Elizabeth Yamalu pergi untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026. Ketika tak kunjung pulang, suaminya, Menjamin Lanto, pergi mencari. Dia menemukan Elizabeth dalam lilitan piton besar. Elizabeth meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, seorang warga Desa Padang juga tewas setelah diserang piton saat hendak pergi ke kebun.
Dua peristiwa itu membuat warga waswas. Mereka mengatakan piton berukuran besar semakin sering ditemukan di kebun, dekat permukiman, sungai, bahkan kantor pemerintahan. Yulius Lait, tokoh adat Desa Natang Kuning, merasa kemunculannya berbeda dari yang pernah ia saksikan. “Sepanjang usia hidup ini, dari muda sampai tua belum ada ular yang keluar sebanyak ini. Apalagi sampe telan orang,” katanya.
Sejumlah warga menduga perubahan hutan di sekitar desa berkaitan dengan kemunculan piton. Desa Padang, misalnya, berbatasan dengan kawasan konsesi pertambangan. Namun, dugaan tersebut masih perlu diuji.
Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara mencatat perubahan tutupan hutan Taliabu seluas 38.257,4 hektar sepanjang 2001–2025. Menurut Irsandi Hidayat, Koordinator JPIK Malut, pembukaan hutan untuk pertambangan dan kegiatan perusahaan kayu dapat mengubah habitat serta memutus hubungan antara kawasan yang digunakan satwa untuk bergerak.
“Ketika ruang jelajah semakin menyempit, satwa berpotensi keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman,” ujarnya. Meski demikian, data perubahan tutupan hutan itu belum membuktikan penyebab setiap kemunculan piton di desa.
Yeni Purnamasari dari BKSDA Maluku-Malut mengatakan berkurangnya mangsa di hutan dapat mendorong piton mencari makanan di tempat lain. BKSDA belum memiliki data resmi mengenai jumlah piton maupun lokasi habitatnya di Taliabu. Karena itu, perubahan pergerakan satwa tersebut belum dapat dipastikan dari pemantauan populasi.
Qomar Arif Madi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Taliabu, juga belum menyimpulkan pertambangan sebagai penyebab langsung. Pemerintah daerah tengah mendata lokasi dan waktu kemunculan piton. Menurutnya, titik-titik itu perlu dibandingkan dengan batas konsesi, pembukaan lahan, tutupan hutan, dan habitat satwa. “Kami belum memiliki data pembanding yang cukup dan terverifikasi,” katanya.
Pihak PT Adidaya Tangguh membantah kemunculan piton di sekitar desa disebabkan aktivitas tambangnya dan menduga cuaca panas turut berperan. Sementara itu, Much. Hidayah Marasabessy, pengajar kehutanan Universitas Khairun, mengatakan kerusakan habitat dan berkurangnya mangsa dapat memengaruhi pergerakan piton, tetapi perubahan cuaca juga mungkin berpengaruh.
Bagi warga Taliabu, ancaman perjumpaan dengan piton sudah terasa. Menjelaskan penyebabnya memerlukan data tentang satwa dan perubahan lahan, agar dugaan yang muncul setelah dua kematian tersebut dapat diperiksa.
Foto utama: Ular piton memiliki kemampuan melilit mangsa yang kuat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.