Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara

Yuda Almerio 30 Sep 2026

Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?

M Ambari 30 Sep 2026
Cerita fitur

Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok

Ahmad H Ramdhani 30 Sep 2026

Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia

Akhyari Hananto 30 Sep 2026
Cerita fitur

Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo

Yulia Adiningsih 30 Sep 2026

Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?

Falahi Mubarok 29 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara

Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok

Ahmad H Ramdhani 30 Sep 2026

Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo

Yulia Adiningsih 30 Sep 2026

Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat

Christ J Belseran 29 Sep 2026

Kebakaran Hutan di Jambi Meluas, Api Lalap Taman Nasional

Teguh Suprayitno 29 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan

Akita Verselita 25 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai

Editor 30 Sep 2026

Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut.

Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri atas 50 hektare area cemara laut dan 20 hektare wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali,” katanya.

Sebelum pohon-pohon tumbuh, angin dari laut membawa pasir dan kadar garam ke lahan pertanian. Daun tanaman mudah mengering, terutama saat musim kemarau. Menurut Munadi, palawija dan tanaman hortikultura kerap gagal panen. Kelapa pun mengalami gangguan akibat paparan garam.

Tegakan cemara laut membantu mengubah kondisi tersebut. Pohon menghalangi sebagian angin yang membawa pasir dan uap garam. Pasir yang tertahan kemudian mengendap di sekitar tegakan, sementara tanaman di belakangnya mendapat ruang yang lebih terlindungi. Cemara laut juga disebut membantu mengurangi abrasi dan meredam dampak angin kencang.

Perubahan itu dirasakan Marsono Utomo, petani yang kini menanam melon di lahan seluas satu hektare. “Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, ia mengatakan hasil panennya bisa mencapai 10 ton. Namun, saat kemarau, melon tetap memerlukan penyiraman intensif.

Petani lain juga memanfaatkan lahan di kawasan tersebut. Ada yang menanam cabai, terong, semangka, dan pepaya. Tumijo, misalnya, menanam pepaya di lahan seluas 5.000 meter persegi. Ketika produksinya tinggi, hasil panennya dapat mencapai dua ton. Kehadiran pepohonan membuka peluang bertani, meski hasilnya tetap bergantung pada perawatan, cuaca, dan harga jual.

Penelitian Beny Harjadi pada 2017 turut menjelaskan perubahan lingkungan di bawah tegakan cemara laut. “Cemara laut mampu menurunkan pencahayaan matahari hingga 88 persen, sehingga suasana di bawah pohon menjadi lebih teduh.” Pada pantai berpasir, peran pohon juga penting karena butiran pasir mudah terbawa angin dan dapat menutupi tanaman.

Di Lembupurwo, penghijauan yang dimulai hampir dua dekade lalu kini terasa manfaatnya di kebun-kebun warga. Cemara laut menjadi peneduh di tepi pantai sekaligus penghalang angin, pasir, dan uap garam yang dahulu menyulitkan petani menanam.

Foto utama: Melon siap panen hasil budi daya petani Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu

Editor 30 Sep 2026

Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi.

Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia memeriksa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama berasal dari Leang Bulu Bettue dan diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari Leang Cappalombo dan hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya hidup sebelum masyarakat setempat mengenal pertanian.

Pada gigi kedua individu itu, peneliti menemukan alur dan goresan melingkar yang berbeda dari keausan akibat mengunyah makanan. Mereka menafsirkan pola tersebut sebagai bekas kebiasaan menempatkan buah pinang utuh di mulut dan menghisapnya berulang kali.

Bentuk gigi saja belum cukup untuk memastikan apa yang mereka konsumsi. Peneliti kemudian memeriksa jaringan gigi untuk mencari arekolin, senyawa dalam pinang yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Hasil analisis menemukan jejak senyawa tersebut pada sampel dari kedua situs. Bukti kimia itu memperkuat penafsiran terhadap pola keausan gigi.

“Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Adam Brumm dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Science Advances.

Temuan individu dari Leang Bulu Bettue menunjukkan bahwa penggunaan pinang di Sulawesi mungkin telah berlangsung sejak sekitar 25.000 tahun lalu, jauh lebih awal daripada perkiraan sebelumnya yang menempatkan praktik itu sekitar 3.500 tahun lalu. Karena rentang usia fosilnya mencapai 25.000–16.000 tahun, angka 25.000 tahun merujuk pada batas tertua perkiraan tersebut.

Cara mengkonsumsi pinang pada masa itu juga berbeda dari tradisi sirih-pinang yang dikenal sekarang. Dalam tradisi tersebut, biji pinang biasanya dikunyah bersama daun sirih dan kapur. Peneliti menduga kedua individu purba itu justru mengisap buah pinang utuh.

Alasan mereka melakukannya belum diketahui pasti. Peneliti mengemukakan kemungkinan terkait efek pinang pada kewaspadaan, air liur, atau rasa nyeri. Yang lebih jelas terlihat dari fosil adalah akibat kebiasaan berulang itu pada gigi. Melalui dua jenis bukti, alur fisik dan jejak arekolin, gigi manusia Sulawesi memberi gambaran baru tentang lamanya manusia mengenal tanaman yang memengaruhi pikiran.

Foto utama: Tengkorak manusia purba yang diberi nama CPL-2a diteliti untuk mengetahui kondisi giginya. Foto: Fakhri/Griffith University.

Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?

Muhammad Adhitya* 30 Sep 2026

Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup.

Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa menjadi pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Para pelaku meyakini dengan membakarnya dapat menghilangkan ancaman sihir.

Adhi Nurul Hadi, Kepala BKSDA NTT menegaskan, tindakan tersebut melanggar UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyebutkan pelaku terancam pidana hingga 15 tahun.

Sebutan ‘burung hantu’ bukan sekadar julukan. Ada alasan biologis yang membuat burung ini lekat dengan gambaran hantu. Satwa ini memiliki sejumlah adaptasi untuk berburu pada malam hari. Dia punya pendengaran dan kemampuan penglihatan yang tajam dalam kondisi cahaya redup, dan kemampuan terbang nyaris tanpa suara.

Di balik kesan seramnya, burung hantu memiliki peran penting dalam ekosistem. Berdasarkan riset Tirsyanto dkk, lebih dari 90% makanan Tyto alba adalah tikus sawah. Seekor burung dewasa bisa memangsa hingga 1.300 ekor per tahun.

Bahkan, riset yang sama menunjukkan keberadaan rubuha (rumah burung hantu) dapat menekan kerusakan tanaman akibat tikus secara signifikan.

Meski banyak yang mengaitkan dengan pertanda buruk, di sejumlah wilayah lain di Indonesia burung hantu justru dihormati, bukan ditakuti. Misalnya, di Minahasa, Sulawesi Utara, menganggap burung hantu sebagai pembawa pesan leluhur. Mereka percaya suaranya di malam hari sebagai petunjuk, bukan petaka. Pandangan tersebut turut melindungi burung hantu dari perburuan sehingga populasinya tetap terjaga.



Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?

Karen Anastasia Surbakti* 30 Sep 2026

Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak. 

Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun melayangkan protes keras dengan mendatangi Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Papua. 

Bagi nelayan pesisir Papua, rumpon bukan hanya alat tangkap ikan namun juga “dapur” untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Rumpon yang mereka buat dari rudal besi bekas, tali, dan daun kelapa. Biasanya, ikan-ikan akan bertelur dan tinggal di sana, lalu nelayan memancing di sekitarnya. 

“Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur,” ujar Kosmos Kendi, salah satu nelayan dari kelompok BW Woi. 

Wilayah pesisir Distrik Jayapura Utara dan Selatan menjadi satu dari 10 area potensi blok migas baru yang  juga merupakan “piring makan” bagi masyarakat. Pemutusan rumpon ini membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong. Padahal, sekitar 4.200 keluarga menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan mereka merupakan pemasok penting ikan di pasar Jayapura. 

“Saat (migas) belum beroperasi saja, rumpon dibasmi. Tak ada hasil sekarang. Kalau sudah beroperasi, kami tak bisa makan apa-apa.” kata Asbani, koordinator nelayan.

Selain tidak ada sosialisasi pemutusan rumpon, mereka juga tidak menerima informasi terkait potensi proyek migas tersebut. Mereka khawatir akan dampak jangka panjangnya hingga ke anak cucu. Oleh karenanya, mereka menolak tegas karena nelayan yang menanggung kerugian jangka panjang. Seperti, tumpahan minyak akibat kebocoran kecil, pemasangan pipa dan pemasangan jangkar yang akan merusak ekosistem pesisir laut dan ikan akan semakin menjauh.

Iman Djuniawal, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua menyesalkan pemutusan rumpon itu. Menurutnya, 80% nelayan tradisional menggantungkan hidup pada rumpon. Dia juga menambahkan pentingnya menjaga potensi pendapatan yang sudah ada sebelumnya. 

“Satu sisi memang kita butuh fiskal daerah, tambahan dari sumber daya lainnya. Tetapi harus bisa menjaga jangan sampai bisa berpengaruh bagi potensi pendapatan yang sudah jalan sebelumnya,” katanya di kantornya, Rabu (15/4/26). 

Mendengar penolakan ini, Tommy Sinaga, Humas PT Huatong Service Indonesia (surveyor) mengaku sudah melakukan sosialisasi dan membayar ganti rugi pemutusan rumpon kepada nelayan. Terkait dampak, dia menjelaskan pengeboran migas tidak akan mencemari laut karena telah menggunakan teknologi yang canggih. 

Nathan Baransano, Akademisi Ilmu Kelautan Universitas Cendrawasih, menjelaskan potensi migas ini sudah pasti akan menghilangkan mata pencaharian nelayan karena akan menutup akses tangkapannya. Untuk itu, dia mendesak pemerintah perlu melakukan perencanaan secara menyeluruh yang meliputi aspek lingkungan, sosial dan budaya. 

Para Nelayan Yonas Lawari (kiri) bersama rekannya sedang membuat perahu di Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua pada Selasa (14/4/2026). Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

Sukun, Pohon Pangan Potensial Indonesia yang Tangguh Hadapi Kemarau

Editor 29 Sep 2026

Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September.

Lahan tadah hujan menjadi salah satu yang rentan karena tidak memiliki akses irigasi memadai. Di tengah kekhawatiran terhadap produksi pangan, sejumlah penelitian menyoroti sukun (Artocarpus altilis) sebagai tanaman yang berpotensi dikembangkan di wilayah kering.

Sukun adalah pohon berumur panjang yang dapat terus berbuah tanpa ditanam ulang setiap musim seperti padi. Penelitian yang dikutip dalam artikel menyebut pohon yang telah tumbuh dengan baik mampu bertahan saat kekeringan berlangsung tiga hingga empat bulan. Meski demikian, kemampuan itu tidak berarti sukun dapat tumbuh di semua tempat tanpa memperhatikan kondisi lahannya.

Penelitian Universitas Pattimura di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, mendapati sukun tetap tumbuh di wilayah dengan musim kemarau panjang. “Sukun di Kepulauan Kei terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan,” tulis Amat Reniwurwarin dan rekan-rekannya. Temuan tersebut memberi gambaran tentang kemampuan sukun bertahan dalam kondisi setempat.

Sementara itu, tim Universitas Indonesia memetakan kesesuaian lahan budi daya sukun di Jawa Tengah. Hasil pemodelan mereka memperkirakan sekitar 28,35 persen luas provinsi tersebut saat ini sesuai untuk budi daya sukun. Penelitian itu juga memproyeksikan perubahan wilayah yang sesuai pada masa depan berdasarkan skenario iklim tertentu. Angka-angka ini menunjukkan potensi, tetapi tetap perlu diterjemahkan dengan memperhatikan kondisi tiap lokasi.

Kajian lain yang diterbitkan di PLOS Climate memproyeksikan bahwa wilayah dengan iklim sesuai untuk sukun secara global relatif stabil, bahkan dalam skenario perubahan iklim yang berat. Para penelitinya menilai sukun lebih tangguh daripada padi terhadap beberapa tekanan iklim. Pohon ini juga dapat hidup dan berbuah lebih dari 50 tahun, menyimpan karbon, serta membutuhkan lebih sedikit kegiatan penanaman ulang.

Sukun dapat menjadi bagian dari kebun campur atau sistem agroforestri, berdampingan dengan tanaman lain. Cara ini membuka peluang menambah sumber pangan tanpa mengandalkan satu jenis tanaman saja. Namun, potensi hasil dan ketahanannya tetap bergantung pada tempat tumbuh serta cara pengelolaannya.

Ketika kemarau semakin menekan lahan pertanian, penelitian tentang sukun menawarkan arah untuk memperluas pilihan pangan. Pengembangannya memerlukan pemilihan lokasi yang sesuai, bukan sekadar menganggap satu pohon sebagai jawaban bagi seluruh persoalan kekeringan.

Foto utama: Buah sukun yang sangat potensial sebagai bahan pangan pengganti beras. Foto: Wikimedia Commons/Ashay vb/CC BY-SA 4.0.

Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino

Editor 29 Sep 2026

Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen.

Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD NTB, Sadimin, pemantauan sementara mencatat 263.310 jiwa dari 84.837 keluarga terdampak di 227 desa. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 3,3 juta liter air bersih ke berbagai daerah.

Lombok Timur mencatat jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 92.999 jiwa di 41 desa. Di Sumbawa, dampak kekeringan tercatat pada 42.728 jiwa, sementara di Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,” kata Sadimin.

Bastian Andarino dari BMKG NTB menjelaskan bahwa El Niño membuat musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat, sementara curah hujan selama kemarau didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah NTB. Pemantauan hari tanpa hujan juga mencatat 63 hari berturut-turut di pos hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, yang termasuk kategori kekeringan ekstrem.

Kondisi tersebut terasa langsung di lahan pertanian dan kebutuhan air sehari-hari. Di Lombok Timur, pemerintah daerah mengajukan pembuatan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan di 10 kecamatan. Di Lombok Barat, penyaluran air bersih ke lima kecamatan terdampak menghadapi kendala karena tidak tersedia mobil tangki.

Pemerintah pusat turut menyalurkan perlengkapan untuk penanganan kekeringan. Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan dukungan yang diberikan mencakup pompa air, tandon, pipa, keran, serta bantuan logistik. Total nilainya lebih dari Rp1,8 miliar. Ia juga meminta pemerintah daerah memanfaatkan embung, waduk, dan tempat penampungan air lain. “Untuk mitigasi jangka panjang, penanaman pohon di hulu, di hutan perlu dilakukan,” katanya.

Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menilai bantuan darurat saja tidak akan menyelesaikan persoalan yang berulang setiap kemarau. Menurutnya, perlindungan sumber mata air, pemeliharaan sarana air bersih, pengelolaan embung dan irigasi, serta konservasi lingkungan perlu diperkuat.

Ia mengingatkan bahwa beberapa daerah yang kini kekeringan juga pernah menghadapi banjir. “Permasalahan utamanya adalah kondisi hutan yang rusak, sehingga perlu kita rumuskan bersama untuk mengatasi hal tersebut,” kata Iqbal. Bagi petani dan warga terdampak, langkah jangka panjang itu menentukan kesiapan menghadapi kemarau berikutnya.

Foto utama: Warga Desa Sekaroh, Kabupaten Lombok Timur memanfaatkan air embung untuk kebutuhan air bersih. Daerah ini terdampak bencana kekeringan setiap musim kemarau. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.