Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Rabies Masih Terus Hantui Sumatera Utara

Ayat S Karokaro 8 Nov 2026

Korban Kabut Asap Karhutla, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Sarjan Lahay 7 Nov 2026
Cerita fitur

Cerita Para Pahlawan Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan

Riyad Dafhi Rizki 7 Nov 2026

Membedakan Welang dan Weling, Ular Belang Berbisa Kuat yang Sama-Sama Pemangsa Ular

Akhyari Hananto 7 Nov 2026
Cerita fitur

Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung

Zulkifli Mangkau 6 Nov 2026

Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna

Christopel Paino 6 Nov 2026
Semua berita

Berita utama

Rabies Masih Terus Hantui Sumatera Utara

Cerita Para Pahlawan Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan

Riyad Dafhi Rizki 7 Nov 2026

Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung

Zulkifli Mangkau 6 Nov 2026

Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju

Riza Salman* 6 Nov 2026

Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 5 Nov 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Raja Buah dari Bengkulu yang Belum Banyak Dikenal

Akita Verselita 7 Nov 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Sekiak, Ikan Pelangi Kebanggaan Masyarakat Maybrat Papua

Editor 8 Nov 2026

Separuh tubuhnya kebiruan, separuh lainnya menyala jingga kemerahan. Pertemuan dua warna itu membuat ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani) mudah dikenali di antara ikan hias lainnya. Pola mencolok terutama terlihat pada jantan dewasa, sementara betina memiliki warna lebih sederhana dengan garis gelap membujur di tengah tubuh. Ukurannya biasanya kurang dari sepuluh sentimeter.

Meski kini dipelihara pecinta akuarium di berbagai negara, habitat alaminya terbatas di kawasan Danau Ayamaru dan sejumlah danau sekitarnya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Jauh sebelum dikenal dalam perdagangan ikan hias internasional, masyarakat Maybrat telah mengenalnya sebagai sekiak.

Nama lokal itu tercatat pada label spesimen yang dikumpulkan Marinus Boeseman pada 1955. Gerald Allen kemudian mendeskripsikan ikan tersebut pada 1980 dan menyematkan nama boesemani sebagai penghormatan kepada Boeseman. Pada 1982, Allen bersama Heiko Bleher mengumpulkan spesimen hidup dari Ayamaru. Ikan-ikan itu kemudian dibawa untuk dikembangbiakkan di luar Papua. Keindahan warnanya membuka perjalanan panjang dari danau asal menuju akuarium di berbagai belahan dunia.

Namun, popularitas tersebut pernah membawa tekanan besar bagi populasi liar. Laporan pemerintah Australia pada 2023 mencatat penangkapan intensif di Ayamaru pada pertengahan 1980-an, dengan perkiraan hingga 60.000 ikan jantan diambil setiap bulan. Kini, sebagian besar pasokan perdagangan internasional berasal dari pembiakan komersial, sehingga kebutuhan menangkap ikan langsung dari alam berkurang. Meski demikian, keberadaan di akuarium tidak menggambarkan kondisi populasi asalnya.

Penelitian Hidayah dan kolega yang diterbitkan pada 2021 menyebut kelimpahan ikan pelangi boeseman di Danau Ayamaru sangat rendah atau sulit ditemukan.

Tekanan terhadap ikan ini juga berasal dari perubahan habitat. Penelitian tersebut menyoroti penangkapan berlebihan, masuknya ikan asing, serta pembukaan hutan di daerah tangkapan air. Sedimentasi dan penurunan volume air dapat mengganggu ruang hidup ikan yang sebarannya terbatas.

Danau Ayamaru sendiri merupakan ekosistem karst yang menerima aliran sejumlah sungai. Kondisi di daratan sekitarnya ikut menentukan keadaan perairan. Karena itu, menjaga ikan pelangi tidak cukup dilakukan dengan melindungi ikan di dalam danau, tetapi juga hutan dan aliran air yang menopang habitatnya.

Bagi masyarakat adat Maybrat, Ayamaru merupakan sumber penghidupan sekaligus bagian dari identitas budaya.

Studi Kambu dan kolega pada 2026 membahas praktik sasi, yakni larangan memanen sumber daya dalam jangka waktu tertentu, serta perlindungan kawasan keramat melalui aturan adat. Praktik tersebut memberi kesempatan bagi ekosistem dan populasi ikan untuk pulih. Pengetahuan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan danau bersama pemerintah dan pihak lain. Kelangsungan sekiak bergantung pada terjaganya perairan tempat ia berkembang biak, bukan hanya keberhasilan membiakkannya untuk pasar ikan hias.

