<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=yovanda&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/yovanda/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 28 May 2026 13:24:08 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Ketika Tambak Udang Ancam Ekosistem Pesisir Lombok Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/28/kala-tambak-udang-ancam-ekosistem-pesisir-lombok-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/28/kala-tambak-udang-ancam-ekosistem-pesisir-lombok-timur/#respond</comments>
					<pubDate>28 Mei 2026 05:37:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan dan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/27013958/DJI_0891-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128389</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pangan, perikanan dan kelautan, politik dan hukum, dan produk laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Alisah memandangi deretan bangunan tembok tambak udang yang membentang di sepanjang garis pantai desanya di Sepolong, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Di hadapannya, laut yang dulu menjadi ruang hidup kini perlahan berubah. Angin laut berhembus pelan pagi itu. Di sejumlah titik, air laut tampak sedikit keruh kecoklatan, terutama di dekat area saluran pembuangan tambak. Sesekali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/28/kala-tambak-udang-ancam-ekosistem-pesisir-lombok-timur/">Ketika Tambak Udang Ancam Ekosistem Pesisir Lombok Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Alisah memandangi deretan bangunan tembok tambak udang yang membentang di sepanjang garis pantai desanya di Sepolong, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Di hadapannya, laut yang dulu menjadi ruang hidup kini perlahan berubah. Angin laut berhembus pelan pagi itu. Di sejumlah titik, air laut tampak sedikit keruh kecoklatan, terutama di dekat area saluran pembuangan tambak. Sesekali suara mesin aerator dari kolam-kolam budidaya terdengar samar bercampur debur ombak kecil di bibir pantai. “Dulu sepanjang pantai ini terbuka. Kami bebas cari ikan di pinggir,” katanya lirih. “Sekarang hampir semua berubah.” Sudah lebih dari tiga dekade lelaki 70 tahun itu menjadi nelayan tradisional. Dia hidup dari tangkapan ikan kecil di sekitar pesisir, tembang, selar, cumi, hingga kepiting. Namun beberapa tahun terakhir, sejak tambak-tambak udang tumbuh cepat di sepanjang pantai, hasil tangkapannya terus menurun. Sekali melaut, dia kadang hanya membawa pulang ikan senilai Rp50.000-70.000. Padahal sebelumnya, dalam sehari dia bisa mendapatkan lebih dari Rp300.000. Awaludin, nelayan lain keluhkan hal sama. Menurutnya, perubahan paling terasa terjadi setelah tambak udang memenuhi sejumlah kawasan pesisir. Air laut yang dulu jernih kini kerap berubah keruh. Terutama saat tambak membuang limbah atau melakukan pengurasan kolam. “Kalau mereka buang air tambak, laut jadi hitam dan berlumpur,” katanya. Dua nelayan kecil tengah memancing di pesisir Lombok Timur. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Pengawasan lemah Cerita seperti Alisah dan Awaludin juga terjadi di desa-desa di pesisir timur Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak jarang, ekspansi tambak udang yang cukup pesat memincu konflik ekologis dan sosial di tingkat kampung. Di satu sisi, industri&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/28/kala-tambak-udang-ancam-ekosistem-pesisir-lombok-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/28/kala-tambak-udang-ancam-ekosistem-pesisir-lombok-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Dampaknya Jika Kita Memusnahkan Semua Nyamuk?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/28/apa-dampaknya-jika-kita-memusnahkan-semua-nyamuk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/28/apa-dampaknya-jika-kita-memusnahkan-semua-nyamuk/#respond</comments>
					<pubDate>28 Mei 2026 03:58:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003518/Aedes_aegypti_CDC-Gathany-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128403</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hewan paling mematikan di planet ini bukanlah singa, laba-laba, atau ular berbisa. Justru makhluk kecil yang sering kita abaikan nyamuk pengisap darah yang menimbulkan gatal dan menyebarkan penyakit berbahaya adalah pembunuh nomor satu di dunia hewan. Nyamuk membunuh sekitar 760.000 orang setiap tahun, menurut situs riset Our World in Data. Manusia sendiri menempati urutan kedua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/28/apa-dampaknya-jika-kita-memusnahkan-semua-nyamuk/">Apa Dampaknya Jika Kita Memusnahkan Semua Nyamuk?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hewan paling mematikan di planet ini bukanlah singa, laba-laba, atau ular berbisa. Justru makhluk kecil yang sering kita abaikan nyamuk pengisap darah yang menimbulkan gatal dan menyebarkan penyakit berbahaya adalah pembunuh nomor satu di dunia hewan. Nyamuk membunuh sekitar 760.000 orang setiap tahun, menurut situs riset Our World in Data. Manusia sendiri menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian terbanyak di antara sesama. Nyamuk bertanggung jawab atas 17% dari seluruh penyakit menular di dunia, termasuk malaria, demam berdarah, demam kuning, chikungunya, dan Zika. Seiring dengan pemanasan global akibat perubahan iklim, nyamuk kini mulai menjelajah ke wilayah-wilayah baru selama musim panas yang makin panjang. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan munculnya krisis kesehatan di masa depan, terutama di kawasan yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan penyakit-penyakit tersebut. Bagaimana cara umat manusia melawan musuh terbesarnya ini? Apakah ada cara yang aman untuk memusnahkan nyamuk-nyamuk pembunuh ini, dan apa dampaknya bagi lingkungan hidup kita? Untungnya, Tidak Semua Nyamuk Harus Dimusnahkan Kabar baiknya, kita tidak perlu memusnahkan seluruh spesies nyamuk yang ada di bumi. Dari sekitar 3.500 spesies nyamuk yang dikenal ilmu pengetahuan, hanya sekitar 100 spesies yang menggigit manusia. Sebagian besar sisanya tidak berinteraksi dengan manusia sama sekali, atau hanya sekadar gangguan ringan, sementara banyak di antaranya justru memainkan peran penting dalam ekosistem lokal sebagai penyerbuk maupun sumber pakan bagi hewan lain. Nyamuk penyebab penyakit malaria [Anopheles minimus] yang banyak tersebar di Asia. Foto: James Gathany/CDC via Britannica.com Hilary Ranson, seorang ahli biologi vektor di Liverpool School of Tropical Medicine, menyatakan bahwa hanya lima&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/28/apa-dampaknya-jika-kita-memusnahkan-semua-nyamuk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/28/apa-dampaknya-jika-kita-memusnahkan-semua-nyamuk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/cerita-di-bulan-mei-dari-danau-batur-sampai-teluk-weda/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/cerita-di-bulan-mei-dari-danau-batur-sampai-teluk-weda/#respond</comments>
