Saat melihat sarang lebah madu, satu pola hampir selalu mencuri perhatian: deretan ruang kecil berbentuk segi enam atau heksagon. Sel-sel tersebut tersusun rapat, saling menopang, dan membentuk bangunan yang kuat. Kerapian itu membuat lebah dijuluki arsitek alam. Namun, apakah lebah benar-benar merancang bentuk heksagon menggunakan perhitungan matematika?
Charles Darwin pernah menjelaskan bahwa bentuk sarang merupakan hasil seleksi alam. Koloni yang mampu membangun sarang kuat dengan lebih sedikit tenaga, sedikit limbah madu, dan penggunaan lilin paling hemat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bentuk heksagonal memungkinkan banyak sel disusun tanpa menyisakan ruang kosong di antaranya.
Namun, sejumlah ilmuwan menawarkan penjelasan lain. Menurut penelitian BL Karihaloo, K. Zhang, dan J. Wang, lebah kemungkinan tidak langsung membangun sel berbentuk segi enam. Sel tersebut awalnya berbentuk silinder, lalu berubah menjadi heksagonal akibat sifat fisik lilin.
Lebah pekerja menghasilkan panas yang membuat lilin meleleh pada suhu sekitar 45 derajat Celsius. Ketika lilin di persimpangan tiga sel melunak dan mengalir, dinding-dinding sel yang semula melingkar saling menekan dan membentuk sudut tajam. Proses serupa dapat dilihat pada kumpulan sedotan plastik yang dipanaskan hingga mendekati titik leleh. Bidang pertemuan antarlingkaran perlahan berubah menyerupai heksagon.
Perubahan tersebut berlangsung cepat. Perhitungan menunjukkan bahwa bentuk lingkaran dapat berubah menjadi heksagonal dalam enam detik jika seluruh lilin dihangatkan, atau sekitar 36 detik jika hanya sebagian yang menerima panas.
Meski begitu, fisika bukan satu-satunya penjelasan. Penelitian lain menunjukkan bahwa lebah mampu menyesuaikan rancangan sarangnya ketika menghadapi konstruksi yang tidak sempurna. Mereka dapat mengubah kemiringan, ukuran, dan jumlah dinding agar sel-sel baru tetap tersambung.
Lebah juga harus membangun sel dengan ukuran berbeda. Sel untuk pejantan berukuran lebih besar, sedangkan sel lebah pekerja lebih kecil. Ketika keduanya bertemu, bentuk heksagonal yang seragam tidak selalu dapat digunakan. Lebah kemudian membuat sel berbentuk pentagonal, heptagonal, oktagonal, bahkan bentuk lain untuk menutup celah dan mempertahankan struktur sarang.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sarang lebah kemungkinan terbentuk melalui perpaduan sifat fisik lilin dan kemampuan lebah menyesuaikan konstruksi. Jadi, pola heksagonal bukanlah mitos, tetapi proses pembentukannya jauh lebih rumit daripada anggapan bahwa lebah hanya bekerja seperti mesin yang mengikuti naluri.
Di balik bentuknya yang indah, sarang lebah memperlihatkan bagaimana hukum fisika, seleksi alam, dan perilaku serangga dapat bekerja bersama menghasilkan salah satu struktur paling efisien di alam.
Artikel asli ditulis oleh Nuswantoro.
Foto: Lebah madu di peternakan Bandung Bee Sanctuary (BBS) di Dago Atas, Kota Bandung, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia.