Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Harapan Baru Penyelamatan Orangutan Tapanuli Lewat Jembatan Arboreal

Ayat S Karokaro 12 Sep 2026
Cerita fitur

Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari

Novia Harlina 12 Sep 2026

Kucing Merah Kalimantan Kembali Terekam Kamera, Bawa Mangsa di Kayan Mentarang

Nuswantoro 12 Sep 2026
Cerita fitur

Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 12 Sep 2026
Cerita fitur

Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?

Ebed de Rosary 11 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari

Novia Harlina 12 Sep 2026
Hamparan sawah dan perkebunan milik warga desa Noepesu dan Bonleu terbentang di bawah kaki gunung Mutis, menegaskan betapa erat aktivitas pertanian masyarakat yang bergantung pada kawasan konservasi ini. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia

Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 12 Sep 2026

Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?

Ebed de Rosary 11 Sep 2026

Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air

Achmad Rizki Muazam 11 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase

Falahi Mubarok 21 Jul 2026

Ular Siput Jerapah, Jago Kamuflase di Hutan Pegunungan Jawa

Falahi Mubarok 11 Jan 2026

Jago Kamuflase, Inilah Ular Sanca Hijau Papua

Christopel Paino 23 Sep 2025

Uniknya Thanatosis, Seni Berpura-pura Mati di Dunia Satwa

Nuswantoro 19 Mei 2024

Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya.

Misteri Kamuflase Dunia Satwa series

Lebih spesial

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?

Akita Verselita 10 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Di Kedalaman 8 Kilometer, Mariana Snailfish Bertahan Hidup di Gelapnya Palung Mariana

Editor 12 Sep 2026

Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat.

Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan DNA sejumlah spesimen. Ikan tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 6.900 hingga lebih dari 8.000 meter, di wilayah yang tekanannya ratusan kali lebih besar dibandingkan permukaan laut.

Tubuh Mariana snailfish tampak pucat, lembut, dan menyerupai kecebong. Kulitnya nyaris transparan sehingga beberapa organ dan jaringan tubuhnya dapat terlihat. Penampilannya jauh dari gambaran ikan laut dalam yang bertaring besar dan menyeramkan. Namun, di habitatnya, ikan ini justru menjadi salah satu predator utama yang memangsa krustasea kecil.

Tubuh yang lunak bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari adaptasinya. Mariana snailfish memiliki tulang yang tidak mengeras sepenuhnya, otot tipis, serta tidak mempunyai kantung renang berisi gas yang dapat rusak akibat tekanan ekstrem. Penelitian genomik juga menunjukkan adanya perubahan pada sistem penglihatan, pigmentasi, pembentukan tulang, dan membran sel yang membantunya hidup dalam kegelapan dan tekanan tinggi.

Meski dahulu diberitakan sebagai ikan terdalam yang pernah ditemukan, status tersebut kini perlu diberi konteks baru. Pada 2023, ilmuwan merekam ikan dari genus Pseudoliparis pada kedalaman 8.336 meter di Palung Izu-Ogasawara, Jepang. Rekaman itu menjadi catatan ikan hidup terdalam yang pernah didokumentasikan. Namun, identitas spesiesnya belum dipastikan, sehingga Mariana snailfish tetap penting sebagai salah satu spesies ikan penghuni laut terdalam yang telah dideskripsikan secara ilmiah.

Para peneliti memperkirakan kedalaman sekitar 8.200 hingga 8.400 meter mendekati batas fisiologis kehidupan ikan. Pada tekanan yang lebih besar, senyawa yang menjaga kestabilan protein tubuh tidak lagi dapat bekerja tanpa mengganggu keseimbangan cairan sel. Karena itu, bagian terdalam palung yang mencapai hampir 11 kilometer kemungkinan tidak dapat dihuni ikan.

Untuk mempelajari Mariana snailfish, para ilmuwan menurunkan kamera dan perangkap khusus yang membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk mencapai dasar laut. Di sana, ikan tersebut justru terlihat aktif mencari makan karena krustasea melimpah dan jumlah predator relatif sedikit.

Penemuan ini mengubah anggapan bahwa laut dalam selalu menjadi lingkungan yang tandus dan tidak bersahabat. Di balik tubuhnya yang rapuh dan transparan, Mariana snailfish menunjukkan kemampuan evolusi luar biasa untuk hidup di salah satu tempat paling ekstrem di Bumi.

Foto utama: Mariana Snailfish, ikan tembus pandang jenis baru yang ditemukan di kedalaman Palung Mariana. Foto: Adam Summers/University of Washington,

Menelusuri Asal Lima Bayi Orangutan yang Ditemukan di India, Apakah dari Indonesia?

