Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]
Danau Deduhuk dan Jalur Gajah Sumatera yang Hilang
Editor3 Nov 2026
Dahulu, puluhan gajah sumatera datang untuk berendam di rawa Danau Deduhuk, lalu melanjutkan perjalanan melintasi pegunungan. Kini, kunjungan itu tinggal dalam ingatan warga Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Menurut warga, kawanan tersebut tidak lagi terlihat selama sekitar dua dekade.
“Kami tidak paham mengapa bujang besak itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali.
Sebutan bujang besak, yang berarti anak laki-laki besar, mencerminkan kedekatan masyarakat Semende dengan satwa yang mereka hormati sebagai sesama penghuni hutan.
Danau Deduhuk berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut, dalam bentang perbukitan Gunung Patah. Menurut penuturan Zali, dahulu gajah mengunjunginya dua kali setahun. Kawanan datang dari arah Gunung Patah menuju Isau-Isau, kemudian kembali melintas beberapa bulan berikutnya. Di rawa yang disebut Danah Tiga Panggung, mereka berdiam dan berendam.
Ingatan tentang perjalanan tersebut menunjukkan bahwa danau merupakan bagian dari ruang jelajah gajah, bersama rawa Pama dan Danau Gerak di wilayah Semende. Kini, jalur yang pernah dilalui kawanan itu menyisakan pertanyaan tentang keberadaan mereka.
Bagi masyarakat Semende, jejak gajah juga menyimpan pengetahuan tentang hutan. Secara turun-temurun, warga mengenalnya sebagai petunjuk jalur, sumber air, dan tumbuhan pangan.
Zali mengatakan masyarakatnya tidak memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Ahmad Juraidi, warga tepian danau, menyampaikan cerita serupa dari kakeknya: kawanan gajah pernah singgah selama beberapa hari tanpa mengganggu kebun dan pondok warga. Kesaksian tersebut merekam pengalaman hidup berdampingan yang masih dijaga dalam ingatan keluarga.
Namun, keberadaan gajah di kawasan itu belum dapat dipastikan. Laporan pemetaan habitat pada 2016 oleh BKSDA Sumatera Selatan bersama Universitas Sriwijaya dan GIZ-BIOCLIME menyebut tidak ditemukan individu gajah di Hutan Lindung Jambul Nanti Patah.
Syamsuardi dari Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa memperkirakan gajah mungkin sudah tidak ada, tetapi menekankan perlunya pemeriksaan kembali. Ia mencontohkan Gunung Raya, tempat sekitar lima individu kemudian terdeteksi setelah sebelumnya dianggap tidak lagi dihuni gajah. Tidak adanya perjumpaan di Deduhuk belum menjelaskan secara pasti apakah kawanan berpindah, berkurang, atau menghilang.
Sementara menunggu jawaban, Danau Deduhuk tetap menopang kehidupan masyarakat. Warga memandangnya sebagai danau adat milik bersama, sumber air bersih dan pertanian sejak 1930-an. Aliran airnya kini juga menggerakkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro berkapasitas 18 kilowatt yang melayani 53 keluarga.
Zali dan Juraidi berharap pengembangan energi panas bumi di Rantau Dedap tetap menjamin permukiman serta kebun warga. Bagi mereka, menjaga danau berarti mempertahankan ruang hidup yang telah diwariskan lintas generasi, sekaligus menyimpan harapan bahwa suatu hari jejak bujang besak kembali terlihat.
Foto utama: Danau Deduhuk yang dikelilingi perbukitan Gunung Patah. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.
Kucing Liar Menghilang, Kebun Kopi Masyarakat Sumatera Selatan Belum Tentu Lebih Aman
Editor3 Nov 2026
Berkurangnya perjumpaan dengan satwa liar membuat sebagian petani di sekitar Suaka Margasatwa Gunung Raya, Sumatera Selatan, merasa lebih aman berkebun. Namun, persoalan di kebun mereka belum selesai. Babi hutan merusak tanaman, sementara cuaca yang sulit diperkirakan mengganggu pembungaan kopi.
Suparto, petani Desa Way Wangi Seminung, mengaku kebun satu hektarnya dahulu menghasilkan sekitar dua ton kopi pada 2014. Kini, hasilnya sekitar 300 kilogram. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menghilangnya satwa dari sekitar kebun tidak serta-merta membawa kondisi pertanian yang lebih baik.
Gunung Raya dahulu menjadi habitat gajah sumatera, harimau, macan dahan, kucing emas, kucing kuwuk, hingga tapir. Menurut warga, satwa-satwa tersebut kini semakin jarang terlihat seiring berkurangnya tutupan hutan. Data BKSDA Sumatera Selatan menunjukkan sekitar 32.608 hektar, atau 64% dari luas kawasan, masuk dalam blok rehabilitasi karena terganggu atau berubah menjadi perkebunan.
Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia, menekankan pentingnya menjaga satwa beserta habitatnya. “Banyak praktisi sekarang memahami penyelamatan satwa liar, merupakan salah satu kunci dalam memerangi krisis iklim,” katanya.
Di kebun kopi, babi mencari makanan dengan menggali tanah, yang dapat merusak akar dan merobohkan tanaman muda. Parmin, petani kopi di sekitar Gunung Raya. juga melaporkan babi memakan buah kopi. Sebagian warga menduga tekanan ini berkaitan dengan berkurangnya predator, terutama harimau yang memangsa babi. Namun, dugaan tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab perubahan populasi babi di Gunung Raya.
Perubahan habitat dan ketersediaan makanan juga perlu diperhatikan. Di wilayah Semende, petani Dapawi menduga menyusutnya hutan membuat babi lebih sering masuk kebun, merusak kopi, padi, dan tanaman lainnya.
Peran kucing liar sebagai pengendali hama terlihat lebih jelas pada hubungan kucing kuwuk dengan tikus sawah.
Antok, petani di Desa Way Wangi Seminung, mengaku pernah melihat kucing kuwuk bersarang di sekitar rumpun padi. “Mereka hanya membuat sarang, tidak menganggu. Karena mereka, hama tikus tidak menyerang padi. Kami sadar mereka memang harus dijaga,” ujarnya.
Penelitian Fakhri dan kolega pada 2024 di Sumatera Barat juga menemukan kesadaran petani mengenai manfaat kucing kuwuk. Satwa ini memanfaatkan sawah untuk berburu tikus, dengan vegetasi di sekitarnya sebagai tempat berlindung.
Hubungan tersebut membuka peluang pertanian yang memberi ruang bagi satwa liar. Penelitian Campera dan kolega pada 2021 menyoroti agroforestri, pendidikan konservasi, aturan lokal, serta praktik organik sebagai bagian dari pendekatan berkelanjutan pada kebun kopi. Memadukan pohon dengan tanaman budidaya dapat mendukung keanekaragaman hayati, disertai upaya mengurangi perburuan dan penjeratan.
Tantangannya adalah menjaga penghidupan petani sekaligus mempertahankan fungsi ekosistem. Kucing liar memiliki jenis mangsa dan kebutuhan habitat berbeda, tetapi keberadaannya mengingatkan bahwa kebun terhubung dengan kehidupan hutan di sekelilingnya.
Foto utama: Petani di Gunung Raya, Sumatera Selatan, tengah memetik kopi di kebunnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.
Belum Pulih dari Bencana, Warga Padang Kembali Diterjang Banjir
Editor2 Nov 2026
Kasur pegas yang dibersihkan Yuli Wetri menyimpan ingatan tentang dua banjir. Benda itu selamat ketika sebagian besar rumah dan hartanya hanyut pada November 2025. Namun, belum setahun berlalu, kasur yang sama kembali terendam lumpur setelah banjir menerjang Padang pada 10 Oktober 2026. “Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang),” katanya.
Yuli baru sebulan menumpang di rumah kerabat sambil menunggu hunian tetap. Bencana kembali memaksanya menghadapi kehilangan rasa aman, bersama sekitar 165 keluarga atau 615 jiwa yang mengungsi.
Di perumahan Lumin Park Cluster, Kelurahan Lubuk Minturun, tanggul pembatas jebol dan air naik hingga sekitar 1,5-2 meter. Pintu, jendela, serta pagar rumah rusak, sementara lumpur menutupi bagian dalam bangunan. Herawati, yang tinggal di sana sejak 2019, mengaku kini segera mengungsi ketika langit menggelap. Pengalaman warga mendorong Walhi Sumatera Barat mempertanyakan dasar pembangunan perumahan tersebut.
Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, menyebut lokasinya berada di tikungan Sungai Batang Aia Dingin yang rawan banjir dan erosi. Ia mendesak evaluasi tata ruang, perizinan, serta pengawasan pembangunan, bukan hanya penanganan setelah bencana.
Pengembang Lumin Park membantah pembangunan melanggar sempadan sungai atau tata ruang. Melalui kuasa hukumnya, Mettalia Yolanda, perusahaan menyatakan telah melakukan studi kelayakan dan kajian teknis tata air sebelum membangun. “Tidak ada bangunan rumah yang kami dirikan melanggar batas sempadan atau mencaplok kawasan lindung sungai.” Pengembang juga menyebut telah meninggikan tanah dasar dan mengajukan perbaikan infrastruktur kepada instansi terkait. Menurut mereka, sedimentasi setelah banjir November 2025 menurunkan kapasitas sungai sehingga kawasan yang sebelumnya dinilai aman menjadi rentan.
Perbedaan penjelasan ini memperkuat kebutuhan pemeriksaan teknis dan keterbukaan dokumen.
Isril Berd,, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Sumbar, menjelaskan bahwa penumpukan pasir, lumpur, dan tanah dapat mengurangi kapasitas sungai. Ketika debit dari hulu melampaui kemampuan sungai serta drainase, air berpotensi meluap ke permukiman. Kondisi DAS Air Dingin, Kuranji, dan Arau perlu diperiksa bersama perubahan tutupan lahan di hulunya. Ahli lingkungan Universitas Negeri Padang, Indang Dewata, turut menekankan evaluasi alih fungsi lahan dan perizinan.
Penanganan, menurut para ahli, memerlukan pengendalian sedimentasi, pemulihan vegetasi, serta pengelolaan terpadu dari hulu hingga hilir.
Fadly Amran, Wali Kota Padang, meminta percepatan pengerukan, penataan alur sungai, serta pembangunan check dam dan sabo dam untuk mengendalikan aliran dan sedimen. Penentuan lokasi maupun ukurannya harus didukung kajian teknis agar sesuai dengan kondisi lapangan. BWS Sumatera V merencanakan pekerjaan rekonstruksi mulai November 2026, mencakup Batang Kuranji, Air Dingin, dan sejumlah anak sungai.
Bagi warga seperti Yuli dan Herawati, rencana tersebut menyangkut kebutuhan paling mendasar: dapat kembali tinggal di rumah tanpa harus selalu bersiap melarikan diri ketika hujan turun.
Foto utama: Sebuah mobil yang sempat terbawa arus saat banjir menerjang perumahan Lumin Park, Sabtu (10/10/26). Foto: Vinolia/Mongabay Indonesia.
Pando, Satu Organisme Raksasa dengan 47.000 Batang Pohon
Editor2 Nov 2026
Berjalan di antara pepohonan Pando berarti melintasi bagian-bagian tubuh satu organisme raksasa. Sekitar 47.000 batang aspen di Fishlake National Forest, Utah, Amerika Serikat, tampak seperti hutan yang terdiri atas banyak pohon. Namun, di bawah tanah, batang-batang itu terhubung melalui sistem akar yang sama. Koloni seluas sekitar 43 hektar ini diperkirakan memiliki berat 6.500 ton, menjadikannya salah satu organisme terberat di bumi. Kehidupannya berlangsung melalui pergantian batang: ketika sebagian menua dan mati, tunas baru tumbuh untuk meneruskan keberadaan koloni.
Pando merupakan koloni klonal dari spesies aspen Populus tremuloides. Namanya berasal dari bahasa Latin yang berarti “saya menyebar”, sesuai dengan kemampuannya menghasilkan tunas melalui akar. Seluruh koloni berasal dari satu individu awal yang kemudian memperluas pertumbuhannya secara vegetatif. Karena itu, usia batang yang terlihat di permukaan tidak sama dengan usia Pando secara keseluruhan. Batang-batangnya dapat berganti generasi, sementara organisme yang menaunginya terus bertahan. Cara hidup ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana Pando mampu melewati rentang waktu yang jauh melampaui umur satu batang pohon.
Analisis DNA memperkirakan usia Pando antara 16.000 hingga 80.000 tahun. Untuk menelusurinya, peneliti mempelajari ratusan sampel dari akar, kulit, daun, dan cabang. Meski berasal dari satu garis klonal, jaringan Pando tetap dapat mengumpulkan mutasi selama pertumbuhan. Variasi genetik tersebut memberi petunjuk mengenai sejarah panjangnya. Namun, rentang perkiraan usia yang lebar juga menunjukkan bahwa menentukan waktu kelahirannya bukan perkara sederhana. Yang dipelajari ilmuwan adalah jejak perubahan dalam organisme yang terus memperbarui bagian tubuhnya selama ribuan tahun.
Kini, proses pembaruan itu menghadapi hambatan. Penelitian pada 2018 yang menelaah foto udara selama 72 tahun menemukan penjarangan kanopi dan berkurangnya pengganti bagi batang-batang tua. Rusa mule dan sapi memakan tunas muda sebelum tumbuh cukup besar. Akibatnya, kemunculan tunas belum tentu diikuti keberhasilan regenerasi. Pada saat bersamaan, penyakit yang menyerang akar dan batang, termasuk infeksi jamur serta bakteri, menambah tekanan pada bagian koloni yang menua. Ketika batang lama terus menghilang sementara generasi baru sulit berkembang, keberlangsungan Pando ikut terancam.
Perlindungan Pando membutuhkan ruang bagi tunas untuk tumbuh tanpa terus dimakan hewan. Pengelolaan tekanan penggembalaan dan pemantauan kesehatan akar maupun batang menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Kelangsungan koloni ini juga berarti menjaga habitat dan sumber daya bagi berbagai tumbuhan serta hewan yang bergantung padanya. Ukuran besar dan usia panjang ternyata tidak menjamin keselamatan. Masa depan Pando justru ditentukan oleh keberhasilan bagian tubuhnya yang paling kecil: tunas muda yang kelak menggantikan batang-batang tua.
Foto utama: Pohon klonal Pando. Foto: J Zapell/Public Domain.
Riset 13 Tahun Ungkap Tempat Tumbuh Hiu Paus Muda di Papua
Editor1 Nov 2026
Pola totol pada tubuh hiu paus menyimpan petunjuk tentang perjalanan hidupnya. Melalui corak yang berbeda pada setiap individu, peneliti dapat mengenali ikan yang sama ketika kembali terlihat, bahkan setelah bertahun-tahun.
Di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, cara ini mengungkap bahwa sejumlah hiu paus muda berulang kali mengunjungi perairan yang sama. Kawasan tersebut menjadi tempat mencari makan dan tumbuh bagi ikan terbesar di dunia itu. Namun, di sekitar bagan tempat mereka mendapatkan makanan, risiko luka juga mengintai.
Temuan tersebut berasal dari penelitian sepanjang September 2010 hingga Oktober 2023 yang dipimpin Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia. Pengamatan mencakup Teluk Cendrawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak. Dengan identifikasi fotografis atau Foto ID, tim mengenali 268 individu dari 1.118 catatan perjumpaan. Selain memotret pola tubuh, peneliti mencatat lokasi, ukuran, jenis kelamin, perilaku, serta luka yang terlihat. Sekitar 90% individu yang teridentifikasi merupakan jantan, dengan ukuran rata-rata 4-5 meter.
Dominasi hiu muda menunjukkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat pertumbuhan.
Hiu paus di Teluk Cendrawasih memiliki rata-rata masa tinggal sekitar 77 hari, dibandingkan 38 hari di Kaimana. Lebih dari separuh individu teramati kembali, dengan rentang antar pengamatan mencapai 11 tahun. Ada pula seekor jantan yang tercatat hingga 34 kali dalam tiga tahun.
“Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun,” ungkap Edy.
Kemunculan kembali itu menunjukkan keterikatan dengan kawasan, meskipun tidak berarti mereka tinggal di sana terus-menerus. Iqbal Herwata dari Konservasi Indonesia menilai Teluk Cendrawasih dan Kaimana berperan penting sebagai habitat pembesaran hiu paus muda.
Sebagian besar perjumpaan terjadi di sekitar bagan apung, tempat hiu paus memakan ikan kecil seperti teri. Mereka dapat berenang mendatar, mengarahkan kepala ke atas, atau mengisap ikan langsung dari jaring. Interaksi tersebut membawa risiko. Sebanyak 76,9% individu yang diamati memiliki luka, termasuk lecet, sayatan, amputasi sirip, dan bekas gigitan pemangsa.
Tidak seluruh luka berasal dari aktivitas manusia, tetapi gesekan atau benturan dengan bagan dan perahu menjadi perhatian peneliti. Lecet merupakan luka yang umum ditemukan, sedangkan cedera serius lebih jarang terjadi.
Tim merekomendasikan penghilangan bagian tajam pada penyangga perahu dan bingkai jaring, disertai aturan wisata serta pengawasan perikanan dan pelayaran. Pemantauan Foto ID lintas lembaga juga perlu diperluas untuk memahami penggunaan habitat dan pergerakan hiu paus. “Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus terkelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem,” kata Iqbal.
Bagi spesies yang masuk kategori terancam punah ini, menjaga tempat tumbuh berarti juga mengurangi bahaya dalam aktivitas sehari-harinya.
Foto utama: Perilaku vertical feeding hiu paus merupakan strategi efisien menyaring plankton di permukaan. Foto diambil saat riset di Teluk Cenderawasih, September 2021. Dok.Konservasi Indonesia/Abdi Hasan.
Kakao di Tengah Pusaran El Nino: Pohon Masih Hidup, Panen Belum Tentu
Editor1 Nov 2026
Ember demi ember air dibawa Wayan Merte mengelilingi kebun kakaonya di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di bawah terik September, dia menyirami pohon satu per satu sambil membersihkan buah yang menghitam. Kebun seluas 50 are itu dahulu menjadi tumpuan penghasilan. Kini, menjaga pohon tetap hidup pun membutuhkan tenaga tambahan, tanpa kepastian buahnya bisa dipanen.
“Sekarang ini susah, gagal kita panen,” katanya.
Selama empat tahun terakhir, Merte dan sejumlah petani di desanya menghadapi hasil kebun yang terus merosot, harga jual rendah, serta cuaca yang semakin panas.
Sebelum 2022, Merte mengaku mampu memanen sekitar 1-1,5 kuintal kakao dalam sekali panen, dengan frekuensi hingga enam kali setahun. Kondisi sekarang mendorongnya menanam mangga dan kelapa di sela kakao.
“Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” ujarnya.
Petani lain, Gede Juandra, mengalami penurunan hasil panen hingga 60% dibandingkan rata-rata sebelumnya. Dia menduga kemarau panjang mengganggu pembuahan. Buah yang terbentuk pun sebagian terserang jamur. Menurutnya, hujan tidak turun sejak Mei, memperberat keterbatasan air yang sudah lama dihadapi wilayah tersebut.
Kesulitan petani tidak langsung terlihat dari angka produksi tingkat provinsi. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB mencatat produksi kakao meningkat dari 2.566 ton pada 2020 menjadi 2.717 ton pada 2025. Namun, luas lahannya juga bertambah, dari 4.733 hektar menjadi 5.006 hektar.
Indriyatno, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, menilai kenaikan tersebut belum menunjukkan perbaikan hasil kebun. “Jadi sebenarnya, hasil panennya tidak membaik, hanya karena luas lahannya saja yang bertambah.” Di Lombok Utara, yang merupakan penghasil kakao terbesar di NTB, produksi justru tercatat turun 100 ton sepanjang 2020–2024.
Ketersediaan air menjadi persoalan penting karena banyak lahan di Lombok Utara bergantung pada hujan. Menurut Fauzal dari BPBD Lombok Utara, sebagian wilayah memiliki formasi batuan dengan kemampuan menyimpan air yang rendah. Ketika kemarau memanjang, cadangan air semakin terbatas. BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat curah hujan Juli 2026 hanya sekitar 21-50 milimeter per bulan. BPBD kemudian menetapkan status siaga kekeringan sejak awal Agustus.
Bagi kakao, kekurangan air dapat mengganggu pembungaan, pembentukan buah muda, dan perkembangan biji.
“Pohon yang masih tampak hidup pun belum tentu menghasilkan panen yang baik,” jelas Fauzal.
Ancaman El Nino memperpanjang ketidakpastian tersebut. M. Zaldi Rahman, Kepala BPBD Lombok Utara, menyebut fenomena ini berpotensi memperpanjang kemarau dan menunda musim hujan 2026–2027. Bagi petani, dampaknya terasa sebagai tambahan pekerjaan, biaya penyiraman, dan penghasilan yang semakin sulit dipastikan.
Diversifikasi tanaman menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada kakao, tetapi membutuhkan modal baru. Merte menghadapi keputusan itu sambil terus merawat kebunnya.
“Kalau kondisinya tidak ada perubahan, ya tidak ada jalan lain selain ganti ke tanaman yang lebih menguntungkan tapi harus siapkan modal lagi,” katanya.
Foto utama: Petani cokelat di Lombok Utara alami kerugian imbas kemarau panjang. Foto: Ahmad H Ramdhani/Mongabay Indonesia.
Berlangganan
Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam