<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=vinolia-sawahlunto&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/vinolia-sawahlunto/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 10 Sep 2026 10:00:58 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 10:00:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08151150/Siamang-di-Taman-Wisata-Kera-Sibaganding-Sumatera-Utara-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133267</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, pencemaran, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan yang hijau belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa liar. Suara kendaraan, mesin, dan musik yang memasuki kawasan hutan dapat mengubah cara siamang (Symphalangus syndactylus) bergerak, mencari makan, bahkan berinteraksi dengan pasangannya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025 mengamati tujuh kelompok siamang di Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya, di Sumatera Utara. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/">Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan yang hijau belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa liar. Suara kendaraan, mesin, dan musik yang memasuki kawasan hutan dapat mengubah cara siamang (Symphalangus syndactylus) bergerak, mencari makan, bahkan berinteraksi dengan pasangannya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025 mengamati tujuh kelompok siamang di Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya, di Sumatera Utara. Peneliti memutar empat jenis suara sekitar tiga menit dengan tingkat kebisingan mendekati 90 desibel. Tiga suara berasal dari aktivitas manusia, yaitu lalu lintas kendaraan, mesin pemecah beton atau jackhammer, dan musik rock. Suara tonggeret digunakan sebagai pembanding karena merupakan bagian alami dari lingkungan hutan. Hasilnya, siamang memberikan respons paling kuat terhadap suara lalu lintas dan jackhammer. Setelah mendengar lalu lintas, mereka bergerak rata-rata sejauh 103,86 meter dari sumber suara. Jarak tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan respons terhadap suara tonggeret, yaitu sekitar 51,14 meter. Temuan ini tidak berarti semua siamang selalu berlari sejauh 100 meter ketika mendengar kendaraan. Jumlah kelompok yang diteliti juga relatif sedikit. Namun, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa suara manusia dapat mengubah perilaku satwa meskipun kondisi fisik hutannya tidak langsung berubah. Siamang biasanya hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri dari pasangan jantan dan betina beserta keturunannya. Mereka mempertahankan wilayah seluas sekitar 20-70 hektar dan menempuh perjalanan harian sepanjang 700-1.500 meter untuk mencari buah serta daun. Gangguan suara berulang berpotensi menciptakan “lanskap ketakutan akustik”. Dalam kondisi ini, siamang memetakan lokasi yang bising sebagai area berisiko dan memilih menghindarinya. Jika kawasan tersebut sebenarnya kaya makanan, penghindaran dapat membatasi akses terhadap sumber daya dan meningkatkan energi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mitologi Masyarakat Lombok Ketika Oarfish Terdampar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 04:56:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000129/ikan-oarfish-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133134</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, Selasa (25/8/26), suasana Pantai Pink di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mendadak ramai. Sejumlah anak yang  bermain di bibir pantai berlarian menghampiri ikan berukuran tak biasa yang terdampar di pasir. Tubuhnya panjang menyerupai pita berwarna keperakan, dengan sirip merah menyala membentang dari kepala hingga ekor. Warga yang mengerubunginya lantas abadikan momen itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/">Mitologi Masyarakat Lombok Ketika Oarfish Terdampar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, Selasa (25/8/26), suasana Pantai Pink di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mendadak ramai. Sejumlah anak yang  bermain di bibir pantai berlarian menghampiri ikan berukuran tak biasa yang terdampar di pasir. Tubuhnya panjang menyerupai pita berwarna keperakan, dengan sirip merah menyala membentang dari kepala hingga ekor. Warga yang mengerubunginya lantas abadikan momen itu menggunakan selulernya. Video penemuan ikan tersebut pertama kali diunggah oleh akun Facebook Baiq Kolby, sebelum akhirnya menyebar luas di berbagai media sosial. Dalam hitungan jam, rekaman itu memicu beragam spekulasi. Sebagian warganet meyakini ikan tersebut adalah oarfish, spesies laut dalam yang selama ini lekat dengan berbagai mitos sebagai pertanda datangnya gempa bumi maupun tsunami. Dugaan itu makin menguat karena dua pekan sebelumnya gempa bumi mengguncang Flores. Mitos itu begitu lekat di kalangan warga Lombok Timur. Hampir setiap kemunculan oarfish di pesisir, masyarakat kerap menghubungkan dengan kemungkinan datangnya bencana alam. Seorang warga berpose engan ikan Oarfish yang terdampar di Lombok. Foto: Facebook Baiq Kolby. Ikan laut dalam Berbagai literatur menyebut, ikan dengan nama latin Regalecus glesne  merupakan salah satu ikan bertulang terpanjang di dunia. Berbeda dengan kebanyakan ikan laut, secara fisik  tidak terlapisi sisik keras, melainkan lapisan berwarna perak tampak berkilau ketika terkena cahaya. Di sepanjang punggungnya membentang sirip berwarna merah terang yang menjadi ciri khas spesies ini. Ukurannya juga jauh melampaui ikan pada umumnya. Rata-rata oarfish memiliki panjang antara tiga hingga delapan meter, bahkan sejumlah catatan ilmiah menyebutkan panjang maksimal dapat melebihi 10  meter dengan bobot ratusan kilogram. Bentuk tubuh yang pipih dan memanjang membuatnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Ada Harum Semerbak Cengkih di Sabang Akibat Krisis Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 03:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18043128/Foto-2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133303</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dulu, aroma cengkih semerbak dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh, terutama saat musim panen tiba. Petani menjemur bunga cengkih di depan rumah, sementara angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Namun, kini aroma tersebut semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih tidak berbunga, bahkan mati dengan daun yang berguguran dan hanya menyisakan batang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/">Tak Ada Harum Semerbak Cengkih di Sabang Akibat Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dulu, aroma cengkih semerbak dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh, terutama saat musim panen tiba. Petani menjemur bunga cengkih di depan rumah, sementara angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Namun, kini aroma tersebut semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih tidak berbunga, bahkan mati dengan daun yang berguguran dan hanya menyisakan batang kering. Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, merasakan perubahan itu di kebunnya. Dari 520 pohon yang dia rawat di lahan seluas empat hektar, hanya 40 pohon yang berbunga dan bisa panen tahun ini. “Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya. Selama 10 tahun terakhir, Sayuti juga melihat musim panen cengkih tidak lagi berlangsung setiap tahun seperti sebelumnya. Tanaman kini membutuhkan perawatan lebih, termasuk pupuk agar tidak mudah mati. “Dulu, itu tidak perlu pupuk, kalau sekarang wajib diberi pupuk biar tidak mati,” katanya. Hendra, petani cengkih lain di Desa Balohan, mengalami kondisi serupa. Dari 35 pohon miliknya, 10 mati. Pohon yang tersisa pun tidak berbunga lebat. Jika sebelumnya satu pohon bisa menghasilkan sekitar 7 kilogram bunga cengkih, tahun ini hasilnya hanya 2 kilogram. “Sudah sering seperti ini. Habis panen, kemudian kalau masuk musim kemarau, rata-rata banyak pohon yang mati,” kata Hendra. Penurunan produksi juga dirasakan pengepul cengkih terbesar di Kota Sabang. Tahun ini, Munar, pengepul cengkih hanya menerima sekitar 110 ton, padahal biasanya mencapai 250 ton setiap musim panen. Perubahan juga terjadi pada siklus panen. Marizal dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lima Bayi Orangutan Ditemukan di India, Jejak Perdagangan Lintas Negara Mengarah ke Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 02:29:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10022258/Orangutan-Sumatera-di-SRA-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133345</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Perdagangan Satwa Tetap Marak]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lima bayi orangutan ditemukan di sebuah kawasan hutan di Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). India merupakan negara yang tidak memiliki populasi orangutan liar. Sebagaimana diberitakan The Indian Express pada Rabu (9/9/26), awalnya warga mengira satwa tersebut jenis monyet langka. Setelah petugas kehutanan tiba, mereka memastikan kelimanya adalah orangutan. Prateek Indalkar, Balasore Divisional Forest Officer [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/">Lima Bayi Orangutan Ditemukan di India, Jejak Perdagangan Lintas Negara Mengarah ke Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lima bayi orangutan ditemukan di sebuah kawasan hutan di Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). India merupakan negara yang tidak memiliki populasi orangutan liar. Sebagaimana diberitakan The Indian Express pada Rabu (9/9/26), awalnya warga mengira satwa tersebut jenis monyet langka. Setelah petugas kehutanan tiba, mereka memastikan kelimanya adalah orangutan. Prateek Indalkar, Balasore Divisional Forest Officer (DFO), mengatakan kelimanya terdiri dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, kelima orangutan dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar. Pemerintah Odisha meminta Wildlife Crime Control Bureau (WCCB) menyelidiki asal-usul orangutan tersebut. Prem Kumar Jha, Kepala Konservator Satwa Liar Odisha, mengatakan orangutan menjadi bagian perdagangan satwa eksotis yang dipelihara ilegal di sejumlah negara. Penyidik akan menelusuri apakah satwa tersebut dijual ke pembeli di India, atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain. Bayi orangutan sumatera ini dirawat di Sumatera Rescue Alliance Primate (SRA), Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bayi ini merupakan korban perdagangan ilegal satwa liar. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), mengatakan munculnya orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami, harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya, Rabu (9/9/26). Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan perdagangan orangutan dilakukan melalui rantai yang panjang. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik.” Pemisahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 01:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Derri Nugraha*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09142856/IMG_3882.JPG-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133323</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, Pertambangan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang mulai memicu kekeringan di berbagai daerah, tak terkecuali di Kota Bandar Lampung, Lampung. Warga mulai kesulitan memenuhi keperluan air bersih untuk keperluan sehari-hari dari mandi, mencuci sampai untuk konsumsi. Tariah mesti bolak-balik ke bak penampungan air dari rumahnya yang berjarak 40 meter demi memenuhi kebutuhan esensial: air bersih. Perempuan 71 tahun ini tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/">Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang mulai memicu kekeringan di berbagai daerah, tak terkecuali di Kota Bandar Lampung, Lampung. Warga mulai kesulitan memenuhi keperluan air bersih untuk keperluan sehari-hari dari mandi, mencuci sampai untuk konsumsi. Tariah mesti bolak-balik ke bak penampungan air dari rumahnya yang berjarak 40 meter demi memenuhi kebutuhan esensial: air bersih. Perempuan 71 tahun ini tidak mengeluh meski harus memikul dua ember dengan sebilah batang kayu sekali jalan. Karena, saat itu, kampungnya mendapat bantuan air dari pemerintah. Ingatannya melayang dekade 1980-an dan 1990-an. Saat itu, air di Kampung Batu Suluh, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, melimpah. Sekarang, dia dan warga lain harus membayar Rp50.000 untuk mendapat 1.000 liter air. Jumlah itu hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya selama 3-4 hari. Sebulan, kebutuhan air bisa Rp400.000. Uang sebanyak itu hanya untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus. Sumur  sudah tidak lagi bisa dia andalkan. Tidak ada lagi air yang mengalir dari tanah mereka. Kekeringan di sana tidak harus menunggu kemarau. “Kalau tidak kemarau juga susah air,” katanya, 11 Agustus. Tetangganya, bahkan, baru saja membuat sumur bor. Penggalian sudah menembus lebih dari 100 meter ke dalam tanah tetapi tidak juga temukan air. Kekeringan di Batu Suluh mulai terasa beberapa dekade terakhir. Seiring dengan sejumlah titik perbukitan di sekitar kampung menjadi lokasi penambangan batu andesit. Bukit-bukit yang dahulu bagian dari lanskap