Editor 12 Sep 2026

Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan.

Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, bayi-bayi orangutan tersebut dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar untuk mendapatkan perawatan.

Pemerintah Odisha kemudian meminta Wildlife Crime Control Bureau menyelidiki asal-usul mereka. Penyelidikan juga akan memastikan apakah orangutan tersebut akan dijual kepada pembeli di India atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain.

M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre, menilai kemunculan orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya.

Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan panjangnya rantai kejahatan yang dilalui kelima bayi orangutan tersebut. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik,” kata Indra.

Pemisahan dari induk bukan sekadar membuat bayi orangutan kehilangan pengasuhan. Tindakan tersebut juga dapat mengganggu kesehatan, perilaku, perkembangan sosial, dan kemampuan mereka bertahan hidup. Karena itu, Indra menegaskan, “Lima orangutan tersebut harus dipandang sebagai korban perdagangan satwa liar, bukan satwa eksotik yang ditemukan jauh dari habitatnya.”

Meski spesies kelimanya belum dipastikan, indikasi awal mengarah pada orangutan sumatera. Kasus ini menjadi semakin serius karena populasinya terus menurun. Survei periode 2021–2023 memperkirakan populasi orangutan sumatera tersisa 11.694 individu, sedangkan orangutan tapanuli hanya sekitar 716 individu. Adapun populasi orangutan kalimantan diperkirakan sekitar 104.700 individu di Indonesia dan Malaysia.

Dugaan perdagangan orangutan dari Indonesia ke India bukan kasus baru. Pada September 2022, otoritas India menyita tiga anak orangutan sumatera di Mizoram. Satwa-satwa tersebut diduga berasal dari Aceh Tamiang dan diperdagangkan melalui jalur Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, hingga India.

Menurut Indra, Aceh masih menjadi wilayah rawan penyelundupan satwa dilindungi. “Dari Aceh melalui jalur laut satwa-satwa tersebut dibawa ke Thailand, kemudian ke negara lain termasuk India,” jelasnya.

Proses pemulangan orangutan ke Indonesia pun sering menghadapi kendala. “Namun, saat pihak Indonesia berupaya melakukan repatriasi atau pemulangan kembali, proses tersebut kerap menemui jalan buntu. Mereka menolak dengan berbagai alasan,” tegas Indra.

Foto utama: Bayi orangutan sumatera ini dipisahkan dari induknya ketika diambil paksa oleh pemburu di hutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Saat Terjadi Perang, Bagaimana Kedaulatan Energi di Indonesia?

Muhammad Adhitya* 12 Sep 2026

Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia.

Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5-1,6 juta barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor 1 juta barel per hari untuk memenuhi selisih kebutuhan dan produksi. 

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, mengatakan, impor minyak di tengah konflik Amerika-Israel dengan Iran membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, jika harga minyak dunia mencapai USD90-100 per barel, maka subsidi akan membengkak hingga Rp120-130 Triliun.

Tentu ini juga berdampak pada LPG karena Indonesia masih bergantung pada impor dari pasar global. Indonesia mengimpor sekitar 6-7 juta ton per tahun, 20%-nya berasal dari Timur Tengah.

Bhima mengatakan, krisis energi dapat berdampak pada perekonomian nasional melalui kenaikan inflasi. Dia juga mengingatkan, krisis energi dapat memicu tekanan ekonomi berantai.

Di tengah situasi ini, Bhima mendesak pemerintah mempercepat transisi energi terbarukan yang berkeadilan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Ia berharap, Danantara turut membiayai proyek energi bersih tersebut.

Novita Indri, juru kampanye Energi Trend Asia, menyebut pengalaman Pakistan melewati krisis energi pada 2022-2023 dapat menjadi contoh bagi Indonesia. Pakistan mengurangi ketergantungan oada gas alam dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya sebagai energi utama.

“Tidak ada cara lain, mengurangi ketergantungan energi fosil dan mendorong energi terbarukan secara masif, berbasis komunal menjadi kunci Indonesia berdaulat energi.”


Foto utama: Greenpeace Indonesia memproyeksikan pesan ke bukit, sebelum KTT G20 di pantai Melasti di Bali, pada 14 November 2022. Foto : Greenpeace Indonesia

“Tanah Itu Mama”, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua

Editor 11 Sep 2026

Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam.

Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan, dan generasi muda untuk membicarakan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Barbalina Osok, Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi Papua Barat Daya, membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi. Sejak awal 1990-an, konsesi hak pengusahaan hutan beroperasi di wilayah adat mereka. Sebagian arealnya kemudian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Menurut Barbalina, hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun terus dikuras tanpa manfaat balik yang jelas bagi pemilik hak ulayat. Izin tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar 2032–2033.

