Dulu, aroma cengkih semerbak dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh, terutama saat musim panen tiba. Petani menjemur bunga cengkih di depan rumah, sementara angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Namun, kini aroma tersebut semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih tidak berbunga, bahkan mati dengan daun yang berguguran dan hanya menyisakan batang kering.
Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, merasakan perubahan itu di kebunnya. Dari 520 pohon yang dia rawat di lahan seluas empat hektar, hanya 40 pohon yang berbunga dan bisa panen tahun ini.
“Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya.
Selama 10 tahun terakhir, Sayuti juga melihat musim panen cengkih tidak lagi berlangsung setiap tahun seperti sebelumnya. Tanaman kini membutuhkan perawatan lebih, termasuk pupuk agar tidak mudah mati.
“Dulu, itu tidak perlu pupuk, kalau sekarang wajib diberi pupuk biar tidak mati,” katanya.
Hendra, petani cengkih lain di Desa Balohan, mengalami kondisi serupa. Dari 35 pohon miliknya, 10 mati. Pohon yang tersisa pun tidak berbunga lebat. Jika sebelumnya satu pohon bisa menghasilkan sekitar 7 kilogram bunga cengkih, tahun ini hasilnya hanya 2 kilogram.
“Sudah sering seperti ini. Habis panen, kemudian kalau masuk musim kemarau, rata-rata banyak pohon yang mati,” kata Hendra.
Penurunan produksi juga dirasakan pengepul cengkih terbesar di Kota Sabang. Tahun ini, Munar, pengepul cengkih hanya menerima sekitar 110 ton, padahal biasanya mencapai 250 ton setiap musim panen.
Perubahan juga terjadi pada siklus panen. Marizal dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang mengatakan, sejak 2000-an, cengkih tidak lagi bisa dipanen setiap tahun secara merata. Kini, panen berlangsung selang setahun dan bergiliran antar-kecamatan.
“Bagi petani, karena masih kurang pengetahuan tentang perubahan iklim, jadi menganggap masa panen seperti itu normal, padahal sudah terganggu oleh perubahan iklim,” katanya.
Selain perubahan iklim, tanaman cengkih juga menghadapi serangan hama penggerek batang, cacar daun, serta jamur akar putih yang dapat membuat tanaman mati. Kondisi kemarau dapat memperparah tanaman yang sebelumnya telah terinfeksi.
Data Stasiun Meteorologi Maimun Saleh menunjukkan curah hujan tahunan di Sabang pada 1981-2025 turun dengan laju 15 milimeter per tahun, sementara suhu udara rata-rata meningkat 0,012 derajat Celsius per tahun. BMKG juga mencatat variabilitas iklim yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Ireng Darwati, peneliti BRIN, cengkih membutuhkan curah hujan sekitar 1.500-3.500 milimeter per tahun dan fase kering sekitar dua hingga tiga bulan untuk berbunga. Jika hujan turun terus-menerus, bunga dapat gagal terbentuk.
“Pucuk tunas yang sudah membentuk bunga akan berubah menjadi daun jika hujan turun terus-menerus,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, petani didorong melakukan perawatan kebun secara lebih intensif. Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, perbaikan pola tanam, serta penggunaan bibit dari pohon induk terpilih menjadi bagian dari strategi adaptasi.
“Penggunaan bibit dari pohon induk terpilih, pemupukan berimbang, sanitasi kebun, pengendalian hama penyakit, dan perbaikan pola tanam tetap menjadi kunci menjaga produktivitas,” kata Ireng.
Foto utama: Kuncup bunga cengkih (Syzygium aromaticum) di kebun Sayuti yang mulai memerah belum menunjukkan bentuk bulat sempurna, menandakan tanaman masih membutuhkan waktu sebelum dipanen. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia