Kilatan kuning di sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, berpadu dengan punggung cokelat kemerahan. Namun, menemukan katak pohon Harlequin di hutan bukan perkara mudah. Hewan bernama ilmiah Rhacophorus pardalis ini lebih banyak berada di pepohonan dan aktif pada malam hari. Perjumpaannya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, memperlihatkan salah satu penghuni kecil hutan Sumatera yang kerap luput dari perhatian.
Di balik penampilannya, kehidupan katak ini ditopang hubungan erat antara pepohonan, kelembapan, dan genangan air.
Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari, menjelaskan bahwa katak Harlequin tersebar cukup luas di Sumatera, meskipun relatif jarang dijumpai. Tubuh jantannya memiliki panjang sekitar 4-5,5 sentimeter, diukur dari ujung moncong hingga kloaka. Sisi tubuhnya kekuningan dengan bintik gelap, sementara bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan.
Kaki belakang yang panjang membantu katak melompat, sedangkan selaput di antara jari memperluas permukaan saat bergerak di udara. Pada sejumlah anggota genus Rhacophorus, selaput tersebut membantu memperlambat penurunan dan mengarahkan gerakan ketika meluncur di antara pepohonan.
Sebutan katak pohon ternyata tidak berarti seluruh kehidupannya berlangsung jauh dari air. Amir Hamidy, pakar herpetologi BRIN, menjelaskan bahwa katak Harlequin tetap membutuhkan genangan untuk berkembang biak.
“Meskipun hidup di pohon, namun untuk bertelur, ia membutuhkan genangan air dan akan bertahan satu atau dua hari.”
Pada sejumlah spesies Rhacophorus, telur diletakkan dalam sarang berbusa yang melekat pada vegetasi di atas air. Setelah menetas, berudu jatuh ke genangan dan melanjutkan perkembangannya hingga bermetamorfosis menjadi katak muda. Dengan demikian, pepohonan dan perairan kecil saling melengkapi kebutuhan hidup kelompok amfibi ini.
Ketergantungan tersebut membuat perubahan hutan dapat mengganggu beberapa bagian kehidupannya sekaligus.
“Bila hutan rusak, kehidupannya sangat terganggu. Penebangan pohon dan perubahan tutupan hutan dapat menghilangkan tempat katak berlindung, berpindah, maupun berkembang biak,” kata Amir.
Habitat yang sesuai juga memerlukan kelembapan dan kondisi air yang mendukung. Genangan itu tidak selalu berupa kolam permanen atau sungai besar; cekungan penampung air hujan pun dapat dimanfaatkan amfibi tertentu. Karena itu, menjaga pohon saja belum tentu cukup apabila lingkungan di sekitarnya berubah dan kehilangan tempat berkembang biak.
Meski jarang terlihat, frekuensi perjumpaan yang rendah tidak otomatis menunjukkan populasinya sedikit. Waktu pengamatan, perilaku, kondisi habitat, dan intensitas survei turut menentukan peluang menemukannya.
Katak Harlequin mengingatkan bahwa hutan Sumatera menyediakan ruang hidup bagi satwa dengan kebutuhan yang beragam, dari mamalia besar hingga amfibi kecil di antara daun dan ranting. Sebagai pemangsa hewan kecil sekaligus makanan bagi satwa lain, katak menjadi bagian dari jaring-jaring makanan. Kelangsungan hidupnya bergantung pada terjaganya hubungan antara pepohonan, genangan air, dan kehidupan lain di hutan.
Foto utama: Jenis ini tidak mudah dilihat karena aktif malam hari dan berada di pohon. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.