<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=yogi-sahputra-karimun&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/yogi-sahputra-karimun/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2026 10:00:40 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Tentang Adolof Wonemseba: Seorang Diri Merawat Kima Raksasa Wondama Selama 17 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/05055207/Adolof-Olof_pelestari-kima-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131177</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[konservasi laut dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan. Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/">Tentang Adolof Wonemseba: Seorang Diri Merawat Kima Raksasa Wondama Selama 17 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan. Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring alami yang membantu menjaga kejernihan air. Keberadaannya juga mendukung pertumbuhan karang dan menarik ikan untuk datang. Namun, perkembangbiakannya lambat, sementara populasinya terus berkurang akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Sebagai orang asli Pulau Roon yang hidup dari laut, Adolof menyaksikan langsung kima semakin sulit ditemukan. Banyak yang diambil untuk dikonsumsi. Khawatir anak cucunya kelak tidak lagi mengenal hewan tersebut, ia memulai upaya pelestarian pada 2008. Adolof mendatangkan beberapa kima dari Pulau Auri, lalu menempatkannya di perairan Rouwno. Ia membangun area perlindungan yang disebutnya “kebun kima”, sebuah praktik konservasi mandiri yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai yadup. Awalnya, kebun itu hanya berupa petak berukuran 10 × 20 meter persegi. Setelah 17 tahun (tahun 2024), luasnya diperkirakan telah berkembang menjadi sekitar 100 × 100 meter persegi. Di sana hidup ratusan kima dari tujuh jenis. Dua belas kima raksasa dan delapan kima raja menjadi bagian dari kelompok awal yang dibawa Adolof. Kima yang semula berdiameter sekitar 15–20 sentimeter kini ada yang mencapai 70–80 sentimeter. Jumlah kima raksasa pun telah bertambah menjadi lebih dari 20 individu. Jenis lain berkembang lebih cepat dan menyebar ke celah-celah batu karang sehingga sulit dihitung. Adolof meminta warga tidak menangkap atau memakan kima di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Kelompok Parit Segagah Pulihkan Mangrove Bengkalis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 07:30:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29083214/Jalur-utama-menuju-hamparan-mangrove-Kelapapati.-Selama-14-tahun-kawasan-ini-kembali-hijau-dan-penuh-pohon-pohon-bakau.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131262</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rio Fernandes tak kuasa menahan air mata kala mengenang jerih payahnya bersama sahabat yang telah mendahuluinya, Samsul Bahri, dalam perjuangan memulihkan hutan mangrove Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau. Mereka hanya bermodal semangat dan keberanian, swadaya dan tanpa dukungan biaya selama berjuang satu dekade. Awal mula gerakan bermula karena dia geram menyaksikan penebangan mangrove merajalela. Para pelaku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/">Upaya Kelompok Parit Segagah Pulihkan Mangrove Bengkalis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rio Fernandes tak kuasa menahan air mata kala mengenang jerih payahnya bersama sahabat yang telah mendahuluinya, Samsul Bahri, dalam perjuangan memulihkan hutan mangrove Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau. Mereka hanya bermodal semangat dan keberanian, swadaya dan tanpa dukungan biaya selama berjuang satu dekade. Awal mula gerakan bermula karena dia geram menyaksikan penebangan mangrove merajalela. Para pelaku menganggap hutan pesisir itu tak bertuan. Pohon-pohon di hutan mangrove Kelapapati juga jadi sasaran ketika musim gasing tiba. Mereka tak segan menebas simpul-simpul bakau yang keras, mengolahnya jadi mainan yang bisa berputar itu. Satu hari, Rio dan Bang Sam, sahabatnya, nekat menghalang alat berat yang hendak menggilas mangrove tersisa. “Kami larang. Alasannya lahan itu sudah dijadikan konservasi. Kalau diteruskan (penggundulan) akan berurusan dengan polisi. Tak dipukul dan tak diapa-apakan,” katanya. Keesokan hari, mereka menghadap kepala desa. Keduanya ceritakan kondisi dan peristiwa itu. Tak lama, mereka pun sama-sama turun ke lokasi. Singkat cerita, kepala desa manut dengan ide dan tawaran mereka, sekaligus merestui pembentukan kelompok. Lahirlah Parit Segagah, dalam bahasa Melayu lokal penulisannya Paghet Seghaghah. Mulai 2012, Rio dan Sam, inisiatif menjadikan kawasan mangrove 14 hektar itu  sebagai area pemulihan dan perlindungan. Mereka ajak masyarakat, tanam dan tambal sulam mangrove, menjaga lalu merawatnya. Dari tahun ke tahun, mereka kumpulkan bibit. Saking tak berduit, mereka pakai plastik es untuk polybag. Hasil kerja awal tampak pada sisi kanan dekat gerbang masuk kawasan. Telah tumbuh belukap, salah satu spesies asli yang nyaris tak terlihat lagi di ekosistem mangrove Kelapapati. Dia bilang, mereka temukan bibit itu di wilayah Pambang, desa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ras Kucing dan Anjing Apa yang Paling Panjang Umur?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 05:00:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/08/22000711/pexels-tamhasipkhan-6601811-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131176</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berapa lama kucing atau anjing dapat menemani manusia? Jawabannya ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis kelamin, ukuran tubuh, bentuk moncong, hingga riwayat perkawinan rasnya. Dua penelitian di Inggris memberikan gambaran tentang ras kucing dan anjing yang memiliki harapan hidup paling panjang maupun paling singkat. Studi mengenai kucing menggunakan 7.936 catatan kematian terkonfirmasi dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/">Ras Kucing dan Anjing Apa yang Paling Panjang Umur?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berapa lama kucing atau anjing dapat menemani manusia? Jawabannya ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis kelamin, ukuran tubuh, bentuk moncong, hingga riwayat perkawinan rasnya. Dua penelitian di Inggris memberikan gambaran tentang ras kucing dan anjing yang memiliki harapan hidup paling panjang maupun paling singkat. Studi mengenai kucing menggunakan 7.936 catatan kematian terkonfirmasi dari sekitar 1,25 juta kucing yang berada dalam perawatan dokter hewan di Inggris. Data tersebut dikumpulkan selama 2019–2021. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup kucing peliharaan di Inggris mencapai 11,7 tahun sejak lahir. Kucing Burma menempati posisi tertinggi dengan harapan hidup 14,42 tahun. Sementara itu, kucing sphynx memiliki angka terendah, yaitu 6,68 tahun. Kucing Persia memiliki harapan hidup sekitar 10,93 tahun. Jenis kelamin juga berpengaruh. Kucing betina rata-rata hidup 1,33 tahun lebih lama daripada kucing jantan. Kucing hasil persilangan memiliki umur sekitar 1,5 tahun lebih panjang dibandingkan kucing ras murni. Selain itu, kucing yang telah dikebiri atau diangkat rahimnya rata-rata hidup 1,1 tahun lebih lama. Rendahnya harapan hidup sphynx diduga berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan jantung, tulang, kornea mata, dan kelopak mata yang melipat ke dalam. Namun, angka harapan hidup bukan batas usia mutlak. Dengan perawatan yang baik, sphynx dapat mencapai usia sekitar 14 tahun, sedangkan kucing Burma bahkan bisa hidup hingga sekitar 21 tahun. Penelitian lain menganalisis data 584.734 anjing dari lebih dari 150 ras. Hasilnya, Lancashire Heeler memiliki harapan hidup tertinggi, yakni 15,4 tahun. Sebaliknya, anjing gembala Kaukasia memiliki harapan hidup terendah, sekitar 5,4 tahun. Husky Siberia rata-rata dapat hidup selama 11,9&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>5 Jam “Bersama” Harimau Sumatera, Kisah Ranger Leuser Selamat dari Maut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 01:00:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29130016/Harimau-Sumatera-Yang-menyerang-Rusdianto-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131269</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Hutan Sumatra Kehilangan Rajanya]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Rusdianto, waktu seolah berhenti sore itu. Tubuhnya terbaring di lantai hutan, dipenuhi luka gigitan dan cakaran. Tiga meter di hadapannya, seekor harimau sumatera terus mengawasi gerakannya. &#8220;Saya pasrah. Kalau saya bergerak, ia akan mencakar,&#8221; kenangnya, Sabtu (25/7/26). Hampir lima jam, sejak pukul 15.00 WIB hingga malam 20.00 WIB, ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/">5 Jam “Bersama” Harimau Sumatera, Kisah Ranger Leuser Selamat dari Maut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Rusdianto, waktu seolah berhenti sore itu. Tubuhnya terbaring di lantai hutan, dipenuhi luka gigitan dan cakaran. Tiga meter di hadapannya, seekor harimau sumatera terus mengawasi gerakannya. &#8220;Saya pasrah. Kalau saya bergerak, ia akan mencakar,&#8221; kenangnya, Sabtu (25/7/26). Hampir lima jam, sejak pukul 15.00 WIB hingga malam 20.00 WIB, ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) itu, hidup dalam ketidakpastian. Harimau tidak membunuhnya, tetapi juga tidak membiarkannya pergi. Pengalaman itu terjadi 28 Januari 2023, ketika Rusdianto bersama tiga rekannya, Hari Kafri, Ardiman, dan Asyari, patroli rutin di hutan Sempali, Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Kawasan tersebut bagian Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), rumahnya harimau, gajah, badak, dan orangutan sumatera. Tugas mereka memusnahkan jerat, mendokumentasikan keberadaan satwa liar berupa jejak, bekas cakaran, sisa makanan, kotoran, hingga ancaman perburuan. &#8220;Setelah istirahat siang, kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak pernah memperkirakan malapetaka akan terjadi,&#8221; ungkap lelaki asal Desa Koto, Kluet Tengah, Aceh Selatan itu. Inilah harimau sumatera yang menyerang Rusdianto saat di hutan Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Sepanjang perjalanan tidak ada tanda keberadaan satwa besar. Tidak ada jejak harimau, gajah, maupun beruang. Namun, ketenangan itu berubah dalam hitungan detik. Seekor harimau tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan langsung menerjang tim. Semua berusaha menyelamatkan diri. Ada yang lompat ke sungai, manjat pohon, maupun lari mencari bantuan. &#8220;Saya sempat melawan. Tapi, setelah harimau menerkam kepala, saya pilih menyerah.&#8221; Setelah Rusdianto tidak lagi memberikan perlawanan, harimau betina tersebut menghentikan serangan. Dalam kondisi terluka, Rusdianto tetap sadar, bahkan sempat berpikir jika harimau itu akan memangsanya. &#8220;Kalau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino “Godzilla” Mengintai: Polusi Udara Berpotensi Memburuk, Kesehatan Warga Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 00:01:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002558/ANTISIPASI-MENINGKATNYA-POLUSI-UDARA-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131096</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, pencemaran, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Junaedi dan Yatno, penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur, polusi udara sudah menjadi paparan yang tak bisa mereka hindari. Saat kemarau datang, batuk dan masalah pernapasan menjadi gangguan kesehatan harian. Biasanya mereka hanya mengobatinya dengan obat warung, tanpa adanya pemeriksaan lanjutan.  Analisis data kualitas udara DLH Jakarta 2025 menyebutkan, dari 365 hari, hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/">El Nino “Godzilla” Mengintai: Polusi Udara Berpotensi Memburuk, Kesehatan Warga Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Junaedi dan Yatno, penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur, polusi udara sudah menjadi paparan yang tak bisa mereka hindari. Saat kemarau datang, batuk dan masalah pernapasan menjadi gangguan kesehatan harian. Biasanya mereka hanya mengobatinya dengan obat warung, tanpa adanya pemeriksaan lanjutan.  Analisis data kualitas udara DLH Jakarta 2025 menyebutkan, dari 365 hari, hanya sekitar 6 hari warga Jakarta menghirup udara dengan kualitas baik, sisanya 259 hari kategori sedang dan 93 hari kategori tidak sehat.  Jika dilihat secara keseluruhan di Indonesia, laporan IQAir 2025 menyebutkan Indonesia berada di peringkat 17 dari 134 negara di dunia dengan kualitas udara terburuk dengan poin 31.4 µg/m³.  BRIN memprediksi Indonesia akan mengalami kemarau panjang dengan potensi fenomena El Nino &#8220;Godzilla&#8221;, berlangsung dari April hingga Oktober 2026. Dampaknya, situasi ini bisa memperburuk kualitas udara di Jakarta.  “Kondisi udara yang lebih kering saat kemarau membuat polutan partikulat seperti PM2.5 lebih mudah terakumulasi di atmosfer,” kata Dedi Gardesi Asikin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta saat dihubungi Selasa, (26/05/26)  Adapun peringkat tiga teratas penyumbang polusi udara adalah transportasi darat, industri, dan sisa pembakaran sampah. Sumber tersebut berkontribusi secara signifikan terhadap gangguan kesehatan masyarakat yang menyebabkan ISPA, PPOK, jantung iskemik, dan pneumonia.  Budi Haryanto, peneliti RCCC UI, menyebutkan, polusi udara menjadi ancaman serius, tak hanya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, ibu hamil, dan lasia, namun juga bagi mereka yang pekerjaannya harus berinteraksi dengan sumber polusi.  “Polusi udara tidak punya batas wilayah. Emisi dari industri, pembakaran sampah, atau kendaraan bermotor bisa terbawa angin ke mana saja,” ujarnya. &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyelisik Minyak Sawit dari Tesso Nilo sampai ke Pasar Global</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 23:18:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29022838/Tesso-Nilo-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130997</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Dua truk tangki pengangkut minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) keluar dari pabrik PT Gemilang Sawit Lestari (GSL), 8 Agustus 2025. Setelah perjalanan sekitar 16 jam, dua truk CPO masuk ke PT Sari Dumai Sejati (SDS), di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai. Dalam investigasi yang sudah terbit sebelumnya, Mongabay juga mengikuti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/">Menyelisik Minyak Sawit dari Tesso Nilo sampai ke Pasar Global</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Dua truk tangki pengangkut minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) keluar dari pabrik PT Gemilang Sawit Lestari (GSL), 8 Agustus 2025. Setelah perjalanan sekitar 16 jam, dua truk CPO masuk ke PT Sari Dumai Sejati (SDS), di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai. Dalam investigasi yang sudah terbit sebelumnya, Mongabay juga mengikuti truk-truk pembawa sawit segar keluar dari Taman Nasional Tesso Nilo, lalu masuk ke GSL, satu dari puluhan pabrik sawit yang berada di sekitar taman nasional di Riau ini. GSL, merupakan pemasok CPO ke SDS. Anak usaha dari Apical Group ini merupakan perusahaan pengolah minyak sawit menjadi berbagai produk turunan di Riau. Pada Januari 2025, Suhardiman Amby, Bupati Kuantan Singingi, inspeksi mendadak dan temukan dugaan pabrik itu menampung buah dari  Tesso Nilo. Waktu itu, dia menegaskan akan menempuh jalur hukum dan kalau terbukti pemerintah kabupaten akan cabut izin pabrik itu. Pada medio Oktober, Suhardiman kembali ke pabrik GSL langsung menyegel perusahaan dan menghentikan sementara pengolahan tandan buah segar (TBS) sawit. Lebih kurang satu bulan penyegelan, pabrik GSL kembali beroperasi. Penyegelan, merespon temuan Tim Pengawasan Terpadu Usaha Perkebunan Sawit, atas aktivitas dan operasional pabrik yang tak sesuai izin. Suhardiman memang membentuk tim ini untuk mengaudit kepatuhan perusahaan perkebunan, maupun pabrik sawit di Kuansing. Tim Terpadu menyimpulkan, GSL melakukan dua pelanggaran, pencemaran lingkungan dan kelebihan kapasitas olahan TBS.  Tim tak ada singgung penerimaan buah sawit dari TNTN walau Januari 2025, bupati temukan itu, dan kembali berulang berdasarkan temuan Mongabay 8 Agustus, dua bulan sebelum bupati menyegel pabrik. Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidur 15-20 Jam Sehari, Kungkang Bukan Pemalas tapi Jagonya Hemat Energi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 10:00:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/30125728/Kungkang2.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131174</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bergerak sangat pelan, menyantap daun, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Kebiasaan inilah yang membuat kungkang dikenal sebagai hewan pemalas. Bahkan, nama Inggrisnya, sloth, berarti “kemalasan”. Namun, gaya hidup lamban tersebut bukan karena kungkang enggan beraktivitas, melainkan strategi evolusi untuk bertahan dengan energi yang sangat terbatas. Kungkang merupakan mamalia arboreal yang hidup di pepohonan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/">Tidur 15-20 Jam Sehari, Kungkang Bukan Pemalas tapi Jagonya Hemat Energi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bergerak sangat pelan, menyantap daun, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Kebiasaan inilah yang membuat kungkang dikenal sebagai hewan pemalas. Bahkan, nama Inggrisnya, sloth, berarti “kemalasan”. Namun, gaya hidup lamban tersebut bukan karena kungkang enggan beraktivitas, melainkan strategi evolusi untuk bertahan dengan energi yang sangat terbatas. Kungkang merupakan mamalia arboreal yang hidup di pepohonan hutan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama Brasil, Panama, dan Kosta Rika. Satwa ini berbeda dari kukang, primata nokturnal yang hidup di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meski sama-sama bergerak lambat dan memiliki nama yang mirip, keduanya berasal dari kelompok berbeda. Kungkang termasuk Ordo Pilosa dan berkerabat dengan trenggiling bersisik serta armadillo. Kelompok mamalia ini telah menghuni Bumi sekitar 65,5 juta tahun. Kungkang sendiri mampu tidur selama 15–20 jam sehari. Penelitian terbaru menemukan bahwa rahasia gaya hidupnya mungkin tersimpan di dalam DNA. Genom kungkang berjari dua (Choloepus didactylus) dipenuhi transposon, potongan DNA yang dapat menyalin diri dan berpindah ke bagian lain dalam genom. Para genetikawan menyebutnya “gen loncat”. Transposon juga terdapat pada mamalia lain, termasuk manusia, tetapi sebagian besar sudah tidak aktif. Pada kungkang, gen-gen ini masih bergerak dan membentuk ulang susunan genom. Banyak diantaranya terhubung dengan mitokondria (bagian sel yang menghasilkan energi) serta jalur metabolisme yang mengatur penggunaan dan penyimpanan energi tubuh. Gen-gen loncat tersebut diperkirakan muncul sekitar 30 juta tahun lalu, tak lama setelah kungkang berpisah dari jalur evolusi trenggiling dan armadillo. Sejak itu, transposon menjadi bagian dari identitas genetik kungkang. Para peneliti menduga gen ini berfungsi sebagai semacam sistem cadangan yang membantu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga Torobulu Terusir Gara-gara Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 06:36:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28154734/WhatsApp-Image-2026-07-27-at-15.48.22-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131219</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Malang nian nasib Made. Bersama istri dan tiga anaknya, mereka harus alami tekanan berlipat karena memprotes ambisi pengerukan ore nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Made khawatir, ekspansi tambang hingga hanya berjarak beberapa jengkal dari rumah itu memicu longsor. Apalagi, nyaris semua bagian dinding rumah mengalami retak yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/">Nestapa Warga Torobulu Terusir Gara-gara Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Malang nian nasib Made. Bersama istri dan tiga anaknya, mereka harus alami tekanan berlipat karena memprotes ambisi pengerukan ore nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Made khawatir, ekspansi tambang hingga hanya berjarak beberapa jengkal dari rumah itu memicu longsor. Apalagi, nyaris semua bagian dinding rumah mengalami retak yang kuat dugaan akibat getaran tanah buntut mobilitas dump truck dan alat berat sepanjang hari. Sayangnya, alih-alih menerima pertanggungjawaban, mereka justru terusir dari rumah setelah bangunan tempat tinggalnya terancam alat berat robohkan. Selasa (2/6/26) malam, sepulang dari tambak, dia mendapati dinding rumah bercoret tulisan: “Rumah Disegel Yayasan CAI” terpajang di dinding tembok. CAI adalah kepanjangan dari  Crisis Aid Indonesia, yayasan ini merupakan lembaga sosial dan kemanusiaan yang membantu pendirian rumahnya melalui program bedah rumah. Keesokan harinya, Suardi, mantan Sekretaris Desa Torobulu dan memintanya menemui pihak yayasan. “Kalau mau tinggal di sini silakan berurusan dengan yang segel ini. Kalau tidak, nanti dibongkar rumah ini,” kata Made menirukan perkataan Suardi yang menemuinya  Rabu (3/5/26). Made kelimpungan, tak tahu siapa  yayasan yang harus dia temui. Apalagi, kantornya di Kota Kendari yang berjarak puluhan kilometer dari tempatnya tinggal. Dia sayangkan aksi penyegelan ketika dia tak ada di rumah. “Ini jelas pelanggaran. Masa mau segel rumah tidak na kasih tahu, sementara masih ditinggali,” keluhnya. Pada hari sama Rabu (3/6/26) sore, giliran sejumlah aparat kepolisian tanpa seragam yang mengendarai roda empat dan motor mendatanginya. Mereka membujuknya bersedia merelokasi tempat tinggalnya. “Pilihannya cari mi tempat (lahan) sendiri terserah di mana. Nanti (mereka) mau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ternyata Semut Bisa Mengobati dan Mengamputasi Temannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 05:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/12/22070318/semut-menganyam-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131167</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemampuan mengenali luka, menentukan perawatan, lalu menyelamatkan anggota kelompok selama ini dianggap sebagai keistimewaan manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa semut juga memiliki sistem penyelamatan yang mengejutkan. Mereka dapat membawa pulang anggota koloni yang terluka, merawat lukanya, bahkan melakukan amputasi jika diperlukan. Perilaku ini ditemukan pada beberapa spesies semut. Megaponera analis, misalnya, dikenal sebagai pemburu rayap. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/">Ternyata Semut Bisa Mengobati dan Mengamputasi Temannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemampuan mengenali luka, menentukan perawatan, lalu menyelamatkan anggota kelompok selama ini dianggap sebagai keistimewaan manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa semut juga memiliki sistem penyelamatan yang mengejutkan. Mereka dapat membawa pulang anggota koloni yang terluka, merawat lukanya, bahkan melakukan amputasi jika diperlukan. Perilaku ini ditemukan pada beberapa spesies semut. Megaponera analis, misalnya, dikenal sebagai pemburu rayap. Dalam pertempuran dengan mangsanya, sebagian semut dapat mengalami cedera. Semut yang sehat kemudian mengangkut rekannya kembali ke sarang untuk mendapatkan perawatan. Operasi penyelamatan tersebut terbukti meningkatkan peluang semut yang terluka untuk tetap hidup. Penelitian mengungkap bahwa M. analis memiliki senyawa antimikroba yang dioleskan pada luka untuk menghambat infeksi. Semut merawat dan menjilati bagian yang terluka, terutama dalam tiga jam pertama setelah cedera. Tanpa perawatan ini, sekitar 90 persen semut pekerja yang terluka dapat mati. Artinya, tindakan sederhana yang dilakukan anggota koloni mempunyai pengaruh besar terhadap keselamatan rekannya. Namun, tidak semua spesies semut mempunyai senyawa antimikroba. Lalu, bagaimana mereka menyelamatkan anggota koloninya? Pada Camponotus floridanus, jawabannya adalah amputasi. Dalam eksperimen, peneliti melukai kaki semut pada bagian paha. Semut lain mula-mula menjilati luka, lalu bergerak menuju pangkal kaki dan menggigitnya berulang kali hingga putus. Proses amputasi berlangsung sekitar 190–290 menit setelah cedera dan terbukti meningkatkan peluang semut yang terluka untuk bertahan hidup. Menariknya, amputasi tidak dilakukan pada semua jenis luka. Ketika cedera berada di kaki bagian bawah, semut hanya membersihkan dan merawatnya lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali lokasi luka dan menyesuaikan tindakan. Kaki hanya dipotong apabila amputasi dapat meningkatkan peluang keselamatan. Para peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Negara Lebih Perhatian pada Kapal Industri Dibanding Nelayan Kecil?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/29/negara-lebih-perhatian-pada-kapal-industri-dibanding-nelayan-kecil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/29/negara-lebih-perhatian-pada-kapal-industri-dibanding-nelayan-kecil/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 04:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/09/22033105/nelayan-perbatasan-singapura-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131241</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah Indonesia telah menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk solar sebesar Rp15.000 per liter. Harga tersebut berlaku untuk kapal dengan ukuran minimal 30-200 gros ton (GT). Kebijakan itu diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto, Senin (13/7/26). Insentif yang diberikan senilai Rp3.600 per liter dari harga asli BBM nonsubsidi jenis solar sebesar Rp18.600 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/negara-lebih-perhatian-pada-kapal-industri-dibanding-nelayan-kecil/">Negara Lebih Perhatian pada Kapal Industri Dibanding Nelayan Kecil?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah Indonesia telah menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk solar sebesar Rp15.000 per liter. Harga tersebut berlaku untuk kapal dengan ukuran minimal 30-200 gros ton (GT). Kebijakan itu diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto, Senin (13/7/26). Insentif yang diberikan senilai Rp3.600 per liter dari harga asli BBM nonsubsidi jenis solar sebesar Rp18.600 per liter. Dana insentif tersebut disubsidi melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Pada tahap awal, pemerintah menyiapkan enam bulan ke depan dengan kuota sebanyak 400.000 ton atau 400 juta liter. Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan, saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Kamis (16/7/26), berjanji bahwa penyaluran insentif BBM nonsubsidi akan berjalan tepat sasaran. Untuk itu, pemilik kapal wajib melaporkan rencana pengisian BBM dan mengaktifkan alat sistem pemantauan kapal saat pengisian BBM. Dengan jumlah kapal mencapai 6.712 unit, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan kebutuhan jumlah BBM bisa mencapai sedikitnya 399 juta liter hingga akhir 2026. Jumlah tersebut untuk mengakomodasi kebutuhan di seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Nelayan tradisional dari Pulau Batam, Kepulauan Riau, melaut di perbatasan Indonesia-Singapura. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia. Dani Setiawan, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), menyatakan jumlah tersebut sangat besar, jika dibandingkan subsidi serupa yang diberikan kepada nelayan kecil dan tradisional. Sudah seharusnya, para pemilik kapal bisa dengan bijak memanfaatkan subsidi dengan baik dan tepat. “Para penerima insentif harus jujur dan transparan,” jelasnya, Sabtu (18/7/26). Menurut Dani, ada masalah lain yang lebih penting saat ini, yaitu berkaitan tata kelola. Khususnya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/negara-lebih-perhatian-pada-kapal-industri-dibanding-nelayan-kecil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/29/negara-lebih-perhatian-pada-kapal-industri-dibanding-nelayan-kecil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laut Pesisir Bekasi Tercemar, Nasib Nelayan Kian Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/laut-pesisir-bekasi-tercemar-nasib-nelayan-kian-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/laut-pesisir-bekasi-tercemar-nasib-nelayan-kian-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 00:01:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/21013416/Foto-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131116</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak 2017, Abdul Rahman, nelayan Pantai Harapanjaya, sudah merasakan penurunan hasil tangkapan. Laut yang biasanya menjadi sumber penghidupan, kini telah berubah akibat pencemaran dari aktivitas industri.  Saat ini, aktivitas melaut harus menempuh jarak hingga 4 kilometer, dibandingkan dulu yang hanya di pinggir pantai saja. Bahkan, dengan melaut selama 16 jam, Rahman hanya mendapatkan satu kilogram [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/laut-pesisir-bekasi-tercemar-nasib-nelayan-kian-terancam/">Laut Pesisir Bekasi Tercemar, Nasib Nelayan Kian Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak 2017, Abdul Rahman, nelayan Pantai Harapanjaya, sudah merasakan penurunan hasil tangkapan. Laut yang biasanya menjadi sumber penghidupan, kini telah berubah akibat pencemaran dari aktivitas industri.  Saat ini, aktivitas melaut harus menempuh jarak hingga 4 kilometer, dibandingkan dulu yang hanya di pinggir pantai saja. Bahkan, dengan melaut selama 16 jam, Rahman hanya mendapatkan satu kilogram udang peci yang dihargai sekitar Rp30.000.  Kelompok Nelayan Pantai Harapanjaya menduga, pencemaran ini bersumber dari limbah batubara PLTU Babelan yang dikelola PT cikarang Listrindo Tbk. Ada juga indikasi proses pemindahan batubara yang tercecer di wilayah pesisir membahayakan lingkungan dan habitat ikan.  “Ini gak wajar, 30 meter bubu udang isinya cuman sekilo[gram],” kata Rahman pada April lalu. “Paling segini harganya cuman Rp30.000.” Nelayan pernah protes karena tumpukan material dan aktivitas kapal tongkang membuat perahu mereka kandas. Meskipun perusahaan akhirnya menenggelamkan pipa, sedimentasi nyatanya sudah terjadi yang mengakibatkan ekosistem pesisir terancam.  Sebagai wilayah industri penyangga Jakarta, Kabupaten Bekasi menyimpan wajah yang kontras di tepian utaranya. Wilayah pesisir di Kecamatan Muaragembong seolah terisolasi. Meski begitu, wilayah ini memiliki potensi sumber daya laut yang cukup tinggi, seperti ikan bandeng, kembung, kakap putih, belanak, cumi-cumi, kuro (Eleutheronema tetradactylum), jenis-jenis udang dan kepiting termasuk rajungan. Nayu Kulsum, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi mengakui Dinas Perikanan sering kali berada dalam situasi dilematis saat menghadapi keluhan langsung dari masyarakat. Tak hanya pencemaran, salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan dari kondisi ini adalah ancaman terhadap regenerasi nelayan di masa depan. Dari 260 nelayan yang ada didominasi oleh mereka yang berusia lebih dari 40 tahun.  Berdasarkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/laut-pesisir-bekasi-tercemar-nasib-nelayan-kian-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/laut-pesisir-bekasi-tercemar-nasib-nelayan-kian-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Perluasan Jeda Tangkap di Kepulauan Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 11:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/27193528/Nelayan-Sinaka-Bergantung-Pada-Gurita_Jaka-HB__1255372-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131180</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan politik, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencenaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penerapan jeda tangkap gurita di Perairan Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) mulai membuahkan hasil. Para nelayan kian menyadari pentingnya menjaga populasi gurita dengan tidak membawa pulang hasil tangkapan di bawah ukuran yang disepakati. Tarsan Samaloisa, Kepala Desa Sinaka katakan, penerapan jeda tangkap itu berangkat dari kesadaran nelayan akan hasil tangkapan gurita yang makin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/">Dorong Perluasan Jeda Tangkap di Kepulauan Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penerapan jeda tangkap gurita di Perairan Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) mulai membuahkan hasil. Para nelayan kian menyadari pentingnya menjaga populasi gurita dengan tidak membawa pulang hasil tangkapan di bawah ukuran yang disepakati. Tarsan Samaloisa, Kepala Desa Sinaka katakan, penerapan jeda tangkap itu berangkat dari kesadaran nelayan akan hasil tangkapan gurita yang makin turun. Karena itu, sejak empat tahun lalu, pemerintah desa menginisiasi peraturan desa (perdes) tentang sistem buka tutup tangkapan gurita. “Meski tantangannya masih besar, tetapi kesadaran nelayan untuk tidak menangkap gurita kecil dan menangkap di daerah yang ditutup sudah mulai muncul,” katanya saat berpidato dalam acara pembukaan kembali area tangkapan gurita, Selasa (7/7/26). Tarsan yang akan  mengakhiri jabatannya sebagai kepala desa itu pun mendorong agar inovasi itu  berlanjut, meski praktik baik belum mendapat apresiasi serius dari pemerintah daerah setempat. Dia katakan, pelanggaran masih sesekali terjadi selama pelaksanaan sistem buka tutup ini tetapi kesadaran warga untuk mendukung upaya pelestarian gurita perlahan tumbuh. “Walaupun masih ada pelanggaran, masyarakat sudah mulai memahami pentingnya menjaga laut,” katanya. Menurut Tarsan, meningkatnya kesadaran itu tercermin dari dukungan untuk memperluas cakupan penerapan jeda tangkap ini. Dari yang hanya dua lokasi, Korit Buah dan Sinaka, makin luas  ke 14 dusun di Sinaka. “Itu yang sangat kita dukung. Harapan kami ke depan program ini terus berlanjut, apakah saya masih menjadi kepala desa atau nanti digantikan Plt atau pejabat sementara. Ini sudah menjadi sebuah progres karena alam ini memang harus kita jaga,” ujarnya. Bagi masyarakat, lanjut Tarsan, laut bukan sekadar ruang hidup, tetapi menjadi penopang utama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Rekayasa Genetik, Lalu Apa Istimewanya Semangka ‘Kotak’ dari Jepang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 10:30:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232210/Square_watermelon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131163</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semangka umumnya tumbuh bulat atau sedikit lonjong. Namun, di Jepang ada semangka yang bentuknya nyaris menyerupai kubus. Buah bernama shikaku suika ini terlihat seperti hasil rekayasa genetika, padahal proses pembuatannya jauh lebih sederhana: pertumbuhan buah diarahkan menggunakan cetakan. Gagasan semangka kotak muncul pada era 1970-an dari Tomoyuki Ono, seorang desainer grafis asal Kota Zentsuji, Prefektur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/">Bukan Rekayasa Genetik, Lalu Apa Istimewanya Semangka ‘Kotak’ dari Jepang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semangka umumnya tumbuh bulat atau sedikit lonjong. Namun, di Jepang ada semangka yang bentuknya nyaris menyerupai kubus. Buah bernama shikaku suika ini terlihat seperti hasil rekayasa genetika, padahal proses pembuatannya jauh lebih sederhana: pertumbuhan buah diarahkan menggunakan cetakan. Gagasan semangka kotak muncul pada era 1970-an dari Tomoyuki Ono, seorang desainer grafis asal Kota Zentsuji, Prefektur Kagawa. Ia merasa semangka bulat sulit disimpan di dalam lemari es. Bentuknya memakan tempat, sukar ditumpuk, dan mudah menggelinding. Tomoyuki kemudian bereksperimen menanam semangka di halaman rumah. Ketika buahnya masih muda, ia memasukkannya ke dalam kotak transparan yang kokoh. Semangka yang terus membesar akan mengikuti ruang di dalam wadah tersebut. Jadi, bentuk kotak itu bukan berasal dari varietas khusus, melainkan hasil manipulasi pertumbuhan fisik. Semangka kotak sebenarnya tidak sepenuhnya bersudut tajam. Bagian tepi dan sudutnya masih memiliki lengkungan. Meski demikian, bentuknya cukup rata sehingga lebih mudah ditumpuk, dipindahkan, dan disimpan tanpa menggelinding. Pada 1978, Tomoyuki memperkenalkan hasil eksperimennya di sebuah galeri seni di Ginza, Tokyo. Buah unik tersebut menarik perhatian masyarakat dan media, lalu mulai dijual di pasar setahun kemudian. Untuk menghasilkan bentuk yang baik, bakal buah ditempatkan dalam cetakan transparan, biasanya berbahan akrilik dengan panjang sisi sekitar 18 sentimeter. Transparansi wadah memastikan buah tetap mendapat cahaya. Selama pertumbuhan, petani harus memantau posisi semangka setiap hari agar corak kulitnya terlihat rapi dan simetris. Retakan kecil saja dapat mengurangi kualitasnya. Proses yang membutuhkan cetakan, tenaga, dan pengawasan ekstra membuat harganya jauh lebih mahal dibandingkan semangka biasa. Di Jepang, satu buah shikaku suika dapat dijual seharga 10.000–20.000&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 08:22:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28082235/Copy-of-Thumbnail-Website-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=131214</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekologi pesisir]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Bajo di Kampung Bajo Tilamuta, laut bukan sekadar sumber penghidupan. Laut adalah ruang hidup yang membentuk identitas, pengetahuan, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, kehidupan yang telah lama bergantung pada laut kini menghadapi berbagai tantangan. Hingga saat ini, masyarakat Bajo belum memiliki sistem pengaturan tenurial atau hak penguasaan wilayah laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/">Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Bajo di Kampung Bajo Tilamuta, laut bukan sekadar sumber penghidupan. Laut adalah ruang hidup yang membentuk identitas, pengetahuan, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, kehidupan yang telah lama bergantung pada laut kini menghadapi berbagai tantangan. Hingga saat ini, masyarakat Bajo belum memiliki sistem pengaturan tenurial atau hak penguasaan wilayah laut yang disepakati secara formal. Ketidakjelasan batas wilayah tangkap membuat mereka rentan terhadap tekanan dari pihak luar, sementara perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi dan memaksa sebagian nelayan melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Dalam dua dekade terakhir, perubahan juga terjadi pada ekosistem pesisir. Warga mencatat pemutihan karang yang terjadi pada 2022, menurunnya populasi penyu di Pulau Tinumang, serta hilangnya dugong dari perairan Pulau Asiangi. Di sisi lain, perubahan sosial turut memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk berkurangnya minat generasi muda untuk melanjutkan profesi sebagai nelayan. Melalui perjalanan ke Kampung Bajo Tilamuta, Mongabay Indonesia mendokumentasikan kehidupan masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan laut. Film ini mengajak penonton mendengar langsung suara warga, memahami hubungan mereka dengan ruang laut yang telah dijaga secara turun-temurun, serta melihat berbagai tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan budaya, mata pencaharian, dan hak atas wilayah pesisir mereka. &nbsp; The post Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Lagi di Cikananga, Chiki Kini Hidup Bebas di Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 06:53:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28064750/Chiki_Habituasi-prapelepasliaran-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131205</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Anda masih ingat Chiki? Setelah satu tahun menjalani rehabilitasi di Cikanangan Wildlife Center (CWC) di Cikananga, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kucing kuwuk ini akhirnya kembali ke habitat alaminya. Pelepasan Prionailurus bengalensis yang sejak kecil kehilangan induk ini, menandai berakhirnya proses panjang pemulihan kesehatan dan pengembalian naluri liar Chiki, agar mampu hidup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/">Tidak Lagi di Cikananga, Chiki Kini Hidup Bebas di Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Anda masih ingat Chiki? Setelah satu tahun menjalani rehabilitasi di Cikanangan Wildlife Center (CWC) di Cikananga, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kucing kuwuk ini akhirnya kembali ke habitat alaminya. Pelepasan Prionailurus bengalensis yang sejak kecil kehilangan induk ini, menandai berakhirnya proses panjang pemulihan kesehatan dan pengembalian naluri liar Chiki, agar mampu hidup di hutan. Bagi Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT), pelepasliaran tak hanya membuka pintu kandang. Tahapan ini merupakan hasil evaluasi ketat terhadap kondisi fisik, perilaku, hingga kemampuan bertahan hidup tanpa bantuan manusia. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ YKCT, mengatakan anak kucing yang ditemukan warga di sekitar lapangan golf di Bogor itu, menunjukkan perkembangan positif. Tubuhnya stabil dengan kemampuan bergerak dan memanjat yang baik. Berat badannya juga ideal, sebagai bekal menghadapi alam liar. Namun, aspek terpenting bukan hanya kondisi fisik, melainkan perilaku alami. “Chiki tetap menunjukkan sifat liar. Ia aktif pada peralihan siang dan malam, waspada lingkungan sekitar, serta tidak bergantung pada kehadiran manusia,” jelasnya, Sabtu (25/7/26). Ketika tiba di pusat konservasi seluas 14 hektar pada Juli 2025, Chiki masih anakan yang belum mampu bertahan hidup. Tim harus memastikan kebutuhan nutrisi dan kesehatannya terpenuhi, tanpa membuatnya bergantung pada manusia. Seiring waktu, perubahan perilakunya mulai terlihat, yaitu kemampuan hidup mandiri di habitat aslinya. Bagi Meidi, setiap pelepasliaran selalu menghadirkan perasaan yang sulit digambarkan. Ada rasa syukur, karena satwa yang sebelumnya membutuhkan pertolongan kini memperoleh kesempatan kedua hidup bebas. “Tujuan utama penyelamatan satwa bukan memelihara sepanjang hidup, melainkan mengembalikannya ke alam ketika mereka telah siap.” Chiki merupakan kucing hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Lebah Memilih Sarang Segi Enam, Bukan Lingkaran atau Memanjang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 05:00:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053513/lebah-Madu-7870-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131090</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat melihat sarang lebah madu, satu pola hampir selalu mencuri perhatian: deretan ruang kecil berbentuk segi enam atau heksagon. Sel-sel tersebut tersusun rapat, saling menopang, dan membentuk bangunan yang kuat. Kerapian itu membuat lebah dijuluki arsitek alam. Namun, apakah lebah benar-benar merancang bentuk heksagon menggunakan perhitungan matematika? Charles Darwin pernah menjelaskan bahwa bentuk sarang merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/">Mengapa Lebah Memilih Sarang Segi Enam, Bukan Lingkaran atau Memanjang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat melihat sarang lebah madu, satu pola hampir selalu mencuri perhatian: deretan ruang kecil berbentuk segi enam atau heksagon. Sel-sel tersebut tersusun rapat, saling menopang, dan membentuk bangunan yang kuat. Kerapian itu membuat lebah dijuluki arsitek alam. Namun, apakah lebah benar-benar merancang bentuk heksagon menggunakan perhitungan matematika? Charles Darwin pernah menjelaskan bahwa bentuk sarang merupakan hasil seleksi alam. Koloni yang mampu membangun sarang kuat dengan lebih sedikit tenaga, sedikit limbah madu, dan penggunaan lilin paling hemat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bentuk heksagonal memungkinkan banyak sel disusun tanpa menyisakan ruang kosong di antaranya. Namun, sejumlah ilmuwan menawarkan penjelasan lain. Menurut penelitian BL Karihaloo, K. Zhang, dan J. Wang, lebah kemungkinan tidak langsung membangun sel berbentuk segi enam. Sel tersebut awalnya berbentuk silinder, lalu berubah menjadi heksagonal akibat sifat fisik lilin. Lebah pekerja menghasilkan panas yang membuat lilin meleleh pada suhu sekitar 45 derajat Celsius. Ketika lilin di persimpangan tiga sel melunak dan mengalir, dinding-dinding sel yang semula melingkar saling menekan dan membentuk sudut tajam. Proses serupa dapat dilihat pada kumpulan sedotan plastik yang dipanaskan hingga mendekati titik leleh. Bidang pertemuan antarlingkaran perlahan berubah menyerupai heksagon. Perubahan tersebut berlangsung cepat. Perhitungan menunjukkan bahwa bentuk lingkaran dapat berubah menjadi heksagonal dalam enam detik jika seluruh lilin dihangatkan, atau sekitar 36 detik jika hanya sebagian yang menerima panas. Meski begitu, fisika bukan satu-satunya penjelasan. Penelitian lain menunjukkan bahwa lebah mampu menyesuaikan rancangan sarangnya ketika menghadapi konstruksi yang tidak sempurna. Mereka dapat mengubah kemiringan, ukuran, dan jumlah dinding agar sel-sel baru tetap tersambung.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 04:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232438/Sisik-trenggiling-yang-diamankan-dari-tiga-oknum-aparat-dan-seorang-sipil-di-Kabupaten-Asahan-Sumut-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131178</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Trenggiling (Manis javanica) terus jadi target sasaran perdagangan ilegal di Sumatera Utara (Sumut). Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Sumut mencatat, perdagangan ilegal trenggiling mencapai 28% kasus perdagangan ilegal satwa liar periode 2016-2026. Ia bahkan peringkat pertama kasus perdagangan gelap periode 2025-2026. Indra Kurnia, Direktur Perlindungan Spesies dan Habitat Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/">Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Trenggiling (Manis javanica) terus jadi target sasaran perdagangan ilegal di Sumatera Utara (Sumut). Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Sumut mencatat, perdagangan ilegal trenggiling mencapai 28% kasus perdagangan ilegal satwa liar periode 2016-2026. Ia bahkan peringkat pertama kasus perdagangan gelap periode 2025-2026. Indra Kurnia, Direktur Perlindungan Spesies dan Habitat Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL–OIC), dalam diskusi publik akhir Juni lalu, menyebut, Medan dan Tanjung Balai di Asahan jadi dua pintu utama pengumpulan dari seluruh Indonesia sebelum tersebar luas. Jalur penyelundupan lanjut ke Malaysia, kemudian Vietnam atau Kamboja, hingga mencapai Tiongkok sebagai pasar tujuan utama. &#8220;Jalur laut dari Tanjung Balai ini pun diketahui beririsan persis dengan jalur peredaran narkotika, memperlihatkan betapa rapi, terorganisir, dan berbahayanya jaringan kriminal ini,&#8221; katanya. Pola penyitaan pun  berubah drastis. Di Aceh, umumnya meliputi potongan tubuh, 48 kejadian. Di Sumut, tren 2025 menunjukkan dominasi satwa utuh, dan komposisi keduanya hampir seimbang pada 2026. Selama 2024-2026, katanya, aparat  menyita total 3.451,29 kilogram sisik trenggiling. Setiap satu kilogram sisik berasal dari 4-5  trenggiling, berarti setidaknya 13.805 hilang dari alam, dengan kerugian ekologis negara mencapai Rp648,53 miliar. &#8220;Mayoritas yang tertangkap adalah pengepul, sementara pemburu di lapangan umumnya didorong kondisi ekonomi yang sulit. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan ganda: penegakan hukum yang tegas bagi bandar besar, disertai pemberdayaan ekonomi warga sekitar hutan di Sumut.&#8221; Dede Tanjung, Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, menegaskan trenggiling bukan barang dagangan. Peraturan Pemerintah 7/1999, dan  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 106/2018 melindungi hewan ini. Juga, secara internasional,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Fosil Ular Berusia 80 Juta Tahun Ungkap Ular Purba Sudah Hidup di Bawah Tanah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 03:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28032618/efc2a61b-ab5c-4efa-95ab-2f86f4c707a9_0c31085c-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131193</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular merupakan salah satu kelompok reptil paling sukses dan beragam di dunia, dengan lebih dari 4.000 spesies yang tersebar di berbagai benua. Namun asal-usul evolusi mereka, apakah nenek moyang ular pertama hidup di air, di permukaan tanah, atau di bawah tanah, masih menjadi perdebatan ilmiah selama lebih dari seabad. Sebuah fosil ular yang tersimpan dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/">Fosil Ular Berusia 80 Juta Tahun Ungkap Ular Purba Sudah Hidup di Bawah Tanah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular merupakan salah satu kelompok reptil paling sukses dan beragam di dunia, dengan lebih dari 4.000 spesies yang tersebar di berbagai benua. Namun asal-usul evolusi mereka, apakah nenek moyang ular pertama hidup di air, di permukaan tanah, atau di bawah tanah, masih menjadi perdebatan ilmiah selama lebih dari seabad. Sebuah fosil ular yang tersimpan dengan sangat baik dari Brasil memberi para ilmuwan gambaran paling jelas soal bagaimana ular pertama kali berevolusi. Fosil berbentuk tiga dimensi ini menunjukkan bahwa sebagian ular purba sudah beradaptasi hidup di bawah tanah, jauh sebelum spesies ular modern muncul. Spesies baru ini diberi nama Tametara mirim, diambil dari bahasa Tupi-Guarani yang berarti &#8220;berhias&#8221; dan &#8220;kecil&#8221;. Fosil itu ditemukan di batuan berusia sekitar 80 juta tahun di negara bagian São Paulo, Brasil, dan hidup pada Zaman Kapur Akhir, berdampingan dengan burung purba dan dinosaurus sauropoda. Penelitian yang dipimpin Tiago Simões dari Princeton University ini melibatkan peneliti dari University of Helsinki dan Museums Victoria Research Institute, dan telah terbit di jurnal Nature. Fosil Langka yang Tersimpan Utuh Sebagian besar fosil ular hanya berupa lempengan pipih akibat tekanan batuan selama jutaan tahun. Dari hanya sepuluh fosil ular Zaman Mesozoikum yang pernah ditemukan, cuma tiga yang tersimpan dalam bentuk tiga dimensi. Keterbatasan ini membuat asal-usul ular, apakah dari laut, permukaan tanah, atau bawah tanah, masih diperdebatkan selama lebih dari satu abad. Tametara mirim menjadi pengecualian langka. Tengkoraknya yang hanya berukuran 20 milimeter tetap utuh berbentuk tiga dimensi, lengkap dengan rongga otak di dalamnya. Fosil ini juga menjadi kerangka ular berartikulasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Orang Muda di Bali Jaga Hutan dan Ekowisata Lokal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 00:01:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/08082442/Foto-1-Lanskap-Danau-Tamblingan-Kabupaten-Buleleng-Bali-dikelilingi-Alas-Mertajati.-Hutan-ini-memiliki-luas-1.336-hektar.-Foto-I-Gusti-Ayu-Septiari_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131115</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik Hutan Mertajati, ada organisasi Baga Raksa Alas Mertajati (Brasti) yang menjaga kelestarian hutan dan memperjuangkan pengakuan hutan adat. Brasti beranggotakan orang muda dari empat desa (catur desa) yang menjadi wilayah Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (MADT).  Sejak dulu, mereka sudah hidup bersama Danau Tamblingan dan Alas (hutan) Mertajati. Mereka menganggap hutan sebagai amanah leluhur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/">Cerita Orang Muda di Bali Jaga Hutan dan Ekowisata Lokal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik Hutan Mertajati, ada organisasi Baga Raksa Alas Mertajati (Brasti) yang menjaga kelestarian hutan dan memperjuangkan pengakuan hutan adat. Brasti beranggotakan orang muda dari empat desa (catur desa) yang menjadi wilayah Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (MADT).  Sejak dulu, mereka sudah hidup bersama Danau Tamblingan dan Alas (hutan) Mertajati. Mereka menganggap hutan sebagai amanah leluhur dan danau Tamblingan menjadi kunci pengelolaan air di Kabupaten Tabanan.  Selama bertahun-tahun, mereka menjaga kelestarian hutan, keputusan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup pada 1996 mengubah Alas Mertajari menjadi Taman Wisata Alam, yang malahan membuka celah bagi ancaman hutan tersebut. Tak hanya itu, pada 2008, ada rencana pemekaran desa yang berpotensi mengaburkan nilai sejarah dan hak adat kawasan.  Menjawab tantangan tersebut, mereka membentuk Brasti yang terdiri dari perwakilan masing-masing desa. Brasti menyadari pentingnya hutan adat dan memperjuangkannya ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  “Hutan adalah sumber utama hidup kalian, tidak boleh diutak-atik, hanya boleh mengambil rembesannya saja,”  kata Ardana menirukan pesan leluhur.  Perjuangannya tentu tidak mudah. Sejak 2019 hingga saat ini, Brasti masih menunggu langkah Pemkab Buleleng yang masih belum membentuk tim verifikasi untuk menjadikannya hutan adat.  Dalam perjalanannya, Brasti menjawab persoalan ekonomi yang sering menjadi alasan warga untuk masuk dan mengambil hasil hutan. Brasti membentuk Baga Sri Sedana yang bertugas melakukan penguatan ekonomi di luar kawasan hutan dengan ekonomi konservasi, kreatif, dan pemanfaatan sumber daya lokal.  Salah satu strategi mereka adalah mengajak petani beralih untuk menanam tanaman keras yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga menguatkan bentang alam luar kawasan Alas Mertajati. Saat ini, kopi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Sungai yang Hilang di Dalam Konsesi Sawit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 23:58:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Windrawan Inantha]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/09/22033140/Perkebunan-di-bantaran-sungai-Aceh-Utara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131186</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada pertengahan Mei 2026, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menetapkan satu korporasi sawit sebagai tersangka karena menanami kawasan sempadan Sungai Air Hitam, anak Sungai Nilo, di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Penyidik menemukan barisan sawit tumbuh hanya dua sampai lima meter dari tepi sungai, jauh di dalam ruang yang menurut aturan seharusnya dibiarkan kosong sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/">Opini: Sungai yang Hilang di Dalam Konsesi Sawit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada pertengahan Mei 2026, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menetapkan satu korporasi sawit sebagai tersangka karena menanami kawasan sempadan Sungai Air Hitam, anak Sungai Nilo, di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Penyidik menemukan barisan sawit tumbuh hanya dua sampai lima meter dari tepi sungai, jauh di dalam ruang yang menurut aturan seharusnya dibiarkan kosong sebagai pelindung. Taksiran kerugian ekologis mendekati Rp188 miliar. Kasus ini menyentuh persoalan yang jauh lebih luas daripada satu perusahaan, yaitu, nasib sungai-sungai kecil yang perlahan lenyap dari pengelolaan di dalam perkebunan sawit tua. Di banyak lanskap sawit lama, sungai jarang lenyap dalam satu peristiwa, yang terjadi adalah penyusutan perlahan dari pengelolaan kebun. Mula-mula satu anak sungai hilang dari peta kerja, lalu raib dari desain blok tanam, kemudian luput dari pemahaman pekerja lapangan. Akhirnya,  lepas dari tanggung jawab pada saat batas baru hak guna usaha tidak lagi memasukkan sempadannya. Airnya boleh jadi masih mengalir, tetapi sungai itu tidak lagi sebagai ekosistem. Ketika produksi sawit tak jarang abaikan keberadaan sungai di dalamnya . Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Sungai yang hilang Status yang melekat pada sungai menyusut menjadi sekadar alur teknis di tengah kawasan produksi. Inilah yang dimaksud sungai yang hilang,  bukan air yang menguap, melainkan sungai yang kehilangan pengakuan, perlindungan, dan pemiliknya. Persoalan ini berakar jauh ke tahap perencanaan perkebunan. Ketika kebun dibuka beberapa dekade lalu, peta topografi, peta izin, peta hidrologi, peta tata ruang, dan peta operasional perusahaan kerap tidak saling terbaca. Anak sungai kecil, rawa musiman, alur limpasan, dan cekungan air dianggap kurang penting dibanding&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>