Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Menanti Penyelesaian Konflik Agraria Petani Desa Sukajaya

Muhammad Ikbal 16 Agu 2026
Cerita fitur

Warga Rantau Bakula Cari Keadilan sampai ke Jakarta

Rendy Tisna 15 Agu 2026

Anhar Lubis, Sang Penjaga Kehidupan Gajah Sumatera

Junaidi Hanafiah 15 Agu 2026

Bitis gabonica, Ular Berbisa dengan Taring Terpanjang di Dunia yang Menghasilkan Bisa Terbanyak

Akhyari Hananto 15 Agu 2026
Cerita fitur

Ketika Tambang Emas Ilegal di Pohuwato jadi ‘Kuburan Massal’

Sarjan Lahay 15 Agu 2026
Cerita fitur

Mencermati Subsidi Program Biodiesel

Della Syahni 14 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Menanti Penyelesaian Konflik Agraria Petani Desa Sukajaya

Warga Rantau Bakula Cari Keadilan sampai ke Jakarta

Rendy Tisna 15 Agu 2026

Ketika Tambang Emas Ilegal di Pohuwato jadi ‘Kuburan Massal’

Sarjan Lahay 15 Agu 2026

Mencermati Subsidi Program Biodiesel

Della Syahni 14 Agu 2026

Warga Alami Krisis Air Bersih Ketika Hutan Penyangga Padang Rusak

Novia Harlina 14 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove

Falahi Mubarok 13 Agu 2026

Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya

Falahi Mubarok 29 Jun 2026

Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung

Falahi Mubarok 8 Jun 2026

Masih Adakah Ruang Aman untuk Lutung Jawa?

Falahi Mubarok 7 Feb 2026

Ancaman multidimensional kian mengencet keberadaan Trachypithecus auratus (Lutung Jawa) di habitat aslinya, mulai dari maraknya perburuan liar, modus perdagangan ilegal yang merambah platform digital, hingga fragmentasi lahan di berbagai titik Pulau Jawa. Sorotan atas realitas kelam tersebut berjalan berdampingan dengan rekam jejak penyelamatan, proses rehabilitasi, serta aksi pelepasliaran di wilayah konservasi seperti Taman Nasional Bromo […]

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk series

Lebih spesial

13 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Dugaan Korupsi Dana Pakan, Begini Nasib Satwa di Kebun Binatang Surabaya

Editor 16 Agu 2026

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan mantan Direktur Kebun Binatang Surabaya (KBS), Choirul Anwar, sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan pakan satwa periode 2016–2024. Kasus tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian negara sebesar Rp10,2 miliar.

Tersangka diduga menyalahgunakan anggaran Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS untuk pengeluaran fiktif, kepentingan pribadi, dan kebutuhan lain yang tidak sesuai peruntukan. Mencuatnya kasus ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola serta kondisi satwa di kebun binatang milik Pemerintah Kota Surabaya tersebut.

Atta Verin dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia menilai kasus itu menunjukkan lemahnya pengawasan dalam pengadaan pakan. Menurutnya, Pemerintah Kota Surabaya perlu memperbaiki sistem perekrutan, pemantauan, dan evaluasi manajemen KBS.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, Tony Sumampau, menegaskan bahwa kesejahteraan satwa tidak cukup dinilai dari ketersediaan pakan. Kandungan nutrisi, variasi makanan, kondisi kandang, kebersihan, serta kesempatan satwa menampilkan perilaku alaminya juga harus diperhatikan.

Sebagai contoh, satwa karnivora tidak seharusnya hanya diberi daging ayam karena harganya lebih murah. Mereka juga membutuhkan variasi daging merah, tulang, dan sumber kalsium. Tony mendorong agar kebun binatang dipimpin orang yang memahami konservasi, bukan sekadar memiliki kemampuan bisnis dan mencari pemasukan.

Manajemen KBS memastikan proses hukum tersebut tidak mengganggu perawatan satwa. Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, Nurika Widyasanti, menyatakan seluruh satwa dalam kondisi baik dan sehat. Pakan diberikan secara terukur pada pagi dan sore hari sesuai kebutuhan setiap spesies.

