Nama ngengat kepala maut terdengar seperti tokoh dalam cerita horor. Corak menyerupai tengkorak manusia pada tubuhnya memperkuat kesan menyeramkan tersebut. Namun, serangga ini tidak membahayakan manusia dan tidak beracun. Kehidupannya justru menyimpan cerita tentang perubahan dari ulat pemakan daun menjadi ngengat pencari madu.
Di Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, masyarakat terbiasa menjumpai fase ulatnya di sekitar tempat tinggal. Mereka membiarkannya hidup. “Ulat ini sering terlihat di pohon-pohon kecil di pinggir jalan,” kata Aman Tris, warga setempat.
Ngengat kepala maut termasuk genus Acherontia, yang terdiri dari tiga jenis. Acherontia atropos tersebar di Eropa, sementara Acherontia styx dan Acherontia lachesis ditemukan di Asia. Ketiganya memiliki kemiripan yang membuat pengenalan jenis perlu memperhatikan cirinya secara teliti. “Ketiganya sangat mirip dari ukuran, warna, dan siklus hidup.
Dinamakan ngengat kepala maut, karena ada bentuk tengkorak manusia di bagian toraks,” jelas Mardili, alumni Biologi Sains Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh. Corak pada bagian dada itulah yang melekat pada namanya dan membuat penampilannya mudah diingat.
Sebelum memiliki sayap, ngengat ini menjalani kehidupan sebagai ulat yang memakan daun muda.
Menurut Mardili, larva yang baru menetas berukuran sekitar satu milimeter, kemudian dapat membesar hingga 130 milimeter. Pada ujung ekornya terdapat bagian menyerupai tanduk. Ketika didekati, ulat biasanya membungkukkan sebagian tubuhnya ke belakang. Setelah melewati fase kepompong dan menjadi dewasa, makanannya berubah menjadi madu lebah. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan makan serangga ini berbeda sepanjang siklus hidupnya, dari masa pertumbuhan sebagai larva hingga tahap dewasa.
Kebiasaan mencari madu membawa ngengat kepala maut masuk ke sarang lebah. Bagi peternak, perilaku tersebut membuatnya dikenal sebagai hama minor karena mengambil persediaan madu.
Sumber yang dikutip artikel menjelaskan bahwa pelindung tubuhnya yang tebal membantu menghadapi sengatan lebah. Setelah masuk, ngengat mengeluarkan bau menyerupai lebah sehingga tidak dianggap sebagai ancaman. Kemampuan ini menjadi bagian menarik dari kehidupannya: di balik corak tengkorak yang mencolok, terdapat cara untuk memperoleh makanan di tengah koloni serangga lain.
Ngengat kepala maut aktif pada malam hari, sehingga keberadaannya tidak selalu mudah diamati. Meski masyarakat di Samarkilang mengenali ulatnya, pengetahuan ilmiah tentang serangga ini masih terbatas. Mardili menyebut belum banyak riset yang ditemukan mengenai ngengat kepala maut.
“Bisa jadi karena aktif malam hari, membuat peneliti kesulitan. Atau bisa juga, penelitian tentang ngengat kurang dianggap menarik,” ujarnya. Pernyataan itu masih berupa kemungkinan, tetapi menunjukkan adanya ruang penelitian lebih lanjut. Nama dan penampilannya mungkin lebih dahulu menarik perhatian, sementara perilaku, siklus hidup, dan interaksinya dengan lebah menyimpan banyak hal yang dapat dipelajari.
Foto utama: Inilah wujud ngengat kepala maut yang masih fase kepompong. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.