Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Apakah Harimau Sumatera Baik-baik Saja di Hutan Leuser?

Falahi Mubarok dan Junaidi Hanafiah 18 Jun 2026

Hotel Ramah Energi Masih Minim di Yogyakarta

Triyo Handoko 18 Jun 2026
Cerita fitur

Hutan Hilang dan Ancaman Bencana Dampak Tambang Emas Ilegal di Sumbar

Novia Harlina 18 Jun 2026

Opini: Kesepakatan Dagang Timbal Balik atau Pesta Mineral Kritis Amerika Serikat?

Muhamad Karim* 18 Jun 2026

Inilah Penyebab Punahnya Manusia Purba dan Gajah Kerdil Flores

Nuswantoro 17 Jun 2026
Cerita fitur

Mengapa Tambang Batubara Ilegal Marak di Banjar?

Rendy Tisna 17 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Hutan Hilang dan Ancaman Bencana Dampak Tambang Emas Ilegal di Sumbar

Mengapa Tambang Batubara Ilegal Marak di Banjar?

Rendy Tisna 17 Jun 2026

Harapan Baru Perempuan Pengelola Hutan di Nusa Tenggara Timur

Ebed de Rosary 17 Jun 2026

Ke Mana Air Itu Mengalir? Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu

Aziz Fardhani Jaya * 16 Jun 2026

Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik

Onrizal * 16 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende

Taufik Wijaya 12 Jun 2026

Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global

Nuswantoro 4 Jun 2026

Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan

Triyo Handoko 22 Mei 2026

Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua

Akhyari Hananto 18 Mei 2026

Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat […]

Ancaman Nyata El Nino Godzilla series

Lebih spesial

10 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
9 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Dilarang Dikunjungi Manusia, Pulau Ini Dihuni Ribuan Ular yang Bisanya Bisa Jadi Obat

Akhyari Hananto 18 Jun 2026

Dari jauh, Ilha da Queimada Grande tampak seperti pulau tropis biasa di lepas pantai Brasil: hutan lebat, pantai berbatu, dan deburan ombak Atlantik Selatan. Tidak ada bangunan, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jejak manusia. Pemerintah Brasil melarang siapa pun masuk ke sana, kecuali ilmuwan berlisensi yang didampingi dokter.

Tapi larangan itu bukan karena pulau ini tidak menarik. Justru sebaliknya. Di pulau seluas 44 hektare ini hidup antara 2.000 hingga 4.000 ekor Bothrops insularis, ular lancehead emas dengan racun yang bisa membunuh dalam hitungan jam. Dan racun itulah yang kini menjadi incaran para ilmuwan karena menyimpan potensi medis yang sangat besar.

Peneliti dari Instituto Butantan Brasil menemukan bahwa senyawa aktif dalam racun B. insularis memiliki karakteristik unik yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati gangguan pembekuan darah, penyakit jantung, dan berpotensi dikembangkan sebagai terapi kanker. Komponen racunnya mampu memengaruhi sistem peredaran darah dan enzim vital tubuh secara sangat spesifik, menjadikannya bahan penting dalam pengembangan farmasi modern. Tapi untuk mempelajarinya, ilmuwan harus masuk ke pulau yang dilarang, dengan pengawalan dokter, dan risiko kematian yang nyata.

Bagaimana pulau sekecil ini bisa menjadi habitat dengan konsentrasi ular berbisa tertinggi di dunia? Ribuan tahun lalu, naiknya permukaan laut memutus hubungan darat antara Queimada Grande dan daratan utama Brasil. Ular-ular yang tadinya bagian dari populasi Bothrops jararaca terjebak di ekosistem pulau yang sempit, tanpa predator alami dan tanpa mamalia darat sebagai mangsa. Satu-satunya sumber makanan yang tersedia adalah burung-burung migran yang hinggap sejenak di pepohonan.

Tantangannya: burung bisa terbang dan tidak bisa dikejar. Untuk bertahan, ular-ular ini harus berevolusi. Mereka mengembangkan kemampuan memanjat pohon, bersembunyi di antara ranting, dan yang paling krusial, mengembangkan racun yang bekerja sangat cepat. Tidak ada waktu untuk menunggu mangsa melemah. Racunnya harus melumpuhkan dan membunuh secara instan, sebelum burung sempat terbang menjauh. Para ilmuwan menyebut ini hiperevolusi toksin, proses di mana tekanan lingkungan yang ekstrem menghasilkan racun yang sangat efisien sekaligus sangat berbahaya.

Dalam tubuh manusia, efeknya mengerikan. Gigitan B. insularis bisa menyebabkan gagal ginjal akut, pendarahan otak, nekrosis otot, dan kematian dalam kurang dari enam jam. Bahkan dengan perawatan medis cepat, angka kematiannya tetap signifikan.

Pulau ini juga menyimpan kisah-kisah kelam. Yang paling terkenal adalah tragedi keluarga penjaga mercusuar di awal 1920-an: seluruh anggota keluarga tewas digigit ular saat mencoba melarikan diri ke perahu penyelamat. Sejak itu, mercusuar diotomatisasi dan tidak pernah lagi dijaga manusia.

Di balik semua itu, ada ironi yang jarang dibicarakan. Bothrops insularis kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN, dengan penurunan populasi diperkirakan mencapai 50 persen dalam 15 tahun terakhir, akibat perburuan ilegal, kebakaran, dan kerusakan vegetasi. Seekornya bisa dihargai hingga USD 30.000 di pasar gelap. Tapi spesimen hasil penyelundupan tidak bisa digunakan dalam penelitian resmi karena laboratorium sah tidak akan mengambil risiko etik dan legal.

Seperti yang dikatakan para peneliti: racunnya menjanjikan, tapi tanpa sains, ia hanya racun biasa. Dan sains tidak bisa bekerja jika spesimennya diambil oleh penyelundup sebelum ilmuwan sempat menelitinya.

Seekor Bothrops insularis, atau lancehead emas, sedang menggulung tubuhnya di fasilitas konservasi Instituto Butantan, São Paulo. Ular ini hanya ditemukan secara alami di Ilha da Queimada Grande dan dikenal memiliki racun mematikan yang berevolusi secara unik akibat isolasi ekosistem. Foto: Miguelrangeljr / Wikimedia Commons

Koloni Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan di Tempat yang Tidak Pernah Kena Sinar Matahari

Akhyari Hananto 18 Jun 2026

Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap.

Temuan ini diterbitkan di jurnal Subterranean Biology tahun 2025 oleh tim yang dipimpin István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania.

Gua itu bernama Sulfur Cave, bagian dari sistem gua bawah tanah di Lembah Sarandaporo. Di dalamnya, air panas kaya belerang terus keluar dari dasar bumi. Gas hidrogen sulfida yang memenuhi udara gua bersifat beracun bagi manusia, kadar oksigennya rendah, dan tidak ada cahaya sama sekali. Tapi justru kondisi itulah yang menopang seluruh ekosistem di dalamnya.

Rantai makanannya dimulai dari bakteri pengoksidasi sulfur yang memanfaatkan gas H₂S sebagai sumber energi, membentuk lapisan biofilm di dinding dan dasar sungai gua. Lapisan ini dimakan larva lalat kecil dari keluarga chironomid. Ketika dewasa, lalat-lalat itu beterbangan dalam kawanan padat di atas aliran air belerang yang hangat, menyediakan sumber makanan konstan bagi laba-laba yang menempel di dinding. Tidak ada bahan organik dari luar yang masuk dalam jumlah berarti. Ekosistem ini sepenuhnya mandiri dari sinar matahari.

Dua spesies yang membangun koloni ini, Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans, umumnya hidup soliter. Di Sulfur Cave, keduanya hidup berdampingan tanpa konflik, berbagi ruang dan mangsa. Kepadatan mencapai rata-rata 650 individu T. domestica dan 800 individu P. vagans per meter persegi. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai “kolonialitas fakultatif”, kemampuan spesies soliter untuk beralih hidup berkelompok ketika kondisi lingkungan memungkinkan.

Adaptasi mereka tidak hanya pada perilaku. Analisis genetik menunjukkan bahwa populasi T. domestica di Sulfur Cave sudah berbeda DNA-nya dari populasi permukaan, tanpa pertukaran individu antara keduanya. Mikrobioma laba-laba gua lebih sederhana dari kerabat mereka di luar, didominasi bakteri Wolbachia dan Mycoplasma yang membantu inang beradaptasi dengan kekurangan oksigen dan paparan senyawa beracun.

Pola reproduksinya pun berbeda. Betina menghasilkan rata-rata hanya 16 butir telur per kantung, lebih sedikit dari populasi permukaan, tapi ukuran telurnya lebih besar. Jumlah telur meningkat hampir dua kali lipat di awal musim panas dibanding musim dingin, menunjukkan bahwa meski hidup di gua tertutup, siklus reproduksi mereka masih dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan luar.

Koloni di Sulfur Cave memperlihatkan bahwa ekosistem kompleks bisa terbentuk tanpa cahaya matahari sama sekali. Yang dibutuhkan hanya sumber energi alternatif, dalam hal ini kimia belerang, dan waktu yang cukup bagi makhluk hidup untuk menyesuaikan diri. Dua syarat yang rupanya sudah terpenuhi jauh di bawah perbatasan Albania dan Yunani.

Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya

Akhyari Hananto 14 Jun 2026

Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut.

Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, menyentuh air laut.

Bukan karena ia bukan ular laut sungguhan. Ia adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae, berkerabat dekat dengan ular laut pita biru yang hidup di samudra. Tapi seluruh hidupnya, dari lahir hingga mati, dihabiskan di dalam danau air tawar ini. Tidak ada perjalanan ke laut. Tidak ada air asin. Tidak ada jalan pulang ke lautan tempat leluhurnya berasal.

Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya ada di geologi, dan di sebuah letusan gunung berapi pada 1754.

Saat itu, runtuhnya ruang vulkanik membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalam kaldera yang terbentuk. Termasuk nenek moyang ular laut garman. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Makhluk-makhluk laut yang terjebak hanya punya dua pilihan: beradaptasi atau punah. Nenek moyang H. semperi memilih yang pertama.

Adaptasinya tidak sepele. Ular laut pada umumnya memiliki kelenjar garam sublingual yang aktif untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Pada H. semperi, kelenjar itu masih ada tapi hampir tidak aktif karena tidak lagi diperlukan. Secara genetik, penelitian mengonfirmasi bahwa seluruh proses isolasi dan adaptasi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat secara geologis.

Ada spesies lain yang sering dibandingkan dengannya: ular laut crocker (Laticauda crockeri) dari Kepulauan Solomon, yang juga tidak hidup di laut terbuka. Tapi perbedaannya fundamental. Ular laut crocker mendiami air payau dan masih bisa naik ke daratan. H. semperi adalah ular laut sejati yang benar-benar memutus seluruh hubungannya dengan lautan, satu-satunya di dunia yang melakukan lompatan fisiologis se-ekstrem itu.

Tapi keunikan evolusioner itu kini menjadi kerentanan. IUCN menetapkan statusnya sebagai Rentan karena seluruh populasinya hanya ada di satu tempat: Danau Taal. Dan danau itu berada di atas gunung berapi yang masih sangat aktif. Satu letusan besar bisa memusnahkan seluruh spesies ini dalam sekejap.

Ancaman dari manusia menambah tekanan. Pertambakan ikan nila yang masif, pencemaran limbah pertanian, dan eutrofikasi yang menurunkan kadar oksigen di danau mengancam kesehatan ekosistem dan ketersediaan mangsa utama ular ini, yaitu ikan gobi dan belut.

Di danau vulkanis yang tampak tenang itu, seekor ular laut menjalani hidupnya tanpa pernah tahu seperti apa rasanya laut. Ia adalah produk dari bencana geologi yang mengubah nasibnya untuk selamanya, dan kini menghadapi ancaman baru yang jauh lebih sulit dihindari dari letusan mana pun: kerusakan perlahan yang datang dari tepi danau itu sendiri.

Hydrophis semperi adalah satu-satunya ular laut sejati yang berhasil beradaptasi penuh di danau air tawar | Foto oleh Oceana Filipinas

Ikan Kaca: Ikan Aneh dari Papua yang Jantan Mengerami Telur di Kepalanya

Akhyari Hananto 14 Jun 2026

Di sungai-sungai berair gelap dan rawa bakau di selatan Papua, hidup seekor ikan yang sulit dijelaskan dengan singkat. Tubuhnya pipih dan tinggi seperti belah ketupat memanjang, sisi kanan dan kirinya berkilau perak seperti kaca. Tapi yang paling aneh bukan penampilannya, melainkan caranya bereproduksi: sang jantan mengerami telur-telurnya di atas kepalanya sendiri, pada sebuah tonjolan tulang berbentuk kail yang melengkung di dahi.

Karena perilaku itulah ia mendapat dua nama sekaligus: ikan kaca, karena kilaunya, dan ikan perawat, karena kesetiaan sang jantan menjaga telur hingga menetas.

Nama ilmiahnya Kurtus gulliveri castelnau, dideskripsikan pertama kali pada 1878 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Thomas Allen Gulliver, pegawai pos dan telegraf Australia yang tinggal di dekat Sungai Norman, Teluk Carpentaria. Nama itu sekaligus menjadi petunjuk tentang sejarah biogeografis ikan ini: ia tidak hanya hidup di Papua, tapi juga di Australia bagian utara, khususnya di Sungai Adelaide, Northern Territory.

Kesamaan fauna antara Papua dan Australia bukan kebetulan. Hari Suroto, peneliti arkeologi BRIN, menjelaskan bahwa sekitar 17.000 tahun lalu, ketika permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang, Australia dan Papua menyatu dalam satu daratan yang disebut Sahulland. Fauna dari kedua wilayah bergerak bebas melintasi daratan yang kini sudah tenggelam. Ikan kaca adalah salah satu warisan hidup dari masa itu, spesies yang masih mendiami kedua sisi dari bekas benua yang sama.

Di Papua, ikan ini tersebar luas di Sungai Digul, Sungai Maro, Sungai Mappi, dan berbagai sungai serta rawa di Kabupaten Boven Digoel, Merauke, Mappi, Asmat, hingga Fakfak. Penelitian di Sungai Digoel dan muara Sungai Maro menunjukkan kelimpahan yang tinggi, dengan ikan kaca mencatat nilai kelimpahan relatif tertinggi di antara semua spesies yang ditemukan di muara Sungai Maro, yaitu 23,08 persen.

Tonjolan di kepala jantan bukan sekadar ornamen. Para peneliti menduga struktur itu adalah adaptasi terhadap lingkungan dengan oksigen rendah dan kekeruhan tinggi, kondisi khas sungai gambut dan rawa bakau Papua. Telur yang diletakkan pada kail tulang di dahi berdiameter 2,1 hingga 2,5 milimeter, dibawa sang jantan hingga menetas. Setelah menetas, larva hidup di permukaan air dengan kantung kuning telur besar, tubuh hampir sepenuhnya transparan, dan kepala yang relatif besar dibanding badannya.

Bagi masyarakat Suku Asmat, Muyu, dan Marind, ikan kaca adalah sumber pangan yang ditangkap secara tradisional menggunakan jaring atau pancing. Etnis Muyu di Boven Digoel mengolahnya menjadi ikan asin dan menjualnya ke Merauke. Di Kampung Mitimber, Fakfak, warga menyebutnya ikan giti-giti.

Tapi habitat ikan ini kini terancam. Penambangan emas ilegal di hulu sungai mencemari air dengan logam berat. Penebangan liar di sepanjang sungai pedalaman Papua membuat air keruh oleh lumpur. Ikan yang sudah bertahan sejak zaman Sahulland, sejak Papua dan Australia masih satu daratan, kini menghadapi ancaman yang jauh lebih baru dan jauh lebih destruktif dari apapun yang pernah ada sebelumnya.

Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa

Akhyari Hananto 12 Jun 2026

Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda.

Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di ketinggian kanopi dan jarang sekali terlihat manusia. Dan justru keindahan transformasinya itulah yang membuatnya menjadi incaran pedagang satwa.

Muh. Imam Ramdani dari komunitas Bogor Nature Wildlife Photography pertama kali menjumpainya secara tak terduga, saat hujan deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tim pengamat sedang bergerak pulang lebih awal demi keselamatan ketika sorot lampunya menangkap seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. “Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,” kata Imam. Malam itu, ular berada lebih rendah dari biasanya, bukan di ketinggian 10 hingga 20 meter seperti umumnya, kemungkinan sedang mencari mangsa.

Sanca pohon hijau utara adalah predator penyergap yang mengandalkan kesabaran. Nokturnal, hampir tidak bergerak saat menunggu, dan menyerang dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Tidak berbisa, dan cenderung menghindari manusia. Tapi persepsi masyarakat terhadapnya masih didominasi rasa takut. “Semua jenis ular dianggap bahaya,” kata Imam.

Secara ilmiah, Morelia azurea baru diakui sebagai spesies tersendiri sekitar 2019, dipisahkan dari Morelia viridis melalui publikasi ilmiah internasional yang menemukan perbedaan signifikan pada populasi di wilayah utara Papua. Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbarui pada 2018, sebelum pemisahan taksonomi itu terjadi. Secara administratif, ada kemungkinan spesies ini belum sepenuhnya tercakup dalam perlindungan hukum yang berlaku.

