Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Masyarakat Banasu Berupaya Peroleh Penetapan Hutan Adat

Moh Tamimi 10 Agu 2026

Umit dan Peta Global Harimau di Asia Tengah

Nuswantoro 10 Agu 2026
Cerita fitur

Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat

Achmad Rizki Muazam 9 Agu 2026

Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Jamin Hak dan Perlindungan, Koalisi Masukkan 11 Poin Substansi RUU Masyarakat Adat

Themmy Doaly 9 Agu 2026
Cerita fitur

Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat

Irfan Maulana 9 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat

Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat

Irfan Maulana 9 Agu 2026

Petugas Gagalkan Aksi Jual-beli Owa Sumatera via Ojek Online

Ayat S Karokaro 9 Agu 2026
Kampung Suku Laut Air Mas di Pesisir Pulau Tanjung Sauh, Kota Batam. Foto: Yogi Eka Sahputra/ Mongabay Indonesia

Bagaimana Dorong Tata Kelola Laut dan Pesisir Berkeadilan?

Luh De Suriyani 8 Agu 2026

Ekspansi Tambang Nikel Terus Hantui Raja Ampat

Achmad Rizki Muazam 8 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter.

Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan.

Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan SK MenHut No.12/Kpts/II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dan masuk dalam Daftar Merah Spesies IUCN dengan status Rentan (Vulnerable/VU).

Meski berstatus hewan dilindungi, tetapi kepiting kenari kerap diburu dan dijual untuk dikonsumsi. Bahkan harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp800.000 per ekornya.

Di Indonesia, kepiting kenari dapat ditemukan di beberapa wilayah, salah satunya Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, mereka biasa tinggal di lubang-lubang bebatuan di pesisir pantai atau di antara bekas kayu.

Kepiting kenari memiliki ketertarikan kuat terhadap kelapa. Warga Togean bahkan menggunakan potongan daging kelapa sebagai umpan. Potongan itu ditebar di sekitar lubang persembunyian. Saat malam tiba, kepiting akan mencium aroma kelapa, keluar dari lubangnya, lalu memakan umpan tersebut.

Mengapa kepiting kenari begitu menyukai kelapa? Jawabannya ternyata belum benar-benar diketahui. Artikel Mongabay Indonesia mencatat belum banyak penelitian yang menjelaskan alasan di balik kegemaran tersebut. Namun, penelitian di Kepulauan Togean menunjukkan bahwa buah kelapa merupakan umpan paling efektif untuk menariknya keluar dari lubang.

Kemampuan kepiting kenari juga tidak bisa dianggap remeh. Capitnya sangat kuat dan disebut mampu mengangkat beban hingga 29 kilogram. Selain itu, satwa ini mampu memanjat pohon kelapa, kemampuan yang ikut menarik perhatian wisatawan yang datang ke Kepulauan Togean.

Kepiting kenari tersebar di kawasan tropis, mulai dari Afrika hingga kepulauan di Pasifik. Di Indonesia, satwa ini hidup di pulau-pulau karang yang memiliki gua atau lubang sebagai tempat persembunyian.

Perilakunya juga dapat berbeda tergantung keberadaan manusia. Di pulau yang tidak dihuni manusia, kepiting kenari dapat terlihat keluar pada siang hari. Namun, jika hidup berdekatan dengan manusia, mereka lebih banyak keluar pada malam hari.

Sayangnya, ukuran tubuh yang besar dan dagingnya membuat kepiting kenari banyak ditangkap untuk dikonsumsi maupun dijual. Di Kepulauan Togean, harganya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Pembeli dari kota juga memesan kepiting kepada warga.

Akibatnya, masyarakat setempat mengatakan kepiting kenari semakin sulit ditemukan. Penangkapan ilegal juga masih terjadi di sejumlah kepulauan Indonesia Timur, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk dijual ke kota-kota besar dan disajikan di restoran.

Hingga penelitian yang dikutip Mongabay dilakukan, belum ada data pasti mengenai jumlah populasi kepiting kenari maupun banyaknya penangkapan ilegal di pulau-pulau Indonesia Timur.

Upaya pelestarian pun perlu menyasar satwa sekaligus habitatnya. Lubang-lubang yang menjadi tempat persembunyian kepiting tidak boleh dibongkar atau ditimbun. Pengambilannya juga perlu memperhatikan jumlah, ukuran, jenis, kondisi, waktu, serta lokasi.

Dengan ukuran raksasa, capit yang kuat, kemampuan memanjat pohon, dan kegemarannya terhadap kelapa, kepiting kenari memang istimewa. Namun, keunikan itulah yang juga membuatnya banyak dicari manusia.

Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.

Foto utama: Kepiting kenari yang merupakan kepiting terbesar di dunia. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.

Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat.

Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk mencari pasak bumi. Akar tanaman tersebut kemudian direbus sebagai obat penurun panas.

Saat mengambil pasak bumi, Yunani tidak mencabut seluruh tanaman. Ia hanya mengupas sebagian akarnya. Dengan begitu, tanaman tidak rusak dan tetap dapat tumbuh. Bagi Yunani, tumbuhan obat masih banyak tersedia di hutan tempat masyarakat Batin Sembilan tinggal.

Pengetahuan tentang tumbuhan obat sudah dikenalkan sejak kecil dan diwariskan oleh orang tua. Masyarakat mengetahui pasak bumi sebagai tanaman untuk menguatkan tubuh, daun kandis untuk menurunkan demam, serta kulit kayu berumbung yang digunakan untuk mengobati malaria.

Berbagai tumbuhan lainnya juga memiliki kegunaan berbeda. Ketika anak mengalami campak, masyarakat menggunakan kulit sengkuang. Untuk luka akibat parang atau duri, getah dan urat akar sekriput ditempelkan pada bagian yang terluka. Sementara rebusan akar kait-kait digunakan ketika tubuh terasa letih.

Tumbuhan hutan juga hadir dalam kehidupan masyarakat sejak kelahiran. Ketika seorang bayi lahir, perempuan Batin Sembilan mencari kulit kayu terap. Serat kulit kayunya dipintal untuk mengikat ari-ari.

Ada pula tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan spiritual. Buah gendum, sejenis sorgum, merupakan salah satu syarat dalam Besale, ritual penyembuhan dan pembersihan roh yang menghubungkan masyarakat dengan arwah nenek moyang.

Bagi para perempuan Batin Sembilan, pengetahuan mengenai tumbuhan tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan hutan. Mereka mengetahui lokasi tumbuhan obat dan kegunaan berbagai bagian tanaman karena pengetahuan tersebut terus diwariskan dari generasi sebelumnya.

Yunani juga menjadi Ketua Kelompok Tani Hutan Maju Besamo. Sekitar 90 persen anggota kelompok ini merupakan perempuan. Melalui skema kemitraan kehutanan, mereka mendapatkan hak untuk mengelola 399 hektar hutan secara komunal. Hak kelola tersebut berlaku selama 35 tahun dan dapat diperpanjang. Lahan yang dikelola tidak boleh dijual atau dipindahtangankan.

Namun, perubahan kehidupan masyarakat mulai memengaruhi pengetahuan tersebut. Dari sekitar 400 orang Batin Sembilan di kawasan ini, tidak lebih dari 34 orang yang masih mempertahankan pola hidup nomaden. Sebagian besar telah menetap karena ruang jelajah semakin sempit dan hutan mengalami degradasi.

Generasi muda pun semakin jarang masuk ke hutan. Tika, anggota KTH Maju Besamo berusia 21 tahun, mengatakan banyak remaja perempuan kini tidak lagi mengetahui nama dan jenis tumbuhan obat seperti generasi orang tua mereka. Sebagian hanya mendengar tentang tanaman tersebut tanpa pernah ikut mencarinya di hutan.

Inilah alasan para perempuan Batin Sembilan berusaha mempertahankan hutan mereka. Bagi mereka, ketika hutan hilang dan berubah menjadi perkebunan sawit, berbagai sumber kehidupan yang selama ini mereka cari di dalamnya juga ikut menghilang.

Menjaga hutan, bagi perempuan Batin Sembilan, berarti menjaga tempat hidup sekaligus mempertahankan pengetahuan tentang tumbuhan obat agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Artikel asli ditulis oleh Elviza Diana.

Foto utama: Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara Besale yang sakral . Foto: Elviza Diana/Mongabay Indonesia.
Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara adat Besale. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia

Cek Kualitas Ruang Hijau Perkotaan, Cukup Amati Burung

Akhyari Hananto 8 Agu 2026

Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan.

Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan untuk mencari makanan, berlindung, beristirahat, hingga berkembang biak. Karena itu, perubahan kondisi vegetasi di suatu kawasan dapat ikut memengaruhi jenis burung yang mampu hidup di sana.

Menurut Walid Rumblat, Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penyebaran berbagai jenis burung dapat dipengaruhi oleh fragmentasi habitat dan struktur habitat. Burung juga relatif mudah diamati dibandingkan kelompok hewan lain. Data mengenai jenis dan taksonominya pun sudah banyak diketahui.

Namun, menilai kualitas ruang hijau tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah burung.

Jenis burung yang ditemukan juga penting. Burung dengan kebutuhan ekologis yang lebih khusus mendapatkan nilai lebih tinggi dalam penilaian. Salah satu contohnya adalah betet biasa. Sebaliknya, jika sebuah kawasan hanya dihuni burung yang umum dijumpai seperti burung gereja atau emprit, nilainya lebih rendah.

Penilaian tersebut dapat dilakukan menggunakan Indeks Komunitas Burung atau IKB. Sebelum menghitungnya, burung dikelompokkan berdasarkan sejumlah karakter, seperti jenis makanan, asal spesies, strategi reproduksi, lokasi sarang, waktu aktivitas, dan habitat utamanya. Dari nilai IKB kemudian dapat ditentukan kategori kualitas lingkungan.

Burung juga memiliki posisi penting dalam rantai makanan. Jenis yang berada pada tingkat trofik lebih tinggi dapat mencerminkan perubahan yang terjadi pada tingkat di bawahnya. Komposisi komunitas burung juga dapat menunjukkan persaingan antarspesies dalam mendapatkan makanan, ruang, dan lokasi bersarang.

Bukan hanya ruang hijau daratan yang dapat diamati melalui burung. Keberadaan burung air juga dapat digunakan untuk melihat kondisi ekosistem perairan perkotaan, seperti sungai, danau, dan kawasan pesisir.

Keragaman tumbuhan menjadi salah satu unsur penting untuk mendukung kekayaan jenis burung. Semakin beragam struktur vegetasi, semakin tinggi pula peluang hadirnya berbagai jenis burung. Karena itu, ruang terbuka hijau perlu memiliki variasi tumbuhan yang dapat dimanfaatkan satwa.

Beberapa tanaman yang dapat ditanam antara lain buni, salam, dan kembang sepatu. Pemilihan jenis dan bentuk tumbuhan penting karena setiap jenis burung memiliki kebutuhan habitat yang berbeda.

Keberadaan ruang hijau juga penting bagi burung migran dan burung dilindungi, terutama pada ekosistem pantai dan pesisir Jakarta. Kawasan tersebut menghadapi ancaman seperti pencemaran dan perubahan lahan.

Dengan demikian, taman kota yang terlihat hijau belum tentu memiliki kualitas habitat yang sama. Burung dapat membantu memberikan petunjuk. Jika sebuah ruang terbuka hijau mampu menyediakan beragam sumber makanan, tempat berlindung, dan lokasi berkembang biak sehingga dihuni berbagai karakter burung, kualitas lingkungannya juga dinilai lebih baik.

Di kota besar seperti Jakarta, mengamati burung berarti kita sekaligus memperhatikan ruang tempat mereka hidup.

Artikel asli ditulis oleh Falahi Mubarok.

Foto utama: Taman Surapati di Jakarta Pusat yang dilengkapi dengan kandang burung. Foto : smartcity.jakarta.go.id.

Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas

Akhyari Hananto 7 Agu 2026

Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa.

Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Sumedang Bersatu pada 2014, Nana melihat berton-ton ban bekas menumpuk di sana.

TPST tersebut sebenarnya telah mengolah berbagai jenis sampah. Sampah organik dijadikan kompos, sedangkan botol plastik, kaca, kertas, dan sampah bernilai ekonomi dikirim ke pabrik daur ulang. Masalahnya, ban bekas tidak laku dan tidak boleh dikirim ke TPA Talangagung.

Nana kemudian mencari cara lain. Secara otodidak, pada 2016 dia mulai mengubah ban bekas menjadi karya seni berbentuk burung dan serangga. Awalnya, dia menggunakan kayu sebagai rangka. Potongan ban kemudian dianyam dan dikaitkan menggunakan paku serta kawat.

Karya-karya tersebut dipajang di sekitar TPST. Setelah fotonya diunggah ke Facebook, seorang guru dari sekolah Adiwiyata di Kepanjen tertarik membelinya. Pesanan kemudian mulai berdatangan dari berbagai daerah.

Seiring waktu, teknik Nana berkembang. Kayu yang mudah rapuh diganti dengan pipa PVC. Untuk karya berukuran besar, ia menggunakan beton eser sebagai kerangka.

Prosesnya dimulai dengan mengamati bentuk tubuh atau morfologi satwa yang akan dibuat. Nana lalu menggambar satwa tersebut di dinding sesuai ukuran yang diinginkan. Gambar itu menjadi pola untuk menentukan ukuran besi pembentuk rangka.

