Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Masyarakat Banasu Berupaya Peroleh Penetapan Hutan Adat

Moh Tamimi 10 Agu 2026

Umit dan Peta Global Harimau di Asia Tengah

Nuswantoro 10 Agu 2026
Cerita fitur

Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat

Achmad Rizki Muazam 9 Agu 2026

Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Jamin Hak dan Perlindungan, Koalisi Masukkan 11 Poin Substansi RUU Masyarakat Adat

Themmy Doaly 9 Agu 2026
Cerita fitur

Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat

Irfan Maulana 9 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat

Achmad Rizki Muazam 9 Agu 2026

Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat

Irfan Maulana 9 Agu 2026

Petugas Gagalkan Aksi Jual-beli Owa Sumatera via Ojek Online

Ayat S Karokaro 9 Agu 2026
Kampung Suku Laut Air Mas di Pesisir Pulau Tanjung Sauh, Kota Batam. Foto: Yogi Eka Sahputra/ Mongabay Indonesia

Bagaimana Dorong Tata Kelola Laut dan Pesisir Berkeadilan?

Luh De Suriyani 8 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kelong Cacak, Warisan Maritim yang Menjaga Laut Kepulauan Riau

Editor 10 Agu 2026

Di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepulauan Riau, deretan kayu ditancapkan ke dasar laut dan disusun menyerupai pagar. Di antara kayu-kayu tersebut terpasang jaring berbentuk segitiga dengan ukuran berbeda. Bangunan sederhana ini disebut kelong cacak, alat tangkap tradisional yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan dan cumi.

Kelong cacak dipasang pada jalur arus surut air laut. Ketika mengikuti arus, ikan masuk melalui bagian bernama bunuh luar yang terletak di antara dua sayap kelong. Dari sana, ikan bergerak menuju bunuh pari dan akhirnya terperangkap di bunuh mati.

Setelah ikan terkumpul, nelayan dapat mengambilnya dengan menarik jaring atau menyelam. Busri, nelayan Pulau Karas, lebih memilih menyelam untuk mengambil ikan dan cumi dari kelong miliknya.

Kelong cacak terdiri dari beberapa bagian, yaitu atas penajur, beremban sayap kiri dan kanan, bunuh luar, bunuh pari, bunuh mati, serta kayu bontot. Kayu-kayunya harus disusun menggunakan cara khusus agar tetap kuat ketika terkena arus laut maupun dinaiki nelayan.

Nelayan pesisir Batam biasanya memasang kelong menjelang musim ikan dingkis, sekitar November. Harga ikan tersebut dapat meningkat hingga 100 persen pada musimnya. Modal untuk membangun kelong cacak berkisar Rp6-10 juta.

Hasil tangkapannya tidak selalu sama. Dalam sekali panen, Busri dapat memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Saat bukan musim ikan dingkis, hasil dari kelong digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari.

Sebuah penelitian dari Universitas Riau Kepulauan pada 2022 menyebut kelong sebagai alat tangkap ramah lingkungan sekaligus bentuk kearifan lokal. Kelong tidak hanya menjadi alat untuk memperoleh ikan, tetapi juga bagian dari cara masyarakat pesisir mengatur pemanfaatan ruang laut.

Lokasi pemasangan kelong harus mendapat izin dari desa. Setelah izin diperoleh, tempat tersebut menjadi hak khusus nelayan yang memasangnya. Jika pemilik tidak lagi menggunakan lokasi itu, orang lain yang ingin memanfaatkannya harus meminta izin kepada pemilik sebelumnya.

Dedi Supriadi Adhuri, peneliti BRIN, mengatakan praktik tersebut menunjukkan adanya sistem tenurial khusus yang diakui oleh masyarakat setempat. Artinya, masyarakat pesisir memiliki aturan sendiri mengenai siapa yang berhak menggunakan bagian tertentu dari perairan.

Tradisi mendirikan kelong juga telah lama dikenal masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Di Kampung Malang Rapat, Kabupaten Bintan, terdapat rangkaian upacara mulai dari meramu kayu, doa selamat, hingga tepung tawar. Keseluruhannya disebut upacara mendirikan atau menyacak kelong, yaitu menancapkan kayu-kayu ke dasar laut.

Pendirian kelong dilakukan melalui gotong royong. Catatan sejarah menunjukkan tradisi ini telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-19. Pada masa Kesultanan Riau Lingga, Mahkamah Kerajaan telah menerbitkan surat izin untuk usaha kelong.

Kelong cacak memperlihatkan bagaimana alat tangkap, tradisi, dan aturan masyarakat bertemu dalam satu praktik. Jaring dan susunan kayunya menangkap ikan dengan memanfaatkan arus laut, sementara pemasangannya mengikuti izin serta kesepakatan yang berlaku di tengah masyarakat.

Foto utama: Busri menangkap ikan di kelong cacak miliknya di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepri. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia.

Resak Brebes, Pohon Langka yang Hanya Ada di Jawa

Editor 10 Agu 2026

Namanya mungkin belum sepopuler jati atau mahoni. Namun, resak brebes merupakan salah satu kekayaan tumbuhan Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam. Pohon bernama ilmiah Vatica javanica ssp. javanica ini merupakan tumbuhan endemik Jawa.

Resak brebes juga dikenal dengan nama kruing laki dan pelahlar laki. Ukurannya tergolong kecil hingga sedang. Tingginya dapat mencapai 27 meter dengan diameter batang setinggi dada sekitar 25 sentimeter.

Batangnya memiliki ciri khas berupa permukaan berwarna putih keabuan atau cokelat keabuan. Batangnya lurus dengan garis-garis mendatar yang melingkar. Sementara rantingnya ditutupi bulu-bulu halus yang rapat.

Kayu resak brebes dikenal keras dan kuat. Karakter tersebut membuatnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, seperti untuk rumah dan jembatan, bahkan untuk membuat ukiran.

Sayangnya, keberadaan pohon ini terus mengalami tekanan. Buku “Daftar Merah 50 Jenis Pohon Kayu Komersial” yang diterbitkan Pusat Penelitian Biologi LIPI, kini BRIN, menyebut populasinya diperkirakan menurun hingga 50 persen dalam kurun 100 tahun. Kualitas habitatnya juga mengalami penurunan.

Ancaman utamanya datang dari perubahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang terjadi secara masif di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat habitat resak brebes semakin terdesak dan populasinya menurun.

Gambaran keberadaannya dapat dilihat di Desa Capar, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pada Oktober 2021, komunitas Biologi Satu melakukan ekspedisi selama tiga bulan untuk mendata populasi resak brebes, mencatat ancaman, sekaligus mengenalkan pentingnya pelestarian pohon ini kepada masyarakat.

Pengamatan dilakukan pada delapan plot berukuran masing-masing 20 × 20 meter. Hasilnya, ekspedisi mendata 260 individu per hektare. Peneliti juga mencatat 200 seedling atau anakan pohon dengan tinggi kurang dari 150 sentimeter.

Namun, jumlahnya menurun pada tahap pertumbuhan berikutnya. Hanya tercatat 19 sapling atau pohon muda dengan tinggi lebih dari 150 sentimeter dan diameter 5–10 sentimeter. Sementara pohon pada kategori tiang dengan diameter 10–20 sentimeter hanya ditemukan sebanyak 15 individu.

Di lokasi tersebut, ancaman yang ditemukan antara lain penebangan kayu gelondongan dan pembukaan lahan. Habitat resak brebes juga terbilang kecil. Sebagian lahan dibuka masyarakat untuk dijadikan kebun kopi karena dinilai lebih produktif dan memberikan keuntungan ekonomi.

