Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung

Zulkifli Mangkau 6 Nov 2026

Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna

Christopel Paino 6 Nov 2026
Cerita fitur

Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju

Riza Salman* 6 Nov 2026

Masyarakat Sipil Desak RSPO, dari Soal Tanggung Jawab Karhutla sampai Keterancaman Satwa

Irfan Maulana dan Rendy Tisna 5 Nov 2026
Cerita fitur

Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 5 Nov 2026
Cerita fitur

Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi

Yulia Adiningsih 5 Nov 2026
Semua berita

Berita utama

Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung

Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju

Riza Salman* 6 Nov 2026

Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 5 Nov 2026

Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi

Yulia Adiningsih 5 Nov 2026

Siapa Penerima Manfaat Kasus Perdagangan Orang di KM Maulana 23?

Achmad Rizki Muazam 4 Nov 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Suara Nelayan di Rembuk Agraria Pesisir 2026

Lusia Arumingtyas 3 Nov 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga

Editor 6 Nov 2026

Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang besar sekali. Karena pangan sagu yang jadi tong [kami] punya sumber penghidupan sehari-hari ludes,” katanya.

Selama api berkobar, warga berusaha memadamkannya dengan peralatan seadanya dan persediaan air yang terbatas.

Leleseng hanya satu dari banyak wilayah yang terdampak. Dari Ternate hingga Morotai dan Taliabu, kebakaran melanda hutan dan kebun warga. Di Desa Nggele, Pulau Taliabu, pemerintah kabupaten mencatat sekitar 132,5 hektar lahan terbakar dan 8.381 pohon cengkih terdampak.

Di Buli, Halmahera Timur, api menghanguskan kebun nanas, cengkih, dan pala. Said Marsaoly dari Salawaku Institute mengatakan kerugian itu sangat terasa bagi perempuan yang sehari-hari berjualan nanas. Ia juga mengkhawatirkan kondisi mata air warga karena api merusak vegetasi di sekitarnya.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kenaikan titik panas dari 52 pada Juni menjadi 3.113 pada September dan 3.696 pada Oktober. Angka tersebut sudah mengecualikan sumber panas tetap yang terdeteksi setiap bulan, seperti kawasan industri dan gunung api. Titik panas adalah anomali suhu yang terekam satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik. Hujan sempat menekan jumlah deteksi pada pertengahan Oktober, tetapi titik panas kembali meningkat sejak 20 Oktober. Pada akhir bulan, Wasile Utara di Halmahera Timur dan Taliabu Barat Laut menjadi wilayah dengan deteksi terbanyak.

Kepala BPBD Maluku Utara Fehby Alting menyebut minimnya sumber air, mobil tangki, dan pompa sebagai kendala pemadaman. Angin kencang serta medan pegunungan yang terjal juga menyulitkan petugas mencapai lokasi. BPBD merekomendasikan pemadaman dari udara untuk wilayah yang sulit dijangkau. Operasi modifikasi cuaca telah dilakukan pada September dan Oktober, tetapi dampaknya terhadap kebakaran masih perlu dievaluasi.

Herman Oesman, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, menilai kenaikan titik panas sejak Juni semestinya mendorong pemerintah daerah bertindak lebih dini dan memperkuat koordinasi.

Di Halmahera Timur, api bahkan masuk ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Astuti N. Kilwouw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara, meminta pemerintah menyelidiki asal api dan cara penyebarannya secara terbuka. Ia juga mendorong agar data titik panas diperiksa bersama peta konsesi dan pembukaan lahan, serta agar warga memiliki saluran pelaporan. Bagi warga Leleseng dan Buli, pekerjaan setelah pemadaman sama mendesaknya: memulihkan sumber pangan, kebun, dan hutan di sekitar mata air yang mereka andalkan.

Foto utama: Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga.

Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang

Editor 6 Nov 2026

Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang menenun di rumah masing-masing.

Rencana jalan tol Padang–Pekanbaru yang akan melintasi Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, membuatnya waswas: lahan pertanian, permukiman, dan tempat usaha songket di nagari itu berpotensi terdampak.

Bagi Sofiani Sri Azizah, ladang dan alat tenun sama-sama membiayai pendidikan anak. Suaminya menanam sayuran, sementara Sofiani menenun setelah anak berangkat sekolah. Saat uang sekolah jatuh tempo, hasil penjualan sayur bisa langsung dipakai untuk membayarnya. Pertanian di nagari ini juga menyediakan pekerjaan bagi warga dari nagari sekitar, dengan upah buruh tani mencapai Rp120.000 sehari, menurut Sofiani. Jika lahan berkurang, keluarga pemilik tanah dan para pekerja sama-sama berisiko kehilangan penghasilan. Uang ganti rugi pun belum tentu cukup untuk membeli rumah dan menemukan lahan yang bisa kembali mereka garap.

Menurut perkiraan yang dihimpun tokoh pemuda setempat, Mahdi Latief, trase tol tersebut berpotensi berdampak pada 18 hektar lahan pertanian, 1,8 hektar permukiman, dan tujuh bangunan usaha songket. Warga memperkirakan omzet pertanian dan tenun mencapai Rp27 miliar setahun, sementara nilai ganti rugi lahan ditaksir Rp181 miliar. Keduanya merupakan perkiraan warga. Angka omzet belum dikurangi biaya produksi, sehingga tidak dapat dibaca sebagai laba atau nilai kerugian tahunan.

Bagi Mahdi, angka itu membantu menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi yang selama ini bergantung pada lahan tersebut.

Sebagian lahan yang dikhawatirkan terdampak merupakan tanah pusako tinggi, yang diwariskan melalui garis keturunan perempuan. Menurut R. Dt. Sinaro Nan Kuniang, niniak mamak Pandai Sikek, menjaga tanah itu berarti menjamin generasi berikutnya masih memiliki tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Setelah bermusyawarah, warga dan niniak mamak menyampaikan keberatan atas trase yang melintasi nagari kepada pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. “Kami bukan menolak jalan tol. Kami hanya meminta dicarikan trase lain,” ujar Sinaro. Walhi Sumatera Barat mendukung aspirasi itu dan meminta warga dilibatkan dalam evaluasi rencana pembangunan.

Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly menilai jalan tol berpotensi memberi manfaat bagi Sumatera Barat, sekaligus mengakui persoalan pembebasan lahan perlu dibicarakan bersama warga. Dalam pertemuan pra-sosialisasi, Direktur Utama PT Hutama Karya Koentjoro mengatakan masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi sebelum konsultasi publik berikutnya. Bagi Dewi dan Sofiani, yang ingin mereka ketahui dari proses itu konkret: apakah jalur tol bisa dipindahkan agar mereka tetap dapat bertani dan menenun di Pandai Sikek?

Foto utama: Dewi sedang menyelesaikan tenun Pandai Sikek motif Saga Merah. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Mengikuti Musim Buah

Editor 5 Nov 2026

Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, atau keputihan. Tubuhnya cukup besar. Panjang jantan dapat mencapai sekitar satu setengah meter, sementara betina umumnya lebih kecil.

Kajian Matthew S. Luskin dan Alison Ke membedakan dua subspesies berdasarkan wilayah sebarannya. Sus barbatus oi dikaitkan dengan Sumatera, sedangkan Sus barbatus barbatus menghuni Kalimantan, Semenanjung Malaysia, serta sejumlah pulau di sekitarnya. Namun, batas sebaran kedua kelompok itu belum sepenuhnya jelas.

Para peneliti menyebut babi berjanggut di Bangka dan sebagian Kepulauan Riau sulit dipastikan termasuk kelompok mana. Kemampuan satwa ini berenang di perairan terbuka membuat para peneliti menduga bahwa penyeberangan Selat Malaka mungkin pernah terjadi. Mereka juga menilai hilangnya hutan di kedua pesisir mengurangi kemungkinan penyeberangan tersebut.

Di darat, babi berjanggut berpindah mengikuti musim buah. Satwa ini menghuni berbagai tipe hutan hujan tropis dan dapat dijumpai pula di hutan yang telah ditebang. Buah bukan satu-satunya makanan: babi berjanggut juga mencari biji, umbi, cacing, dan serangga di tanah. Pencarian pakan kadang membawanya masuk ke lahan pertanian.

Kebiasaan berpindah itu memperlihatkan mengapa kondisi hutan di sepanjang jalur pergerakannya penting, terutama ketika sumber makanan di satu tempat mulai berkurang.

Perjumpaan di ladang juga menjadi bagian dari hubungan warga dengan satwa ini. Dalam penelitian Nining Liswanti dan kolega di Malinau, masyarakat Dayak Merap dan Punan dilaporkan berburu babi hutan, termasuk babi berjanggut yang masuk ke wilayah pertanian. Kajian yang sama mencatat aturan adat yang membatasi pembukaan ladang dan pengambilan sumber daya di tempat tertentu.

Bagi masyarakat yang diteliti, hutan menyediakan kebutuhan sehari-hari sekaligus memiliki nilai spiritual. Aturan tersebut membantu menjaga agar sumber daya hutan dapat terus dimanfaatkan.

Kemampuan memanfaatkan beragam habitat tidak membuat babi berjanggut luput dari ancaman. Dalam penilaian IUCN yang dirujuk, spesies ini masuk kategori Rentan, dengan penurunan populasi hingga 30 persen dalam kurun 21 tahun. Kehilangan habitat akibat eksploitasi dan kerusakan hutan menjadi faktor yang disorot. Bagi satwa yang mencari makan dengan mengikuti musim buah, menjaga hutan juga berarti mempertahankan jalur yang menghubungkannya dengan sumber pakan berikutnya.

Foto utama: Babi berjanggut yang berada di Kebun Binatang San Diego, Amerika. Foto: Wikipedia/Art G. from Willow Grove, PA, USA/Creative Commons Atribusi 2.0 Generik/Free to share.

Mengapa Ribuan Bintang Laut Berduri Diangkat dari Perairan Togean?

Editor 5 Nov 2026

Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya.

Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, keberadaannya merupakan bagian dari ekosistem terumbu. Ketika populasinya melonjak, pemangsaan dapat meluas hingga menghabiskan sebagian besar karang hidup di lokasi terdampak.

Neviaty P. Zamani, peneliti yang mengkaji kelimpahan bintang laut berduri di perairan Pulau Tunda, Banten, menyebut satu individu dapat memangsa karang seluas 5–6 meter persegi dalam setahun. Angka itu memberi gambaran mengapa perubahan jumlah satwa ini begitu berarti. Dalam kondisi normal, kepadatannya dapat berkisar sekitar 10 ekor per hektar, tetapi saat terjadi ledakan populasi jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor pada luasan yang sama.

Di Pulau Tunda sendiri, penelitian tersebut menemukan kelimpahan yang masih berada dalam kisaran alami dan belum menjadi ancaman berarti bagi terumbu.

Apa yang membuat jumlahnya melonjak? Neviaty menjelaskan tiga kemungkinan.

Pertama, populasi bintang laut memang dapat naik turun secara alami. Kedua, berkurangnya hewan pemangsa dapat membuat lebih banyak bintang laut bertahan hidup. Ketiga, aktivitas manusia di darat dan pesisir dapat menambah ketersediaan makanan bagi larva di laut.

Jika lebih banyak larva bertahan, lebih banyak pula yang berpeluang tumbuh menjadi pemangsa karang. Ketiganya merupakan penjelasan yang dibahas dalam kajian tersebut. Lonjakan populasi di suatu lokasi belum cukup untuk menentukan penyebabnya.

Di Togean, pengelola kawasan telah mencoba menekan jumlah bintang laut di lokasi dengan kepadatan tinggi. Pada 2019, sekitar 8.000 ekor dengan diameter 8-48 sentimeter diangkat dari perairan taman nasional. Tim mensurvei lokasi terlebih dahulu, lalu menggunakan penjepit bambu untuk menghindari kontak langsung dengan duri.

Darwis Ambotang, warga sekaligus pemilik penginapan di Pulau Papan, mengatakan pengangkatan telah dilakukan beberapa kali. Namun, pada 2022 dia masih melihat banyak lipan laut. Baginya, kegiatan itu merupakan bagian dari upaya memulihkan terumbu yang juga menjadi daya tarik wisata setempat.

Pengalaman Togean dan Pulau Tunda menunjukkan mengapa jumlah bintang laut perlu dibaca bersama kondisi karang di lokasi yang sama. Menemukan seekor lipan laut saat menyelam belum menandakan terumbu sedang bermasalah. Yang perlu diperhatikan adalah kenaikan kepadatan dan seberapa luas karang hidup yang dimangsa. Survei berulang dapat membantu pengelola membedakan populasi yang masih berada dalam kisaran alami dari lonjakan yang perlu ditangani.

Foto utama: Bintang laut mahkota berduri di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.

Hirup Asap Karhutla Berulang, Tidak Berarti Tubuh Kebal Polutan

Editor 4 Nov 2026

Langit yang kembali cerah belum tentu menandai berakhirnya dampak kebakaran hutan dan lahan. Bagi warga yang berhari-hari menghirup asap, persoalan kesehatan dapat berlanjut setelah titik api padam.

Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) mengingatkan bahwa penanganan karhutla perlu mencakup perlindungan masyarakat, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pekerja luar ruangan. Mengutip data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, yayasan itu menyebut terdapat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 75.172 kasus, atau sekitar 22,5%, terjadi pada balita.

Angka tersebut menjadi peringatan mengenai besarnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah yang diselimuti asap.

Herawati Supolo Sudoyo, pembina YSSTI, menilai perhatian selama ini terlalu sering terpusat pada pemadaman, sementara warga yang terus terpapar belum memperoleh perlindungan memadai. “Perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan terus sejak sebelum asap datang hingga setelah langit kembali cerah,” katanya. Menurut Herawati, kesiapsiagaan perlu memasukkan perlindungan sebelum kebakaran, respon selama paparan, serta pemantauan medis setelahnya.

Terbiasa menghadapi musim asap tidak berarti tubuh menjadi kebal terhadap polutan.

Feni Fitriani Taufik, dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, menjelaskan bahwa asap karhutla merupakan campuran partikel halus, gas beracun, dan senyawa berbahaya. Di dalamnya terdapat PM2.5, PM10, karbon monoksida, nitrogen oksida, benzena, serta formaldehida. Partikel PM2.5 dapat mencapai kantung udara terdalam di paru-paru, sementara paparannya berkaitan dengan peradangan dan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.

Karbon monoksida juga mengganggu kemampuan darah membawa oksigen. Dengan demikian, dampak asap tidak terbatas pada batuk atau mata perih, tetapi dapat melibatkan fungsi organ dan kesehatan jangka panjang.

Di Kalimantan Tengah, Walhi menyoroti hubungan antara kondisi iklim dan kerusakan gambut yang memperparah kebakaran. Organisasi itu menyebut lebih dari 81.000 hektar terbakar sepanjang Januari-September 2026, sementara Dinas Kesehatan mencatat lebih dari 91.000 kasus ISPA. Walhi juga melaporkan 74% titik panas berada di wilayah konsesi perusahaan. Temuan tersebut menjadi dasar desakan untuk melakukan audit lingkungan dan penegakan hukum. Keberadaan titik panas perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan lokasi kebakaran, penyebab, serta tanggung jawab pihak terkait. Pemulihan gambut melalui pembasahan ulang turut menjadi tuntutan.

Skala penanganannya besar. BNPB mencatat lebih dari 1.039 kejadian karhutla sepanjang Januari-28 Oktober 2026, dari total 2.231 kejadian bencana. Lebih dari 51.000 personel darat dan 61 armada udara dikerahkan untuk penanganan kebakaran. Namun, pengerahan sumber daya pemadaman perlu berjalan bersama layanan kesehatan dan perlindungan warga.

Seruan para pakar dan organisasi lingkungan menempatkan keduanya dalam satu kebutuhan: menghentikan sumber asap sekaligus menangani dampaknya. Keberhasilan menghadapi karhutla juga perlu terlihat pada keselamatan masyarakat yang selama ini menghirup udara tercemar.

Foto utama: Pengendara motor melintasi jalanan di Palangka Raya, Kalteng, Oktober lalu, ketika kabut asap karhutla parah. Foto: Krismes Santo Haloho /Mongabay Indonesia.

Bukan Skala Nasional, Agus Bikin Tempe Mendunia

Editor 4 Nov 2026

Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperkenalkan tempe koro pedang kepada petani di Majalengka ketika mendampingi Lembaga Masyarakat Desa Hutan pada 2010.

Selama empat tahun, dia mengembangkan dan mengenalkan produk tersebut. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanannya mengolah tempe, yang kemudian berkembang menjadi kelas-kelas pembuatan tempe organik dan pendampingan perajin.

Ketertarikan Agus pada pertanian organik bermula ketika menjadi pendamping korban konflik Aceh pada 2008. Pengalaman tersebut mendorongnya memikirkan hubungan antarmakhluk hidup dan cara manusia memproduksi pangan. Saat bekerja bersama petani di Majalengka, dia melihat peluang dari keragaman biji-bijian lokal.

“Kita kaya akan biji-bijian, bisa tidak tergantung dari kedelai,” katanya.

Bagi Agus, memperluas bahan baku tempe merupakan cara mengangkat tanaman setempat. Dia juga mengembangkan tempe kedelai lokal sebagai bagian dari upayanya mendukung penggunaan hasil pertanian dalam negeri.

Pengetahuan itu dibagikannya melalui kelas yang kebanyakan berlangsung secara daring. Peserta belajar teori dan praktik pembuatan tempe, mengenali bahan baku, hingga membuat ragi.

Pada tingkat lanjutan, Agus memperkenalkan variasi tempe dengan kunyit, kencur, kayumanis, kelor, stevia, dan spirulina. Ada pula kelas pengolahan tempe dari beragam kacang-kacangan. Pesertanya datang dari berbagai kalangan, termasuk luar negeri.

“Sekarang kita sudah era global. Tempe itu sudah mendunia,” ujarnya.

Dia ingin keterampilan membuat pangan yang lekat dengan kehidupan Indonesia ini tetap dikenal dan diwariskan oleh masyarakatnya sendiri.

Di Gunungkidul, Agus mendampingi perajin tempe Playen, kawasan yang menurutnya dahulu dikenal sebagai penghasil tempe dan kedelai. Penggunaan kedelai lokal menyusut ketika harganya semakin sulit bersaing dengan impor. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan pangan lokal juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha petani dan perajin.

Di sisi produksi, Agus berusaha menyederhanakan tahapan perendaman dan pemasakan agar penggunaan air serta energi lebih hemat. Ia memilih mengukus bahan tempe dan terus mengembangkan proses pengolahannya, meskipun besarnya penghematan tidak dijelaskan melalui pengukuran dalam laporan ini.

Minat terhadap produknya datang dari konsumen yang mencari pangan organik, termasuk kelompok vegan dan vegetarian. Agus juga mengikuti pasar bertema lingkungan, seperti Pasar Wiguna di Yogyakarta, untuk memperkenalkan hasil olahannya. Salah satu peminatnya, Claudia Chavarria, mahasiswa asal Meksiko, bahkan belajar membuat tempe agar dapat mengolahnya setelah kembali ke negaranya.

Dari kebun petani hingga kelas daring lintas negara, kegiatan Agus memperlihatkan bagaimana tempe menjadi ruang bertemunya pengetahuan, kreativitas, dan pilihan bahan pangan. Keberlanjutannya membutuhkan orang-orang yang mau menanam bahan bakunya, mengolah, serta membagikan keterampilannya.

Foto utama: Claudia, mahasiswa di Jogja asal Meksiko, yang suka makan dan mau belajar bikin tempe. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.