Dari 34 individu macan tutul jawa yang berhasil diidentifikasi dalam Survei Nasional Macan Tutul Jawa (Java Wide Leopard Survey/JWLS) yang masih berjalan, 12 di antaranya adalah macan kumbang, varian dengan bulu hitam legam. Angka itu lebih tinggi dari yang diduga banyak orang. Dan ia memunculkan pertanyaan yang menarik: mengapa hutan Jawa tampaknya lebih banyak melahirkan macan hitam dibanding tempat lain?
Jawabannya ada di genetika, dan di hutan itu sendiri.
Macan tutul dan macan kumbang bukan dua spesies yang berbeda. Keduanya adalah Panthera pardus, spesies yang sama, hanya dibedakan oleh satu mutasi genetik yang disebut melanisme. Mutasi ini meningkatkan produksi melanin secara berlebihan, menggelapkan seluruh warna bulu dari kuning berbintik menjadi hitam pekat. “Yang disebut ‘macan kumbang’ adalah macan tutul terkena melanisme,” tulis zoologis Giovanni Giuseppe Bellani dalam bukunya Felines of the World. Di Jawa, nama “kumbang” diambil dari sebutan lokal untuk serangga berwarna hitam legam. Di dunia Barat, yang berbintik disebut leopard, yang hitam disebut panther, tapi secara taksonomi keduanya tetap satu.
Lalu mengapa varian hitam lebih dominan di Jawa? Erwin Wilianto, pendiri SINTAS, memberikan penjelasan yang elegan. “Di lanskap yang lebat di Jawa, macan tutul melanistik lebih sering terlihat, bulu gelapnya berkilau dalam bayangan semak belukar, sementara kerabatnya yang berwarna lebih terang lebih sulit ditemukan dalam ekosistem penuh warna ini.” Hutan Jawa yang rapat, lembap, dan minim cahaya di lantai hutan secara tidak langsung memberi keunggulan bagi varian hitam. Melanisme bukan sekadar soal warna, ia adalah adaptasi evolusioner yang dipilih oleh habitat.
Pola serupa ditemukan di tempat lain. Kajian yang dikutip peneliti Seng Yian Chew dari National University of Singapore mencatat bahwa macan tutul hitam rata-rata muncul di lingkungan hutan lembap dengan tutupan kanopi rapat dan curah hujan yang tidak ekstrem, seperti di Thailand Selatan, semenanjung Malaysia, dan Jawa.
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) sendiri adalah subspesies yang berkembang secara terpisah dalam waktu sangat lama, setelah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan menjadi pulau-pulau tersendiri. Mengapa macan tutul hanya bertahan di Jawa dan tidak di Sumatera atau Kalimantan? Hipotesis utama menyebut kelangkaan mangsa di hutan tropis yang selalu hijau, yang secara signifikan kurang produktif bagi ungulata. Hipotesis lain menunjuk letusan Gunung Toba lebih dari 70 ribu tahun lalu sebagai penyebab kepunahan lokal di Sumatera.
Hari ini, macan tutul jawa adalah satu-satunya predator besar yang tersisa di Pulau Jawa, setelah harimau jawa dinyatakan punah pada 1980-an. Populasinya diperkirakan sekitar 350 individu dewasa, tersebar di kantong-kantong hutan yang semakin terfragmentasi. JWLS yang diluncurkan Februari 2024, kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, Yayasan SINTAS, dan pihak swasta, adalah upaya terbesar yang pernah dilakukan untuk memotret kondisi spesies ini secara menyeluruh di 21 bentang alam target.
Macan tutul dan macan kumbang bukan dua satwa yang bersaing. Mereka adalah satu spesies yang sama, berjuang di sisa-sisa hutan pulau yang sama. Dan hutan Jawa, dengan segala kerimbunannya, rupanya telah lama memilih warna hitam sebagai strategi bertahan yang paling masuk akal.