Saat sebagian besar warga terlelap, Jumawan justru menyusuri pantai. Lelaki berusia 33 tahun itu mencari jejak penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Sejak 2019, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmennya menjaga penyu di pesisir Cilacap, Jawa Tengah.
Jumawan kini memimpin Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja. Dalam patroli malam dan pagi hari, dia menemukan tiga titik di sekitar Pantai Sodong yang kerap menjadi tempat penyu lekang bertelur. Jika sarang berada di lokasi berbahaya, telur-telur dipindahkan ke tempat penetasan yang lebih aman.
Sekali bertelur, seekor penyu rata-rata menghasilkan sekitar 116 butir. Namun, tidak semuanya berhasil menetas. Tingkat keberhasilan penetasan umumnya sekitar 70 persen. Suhu pasir yang tidak sesuai, mikroorganisme, predator, dan gangguan manusia dapat menyebabkan telur gagal berkembang.
Musim penyu bertelur di Cilacap berlangsung antara April hingga September. Puncaknya terjadi pada Juni dan Juli, ketika musim kemarau berlangsung dan gelombang laut relatif lebih stabil. Penyu biasanya naik saat air pasang tertinggi, mulai sore hingga malam, lalu membutuhkan waktu sekitar 45–70 menit untuk menggali sarang dan meletakkan telur.
Vegetasi pantai ikut menentukan keselamatan telur dan tukik. Pandan laut memberi keteduhan, sementara rumput lari dapat menjadi tempat berlindung tukik dari predator. Katang-katang dan pohon kelapa juga menjadi bagian penting dari habitat alami penyu di pantai.
Perjalanan Jumawan tidak selalu mudah. Pada 2019, pengambilan telur penyu masih dilakukan warga. Telur dijual seharga Rp3-5 ribu per butir karena dipercaya dapat meningkatkan stamina orang dewasa. Banyak warga ketika itu belum memahami bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi.
Jumawan bahkan pernah membeli 50 telur penyu yang ditawarkan melalui Facebook. Telur tersebut tidak dikonsumsi, melainkan ditetaskan untuk kemudian dilepas kembali ke laut. Pada akhir 2019, ia mulai membentuk kelompok konservasi serta membangun kawasan edukasi yang bisa dikunjungi pelajar dan masyarakat tanpa tiket masuk. Pengunjung hanya dapat memberikan donasi sukarela untuk membantu kegiatan operasional.
Tiga tahun lalu, Jumawan juga menerima 90 telur penyu sisik dari nelayan. Telur-telur itu berhasil menetas. Sebagian tukik kemudian dilepaskan, termasuk seekor penyu bernama Patrick. Namun, Patrick kembali ke pantai pada hari berikutnya. Jumawan pun merawatnya di tempat karantina sampai benar-benar siap, sebab penyu hasil pemeliharaan tidak dapat dilepas sembarangan.
Upaya konservasi ini menghadapi tantangan lain, mulai dari tambak udang dan limbah yang tidak diolah, cahaya terang di sekitar pantai, aktivitas manusia, hingga perubahan iklim. Semua itu dapat mengganggu penyu mencari tempat bertelur dan memengaruhi perkembangan telur di dalam pasir.
Di tengah berbagai ancaman tersebut, patroli Jumawan terus berlangsung. Setiap telur yang dipindahkan ke tempat aman dan setiap tukik yang kembali ke laut menjadi bagian dari upaya panjang mempertahankan kehidupan penyu di pesisir Cilacap.
Foto utama: Jumawan menunjukkan penyu hijau di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.