Kerangka disambungkan menggunakan las listrik. Setelah itu, ban bekas dipotong, disusun, dan dipasang mengelilingi rangka menggunakan sekrup serta kuncian dari ban. Tahap terakhir adalah mengecat replika mengikuti warna alami satwa.

Salah satu tantangan terbesar datang pada 2019, ketika Nana mendapat pesanan replika dinosaurus setinggi enam meter untuk sebuah tempat wisata di Kalimantan. Karya raksasa tersebut menggunakan sekitar 2.000 ban bekas dengan berat total sekitar dua ton.

Saat perancah dilepas, kerangkanya hampir roboh. Nana kemudian mendapat saran dari ahli konstruksi untuk membuat rangka besi dengan model segitiga atau triangle. Hasilnya, konstruksi mampu menopang dua ton ban tersebut.

Kini, karya Nana dipesan dari berbagai daerah di Jawa, Bali, Sumatera, hingga Kalimantan. Replika kecil berukuran 80 sentimeter hingga satu meter dijual sekitar Rp300 ribu-Rp400 ribu. Sementara karya berukuran hingga tujuh meter dapat bernilai sekitar Rp40 juta.

Ironisnya, Nana yang dahulu kewalahan menghadapi tumpukan ban kini justru harus berburu ban bekas untuk memenuhi pesanan. Untuk karya berukuran besar, ia membutuhkan ratusan hingga ribuan ban.

Karya-karya tersebut juga menghiasi Taman Contong di Kepanjen. Replika rajawali, lumba-lumba, jangkrik, semut, penggembala kerbau, dan satwa lainnya ikut mengubah kawasan yang dahulu dikenal kumuh dan menjadi tempat membuang sampah menjadi taman yang digunakan masyarakat.

Dari tumpukan ban yang sulit dimanfaatkan, Nana menunjukkan bahwa sampah memiliki fungsi dan nilai baru ketika bertemu keterampilan plus kreativitas.

Artikel asli ditulis oleh Eko Widianto.

Foto utama: Supriyatna alias Nana warga Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim menunjukkan replika burung paruh bengkok berbahan dasar ban bekas sepeda motor. Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia.

Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan

Akhyari Hananto 7 Agu 2026

Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung.

Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak hidroponik, sedangkan cabai, terong, dan tomat ditanam menggunakan polybag.

Tanaman tersebut dirawat oleh para siswa yang tergabung dalam Green School. Mereka belajar menyiapkan media tanam, membuat pupuk cair, memilih bibit, dan menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Para siswa juga memperoleh pelatihan dari praktisi dan petani hidroponik.

Hidroponik adalah cara menanam tanpa menggunakan tanah. Akar tanaman memperoleh air dan unsur hara dari larutan khusus. Metode ini cocok digunakan di sekolah atau kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas. Botol plastik bekas pun dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam sederhana.

Kegiatan tersebut membuat pelajaran biologi dan lingkungan menjadi lebih mudah dipahami. Siswa tidak hanya menghafal bagian tumbuhan, tetapi juga melihat langsung bagaimana akar menyerap nutrisi, daun melakukan fotosintesis, serta air, cahaya, dan pupuk memengaruhi pertumbuhan.

Hasil panen tidak berhenti di kebun. Sebagian sayuran diberikan kepada siswa tata boga untuk diolah menjadi makanan. Dengan demikian, mereka dapat mengikuti perjalanan pangan dari benih, tanaman, panen, hingga menjadi hidangan.

Pengalaman dari sekolah juga dibawa pulang. Salah satu siswa mulai membantu orang tuanya menanam cabai, terong, melon, dan tomat di halaman rumah. Tanaman dalam polybag tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.

Selain menanam, para siswa mempelajari pengelolaan sampah dengan prinsip 3R: mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sebagian botol plastik digunakan kembali sebagai wadah tanaman. Cara ini menunjukkan bahwa produksi pangan dapat berjalan bersama upaya mengurangi sampah.

SMA Negeri 1 Turen merupakan satu dari 754 sekolah di Jawa Timur yang mengikuti program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan atau SIKAP. Program ini melibatkan lebih dari 110.000 siswa SMA, SMK, dan SLB.

Setiap sekolah didorong memanfaatkan lahan yang tersedia, termasuk lahan sempit atau area yang sebelumnya tidak digunakan. Jenis tanaman dan hewan yang dibudidayakan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing. Selain sayuran, sekolah juga dapat mengembangkan budidaya ikan lele, ayam petelur, atau ternak lainnya.

Dalam kedaulatan pangan, masyarakat perlu memiliki makanan yang cukup dan mudah diperoleh. Sementara itu, kedaulatan pangan menekankan kemampuan masyarakat menentukan cara menghasilkan dan mengelola pangannya sendiri sesuai kondisi setempat.

Sekolah memang tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan masyarakat. Namun, sekolah dapat membekali siswa dengan keterampilan dasar untuk menanam, mengolah, dan menghargai makanan. Mereka juga belajar bahwa pangan tidak langsung muncul di pasar, tetapi membutuhkan tanah atau media tanam, air, waktu, tenaga, dan pengetahuan.

Kebun sekolah pada akhirnya bukan sekadar tempat menanam sayuran. Ia menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan sains, lingkungan, gizi, pengelolaan sampah, dan kewirausahaan. Dari kegiatan sederhana itulah, kemandirian pangan dapat mulai tumbuh.

Artikel asli ditulis oleh Eko Widianto.

Foto utama: SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang terapkan green schol untuk ajari siswa kedaulatan pangan sejak dini. Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia.

3 Cara Unik Hewan Melindungi Diri dari Racunnya Sendiri

Akhyari Hananto 6 Agu 2026

Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri?

Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan kecil lainnya. Zat beracun dari makanan tersebut dikumpulkan dan disimpan di dalam tubuh, lalu digunakan untuk melindungi diri dari pemangsa.

Salah satu jenis racunnya adalah batrachotoxin. Racun ini menyerang saluran natrium, yaitu bagian kecil pada permukaan sel yang bekerja seperti pintu. Pintu ini mengatur keluar-masuknya natrium agar saraf, otot, dan jantung dapat bekerja dengan baik.

Dalam keadaan normal, pintu tersebut akan membuka dan menutup sesuai kebutuhan. Namun, batrachotoxin membuatnya terus terbuka. Akibatnya, aliran natrium menjadi tidak terkendali. Saraf kesulitan mengirimkan pesan, otot tidak dapat berkontraksi dengan normal, dan jantung bisa berhenti bekerja.

Untuk melindungi diri dari racun, hewan memiliki beberapa cara. Cara pertama adalah mengubah bentuk bagian tubuh yang menjadi sasaran racun. Perubahan kecil akibat mutasi genetik membuat racun tidak dapat menempel pada targetnya.

Bayangkan racun sebagai kunci dan protein di dalam tubuh sebagai lubang kuncinya. Jika bentuk lubang kunci sedikit berubah, kunci tersebut tidak lagi cocok. Racun pun gagal bekerja. Mekanisme ini ditemukan pada sejumlah katak beracun.

Cara kedua adalah membuang racun dari tubuh sebelum menimbulkan kerusakan. Kemampuan ini juga dimiliki beberapa hewan yang memangsa satwa beracun. Tubuh mereka dapat memecah, menetralkan, atau mengeluarkan racun yang masuk bersama makanan.

Cara ketiga adalah menyimpan racun dengan aman. Mekanisme ini disebut sekuestrasi. Tubuh hewan menangkap racun dan mengikatnya agar tidak bergerak bebas menuju saraf, otot, atau jantung.

Para peneliti awalnya menduga saluran natrium pada katak Phyllobates telah berubah sehingga kebal terhadap batrachotoxin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa saluran tersebut tetap dapat terkena racun. Jika racunnya sampai ke sana, katak seharusnya juga berada dalam bahaya.

Karena itu, ilmuwan menduga katak menggunakan sejenis “protein spons”. Protein ini bekerja seperti pembungkus yang menangkap dan menahan molekul racun. Dengan cara tersebut, racun dapat dibawa menuju tempat penyimpanan tanpa menyentuh bagian tubuh yang rentan.

Mekanisme serupa ditemukan pada katak Amerika Rana catesbeiana. Katak ini memiliki protein bernama saxiphilin yang mampu mengikat saxitoxin, salah satu jenis racun kuat. Racun yang telah terikat tidak dapat menyerang targetnya dengan mudah.

Meski demikian, bukan berarti hewan beracun kebal terhadap semua racun. Sistem perlindungan mereka biasanya hanya cocok untuk jenis racun tertentu. Jumlah racun yang terlalu besar atau kegagalan sistem penyimpanan tetap dapat membahayakan tubuh mereka.

Jadi, hewan beracun tidak mati karena tubuhnya memiliki sistem pengamanan khusus. Ada yang mengubah sasaran racun, membuang racun, atau mengikat dan menyimpannya dengan aman.

Foto utama: Katak biru beracun ini bernama Dendrobates tinctorius “azureus”. Foto: Wikimedia Commons/Quartl – Own work/CC BY-SA 3.0.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.