Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya.
Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, keberadaannya merupakan bagian dari ekosistem terumbu. Ketika populasinya melonjak, pemangsaan dapat meluas hingga menghabiskan sebagian besar karang hidup di lokasi terdampak.
Neviaty P. Zamani, peneliti yang mengkaji kelimpahan bintang laut berduri di perairan Pulau Tunda, Banten, menyebut satu individu dapat memangsa karang seluas 5–6 meter persegi dalam setahun. Angka itu memberi gambaran mengapa perubahan jumlah satwa ini begitu berarti. Dalam kondisi normal, kepadatannya dapat berkisar sekitar 10 ekor per hektar, tetapi saat terjadi ledakan populasi jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor pada luasan yang sama.
Di Pulau Tunda sendiri, penelitian tersebut menemukan kelimpahan yang masih berada dalam kisaran alami dan belum menjadi ancaman berarti bagi terumbu.
Apa yang membuat jumlahnya melonjak? Neviaty menjelaskan tiga kemungkinan.
Pertama, populasi bintang laut memang dapat naik turun secara alami. Kedua, berkurangnya hewan pemangsa dapat membuat lebih banyak bintang laut bertahan hidup. Ketiga, aktivitas manusia di darat dan pesisir dapat menambah ketersediaan makanan bagi larva di laut.
Jika lebih banyak larva bertahan, lebih banyak pula yang berpeluang tumbuh menjadi pemangsa karang. Ketiganya merupakan penjelasan yang dibahas dalam kajian tersebut. Lonjakan populasi di suatu lokasi belum cukup untuk menentukan penyebabnya.
Di Togean, pengelola kawasan telah mencoba menekan jumlah bintang laut di lokasi dengan kepadatan tinggi. Pada 2019, sekitar 8.000 ekor dengan diameter 8-48 sentimeter diangkat dari perairan taman nasional. Tim mensurvei lokasi terlebih dahulu, lalu menggunakan penjepit bambu untuk menghindari kontak langsung dengan duri.
Darwis Ambotang, warga sekaligus pemilik penginapan di Pulau Papan, mengatakan pengangkatan telah dilakukan beberapa kali. Namun, pada 2022 dia masih melihat banyak lipan laut. Baginya, kegiatan itu merupakan bagian dari upaya memulihkan terumbu yang juga menjadi daya tarik wisata setempat.
Pengalaman Togean dan Pulau Tunda menunjukkan mengapa jumlah bintang laut perlu dibaca bersama kondisi karang di lokasi yang sama. Menemukan seekor lipan laut saat menyelam belum menandakan terumbu sedang bermasalah. Yang perlu diperhatikan adalah kenaikan kepadatan dan seberapa luas karang hidup yang dimangsa. Survei berulang dapat membantu pengelola membedakan populasi yang masih berada dalam kisaran alami dari lonjakan yang perlu ditangani.
Foto utama: Bintang laut mahkota berduri di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.