					<pubDate>28 Mei 2026 02:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/03/22064420/A-9-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=128427</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tak terasa, kita sudah mau memasuki pertengahan tahun 2026, bagaimana kabar kamu? Sampai hari ini, berbagai cerita soal lingkungan terus membanjiri lini media sosial. Cerita tentang satwa yang kehilangan habitat, perampasan lahan masyarakat adat, hingga cerita inisiatif baik masyarakat untuk lingkungan. Salah satu cerita datang dari Bali. Danau Batur, danau kebanggaan Provinsi Bali ini kini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/cerita-di-bulan-mei-dari-danau-batur-sampai-teluk-weda/">Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tak terasa, kita sudah mau memasuki pertengahan tahun 2026, bagaimana kabar kamu? Sampai hari ini, berbagai cerita soal lingkungan terus membanjiri lini media sosial. Cerita tentang satwa yang kehilangan habitat, perampasan lahan masyarakat adat, hingga cerita inisiatif baik masyarakat untuk lingkungan. Salah satu cerita datang dari Bali. Danau Batur, danau kebanggaan Provinsi Bali ini kini terancam oleh ikan asing invasif. Di Teluk Weda, laporan terbaru menyebutkan kasus bunuh diri hingga mati mendadak terjadi di kalangan buruh nikel. Sementara itu, cerita dari tambang emas ilegal, ada kasus penyelundupan yang terungkap membawa 190 kg emas di Bandara Halim. Meski ketiganya menjadi berita kurang baik, cerita dari Papua dan Lombok menjadi pilihan pembaca karena memberikan inspirasi. Dari Papua, cerita datang tentang John Wompere yang masih setia jaga pohon gaharu di hutan adatnya. Sedangkan di Lombok, ibu-ibu pesisir memproduksi kerupuk dari cangkang kepiting, yang biasanya itu berakhir menjadi sampah. Penasaran sama cerita lengkapnya? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps bulan ini. 1. Ada ikan pendatang yang mengusir ikan lokal di Danau Batur Danau Batur di Bali sedang menghadapi persoalan serius. Populasi ikan red devil terus meningkat dan membuat nelayan setempat kesulitan mendapatkan hasil tangkapan seperti dulu. Red devil sendiri dikenal cepat berkembang biak dan mudah beradaptasi. Akibatnya, ikan lokal seperti nyalian kini makin jarang ditemukan. Nelayan di Danau Batur bilang hasil tangkapan mereka sekarang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu karena tangkapan didominasi ikan red devil yang nilai jualnya rendah. Sejumlah pihak mendorong penangkapan massal red devil sebagai langkah cepat untuk mengurangi populasinya. Namun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/cerita-di-bulan-mei-dari-danau-batur-sampai-teluk-weda/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/cerita-di-bulan-mei-dari-danau-batur-sampai-teluk-weda/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/#respond</comments>
					<pubDate>28 Mei 2026 00:38:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/28002617/Buah-pohon-semantung-yang-disukai-oleh-siamang.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128415</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, Masyarakat Adat, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ratusan tahun, masyarakat Suku Semende hidup harmonis dengan sejumlah satwa, khusunya siamang (Symphalangus syndactylus), satwa liar penghuni hutan dataran tinggi di Sumatera Selatan. Apa kuncinya? Selain menjaga amanah leluhur untuk tidak saling mengganggu, masyarakat Semende punya sejumlah kearifan untuk berbagi ruang, sekaligus menghindari konflik dengan satwa liar. Ada istilah jalur agung yang mereka pahami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/">Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ratusan tahun, masyarakat Suku Semende hidup harmonis dengan sejumlah satwa, khusunya siamang (Symphalangus syndactylus), satwa liar penghuni hutan dataran tinggi di Sumatera Selatan. Apa kuncinya? Selain menjaga amanah leluhur untuk tidak saling mengganggu, masyarakat Semende punya sejumlah kearifan untuk berbagi ruang, sekaligus menghindari konflik dengan satwa liar. Ada istilah jalur agung yang mereka pahami sebagai jalur atau koridor perlintasan satwa untuk harimau sumatera, rusa, kijang, termasuk siamang. Jalur ini berwujud sebuah kawasan hutan memanjang, yang biasanya mengikuti alur sungai. Di jalur itu, masyarakat Semende tidak akan membuka kebun, atau bahkan mendekati wilayah tersebut. “Kasus serangan harimau biasanya terjadi pada pendatang yang tidak mengerti jalur agung ini, sehingga membuka kebun atau membangun rumah di sana,” kata Mang Zakaria, petani ddi Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Selasa (14/4/2026). Di jalur tersebut, bertahan sejumlah jenis pohon hutan yang menjadi makanan kesukaan satwa, misalnya meranti-merantian (Dipterocarpaceae), ara (Ficus spp.), asam kandis (Garcinia xanthochymus), dan tumbuhan hutan lain. Selanjutnya, untuk mencegah siamang atau jenis kera lain masuk ke kebun, masyarakat Semende mempertahankan pohon semantung, makanan kesukaan siamang serta jenis-jenis kera lain seperti beruk (Macaca nemestrina), serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Buah pohon semantung yang disukai siamang. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Saat kunjungan Mongabay Indonesia ke ataran Datas Pagi, sebuah lanskap sawah dan kebun kopi di Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, pohon semantung ada di setiap batas kebun warga. “Pohon ini memang tidak ditebang, karena jadi makanan kesukaan siamang, jadi mereka juga tidak pernah masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sulitnya Indonesia Lepas dari Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/27/sulitnya-indonesia-lepas-dari-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/27/sulitnya-indonesia-lepas-dari-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>27 Mei 2026 16:40:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230833/Emisi-Industri-di-IWIP-Foto_-Christ-Belseran3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128407</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai organisasi masyarakat sipil masih ragukan komitmen transisi energi Indonesia untuk mencapai  nol emisi bersih (net zero emission/NZE) 2060. Hingga kini,  bauran energi nasional masih terdominasi fosil dengan porsi 85%-86,71%. Batubara menjadi penyumbang terbanyak pembangkit energi nasional, mencapai 60%-65%. Produksi batubara  kian meningkat sejak 2018 mencapai sekitar 368 ton pada 2024. Sedangkan energi terbarukan masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/27/sulitnya-indonesia-lepas-dari-batubara/">Sulitnya Indonesia Lepas dari Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai organisasi masyarakat sipil masih ragukan komitmen transisi energi Indonesia untuk mencapai  nol emisi bersih (net zero emission/NZE) 2060. Hingga kini,  bauran energi nasional masih terdominasi fosil dengan porsi 85%-86,71%. Batubara menjadi penyumbang terbanyak pembangkit energi nasional, mencapai 60%-65%. Produksi batubara  kian meningkat sejak 2018 mencapai sekitar 368 ton pada 2024. Sedangkan energi terbarukan masih di bawah 15% total bauran energi nasional. Jasmine Exa Kamilia, Peneliti Lingkungan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), mengatakan,  transisi energi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak karena kerentanan geopolitik global. Ketegangan di wilayah produsen migas, seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur 20% perdagangan migas dunia, memberikan tekanan harga yang signifikan bagi negara pengimpor seperti Indonesia. &#8220;Tekanan harga dan ketidakpastian geopolitik ini seharusnya mendorong kita beralih, namun respon industri justru kembali ke solusi lama yakni batubara,&#8221; katanya dalam diskusi bertajuk Mendorong Komitmen Indonesia untuk Keluar dari Energi Fosil, April lalu. Saat ini,  terjadi fenomena pergeseran konsumsi dari minyak ke batubara di Indonesia. Masifnya agenda hilirisasi industri jadi pemicunya. Kebutuhan listrik sektor industri yang mencapai 35.000 Megawatt (MW) memicu ekspansi besar-besaran pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive, yang khusus menyuplai kawasan industri dan tetap menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama. Laporan JETP dalam Captive Power Study menunjukkan kapasitas pembangkit captive mencapai sekitar 25.6 GW pada 2024. Lebih dari 75% berbasis batubara, dan berpotensi bertambah sekitar 11 GW hingga 2030. Jasmine bilang, tanpa dekarbonisasi di sektor industri, target NZE hanyalah angan-angan. Terlebih lagi, pasar global seperti Eropa mulai menerapkan standar emisi ketat melalui mekanisme Carbon Border&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/27/sulitnya-indonesia-lepas-dari-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/27/sulitnya-indonesia-lepas-dari-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Berusia 5.000 Tahun, Sudah Ada Sebelum Piramida Giza Dibangun, Kini Sekarat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/27/pohon-berusia-5-000-tahun-sudah-ada-sebelum-piramida-giza-dibangun-kini-sekarat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/27/pohon-berusia-5-000-tahun-sudah-ada-sebelum-piramida-giza-dibangun-kini-sekarat/#respond</comments>
					<pubDate>27 Mei 2026 03:47:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03010921/647d26b0850286fdbc_IMG_5252-crop-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128400</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika orang Mesir kuno baru mulai menumpuk batu demi batu untuk membangun Piramida Giza, sebuah benih kecil jatuh ke tanah di sebuah lembah basah di ujung selatan Amerika Selatan. Benih itu tumbuh. Terus tumbuh. Melewati kejatuhan Romawi, melewati wabah hitam di Eropa, melewati dua perang dunia. Dan hingga hari ini, pohon itu masih berdiri. Sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/27/pohon-berusia-5-000-tahun-sudah-ada-sebelum-piramida-giza-dibangun-kini-sekarat/">Pohon Berusia 5.000 Tahun, Sudah Ada Sebelum Piramida Giza Dibangun, Kini Sekarat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika orang Mesir kuno baru mulai menumpuk batu demi batu untuk membangun Piramida Giza, sebuah benih kecil jatuh ke tanah di sebuah lembah basah di ujung selatan Amerika Selatan. Benih itu tumbuh. Terus tumbuh. Melewati kejatuhan Romawi, melewati wabah hitam di Eropa, melewati dua perang dunia. Dan hingga hari ini, pohon itu masih berdiri. Sekitar 5.400 tahun lalu, benih cemara Patagonia itu tumbuh di sebuah lembah di wilayah yang kini menjadi Chile. Selama ribuan tahun, pohon raksasa ini berkembang hingga setinggi 30 meter, dengan batang berdiameter lebih dari empat meter. Pohon itu kini dikenal sebagai Alerce Milenario, atau Gran Abuelo, sang Kakek Buyut. Dalam bahasa adat Mapudungun milik suku Mapuche, ia disebut Lañilawal. Lokasinya tersembunyi di dalam jurang yang lembab di Taman Nasional Alerce Costero, sekitar 800 kilometer selatan Santiago, Chile. Taman nasional ini sendiri baru ditetapkan secara resmi pada 2012, namun pohon yang ada di dalamnya telah berdiri jauh sebelum konsep taman nasional bahkan pernah terpikirkan oleh manusia. Para ilmuwan memperkirakan Lañilawal adalah pohon tertua yang masih hidup di muka bumi, melampaui usia Methuselah, pohon pinus bristlecone di California yang selama ini memegang rekor dengan usia 4.853 tahun. Jika estimasi itu benar, Lañilawal lebih tua lebih dari 600 tahun dari pohon manapun yang pernah tercatat dalam sejarah ilmu pengetahuan. Namun di tengah potensi rekor itu, ada kabar yang mengkhawatirkan : pohon ini sedang sekarat. Dari Kakek ke Cucu Jonathan Barichivich tumbuh besar di dekat Taman Nasional Alerce Costero, tempat kakeknya yang bekerja sebagai penjaga hutan menemukan pohon ini beberapa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/27/pohon-berusia-5-000-tahun-sudah-ada-sebelum-piramida-giza-dibangun-kini-sekarat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/27/pohon-berusia-5-000-tahun-sudah-ada-sebelum-piramida-giza-dibangun-kini-sekarat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Pangan Lokal yang Menjaga Budaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/27/kisah-pangan-lokal-yang-menjaga-budaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/27/kisah-pangan-lokal-yang-menjaga-budaya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Mei 2026 02:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/24155138/Pelajar-SMPN-WulandoniKabupaten-Lembata-saat-memanen-sorgum.Foto-Nopri-IsmiMongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128361</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Indonesia memiliki keragaman pangan yang cukup besar. Banyak pilihan karbohidrat, protein hingga serat untuk menjadi bahan makanan sehari-hari. Meski begitu, kebijakan masa orde baru membuat masyarakat tergantung pada beras sebagai pangan utama dan pilihan satu-satunya. Di tengah maraknya beras menjadi pilihan tugas, masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/27/kisah-pangan-lokal-yang-menjaga-budaya/">Kisah Pangan Lokal yang Menjaga Budaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Indonesia memiliki keragaman pangan yang cukup besar. Banyak pilihan karbohidrat, protein hingga serat untuk menjadi bahan makanan sehari-hari. Meski begitu, kebijakan masa orde baru membuat masyarakat tergantung pada beras sebagai pangan utama dan pilihan satu-satunya. Di tengah maraknya beras menjadi pilihan tugas, masih banyak masyarakat yang mengandalkan bahan pangan lokal yang identik dengan wilayahnya. Seperti singkong di wilayah Jawa Tengah, sagu di wilayah timur Indonesia, sorgum di wilayah Nusa Tenggara Timur hingga lainnya. Komunitas adat Bonokeling di Banyumas, Jawa Tengah, misalnya yang menjadikan singkong sebagai bagian dari ritual adat dan makanan sehari-hari. Bagi mereka, mengonsumsi pangan lokal bukan berarti mereka tak punya pilihan, tapi justru menjadi cara untuk beradaptasi di musim paceklik dan mewariskan budaya dari leluhur. Satu cerita ini menjadi sebuah gambaran bahwa peran pangan lokal sangat penting sebagai identitas masyarakat itu sendiri. Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakatnya memiliki cara tersendiri dalam menjaga kearifan lokal dengan memanfaatkan sumber pangan yang ada. Mulai dari umbi-umbian, biji-bijian, hingga hasil laut, semuanya tidak hanya dimakan, tapi juga dijaga lewat tradisi, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Nah, berikut ini jenis pangan lokal khas dari berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat masih melestarikannya dan menjadi bagian dari ritual adat mereka. 1. Ubi Banggai Ubi Banggai, sumber pangan juga identitas masyarakat di Pulau Peleng. Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia Di Pulau Peleng, Sulawesi Tenggara, ubi banggai merupakan pangan utama masyarakat setempat yang tumbuh subur di tanah karst. Rasa ubi ini seperti kentang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/27/kisah-pangan-lokal-yang-menjaga-budaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/27/kisah-pangan-lokal-yang-menjaga-budaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Dinosaurus Punah, Dan Mamalia Bertahan Hidup Saat Asteroid Menghantam Bumi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/26/mengapa-dinosaurus-punah-dan-mamalia-bertahan-hidup-saat-asteroid-menghantam-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/26/mengapa-dinosaurus-punah-dan-mamalia-bertahan-hidup-saat-asteroid-menghantam-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>26 Mei 2026 12:29:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/26121418/%D0%9C%D0%B5%D1%82%D0%B5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128381</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar 66 juta tahun silam, sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi dengan kekuatan yang mengubah sejarah kehidupan selamanya. Peristiwa ini memicu malapetaka global: batuan superpanas terlontar ke atmosfer hingga memanaskan udara mencapai 226 derajat Celsius, tsunami setinggi satu mil menyapu daratan, dan kebakaran hutan meluas ke berbagai benua. Lebih jauh lagi, partikel sulfur yang meluncur ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/mengapa-dinosaurus-punah-dan-mamalia-bertahan-hidup-saat-asteroid-menghantam-bumi/">Mengapa Dinosaurus Punah, Dan Mamalia Bertahan Hidup Saat Asteroid Menghantam Bumi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar 66 juta tahun silam, sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi dengan kekuatan yang mengubah sejarah kehidupan selamanya. Peristiwa ini memicu malapetaka global: batuan superpanas terlontar ke atmosfer hingga memanaskan udara mencapai 226 derajat Celsius, tsunami setinggi satu mil menyapu daratan, dan kebakaran hutan meluas ke berbagai benua. Lebih jauh lagi, partikel sulfur yang meluncur ke atmosfer menghalangi sinar matahari selama satu dekade, memicu musim dingin nuklir dan hujan asam yang merusak rantai makanan secara permanen. Sebanyak 75 persen spesies di Bumi punah dalam peristiwa yang kini dikenal sebagai kepunahan Kapur-Paleogen, termasuk dinosaurus non-unggas yang selama jutaan tahun mendominasi daratan. Namun di tengah kehancuran total itu, beberapa garis keturunan mamalia, burung purba, dan kura-kura berhasil selamat. Mereka bukan sekadar beruntung; ada kombinasi faktor biologis, ekologis, dan perilaku yang secara tidak sengaja mempersiapkan mereka untuk dunia yang sama sekali berbeda. Pertanyaannya: mengapa raksasa-raksasa itu tumbang, sementara nenek moyang mamalia justru lolos? Ukuran Tubuh: Keunggulan yang Berubah Jadi Kutukan Dalam paleontologi, ukuran tubuh sering menjadi variabel utama dalam ketahanan terhadap perubahan iklim. Peneliti menekankan bahwa bagi apex predator seperti atau herbivora raksasa seperti Triceratops, ukuran yang sebelumnya merupakan keunggulan evolusioner justru menjadi beban mematikan saat bencana terjadi. Selama puluhan juta tahun, tubuh besar memberi mereka keunggulan dalam berburu, mempertahankan wilayah, dan bersaing memperebutkan sumber daya. Namun dalam hitungan bulan setelah hantaman asteroid, semua keunggulan itu berbalik arah. Hewan-hewan berukuran besar membutuhkan asupan energi luar biasa untuk mempertahankan metabolisme mereka. Seekor T. rex dewasa diperkirakan membutuhkan ratusan kilogram daging setiap minggu. Ketika ekosistem kolaps&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/mengapa-dinosaurus-punah-dan-mamalia-bertahan-hidup-saat-asteroid-menghantam-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/26/mengapa-dinosaurus-punah-dan-mamalia-bertahan-hidup-saat-asteroid-menghantam-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemerintah Sumbar Akui Tambang Emas Ilegal Kian Marak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/26/pemprov-sumbar-akui-tambang-emas-ilegal-kian-marak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/26/pemprov-sumbar-akui-tambang-emas-ilegal-kian-marak/#respond</comments>
					<pubDate>26 Mei 2026 09:32:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15170840/7a5Fg8RuEHEkPx2hNLO6QiVBooRgRIijU7Hmo71W-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128335</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indosia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) akui praktik penambangan emas tanpa izin atau tambang ilegal  makin meluas dan mengkhawatirkan. Bukaan tambang yang kian merebak di sejumlah daerah memicu kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga meningkatnya ancaman bencana ekologis. Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, saat ini sedikitnya 200-300 titik tambang emas ilegal tersebar di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/pemprov-sumbar-akui-tambang-emas-ilegal-kian-marak/">Pemerintah Sumbar Akui Tambang Emas Ilegal Kian Marak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) akui praktik penambangan emas tanpa izin atau tambang ilegal  makin meluas dan mengkhawatirkan. Bukaan tambang yang kian merebak di sejumlah daerah memicu kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga meningkatnya ancaman bencana ekologis. Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, saat ini sedikitnya 200-300 titik tambang emas ilegal tersebar di wilayahnya. Aktivitas itu  mengubah bentang alam dalam skala besar dan memperparah degradasi lingkungan “Kerusakan hutan terlihat semakin meluas, termasuk di sepanjang aliran sungai dan wilayah perbukitan,” kata Helmi Heriyanto, Kepala Dinas ESDM Sumbar, dalam  Focus Group Discussion (FGD) bersama Forkopimda di Padang, Selasa (19/5/26). Menurut dia, ada enam daerah yang menjadi titik utama aktivitas tambang ilegal ini. Yakni,  Solok Selatan, Kabupaten Solok, Dharmasraya, Sijunjung, Pasaman, dan Pasaman Barat. Aktivitas serupa juga mulai terdeteksi di Sawahlunto. Dalam dua pekan terakhir saja, katanya, tercatat dua insiden di lokasi tambang ilegal yang menyebabkan sedikitnya sembilan orang meninggal dunia di Sijunjung.  Sejak 2020-2026, katanya,  terdapat puluhan nyawa melayang akibat aktivitas tambang ilegal ini. Salah satu spot tambang emas tanpa izin di Geopark Silokek, Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar). Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Mukhlis, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar,  meminta seluruh pihak terbuka terkait dugaan keterlibatan oknum maupun pihak yang membekingi aktivitas itu. “Catat siapa pemodalnya, siapa bekingnya, masyarakatnya dari mana. Setelah itu baru kita ambil tindakan tegas,” katanya. Mahyeldi, Gubernur Sumbar, menyatakan, persoalan peti di Sumbar bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi sudah menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga dan keberlanjutan lingkungan. Dia meminta,  aparat penegak hukum dan pemerintah daerah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/pemprov-sumbar-akui-tambang-emas-ilegal-kian-marak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/26/pemprov-sumbar-akui-tambang-emas-ilegal-kian-marak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/26/owa-siamang-dan-kelestarian-hutan-bukit-lumut-balai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/26/owa-siamang-dan-kelestarian-hutan-bukit-lumut-balai/#respond</comments>
					<pubDate>26 Mei 2026 07:29:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/26071905/Salah-satu-anak-owa-siamang-yang-direhabilitasi-di-Pusat-Rehabilitasi-Satwa-Puntikayu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128364</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, kera besar, Masyarakat Adat, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari menyinari sawah bertingkat di Datas Pagi. Masyarakat Suku Semende menyebut wilayah ini sebagai ataran atau lanskap sawah yang berada di ketinggian 1.300 mdpl. Letaknya, di kaki Bukit Lumut Balai, bagian Bukit Barisan di Sumatera Selatan. Secara administratif, Datas Pagi masuk wilayah Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Namun, sebagian besar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/owa-siamang-dan-kelestarian-hutan-bukit-lumut-balai/">Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari menyinari sawah bertingkat di Datas Pagi. Masyarakat Suku Semende menyebut wilayah ini sebagai ataran atau lanskap sawah yang berada di ketinggian 1.300 mdpl. Letaknya, di kaki Bukit Lumut Balai, bagian Bukit Barisan di Sumatera Selatan. Secara administratif, Datas Pagi masuk wilayah Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Namun, sebagian besar orang yang berkebun kopi dan menggarap sawah di sini, berasal dari Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah. “Keluarga tertua yang berkebun di sini sekitar enam generasi,” kata Mang Zakaria (42), petani di  Datas Pagi, kelahiran Desa Segamit, namun menetap di Desa Muara Tenang, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (15/4/2026). Setiap hari, Zakaria beserta istri dan anaknya terbiasa menempuh perjalanan pulang-pergi dari Muara Tenang ke Datas Pagi dengan sepeda motor. Jaraknya sekitar 42 kilometer, dengan medan turun, naik, dan berkelok. Terkadang saat musim hujan, mereka lebih memilih menginap di dangau atau kebun. “Takut longsor.” Lanskap ataran Datas Pagi yang dihiasi padi hijau. Foto drone: Ariadi Damara/Mongabay Indonesia. Mansir (51), warga Desa Tanjung Tiga, menjelaskan masyarakat sudah menggarap sawah di sekitar Datas Pagi turun temurun, sejak ratusan tahun lalu. Setelahnya, baru masuk kopi sekitar abad ke-19, disusul sayuran sejak tahun 2000-an. “Ada puluhan keluarga berkebun di sini. Dulu, wilayah ini terkenal sebagai penghasil sayur. Tapi sekarang berkurang, berganti kebun kopi.” Saat ini, mayoritas keluarga menggarap lahan sawah dan kopi. Pada pertengahan April, seperti biasanya, padi menghijau. Pada fase ini, sawah nampak sepi karena tidak lagi membutuhkan perawatan intensif, hanya menunggu panen sekitar Juni-Juli. Di sela waktu itu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/owa-siamang-dan-kelestarian-hutan-bukit-lumut-balai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/26/owa-siamang-dan-kelestarian-hutan-bukit-lumut-balai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Loksado Bergantung Hidup dari Jaga dan Kelola Hutan Meratus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/26/cerita-masyarakat-loksado-bergantung-hidup-dari-jaga-dan-kelola-hutan-meratus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/26/cerita-masyarakat-loksado-bergantung-hidup-dari-jaga-dan-kelola-hutan-meratus/#respond</comments>
					<pubDate>26 Mei 2026 02:09:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25203414/Perempuan-mengupas-kemiri-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128348</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Amat mencabut parang yang tergantung di pinggangnya. Dengan cekatan dia menebas rumput liar yang tumbuh merambat di sela-sela tanaman di kebunnya di Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan (Kalsel). &#8220;Kami di kampung sini kebanyakan tidak pakai obat tanaman. Jadi rumput cepat rimbun, harus sering dibersihkan supaya tanaman bisa tumbuh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/cerita-masyarakat-loksado-bergantung-hidup-dari-jaga-dan-kelola-hutan-meratus/">Cerita Masyarakat Loksado Bergantung Hidup dari Jaga dan Kelola Hutan Meratus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Amat mencabut parang yang tergantung di pinggangnya. Dengan cekatan dia menebas rumput liar yang tumbuh merambat di sela-sela tanaman di kebunnya di Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan (Kalsel). &#8220;Kami di kampung sini kebanyakan tidak pakai obat tanaman. Jadi rumput cepat rimbun, harus sering dibersihkan supaya tanaman bisa tumbuh baik,&#8221; katanya sambil terus menebas. Pagi itu, Kamis (14/5/26), pria 41 tahun itu mengajak Mongabay berkeliling kebunnya di lereng Pegunungan Meratus. Di area seluas kurang lebih tiga hektar itu, dia tanam berbagai jenis tumbuhan berdampingan dengan pola tumpang sari. Pohon kayu manis mendominasi kawasan itu. “Ada sekitar 1.500 pohon (kayu manis).” Tanaman ini sejak lama menjadi salah satu tumpuan hidup warga Loksado. Dulu, pohon dengan nama latin Cinnamomum ini tumbuh liar di dalam hutan. Sejak sadar nilai jualnya, warga mulai budidayakan di kebun masing-masing, hingga hampir semua orang di kampung menanamnya. Masyarakat Adat Meratus, termasuk di Loksado menerapkan pola berladang gilir-balik. Mereka buka lahan biasa untuk tanami padi lebih dulu. Setelah beberapa kali panen, lahan jadi kebun berbagai tanaman, salah satunya kayu manis. Dia bilang, kayu manis bagus untuk menjaga kualitas tanah dan membuat lahan tak mudah erosi. Ia juga berdampingan dengan tanaman lain hingga tidak monokultur. Untuk memanen, warga menebang pohon yang sudah cukup umur–sekitar tujuh tahun–mengupas batang, mengerik kulit, dan lalu menjemurnya. Bila cuaca cukup terik, maka kulit kayu siap jual dalam satu hari. &#8220;Kalau satu pohon dipanen, kami biasanya langsung menanam bibit baru supaya lahannya tidak gundul.&#8221; Harga jual Rp50.000 per kg.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/26/cerita-masyarakat-loksado-bergantung-hidup-dari-jaga-dan-kelola-hutan-meratus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/26/cerita-masyarakat-loksado-bergantung-hidup-dari-jaga-dan-kelola-hutan-meratus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Agraria dengan Grup Sinar Mas, Lebih 800 Warga Bukit Bakar Terisolasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 08:17:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza DianaTeguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25075509/Sinar-Mas-Jambi-Elviza-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128313</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Konflik Agraria Tak Berujung]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Turani berdiri di tepi galian tanah berusaha menghentikan eksavator. Berulang kali dia mendekat, tetapi selalu dihadang. Dia protes karena tanahnya kena garuk perusahaan hutan tanaman industri, PT Wirakarya Sakti (WKS). Meski begitu, suara penjual gorengan ini seakan terbentur tembok batu. Pada 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &#38; Paper (APP), Sinarmas Grup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/">Konflik Agraria dengan Grup Sinar Mas, Lebih 800 Warga Bukit Bakar Terisolasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Turani berdiri di tepi galian tanah berusaha menghentikan eksavator. Berulang kali dia mendekat, tetapi selalu dihadang. Dia protes karena tanahnya kena garuk perusahaan hutan tanaman industri, PT Wirakarya Sakti (WKS). Meski begitu, suara penjual gorengan ini seakan terbentur tembok batu. Pada 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &amp; Paper (APP), Sinarmas Grup ini, sengaja memutus jalan warga di Desa Bukit Bakar, Kecamatan Renah Mendaluh, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Selama dua hari, sembilan titik jalan terputus. Sejak saat itu, lebih dari 830 warga di RT07 dan RT09 praktis terisolasi. Aktivitas ekonomi lumpuh. Hasil panen tak bisa keluar. Kebutuhan pokok sulit masuk. Setidaknya 66 anak kehilangan akses ke sekolah. Kini, untuk mencapai jalan nasional Simpang Niam–Merlung, warga harus memutar sejauh 20-25 kilometer. Dulu, jarak itu hanya lima kilometer. “Kalau SMP dan SMA itu yang susah, soalnya harus keluar desa. Kalau musim hujan tidak bisa lewat. Jalan buruk,” kata Jumirah, lirih. Perubahan itu bukan sekadar angka, tetapi beban yang harus masyarakat tanggung setiap hari mulai biaya, waktu, dan keselamatan. Jumirah khawatir, peristiwa pilu pada 2008 kembali terulang. Dia ingat saat itu seorang perempuan hamil harus dipanggul menggunakan sarung, melewati jalan tanah berlumpur menuju fasilitas kesehatan. Naas, si ibu meninggal dunia sebelum sampai tujuan. “Ibu dan anaknya meninggal,” kenangnya pelan. Kini,  bayangan tragedi itu kembali menghantui Jumirah dan perempuan lain di Desa Bukit Bakar. Terlebih saat ini di desa, ada 7-8 perempuan sedang hamil tua. Yang lebih membuat warga kecewa dan marah, pemutusan jalan itu terjadi di tengah proses dialog yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Kebun Sekolah sebagai Ruang Belajar Siswa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 07:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/24160252/Wajah-ceria-siswi-SMPN4-Wulandoni-usai-panen-sorgum-d-i-kebun-sekolah-di-Desa-Tapobali.Foto-Nopri-IsmiMongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128315</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Secara rutin, para siswa dan guru SD Inpres Nunumeu di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur merawat dan mengelola kebun sekolahnya.  Mereka membersihkan, menyiapkan bedengan dan menanam bibit sayuran dan pangan lokal. Tak hanya untuk ketahanan pangan di sekolah, kegiatan ini sebagai upaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/">Dorong Kebun Sekolah sebagai Ruang Belajar Siswa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Secara rutin, para siswa dan guru SD Inpres Nunumeu di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur merawat dan mengelola kebun sekolahnya.  Mereka membersihkan, menyiapkan bedengan dan menanam bibit sayuran dan pangan lokal. Tak hanya untuk ketahanan pangan di sekolah, kegiatan ini sebagai upaya membentuk pendidikan karakter siswa. SD Inpres Nunumeu membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman sekolah. Sejak Januari 2024, sekolah dasar ini memanfaatkan lahan seluas 1.410 m² menjadi kebun sains atau yang mereka sebut Living Lab, tempat siswa dari kelas 1-6 belajar langsung tentang tanaman pangan lokal, mulai dari singkong, kangkung, hingga pepaya dan jagung. “Melihat kondisi di TTS yang dimana banyak anak stunting, ekonomi keluarga yang tidak mencukupi untuk memberikan makanan bergizi, kami pihak sekolah berupaya dengan berdarah-darah untuk mengelola tanah TTS yang kurang subur ini,” jelas Yakoba Saekoko, Kepala SD Inpres Nunumeu dalam diskusi Membangun Kebun Sekolah, pada April Lalu. Wajah ceria siswi SMP N 4 Wulandoni usai panen sorgum di kebun sekolah di Desa Tapobali. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia Kerja keras antara guru dan siswa pun membuahkan hasil. Berkat kebun sains, kebutuhan gizi siswa pun terpenuhi. Saat panen raya, biasanya mereka memasak dan makan bersama untuk seluruh warga sekolah. Tak hanya tanaman pangan lokal, mereka juga menanam beragam sayur mayur, seperti sawi, pakcoy, pare dan kacang panjang. “Program ini saya harapkan akan terus berkelanjutan meskipun saat masa kepemimpinan saya selesai,” tambah Yakoba. Selain pemenuhan gizi, upaya ini juga  meningkatnya kepedulian dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 06:00:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25042553/Lebah-madu_publicdomainpictures-bee-18192_1920-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128318</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tersengat lebah madu saat bermain di taman, respons kita umumnya kaget. Tapi, tetap sisakan rasa terima kasih karena sengatannya telah lama dimanfaatkan sebagai terapi pengobatan tradisional sakit sendi. Khasiat sengatan lebah, kini menarik perhatian dunia medis moderen. Kemajuan penelitian ilmiah berhasil mengungkap potensi yang jauh lebih besar dari sekadar pengobatan konvensional, yaitu kemampuannya melawan penyakit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/">Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tersengat lebah madu saat bermain di taman, respons kita umumnya kaget. Tapi, tetap sisakan rasa terima kasih karena sengatannya telah lama dimanfaatkan sebagai terapi pengobatan tradisional sakit sendi. Khasiat sengatan lebah, kini menarik perhatian dunia medis moderen. Kemajuan penelitian ilmiah berhasil mengungkap potensi yang jauh lebih besar dari sekadar pengobatan konvensional, yaitu kemampuannya melawan penyakit mematikan bagi perempuan di seluruh dunia. Sengatan lebah madu kini jadi kabar baik bagi jutaan penderita kanker payudara. Hasil riset dari peneliti Australia tahun 2020 lalu, membuka harapan baru pengembangan terapi kanker berbasis bahan alami. Dalam waktu sekitar 60 menit, racun lebah madu dapat menghancurkan sel kanker payudara agresif hingga 100 persen, dan nyaris tidak berpengaruh terhadap sel sehat. &#8220;Kami menemukan bahwa melittin dapat sepenuhnya menghancurkan membran sel kanker dalam waktu 60 menit,&#8221; jelas Ciara Duffy, dari Harry Perkins Institute of Medical Research dan The University of Western Australia. Hasil penelitian ini dimuat di Nature Precision Oncology, berjudul “Honeybee venom and melittin suppress growth factor receptor activation in HER2-enriched and triple-negative breast cancer.” Pernyataan yang dikutip dari laman universitas itu juga menyebutkan, melittin dalam racun lebah madu memiliki efek luar biasa lainnya. Dalam waktu 20 menit, melittin mampu secara substansial mengurangi produksi pesan kimia sel kanker yang penting untuk pertumbuhan sel kanker dan pembelahan sel. &#8220;Kami melihat bagaimana racun lebah madu dan melittin memengaruhi jalur pensinyalan kanker, pesan kimia yang mendasar untuk pertumbuhan dan reproduksi sel kanker, dan kami menemukan bahwa dengan sangat cepat jalur pensinyalan ini ditutup.” Ini berarti racun lebah madu dan melittin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dara-laut Sayap Hitam, Burung yang Bisa Terbang Hingga 5 Tahun di Tanpa Mendarat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 04:35:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25043442/1280px-Lord_Howe_Island_-_Sooty_Tern_juvenile-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128317</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian besar burung membutuhkan daratan untuk beristirahat, tidur, dan mencari makan. Dara-laut Sayap Hitam tidak. Burung laut ini menghabiskan hampir seluruh masa mudanya di udara, terbang di atas lautan terbuka selama bertahun-tahun tanpa pernah hinggap di darat maupun di permukaan air. Tidak ada tempat singgah, tidak ada pohon, tidak ada batu karang. Kemampuan ini menjadikannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/">Dara-laut Sayap Hitam, Burung yang Bisa Terbang Hingga 5 Tahun di Tanpa Mendarat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian besar burung membutuhkan daratan untuk beristirahat, tidur, dan mencari makan. Dara-laut Sayap Hitam tidak. Burung laut ini menghabiskan hampir seluruh masa mudanya di udara, terbang di atas lautan terbuka selama bertahun-tahun tanpa pernah hinggap di darat maupun di permukaan air. Tidak ada tempat singgah, tidak ada pohon, tidak ada batu karang. Kemampuan ini menjadikannya subjek penelitian yang menarik bagi para ilmuwan yang mempelajari batas-batas fisiologi hewan, khususnya terkait ketahanan energi dan pola tidur saat terbang. Dara-laut Sayap Hitam (Onychoprion fuscatus) atau Sooty Tern adalah burung laut berukuran sedang dari famili Laridae yang tersebar di perairan tropis dan subtropis