Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Ekspor Monyet Ekor Panjang Tidak Sejalan dengan Prinsip Kesejahteraan Satwa Liar

Falahi Mubarok 26 Agu 2026

Daun Raksasa Amazon Berdiameter 3 Meter Ini Sanggup Menahan Beban Anak Kecil Seberat 30 Kg

Akhyari Hananto 26 Agu 2026
Cerita fitur

Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah

Elviza Diana dan M. Sobar Alfahri 26 Agu 2026
Cerita fitur

Warga Bulukumba Desak Pengembalian Lahan Eks HGU

Wahyu Chandra 26 Agu 2026

Ilmuwan Rekam Gurita Membawa Cangkang Kelapa Melintasi Dasar Laut, untuk Bersembunyi dari Predator

26 Agu 2026
Cerita fitur

Karhutla Kalsel, Menyoal Penegakan Hukum, Dorong Peradilan Lingkungan

Rendy Tisna dan Riyad Dafhi Rizki 25 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah

Elviza Diana dan M. Sobar Alfahri 26 Agu 2026

Warga Bulukumba Desak Pengembalian Lahan Eks HGU

Wahyu Chandra 26 Agu 2026

Karhutla Kalsel, Menyoal Penegakan Hukum, Dorong Peradilan Lingkungan

Rendy Tisna dan Riyad Dafhi Rizki 25 Agu 2026

Ketika Konflik Lahan Masyarakat Adat Anak Tuha dan Perusahaan Sawit Berlarut

Derri Nugraha* 25 Agu 2026

Emas Ilegal Sumatera Barat Ngalir ke Mancanegara

Novia Harlina 25 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove

Falahi Mubarok 13 Agu 2026

Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya

Falahi Mubarok 29 Jun 2026

Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung

Falahi Mubarok 8 Jun 2026

Masih Adakah Ruang Aman untuk Lutung Jawa?

Falahi Mubarok 7 Feb 2026

Ancaman multidimensional kian mengencet keberadaan Trachypithecus auratus (Lutung Jawa) di habitat aslinya, mulai dari maraknya perburuan liar, modus perdagangan ilegal yang merambah platform digital, hingga fragmentasi lahan di berbagai titik Pulau Jawa. Sorotan atas realitas kelam tersebut berjalan berdampingan dengan rekam jejak penyelamatan, proses rehabilitasi, serta aksi pelepasliaran di wilayah konservasi seperti Taman Nasional Bromo […]

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk series

Lebih spesial

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kisah Kerak Ungu, Burung Pendatang yang Kini jadi Spesies Invasif di Jakarta

Editor 27 Agu 2026

Di taman kota, jalur pejalan kaki, hingga pusat Jakarta, seekor burung pendatang semakin mudah dijumpai. Namanya kerak ungu atau Acridotheres tristis. Burung ini kerap terlihat di kawasan Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Ragunan, bahkan berbagi pohon dengan kerak kerbau yang merupakan burung lokal.

Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, keberadaan kerak ungu menyimpan persoalan ekologis. Burung ini bukan spesies asli Indonesia. Persebaran alaminya meliputi Iran, Asia Selatan (termasuk Pakistan, India, dan Nepal) serta Thailand dan Malaysia.

Kehadirannya di Indonesia diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, terutama perdagangan burung. Sebagian kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang terlepas atau sengaja dilepaskan. Kerak ungu juga pernah dibeli untuk kegiatan pelepasan satwa secara seremonial tanpa mempertimbangkan asal dan dampaknya terhadap lingkungan.

Burung ini dikenal mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Kerak ungu dapat memanfaatkan makanan yang tersedia dari aktivitas manusia. Ia juga sering mengikuti burung lokal untuk mengenali sumber pakan dan tempat yang aman. Kemampuan tersebut membantunya bertahan di lingkungan baru.

Di Ragunan, kerak ungu terpantau memakai pohon tertentu sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, sekitar dua hingga tiga individu dapat terlihat. Jumlahnya memang belum menunjukkan peningkatan besar, tetapi kemunculannya secara konsisten di tempat yang sama menandakan bahwa burung tersebut mulai membentuk wilayahnya.

Spesies invasif umumnya lebih adaptif dan oportunis dibandingkan spesies lokal. Karena itu, kerak ungu berpotensi bersaing memperebutkan makanan dan ruang hidup. Dampaknya di Jakarta memang belum terlihat sepenuhnya, tetapi perubahan komposisi spesies dapat berlangsung perlahan dan sulit disadari.

Sejak 2023, Melisa Qonita (26), pegiat citizen science, rutin menjumpai kerak ungu di pusat Kota Jakarta. Burung pendatang itu bahkan kerap terlihat berbagi tempat dengan burung lokal.

“Hampir selalu ada. Bahkan dalam satu pohon bisa bareng kerak kerbau,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Burung lokal yang paling berpotensi terdampak adalah kerak kerbau. Jika kalah bersaing, kerak kerbau dapat kehilangan ruang hidupnya dan digantikan kerak ungu. Fenomena ketika suatu spesies mengambil alih fungsi atau posisi spesies lain dalam ekosistem disebut perebutan relung ekologi.

Masalahnya, kedua burung tersebut belum tentu mempunyai fungsi ekologis yang sama. Di habitat alaminya, kerak kerbau memakan parasit seperti caplak yang menempel pada tubuh kerbau. Fungsi tersebut tidak dimiliki kerak ungu.

Karena itu, kehadiran kerak ungu perlu dicatat dan dipantau secara rutin. Data dari komunitas pengamat burung dapat membantu mengetahui apakah populasinya hanya bertahan atau mulai berkembang. Burung pendatang ini mungkin sudah terlihat akrab di Jakarta, tetapi dampaknya terhadap kehidupan burung lokal belum boleh diabaikan.

Foto utama: Kerak ungu merupakan jenis burung invasif. Foto: Hammas Zia Urrohman Anshari.

Api Berkobar di Kawasan Konsesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Editor 26 Agu 2026

Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di Kalimantan hingga Papua. Meski menjadi bencana tahunan, penanganan pemerintah dinilai masih berfokus pada pemadaman setelah api membesar, bukan pencegahan dari akar persoalan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat karhutla di Kalimantan Selatan telah membakar sekitar 595 hektar lahan hingga 21 Agustus 2026. Kebakaran tersebar di sembilan wilayah, termasuk Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, Tapin, dan Tanah Laut.

Pemerintah menyiagakan pesawat patroli dan tiga helikopter untuk operasi water bombing. Lebih dari 1,5 juta liter air telah digunakan untuk memadamkan api. Namun, pengerahan armada udara dinilai belum cukup untuk memutus siklus kebakaran.

Pantauan Greenpeace Indonesia pada 11-16 Agustus menemukan 592 titik sumber asap di Kalimantan. Sebanyak 455 titik berada di lanskap gambut. Kalimantan Barat mencatat 322 titik, Kalimantan Tengah 181 titik, dan Kalimantan Selatan 86 titik. Asap kebakaran bahkan terdeteksi mencapai Sarawak, Malaysia.

Sapta Ananda Proklamasi, Peneliti Senior Greenpeace Indonesia, menilai modifikasi cuaca dan pengerahan armada pemadam merupakan langkah reaktif karena dilakukan setelah kebakaran meluas. “Cara itu merupakan respons, bukan antisipasi. Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah,” katanya. Menurut Sapta, pencegahan seharusnya diarahkan pada perbaikan tata air serta pemulihan kawasan rawa dan gambut yang telah rusak sehingga rentan terbakar.

Dampak karhutla telah dirasakan masyarakat. Kualitas udara di Pontianak berada dalam kategori tidak sehat, sedangkan Palangkaraya sempat mencapai kategori berbahaya. Kalimantan Tengah mencatat 2.052 kasus infeksi saluran pernapasan akut selama 7-14 Agustus 2026.