Persoalannya bukan hanya investasi atau keuntungan ekonomi, tetapi juga minimnya keterlibatan masyarakat adat dalam menentukan penggunaan tanah dan sumber daya alam mereka.

Aktivis perempuan adat Marlince Siep mengingatkan bahwa hilangnya hutan dan akses terhadap wilayah adat berdampak langsung pada perempuan dan anak-anak. Perempuan memiliki peran penting dalam menyediakan pangan sekaligus meneruskan pengetahuan lokal antargenerasi.

“Tanah itu Mama. Kepada pemerintah dan pemangku kepentingan, biarkan hutan dan lingkungan sehat yang tersisa ini untuk diwariskan kepada generasi perempuan adat Orang Asli Papua,” kata Marlince.

Ia juga meminta agar pembangunan Papua tidak hanya disusun dari perspektif pemerintah pusat. Suara masyarakat adat perlu dijadikan pijakan agar tanah, manusia, budaya, dan kearifan lokal tetap terlindungi.

Masalah pengakuan wilayah adat turut masuk dalam agenda resmi PAPEDA Summit. Pemerintah menyampaikan bahwa realisasi perhutanan sosial secara nasional telah mencapai sekitar 8,41 juta hektar dari target 12,7 juta hektar. Di Tanah Papua, sebanyak 12 masyarakat hukum adat telah memperoleh penetapan, sementara puluhan usulan lainnya masih diverifikasi.

Elisa Kambu, Gubernur Papua Barat Daya, menyatakan pemerintah provinsi berkomitmen membantu pemetaan wilayah dan tanah adat. Ia juga mendorong percepatan penetapan hutan adat agar masyarakat memiliki posisi lebih kuat dalam mengelola wilayahnya.

Namun, komitmen di ruang pertemuan masih berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Pada hari terakhir, PAPEDA Summit dihentikan lebih awal ketika berlangsung aksi di sekitar lokasi. Massa menyuarakan penolakan terhadap sejumlah Proyek Strategis Nasional dan mengangkat persoalan hak masyarakat adat atas tanah, hutan, serta ruang hidup.

Bagi masyarakat adat Papua, pengakuan wilayah bukan sekadar persoalan administratif. Pengakuan menentukan apakah mereka dapat menjaga sumber pangan, kesehatan, budaya, dan warisan bagi generasi berikutnya. Karena itu, keberhasilan forum tidak cukup diukur dari pernyataan komitmen, melainkan dari perubahan nyata di tanah dan hutan Papua.

Foto utama: Perempuan-perempuan Suku Moi terampil menganyam noken, bercorak khas Moi Kelim yang terbuat dari kulit kayu. Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air

Editor 11 Sep 2026

Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi.

Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini memiliki moncong segitiga, sementara sisi tubuhnya dihiasi bercak berbentuk semisegitiga.

Kemampuan berburu ikan pemanah bukan sekadar menyemburkan air secara sembarangan. Ikan ini dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Mangsa yang ditembak antara lain lebah, capung, laba-laba, lalat, dan berbagai serangga kecil.

Akurasi tembakannya merupakan kemampuan biologis yang kompleks. Cahaya yang melewati udara dan air mengalami pembiasan sehingga posisi mangsa terlihat berbeda dari lokasi sebenarnya. Namun, ikan pemanah mampu memperhitungkan penyimpangan tersebut.

Penelitian Lawrence M. Dill pada 1977 menunjukkan bahwa ikan ini menyesuaikan sudut tembak berdasarkan posisi mangsa. “Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengompensasi refraksi,” tulis Dill.

Ikan tersebut juga harus memperhitungkan gravitasi yang membuat lintasan air melengkung. Dengan kecepatan semburan yang relatif konstan, sudut tembakan diatur agar air tetap mencapai sasaran.

Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 2014 mengungkap bahwa ikan pemanah mampu mengendalikan dinamika semburannya. Bagian belakang semburan bergerak lebih cepat dan menyusul bagian depan tepat sebelum mencapai sasaran. Akibatnya, tetesan air menyatu dan menghasilkan hantaman kuat ketika mengenai mangsa.

“Bagian belakang semburan air menyusul bagian depannya tepat sebelum mengenai mangsa, memastikan bahwa gaya terpusat menjadi satu hantaman keras,” jelas para peneliti.

Penyesuaian dilakukan dengan mengubah bentuk dan bukaan mulut. Untuk target yang lebih jauh, ikan menyemburkan air lebih lama dengan bukaan mulut yang berubah secara bertahap.

