Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Tragedi Berdarah, Petugas Keamanan Agrinas Tewaskan Warga Labuhanbatu Utara

Ayat S Karokaro 2 Jul 2026

Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia

Christopel Paino 2 Jul 2026

Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai

Akhyari Hananto 2 Jul 2026
Cerita fitur

Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba

Jaka Hendra Baittri 2 Jul 2026

Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?

Barita News Lumbanbatu 1 Jul 2026
Cerita fitur

Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil

Luh De Suriyani 1 Jul 2026
Semua berita

Berita utama

Tragedi Berdarah, Petugas Keamanan Agrinas Tewaskan Warga Labuhanbatu Utara

Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba

Jaka Hendra Baittri 2 Jul 2026

Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil

Luh De Suriyani 1 Jul 2026

Ketika Korban Tewas di Lubang Tambang Batubara Kaltim Terus Berulang

Yuda Almerio 1 Jul 2026

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Upaya Menyelamatkan Burung Kicau dari Kepunahan

Eko Widianto 20 Mar 2026

Nasib Burung Kicau, Jadi Incaran Perburuan di Alam Liar

Petrus Riski 4 Okt 2025

Studi: Seperti Manusia, Ternyata Burung Kicau Memiliki Selera Lagu yang Berbeda

Abhishyant Kidangoor 30 Apr 2025

Burung-Burung Kicau yang Masih Terus Diburu dan Diperdagangkan Ilegal

Keith Anthony S. Fabro 4 Des 2024

Krisis keanekaragaman hayati Indonesia tersingkap erat melalui lensa jurnalisme investigasi dan konservasi. Di balik pesona suara dan tingginya minat masyarakat terhadap kontes burung, terdapat sisi gelap berupa masifnya perburuan liar, penyelundupan antarpulau seperti jalur Sumatra ke Jawa, hingga pemanfaatan platform digital untuk perdagangan ilegal. Seluruh laporan memotret urgensi penyelamatan satwa, pentingnya pemanfaatan data dalam memantau […]

Nestapa Burung Berkicau Nusantara series

Lebih spesial

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

11 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Ikan Buntal di Belitung Ini Membuka Jejak Sungai Purba yang Hilang Sejak Zaman Es

Akhyari Hananto 30 Jun 2026

Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. “Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,” katanya.

Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, ikan ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimasak untuk konsumsi pribadi, kulitnya yang kasar dipakai untuk mengamplas sampan. Tapi bagi para ilmuwan, ikan buntal air tawar ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: bukti biologis tentang sungai purba yang pernah membentang jutaan tahun lalu, menghubungkan Belitung dengan Kalimantan jauh sebelum kedua wilayah ini terpisah oleh laut.

Menurut jurnal Keim dkk. (2021), ikan buntal air tawar dari genus Pao tersebar dari lembah Sungai Mekong di Indochina hingga Sumatera. Di perairan air tawar Indonesia bagian barat, ada empat spesies yang teridentifikasi: P. bergii di Kalimantan Barat, P. hilgendorfii di Kalimantan Timur, P. leiurus dari Thailand hingga Jawa, dan P. palembangensis di anak-anak Sungai Musi, Palembang. Dari keempatnya, hanya P. bergii dan P. hilgendorfii yang tidak beracun dan aman dikonsumsi.

Yang mengejutkan, spesies di Tebat Rasau justru lebih mirip dengan P. hilgendorfii dari Kalimantan Timur, bukan dengan P. bergii dari Kalimantan Barat yang secara geografis jauh lebih dekat ke Belitung. “Ikan buntal air tawar di Tebat Rasau memiliki morfologi dan etologi pemangsa yang sangat mirip dengan spesies Kalimantan Timur, P. hilgendorfii,” tulis jurnal tersebut. Kemiripan ini terlihat dari bentuk tubuh memanjang hingga bulat telur, posisi mata, serta sifat predator yang agresif, sesuatu yang juga pernah dicatat Nieuwenhuis pada 1900 berdasarkan informasi dari orang Dayak tentang P. hilgendorfii.