Kepala Departemen Animal Health KBS, Rahmat Suharta, mengatakan kondisi satwa dipantau setiap hari. Pemeriksaan feses dilakukan secara berkala dan vaksinasi diberikan setiap tahun. Dia juga membantah foto-foto satwa kurus yang kembali beredar di media sosial sebagai gambaran kondisi terkini. Menurutnya, foto tersebut merupakan dokumentasi lama dan tubuh ramping tidak selalu menandakan satwa kekurangan makanan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendukung pengusutan kasus ini secara transparan. Dugaan ketidakwajaran sebelumnya teridentifikasi melalui audit laporan keuangan KBS. Untuk memperkuat tata kelola, pemerintah kota berjanji melanjutkan audit rutin oleh auditor independen. Anggaran KBS, tegas Eri, harus diprioritaskan bagi kebutuhan pakan, kesejahteraan pegawai, dan pemeliharaan satwa—bukan kepentingan pribadi.

Foto utama: Harimau sumatera koleksi KBS saat berada di kandang luar. Foto: Petrus Rizki/Mongabay Indonesia.

Kebun Gizi, Ikhtiar Perempuan Tani Melawan Stunting di Malang

Editor 15 Agu 2026

Cabai rawit, sawi, terong, brokoli, dan selada tumbuh di halaman rumah Sri Setiowati di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sebagian tanaman ditanam dalam wadah plastik bekas galon yang disusun rapi.

Sri, yang akrab disapa Gati, tidak bekerja sendirian. Ia bersama sekitar 30 perempuan mengelola Kebun Gizi, program yang menyediakan sayuran dan ikan bagi ibu hamil serta balita. Tujuannya adalah membantu memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mencegah dan menangani tengkes atau stunting.

Kebun tersebut dibangun menggunakan bantuan Rp30 juta dari Dinas Pertanian Kabupaten Malang. Kelompok perempuan tani menyediakan lahan seluas 2.000 meter persegi untuk kebun percontohan dan rumah kaca pembibitan. Pembangunan rumah kaca menghabiskan sekitar Rp9 juta.

Di dalam rumah kaca, bibit terlindung dari gangguan serangga dan penyakit. Para anggota kelompok juga mendapat pendampingan dari penyuluh pertanian agar lebih terampil menanam dan merawat tanaman.

Saat musim panen tiba, ibu hamil dan balita menerima paket sayuran gratis, masing-masing seberat satu kilogram. Sayuran itu diberikan ketika mereka menjalani pemeriksaan kesehatan. Paket tersebut diharapkan menjadi tambahan asupan bagi ibu dan anak, sekaligus mendampingi pemberian makanan tambahan dari Dinas Kesehatan.

Selain sayuran, Kebun Gizi membudidayakan ikan lele sebagai sumber protein hewani. Dua bulan sebelum artikel diterbitkan, kelompok ini memanen sekitar 100 kilogram lele.

Pengelolaan kebun juga dibuat agar hasilnya tidak banyak terbuang. Sayuran yang kualitasnya kurang baik digunakan sebagai pakan ternak. Air bekas budidaya lele dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, sehingga penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi.

Sayuran yang tidak dibagikan dijual kepada pedagang. Uang penjualannya kemudian digunakan kembali untuk membeli bibit. Dengan cara ini, kegiatan kebun dapat terus berjalan dan menghasilkan pangan bagi warga.

Manfaat kebun dirasakan keluarga yang memiliki anak dengan masalah gizi. Salah satunya Zafani, balita yang sulit makan dan mengalami tengkes. Ia mendapatkan pemberian makanan tambahan selama 60 hari, disertai sayuran dan ikan dari Kebun Gizi. Setelah intervensi, tumbuh kembangnya mengalami peningkatan, meski belum signifikan.

Menurut bidan Desa Sananrejo, gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat penting bagi pertumbuhan otak dan kesehatan anak. Pencegahan tengkes perlu dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan ibu memperoleh asupan yang memadai. Setelah lahir, anak juga membutuhkan makanan beragam, termasuk sayuran dan protein hewani.