Foto utama: Ikan pelangi boesemani merupakan endemik di Danau Ayamaru, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Dok. Martin L. Salossa.

Beruang Madu, Spesies Terkecil di Dunia yang Hidup di Hutan Indonesia

Editor 8 Nov 2026

Cakarnya membuka sarang lebah, sementara lidah panjangnya membantu menjangkau makanan di dalamnya. Kegemaran mencari madu membuat Helarctos malayanus dikenal sebagai beruang madu. Namun, makanannya jauh lebih beragam.

Satwa ini juga menyantap larva lebah dan buah-buahan. Ketika buah ditelan, sebagian bijinya ikut masuk ke saluran pencernaan, lalu keluar bersama kotoran. Dari kebiasaan makan itulah beruang madu menjalankan peran penting sebagai penyebar biji, membantu tumbuhan berpindah dari pohon induknya ke tempat lain di hutan.

Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia. Panjang tubuhnya sekitar 1–1,4 meter, dengan tinggi punggung mencapai 70 sentimeter. Ukurannya tidak mengurangi kekuatannya: kuku panjang dan tajam membantu mencari makanan serta beraktivitas di pepohonan. Corak terang pada dada memberinya nama lain, beruang matahari atau sun bear.

Di Indonesia, satwa ini hidup di Sumatera dan Kalimantan. Sebarannya juga mencakup sejumlah negara Asia lainnya. Kehidupannya berkaitan erat dengan hutan yang menyediakan makanan, tempat berlindung, dan pohon untuk beristirahat.

Penelitian Khohirul Hidayah dan Fahma Wijayanti yang diterbitkan pada 2019 menelusuri keberadaannya di empat lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat: Tandai-Talao, Gunung Tujuh, Ladeh Panjang, dan Pungut. Lokasi-lokasi tersebut memiliki kondisi berbeda, mulai dari hutan sekunder bertajuk relatif terbuka hingga hutan primer dengan gangguan lebih kecil.

Berdasarkan tanda keberadaan yang ditemukan, indeks kelimpahan relatif tertinggi tercatat di Ladeh Panjang, sedangkan terendah di Gunung Tujuh. Hasil ini menggambarkan perbedaan temuan selama penelitian, bukan jumlah pasti beruang madu yang menghuni seluruh kawasan taman nasional.

Pepohonan juga menjadi tempat beruang madu beristirahat. Satwa ini mengumpulkan dahan-dahan kecil untuk membuat tempat tidur di atas pohon, biasanya dekat batang. Cabang yang patah atau melengkung dapat menjadi petunjuk aktivitasnya. Namun, peneliti turut menemukan akses jalan setapak yang sering dilalui manusia.

Akses tersebut dinilai berpotensi membuka peluang perburuan, penebangan liar, dan perambahan. Ancaman jerat terlihat dalam kasus seekor anak beruang betina di Bengkulu pada 2019. Kaki depan kanannya terperangkap jerat babi, mengalami luka membusuk, hingga seluruh jarinya harus diamputasi.

Beruang madu dikenal pula sebagai identitas Bengkulu dan maskot Kota Balikpapan. Kehadirannya sebagai simbol daerah memberi kesempatan untuk mengenalkan kehidupan serta kebutuhan habitatnya kepada masyarakat. Di hutan, perlindungannya membutuhkan pengurangan ancaman jerat dan penjagaan tempat mencari makan maupun beristirahat. Hutan yang tetap terhubung memungkinkan beruang bergerak di antara sumber pakan. Ketika ia memakan buah dan membawa bijinya melalui perjalanan tersebut, manfaatnya kembali kepada hutan.

Menjaga beruang madu berarti mempertahankan salah satu hubungan antara satwa pemakan buah dan regenerasi tumbuhan.

Foto utama: Sepasang beruang madu bermain di atas pohon. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

Saat Sarden Menipis, Penguin Afrika Kehilangan Bekal Hidup

Editor 7 Nov 2026

Bagi penguin afrika (Spheniscus demersus), mengganti bulu berarti menjalani masa puasa di darat. Selama proses itu, mereka tidak dapat berburu di laut dan harus mengandalkan cadangan energi dalam tubuh. Karena itulah, mendapatkan cukup makanan sebelum pergantian bulu menjadi penentu keselamatan. Namun, ketika sarden semakin sulit ditemukan, sebagian penguin memasuki fase tersebut tanpa bekal memadai.

Penelitian Richard Sherley dari Universitas Exeter, Inggris, bersama kolega memperkirakan sekitar 62.000 penguin afrika dewasa mati sepanjang 2004-2011 di wilayah yang mereka kaji, berkaitan dengan kelangkaan makanan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ostrich pada 2025 itu menyoroti hubungan antara ketersediaan mangsa dan kemampuan penguin melewati pergantian bulu tahunan. “Kelangsungan hidup dewasa, terutama melalui pergantian bulu tahunan yang krusial, sangat terkait ketersediaan mangsa,” jelas Sherley.

Penurunan sarden terjadi di tengah tekanan penangkapan ikan serta perubahan kondisi lingkungan. Bagi penguin, persoalannya menjadi berlapis: makanan berkurang, sementara sumber daya yang tersisa juga dimanfaatkan armada perikanan. Tubuh yang kekurangan cadangan energi semakin sulit bertahan selama mereka harus menetap di daratan.

Penguin afrika (Spheniscus demersus) menghuni pesisir Namibia dan Afrika Selatan. Burung yang tidak dapat terbang ini mencari makan di laut dan kembali ke daratan untuk berkembang biak maupun berganti bulu.

Mangsanya mencakup sarden, ikan teri, serta hewan laut lain seperti cumi-cumi. Ketergantungan terhadap makanan di perairan sekitar membuat pengelolaan perikanan menjadi bagian penting perlindungannya.

Sherley menekankan perlunya mengurangi eksploitasi ketika biomassa sarden rendah, sehingga ikan dewasa memiliki kesempatan bereproduksi. Dalam penilaian konservasi yang dirujuk, penguin afrika telah masuk kategori Kritis atau Critically Endangered.

Adriani Sunuddin, ahli ekologi laut IPB University, menilai persoalan tersebut patut menjadi perhatian di luar Afrika. Indonesia memang bukan habitat alami penguin, tetapi sejumlah burung laut yang bermigrasi juga membutuhkan ikan sepanjang perjalanannya. Perairan tempat mereka mencari makan dapat berimpitan dengan lokasi penangkapan manusia.

“Walau sudah ada pengaturan, sumber makanan tetap terancam karena jalurnya dipakai manusia untuk menangkap ikan,” ujarnya. Perbandingan ini menunjukkan bahwa perlindungan burung laut perlu memperhatikan ketersediaan makanan, selain tempat singgah dan lokasi berkembang biak.

Ali Suman, peneliti perikanan BRIN, turut menekankan pentingnya pemantauan rutin agar pemanfaatan ikan tidak mengabaikan kebutuhan penguin. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sangat bergantung pada kemauan dan keberpihakan otoritas perikanan setempat.

Kasus penguin afrika memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan di darat dan perubahan di laut. Ketika ikan kecil berkurang, dampaknya dapat muncul sebagai kematian burung yang sedang berganti bulu di pantai. Menjaga mangsa tetap tersedia memberi penguin kesempatan mengumpulkan energi, melewati masa puasa, dan kembali berburu setelah bulu barunya siap.

Foto utama: Penguin afrika yang nasibnya satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Foto: Wikimedia Commons/Max Lieberman/CC BY-SA 2.5.

Kesempatan Kedua Orangutan Sumatera Hidup Liar di Hutan Jantho

Editor 7 Nov 2026

Bagi orangutan yang lama dipelihara manusia, hutan bukan tempat yang langsung terasa akrab. Mereka harus mengenali buah yang bisa dimakan, berpindah melalui pepohonan, dan membangun sarang untuk tidur. Semua itu perlu dilakukan tanpa bergantung pada manusia.

Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, proses tersebut dijalani Bombom, orangutan sumatera jantan yang diselamatkan di Babahrot, Aceh Barat Daya, pada 2019. Setelah rehabilitasi di Sumatera Utara, ia dipindahkan ke Jantho pada pertengahan 2026 untuk berlatih sebelum dilepasliarkan.

Tim menggunakan pendekatan soft release, yang memberi kesempatan kepada orangutan beradaptasi secara bertahap sebelum hidup mandiri.

Menurut Hafid, Manajer Reintroduksi Orangutan Jantho, kemampuan setiap individu berbeda. Ada yang masih kembali ke stasiun atau mengikuti petugas karena tertarik pada buah yang dibawa. “Terlalu lama berada di lingkungan manusia atau sebagai satwa peliharaan, berefek pada orangutan bertahan hidup di hutan nantinya,” ujarnya.

Pengalaman itu membuat pemantauan setelah pelepasliaran penting. Memindahkan orangutan ke hutan belum berarti ketergantungannya pada manusia langsung berakhir.

Kesiapan pelepasliaran mencakup kesehatan, berat badan, usia, keterampilan, dan perilaku. Citrakasih M. Nente dari Yayasan Ekosistem Lestari-Sumatran Orangutan Conservation Programme menjelaskan bahwa orangutan juga membutuhkan kepercayaan diri untuk menghadapi lingkungan hutan. Individu yang belum siap melanjutkan adaptasi di hutan pra-pelepasliaran. Jantho dipilih berdasarkan survei karena memiliki sumber air, tumbuhan pakan seperti Ficus, serta keterhubungan dengan hutan Ulu Masen.

Empat orangutan pertama dilepasliarkan pada 28 Maret 2011. Hingga September 2026, jumlah pelepasliaran tercatat 186 individu, terdiri atas 146 orangutan hasil rehabilitasi dan 40 orangutan liar yang ditranslokasi karena habitat asalnya rusak.

Pada 2017, tim menemukan Marconi, salah satu orangutan yang dilepasliarkan pada 2011, membawa bayi jantan yang kemudian dinamai Masen. Berbeda dari induknya, Masen tumbuh di hutan tanpa pernah menjalani kehidupan dalam kandang.

Hingga awal Oktober 2026, tim telah memantau 12 kelahiran. Pemantauan pada 2023 juga memperkirakan probabilitas kelangsungan hidup orangutan setelah sepuluh tahun pelepasliaran lebih dari 75%. Temuan-temuan tersebut memberi harapan bagi pembentukan populasi di Jantho, meskipun keberlanjutannya tetap membutuhkan perlindungan habitat dan pemantauan jangka panjang.

Namun, menambah jumlah orangutan yang dilepasliarkan bukan tujuan utama konservasi. Menurut Citra, melindungi habitat asal, membangun koridor, dan mendorong koeksistensi manusia-orangutan tetap lebih diutamakan. Hafid pun berharap semakin sedikit orangutan yang harus diselamatkan akibat pemeliharaan maupun perdagangan.

Hutan Jantho juga menopang kehidupan masyarakat melalui sistem tata air, termasuk bagian hulu Krueng Aceh. Menjaganya berarti mempertahankan tempat orangutan mencari makan dan membesarkan anak, sekaligus melindungi ekosistem yang menyediakan kebutuhan manusia.

Foto utama: Orangutan betina ini sedang belajar hidup liar di hutan Cagar Alam Jantho. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga

Editor 6 Nov 2026

Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang besar sekali. Karena pangan sagu yang jadi tong [kami] punya sumber penghidupan sehari-hari ludes,” katanya.

Selama api berkobar, warga berusaha memadamkannya dengan peralatan seadanya dan persediaan air yang terbatas.

Leleseng hanya satu dari banyak wilayah yang terdampak. Dari Ternate hingga Morotai dan Taliabu, kebakaran melanda hutan dan kebun warga. Di Desa Nggele, Pulau Taliabu, pemerintah kabupaten mencatat sekitar 132,5 hektar lahan terbakar dan 8.381 pohon cengkih terdampak.

Di Buli, Halmahera Timur, api menghanguskan kebun nanas, cengkih, dan pala. Said Marsaoly dari Salawaku Institute mengatakan kerugian itu sangat terasa bagi perempuan yang sehari-hari berjualan nanas. Ia juga mengkhawatirkan kondisi mata air warga karena api merusak vegetasi di sekitarnya.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kenaikan titik panas dari 52 pada Juni menjadi 3.113 pada September dan 3.696 pada Oktober. Angka tersebut sudah mengecualikan sumber panas tetap yang terdeteksi setiap bulan, seperti kawasan industri dan gunung api. Titik panas adalah anomali suhu yang terekam satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik. Hujan sempat menekan jumlah deteksi pada pertengahan Oktober, tetapi titik panas kembali meningkat sejak 20 Oktober. Pada akhir bulan, Wasile Utara di Halmahera Timur dan Taliabu Barat Laut menjadi wilayah dengan deteksi terbanyak.

Kepala BPBD Maluku Utara Fehby Alting menyebut minimnya sumber air, mobil tangki, dan pompa sebagai kendala pemadaman. Angin kencang serta medan pegunungan yang terjal juga menyulitkan petugas mencapai lokasi. BPBD merekomendasikan pemadaman dari udara untuk wilayah yang sulit dijangkau. Operasi modifikasi cuaca telah dilakukan pada September dan Oktober, tetapi dampaknya terhadap kebakaran masih perlu dievaluasi.

Herman Oesman, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, menilai kenaikan titik panas sejak Juni semestinya mendorong pemerintah daerah bertindak lebih dini dan memperkuat koordinasi.

Di Halmahera Timur, api bahkan masuk ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Astuti N. Kilwouw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara, meminta pemerintah menyelidiki asal api dan cara penyebarannya secara terbuka. Ia juga mendorong agar data titik panas diperiksa bersama peta konsesi dan pembukaan lahan, serta agar warga memiliki saluran pelaporan. Bagi warga Leleseng dan Buli, pekerjaan setelah pemadaman sama mendesaknya: memulihkan sumber pangan, kebun, dan hutan di sekitar mata air yang mereka andalkan.

Foto utama: Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga.

Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang

Editor 6 Nov 2026

Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang menenun di rumah masing-masing.

Rencana jalan tol Padang–Pekanbaru yang akan melintasi Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, membuatnya waswas: lahan pertanian, permukiman, dan tempat usaha songket di nagari itu berpotensi terdampak.

Bagi Sofiani Sri Azizah, ladang dan alat tenun sama-sama membiayai pendidikan anak. Suaminya menanam sayuran, sementara Sofiani menenun setelah anak berangkat sekolah. Saat uang sekolah jatuh tempo, hasil penjualan sayur bisa langsung dipakai untuk membayarnya. Pertanian di nagari ini juga menyediakan pekerjaan bagi warga dari nagari sekitar, dengan upah buruh tani mencapai Rp120.000 sehari, menurut Sofiani. Jika lahan berkurang, keluarga pemilik tanah dan para pekerja sama-sama berisiko kehilangan penghasilan. Uang ganti rugi pun belum tentu cukup untuk membeli rumah dan menemukan lahan yang bisa kembali mereka garap.

Menurut perkiraan yang dihimpun tokoh pemuda setempat, Mahdi Latief, trase tol tersebut berpotensi berdampak pada 18 hektar lahan pertanian, 1,8 hektar permukiman, dan tujuh bangunan usaha songket. Warga memperkirakan omzet pertanian dan tenun mencapai Rp27 miliar setahun, sementara nilai ganti rugi lahan ditaksir Rp181 miliar. Keduanya merupakan perkiraan warga. Angka omzet belum dikurangi biaya produksi, sehingga tidak dapat dibaca sebagai laba atau nilai kerugian tahunan.

Bagi Mahdi, angka itu membantu menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi yang selama ini bergantung pada lahan tersebut.

Sebagian lahan yang dikhawatirkan terdampak merupakan tanah pusako tinggi, yang diwariskan melalui garis keturunan perempuan. Menurut R. Dt. Sinaro Nan Kuniang, niniak mamak Pandai Sikek, menjaga tanah itu berarti menjamin generasi berikutnya masih memiliki tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Setelah bermusyawarah, warga dan niniak mamak menyampaikan keberatan atas trase yang melintasi nagari kepada pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. “Kami bukan menolak jalan tol. Kami hanya meminta dicarikan trase lain,” ujar Sinaro. Walhi Sumatera Barat mendukung aspirasi itu dan meminta warga dilibatkan dalam evaluasi rencana pembangunan.

Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly menilai jalan tol berpotensi memberi manfaat bagi Sumatera Barat, sekaligus mengakui persoalan pembebasan lahan perlu dibicarakan bersama warga. Dalam pertemuan pra-sosialisasi, Direktur Utama PT Hutama Karya Koentjoro mengatakan masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi sebelum konsultasi publik berikutnya. Bagi Dewi dan Sofiani, yang ingin mereka ketahui dari proses itu konkret: apakah jalur tol bisa dipindahkan agar mereka tetap dapat bertani dan menenun di Pandai Sikek?

Foto utama: Dewi sedang menyelesaikan tenun Pandai Sikek motif Saga Merah. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.