Di Tebat Rasau, ikan buntal ini hampir tidak punya predator selain manusia. Nasidi, Ketua Komunitas Adat Tebat Rasau, menyebut bahwa saat membedah perut ikan toman dan gabus, predator utama di rawa ini, mereka belum pernah menemukan ikan buntal di dalamnya. Justru sebaliknya, ikan buntal yang berani memangsa anak-anak ikan toman dan gabus, bersembunyi di antara kumpai sambil menunggu mangsa lewat. “Terdengar tenang, tapi ia perenang cepat, serta agresif saat memangsa,” kata Nasidi.

Pertanyaan yang muncul kemudian: mengapa spesies di Belitung lebih dekat dengan kerabatnya di Kalimantan Timur daripada Kalimantan Barat yang lebih dekat secara geografis? Jawabannya ada di sejarah geologi Pleistosen. Saat permukaan laut jauh lebih rendah, terdapat dua sistem sungai purba besar di Sundaland. Sistem sungai timur mencakup sebagian besar sungai di Kalimantan, sementara sistem sungai barat mencakup Sumatera hingga Mekong, tanpa menyentuh Kalimantan. Tebat Rasau, menurut penelitian ini, adalah bagian yang tersisa dari sistem sungai timur tersebut, yang menjelaskan mengapa ikan buntalnya lebih dekat secara biologis dengan Kalimantan Timur.

Sebagian besar jejak sungai purba ini sudah tenggelam di bawah Laut Jawa sejak akhir Zaman Es, sekitar 11.000 hingga 10.000 SM. Tebat Rasau adalah salah satu sisa yang masih bertahan, ditetapkan sebagai Geosite Belitong UNESCO Global Geopark sejak 2021.

Mengapa Kucing Tidak Pernah Menabrak Dinding di Kegelapan? Jawabannya Ada di Kumisnya

Akhyari Hananto 30 Jun 2026

Pernah memperhatikan kucing berjalan mulus di ruangan gelap tanpa menabrak apa pun, padahal mata manusia di posisi yang sama akan menabrak sofa atau meja? Jawabannya bukan soal penglihatan malam yang lebih baik saja. Jawabannya ada di kumisnya.

Banyak yang mengira kumis kucing hanya pelengkap wajah, detail estetik yang membuatnya terlihat lucu. Padahal di baliknya tersembunyi salah satu sistem sensorik paling canggih di dunia hewan, alat navigasi yang memungkinkan kucing bergerak, berburu, dan bertahan hidup bahkan dalam kegelapan total.

Leonie Richards, kepala praktik umum di Rumah Sakit Hewan U-Vet Universitas Melbourne, menjelaskan bahwa kumis kucing berfungsi sebagai alat navigasi sekaligus petunjuk arah bahaya yang akan terjadi. Secara ilmiah, kumis disebut vibrissae, berasal dari kata Latin vibrio yang berarti bergetar. Helai sensorik serupa juga tumbuh di alis, dagu, dan bagian belakang pergelangan kaki depan, di belakang cakar. “Semua punya sifat sensorik yang dapat membantu kucing mengetahui di mana mereka berada, secara spasial. Kumis menjadi organ sensorik yang ideal,” kata Richards.

Cara kerjanya sederhana tapi sangat efektif. Setiap kali kumis menyentuh sesuatu, perubahan bentuk yang terjadi diteruskan ke mekanoreseptor di folikel pada pangkal kumis. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE (Januari 2023) menjelaskan bahwa vibrissae adalah struktur tipis, meruncing, dan fleksibel yang menjadi sumber informasi sensorik penting bagi banyak spesies mamalia, berbeda dari antena serangga yang memiliki sensor di sepanjang pangkalnya.

Dengan kumis ini, kucing bisa mengetahui apakah tubuhnya cukup kecil untuk masuk ke dalam kotak atau ruang sempit, mendeteksi aliran udara untuk mengetahui kedekatannya dengan dinding atau objek lain di ruangan gelap, dan menemukan jalan tanpa harus melihat dengan jelas. “Semua berkaitan dengan getaran, aliran udara, dan sentuhan,” ujar Richards. Itulah sebabnya kucing bisa berjalan begitu yakin di tengah ruangan yang gelap total, kumisnya sudah “memetakan” objek di sekitarnya sebelum tubuhnya sempat menyentuhnya.

