Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang terlalu kecil untuk dapat bertahan dalam jangka panjang.
Selama lebih dari dua dekade, konservasionis berupaya melindungi badak dari pemburu liar. Pendorong utamanya masih sama: tingginya permintaan cula badak di Asia Timur. Cula diperdagangkan sebagai simbol status dan digunakan dalam pengobatan tradisional, meski berbagai penelitian telah membantah manfaat medisnya. Nilai jualnya di pasar gelap bahkan dilaporkan dapat melampaui emas atau berlian. Berbagai strategi konservasi pun diterapkan, mulai dari patroli bersenjata, pemotongan cula (dehorning), hingga penelitian reproduksi berbantu. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, tetapi belum cukup untuk mengamankan seluruh spesies badak.
Laporan terbaru tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lima spesies badak kini berkembang ke arah berbeda. Badak bercula satu besar (Rhinoceros unicornis) di India dan Nepal berhasil menunjukkan pemulihan populasi signifikan. Badak hitam (Diceros bicornis) di Afrika juga mengalami peningkatan, dengan jumlah populasi diperkirakan naik sekitar 10 persen, dari 6.195 individu pada 2021 menjadi 6.788 individu pada 2024.
Sebaliknya, tiga spesies lainnya masih berada dalam tren penurunan. Populasi badak putih (Ceratotherium simum) di Afrika turun dari 15.942 menjadi 15.752 individu dan kini mencapai titik terendah dalam hampir dua dekade. Menurut para peneliti, ancaman terhadap badak putih tidak lagi hanya berasal dari perburuan. Kekeringan berkepanjangan yang diperparah krisis iklim membuat habitatnya di Afrika Timur dan Selatan semakin kering sehingga mengurangi ketersediaan pakan. Selain itu, populasi yang terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil membuat badak lebih rentan terhadap penyakit, kehilangan habitat, dan perkawinan sedarah.
Indonesia menghadapi tantangan yang lebih berat. Dua spesies badak tersisa, yakni badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), masih berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan berada di ambang kepunahan. Laporan tersebut menempatkan keduanya sebagai spesies yang belum menunjukkan tren pemulihan, meskipun berbagai upaya perlindungan terus dilakukan.
Meski begitu, laporan ini juga membawa secercah optimisme. Angka perburuan badak di Afrika dilaporkan menurun, dari 540 kasus terdokumentasi pada 2021 menjadi 516 kasus pada 2024. Negara-negara juga mulai memperkuat penegakan hukum, menjatuhkan hukuman lebih berat kepada pelaku, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam perlindungan badak. Di bidang sains, tahun 2024 bahkan mencatat tonggak penting ketika ilmuwan berhasil mendokumentasikan kehamilan pertama badak hasil fertilisasi in vitro (IVF), yang diharapkan dapat menjadi salah satu alat konservasi di masa depan.
Namun, para ahli menegaskan bahwa menyelamatkan badak tidak cukup hanya dengan menjaga satwa di lapangan. Diperlukan peningkatan intelijen untuk membongkar jaringan perdagangan satwa liar lintas negara, kerja sama internasional yang lebih erat, penegakan hukum yang konsisten, serta hukuman yang memberikan efek jera. Tanpa upaya tersebut, penurunan perburuan saja belum tentu mampu menghentikan laju kepunahan tiga spesies badak yang populasinya terus menurun.
Foto utama: Seekor badak sumatera dengan anaknya yang berusia empat hari. Foto: International Rhino Foundation/FunkMonk melalui Wikimedia Commons (CC BY 2.0)