Bayangkan sebuah komputer yang mampu mengenali ribuan gambar satwa, menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, bahkan membantu ilmuwan memprediksi perubahan iklim. Kemampuan tersebut bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan dan penelitian lingkungan.
Namun, kecanggihan itu menyimpan sejumlah pertanyaan. Bagaimana komputer belajar mengenali gambar? Dari mana AI memperoleh jawaban? Mengapa teknologi yang tampak pintar ini terkadang menghasilkan informasi keliru?
Memahami pertanyaan tersebut menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital.
Dalam dunia konservasi, misalnya, AI dapat membantu peneliti mengidentifikasi spesies melalui pengenalan gambar, memantau keanekaragaman hayati, hingga memodelkan skenario perubahan iklim. Teknologi ini juga berpotensi mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan.
Meski demikian, AI bukan teknologi tanpa jejak lingkungan. Di balik kemampuannya mengolah informasi, terdapat sistem komputasi berskala besar yang membutuhkan energi signifikan. Penggunaannya juga memunculkan persoalan mengenai transparansi, perlindungan data, dan kesetaraan akses.
Lantas, bagaimana memperkenalkan teknologi yang kompleks ini kepada anak-anak?
Salah satu caranya melalui film dan eksperimen sains. Pendekatan tersebut digunakan dalam Science Film Festival Indonesia 2026 yang mengangkat tema kecerdasan buatan.
Festival yang diinisiasi Goethe-Institut ini menghadirkan 20 film dari tujuh negara dan menjangkau pelajar SD hingga SMA di 70 kabupaten/kota pada 6 Oktober–14 November 2026.
Dua film asal Jerman, Sembilan Setengah – Melindungi Iklim di Dunia Digital dan Sembilan Setengah – ChatGPT di Ruang Kelas, menjadi bagian dari pembelajaran yang menghubungkan teknologi dengan persoalan lingkungan dan pendidikan.
Maila Dinia Husni Rahiem, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, mengajak pelajar untuk tidak menerima begitu saja jawaban yang dihasilkan AI. Mereka perlu memahami bagaimana teknologi bekerja sekaligus mempertanyakan ketepatan informasi yang diberikan.
“Film-film ini dapat membantu melihat bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan terhubung dengan apa yang kalian pelajari di kelas,” ujarnya.
Constanze Michel, Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, menjelaskan bahwa festival ini mempertemukan penonton dengan film-film yang mengeksplorasi peran AI dalam sains, pendidikan, dan keberlanjutan.
“Melalui pemutaran film dari berbagai negara, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi sains secara menyenangkan,” katanya.
Lebih dari 250 siswa yang menghadiri pembukaan festival di Jakarta juga diajak melakukan eksperimen sains, mulai dari gelembung air hingga reaksi perubahan warna.
Festival yang telah berlangsung di Indonesia sejak 2010 ini berupaya menghadirkan sains melalui pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendorong sikap kritis.
Sebab, di masa ketika mesin semakin pandai memberikan jawaban, kemampuan manusia untuk bertanya, memeriksa kebenaran, dan memahami konsekuensi teknologi justru menjadi semakin penting.
Foto utama: Belajar AI lewat 20 Film dan Eksperimen Sains. Foto: Dok. Goethe-Institut.