Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Lonjakan Tajam Kebakaran Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan

Sarjan Lahay 20 Sep 2026

Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau

Akhyari Hananto 20 Sep 2026

Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia

Christopel Paino 20 Sep 2026
Cerita fitur

Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang

Nurul Hasanah 20 Sep 2026

Kucing Kuwuk Beda dengan Kucing Domestik, Jangan Ditangkap karena Statusnya Dilindungi

Falahi Mubarok 20 Sep 2026
Cerita fitur

Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan

Triyo Handoko 20 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Lonjakan Tajam Kebakaran Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan

sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Nurul Hasanah/ Mongabay Indonesia

Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang

Nurul Hasanah 20 Sep 2026

Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan

Triyo Handoko 20 Sep 2026

Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Tewaskan Belasan Bekantan

Riyad Dafhi Rizki 19 Sep 2026

Ketika Nelayan Ternate 26 Hari Terapung di Samudra Pasifik

Mahmud Ichi 19 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Pala Fakfak, dengan buah lonjong. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

Ke Mana Air Itu Mengalir? Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu

Aziz Fardhani Jaya * 16 Jun 2026

Spesies Baru: Ikan Tanpa Mata Ini Bernama Barbodes klapanunggalensis

Nopri Ismi 27 Feb 2025

Mencari Laba-laba Mata Kecil Jantan Pertama Indonesia di Gua Karst Jonggrangan

Cahyo Rahmadi* dan Sidiq Harjanto** 13 Sep 2024

Karst Sagea Halmahera: Antara Megahnya Gua Bokimoruru dan Ancaman Rusaknya Ekosistem

Aziz Fardhani Jaya * 21 Okt 2023

Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling […]

Jejak Rapuh Gua dan Karst series

Lebih spesial

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Pala Fakfak, dengan buah lonjong. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia

Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak

Akita Verselita 18 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Cara Inklusif Kenalkan Konservasi Gajah Sumatera, Bagaimana Caranya?

Editor 20 Sep 2026

Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya.

Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara tembakan pemburu. Gogo harus melewati hutan, sungai, perbukitan, dan semak belukar untuk menemukan adiknya. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya kembali berkumpul dengan rombongan gajah.

“Di mana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. Anak-anak menjawab serempak, “Di hutan.”

Jawaban sederhana itu membawa pesan penting: habitat alami gajah bukan kebun binatang, melainkan hutan. Melalui cerita, peserta diajak memahami hubungan antara satwa, habitat, dan ancaman yang dihadapi gajah tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran yang berat.

Kegiatan dalam rangka Hari Gajah Sedunia tersebut diselenggarakan oleh Difabel Pecinta Alam atau Difpala, Lingkar Sosial, dan Geopix. Acara juga diisi dengan puisi, nyanyian, pembacaan Al-Qur’an, serta pembagian hadiah kepada anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan.

Menurut Kertaning Tyas, pembina Lingkar Sosial, dongeng menjadi cara menyenangkan untuk menyampaikan pesan konservasi. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang agar penyandang disabilitas dapat berperan aktif dalam edukasi dan pelestarian lingkungan.

“Hari Gajah Sedunia menjadi momentum meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian gajah Indonesia dan habitatnya,” katanya.

Difpala sebelumnya juga mengembangkan program Tuli Mendongeng dengan melibatkan juru bahasa isyarat. Organisasi ini aktif melakukan pendakian, penanaman pohon, dan pembersihan sampah di gunung. Kini, mereka mulai memperluas perhatiannya dari hutan menuju satwa liar dan keseluruhan ekosistem.

Gunung Wedon di Lawang, Kabupaten Malang, bahkan dijadikan pusat edukasi konservasi inklusif melalui program inclusive forest school. Di tempat tersebut, remaja penyandang disabilitas belajar dan bermain bersama di alam.

Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, mengatakan gajah mempunyai peran penting dalam regenerasi hutan. Satwa bertubuh besar ini membantu menyebarkan biji melalui pergerakan dan kotorannya, sehingga kerap dijuluki “petani hutan”.

Selain secara ekologis, gajah memiliki kedudukan penting dalam sejarah, budaya, dan kerajaan di Nusantara. Namun, keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, fragmentasi hutan, konflik dengan manusia, dan perburuan.

Data mengenai jumlah gajah sumatera memang beragam, tetapi seluruhnya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pada 1980-an, populasinya diperkirakan mencapai 2.800-4.800 individu. Forum Konservasi Gajah Indonesia memperkirakan pada 2019 hanya tersisa sekitar 1.087-1.606 individu.

