Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan.
Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling berisiko mengalami dampaknya bukanlah orang dewasa sehat, melainkan ibu hamil, janin yang sedang dikandung, serta anak-anak yang sistem sarafnya masih berkembang.
Ancaman ini berawal dari posisi hiu sebagai predator puncak di lautan. Sepanjang hidupnya, hiu memangsa berbagai ikan dan hewan laut lain yang telah menyerap polutan dari lingkungan. Merkuri, arsenik, kadmium, dan timbal menumpuk di tubuh hiu melalui proses bioakumulasi. Akibatnya, kadar logam berat pada hiu jauh lebih tinggi dibandingkan banyak jenis ikan lainnya.
Di antara berbagai logam berat tersebut, merkuri dalam bentuk metilmerkuri menjadi perhatian utama karena mampu menyerang sistem saraf manusia. Para peneliti menggunakan indikator yang disebut Target Hazard Quotient (THQ) untuk memperkirakan risiko kesehatan akibat paparan logam berat sepanjang hidup. Nilai THQ di bawah satu umumnya dianggap masih dapat ditoleransi, sedangkan di atas satu menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan. Pada beberapa spesies hiu yang banyak dikonsumsi, nilai THQ bahkan mencapai puluhan kali di atas batas tersebut, sehingga para peneliti tidak lagi merekomendasikan mengkonsumsinya.
Risiko terbesar muncul pada masa kehamilan. Berbeda dengan banyak zat lain yang dapat disaring tubuh, metilmerkuri mampu menembus plasenta. Artinya, ketika seorang ibu hamil mengkonsumsi daging hiu yang mengandung metilmerkuri, zat tersebut tidak hanya masuk ke tubuh sang ibu, tetapi juga mencapai janin yang sedang berkembang.
Hal ini menjadi sangat mengkhawatirkan, karena masa kehamilan merupakan periode penting pembentukan otak dan sistem saraf janin. Paparan metilmerkuri pada fase ini dikaitkan dengan meningkatnya risiko kehamilan yang berakhir tidak baik, termasuk aborsi spontan, gangguan kesuburan pada perempuan usia subur, hingga gangguan perkembangan janin. Dampaknya, tidak selalu langsung terlihat saat bayi lahir, tetapi dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang.
Anak-anak juga, termasuk kelompok paling rentan terhadap paparan logam berat. Dibandingkan orang dewasa, otak dan sistem saraf mereka dalam masa pertumbuhan sehingga lebih sensitif terhadap zat beracun. Selain itu, ukuran tubuh yang lebih kecil membuat paparan logam berat menjadi lebih besar untuk jumlah makanan yang sama.
Akibatnya, merkuri dapat mengganggu perkembangan saraf yang berujung pada penurunan fungsi kognitif, perubahan perilaku, serta terganggunya kemampuan belajar. Penelitian lain yang dikutip dalam artikel juga menunjukkan bahwa paparan logam berat dari produk hiu dan pari dapat meningkatkan risiko bayi lahir cacat, kerusakan otak, keterbelakangan mental, gangguan menelan, kebutaan, hingga ketulian.
Temuan ilmiah menunjukkan bahwa risiko mengkonsumsi daging hiu bukan sekadar teori. Penelitian di Korea menemukan kadar merkuri dalam darah meningkat signifikan setelah mengonsumsi daging hiu.
Di Indonesia seluruh sampel hiu dan pari asap yang diteliti mengandung merkuri, bahkan sebagian melebihi batas aman konsumsi nasional. Mengingat sekitar 31–35 juta orang Indonesia masih mengonsumsi produk hiu, para peneliti menekankan perlunya perhatian khusus terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak
Foto utama: Seorang nelayan mengangkat hiu hasil tangkapannya di sekitar Pulau Semujur, Kepulauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.