Upaya penyelamatan terus dilakukan. Setelah ekspedisi selesai, komunitas Biologi Satu melakukan kampanye ke sekolah-sekolah, pemerintah desa, dan melalui media sosial. Mereka juga menjalankan program adopsi pohon di Desa Capar serta penggalangan dana untuk mendukung kegiatan konservasi.

Ancaman yang dihadapi resak brebes juga menggambarkan persoalan pohon langka lainnya. Pemanfaatan berlebihan dan penyempitan habitat dapat menekan populasinya. Kerusakan habitat juga dapat menurunkan variasi genetik dan kesehatan jenis pohon.

Regenerasi pohon bahkan berhubungan dengan keberadaan satwa yang membantu penyerbukan bunga dan penyebaran biji. Ketika lingkungan dan habitat satwa ikut rusak, proses regenerasi pohon menjadi semakin sulit.

Resak brebes mungkin hanya satu jenis pohon di antara tingginya keanekaragaman tumbuhan Indonesia. Namun, karena hanya hidup alami di Jawa, hilangnya pohon ini berarti hilangnya salah satu tumbuhan endemik Pulau Jawa.

Foto utama: Pohon sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, satwa, dan Bumi tempat kita hidup. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter.

Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan.

Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan SK MenHut No.12/Kpts/II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dan masuk dalam Daftar Merah Spesies IUCN dengan status Rentan (Vulnerable/VU).

Meski berstatus hewan dilindungi, tetapi kepiting kenari kerap diburu dan dijual untuk dikonsumsi. Bahkan harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp800.000 per ekornya.

Di Indonesia, kepiting kenari dapat ditemukan di beberapa wilayah, salah satunya Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, mereka biasa tinggal di lubang-lubang bebatuan di pesisir pantai atau di antara bekas kayu.

Kepiting kenari memiliki ketertarikan kuat terhadap kelapa. Warga Togean bahkan menggunakan potongan daging kelapa sebagai umpan. Potongan itu ditebar di sekitar lubang persembunyian. Saat malam tiba, kepiting akan mencium aroma kelapa, keluar dari lubangnya, lalu memakan umpan tersebut.

Mengapa kepiting kenari begitu menyukai kelapa? Jawabannya ternyata belum benar-benar diketahui. Artikel Mongabay Indonesia mencatat belum banyak penelitian yang menjelaskan alasan di balik kegemaran tersebut. Namun, penelitian di Kepulauan Togean menunjukkan bahwa buah kelapa merupakan umpan paling efektif untuk menariknya keluar dari lubang.

Kemampuan kepiting kenari juga tidak bisa dianggap remeh. Capitnya sangat kuat dan disebut mampu mengangkat beban hingga 29 kilogram. Selain itu, satwa ini mampu memanjat pohon kelapa, kemampuan yang ikut menarik perhatian wisatawan yang datang ke Kepulauan Togean.

Kepiting kenari tersebar di kawasan tropis, mulai dari Afrika hingga kepulauan di Pasifik. Di Indonesia, satwa ini hidup di pulau-pulau karang yang memiliki gua atau lubang sebagai tempat persembunyian.

Perilakunya juga dapat berbeda tergantung keberadaan manusia. Di pulau yang tidak dihuni manusia, kepiting kenari dapat terlihat keluar pada siang hari. Namun, jika hidup berdekatan dengan manusia, mereka lebih banyak keluar pada malam hari.

Sayangnya, ukuran tubuh yang besar dan dagingnya membuat kepiting kenari banyak ditangkap untuk dikonsumsi maupun dijual. Di Kepulauan Togean, harganya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Pembeli dari kota juga memesan kepiting kepada warga.

Akibatnya, masyarakat setempat mengatakan kepiting kenari semakin sulit ditemukan. Penangkapan ilegal juga masih terjadi di sejumlah kepulauan Indonesia Timur, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk dijual ke kota-kota besar dan disajikan di restoran.

Hingga penelitian yang dikutip Mongabay dilakukan, belum ada data pasti mengenai jumlah populasi kepiting kenari maupun banyaknya penangkapan ilegal di pulau-pulau Indonesia Timur.

Upaya pelestarian pun perlu menyasar satwa sekaligus habitatnya. Lubang-lubang yang menjadi tempat persembunyian kepiting tidak boleh dibongkar atau ditimbun. Pengambilannya juga perlu memperhatikan jumlah, ukuran, jenis, kondisi, waktu, serta lokasi.

Dengan ukuran raksasa, capit yang kuat, kemampuan memanjat pohon, dan kegemarannya terhadap kelapa, kepiting kenari memang istimewa. Namun, keunikan itulah yang juga membuatnya banyak dicari manusia.

Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.

Foto utama: Kepiting kenari yang merupakan kepiting terbesar di dunia. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.

Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat.

Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk mencari pasak bumi. Akar tanaman tersebut kemudian direbus sebagai obat penurun panas.

Saat mengambil pasak bumi, Yunani tidak mencabut seluruh tanaman. Ia hanya mengupas sebagian akarnya. Dengan begitu, tanaman tidak rusak dan tetap dapat tumbuh. Bagi Yunani, tumbuhan obat masih banyak tersedia di hutan tempat masyarakat Batin Sembilan tinggal.

Pengetahuan tentang tumbuhan obat sudah dikenalkan sejak kecil dan diwariskan oleh orang tua. Masyarakat mengetahui pasak bumi sebagai tanaman untuk menguatkan tubuh, daun kandis untuk menurunkan demam, serta kulit kayu berumbung yang digunakan untuk mengobati malaria.

Berbagai tumbuhan lainnya juga memiliki kegunaan berbeda. Ketika anak mengalami campak, masyarakat menggunakan kulit sengkuang. Untuk luka akibat parang atau duri, getah dan urat akar sekriput ditempelkan pada bagian yang terluka. Sementara rebusan akar kait-kait digunakan ketika tubuh terasa letih.

Tumbuhan hutan juga hadir dalam kehidupan masyarakat sejak kelahiran. Ketika seorang bayi lahir, perempuan Batin Sembilan mencari kulit kayu terap. Serat kulit kayunya dipintal untuk mengikat ari-ari.

Ada pula tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan spiritual. Buah gendum, sejenis sorgum, merupakan salah satu syarat dalam Besale, ritual penyembuhan dan pembersihan roh yang menghubungkan masyarakat dengan arwah nenek moyang.

Bagi para perempuan Batin Sembilan, pengetahuan mengenai tumbuhan tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan hutan. Mereka mengetahui lokasi tumbuhan obat dan kegunaan berbagai bagian tanaman karena pengetahuan tersebut terus diwariskan dari generasi sebelumnya.

Yunani juga menjadi Ketua Kelompok Tani Hutan Maju Besamo. Sekitar 90 persen anggota kelompok ini merupakan perempuan. Melalui skema kemitraan kehutanan, mereka mendapatkan hak untuk mengelola 399 hektar hutan secara komunal. Hak kelola tersebut berlaku selama 35 tahun dan dapat diperpanjang. Lahan yang dikelola tidak boleh dijual atau dipindahtangankan.

Namun, perubahan kehidupan masyarakat mulai memengaruhi pengetahuan tersebut. Dari sekitar 400 orang Batin Sembilan di kawasan ini, tidak lebih dari 34 orang yang masih mempertahankan pola hidup nomaden. Sebagian besar telah menetap karena ruang jelajah semakin sempit dan hutan mengalami degradasi.

Generasi muda pun semakin jarang masuk ke hutan. Tika, anggota KTH Maju Besamo berusia 21 tahun, mengatakan banyak remaja perempuan kini tidak lagi mengetahui nama dan jenis tumbuhan obat seperti generasi orang tua mereka. Sebagian hanya mendengar tentang tanaman tersebut tanpa pernah ikut mencarinya di hutan.

Inilah alasan para perempuan Batin Sembilan berusaha mempertahankan hutan mereka. Bagi mereka, ketika hutan hilang dan berubah menjadi perkebunan sawit, berbagai sumber kehidupan yang selama ini mereka cari di dalamnya juga ikut menghilang.

Menjaga hutan, bagi perempuan Batin Sembilan, berarti menjaga tempat hidup sekaligus mempertahankan pengetahuan tentang tumbuhan obat agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Artikel asli ditulis oleh Elviza Diana.

Foto utama: Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara Besale yang sakral . Foto: Elviza Diana/Mongabay Indonesia.
Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara adat Besale. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia

Cek Kualitas Ruang Hijau Perkotaan, Cukup Amati Burung

Akhyari Hananto 8 Agu 2026

Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan.

Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan untuk mencari makanan, berlindung, beristirahat, hingga berkembang biak. Karena itu, perubahan kondisi vegetasi di suatu kawasan dapat ikut memengaruhi jenis burung yang mampu hidup di sana.

Menurut Walid Rumblat, Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penyebaran berbagai jenis burung dapat dipengaruhi oleh fragmentasi habitat dan struktur habitat. Burung juga relatif mudah diamati dibandingkan kelompok hewan lain. Data mengenai jenis dan taksonominya pun sudah banyak diketahui.

Namun, menilai kualitas ruang hijau tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah burung.

Jenis burung yang ditemukan juga penting. Burung dengan kebutuhan ekologis yang lebih khusus mendapatkan nilai lebih tinggi dalam penilaian. Salah satu contohnya adalah betet biasa. Sebaliknya, jika sebuah kawasan hanya dihuni burung yang umum dijumpai seperti burung gereja atau emprit, nilainya lebih rendah.

Penilaian tersebut dapat dilakukan menggunakan Indeks Komunitas Burung atau IKB. Sebelum menghitungnya, burung dikelompokkan berdasarkan sejumlah karakter, seperti jenis makanan, asal spesies, strategi reproduksi, lokasi sarang, waktu aktivitas, dan habitat utamanya. Dari nilai IKB kemudian dapat ditentukan kategori kualitas lingkungan.

Burung juga memiliki posisi penting dalam rantai makanan. Jenis yang berada pada tingkat trofik lebih tinggi dapat mencerminkan perubahan yang terjadi pada tingkat di bawahnya. Komposisi komunitas burung juga dapat menunjukkan persaingan antarspesies dalam mendapatkan makanan, ruang, dan lokasi bersarang.

Bukan hanya ruang hijau daratan yang dapat diamati melalui burung. Keberadaan burung air juga dapat digunakan untuk melihat kondisi ekosistem perairan perkotaan, seperti sungai, danau, dan kawasan pesisir.

Keragaman tumbuhan menjadi salah satu unsur penting untuk mendukung kekayaan jenis burung. Semakin beragam struktur vegetasi, semakin tinggi pula peluang hadirnya berbagai jenis burung. Karena itu, ruang terbuka hijau perlu memiliki variasi tumbuhan yang dapat dimanfaatkan satwa.

Beberapa tanaman yang dapat ditanam antara lain buni, salam, dan kembang sepatu. Pemilihan jenis dan bentuk tumbuhan penting karena setiap jenis burung memiliki kebutuhan habitat yang berbeda.

Keberadaan ruang hijau juga penting bagi burung migran dan burung dilindungi, terutama pada ekosistem pantai dan pesisir Jakarta. Kawasan tersebut menghadapi ancaman seperti pencemaran dan perubahan lahan.

Dengan demikian, taman kota yang terlihat hijau belum tentu memiliki kualitas habitat yang sama. Burung dapat membantu memberikan petunjuk. Jika sebuah ruang terbuka hijau mampu menyediakan beragam sumber makanan, tempat berlindung, dan lokasi berkembang biak sehingga dihuni berbagai karakter burung, kualitas lingkungannya juga dinilai lebih baik.

Di kota besar seperti Jakarta, mengamati burung berarti kita sekaligus memperhatikan ruang tempat mereka hidup.

Artikel asli ditulis oleh Falahi Mubarok.

Foto utama: Taman Surapati di Jakarta Pusat yang dilengkapi dengan kandang burung. Foto : smartcity.jakarta.go.id.

Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas

Akhyari Hananto 7 Agu 2026

Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa.

Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Sumedang Bersatu pada 2014, Nana melihat berton-ton ban bekas menumpuk di sana.

TPST tersebut sebenarnya telah mengolah berbagai jenis sampah. Sampah organik dijadikan kompos, sedangkan botol plastik, kaca, kertas, dan sampah bernilai ekonomi dikirim ke pabrik daur ulang. Masalahnya, ban bekas tidak laku dan tidak boleh dikirim ke TPA Talangagung.

Nana kemudian mencari cara lain. Secara otodidak, pada 2016 dia mulai mengubah ban bekas menjadi karya seni berbentuk burung dan serangga. Awalnya, dia menggunakan kayu sebagai rangka. Potongan ban kemudian dianyam dan dikaitkan menggunakan paku serta kawat.

Karya-karya tersebut dipajang di sekitar TPST. Setelah fotonya diunggah ke Facebook, seorang guru dari sekolah Adiwiyata di Kepanjen tertarik membelinya. Pesanan kemudian mulai berdatangan dari berbagai daerah.

Seiring waktu, teknik Nana berkembang. Kayu yang mudah rapuh diganti dengan pipa PVC. Untuk karya berukuran besar, ia menggunakan beton eser sebagai kerangka.

Prosesnya dimulai dengan mengamati bentuk tubuh atau morfologi satwa yang akan dibuat. Nana lalu menggambar satwa tersebut di dinding sesuai ukuran yang diinginkan. Gambar itu menjadi pola untuk menentukan ukuran besi pembentuk rangka.

Kerangka disambungkan menggunakan las listrik. Setelah itu, ban bekas dipotong, disusun, dan dipasang mengelilingi rangka menggunakan sekrup serta kuncian dari ban. Tahap terakhir adalah mengecat replika mengikuti warna alami satwa.

Salah satu tantangan terbesar datang pada 2019, ketika Nana mendapat pesanan replika dinosaurus setinggi enam meter untuk sebuah tempat wisata di Kalimantan. Karya raksasa tersebut menggunakan sekitar 2.000 ban bekas dengan berat total sekitar dua ton.

Saat perancah dilepas, kerangkanya hampir roboh. Nana kemudian mendapat saran dari ahli konstruksi untuk membuat rangka besi dengan model segitiga atau triangle. Hasilnya, konstruksi mampu menopang dua ton ban tersebut.

Kini, karya Nana dipesan dari berbagai daerah di Jawa, Bali, Sumatera, hingga Kalimantan. Replika kecil berukuran 80 sentimeter hingga satu meter dijual sekitar Rp300 ribu-Rp400 ribu. Sementara karya berukuran hingga tujuh meter dapat bernilai sekitar Rp40 juta.

Ironisnya, Nana yang dahulu kewalahan menghadapi tumpukan ban kini justru harus berburu ban bekas untuk memenuhi pesanan. Untuk karya berukuran besar, ia membutuhkan ratusan hingga ribuan ban.

Karya-karya tersebut juga menghiasi Taman Contong di Kepanjen. Replika rajawali, lumba-lumba, jangkrik, semut, penggembala kerbau, dan satwa lainnya ikut mengubah kawasan yang dahulu dikenal kumuh dan menjadi tempat membuang sampah menjadi taman yang digunakan masyarakat.

Dari tumpukan ban yang sulit dimanfaatkan, Nana menunjukkan bahwa sampah memiliki fungsi dan nilai baru ketika bertemu keterampilan plus kreativitas.

Artikel asli ditulis oleh Eko Widianto.

Foto utama: Supriyatna alias Nana warga Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim menunjukkan replika burung paruh bengkok berbahan dasar ban bekas sepeda motor. Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.