Setiap kali muncul kabar warga atau wisatawan digigit komodo, pertanyaan yang sama selalu mengemuka: mengapa satwa purba ini menyerang manusia?
Banyak orang menganggap komodo (Varanus komodoensis) sebagai predator yang agresif. Padahal, para peneliti menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar kasus justru terjadi karena manusia dan komodo bertemu dalam situasi yang memicu respons alami satwa tersebut.
Komodo merupakan predator puncak yang telah hidup di Kepulauan Komodo, Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, dan sebagian Flores selama jutaan tahun. Mangsa alaminya adalah rusa, babi hutan, monyet, hingga kerbau. Manusia bukan bagian dari menu utama maupun target buruannya.
Lalu, mengapa gigitan ke manusia dapat terjadi?
Menurut para peneliti, komodo umumnya menyerang ketika merasa terganggu, terkejut, atau ketika akses menuju sumber makanannya terhalang. Sebagai predator, mereka tidak menghabiskan energi mengejar sesuatu tanpa alasan. Respons menggigit lebih sering muncul sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri atau mempertahankan sumber daya yang dianggap penting.
Sejumlah kasus yang pernah terjadi menunjukkan pola yang serupa. Ada warga yang digigit saat mencari madu di kawasan hutan Pulau Rinca, wilayah yang relatif jarang dilalui manusia. Komodo di lokasi seperti ini cenderung lebih liar dibandingkan individu yang terbiasa melihat wisatawan.
Kasus lain terjadi ketika seseorang duduk di atas batu yang ternyata menutupi bangkai rusa. Tanpa disadari, orang tersebut menghalangi jalan komodo menuju makanannya. Dalam peristiwa berbeda, seekor komodo yang sedang mengejar kambing justru menggigit manusia yang berada paling dekat setelah mangsanya berhasil lolos.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa komodo tidak secara aktif memburu manusia. Sebaliknya, sebagian besar insiden dipicu oleh interaksi yang terjadi pada waktu dan tempat yang kurang tepat.
Bahaya gigitan komodo sendiri bukan hanya berasal dari kekuatan rahangnya. Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 mengungkap bahwa gigi komodo memiliki bentuk gigi bergerigi seperti gergaji, sehingga bekerja layaknya bilah pisau untuk mengoyak jaringan lunak. Saat menggigit, komodo mampu menyebabkan robekan besar pada kulit, otot, hingga pembuluh darah.
Selain itu, komodo memiliki kelenjar racun di rahang bawah. Racun tersebut membantu menurunkan tekanan darah, menghambat pembekuan darah, dan mempercepat kehilangan darah pada mangsa. Kombinasi antara luka robek dan efek racun membuat satu gigitan saja dapat menjadi sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.
Beberapa kasus gigitan komodo ke manusia beberapa tahun terakhir memunculkan pertanyaan apakah perilaku komodo telah berubah. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa komodo menjadi lebih agresif. Namun, meningkatnya aktivitas manusia di habitat komodo, baik untuk pariwisata maupun aktivitas masyarakat, membuat peluang pertemuan antara manusia dan predator ini menjadi lebih besar.
Sebagai satwa liar, komodo tetap memiliki naluri yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Karena itu, menjaga jarak, tidak mendekati komodo yang sedang makan, tidak memasuki habitat tanpa pendamping, serta mematuhi arahan pemandu menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko konflik.
Memahami perilaku alami komodo menjadi kunci agar manusia dapat hidup berdampingan dengan predator purba yang hanya ditemukan di Indonesia ini. Sekaligus, memastikan upaya konservasi tetap berjalan tanpa meningkatkan risiko bagi masyarakat maupun wisatawan.
Foto utama: Komodo merupakan satwa liar dilindungi. Foto: Rhett Butler/Mongabay.