Di sungai-sungai berair gelap dan rawa bakau di selatan Papua, hidup seekor ikan yang sulit dijelaskan dengan singkat. Tubuhnya pipih dan tinggi seperti belah ketupat memanjang, sisi kanan dan kirinya berkilau perak seperti kaca. Tapi yang paling aneh bukan penampilannya, melainkan caranya bereproduksi: sang jantan mengerami telur-telurnya di atas kepalanya sendiri, pada sebuah tonjolan tulang berbentuk kail yang melengkung di dahi.
Karena perilaku itulah ia mendapat dua nama sekaligus: ikan kaca, karena kilaunya, dan ikan perawat, karena kesetiaan sang jantan menjaga telur hingga menetas.
Nama ilmiahnya Kurtus gulliveri castelnau, dideskripsikan pertama kali pada 1878 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Thomas Allen Gulliver, pegawai pos dan telegraf Australia yang tinggal di dekat Sungai Norman, Teluk Carpentaria. Nama itu sekaligus menjadi petunjuk tentang sejarah biogeografis ikan ini: ia tidak hanya hidup di Papua, tapi juga di Australia bagian utara, khususnya di Sungai Adelaide, Northern Territory.
Kesamaan fauna antara Papua dan Australia bukan kebetulan. Hari Suroto, peneliti arkeologi BRIN, menjelaskan bahwa sekitar 17.000 tahun lalu, ketika permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang, Australia dan Papua menyatu dalam satu daratan yang disebut Sahulland. Fauna dari kedua wilayah bergerak bebas melintasi daratan yang kini sudah tenggelam. Ikan kaca adalah salah satu warisan hidup dari masa itu, spesies yang masih mendiami kedua sisi dari bekas benua yang sama.
Di Papua, ikan ini tersebar luas di Sungai Digul, Sungai Maro, Sungai Mappi, dan berbagai sungai serta rawa di Kabupaten Boven Digoel, Merauke, Mappi, Asmat, hingga Fakfak. Penelitian di Sungai Digoel dan muara Sungai Maro menunjukkan kelimpahan yang tinggi, dengan ikan kaca mencatat nilai kelimpahan relatif tertinggi di antara semua spesies yang ditemukan di muara Sungai Maro, yaitu 23,08 persen.
Tonjolan di kepala jantan bukan sekadar ornamen. Para peneliti menduga struktur itu adalah adaptasi terhadap lingkungan dengan oksigen rendah dan kekeruhan tinggi, kondisi khas sungai gambut dan rawa bakau Papua. Telur yang diletakkan pada kail tulang di dahi berdiameter 2,1 hingga 2,5 milimeter, dibawa sang jantan hingga menetas. Setelah menetas, larva hidup di permukaan air dengan kantung kuning telur besar, tubuh hampir sepenuhnya transparan, dan kepala yang relatif besar dibanding badannya.
Bagi masyarakat Suku Asmat, Muyu, dan Marind, ikan kaca adalah sumber pangan yang ditangkap secara tradisional menggunakan jaring atau pancing. Etnis Muyu di Boven Digoel mengolahnya menjadi ikan asin dan menjualnya ke Merauke. Di Kampung Mitimber, Fakfak, warga menyebutnya ikan giti-giti.
Tapi habitat ikan ini kini terancam. Penambangan emas ilegal di hulu sungai mencemari air dengan logam berat. Penebangan liar di sepanjang sungai pedalaman Papua membuat air keruh oleh lumpur. Ikan yang sudah bertahan sejak zaman Sahulland, sejak Papua dan Australia masih satu daratan, kini menghadapi ancaman yang jauh lebih baru dan jauh lebih destruktif dari apapun yang pernah ada sebelumnya.