Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Kopra Hidup Lagi, Warga Adat Malind di Merauke Kembali Merawat Dusun Kelapa

Kresensia Kurniawati 11 Okt 2026

Kisah Burung Purba Kasuari, Penjaga Hutan Papua yang Diburu Manusia

Christopel Paino 11 Okt 2026
Cerita fitur

Korban Asap Kebakaran Hutan Terus Berjatuhan, Ekonomi Warga pun Terdampak

Riyad Dafhi Rizki 11 Okt 2026
Cerita fitur

Jerat Hukum Kasus Karhutla pada 2 Peladang Dayak Maanyan Tuai Kritik

Krismes Santo Haloho 11 Okt 2026

Bosan di Kandang Evakuasi Samboja, 11 Orangutan Kalimantan Menanti Kembali ke Hutan

Yovanda 10 Okt 2026
Cerita fitur

Opini: Laut Kaya, Nelayan Rentan: Di Mana Negara Kesejahteraan?

Mufti Fathul Barri* 10 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Korban Asap Kebakaran Hutan Terus Berjatuhan, Ekonomi Warga pun Terdampak

Riyad Dafhi Rizki 11 Okt 2026

Jerat Hukum Kasus Karhutla pada 2 Peladang Dayak Maanyan Tuai Kritik

Krismes Santo Haloho 11 Okt 2026

Opini: Laut Kaya, Nelayan Rentan: Di Mana Negara Kesejahteraan?

Mufti Fathul Barri* 10 Okt 2026

Batam Krisis Air, Warga Demo Data Center

Yogi Eka Sahputra 10 Okt 2026

Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur

Triyo Handoko 9 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

7 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu

Akita Verselita 3 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Lewat Film, Pelajar 70 Kota di Indonesia Diajak Memahami AI Secara Kritis

Editor 11 Okt 2026

Bayangkan sebuah komputer yang mampu mengenali ribuan gambar satwa, menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, bahkan membantu ilmuwan memprediksi perubahan iklim. Kemampuan tersebut bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan dan penelitian lingkungan.

Namun, kecanggihan itu menyimpan sejumlah pertanyaan. Bagaimana komputer belajar mengenali gambar? Dari mana AI memperoleh jawaban? Mengapa teknologi yang tampak pintar ini terkadang menghasilkan informasi keliru?

Memahami pertanyaan tersebut menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital.

Dalam dunia konservasi, misalnya, AI dapat membantu peneliti mengidentifikasi spesies melalui pengenalan gambar, memantau keanekaragaman hayati, hingga memodelkan skenario perubahan iklim. Teknologi ini juga berpotensi mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan.

Meski demikian, AI bukan teknologi tanpa jejak lingkungan. Di balik kemampuannya mengolah informasi, terdapat sistem komputasi berskala besar yang membutuhkan energi signifikan. Penggunaannya juga memunculkan persoalan mengenai transparansi, perlindungan data, dan kesetaraan akses.

Lantas, bagaimana memperkenalkan teknologi yang kompleks ini kepada anak-anak?

Salah satu caranya melalui film dan eksperimen sains. Pendekatan tersebut digunakan dalam Science Film Festival Indonesia 2026 yang mengangkat tema kecerdasan buatan.

Festival yang diinisiasi Goethe-Institut ini menghadirkan 20 film dari tujuh negara dan menjangkau pelajar SD hingga SMA di 70 kabupaten/kota pada 6 Oktober–14 November 2026.

Dua film asal Jerman, Sembilan Setengah – Melindungi Iklim di Dunia Digital dan Sembilan Setengah – ChatGPT di Ruang Kelas, menjadi bagian dari pembelajaran yang menghubungkan teknologi dengan persoalan lingkungan dan pendidikan.

Maila Dinia Husni Rahiem, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, mengajak pelajar untuk tidak menerima begitu saja jawaban yang dihasilkan AI. Mereka perlu memahami bagaimana teknologi bekerja sekaligus mempertanyakan ketepatan informasi yang diberikan.

“Film-film ini dapat membantu melihat bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan terhubung dengan apa yang kalian pelajari di kelas,” ujarnya.

Constanze Michel, Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, menjelaskan bahwa festival ini mempertemukan penonton dengan film-film yang mengeksplorasi peran AI dalam sains, pendidikan, dan keberlanjutan.

“Melalui pemutaran film dari berbagai negara, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi sains secara menyenangkan,” katanya.

Lebih dari 250 siswa yang menghadiri pembukaan festival di Jakarta juga diajak melakukan eksperimen sains, mulai dari gelembung air hingga reaksi perubahan warna.

Festival yang telah berlangsung di Indonesia sejak 2010 ini berupaya menghadirkan sains melalui pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendorong sikap kritis.

Sebab, di masa ketika mesin semakin pandai memberikan jawaban, kemampuan manusia untuk bertanya, memeriksa kebenaran, dan memahami konsekuensi teknologi justru menjadi semakin penting.

Foto utama: Belajar AI lewat 20 Film dan Eksperimen Sains. Foto: Dok. Goethe-Institut.

Target 2 Kilogram Cumi Berujung Kekerasan terhadap Awak Kapal

Editor 10 Okt 2026

Janji penghasilan membawa Ilyas Salahuddin dan awak lainnya bekerja di KM Maulana 23. Namun, pelayaran di perairan Kepulauan Aru, Maluku, justru menyisakan luka. Ilyas bersama Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra mengalami penyiksaan yang videonya beredar pada 30 September. Para korban dipukul, diinjak, dan dicelupkan ke bak berisi air. Kepada ibunya, Ilyas mengeluhkan sakit di seluruh tubuh, gangguan pendengaran pada telinga kiri, serta nyeri perut dan kaki. Keempat korban kemudian menjalani perawatan di RSUD Cendrawasih Dobo.

Setelah video tersebut viral, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap KM Maulana 23 pada 2 Oktober. Kapal bertonase 89 GT itu sedang mengoperasikan pancing cumi dan membawa sekitar satu ton hasil tangkapan. Pemeriksaan menemukan penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai dengan izin sebelumnya. Menurut Direktur Jenderal PSDKP, Pung Nugroho Saksono, awak diwajibkan memperoleh sedikitnya dua kilogram cumi setiap malam. “Kurang dari dua kilogram, maka wakil dari nakhoda memukuli AKP. Bahkan awak yang dapat paling sedikit nanti dipukuli ramai-ramai. Ini aturan di kapal tersebut,” katanya.

Pemeriksaan sementara menunjukkan kekerasan berlangsung berulang atas perintah wakil nakhoda. Awak bekerja sejak sore hingga pagi, tetapi hanya mendapat makan dua kali sehari. KKP mendalami dugaan perbudakan dan mencabut izin operasional kapal untuk kepentingan penyidikan. Polisi memeriksa 24 kru, dengan 19 orang disebut berpotensi menjadi tersangka. Selain menyelidiki keterlibatan mereka, penyidik memprioritaskan penanganan kondisi fisik dan psikologis korban yang masih menjalani perawatan.

Persoalan juga muncul sejak perekrutan. Para awak dijanjikan uang muka Rp5 juta dan bagi hasil hingga Rp10 juta, tetapi hanya menerima sekitar Rp100–500 ribu saat berangkat serta Rp500 ribu untuk pelayaran empat bulan. “Tapi yang didapat tidak sesuai dengan janji saat perekrutan,” kata Mochammad Idnillah, Direktur Kapal Perikanan KKP. Ketidaksesuaian janji, kondisi kerja berat, dan kekerasan memiliki kemiripan dengan kasus sebelumnya yang ditangani National Fishers Center (NFC), termasuk Run Zeng 03 dan KM Awindo 2A.

Imam Trihatmadja, Direktur Program DFW Indonesia, meminta polisi menyelidiki kemungkinan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), sehingga perkara tidak berhenti pada penganiayaan. “Perlu selidiki lebih lanjut. Setidaknya dengan ada pemukulan dan penganiayaan ini sudah masuk dalam 11 indikator kerja paksa yang tidak diperbolehkan,” ujarnya.

Imam juga meminta pertanggungjawaban perusahaan atau pemilik kapal ditelusuri. Catatan NFC sepanjang Desember 2024–November 2025 mencakup 37 pengaduan dengan 113 korban; perusahaan pemilik kapal menjadi pihak yang paling banyak dilaporkan. Menurut Imam, penegakan hukum perlu berjalan bersama pemulihan korban, restitusi, dan pencegahan. Penyelidikan terhadap perekrutan hingga kondisi kerja menjadi penting untuk mengetahui apakah kekerasan di KM Maulana 23 merupakan bagian dari eksploitasi yang lebih luas.

Foto utama: Empat awak kapal cumi KM. Maulana 23 yang diduga alami penyiksaan di Laut Aru. Foto: akun instagram arzgani20_.

Krisis Air dan Kesehatan Membayangi 24 Ribu Penyintas Gempa NTT

Editor 9 Okt 2026

Sebulan lebih setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ancaman terhadap keselamatan warga belum berakhir.

Data BNPB per 28 September mencatat 156 korban meninggal, terdiri dari 48 orang yang meninggal ketika gempa terjadi dan 108 orang setelah bencana. Kematian pascabencana berlangsung di rumah, fasilitas kesehatan, maupun pengungsian. Sementara itu, sekitar 24.027 orang masih mengungsi dalam kondisi keterbatasan air bersih, pangan, sanitasi, dan layanan kesehatan. Situasi tersebut memperberat kehidupan penyintas, terutama lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit penyerta.

BNPB mengkategorikan kematian pascabencana sebagai kematian tidak langsung, yang berkaitan dengan usia, penyakit kronis, serta penurunan kesehatan. “Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis,” kata Berton SP. Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Namun, korban juga mencakup warga usia produktif, anak, dan bayi. Gangguan kesehatan, kelelahan ekstrem, tekanan mental, serta memburuknya kondisi setelah gempa susulan turut disebut sebagai faktor yang berkaitan dengan kematian tersebut.

Kondisi pengungsian menjadi perhatian karena dapat memperbesar risiko kesehatan kelompok rentan. Fransiskus Sales Solo, Sekretaris Daerah NTT,  menyebut pneumonia dan diare sebagai sejumlah persoalan yang dialami penyintas. “Mereka terserang berbagai penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia hingga diare akibat cuaca ekstrem serta lingkungan pengungsian yang berdebu dan bersanitasi kurang memadai,” ujarnya. Di tengah kemarau, menurunnya debit dan kualitas air sungai turut memperburuk kesulitan mendapatkan air bersih. BNPB juga mencatat 1.620 korban luka atau sakit, sementara ribuan rumah dan berbagai fasilitas publik mengalami kerusakan.

Walhi menilai tingginya kematian pascabencana harus mendorong evaluasi terhadap sistem perlindungan warga. Usia lanjut maupun penyakit bawaan tidak semestinya digunakan untuk menormalisasi kematian penyintas. “Ketika mereka meninggal di pengungsian, maka yang harus dievaluasi adalah sistem perlindungan negara, bukan kondisi para korban,” kata Umbu Wulang Tanaamah Paranggi dari Walhi Nasional. Walhi NTT menekankan perlunya mitigasi yang sesuai dengan karakter Flores sebagai wilayah rawan gempa, tsunami, dan bencana vulkanik. Organisasi tersebut berencana menyampaikan keberatan administratif kepada pemerintah pusat dan daerah untuk menuntut akuntabilitas penanganan bencana.

Kebutuhan perlindungan masih terlihat di pengungsian mandiri, termasuk pada keluarga Maria Aleksia yang tinggal dalam tenda terpal dengan anyaman daun kelapa sebagai alas tidur. Norman Riwu Kaho, Ketua FPRB NTT, menyebut sekitar sembilan dari sepuluh pengungsi berada di luar lokasi evakuasi terpusat, sehingga pendataan dan pemenuhan kebutuhan dasar masih mendesak.

“Fase transisi darurat menuju pemulihan harus mulai disiapkan secara paralel, bukan menunggu masa darurat berakhir,” katanya. Norman mendesak pemerintah menyiapkan hunian sementara sebelum musim hujan tiba, sekaligus memastikan layanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan tetap berjalan.

Foto utama: Kondisi jalan di Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka yang terbelah akibat gempa Flores. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia.

Dikira Kucing Kampung, Ternyata Spesies Baru dari Bolivia

Editor 9 Okt 2026

Seekor anak kucing yang ditemukan di dekat jalan hutan Yungas, Bolivia, pada 2016 ternyata menyimpan petunjuk tentang keragaman kucing liar yang belum dikenali sains. Warga yang menemukannya sempat mengira hewan tersebut adalah kucing kampung dan memeliharanya selama sekitar setahun. Namun, perilakunya yang berbeda dari kucing rumahan membuat hewan itu akhirnya diserahkan ke Suaka Margasatwa Senda Verde. Kucing yang kemudian dipanggil “Tigrino” tersebut menjadi awal penelitian yang mengungkap spesies baru bernama Leopardus tilcayo, mengikuti nama lokal yang digunakan masyarakat.

Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi Bolivia yang menjadi sukarelawan di suaka tersebut, awalnya menduga Tigrino termasuk Leopardus tigrinus, kelompok kucing tutul kecil yang telah lama dikenal. Wajahnya menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya bertotol.

Keraguan muncul pada 2019, ketika ia membandingkan foto Tigrino dengan referensi kucing tutul kecil dari Brazil. Bercak pada tubuhnya terlihat lebih besar dan tidak beraturan. Perbedaan tersebut mendorong Nogales-Ascarrunz bekerja bersama Jonas Lescroart dan Eduardo Eizirik untuk menelusuri identitasnya melalui analisis genetik.

Tim menganalisis genom 38 individu dalam genus Leopardus, termasuk delapan spesimen museum dari berbagai negara Amerika Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa kucing Bolivia tersebut memiliki garis keturunan yang terpisah dari kelompok kucing tutul kecil lainnya sejak sekitar 1,4 juta tahun lalu. Para peneliti menilai jarak evolusi itu cukup untuk mendukung pengenalannya sebagai spesies tersendiri. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026 ini memperlihatkan bagaimana kemiripan penampilan dapat menyembunyikan perbedaan genetik yang besar.

Pengetahuan tentang kehidupan tilcayo masih terbatas. Tigrino, kucing jantan berusia 10 tahun yang tinggal di Senda Verde, merupakan satu-satunya individu hidup yang diketahui. Temuan sisa hewan pengerat dalam kotorannya mengindikasikan bahwa mamalia kecil kemungkinan menjadi bagian makanannya, sedangkan rekaman kamera jebak menunjukkan kecenderungan aktif pada malam hari.

Studi yang sama juga mengungkap lima garis keturunan berbeda dalam kelompok kucing tutul kecil, serta mendeskripsikan subspesies baru dari Yungas Peru, Leopardus tigrinus antisuyo. Hasil ini menjadi dasar untuk meninjau kembali pengelompokan dan kebutuhan perlindungan mereka.

Pemisahan tersebut penting bagi konservasi karena penilaian terhadap kelompok yang luas dapat menutupi kerentanan masing-masing spesies. Para peneliti telah membagikan hasilnya kepada IUCN untuk evaluasi terpisah, yang berpotensi menunjukkan tilcayo lebih terancam daripada perkiraan sebelumnya. Sementara itu, hutan Yungas menghadapi deforestasi, perluasan pertanian, kebakaran akibat aktivitas manusia, dan pertambangan. Perlindungan hutan tersisa, pemulihan kawasan terbakar, serta pemeliharaan hubungan antarhabitat menjadi prioritas. Eduardo Eizirik menilai penemuan ini menunjukkan masih adanya spesies yang belum terdeskripsikan dan berisiko punah sebelum dikenali sains. Identitas tilcayo kini terungkap, tetapi kondisi populasinya di alam masih perlu dipahami.

Foto utama: Tampilan dekat wajah “Tigrino,” individu Leopardus tilcayo yang menjadi awal terungkapnya spesies baru ini setelah dipelihara sebagai kucing rumahan sebelum akhirnya diserahkan ke Suaka Margasatwa Senda Verde, Bolivia. Foto: Paola Nogales-Ascarrunz.

Dari Irigasi hingga Sumber Air, Masyarakat Lombok Soroti Dampak Buruk Tambang Galian C

Editor 8 Okt 2026

Air kecoklatan menutupi jalan Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Lombok Timur, pada suatu malam ketika hujan tidak begitu deras. Lumpur bercampur pasir dan batu menyumbat saluran, masuk ke halaman rumah, hingga menyasar sawah. Warga menduga material tersebut berasal dari tambang galian C di kawasan hulu.

Bagi Muhammad Yunus, warga Lenek, persoalan itu berulang setiap hujan. Saluran irigasi mengalami sedimentasi sehingga petani harus mengeluarkan tenaga tambahan untuk membersihkannya. Material yang masuk ke petak sawah juga disebut mengganggu kondisi tanah dan pertumbuhan padi.

“Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,” kata Yunus. Menurutnya, hasil pertanian menurun sementara biaya pemeliharaan meningkat. Warga pernah berunjuk rasa, tetapi perbaikan yang mereka rasakan hanya berlangsung singkat.

Keluhan berbeda muncul di Kalijaga Timur. Ahmad Zakaria mengatakan kendaraan pengangkut material mempercepat kerusakan jalan dan membawa debu ke permukiman. Saat kemarau, debu menempel pada rumah, tanaman, dan fasilitas umum. Warga khawatir kondisi tersebut mengganggu kesehatan, terutama anak-anak.

Data Puskesmas Kalijaga dan Korleko menunjukkan ISPA termasuk tiga penyakit terbanyak sepanjang 2023-2025, dengan rata-rata sekitar 2.000 kasus per tahun. Namun, angka itu belum membuktikan bahwa aktivitas tambang menjadi penyebabnya. Kepala Puskesmas Kalijaga, Nursini Juiban Hadi, menekankan perlunya penelitian.

“Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Perlu penelitian lebih jauh, karena tidak bisa kita spekulasi hanya karena ada hubungannya saja, harus ada bukti ilmiahnya,” katanya.

Di Karleko, warga menyebut sumur ikut terdampak perubahan lingkungan. Citra satelit yang dibahas dalam artikel juga memperlihatkan pembukaan lahan baru di sekitar aliran sungai selama lima tahun terakhir. Selpin Riawan, pemuda setempat, menilai perubahan itu mengancam lahan pertanian dan sumber air yang menopang kehidupan warga.

Aktivis lingkungan Juaeni meminta pemerintah memeriksa pelaksanaan kewajiban lingkungan di lokasi tambang. “Pengawasan tidak boleh berhenti pada izin, tetapi harus memastikan kegiatan di lapangan sesuai dengan kewajiban lingkungan, tidak melampaui daya dukung, dan tidak memindahkan biaya kerusakan kepada masyarakat serta APBD.”

Dinas Lingkungan Hidup Lombok Timur berjanji menurunkan tim untuk memeriksa, mendata, dan mendokumentasikan keluhan warga sebelum menyampaikan hasilnya kepada pemerintah provinsi. Sementara itu, Dinas ESDM NTB menyatakan pengawasan dampak lingkungan menjadi kewenangan dinas lingkungan hidup. Bagi warga, pemeriksaan tersebut diharapkan menjelaskan sumber material yang menyumbat sawah, kondisi sumber air, serta risiko paparan debu.

Foto utama: Betang alam di Lombok Timur yang berubah akibat maraknya tambang galian C. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia.

Seberapa Sering Pesawat Terbang Tabrakan dengan Burung di Udara?

Editor 8 Okt 2026

Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan bandara dikelola dan aktivitas satwa dipantau.

Tabrakan pesawat dengan burung, atau bird strike, bukan kejadian langka. Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mencatat sekitar 292 ribu laporan tabrakan pesawat dengan satwa liar sepanjang 1990-2023, sebagian besar melibatkan burung. Pada 2023 saja, hampir 20 ribu kasus dilaporkan di 780 bandara Amerika Serikat.

Meski menjadi persoalan penerbangan masa kini, peristiwa tersebut memiliki sejarah panjang. “Tabrakan pesawat dengan burung, setua umur penerbangan itu sendiri. Catatan pertama dialami oleh penerbangan Wright III pada 7 September 1905,” tulis Isabel C. Merz bersama timnya dalam jurnal Aerospace.

Risiko tersebut kembali mendapat perhatian setelah kecelakaan Jeju Air di Korea Selatan pada Desember 2024. Pilot melaporkan tabrakan burung sebelum pesawat mencoba pendaratan alternatif, kemudian tergelincir dan terbakar. Namun, laporan itu tidak serta-merta menjelaskan seluruh penyebab kecelakaan.

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengingatkan bahwa tabrakan burung dengan mesin dapat menyebabkan mesin mati, tetapi tidak menjelaskan masalah roda pendaratan. “Jadi pasti ada alasan lain,” katanya. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya membedakan laporan tabrakan burung dengan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.

Penelitian Merz menunjukkan bahwa tabrakan paling banyak dilaporkan pada ketinggian di bawah 2.500 kaki. Musim dan posisi bandara juga berpengaruh: kejadian lebih banyak pada musim panas, sementara bandara di jalur migrasi menghadapi risiko lebih besar.

Burung berukuran besar dan terbang berkelompok, seperti angsa, berpotensi menimbulkan kerusakan. Bagi burung, benturan tersebut membawa konsekuensi mematikan. Satwa lain pun dapat terlibat; FAA mencatat kasus dengan rusa, anjing hutan, kura-kura, kelelawar, buaya, dan iguana. Pengawasan bandara dengan demikian perlu mencakup satwa di darat maupun udara.

Untuk mengurangi risiko, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mengimbau pengelolaan satwa liar hingga radius 13 kilometer di sekitar bandara. Pencegahan mencakup pengelolaan sumber makanan, air, dan tempat berlindung, serta penggunaan sirine, drone, atau anjing terlatih untuk mengusir burung. Warna pesawat yang kontras dengan langit juga membantu burung mengenali keberadaannya, sementara lampu berdenyut disebut dapat mengurangi tabrakan hingga 66 persen.

“Pemantauan burung di luar bandara juga perlu dilakukan,” jelas laporan tersebut. Bagi penerbangan masa kini, memahami lingkungan sekitar bandara tetap menjadi bagian penting dari upaya melindungi penumpang, awak, dan satwa yang menggunakan ruang yang sama.

Foto utama: Pesawat terbang yang saat mengudara tidak bisa menghindari tabrakan dengan burung. Foto: Pixabay/Martin Herfurt/Free to use.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.