Celah hukum itu bertemu dengan tekanan perdagangan yang nyata. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut permintaan domestik untuk sanca hijau masih kerap dipenuhi dari tangkapan alam liar secara ilegal. Ironisnya, satwa hasil tangkapan liar justru memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih rendah dibanding hasil penangkaran, lebih rentan terhadap penyakit, dan lebih sering mati sebelum sempat beradaptasi. “Yang dalam negeri ini rata-rata masih diambil dari alam secara ilegal, padahal ini jenis dilindungi,” kata Amir.

Data populasi di alam liar pun hampir tidak ada. Perilaku nokturnal dan kecenderungan diam membuat survei konvensional sangat sulit dilakukan. “Yang kita butuhkan sekarang itu baseline data populasi, tapi itu tidak mudah didapat,” ujar Amir. Dokumentasi visual dari fotografer lapangan seperti Imam menjadi salah satu alternatif untuk memetakan distribusi spesies, meski harus disertai kehati-hatian agar lokasi tidak disalahgunakan pemburu.

Lahir kuning di kanopi hutan Papua, tumbuh hijau dan nyaris tak terlihat, lalu diburu sebelum ilmu pengetahuan sempat benar-benar memahaminya. Itulah lingkaran hidup Morelia azurea di Indonesia hari ini: spesies yang baru saja mendapat nama ilmiahnya sendiri, tapi belum mendapat perlindungan hukum yang memadai, sementara pemburunya sudah lama tahu di mana mencarinya.

Bakas Mati di Kandang, dan Harimau Sumatera Semakin Dekat ke Jurang Kepunahan

Akhyari Hananto 12 Jun 2026

Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi.

Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau racun. Ia mati dalam proses penyelamatan yang seharusnya melindunginya.

Forum HarimauKita (FHK) menyebut perilaku Bakas bukan tindakan bunuh diri, melainkan reaksi stres ekstrem akibat gangguan sekitar. Harimau adalah satwa yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, suara, dan kontak visual. “Pelanggaran prinsip dasar kesejahteraan satwa, seperti bebas dari ketakutan dan tekanan, dapat menyebabkan stres fatal,” kata Iding Achmad Haidir, Ketua FHK. FHK juga menyoroti minimnya informasi tentang tahapan pemindahan Bakas, termasuk apakah sedasi dilakukan dengan benar dan siapa yang bertanggung jawab secara medis.

Kematian Bakas bukan sekadar kehilangan satu individu. Dalam konteks populasi harimau sumatera yang sudah sangat kecil, setiap individu adalah aset genetik yang tidak tergantikan. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, dan populasinya terus tertekan dari berbagai arah.

Data FHK menunjukkan dari 2018 hingga 2024, sebanyak 17 individu harimau ditemukan mati, umumnya akibat jerat atau racun. Angka itu belum termasuk yang diperdagangkan secara ilegal. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Selama dua dekade terakhir, Sumatera kehilangan tutupan hutan akibat pembalakan, perluasan perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Di Aceh saja, kehilangan tutupan hutan pada 2024 mencapai 10.610 hektar, naik 19 persen dari tahun sebelumnya.

Populasi terbesar harimau sumatera diperkirakan masih bertahan di Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh dan Sumatera Utara, serta Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi. Kedua kawasan ini menjadi benteng terakhir karena masih memiliki betina produktif dalam jumlah yang cukup. Di luar itu, sebagian besar populasi hidup terisolasi di fragmen-fragmen hutan kecil yang dikepung perkebunan dan jalan. “Dengan populasi sekecil itu, kehilangan satu betina dewasa bisa mengganggu kelangsungan genetik,” kata Iding.

Ketika habitat rusak, harimau terpaksa turun ke ladang dan desa. Konflik dengan manusia meningkat, dan penanganan konflik itulah yang membawa Bakas ke kandang yang menjadi tempat kematiannya. Lingkaran yang sulit diputus tanpa kebijakan yang lebih serius.

Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera terakhir berlaku untuk periode 2007 hingga 2017. Sudah hampir satu dekade kedaluwarsa. “SRAK harus segera diperbarui agar bisa menjadi dasar kebijakan dan anggaran yang lebih kuat,” desak Iding.

“Jika tren ini berlanjut, harimau sumatera di alam liar bisa punah dalam beberapa dekade mendatang.” Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah proyeksi ilmiah dari orang yang menghabiskan hidupnya berusaha agar proyeksi itu tidak terbukti. Kematian Bakas adalah pengingat bahwa waktu yang tersisa semakin pendek, dan bahkan upaya penyelamatan pun bisa berakhir dengan kegagalan jika tidak dilakukan dengan benar.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.