Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan.
“Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008.
Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak.
BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan.
“Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat.
Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi.
Analisis WALHI mencatat sekitar 700 hektar tutupan hutan di Kecamatan Batang Barus hilang sepanjang 1995-2024. Di Kabupaten Solok, sekitar 6.000 hektar tutupan hutan berubah menjadi lahan pertanian selama 2000-2024. Tommy menilai kondisi lahan hulu berkaitan dengan kemampuan kawasan menyerap air, menahan erosi, dan menjaga kestabilan tanah. Meski demikian, peran masing-masing perubahan lahan dalam galodo ini masih memerlukan kajian.
Isril Berd, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Sumatera Barat, juga menyoroti lereng yang terjal serta material batuan dan lumpur di hulu. Menurutnya, gabungan kondisi medan dan hujan lebat membuat air serta material dapat bergerak cepat menuju Arosuka. Dia meminta perubahan penggunaan lahan ikut diperiksa tanpa menjadikannya satu-satunya penyebab.
Bagi ahli lingkungan Indang Dewata, upaya mengurangi risiko perlu mencakup reboisasi, pemanfaatan lahan berbasis agroforestri, dan tata ruang yang mempertimbangkan ancaman bencana. Galodo Arosuka meninggalkan pekerjaan mendesak: memulihkan kawasan terdampak sekaligus menilai kembali cara hulu dan daerah aliran sungainya dikelola.
Foto utama: Batu dan lumpur memenuhi area perkantoran usai banjir bandang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia.