Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai.
Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. Anak pesut keluar dengan posisi ekor terlebih dahulu. Cara ini membantu mengurangi risiko bayi menghirup air sebelum seluruh tubuhnya berhasil dilahirkan.
Bayi pesut juga memiliki rambut-rambut halus di sekitar moncong. Rambut tersebut menjadi penanda bahwa pesut merupakan mamalia, meskipun kemudian menghilang seiring pertumbuhannya. Setelah lahir, bayi akan menyusu melalui kelenjar susu induknya yang berada di bagian bawah tubuh, dekat area anus.
Keunikan lain terlihat dari bentuk lehernya yang lentur. Tidak seperti kebanyakan lumba-lumba, pesut dapat menggerakkan kepala ke berbagai arah. Kemampuan ini memudahkannya bermanuver dan mencari mangsa di sungai yang keruh, dangkal, dan memiliki banyak cabang.
Penglihatan bukan satu-satunya andalan pesut. Mamalia ini dilengkapi sistem sonar yang sangat canggih. Pesut memancarkan suara ultrasonik berfrekuensi tinggi, lalu membaca pantulannya untuk mengenali benda, menentukan arah, dan menemukan ikan atau udang. Sementara itu, suara berfrekuensi lebih rendah digunakan untuk berkomunikasi dengan sesamanya.
Pesut juga memiliki strategi berburu yang menarik. Mereka dapat menyemprotkan air dari mulut untuk mengejutkan atau membingungkan mangsa. Perilaku serupa juga dilakukan saat bermain dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi.
Bahkan ketika beristirahat, pesut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Sebagian otaknya tetap aktif agar satwa ini dapat mengendalikan pernapasan dan naik ke permukaan untuk mengambil udara. Adaptasi tersebut memungkinkan pesut menjalani seluruh hidupnya di dalam air tanpa kehilangan kemampuan bernapas secara sadar.
Populasi pesut mahakam juga memiliki perjalanan evolusi yang istimewa. Penelitian DNA menunjukkan bahwa mereka telah terpisah dari pesut pesisir sejak sekitar 500 ribu tahun lalu. Selama itu, tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan air tawar hingga tidak lagi mampu hidup di laut.
Sayangnya, ruang hidup satwa ini terus menyusut. Dahulu pesut masih dijumpai hingga hilir Mahakam, termasuk sekitar Samarinda. Sekarang, sekitar 90 persen populasinya terkonsentrasi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Jumlahnya hanya berkisar 60–80 individu dan cenderung menurun.
Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena pesut berkembang biak sangat lambat. Masa kehamilannya sekitar 14 bulan, mencapai usia kawin pada umur sembilan tahun, dan hanya melahirkan satu anak setiap dua hingga lima tahun. Karena itu, kematian beberapa individu saja dapat berdampak besar terhadap keseluruhan populasi.
Sekitar 70 persen kematian pesut diduga disebabkan jeratan jaring insang. Ancaman lainnya meliputi tabrakan kapal, polusi suara, sedimentasi, berkurangnya ikan, pencemaran bahan kimia dan logam berat, serta mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh.
Harapan tetap ada. Kawasan konservasi berzonasi telah ditetapkan, pemantauan populasi dilakukan secara visual dan akustik, sementara vegetasi sempadan sungai mulai dipulihkan. Nelayan juga memasang banana pinger, alat penghasil suara yang menjauhkan pesut dari jaring. Sebanyak 158 nelayan telah berpartisipasi dan selama alat itu digunakan, tidak tercatat kematian pesut akibat jeratan.
Artikel asli ditulis oleh Akita Verselita.
Foto utama: Pesut mahakam (Orcaella brevirostris), si lumba-lumba air tawar, yang makin terancam. Foto: Dok. RASI