seluruh dunia. Panjang tubuhnya berkisar 33 hingga 36 sentimeter dengan rentang sayap 82 hingga 94 sentimeter dan berat sekitar 150 hingga 240 gram. Burung ini dikenal karena kemampuannya mengudara dalam waktu yang sangat lama tanpa pernah mendarat, dan diyakini sebagai satwa dengan waktu terbang terpanjang di antara semua spesies burung yang diketahui saat ini. Masa Muda di Laut Lepas Setelah meninggalkan koloni sarang untuk pertama kalinya, burung muda Dara-laut Sayap Hitam tidak kembali ke daratan selama bertahun-tahun. Menurut penelitian Cornell Lab of Ornithology, individu muda menghabiskan 2 hingga 5 tahun di laut lepas dan diyakini tetap mengudara selama periode tersebut tanpa menyentuh daratan sama sekali. Ini berbeda dari kebanyakan burung migran yang tetap membutuhkan daratan untuk beristirahat secara berkala. Dara-laut Sayap Hitam (Onychoprion fuscatus serrata) sedang terbang di atas Michaelmas Cay, Great Barrier Reef, Queensland, Australia. Foto: Charles J. Sharp/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0 Salah satu alasan utama mereka tidak bisa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Anak Muda Lombok Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 02:33:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fathul Rahman]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/01052846/Foto-A-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127197</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di atas tanah perbukitan di Lombok Utara yang basah setelah hujan, sejumlah pemuda menelusuri lahan-lahan yang baru ditanami padi dan jagung, akhir Januari. Salah seorang adalah Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram yang tengah berdebat dengan rekannya, Baiq Chelsea. Mereka berdebat tentang nama tanaman di depannya itu dalam bahasa Indonesia karena hanya mengingat dalam bahasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/">Ketika Anak Muda Lombok Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di atas tanah perbukitan di Lombok Utara yang basah setelah hujan, sejumlah pemuda menelusuri lahan-lahan yang baru ditanami padi dan jagung, akhir Januari. Salah seorang adalah Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram yang tengah berdebat dengan rekannya, Baiq Chelsea. Mereka berdebat tentang nama tanaman di depannya itu dalam bahasa Indonesia karena hanya mengingat dalam bahasa lokal (Sasak). Itu pun samar.  Mereka mencoba mengambil foto daun tanaman itu, lalu memasukkan ke dalam mesin pencari Google. Beberapa pilihan muncul, tapi tetap saja mereka ragu. Kebingungan serupa juga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian Bayan alami. Beberapa tanaman mereka kenal karena masih dijumpai di pasar seperti lomak (talas), singkong, lebui, komak atau kacang kara (Lablab purpureus). Nelda Hannia, dari Dewan Kebudayaan  Lombok Utara, penanggung jawab kegiatan mengeluarkan semangkuk biji-bijian. Dia meminta para peserta yang ikut dalam kegiatan bertajuk “Lacak Jejak Pangan Lokal” itu menebak nama biji-bijian itu. Hasilnya, tak ada yang bisa. Dia lantas menyebut nama beleleng, yang tak lain adalah nama lokal sorgum. Menurutn dia, ada enam jenis sorgum yang hingga kini masih ditanam warga adat di Lombok Utara, terutama di kebun dan tanah pecatu. Hari itu, Randika dan Chelsea memang datang wilayah adat Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat untuk mendata jenis tanaman pangan di tanah pecatu/tanah adat. Indriyatno (baju putih), dosen Kehutanan Universitas Mataram menjelaskan potensi pangan lokal Lombok pada tamu dari asesor UNESCO, dia mejanya disajikan langsung contoh pangan lokal itu.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia. Di lahan  pecatu, tanah titipan adat yang dikelola untuk kepentingan ritual,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Babi Kembali Lukai Harimau di Pasaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/#respond</comments>
					<pubDate>24 Mei 2026 23:14:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24090150/HS-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128289</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, dunia kucing, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jerat babi hutan makan korban harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) lagi. Di Jorong Lima Sempadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, harimau betina berumur 11 bulan ditemukan terkena jerat pada Kamis (21/5/26).  Kini, harimau dalam  perawatan di Tempat Transit Satwa (TTS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar. Edi Susilo Kepala Resort BKSDA [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/">Jerat Babi Kembali Lukai Harimau di Pasaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jerat babi hutan makan korban harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) lagi. Di Jorong Lima Sempadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, harimau betina berumur 11 bulan ditemukan terkena jerat pada Kamis (21/5/26).  Kini, harimau dalam  perawatan di Tempat Transit Satwa (TTS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar. Edi Susilo Kepala Resort BKSDA Pasaman, mengatakan,  informasi harimau terjerat  berawal dari laporan masyarakat yang menemukan si kucing besar dalam keadaan terjerat di  perkebunan karetnya Ia terkena jerat babi hutan yang sengaja warga pasang di area perkebunan. Saat BKSDA temukan, harimau terlilit kawat jerat dengan kondisi masih hidup. Terdapat lima lilitan jerat yang mengenai anggota tubuh satwa malang itu. “Kami mendapat laporan pagi, kemudian sekitar pukul 13.30 WIB tim sampai di lokasi dan melihat harimau terjerat oleh jerat babi (jerat ratus),” katanya. Dia bilang, jerat babi ini melilit leher, badan bagian depan dan kaki kanan di bawah ketiak, totalnya ada sekitar lima lilitan. “Kondisinya  sempat melawan, kemudian ada mengerang maju mundur, kami lakukan pembiusan. Kemudian dilakukan evakuasi dengan memotong kawat-kawat yang menjerat tubuhnya.” Masyarakat, katanya, memang masih banyak memasang jerat babi atau ratus untuk melindungi tanaman mereka dari babi. Sementara, hewan belang ini belajar berburu, mengejar babi. “Babinya kecil bisa lolos, sedangkan ia sendiri (harimau) karena berukuran besar jadi tersangkut dan terjerat.” Usai evakuasi, BKSDA mengingatkan masyarakat agar lebih waspada karena mereka perkirakan ada harimau lain yang masih berkeliaran. Edi bilang, ada tiga harimau   masih berkeliaran, dengan satu induk dan dua anakan yang masih dalam proses belajar berburu. “Untuk itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Welang dan Konsep Kota Berkelanjutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Mei 2026 10:39:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24102649/ular-Welang-dok-wildan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128293</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, jawa, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang Anda lakukan bila bertemu ular welang? Pengalaman ini dirasakan Muhammad Bilal Yogaswara (28), citizen scientist yang tergabung dalam Jakarta Birdwatcher Society. Bilal berhasil mendokumentasikan jenis ini di kawasan hutan Universitas Indonesia (UI) saat kegiatan Jakarta Naturalist Week. Awalnya, dia tidak menyadari keberadaan Bungarus fasciatus itu, ketika melintas di depannya. Perhatiannya yang semula tertuju [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/">Ular Welang dan Konsep Kota Berkelanjutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang Anda lakukan bila bertemu ular welang? Pengalaman ini dirasakan Muhammad Bilal Yogaswara (28), citizen scientist yang tergabung dalam Jakarta Birdwatcher Society. Bilal berhasil mendokumentasikan jenis ini di kawasan hutan Universitas Indonesia (UI) saat kegiatan Jakarta Naturalist Week. Awalnya, dia tidak menyadari keberadaan Bungarus fasciatus itu, ketika melintas di depannya. Perhatiannya yang semula tertuju ke ular tersebut, berpaling ke pawang yang coba mengamankan reptil yang panjangnya bisa lebih dua meter ini. “Ini ular berbisa tinggi kedua yang saya foto,” jelasnya, Selasa (19/5/2026). Ular welang yang dikenal memiliki bisa tinggi. Foto: Dok. Muhammad Bilal Yogaswara. Bilal memilih mendokumentasikan dari jarak aman. Baginya, pengalaman tersebut bukan sekadar berburu dokumentasi, tetapi juga kesempatan belajar mengenai perilaku ular berstatus Risiko Rendah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). “Sebagai bentuk pertahanan diri, welang menyembunyikan kepalanya di sela daun.” Welang dikenal sebagai ular berbisa dari Famili Elapidae yang tersebar di Asia Selatan hingga Asia Tenggara. Umumnya hidup di kawasan rawa, hutan sekunder, semak belukar, hingga area dekat air. Keberadaannya di kawasan urban jadi temuan menarik, terutama di tengah tingginya tekanan pembangunan perkotaan. Hutan UI masih jadi habitat beragam jenis reptil. Dalam laporan SDGs UI 2022, beberapa jenis ular yang tercatat ditemukan di kawasan tersebut antaranya Naja sputatrix, Ahaetulla prasina, Dendrelaphis pictus, Python reticulatus, Xenopeltis unicolor, Pareas carinatus, dan Ptyas korros. Survei Visual Encounter Survey (VES) 2018 menunjukkan indeks keanekaragaman ular di hutan UI lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Ular welang saat diamankan pawang ular. Foto: Dok. Muhammad Wildan Al Gifari. Ruang terbuka hijau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>100 Tahun Sajogyo, Mengenang Pembela Kelompok Lemah di Pedesaan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Mei 2026 01:30:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24005003/Sajogjo-Ins-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128258</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#8220;Bapak Sosiologi Pedesaan.&#8221; Begitu orang menyebut sosok Kusumo Kampto Utomo yang populer dengan panggilan Sajogyo atas jasa-jasanya membela kelompok-kelompok rentan dan lemah di pedesaan.  Sajogyo juga  &#8220;Bapak Agraria.&#8221; Menurut  Ivanovic Agusta, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, mengatakan, Sajogyo punya banyak  warisan studi agraria yang  terpakai hingga saat ini. Agusta yang jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/">100 Tahun Sajogyo, Mengenang Pembela Kelompok Lemah di Pedesaan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&#8220;Bapak Sosiologi Pedesaan.&#8221; Begitu orang menyebut sosok Kusumo Kampto Utomo yang populer dengan panggilan Sajogyo atas jasa-jasanya membela kelompok-kelompok rentan dan lemah di pedesaan.  Sajogyo juga  &#8220;Bapak Agraria.&#8221; Menurut  Ivanovic Agusta, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, mengatakan, Sajogyo punya banyak  warisan studi agraria yang  terpakai hingga saat ini. Agusta yang jadi pembicara dalam seminar 100 Tahun Perayaan Sajogyo di Universitas Soegijapranata, Semarang akhir April ungkap sedikit riwayat sosok kelahiran Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), 21 Mei 1926 itu. Setelah lulus dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Kediri dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Purwokerto, Sejogyo lantas sekolah SMA di Yogyakarta. Usai tamat, dia  melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (UI) di Bogor  1949 dan meraih gelar insinyur pada 1955. Setelah itu, Sajogyo menjadi asisten lapangan dan banyak terlibat penelitian bersama Karl J Pelzer, pengajarnya asal Belanda. Museum IPB University menyebut, Sajogyo terlibat dalam penelitian yang berkaitan dengan koperasi dan permasalahan kelas sosial di wilayah pedesaan. Salah satunya Desa Teruka, Dataran Tinggi Cibodas, Jawa Barat (Jabar) atau penelitiannya tentang kondisi para transmigran asal Jawa yang membuka hutan di Lampung. Sajogyo pernah menjadi Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1964-1965. Hanya satu tahun karena terjadi huru-hara peristiwa 1965. Dia juga memimpin Survey Agro Ekonomi (SAE) pada 1965-1972 yang melibatkan 15 kampus. Sajogyo meninggal pada 17 Maret 2012 di Bogor. Harun, Petani Pakel, Banyuwangi menyampaikan aspirasinya di depan Museum Markas Besar Polri, Jakarta, Jum’at (21/01/2022). Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Kritik revolusi hijau Agusta katakan, pada era pembangunan sekitar  1963-1972,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Katak Goliath, Katak Sebesar Kucing yang Mampu Pindahkan Batu Besar, Kini Hampir Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/#respond</comments>
					<pubDate>23 Mei 2026 22:48:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/05/22035140/Goliath-frogs-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128268</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara ribuan spesies katak yang tersebar di seluruh penjuru bumi, ada satu yang benar-benar berbeda dari yang lain. Bukan karena warnanya yang mencolok, bukan karena racunnya yang mematikan, melainkan karena ukurannya yang sulit dipercaya. Katak Goliath, seekor katak yang bobotnya setara kucing dewasa, tinggal di sudut kecil Afrika Barat, dan baru-baru ini terungkap memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/">Katak Goliath, Katak Sebesar Kucing yang Mampu Pindahkan Batu Besar, Kini Hampir Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara ribuan spesies katak yang tersebar di seluruh penjuru bumi, ada satu yang benar-benar berbeda dari yang lain. Bukan karena warnanya yang mencolok, bukan karena racunnya yang mematikan, melainkan karena ukurannya yang sulit dipercaya. Katak Goliath, seekor katak yang bobotnya setara kucing dewasa, tinggal di sudut kecil Afrika Barat, dan baru-baru ini terungkap memiliki perilaku yang mengejutkan para ilmuwan. Katak Goliath memiliki ukuran tubuh yang luar biasa. Panjangnya hingga 33 cm (tidak termasuk kaki) dengan berat mencapai 3,5 kg, menjadikannya spesies katak terbesar di dunia hingga hari ini. Katak bernama ilmiah Conraua goliath ini umurnya bisa mencapai 15 tahun di alam liar, dan lebih dari 21 tahun di penangkaran. Predator alaminya adalah ular, buaya nil, dan tentu saja manusia. Hidupnya di sungai-sungai berbatu, lembab, dan bersuhu relatif tinggi di kawasan Afrika Barat, terutama Kamerun dan Guinea Ekuatorial. Inilah penampakan katak Goliath sebagai spesies terbesar di dunia. Foto: Marvin Schäfer et al., 2019 Seperti katak pada umumnya, ia bersifat karnivora, memangsa kalajengking, serangga, dan katak kecil. Katak ini dikenal memiliki pendengaran yang tajam, namun tak punya kantung vokal sehingga tidak bisa mengorek, hanya sanggup bersiul. Meski tubuhnya raksasa, katak Goliath adalah makhluk yang pemalu dan sangat menghindari manusia. Ia akan langsung melompat ke sungai saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ketika Katak Jadi Arsitek dan Penjaga Penelitian yang diterbitkan di Journal of Natural History mengungkap bahwa katak Goliath membangun tiga jenis sarang yang berbeda: ada yang sekadar membersihkan kolam alami dari daun-daun kering dan ranting, ada yang menggali kerikil dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>