodo umumnya menyerang ketika merasa terganggu, terkejut, atau ketika akses menuju sumber makanannya terhalang. Sebagai predator, mereka tidak menghabiskan energi mengejar sesuatu tanpa alasan. Respons menggigit lebih sering muncul sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri atau mempertahankan sumber daya yang dianggap penting.

Sejumlah kasus yang pernah terjadi menunjukkan pola yang serupa. Ada warga yang digigit saat mencari madu di kawasan hutan Pulau Rinca, wilayah yang relatif jarang dilalui manusia. Komodo di lokasi seperti ini cenderung lebih liar dibandingkan individu yang terbiasa melihat wisatawan.

Kasus lain terjadi ketika seseorang duduk di atas batu yang ternyata menutupi bangkai rusa. Tanpa disadari, orang tersebut menghalangi jalan komodo menuju makanannya. Dalam peristiwa berbeda, seekor komodo yang sedang mengejar kambing justru menggigit manusia yang berada paling dekat setelah mangsanya berhasil lolos.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa komodo tidak secara aktif memburu manusia. Sebaliknya, sebagian besar insiden dipicu oleh interaksi yang terjadi pada waktu dan tempat yang kurang tepat.

Bahaya gigitan komodo sendiri bukan hanya berasal dari kekuatan rahangnya. Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 mengungkap bahwa gigi komodo memiliki bentuk gigi bergerigi seperti gergaji, sehingga bekerja layaknya bilah pisau untuk mengoyak jaringan lunak. Saat menggigit, komodo mampu menyebabkan robekan besar pada kulit, otot, hingga pembuluh darah.

Selain itu, komodo memiliki kelenjar racun di rahang bawah. Racun tersebut membantu menurunkan tekanan darah, menghambat pembekuan darah, dan mempercepat kehilangan darah pada mangsa. Kombinasi antara luka robek dan efek racun membuat satu gigitan saja dapat menjadi sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.

Beberapa kasus gigitan komodo ke manusia beberapa tahun terakhir memunculkan pertanyaan apakah perilaku komodo telah berubah. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa komodo menjadi lebih agresif. Namun, meningkatnya aktivitas manusia di habitat komodo, baik untuk pariwisata maupun aktivitas masyarakat, membuat peluang pertemuan antara manusia dan predator ini menjadi lebih besar.

Sebagai satwa liar, komodo tetap memiliki naluri yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Karena itu, menjaga jarak, tidak mendekati komodo yang sedang makan, tidak memasuki habitat tanpa pendamping, serta mematuhi arahan pemandu menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko konflik.

Memahami perilaku alami komodo menjadi kunci agar manusia dapat hidup berdampingan dengan predator purba yang hanya ditemukan di Indonesia ini. Sekaligus, memastikan upaya konservasi tetap berjalan tanpa meningkatkan risiko bagi masyarakat maupun wisatawan.

Foto utama: Komodo merupakan satwa liar dilindungi. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

 

Kisah Indah Bulan, Orangutan Korban Perdagangan yang Menjadi Induk di Alam Liar

Editor 11 Jul 2026

Setelah lebih satu dekade sejak diselamatkan dari perdagangan satwa liar, Bulan akhirnya menorehkan kisah yang menjadi harapan baru bagi konservasi orangutan sumatera. Orangutan betina yang pernah menjalani rehabilitasi panjang ini melahirkan seekor bayi di habitat alaminya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar.

Bayi jantan yang kemudian diberi nama Badar itu, menandai sebuah tonggak penting bahwa individu hasil rehabilitasi tidak hanya mampu bertahan hidup di alam liar, tetapi juga berkembang biak secara alami.

Kelahiran Badar merupakan ke-10 yang terkonfirmasi di kawasan Pelepasliaran Orangutan Jantho sejak program itu mulai pada 2011. Hal ini menunjukkan, orangutan yang berhasil selamat dari konflik dengan manusia, perdagangan ilegal, maupun kepemilikan ilegal dapat melewati rehabilitasi, dan berkembang biak secara alami di habitatnya.

Kelahiran Badar pertama kali dikonfirmasi oleh tim Post Release Monitoring Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)–Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) pada 22 Mei 2026. Saat itu, Bulan terlihat lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain sambil menggendong bayinya yang diperkirakan baru berusia sekitar satu bulan. Bayi tersebut tampak sehat dan terus menempel pada tubuh induknya, sementara Bulan memperlihatkan naluri keibuan yang kuat dengan melindungi anaknya selama beraktivitas di kanopi hutan.

Perjalanan Bulan hingga kembali menjadi induk di alam liar bukanlah hal yang singkat. Ia diselamatkan pada 2014 ketika masih berusia sekitar dua tahun setelah menjadi korban perdagangan ilegal.