Di Sananrejo, jumlah balita tengkes menurun dibandingkan lima tahun sebelumnya. Pada 2020, tercatat 120 balita tengkes dari 600 balita. Hingga November 2025, jumlahnya menjadi sekitar 60 dari total 425 balita.

Namun, penanganan tengkes tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan. Pola asuh, kebersihan, cara mengolah makanan, serta perhatian orang tua terhadap kebutuhan gizi juga berpengaruh. Karena itu, ibu hamil mendapat penyuluhan, sementara kader kesehatan mendata dan memantau kondisinya.

Kebun Gizi menunjukkan bahwa sebidang lahan dapat menjadi sumber pangan sekaligus ruang gotong royong. Melalui sayuran, ikan, dan kerja bersama, para perempuan tani Sananrejo membantu memastikan makanan bergizi tersedia lebih dekat bagi ibu dan anak.

Foto utama: Seorang anak menerima sayuran yang dipanen dari kebun gizi. Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia.

Setelah 70 Tahun, Auman Harimau Kembali ke Asia Tengah

Editor 15 Agu 2026

Begitu pintu kerangkeng dibuka, Ümit berlari menuju tepian Danau Balkhash, Kazakhstan. Pelepasliaran pada Jumat, 31 Juli 2026, itu bukan sekadar pembebasan seekor harimau. Langkah tersebut menjadi awal kembalinya predator puncak ke wilayah yang telah kehilangan aumannya selama sekitar 70 tahun.

Ümit adalah harimau amur betina (Panthera tigris altaica). Ia merupakan satu dari empat harimau yang mengikuti program reintroduksi di Kazakhstan. Tiga lainnya adalah Amur, harimau jantan dewasa, serta dua anakan bernama Turan dan Ussuri yang masih menjalani adaptasi dan evaluasi.

Reintroduksi berarti mengembalikan suatu satwa ke wilayah tempat jenisnya pernah hidup, tetapi kemudian menghilang. Program ini telah dirancang sekitar sepuluh tahun lalu. Pada 2018, Cagar Alam Ile Balkhash mulai disiapkan sebagai pusat reintroduksi.

Bagian hilir Sungai Ili dan selatan Danau Balkhash dahulu menjadi habitat alami harimau. Kawasan ini menyediakan tiga kebutuhan utama predator besar: air, tempat berlindung, dan mangsa.

Namun, harimau menghilang dari Kazakhstan pada 1948. Kerusakan dan terpecahnya hutan, penurunan jumlah ungulata atau satwa berkuku, peningkatan aktivitas manusia, serta perburuan tak terkendali membuat harimau kehilangan habitat dan sumber makanan.

Ümit sebenarnya bukan harimau endemik Kazakhstan. Ia didatangkan dari Khabarovsk, Rusia. Lalu, mengapa harimau amur dipilih untuk hidup di Asia Tengah?

Jawabannya terletak pada hubungan genetik. Harimau amur memiliki kemiripan DNA dengan harimau turan, atau harimau kaspia, yang dahulu hidup di Asia Tengah. Kemiripan ini membuat harimau amur dipilih untuk mengisi kembali peran ekologis kerabatnya yang telah hilang.

Sebagai predator puncak, harimau membantu menjaga keseimbangan jumlah satwa mangsa. Kehadirannya diharapkan dapat memulihkan keseimbangan ekologi Danau Balkhash. Namun, mengembalikan predator besar ke alam juga membawa risiko konflik dengan manusia.

Karena itu, setiap harimau yang dilepas dipasangi kalung pelacak berbasis radio dan satelit. Pergerakannya dapat dipantau sepanjang waktu. Jika harimau mendekati permukiman dalam radius lima kilometer, sistem peringatan dini akan mengirimkan informasi kepada warga.

Pakar konservasi memperkirakan sedikitnya 50 harimau diperlukan dalam satu habitat selama 20 tahun agar ekosistem tetap sehat. Kazakhstan memang baru memulai dengan empat individu. Namun, pelepasliaran Ümit telah menambahkan Asia Tengah sebagai titik baru dalam peta persebaran global harimau.

Kini, persebaran harimau mencakup Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan kembali menjangkau Asia Tengah. Dalam peta tersebut, harimau sumatera memiliki posisi penting karena menjadi satu-satunya harimau yang masih hidup di wilayah kepulauan Indonesia setelah harimau jawa dan bali punah. Ia juga menempati titik persebaran paling selatan.

Populasi harimau sumatera diperkirakan kurang dari 300 individu dan tersebar dalam kelompok-kelompok yang terisolasi. Kondisi ini menyulitkan aliran genetik yang diperlukan untuk menjaga populasi tetap sehat.

Kisah Ümit menunjukkan bahwa peta persebaran satwa dapat berubah. Harimau bisa kembali ke wilayah yang pernah kehilangannya, tetapi proses tersebut membutuhkan persiapan habitat, pengamanan, pemantauan, dan kerja panjang. Bagi Indonesia, kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa menjaga harimau sumatera yang masih tersisa merupakan pekerjaan yang tidak dapat ditunda.

Foto utama: Harimau betina bernama Umit ini dilepaskan di kawasan delta Sungai Ili dan Danau Balkhash. Kazakhstan. Foto: Dok. Kementerian Ekologi dan Sumber Daya Alam Kazakhstan.

Mengapa Tapir Penting bagi Kelestarian Hutan Sumatera?

Editor 14 Agu 2026

Tapir asia atau tapir malaya (Tapirus indicus) merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di luar Amerika. Di Indonesia, satwa ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Tubuhnya mudah dikenali melalui pola hitam-putih yang menyerupai pelana, sedangkan anak tapir memiliki corak garis dan bintik yang membantu menyamarkannya di lantai hutan.

Meski termasuk mamalia besar Sumatera, tapir belum mendapat perhatian konservasi sebesar harimau, gajah, badak, atau orangutan. Padahal, keberadaannya terus terdesak oleh penyusutan dan fragmentasi habitat, perburuan, jerat, kecelakaan di jalan, serta konflik dengan manusia.

Daftar Merah IUCN menempatkan tapir asia dalam kategori Genting atau Endangered. Populasinya diperkirakan terus menurun, sementara informasi mengenai jumlah dan persebarannya di Indonesia masih terbatas. Sifat tapir yang pemalu, aktif pada malam hari, dan hidup menyendiri membuat satwa ini sulit ditemukan serta dipelajari di alam.

Tapir umumnya menghuni hutan dataran rendah, kawasan rawa, serta wilayah yang dekat dengan sumber air. Moncongnya yang lentur membantu satwa ini mengambil daun, ranting muda, dan buah-buahan. Dalam ekosistem hutan, tapir berperan sebagai penyebar biji. Biji dari buah yang dimakannya dapat terbawa dan dikeluarkan bersama kotoran di tempat lain, membantu proses regenerasi tumbuhan.

Rusaknya habitat membuat tapir semakin sering keluar dari hutan dan memasuki perkebunan, jalan raya, atau permukiman. Salah satu kasus yang menyita perhatian terjadi di Mesuji, Lampung, pada Juli 2026. Seekor tapir yang terlihat di sekitar Jalan Lintas Timur Sumatera kemudian ditemukan mati setelah dibunuh dan tubuhnya dipotong-potong oleh warga.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap tapir bukan hanya kehilangan habitat, tetapi juga rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai status perlindungan dan peran ekologisnya. Tapir merupakan satwa dilindungi sehingga menangkap, melukai, membunuh, memiliki, ataupun memperdagangkannya dapat dikenai sanksi hukum.

Upaya perlindungan tapir membutuhkan lebih banyak penelitian populasi, pengamanan habitat, pemulihan koridor satwa, serta mitigasi konflik di sekitar kawasan hutan. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar kemunculan tapir tidak langsung dianggap sebagai ancaman.