Burhanuddin, pakar konservasi IPB University, menyebut populasi gajah sumatera telah berkurang lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Habitatnya kini terpecah ke dalam sejumlah kantong yang terisolasi di Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung.

Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman juga meneliti data genetik serta penyakit pada gajah jinak. Pemeriksaan menunjukkan banyak gajah sumatera terserang infeksi parasit, bakteri, virus, dan jamur.

Karena itu, perlindungan gajah tidak cukup hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi. Habitat dan koridor pergerakannya yang bersinggungan dengan permukiman, perkebunan, dan kegiatan masyarakat juga perlu dijaga. Melalui dongeng Gogo dan Gigi, konservasi hadir dalam bentuk yang sederhana, inklusif, dan mudah dipahami.

Foto utama: Gajah sumatera jinak di CRU di Aceh, difungsikan untuk meminimalisir terjadinya konflik manusi dengan gajah liar. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Orangutan Tapanuli dan Jembatan Arboreal yang Menyatukan Kembali Hutannya di Batang Toru

Editor 20 Sep 2026

Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia.

Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru menyusut dari 9.958 hektar pada 2004 menjadi sekitar 8.981 hektar pada 2024. Lebih dari 1.700 hektar habitat orangutan dilaporkan hilang dalam dua dekade terakhir.

Koridor tersebut menghubungkan populasi orangutan di blok barat dan timur. Jika konektivitas terputus, pertukaran gen antar individu terganggu dan risiko kepunahan lokal meningkat.

“Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” kata Julius Paolo Siregar dari Yayasan Ekosistem Lestari.

Namun, jembatan arboreal bukan pengganti perlindungan hutan. Jika koridor alami masih dapat dipertahankan, perlindungan dan restorasi habitat tetap harus menjadi prioritas. Jembatan baru dipertimbangkan ketika ruang terbuka, jalan, atau medan terjal tidak dapat diseberangi melalui kanopi alami.

Pengalaman Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa di Kabupaten Pakpak Bharat menunjukkan bagaimana jembatan tersebut bekerja. Tiga kawasan hutan yang dihuni sekitar 350 orangutan sumatera terpisah oleh sejumlah jalan. Sejak 2023, organisasi itu memasang beberapa jembatan kanopi berdasarkan lokasi sarang, pohon pakan, dan kekuatan pohon penyangga.

Selama pemantauan Maret 2025-Maret 2026, sebanyak 14 jenis satwa arboreal menggunakan jembatan tersebut dalam 374 perlintasan. Orangutan baru mencoba jembatan pada Desember 2025. Setelah sempat menginjak ujungnya lalu mundur, individu yang sama akhirnya menyeberang penuh enam hari kemudian.

“Orangutan sangat cerdas dan berhati-hati. Butuh waktu hampir dua tahun sejak pembangunan pertama sampai ada yang berani melintas secara utuh,” kata Lina Rita Silaban dari TaHuKah.

Pemantauan menunjukkan model tangga lebih menarik bagi primata besar, sedangkan tali ganda lebih sering digunakan primata kecil. Keberhasilan juga bergantung pada rapatnya tutupan hutan dan ketersediaan pohon pakan di kedua sisi.

Pemahaman mengenai cara orangutan bergerak juga penting dalam menentukan desain. Nadine Adrianna Sugianto dari Borneo Orangutan Survival Foundation menjelaskan bahwa orangutan liar banyak bergerak dengan menggantung menggunakan tangan dan kaki secara bersamaan. Mereka juga mengayunkan tubuh dan dahan untuk mencapai pohon berikutnya.

Karena itu, jembatan harus memberikan banyak titik pegangan sekaligus tetap lentur. Materialnya juga harus mampu menahan orangutan dewasa dengan berat 30–90 kilogram.

“Nanti untuk skala liar, orangutan dewasa pasti membutuhkan material yang jauh lebih kokoh. Tapi prinsip dasarnya tetap sama: maksimalkan suspensi, meminimalkan kompresi, dan gandakan titik pegangan,” jelas Nadine.

Jembatan kanopi memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan hilangnya habitat. Namun, jika didukung data pergerakan satwa, restorasi hutan, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat, struktur ini dapat menjadi jalan aman yang menyambungkan kembali ruang hidup orangutan.

Foto utama: Induk dan anak orangutan tapanuli yang terpantau langsung di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Sistem Peringatan Dini Bantu Warga Sungai Gelam Cegah Api Berkobar di Lahan Gambut

Editor 19 Sep 2026

Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh.

Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih dari 130 hektar. Sekitar 300 personel darat dan tiga helikopter dikerahkan. Kebakaran baru berhasil dipadamkan sepuluh hari kemudian. Hingga 3 September 2026, KKI Warsi mencatat kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah melampaui 10.000 hektar.

Bagi warga, kebakaran bukan peristiwa baru. Kawasan Hutan Kemasyarakatan Air Merah pernah terbakar hebat pada 2015 dan 2019, lalu kembali terbakar pada 2023, 2024, dan 2026. Degradasi lahan, pembukaan kawasan, perkebunan sawit, dan pembangunan kanal membuat gambut kehilangan kemampuan menyimpan air.

Sri Wilarso Budi, Guru Besar IPB University, mengingatkan bahwa kebakaran sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal karena peringatan kemarau panjang telah tersedia.

“Harusnya kan sudah diantisipasi. Jadi jangan sampai api sudah besar baru semuanya bergerak. Itu akan terlambat.”

Pengelolaan gambut juga tidak dapat dilakukan berdasarkan batas konsesi atau bidang lahan. Kerusakan pada satu bagian dapat mengganggu tata air seluruh kesatuan hidrologis gambut. Sekat kanal seharusnya dibangun sebelum lahan mengering. Setelah gambut kehilangan air, dibutuhkan tiga hingga empat tahun untuk menstabilkan kembali muka airnya.

Pemulihannya bahkan jauh lebih lama. Gambut hanya terbentuk sekitar 0,1-2 milimeter per tahun. Artinya, diperlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk menggantikan lapisan setebal 10 sentimeter yang terbakar.

Untuk menggeser pendekatan dari pemadaman menuju pencegahan, proyek Fincapes memasang dua perangkat peringatan dini berbiaya rendah di HKm Air Merah. Alat tersebut menggunakan sensor untuk memantau asap, suhu, curah hujan, arah angin, kelembapan tanah, dan tinggi muka air. Sirene akan berbunyi ketika kondisi menunjukkan bahaya, sementara datanya dapat dipantau melalui situs web.

Pemulihan juga dilakukan melalui restorasi 47 hektar lahan. Tanaman asli gambut, seperti jelutung rawa, balangeran, dan pulai, disisipkan di antara kebun nanas dan pinang warga. Sebanyak 80.000 bibit akan ditanam melalui berbagai model agroforestri.

Targetnya, pada 2028 Sungai Gelam menjadi model restorasi gambut berbasis masyarakat. Bagi warga yang berulang kali menghadapi api, teknologi ini memberi sesuatu yang sangat berharga: kesempatan mengenali bahaya sebelum asap tipis berubah menjadi kebakaran besar.

Foto: Alat sistem peringatan dini dipasang di Sungai Gelam. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia.

Rahasia Refleks Kilat Kucing Saat Menghadapi Ular

Editor 19 Sep 2026

Seekor kucing tampak mengamati ular yang melingkar di halaman. Tanpa peringatan, ular itu menyambar ke arah hidungnya. Namun, dalam sepersekian detik, kucing melompat mundur sambil menepis serangan menggunakan kaki depan. Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat tanpa tayangan lambat.

Kemampuan tersebut bukan sekadar keberuntungan. Tubuh kucing merupakan hasil evolusi panjang sebagai predator penyergap. Struktur tulangnya lentur, ototnya mendukung gerakan eksplosif, sementara sistem saraf dan indranya mampu memproses perubahan lingkungan dengan cepat.

Menurut Z. Yanikomeroglu, seorang dokter ahli saraf, waktu respons rata-rata manusia berkisar 200–500 milidetik. Kecepatan itu dapat dipengaruhi usia, gangguan perhatian, dan beban kognitif. Sebaliknya, waktu reaksi kucing diperkirakan dapat mencapai 100–120 milidetik.

“Kucing telah berevolusi menjadi predator penyergap. Waktu reaksi mereka, terutama saat menerkam mangsa, jauh lebih cepat dibanding manusia,” tulisnya.

Respons tersebut didukung serat otot berkedut cepat yang memungkinkan kucing menghasilkan gerakan kuat dalam waktu singkat. Selain penglihatan, kucing memanfaatkan pendengaran, posisi tubuh, dan koordinasi motorik untuk membaca pergerakan lawan.

Meski demikian, belum ada penelitian ilmiah yang secara khusus membandingkan kecepatan refleks kucing dan ular. Sejumlah sumber menyebut refleks kucing berada dalam rentang 20–70 milidetik, sedangkan ular sekitar 40–75 milidetik. Namun, angka-angka itu kemungkinan berasal dari pengamatan anekdotal, sehingga belum dapat menjadi kesimpulan ilmiah yang pasti.

Perbandingan keduanya juga tidak sederhana. Serangan ular merupakan gerakan khusus untuk menyambar mangsa atau mempertahankan diri. Sementara itu, refleks kucing melibatkan banyak tindakan, mulai dari menerkam, melompat, menghindar, hingga menepis. Kucing juga membaca berbagai isyarat sebelum ular benar-benar menyerang. Karena itu, gerakan menghindarnya mungkin telah dimulai sejak tubuh ular menunjukkan perubahan posisi.

Keistimewaan refleks kucing juga terlihat ketika jatuh dari ketinggian. Hewan ini terkenal mampu membalikkan tubuh agar mendarat dengan empat kaki. Kemampuan tersebut disebut refleks meluruskan tubuh.

Gerakan itu sempat membingungkan fisikawan karena tubuh yang jatuh seharusnya tidak dapat berputar tanpa gaya eksternal. Gregory J. Gbur, profesor fisika optik di University of North Carolina Charlotte, menjelaskannya melalui hukum kekekalan momentum sudut.

Dengan membungkukkan tubuh, kucing dapat memutar bagian depan ke satu arah dan bagian belakang ke arah berlawanan. Teknik ini disebut “tekuk dan putar”. Cara lainnya adalah “selipkan dan putar”, yaitu mengubah posisi kaki untuk menghasilkan momen inersia sehingga tubuh berputar ke posisi yang diinginkan.

Ekor juga dapat membantu. Saat ekor bergerak ke satu arah, tubuh berputar ke arah sebaliknya. Gbur menyebut mekanisme ini sebagai teknik “ekor baling-baling”.

Namun, keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada fisika. Telinga bagian dalam kucing memiliki sistem keseimbangan yang bekerja seperti giroskop. Organ ini membantu otak mengenali posisi tubuh terhadap gravitasi, kemudian mengirimkan perintah kepada jaringan saraf dan otot untuk memperbaiki orientasi tubuh.

Perpaduan anatomi yang lentur, otot cepat, indera tajam, dan koordinasi saraf membuat kucing mampu bereaksi dalam waktu sangat singkat. Inilah yang membantunya menghindari serangan ular, menangkap mangsa, dan mendarat dengan keempat kaki, kemampuan yang terus membuat manusia kagum terhadap hewan kecil penuh percaya diri ini.

Foto utama: Ular kucing merah (Boiga nigriceps) tersebar di Asia Tenggara. Foto: Wikimedia Commons/Rushenb/CC BY-SA 4.0.

Nasib Orangutan Sumatera yang Terus Menurun Dalam Satu Dekade Terakhir

Muhammad Adhitya* 19 Sep 2026

Riset terbaru dari peneliti Indonesia, Inggris, dan Jerman pada 2021-2023 menunjukkan populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) terus menurun. Tercatat, dalam satu dekade terakhir (2011-2023), sedikitnya ada 19,5% atau 2.700 individu hilang, atau rata-rata 225 individu (1,8%) tiap tahunnya.

Hilangnya habitat menjadi faktor utama menurunnya populasi. Sepanjang 2011-2023, sekitar 94.399 hektar hutan yang menjadi habitat orangutan sumatera hilang, imbasnya  76% variasi penurunan populasi, di seluruh metapopulasi orangutan sumatera.

Serge Wich, salah satu peneliti kontributor menegaskan Ekosistem Leuser tetap menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84% populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat (4.935 individu) dan Leuser Timur (4.926 individu). Kepadatan tertinggi berada di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi.

Selain hilangnya habitat, perburuan, perdagangan liar, konflik manusia-orangutan, turut mengancam populasi. Data pemerintah mencatat, pada 2012-2024 terdapat 319 kasus konflik atau penyelamatan orangutan di Aceh dan Sumatera Utara. Di antaranya, ada penyitaan sebanyak 57 individu dari kepemilikan masyarakat, setidaknya 60%-nya merupakan orangutan di bawah empat tahun.

Menurut peneliti keberadaan bayi orangutan dalam perdagangan ilegal hampir selalu pertanda bahwa induknya telah dibunuh. Temuan lain yang juga mengkhawatirkan adalah sekitar 18% populasi orangutan sumatera tidak hidup di kawasan konservasi (salah satunya Rawa Tripa).

Para peneliti menegaskan perubahan status hutan menjadi kawasan lindung saja tidak cukup, upaya penegakan hukum, pemulihan konektivitas antar-metapopulasi, serta intervensi pada bentang alam yang belum memiliki perlindungan hukum perlu terus dilakukan.

 

Mengenal Melt Re-injection, Saat Perut Supervulkano Kikai Terisi Lagi

Editor 18 Sep 2026

Di dasar laut Kepulauan Ryukyu, Jepang, tersimpan salah satu gunung api paling kuat di Bumi. Namanya Kikai, supervolcano yang sekitar 7.300 tahun lalu menghasilkan letusan dahsyat. Erupsinya memicu megatsunami yang menenggelamkan pulau-pulau di selatan Jepang. Abu vulkaniknya menyelimuti hampir seluruh daratan Jepang, bahkan mencapai Korea Selatan.

Letusan tersebut juga membentuk kaldera raksasa berukuran sekitar 20 x 17 kilometer. Di dalamnya terdapat kubah lava bawah laut yang kini berada pada kedalaman sekitar 600 meter. Namun, letusan sebesar itu ternyata tidak membuat Kikai kehilangan seluruh kekuatannya.

Perlahan, bagian dalam gunung kembali terisi magma. Aktivitasnya kembali terlihat pada 17 Mei 2026, ketika Kikai menyemburkan gas dan abu hingga ketinggian sekitar 400 meter. Erupsi kecil ini memperlihatkan bahwa supervolcano yang pernah meletus dahsyat tidak otomatis mati.

Penelitian yang terbit dalam jurnal Communications Earth & Environment pada Maret 2026 memperkenalkan model melt re-injection. Dalam proses ini, magma baru secara alami masuk kembali ke reservoir besar pada kedalaman dangkal di bawah kaldera. Reservoir tersebut merupakan ruang magma yang sama dengan pemicu letusan Kikai-Akahoya ribuan tahun lalu.

Untuk mendeteksinya, para peneliti menggunakan survei seismik refraksi laut dalam. Metode ini mengukur kecepatan gelombang seismik yang merambat melalui batuan di bawah laut. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang mengandalkan seismik darat atau data geokimia, metode baru ini memungkinkan peneliti mengenali aliran magma segar yang masuk ke dalam reservoir.

Temuan Kikai penting untuk memahami supervolcano lain, termasuk Yellowstone di Amerika Serikat dan Toba di Sumatera Utara. Yellowstone diketahui memiliki reservoir magma dangkal pada kedalaman sekitar 3–8 kilometer. Sementara itu, reservoir magma Toba diperkirakan berada pada kedalaman 5-11 kilometer tepat di bawah kalderanya.

Toba mengalami letusan raksasa terakhir sekitar 74.000 tahun lalu. Erupsi itu melontarkan sekitar 5.300 kilometer kubik material vulkanik dan membentuk kaldera seluas kurang lebih 3.000 kilometer persegi yang kini menjadi Danau Toba. Dampaknya diperkirakan menurunkan suhu rata-rata dunia antara tiga hingga lima derajat Celsius selama bertahun-tahun.

Penelitian menunjukkan bahwa letusan pembentuk kaldera Toba terjadi melalui pematangan termal reservoir magma secara bertahap. Dengan suplai magma rata-rata sekitar 0,008-0,01 kilometer kubik per tahun, volume magma yang berpotensi mengalami erupsi diperkirakan sedikitnya mencapai 315 kilometer kubik.

Kajian lain mencatat Toba telah mengalami empat letusan dahsyat dalam sekitar 1,6 juta tahun terakhir. Setelah kalderanya runtuh, komposisi magma berubah dan reservoirnya berkembang melebar ke samping. Hingga kini, sistem magma tersebut terbukti masih aktif.

Masalahnya, letusan besar Toba sulit diprediksi. Supererupsi tidak selalu didahului tanda-tanda umum seperti peningkatan gempa vulkanik, perubahan bentuk permukaan tanah, pelepasan gas, atau lonjakan suplai magma.

Jika melt re-injection merupakan pola umum pada gunung api pembentuk kaldera, pemantauan Toba perlu dilakukan secara lebih panjang dan menggunakan banyak parameter. Perubahan kecepatan gelombang seismik serta jumlah lelehan magma di bawah permukaan menjadi penting untuk diamati.

Temuan di Kikai mengingatkan bahwa supervolcano yang terlihat tenang tidak berarti telah mati. Jauh di bawah kaldera, magma dapat kembali terakumulasi selama ribuan tahun tanpa memperlihatkan tanda yang jelas di permukaan.

Foto utama: Ilustrasi erupsi Gunung Toba dari jarak 42 kilometer dari Pulau Simeulue. Sumber: Wikipedia Commons/CC BY-SA 4.0.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.