Selama lebih dari sepuluh tahun, Bulan menjalani berbagai tahap rehabilitasi untuk mempelajari kembali keterampilan yang dibutuhkan agar dapat hidup mandiri di hutan, mulai dari mencari makan, membangun sarang, hingga menghindari ancaman. Setelah dinilai siap, ia dilepasliarkan ke Cagar Alam Jantho pada 2018.

Keberhasilan Bulan melahirkan menjadi indikator penting keberhasilan program rehabilitasi orangutan. Selama ini, keberhasilan pelepasliaran umumnya diukur dari kemampuan satwa bertahan hidup di habitatnya. Namun, keberhasilan bereproduksi menunjukkan bahwa orangutan tersebut telah benar-benar mampu menjalankan seluruh perilaku alaminya dan berkontribusi pada pemulihan populasi liar.

Kisah Bulan sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap individu orangutan yang berhasil diselamatkan memiliki peluang untuk kembali menjadi bagian penting dari populasi di alam. Di tengah ancaman hilangnya habitat, perburuan, dan perdagangan satwa liar yang masih membayangi orangutan sumatera berstatus Kritis (Critically Endangered), kelahiran Badar menghadirkan secercah optimisme.

Dengan perlindungan habitat yang kuat, penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar, dan pemantauan jangka panjang terhadap individu hasil rehabilitasi, semakin banyak kisah seperti Bulan yang diharapkan dapat terulang di masa depan.

Foto utama: Habitatnya hancur, Orangutan sumatera betina ini terjebak dalam kawasan perkebunan sawit di Langkat, Sumatera Utara. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia.

 

Tawa Kera Besar Bantu Ungkap Asal-usul Bahasa Manusia

Editor 10 Jul 2026

Penelitian terbaru mengungkap bahwa manusia dan kera besar memiliki pola tawa yang sangat mirip. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan tawa ritmis bukanlah ciri khas manusia semata, melainkan telah diwariskan dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Commonications Biology pada Juni 2026 ini memberi petunjuk baru tentang bagaimana kemampuan vokal manusia, termasuk bahasa, berevolusi.

Baik manusia maupun kera besar seperti orangutan, gorila, bonobo, dan simpanse menghasilkan tawa melalui siklus napas pendek yang memicu getaran pita suara. Pola tersebut membentuk ritme vokal khas, seperti “ha-ha-ha”, dengan struktur waktu yang serupa di seluruh spesies. Selain sebagai ekspresi emosi, tawa juga berfungsi memperkuat ikatan sosial dan dapat menular kepada individu lain.

Menurut tim peneliti dari Universitas Warwick, Inggris, mempelajari perilaku kera besar merupakan salah satu cara terbaik untuk memahami asal-usul kemampuan vokal manusia. Berbeda dengan bentuk tubuh yang dapat ditelusuri melalui fosil, evolusi suara dan bahasa tidak meninggalkan jejak fisik sehingga perilaku vokal kera besar menjadi petunjuk penting untuk merekonstruksi kemampuan komunikasi nenek moyang manusia.

Tim peneliti berpandangan, perilaku tawa kera besar merupakan fosil dalam bentuk lain. Tawa bukan hanya luapan emosi spontan. Tawa merupakan jejak biologis yang menyimpan rahasia asal-usul bahasa manusia.

Untuk menguji hipotesis tersebut, peneliti menganalisis rekaman tawa empat orangutan, dua gorila, tiga bonobo, empat simpanse, dan empat anak manusia berusia enam bulan hingga tujuh tahun. Hasil analisis menunjukkan seluruh spesies memiliki interval ritmis yang relatif konsisten, memperkuat dugaan bahwa pola dasar tawa diwarisi dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu.

Penelitian ini juga membedakan dua jenis tawa, yakni tawa karena digelitik dan tawa saat bermain. Tawa menggelitik memiliki ritme paling stabil dan dianggap sebagai bentuk dasar koordinasi pernapasan-vokal yang diwariskan secara evolusioner, sedangkan tawa saat bermain lebih dinamis karena dipengaruhi interaksi sosial.

Meski memiliki ritme dasar yang sama, manusia menunjukkan kemampuan vokal yang lebih kompleks. Seiring evolusi, tawa manusia menjadi lebih cepat, lebih bervariasi, dan dapat dikendalikan sesuai konteks, sementara kera besar umumnya tertawa secara spontan. Kemampuan mengontrol vokalisasi ini diyakini menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan bahasa manusia. Peneliti juga menemukan bahwa simpanse dan bonobo, yang secara genetik lebih dekat dengan manusia, memiliki ritme tawa lebih cepat dibanding gorila atau orangutan.

Kera besar merupakan kerabat terdekat manusia dalam keluarga Hominidae yang mencakup orangutan, gorila, simpanse, bonobo, dan manusia. Di Indonesia, orangutan menjadi satu-satunya kera besar yang hidup alami, terdiri atas orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatera (Pongo abelii), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Ketiganya berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN akibat hilangnya habitat. Selain memperkaya pemahaman tentang evolusi manusia, penelitian ini juga menegaskan pentingnya melindungi kera besar sebagai bagian dari warisan evolusi dan keanekaragaman hayati.

Foto utama: Penelitian menunjukkan bahwa pola tawa kera besar seperti gorilla memiliki kesamaan dengan manusia. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

 

Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan

Editor 10 Jul 2026

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman burung pemangsa (raptor) tertinggi di dunia. Kelompok ini mencakup elang, alap-alap, rajawali, hingga burung hantu yang berperan penting sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi habitat bagi banyak spesies menetap (resident), Indonesia juga menjadi jalur migrasi dan wilayah persinggahan penting bagi raptor dari Asia Timur dan Asia Utara, seperti Siberia, Mongolia, Jepang, Korea, Taiwan, dan Tiongkok. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut mendorong tingginya tingkat endemisitas, menghasilkan sejumlah spesies unik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu.

Tedi Setiadi, Sekretaris Jenderal Raptor Indonesia (RAIN), menjelaskan bahwa raptor di Indonesia terbagi ke dalam tiga ordo utama, yakni Accipitriformes, Falconiformes, dan Strigiformes. Dua ordo pertama merupakan burung pemangsa yang aktif siang hari (diurnal), sementara Strigiformes atau burung hantu aktif malam hari (nokturnal).

Perkembangan penelitian raptor di Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam tiga dekade terakhir. Pada awal abad ke-20, kajian masih terbatas pada pencatatan spesimen dan klasifikasi taksonomi oleh para naturalis Eropa. Memasuki pertengahan 1980-an, penelitian mulai menghubungkan keberadaan raptor dengan kondisi habitat serta dampak fragmentasi hutan.

Titik balik terjadi pada 1990-an ketika kondisi kritis elang jawa (Nisaetus bartelsi) mendapat perhatian luas. Sejak saat itu, elang jawa menjadi spesies raptor yang paling banyak diteliti di Indonesia dan menjadi fondasi berkembangnya riset terhadap spesies lain. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah juga meningkat terhadap elang flores (Nisaetus floris), yang menghadapi ancaman konservasi serupa.

Meski penelitian terus berkembang, status konservasi banyak raptor belum menunjukkan perubahan berarti. Elang jawa, misalnya, masih berstatus Genting (Endangered) secara global. Ancaman utama berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan, perubahan iklim yang semakin memengaruhi kondisi ekologis, serta berbagai aktivitas manusia yang meningkatkan tekanan terhadap populasi burung pemangsa. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian saja tidak cukup tanpa perlindungan habitat dan kebijakan konservasi yang efektif.

Teknologi kini turut mendukung upaya konservasi. Jika sebelumnya pemantauan hanya mengandalkan radio telemetri, dalam beberapa tahun terakhir para peneliti mulai menggunakan GPS transmitter untuk melacak pergerakan individu, terutama raptor hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan kembali ke alam. Teknologi ini memberikan data yang lebih rinci mengenai pola jelajah, pemanfaatan habitat, dan tingkat keberhasilan pelepasliaran sehingga mendukung penyusunan strategi konservasi yang lebih baik.

Ancaman lain yang kian mengkhawatirkan adalah perdagangan ilegal yang kini bergeser dari pasar burung ke marketplace dan media sosial, sehingga lebih sulit diawasi. Tingginya permintaan satwa eksotis memperparah kondisi ini, padahal hampir seluruh spesies elang di Indonesia berstatus dilindungi dan hanya boleh dimiliki oleh lembaga konservasi resmi.

Berbagai upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan hukum, melalui penyusunan strategi dan rencana aksi konservasi (SRAK), pemantauan sarang, rehabilitasi satwa sitaan, penangkaran, hingga pelepasliaran ke alam. Pemerintah, BKSDA, balai taman nasional, peneliti, organisasi masyarakat, serta komunitas pengamat burung turut berkolaborasi memperkuat perlindungan raptor. Ke depan, tantangan utamanya adalah memperluas partisipasi publik agar upaya konservasi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Foto utama: Seekor elang jawa remaja di TN Bromo Tengger Semeru. Foto: Heru Cahyono.

 

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.