Sebagai penyebar biji berukuran besar, hilangnya tapir dapat mempengaruhi regenerasi dan komposisi hutan Sumatera. Melindungi satwa ini berarti turut menjaga proses alami yang mempertahankan keberlangsungan ekosistem. Tapir mungkin tidak sepopuler satwa ikonik lainnya, tetapi perannya bagi hutan tidak dapat diabaikan.

Foto utama: Tapir merupakan satwa liar dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay.

Kearifan Masyarakat Dayak Pitap Menjaga Hutan Meratus

Editor 14 Agu 2026

Bagi masyarakat Dayak Pitap di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, berladang bukan sekadar cara mendapatkan makanan. Kegiatan ini merupakan tradisi yang menghubungkan manusia dengan alam, Tuhan, dan leluhur. Karena itu, setiap tahap berladang memiliki aturan dan ritual tersendiri.

Padi menempati posisi penting. Bagi Dayak Pitap, padi dianggap sakral dan dipercaya sebagai karunia Sang Pencipta untuk kemakmuran manusia. Hampir setiap keluarga menjalankan tradisi behuma atau berladang. Mereka yang tidak dapat melakukannya karena alasan tertentu harus menjalankan ritual adat.

Sebelum membuka ladang, masyarakat terlebih dahulu mencari lahan yang dianggap subur. Sebagian rumput dibersihkan, kemudian dibuat sangkar dari pohon mahang dan akar kayu. Dalam prosesi batirau, seorang balian atau tokoh spiritual mengambil segumpal tanah dari lokasi tersebut.

Tanah dibacakan mantra, dibawa pulang, lalu diletakkan di bawah bantal. Mimpi yang muncul dipercaya menjadi petunjuk apakah tempat tersebut baik untuk dijadikan ladang. Jika mendapat pertanda buruk, masyarakat akan mencari lokasi lain.

Setelah lokasi ditentukan, dimulailah betabas, betilah, dan betabang: membersihkan tumbuhan, menebang bambu, dan menebang pohon. Ketiganya tidak dilakukan bersamaan. Setelah itu, kayu dibiarkan selama puluhan hari sebelum dibakar dalam proses menyelukut.

Pembakaran memiliki aturan. Masyarakat memperhatikan cuaca dan arah angin, membuat sekat bakar, serta menjaga api bersama-sama agar tidak merembet. Jika api sampai membakar lahan orang lain, pelakunya harus membayar sanksi adat. Abu hasil pembakaran kemudian digunakan sebagai pupuk alami.

Tahap berikutnya adalah manugal, yaitu menanam padi secara gotong royong. Laki-laki membuat lubang menggunakan kayu berujung lancip, sementara perempuan memasukkan benih. Prosesi ini disertai sesajen dan pembacaan mantra oleh balian.

Ketika padi mulai bertunas dan berbuah, digelar palas banih atau basambu umang. Setelah panen berlangsung, masyarakat menjalankan bamula. Namun, beras hasil panen belum boleh dimakan sebelum seluruh kampung selesai memanen dan melaksanakan palas paung, yang juga disebut mahanyari, bawanang, atau baharin.

Ritual terakhir ini merupakan ungkapan syukur atas hasil panen. Setiap keluarga menyumbangkan sebagian hasil panennya ke balai adat. Setelah ritual selesai, barulah beras boleh dikonsumsi. Dayak Pitap juga tidak menjual beras hasil panen, kecuali dalam keadaan terdesak dan melalui ritual. Beras disimpan untuk kebutuhan keluarga sampai musim panen berikutnya.

Aturan adat juga berlaku terhadap hutan. Dayak Pitap memiliki hutan keramat yang tidak boleh diganggu karena dipercaya menjadi tempat leluhur. Tiga wilayah yang dikeramatkan adalah Gunung Hauk, Tanah Hidup, dan Batu Walu. Ada pula hutan pagaritan yang tidak boleh ditebang atau ditanami. Masyarakat hanya diperbolehkan mengambil hasil hutan non-kayu seperti rotan, tanaman, dan buah-buahan.