Kemampuan itu ternyata tidak sepenuhnya bersifat bawaan. Penelitian dalam jurnal eLife pada 2024 menemukan bahwa ikan pemanah dapat belajar dari kesalahan. Ketika aliran udara sengaja diberikan untuk membelokkan semburan, tembakannya mula-mula meleset. Setelah beberapa kali mencoba, kesalahannya berkurang hingga kembali stabil.

Temuan tersebut menunjukkan adanya adaptasi motorik, yaitu kemampuan menyesuaikan gerakan berdasarkan pengalaman dan perubahan lingkungan. Ikan pemanah bukan hanya memiliki “senjata” air, tetapi juga mampu menghitung, mengoreksi, dan menyempurnakan bidikannya. Kemampuan luar biasa ini menjadikannya salah satu pemburu paling presisi di habitat mangrove, muara, serta perairan tawar dan payau Asia Tenggara.

Foto utama: Ikan pemanah jenis Toxotes jaculatrix ini memiliki kemampuan memanah dan dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Foto: Wikimedia Commons/I, Chrumps/I, Chrumps.

Subak Gianyar Terhimpit Pembangunan, Petani Hadapi Krisis Air Hingga Hama

Kadek Dian Dwiyanti H.* 11 Sep 2026

Di tengah hamparan sawah Gianyar, Bali, Made Kuter masih menyusuri pematang sawahnya. Petani berusia 63 tahun itu membawa racun tikus yang dia racik mandiri. Bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena serangan hama yang kian masif.

Kuter menggarap sawah seluas 30 are di Subak Padang Legi, Desa Medahan. Namun, lahannya kini semakin terhimpit bangunan vila. Serangan tikus semakin parah sejak tahun lalu dan terjadi hingga tiga periode tanam.

“Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” kata Kuter.

Persoalan air juga menghantui. Saat kemarau, debit air mengecil. Sebaliknya, ketika hujan deras, air justru meluap dan menggenangi sawah. Pada September 2025, sawah Kuter untuk pertama kalinya terdampak banjir setelah hujan deras membuat air sungai meluap.

“Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering),” ujarnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada petani di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan. Ketut Sugata, Ketua Forum Pekaseh Agung DAS Pakerisan, mengatakan banjir terjadi karena kemampuan tanah menyerap dan menampung air semakin berkurang.

“Sudah beberapa kali (banjir). Penyebabnya karena daya serap dan daya tampung air yang dulu masih ada, sekarang berkurang,” kata Sugata.

Subak bukan sekadar sistem pengairan sawah. Sistem tradisional Bali ini berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang mengatur hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Pada 2012, lanskap subak ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia.

Namun, keberadaannya kini menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan. Hamparan sawah yang sebelumnya menyatu berubah menjadi kawasan yang terfragmentasi oleh bangunan. Kondisi ini juga mengurangi fungsi sawah sebagai daerah resapan air.

I Gusti Ngurah Santosa, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, memproyeksikan subak di Bali dapat habis dalam 65 tahun jika alih fungsi lahan terus berlangsung.

“Kalau itu sudah dibangun dengan beton, itu kan kedap air. Otomatis dia nanti berupa limpasan permukaan. Ini kan yang memicu terjadinya banjir,” jelas Santosa.

Perubahan lingkungan juga berdampak pada serangan tikus. Ayu Putu Diah dari Yayasan Mandhara Research Institute menemukan pola serangan tikus di sejumlah subak Gianyar semakin mengkhawatirkan. Tikus bahkan menyerang tanaman sebelum bulir padi tumbuh.

“Entah kenapa sekarang masih usia gini (belum tumbuh bulir padi) udah mulai digigitin sama tikus,” katanya.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menunjukkan luas sawah Bali menyusut dari sekitar 80.063 hektar pada 2015 menjadi 64.473,63 hektar pada 2024. Penurunan paling terasa di Badung, Gianyar, dan Denpasar.

Bersamaan dengan menyusutnya lahan, jumlah petani dan aktivitas pertanian dalam subak turut berkurang. Fungsi sosial dan ekologis subak pun perlahan melemah.

Santosa menilai perlindungan subak perlu dilakukan dengan memastikan lahan produktif tidak dialihfungsikan, menjamin ketersediaan air, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kalau lahannya lestari, airnya lestari, petaninya akan jalan di lapangan.”


Foto utama: Racun tikus yang dicampur dengan beras dan kacang tanah untuk mengusir tikus sawah. Racun tikus diletakkan di atas daun agar tidak meracuni petani. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia

Racun tikus yang dicampur dengan beras dan kacang tanah untuk mengusir tikus sawah. Racun tikus diletakkan di atas daun agar tidak meracuni petani. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.