“Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya,” ujar Muke, perempuan adat Suku Boti.
Di tengah ancaman iklim dan kemarau panjang, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur tetap mandiri dan berdaulat dalam mengelola pangannya.
Kemandirian itu terwujud dari sistem pertanian yang beragam dan tetap menjaga kelestarian alam. Cuaca kini semakin tidak bisa terprediksi, cara mengatasinya, mereka tak hanya menanam jagung tetapi juga sorgum, ubi, labu, pisang, dan kacang. Mereka menanamnya dengan tumpang sari.
“Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo Neolaka, perempuan adat Boti.
Sistem tanam dan panen masyarakat adat Boti juga berstrategi. Dalam satu lahan ladang, mereka menanam berbagai jenis tanaman umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Jika hujan terus menerus, gagal panen, atau terserang hama, masyarakat masih memiliki cadangan pangan lain. Sebaliknya, ketika panen melimpah, mereka menyisihkan sebagian untuk menjadi benih.
Begitu pula saat makanan telah tersaji di piring. Mereka paham kapan harus makan banyak dan makan sedikit. Semuanya tergantung hasil panen, apakah melimpah atau tidak.
Menurut Raja (Usif) Boti, sejak dulu hingga sekarang, mereka tidak mengalami kesulitan mencari makanan karena mereka menjaga alam sekitar. Hal ini terlihat dari tutupan lahan masyarakat Boti yang memang lebih baik daripada wilayah lain.
“Karena alam kasih kita sedikit, kita makan secukupnya. Tetapi kalau alam kasih banyak, yang lain kami simpan,” kata Molo Benu, pemimpin perempuan adat Boti.
Menjaga hutan juga menjadi bagian adat istiadat masyarakat Boti. Mereka melarang adanya penebangan hutan dan melakukan pembatasan dalam pengambilan kayu. Sistem ini menjadi mekanisme konservasi berbasis komunitas. Mereka mengelola dan menjaga hutan secara komunal, seperti menjaga diri sendiri.
Tak hanya hutan, air juga mereka rawat dengan bijak. Dalam kalender adat Suku Boti, ada neon oe atau hari air yang menjadi pengingat untuk menggunakan air dengan bijak seperti tidak mencemarinya dan membuka lahan di sekitarnya.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kie, Agnes Natalya, menyebut suksesnya Masyarakat Adat Boti dalam menghadapi kemarau panjang adalah karena diversifikasi pangan yang baik. Mereka tetap mengandalkan benih lokal dan mengatur pelestarian alam lewat aturan adat.
Siti Maimunah, Direktur Mama Aleta Fund, juga mengatakan adaptasi ekologis berdasarkan pengalaman kolektif berhasil menghadapi ancaman gagal panen.
Akhirnya, tak hanya hutan adat, pengetahuan lokal dalam menjaga pangan, air, dan alam juga perlu dilindungi agar dapat berjalan bersamaan.