Tradisi berladang dan aturan hutan ini menunjukkan bahwa bagi Dayak Pitap, adat tidak terpisah dari alam. Hutan menyediakan bahan ritual, pangan, air, dan berbagai kebutuhan hidup. Karena itu, ketika hutan hilang, bukan hanya sumber kehidupan yang terancam, tetapi juga ruang untuk menjalankan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Foto utama: Pepohonan berdiri tegak di Gunung Hauk, wilayah keramat Dayak Pitap. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia.

Api Membara di Gunung Gede Pangrango, Warga Berjibaku Angkut Air

Editor 13 Agu 2026

Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, Acep melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kepulan asap membubung dari arah Kawah Wadon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Warga segera berkumpul dan bergerak menuju sumber api. Sebagian berangkat sekitar pukul 07.00 dan 09.00 WIB, sementara Acep bersama warga lainnya berangkat selepas salat Jumat.

Kampung Ading merupakan permukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Dari sana, Kawah Wadon dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar dua jam. Rombongan Acep yang terdiri dari 15 orang tiba menjelang sore. Mereka menemukan warga lain sudah berusaha memadamkan api menggunakan peralatan sederhana, seperti pacul, cangkul, dan air.

Sumber air yang jauh menyulitkan pemadaman. Warga harus berjalan sekitar satu jam ke Kandang Badak dan mengangkut air dengan botol lima liter. Api sempat padam, tetapi kembali membesar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 02.00 WIB.

Sebagian warga bermalam di lokasi, bahkan ada yang membutuhkan oksigen karena kelelahan. Warga lain membantu dengan mengirim tenda, makanan, obat-obatan, dan perlengkapan pemadam.

Hingga Rabu malam, 12 Agustus 2026, api masih ditangani. Kobaran dan bau terbakar tercium hingga permukiman, memicu kekhawatiran api menjalar ke perkebunan warga.

Penyebab kebakaran di Kawah Wadon masih diselidiki. Dalam keterangan tertulis pada Rabu, 12 Agustus 2026, Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan pemantauan awal mengarah pada faktor alam.

Kawah Wadon berada di zona inti yang tidak digunakan untuk kegiatan wisata maupun pendakian sehingga aktivitas manusia sangat minim. Kamera pengawas milik Pos Pengamatan Gunung Api Gede di Ciloto juga tidak merekam keberadaan manusia sebelum kebakaran terjadi.

Musim kemarau menyebabkan vegetasi mengering dan suhu di sekitar kawah meningkat. Kondisi tersebut diduga menjadi pemicu kebakaran. Vegetasi yang terbakar didominasi semak dan rerumputan. Menurut pihak taman nasional, tidak ada tanaman edelweis di area terdampak.

Luas kawasan yang terbakar masih berbeda menurut dua catatan. TNGGP memperkirakan kebakaran di Kawah Wadon mencapai 5,8 hektar. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cianjur mencatat sekitar 20 hektar kawasan terbakar, mencakup Kawah Wadon dan Alun-Alun Suryakencana.

Tim menangani empat titik kepulan asap. Satu titik bara berada di tebing timur kawah yang sulit dijangkau karena medan curam. Untuk mencegah api menyebar, petugas membuat sekat bakar selebar sekitar dua meter dari ujung barat hingga ujung timur area terdampak.

Sehari sebelum kebakaran terpantau di Kawah Wadon, api juga muncul di Alun-Alun Suryakencana pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kebakaran diperkirakan melanda area seluas satu hektar yang didominasi rumput kering dan sebagian vegetasi berkayu.

Menurut keterangan warga, api berasal dari tabung gas portabel milik pendaki yang bocor, kemudian dilemparkan ke area kering. Petugas, relawan, dan warga berhasil memadamkannya pada hari yang sama sebelum menjalar ke kawasan lain.

Akibat kebakaran tersebut, jalur pendakian Gunung Gede Pangrango ditutup sementara pada 7–11 Agustus 2026. Penutupan kemudian diperpanjang pada 12–18 Agustus 2026 agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara maksimal sekaligus menjaga keselamatan para pendaki.

Foto utama: Relawan berupaya memadamkan api di Kawah Wadon, TNGGP. Foto: Dokumentasi relawan/Arul Gunawan.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.