Ancaman kebakaran juga meluas ke Papua Selatan. Greenpeace menemukan 284 titik sumber asap di Papua, dengan 278 titik berada di kawasan Proyek Strategis Nasional Merauke.

Analisis Walhi menemukan 399 dari 1.292 titik api di Papua Selatan berada dalam area konsesi dan proyek pangan nasional. Sebanyak 245 titik berada di kawasan food estate, 115 di konsesi pemanfaatan hutan, dan 39 di perkebunan sawit.

Koordinator Pengkampanye Walhi, Uli Arta Siagian, mempertanyakan berulangnya kebakaran di kawasan yang telah mendapatkan izin dari pemerintah. “Kenapa berulang? Karena tidak pernah ada pencabutan izin,” katanya.

Walhi menilai pembukaan hutan, pembangunan jalan, serta pengeringan rawa dan gambut telah meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran. Proyek pangan di Papua Selatan juga bertumpang tindih dengan wilayah adat, sehingga masyarakat menghadapi ancaman kehilangan ruang hidup sekaligus melemahnya fungsi ekologis hutan.

Pemerintah didesak mengevaluasi dan mencabut izin perusahaan yang terbukti lalai, menuntut tanggung jawab korporasi, memulihkan gambut dan tata air, serta melindungi wilayah adat. Tanpa pembenahan tata kelola sumber daya alam, pemadaman hanya menyelesaikan gejala, sementara kebakaran akan terus berulang setiap musim kemarau.

Foto utama: Seorang petugas berusaha memadamkan api di Kalimantan. Foto: Greenpeace.

Siapa Sangka, Media Sosial Bantu Temukan 3 Spesies Baru Kelompok Talas dari Hutan Sumatera

Editor 26 Agu 2026

Media sosial tidak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi tanaman hias. Unggahan foto dari sejumlah penghobi ternyata membantu peneliti menemukan tiga spesies tumbuhan baru dari hutan Sumatera.

Ketiganya berasal dari genus Homalomena, kelompok tumbuhan talas-talasan atau Araceae. Spesies tersebut diberi nama Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata.

Penemuan bermula ketika dua peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung melihat beberapa unggahan tanaman hias. Mereka kemudian melakukan penelitian taksonomi untuk memeriksa ciri-cirinya. Hasil penelitian membuktikan bahwa ketiga tanaman tersebut merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.

“Hal ini menegaskan peran yang semakin besar dari platform digital dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi, khususnya di Sumatera,” tulis Hariri dan kolega, Jumat (27/3/2026).

Homalomena pachyderma berasal dari Aek Nabobar, Tapanuli Tengah. Spesimennya ditemukan di sebuah tempat pembibitan tanaman di Bogor. Tanaman setinggi sekitar 18 sentimeter ini tumbuh di bebatuan dan memiliki daun tebal. Daun dewasa berwarna hijau tua, sedangkan daun mudanya berwarna hijau limau.

Nama “pachyderma” berasal dari bahasa Yunani. Kata pachys berarti tebal, sementara derma berarti kulit. Nama tersebut merujuk pada helaian daunnya yang tebal dan menyerupai kulit.

Spesies kedua, Homalomena pulopadangensis, berasal dari Pulo Padang KM 5, Lingga Bayu, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Tanaman yang tingginya mencapai 18 sentimeter ini mempunyai daun menyempit dan tumbuh tegak ke atas. Ciri tersebut membedakannya dari spesies lain yang serupa, tetapi memiliki daun menggantung.

Sementara itu, Homalomena uncinata merupakan spesies terkecil dengan tinggi sekitar 11 sentimeter. Keunikannya terletak pada rambut berbentuk kait di permukaan atas daunnya. Kata “uncinata” berasal dari bahasa Latin yang berarti melengkung seperti kail. Tanaman ini berasal dari budidaya tumbuhan asal Tapanuli Selatan.

Ketiga spesies tersebut dibawa ke tempat pembibitan di Bogor. Di sana, peneliti dapat mengamati seluruh fase pembungaannya. Pengamatan seperti ini sulit dilakukan di habitat aslinya karena lokasinya terpencil dan sulit dijangkau.

Sumatera dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman Homalomena. Lebih dari 30 spesies dari genus ini telah dideskripsikan dari pulau tersebut. Temuan terbaru ini memperkuat posisi Sumatera sebagai kawasan penting bagi kelompok talas-talasan.

Namun, perdagangan tanaman hias melalui media sosial juga membawa risiko. Permintaan tinggi dapat memicu pengambilan berlebihan dari alam, terutama terhadap spesies yang wilayah persebarannya sangat terbatas. Di tengah deforestasi, perubahan fungsi lahan, dan krisis iklim, penemuan ini menunjukkan bahwa hutan Sumatera masih menyimpan banyak kekayaan hayati yang belum dikenali.

Foto utama: Inilah tumbuhan spesies baru Homalomena pachyderma. Foto: Dok. Muhammad Rifqi Hariri/Telopea.

Unik, Kadal Afrika Ini Seakan Menggunakan Kostum “Spider-Man”

Editor 25 Agu 2026

Kepalanya berwarna merah terang hingga violet, sedangkan tubuh dan ekornya biru tua. Perpaduan warna tersebut membuat Agama mwanzae dikenal sebagai “kadal Spider-Man” karena dianggap menyerupai kostum tokoh superhero populer.

Kadal yang juga disebut Mwanza flat-headed rock agama ini hidup di sabana dan ekosistem berbatu Afrika Timur. Persebarannya meliputi Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Spesies dari keluarga Agamidae ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi Arthur Loveridge pada 1923. Nama “mwanzae” merujuk pada Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen pertamanya.

Namun, warna mencolok itu tidak dimiliki semua individu. Kepala, leher, dan bahu berwarna merah hingga violet hanya terlihat pada pejantan dominan. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat umumnya berwarna cokelat atau abu-abu dengan pola gelap. Warna redup tersebut membantu mereka menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan.

Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Warna cerah pejantan teritorial juga dapat meredup menjadi abu-abu ketika merasa terancam atau pada malam hari.

Habitat Agama mwanzae berkaitan erat dengan formasi batuan besar bernama kopjes, yang banyak ditemukan di Serengeti dan sabana Afrika Timur. Bebatuan menyediakan tempat terbuka untuk berjemur. Sebagai hewan ektotermik, kadal ini mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Karena itu, ia sering terlihat menyerap panas matahari di atas batu pada siang hari.

Celah bebatuan juga menjadi tempat berlindung dari predator, suhu tinggi, dan gangguan lainnya. Bentuk kepalanya yang pipih memudahkan kadal bergerak di ruang sempit tersebut.

Pejantan memiliki perilaku teritorial. Untuk mempertahankan wilayahnya, ia menggunakan gerakan kepala, postur tubuh, dan gerakan menyerupai push-up sebagai bentuk komunikasi visual.

Penelitian terhadap 120 spesimen di Taman Nasional Serengeti menemukan sekitar 2.350 komponen makanan. Sebagian besar berupa serangga, terutama semut, lebah, dan tawon sebesar 47,03 persen. Rayap mencapai 29,78 persen, kumbang 18,29 persen, dan belalang 2,63 persen.

Pola makannya dapat berubah mengikuti musim. Ketika musim hujan dan serangga melimpah, kadal ini lebih banyak memakan serangga. Saat musim kering, materi tumbuhan menjadi lebih dominan. Daun, batang, bunga, buah, dan biji ditemukan dalam saluran pencernaannya. Kemampuan menyesuaikan makanan membantunya bertahan menghadapi perubahan musim di sabana.

IUCN mengategorikan Agama mwanzae sebagai Risiko Rendah atau Least Concern. Sebagian populasinya hidup di kawasan lindung, termasuk ekosistem Serengeti. Meski penampilannya membuat kadal ini diminati sebagai hewan peliharaan eksotis, perawatannya memerlukan suhu, pencahayaan, ruang, dan susunan habitat yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya.

Di balik warna mirip kostum Spider-Man, daya tarik ilmiah Agama mwanzae terletak pada kemampuannya memanfaatkan bebatuan dan menyesuaikan pola makan untuk bertahan di lingkungan sabana.

Foto utama: Kadal jantan agama mwanzae ini berjemur di atas batu di kawasan Mbuzi Mawe, Serengeti tengah, Tanzania. Warna cerahnya akan meredup menjadi abu-abu ketika merasa terancam atau saat malam hari. Foto: David Bygott/Flickr (CC BY-NC-SA 2.0).

Sedih, Masa Depan Kuskus Papua Terancam Akibat Kepungan Deforestasi

Editor 25 Agu 2026

Video seekor kuskus yang bertahan di antara pepohonan tumbang di Merauke, Papua Selatan, ramai dibagikan di media sosial pada awal Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, satwa berwarna keemasan dengan totol putih terlihat memanjat sisa dahan, sementara alat berat terus membuka kawasan di sekitarnya.

Identitas pasti kuskus dalam video itu belum dikonfirmasi lembaga konservasi. Namun, berdasarkan wilayah persebarannya, satwa tersebut diduga merupakan kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau kuskus timur (Phalanger orientalis). Keduanya tersebar di dataran rendah Papua bagian selatan hingga Papua Nugini.

Kuskus merupakan mamalia berkantung atau marsupial yang hidup di kawasan Australasia. Di Indonesia, satwa ini ditemukan di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Timor. Meski kerap disangka primata karena bergerak lambat dan memiliki mata besar, kuskus lebih dekat kekerabatannya dengan kanguru dan koala.

Wartika Rosa Farida, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, menjelaskan bahwa warna bulu dapat menjadi salah satu ciri pembeda kuskus. “Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu berbeda berdasarkan genusnya.”

Di Papua terdapat dua genus utama, yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Beberapa jenisnya, seperti kuskus Waigeo (Spilocuscus papuensis) dan kuskus hitam (Spilocuscus rufoniger), merupakan satwa endemik Papua.

Sebagai satwa arboreal sejati, kuskus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Panjang tubuhnya sekitar 35-45 sentimeter. Cakar yang kuat membantunya mencengkeram, sedangkan ujung ekornya yang tidak berbulu berfungsi seperti tangan kelima untuk bergelantungan dan menjaga keseimbangan.

Kuskus merupakan satwa nokturnal dan soliter. Pada siang hari, ia beristirahat di lubang pohon, rimbunan daun, atau cabang kokoh. Ketika malam tiba, kuskus keluar untuk mencari buah, daun, dan bunga. Karena sangat bergantung pada pohon, penebangan dapat sekaligus menghilangkan tempat berlindung, jalur pergerakan, dan sumber pakannya.

Habitat kuskus tidak selalu berupa hutan primer yang lebat. Di Merauke, satwa ini dapat hidup dalam lanskap hutan dan sabana yang memiliki kantong-kantong pohon berbuah. Penelitian di Hutan Desa Tala, Maluku, bahkan menemukan kuskus lebih banyak dijumpai di hutan sekunder karena sumber pakannya relatif melimpah.

Kuskus berperan penting dalam menjaga kesehatan hutan. Saat memakan buah dan mengeluarkan bijinya di tempat lain, satwa ini membantu penyebaran benih, regenerasi tumbuhan, serta menjaga keragaman genetik. Kuskus juga menjadi bagian dari rantai makanan bagi predator alami seperti ular sanca dan burung pemangsa.

Namun, populasinya terus menghadapi tekanan akibat deforestasi, pembangunan infrastruktur, fragmentasi habitat, dan perburuan. Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia dilindungi, sementara perdagangan internasionalnya diatur melalui CITES.

Video dari Merauke menunjukkan bahwa hilangnya hutan bukan sekadar perubahan bentang alam. Bagi kuskus, setiap pohon yang tumbang dapat berarti hilangnya rumah dan peluang untuk bertahan hidup.

Foto utama: Kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau yang biasa disebut juga kuskus pontai. Foto: Wikimedia Commons/garywwilson/CC BY 4.0.

Babi Kutil Jawa Terancam Punah, Mengapa Belum Dilindungi?

Editor 24 Agu 2026

Babi kutil jawa bukan sekadar babi hutan biasa. Satwa bernama ilmiah Sus verrucosus ini merupakan satu dari tujuh spesies babi endemik Indonesia. Persebarannya terbatas di Pulau Jawa sehingga keberadaannya tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain.

Secara fisik, babi kutil jawa memiliki tubuh dan tulang lebih besar. Kepalanya besar dan berat, wajahnya memanjang, serta telinganya lebar. Rambut panjang menyerupai surai tumbuh dari tengkuk hingga bagian belakang tubuh. Kakinya relatif ramping, sementara ekornya panjang dengan sedikit rambut di ujungnya.

Satwa ini menghuni hutan sekunder pada ketinggian kurang dari 800 meter. Babi kutil jawa juga dapat ditemukan di hutan dataran rendah, perkebunan, semak belukar, dan hutan jati. Namun, perubahan kawasan menjadi lahan pertanian telah mengurangi banyak habitat alaminya.

Di alam, babi kutil jawa memiliki peran penting. Aktivitasnya membantu menggemburkan tanah dan menyebarkan biji tumbuhan. Peran tersebut dapat mendukung pemulihan lahan yang rusak serta menjaga regenerasi pohon. Jika populasinya terus berkurang, keseimbangan ekosistem tempat satwa ini hidup juga dapat terganggu.

Keberadaannya kini semakin mengkhawatirkan. Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN memasukkan babi kutil jawa dalam kategori terancam punah. Populasinya terus menurun akibat perburuan ilegal dan hilangnya habitat. Jumlahnya di alam belum diketahui secara pasti.

Di Taman Nasional Baluran, babi kutil jawa semakin sulit ditemukan sejak tahun 2000-an dan dianggap telah punah secara lokal. Upaya pemulihan dilakukan sejak 2018 melalui penyelamatan dan pelepasliaran. Namun, kematian janin menjadi salah satu kendala dalam pengembangbiakannya.

Selain daya reproduksi yang rendah dan sifatnya yang soliter, babi kutil jawa menghadapi sedikitnya enam ancaman utama. Ancaman itu mencakup perkawinan silang dengan babi hutan biasa, kerusakan dan fragmentasi habitat, persaingan mendapatkan sumber daya, perburuan karena dianggap hama, terbatasnya program konservasi, serta risiko penyakit.

Salah satu ancaman penyakit yang perlu diwaspadai adalah demam babi Afrika yang telah tercatat di 33 provinsi. Wabah dapat berdampak serius, terutama terhadap kelompok babi kutil jawa yang kecil dan terisolasi.

Meski terancam punah, babi kutil jawa belum berstatus satwa dilindungi di Indonesia. Penetapan perlindungan pun menyimpan dilema karena dapat meningkatkan harga satwa di pasar gelap dan memperpanjang proses perizinan dalam kondisi darurat. Karena itu, perlindungannya membutuhkan aturan yang tepat, perubahan anggapan masyarakat, serta kerja sama pemerintah, warga, dan praktisi konservasi.

Foto utama: Babi kutil jawa yang memerlukan status perlindungan agar populasinya stabil di alam liar. Foto: Wikimedia Commons/Adyah Ningtyas/CC BY-SA 4.0.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.