Kumis di bagian belakang cakar punya fungsi spesifik: menutupi titik buta penglihatan jarak dekat ketika kucing sedang menangkap mangsa, memberi gambaran posisi mangsa tepat di bawah kakinya. Kemampuan ini tidak dimiliki anjing. Meski anjing juga memiliki kumis, fungsinya tidak semenonjol, dan mereka tidak punya sensor peraba di belakang kaki seperti yang dimiliki kucing untuk membantu navigasi saat memanjat atau berlari.

Di alam liar, kumis memberi peringatan dini tentang keberadaan mangsa atau musuh potensial. Bagi kucing rumahan, fungsinya lebih sederhana tapi tetap vital: membantu menemukan mangkuk makanan atau mainan favorit di tengah kegelapan malam.

Kumis juga menjadi jendela untuk membaca suasana hati kucing. Kumis yang rileks dan terkulai menandakan kucing tenang dan bahagia. Kumis yang tegak lurus ke depan menandakan kemarahan. Kumis yang menempel kembali ke wajah menandakan ketakutan.

Dalam kasus medis tertentu, seperti abses di pipi, dokter hewan kadang harus memotong kumis untuk mendapatkan area yang bersih. Pemotongan ini tidak menyakitkan karena tidak ada ujung saraf di dalam helai kumis itu sendiri. Tapi kehilangan kumis bisa membuat kucing kebingungan dan sedikit cemas, sampai kumisnya tumbuh kembali dalam beberapa bulan, dan untuk sementara waktu, ia mungkin benar-benar menabrak dinding.

Hewan yang Dikira Anjing Ini Ternyata Satu Keluarga dengan Kucing, dan Lebih Cerdas dari Keduanya

Akhyari Hananto 28 Jun 2026

Ukurannya sebesar anjing gembala Jerman. Mukanya mirip anjing. Cara bergeraknya pun mengingatkan pada anjing. Hampir semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan mengira hyena adalah kerabat dekat anjing. Tapi studi genetik sudah memutuskan sebaliknya: hyena jauh lebih dekat dengan kucing. Dan dari segi kecerdasan, ia melampaui keduanya.

Penelitian Dr. Sarah Benson-Amram dari University of St Andrews menyimpulkan bahwa hyena adalah salah satu hewan terpintar karena kemampuannya mengatasi masalah secara naluri sekaligus kemampuan berhitung. Hyena tutul (Crocuta crocuta), spesies terbesar dan paling umum, memiliki kecerdasan yang kerap disetarakan dengan primata. Mereka bisa memecahkan masalah sederhana, mengenali suara individu dalam kawanan, dan menghitung jumlah penyusup di wilayahnya untuk memperkirakan berapa banyak rekan yang harus dipanggil untuk mengusirnya. Kemampuan berhitung itu juga membantu mereka memutuskan apakah harus menghadapi musuh atau melarikan diri.

Lalu mengapa hyena terlihat seperti anjing jika kekerabatannya lebih dekat ke kucing? Jawabannya adalah evolusi konvergen, proses di mana organisme dari garis keturunan berbeda mengembangkan morfologi yang mirip sebagai respons terhadap tekanan lingkungan yang serupa. Secara filogeni, karnivora terbagi dalam dua superfamili besar: Caniformia yang mencakup anjing, beruang, musang, dan walrus; serta Feliformia yang mencakup kucing, linsang, dan hyena. Hyena satu kelompok besar dengan kucing, bukan anjing. Bahkan anjing ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan panda dibanding dengan hyena.

Pengurutan DNA mempertegas hal ini. Leluhur hyena dan leluhur kucing baru berpisah sekitar 35 juta tahun lalu. Sementara perpisahan leluhur hyena dengan leluhur anjing terjadi jauh lebih lama, sekitar 58 juta tahun lalu.

Saat ini ada empat spesies hyena yang masih hidup. Hyena tutul adalah yang terbesar, dengan kawanan yang bisa mencapai 120 individu. Hyena belang (Hyaena hyaena) mudah dikenali dari surainya yang panjang, tersebar dari Afrika barat laut hingga Asia. Hyena cokelat (Hyaena brunnea) selain memakan bangkai juga mengonsumsi buah-buahan dan bahkan anjing laut di kawasan pesisir. Sementara serigala aard (Proteles cristata), yang paling kecil, hampir sepenuhnya memakan rayap dengan bantuan lidahnya yang panjang, berbeda dari tiga kerabatnya yang memakan daging.

Dalam budaya populer, hyena kerap digambarkan sebagai hewan pengecut dan antagonis. Di alam, perannya justru sebaliknya. Sebagai pemakan bangkai yang efisien, hyena membantu mengurangi penyebaran penyakit seperti antraks, menekan populasi lalat, dan membersihkan bangkai dari ekosistem. Rahangnya yang sangat kuat bahkan mampu meremukkan tulang, menyapu bersih sisa-sisa mangsa yang tidak bisa dimakan predator lain.

Satu hal lagi yang membuat hyena unik: betinanya memiliki pseudopenis yang secara visual menyerupai organ jantan, membuat penentuan jenis kelamin sulit tanpa pengamatan jarak dekat. Sementara jantan tidak memiliki tulang penis sebagaimana anjing dan kucing. Keistimewaan anatomis ini menjadikan hyena subjek penelitian penting dalam studi evolusi organ reproduksi mamalia.

Tersembunyi di Lumpur dan Dahan Bakau, Ular Ini Berbisa dan Tidak Segan Memangsa Ular Lain

Akhyari Hananto 27 Jun 2026

Di hutan mangrove Asia Tenggara, ada ular yang tersembunyi sempurna di dua dunia sekaligus: di dahan rendah di antara dedaunan, dan di permukaan lumpur gelap di bawahnya. Warnanya bervariasi dari hitam legam, hijau gelap, abu-abu, hingga cokelat keunguan, menyatu sempurna dengan akar bakau, lumpur, dan bayangan kontras hutan pesisir. Siang hari ia hampir tidak bergerak, melingkar satu hingga dua meter dari permukaan, menunggu dengan kesabaran yang hampir tidak terlihat.

Namanya ular viper bakau (Trimeresurus purpureomaculatus), atau Mangrove Viper. Dan ia lebih berbahaya dari yang penampilannya sugestikan.

Ular ini termasuk kelompok pit viper dari famili Viperidae, dengan panjang maksimum sekitar 100 sentimeter. Di antara mata dan hidungnya terdapat organ lubang yang sangat sensitif terhadap panas inframerah, memungkinkannya mendeteksi bayangan panas mangsa berdarah panas dalam kegelapan total. Saat malam, ia menjadi pemburu aktif. Saat siang, kamuflasenya adalah senjata utama.

Bisanya bersifat hemotoksik, merusak jaringan sel, pembuluh darah, dan mengganggu sistem pembekuan darah. Selama ini gigitan ular pohon dianggap hanya menyebabkan efek lokal yang ringan. Bukti klinis menunjukkan sebaliknya. Sebuah laporan kasus dari Singapura mendokumentasikan seorang pria berusia 40 tahun yang digigit di tangan kanan oleh ular bakau. “Gigitannya berbisa parah, dapat menyebabkan efek lokal signifikan, seperti pembengkakan luas dan nekrosis jaringan,” tulis Mong dan Tan dalam publikasi mereka di jurnal Wilderness & Environmental Medicine (2016). Pasien akhirnya membaik setelah mendapat enam vial antivenom polivalen India, meski antivenom spesifik untuk ular bakau sendiri tidak tersedia secara lokal.

Persebarannya luas: Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Singapura, Semenanjung Malaysia, dan Indonesia. Hutan mangrove adalah habitatnya yang ideal. Akar-akar bakau yang kompleks menyediakan tempat persembunyian sempurna, sementara ekosistem mangrove yang kaya menyediakan melimpahnya mangsa.

Tapi ada satu perilaku yang lama luput dari perhatian peneliti. Ular bakau dikenal sebagai ular arboreal yang jarang turun ke tanah. Sebuah observasi yang dipublikasikan di jurnal Herpetology Notes oleh Figueroa dan McCleary (2021) mengubah gambaran itu. Di hutan mangrove Pasir Ris Park, Singapura, seekor ular bakau juvenil turun ke lumpur dan memangsa seekor ular lumpur (Fordonia leucobalia). Peristiwa itu mendokumentasikan perilaku ofiofagi, memangsa ular lain, sekaligus membuktikan bahwa viper bakau adalah pemburu oportunis yang jauh lebih fleksibel dari yang diperkirakan. Ketika ada kesempatan, ia tidak ragu meninggalkan pohon dan mengejar mangsa di atas lumpur.

Viper bakau bukan ular yang agresif tanpa alasan. Ia menyerang cepat ketika merasa terancam, dan itulah yang membuatnya berbahaya bagi manusia yang tidak sengaja mendekat di habitat mangrove. Tapi di ekosistem tempat ia hidup, ia adalah predator puncak yang membantu menjaga keseimbangan populasi di salah satu habitat pesisir paling penting di dunia. Tersembunyi di lumpur dan dahan bakau, jarang terlihat, jarang diteliti, tapi selalu ada.

Kucing Adalah Hewan Peliharaan Terpopuler di Dunia, dan Salah Satu Predator Paling Merusak

Akhyari Hananto 27 Jun 2026

Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar.

Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar mamalia setiap tahun, ditambah ratusan juta burung dan reptil. Bukan hanya dari kucing liar, tapi juga dari kucing rumahan yang dibiarkan bebas berkeliaran. Kajian U.S. Fish and Wildlife Service mengaitkan kucing dengan kepunahan sedikitnya 33 spesies.

Dampak paling parah terjadi di ekosistem pulau, di mana fauna berevolusi tanpa predator seperti kucing sehingga tidak punya pertahanan alami. Numbat di Australia Barat kini tersisa kurang dari 1.000 individu, dengan predasi kucing sebagai ancaman utama. Burung kakapo di Selandia Baru bertahan berkat upaya konservasi masif tapi tetap rentan. Di Tasmania, seekor kucing yang masuk ke fasilitas penangkaran burung beo perut oranye pada 2013 membunuh beberapa individu dari spesies yang sudah sangat tertekan.

Ancaman dari kucing tidak hanya soal predasi langsung. Kucing adalah inang utama parasit Toxoplasma gondii. Di Hawaii, parasit ini berkontribusi pada kematian burung nene dan anjing laut biksu Hawaii. Di Florida, wabah leukemia kucing menyerang macan kumbang Florida pada 2000-an. Di Eropa, kawin silang kucing liar Skotlandia dengan kucing rumahan mengancam kemurnian genetik spesies liar itu secara perlahan.

Bahkan kehadiran kucing saja sudah cukup mengubah perilaku satwa liar. Penelitian menemukan satwa kecil jauh lebih aktif ketika kucing tidak ada, tapi bersembunyi dan mengurangi aktivitas mencari makan saat kucing ada di sekitar. Dalam jangka panjang, tekanan ini memengaruhi reproduksi dan kelangsungan populasi.

Berbagai strategi pengendalian sudah dicoba, dari program tangkap-steril-lepas hingga kombinasi drone, kamera termal, dan kecerdasan buatan seperti yang diterapkan di Kangaroo Island, Australia. Tapi kunci utamanya tetap pada pemilik kucing. Mengurung kucing di dalam rumah atau membatasi waktu luarnya terbukti menurunkan risiko predasi secara signifikan.

Hewan peliharaan terpopuler di dunia ternyata bisa menjadi ancaman terbesar bagi satwa yang tidak pernah memilih untuk hidup berdampingan dengannya. Dan setiap keputusan kecil pemilik kucing, apakah membiarkan kucingnya keluar atau tidak, punya konsekuensi yang jauh lebih luas dari yang pernah mereka bayangkan.

Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun

Akhyari Hananto 26 Jun 2026

Eli Ernawati tidak pernah mendapat pelatihan dari pemerintah. Tidak ada modal dari bank, tidak ada pendampingan dari dinas pertanian. Setiap hari ia memilah kepiting hasil panen suaminya di rumah berdinding batako di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Sebagian dijual ke pengepul, sebagian ke pembeli tetap. Dari aktivitas rumahan itu, ia membiayai beras, listrik, dan ongkos sekolah tiga anaknya. “Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah,” katanya.

Tidak jauh dari rumah Eli, Jamil berdiri di bibir tambaknya setiap sore, menebar cacahan ikan rucah dan kepala ayam ke beberapa sudut kolam. Riak air pecah, capit muncul lebih dulu, lalu tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. Kepiting bakau yang ia besarkan dari ukuran kecil mulai aktif makan. “Kami belajar sendiri. Kalau gagal ya rugi sendiri,” katanya, tertawa kecil.

Itulah gambaran sektor kepiting bakau di pesisir Lombok Timur: menghidupi banyak keluarga, tapi berjalan hampir sepenuhnya tanpa dukungan negara yang berarti.

Model yang dijalankan Jamil sebenarnya cerdas secara ekologis maupun ekonomis. Kepiting kecil hasil tangkapan nelayan yang belum layak jual ditampung di tambak, dibesarkan selama beberapa bulan, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Nelayan tetap punya pasar, kepiting kecil tidak langsung habis diambil dari alam, dan nilai jual meningkat signifikan. “Kalau langsung dijual kecil, harganya murah. Kalau dibesarkan dulu, nilainya beda,” katanya.

Yang membuat budidaya ini lebih menarik adalah kesesuaiannya dengan konservasi mangrove. Kepiting bakau tidak nyaman di air jernih. Ia butuh lingkungan menyerupai muara alami: air payau, sedikit keruh, kaya bahan organik. Akar mangrove menyediakan tempat berlindung, meningkatkan oksigen terlarut, menstabilkan suhu, dan menghasilkan bahan organik yang menjadi pakan alami mikroorganisme di tambak. “Kalau ada mangrove-nya, kepiting akan berdesakan cari tempat berlindung di situ,” kata Herman, Ketua Pokmaswas Sugian.

Dari sini muncul model silvofishery, menggabungkan tambak dengan penanaman mangrove dalam satu kawasan. Model ini bisa menjadi contoh ekonomi biru yang nyata: pendapatan masyarakat tumbuh, mangrove pulih, tekanan terhadap populasi kepiting liar berkurang.

Tapi potensi itu belum mendapat kebijakan yang sepadan. Mastur, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur, mengakui potensinya besar tapi menyebut keterbatasan kewenangan sejak UU Nomor 23 Tahun 2014 memindahkan pengelolaan pesisir ke provinsi sebagai kendala intervensi langsung. Akibatnya, pengembangan kepiting bakau berjalan atas inisiatif warga sendiri, tanpa peta jalan yang jelas, tanpa sentra budidaya yang ditata, dan tanpa integrasi dengan program rehabilitasi mangrove.

Rantai pemasaran pun masih dikuasai pengepul. Petambak berada di posisi tawar lemah, harga di tingkat warga bisa jatuh ketika pasokan melimpah sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi.

Pemerintah Provinsi NTB menargetkan rehabilitasi mangrove 2.000 hektar bekerja sama dengan Jepang. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim menyebut habitat yang pulih akan mengembalikan kepiting ke ekosistemnya. “Kalau habitatnya bagus, maka kepiting juga akan kembali.”

Tapi warga Sugian membutuhkan lebih dari sekadar mangrove yang ditanam. Mereka butuh pelatihan teknis, akses modal, penguatan koperasi, dan keberpihakan kebijakan yang konkret. Selama itu belum ada, kepiting bakau akan terus menghidupi keluarga-keluarga pesisir Lombok dengan cara yang sama seperti Eli dan Jamil: otodidak, mandiri, dan tanpa jaring pengaman jika gagal.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.