kampung perlahan terkeruk. Sisi lain, kawasan hilir terus berkembang. Industri tumbuh makin pesat tidak jauh dari permukiman. Pabrik-pabrik berdiri dan aktivitas ekonomi semakin ramai. Tariah tidak tahu ke mana air di kampungnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Ular Putih Papua yang Belum Memiliki Antivenom</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 00:30:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232047/original-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133268</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik hutan tropis Papua yang lembap, hidup ular putih papua (Micropechis ikaheka), jenis ular berbisa tinggi dengan persebaran sangat terbatas. Spesies ini hanya ditemukan di Papua dan sejumlah pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru. Ular ini pertama kali ditemukan pada 1829 oleh naturalis Prancis René Primevère Lesson. Awalnya, spesimen tersebut ditempatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/">Mengenal Ular Putih Papua yang Belum Memiliki Antivenom</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik hutan tropis Papua yang lembap, hidup ular putih papua (Micropechis ikaheka), jenis ular berbisa tinggi dengan persebaran sangat terbatas. Spesies ini hanya ditemukan di Papua dan sejumlah pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru. Ular ini pertama kali ditemukan pada 1829 oleh naturalis Prancis René Primevère Lesson. Awalnya, spesimen tersebut ditempatkan dalam genus Coluber. Setelah struktur anatomi dan taringnya dipelajari, ular ini kemudian dimasukkan ke genus tersendiri, Micropechis. Hingga kini, M. ikaheka merupakan satu-satunya spesies dalam genus tersebut. Nama “ikaheka” berarti “belut tanah”, merujuk pada kebiasaannya hidup di tempat lembap dan tersembunyi. Habitatnya meliputi rawa, hutan dataran rendah, tepian sungai, hingga tumpukan sabut kelapa yang membusuk di perkebunan. Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 2,1 meter. Tubuhnya silindris, berotot, dan ditutupi sisik halus yang terkadang tampak berkilau. Matanya berukuran kecil, sesuai dengan kebiasaannya bergerak di dalam tanah atau di bawah tumpukan vegetasi. Meski disebut ular putih, warna tubuhnya tidak selalu sama. Sebagian populasi memiliki tubuh putih pucat dengan belang merah tua atau cokelat, sedangkan populasi lain dapat berwarna hitam polos. Perbedaan itu diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan tekanan evolusi di masing-masing wilayah. Ancaman utama ular ini terletak pada komposisi bisanya. Racun M. ikaheka disebut mengandung neurotoksin, hemotoksin, sitotoksin, dan kardiotoksin. Gabungan tersebut dapat mengganggu sistem saraf, merusak jaringan dan otot, menyebabkan perdarahan internal, serta memengaruhi kerja jantung. Gejalanya dapat muncul dalam hitungan menit, mulai dari kesulitan bernapas, kelumpuhan, nyeri otot, hingga kejang. Hingga kini, belum tersedia antivenom khusus yang terbukti efektif dan tersedia luas di Papua.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misteri Kamuflase Dunia Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 10:22:06 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/11075252/Ular-Siput-Jerapah-Saktyari-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=133304</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Misteri Kamuflase Dunia Satwa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya.</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/">Misteri Kamuflase Dunia Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya. The post Misteri Kamuflase Dunia Satwa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 10:00:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30071023/IMG_6958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132962</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, politik dan hukum, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar. Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/">Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar. Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia, mengatakan terdapat tekanan bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola. Penerapan biodiesel 50 atau B50 sejak 1 Juli 2026 menambah kebutuhan subsidi. Ketika harga minyak mentah Brent berada di bawah US$101 per barel, biaya produksi biodiesel menjadi lebih mahal dibandingkan solar fosil. Sebab, harga biodiesel juga dipengaruhi harga minyak sawit mentah sebagai bahan bakunya. “Sepanjang 2026, tren penurunan harga Brent memperlebar selisih harga antara biodiesel dan solar fosil sehingga kebutuhan subsidi biodiesel meningkat. Dalam kajian kami, kondisi ini berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp80-100 triliun per tahun,” ujar Sudaryadi. Dana subsidi B50 berasal dari pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Ketika kebutuhan subsidi tumbuh lebih cepat daripada penerimaan pungutan, pembayaran insentif kepada produsen biodiesel berpotensi terganggu. Pasokan minyak sawit juga menghadapi persaingan antara kebutuhan energi, pangan, dan ekspor. Kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat dari sekitar 12,5 juta ton menjadi 19,8 juta ton pada 2035. Pemerintah didesak membuka data distribusi, stok BBM, dan realisasi pencampuran biodiesel untuk memastikan penyebab langsung kelangkaan. Agus Praditya Tampubolon, Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR, mengatakan ketahanan energi mencakup ketersediaan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, dan penerimaan masyarakat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 08:50:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12022858/image-27-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133302</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/">Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat yang rutin menjaga habitat satwa tersebut. “Lutung itu pemalu,” kata Daman, warga Kampung Desa Pantai Bahagia yang menjaga wilayah itu. Sejak 2012, Daman menjadi relawan penjaga kawasan. Setelah mencari kepiting bakau, dia biasa masuk ke hutan untuk memantau lutung jawa. Selain lutung, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti kera ekor panjang, burung air, kuntul, bangau bluwok, cekakak sungai, hingga blekok sawah. Namun, habitat lutung jawa terus menyusut. Berdasarkan data pemerintah Kabupaten Bekasi, dari penetapan kawasan hutan lindung yang awalnya mencapai 10.000 hektar, sekitar 2.338,85 hektar daratan hilang akibat abrasi, 1.700 hektar mengalami penggenangan, dan hampir 90% kawasan hutan beralih fungsi menjadi tambak. Penelitian juga menunjukkan luas mangrove di Muaragembong menyusut 55% dalam empat dekade terakhir. Desa Pantai Bahagia menjadi salah satu wilayah yang mengalami abrasi paling parah. Kondisi ini turut mengancam lutung jawa yang populasinya di kawasan tersebut kini sekitar 70 individu. Penyusutan mangrove membuat lutung semakin kesulitan mendapatkan pakan dan air. Daman mengatakan lutung jawa menyukai daun jeruju. Saat musim kemarau, air di sekitar muara Sungai Citarum berubah menjadi payau akibat intrusi air laut sehingga lutung harus mendekati permukiman untuk mencari air tawar. “Saya sempat mikir, kenapa lutung lari ke rumah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara Perempuan Adat Papua untuk Tanah dan Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 07:30:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09072854/masuk-hutan-sagu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133289</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua barat daya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[huhutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Barbalina Osok membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi ketika hadir dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Masyarakat adat Moi mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. Ia berbicara tentang tanah dan hutan adat yang selama puluhan tahun berada dalam tekanan pemanfaatan sumber daya alam. Ketua Umum Kwongke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/">Suara Perempuan Adat Papua untuk Tanah dan Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Barbalina Osok membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi ketika hadir dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Masyarakat adat Moi mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. Ia berbicara tentang tanah dan hutan adat yang selama puluhan tahun berada dalam tekanan pemanfaatan sumber daya alam. Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi (KKSM) Papua Barat Daya itu mengatakan, sejak awal 1990-an konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) telah beroperasi di wilayah adat Moi. “Izin HPH tersebut awalnya berkomoditas kayu, namun belakangan sebagian arealnya dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Keberadaan izin ini sangat merugikan masyarakat adat Moi, karena hutan yang seharusnya menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun justru terus dikuras tanpa kejelasan manfaat balik bagi pemilik hak ulayat,” kata Barbalina. Menurutnya, izin tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan diperkirakan masih berlaku hingga sekitar 2032–2033. Situasi ini, katanya, membuat masyarakat adat Moi hidup dalam tekanan perubahan bentang alam dan pemanfaatan sumber daya alam di wilayah mereka. Bagi masyarakat adat, persoalan pembangunan tidak hanya terkait investasi dan manfaat ekonomi. Lebih jauh, persoalannya menyangkut sejauh mana masyarakat sebagai pemilik hak ulayat dilibatkan dalam pengambilan keputusan atas tanah dan sumber daya alam mereka. Suara Barbalina bukan satu-satunya yang muncul dalam PAPEDA Summit 2026. Forum yang mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan mitra pembangunan itu juga menjadi ruang bagi perempuan Papua menyampaikan kekhawatiran mengenai arah pembangunan di Tanah Papua. Beberapa warga kampung Anobo, Pulau Padaidori, Papua. Praktik orang Padaidori dalam mengelola lahan dan berkebun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Pemulihan Hutan Mangrove Eks PSN di Pesisir Tangerang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 07:02:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/23180347/PIK-II-Satgas-PKH.-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132791</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, infrastruktur, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dadang, berdiri di lahan garapan di Kampung Kramat, Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pria 50 tahun ini memandangi sisa-sisa bakau yang mengering. Kawasan itu dulu penuh dengan hamparan mangrove rimbun yang menjadi sumber penghidupan warga, kini sebagian besar hilang, lahan berubah gersang. Berjarak sekitar 200 meter dari tempat Dadang berdiri, plang terpasang di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/">Menanti Pemulihan Hutan Mangrove Eks PSN di Pesisir Tangerang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dadang, berdiri di lahan garapan di Kampung Kramat, Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pria 50 tahun ini memandangi sisa-sisa bakau yang mengering. Kawasan itu dulu penuh dengan hamparan mangrove rimbun yang menjadi sumber penghidupan warga, kini sebagian besar hilang, lahan berubah gersang. Berjarak sekitar 200 meter dari tempat Dadang berdiri, plang terpasang di tengah lahan bertuliskan &#8220;kawasan hutan lindung ex program strategis nasional PIK 2 yang telah dicabut dan berada dalam penguasaan Pemerintah Republik Indonesia cq. Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).&#8221; “Dulu, ini mangrove semua, dari sana sampai sini, warga yang tanam,” kata Dadang menunjuk bakau di depannya, Selasa (11/8/26). Pada 13 Maret lalu, Satgas PKH mengambil alih sekitar 1.600 hektar kawasan hutan lindung di pesisir Tangerang, dari penguasaan PT Mutiara Intan Permai (MIP), anak perusahaan dari Agung Sedayu Group (ASG) milik konglomerat Sugianto Kusuma alias Aguan. Hutan mangrove Desa Kramat menjadi satu dari lima lokasi hutan lindung di utara Tangerang yang satgas tertibkan. Ini tindakan pemerintah dalam penguasaan kembali kawasan hutan berdasarkan Perpres Nomor 5/2025 dan PP Nomor 45/2025.  Kebijakan itu soal pengaturan mengenai penertiban kawasan hutan dan  pembentukan Satgas PKH. Awalnya, wilayah ini menjadi proyek strategis nasional PIK 2 Tropical Coastland. Sejak penetapannya pada 2024, proyek itu menuai kontroversi, mulai dari persoalan pertanahan, pembangunan di pesisir, hingga dampaknya terhadap warga. Dadang berdiri di depan plang di kawasan pengambil alihan kawasan hutan lindung ex program strategis nasional PIK 2 yang berada di Kabupaten Tangerang. Foto: Anggita Raissa/Mongabay Indonesia Ketika hutan mangrove mulai hancur Dadang masih ingat betul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika IKN Tak Luput dari Kepungan Karhutla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 05:09:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133098</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunita lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai daerah di Kalimantan,  juga terjadi di kawasan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) termasuk di zona intinya.  Pada tengah Agustus, Deden Wahyudi, warga Kampung Sepaku Lama, Penajam Paser, Kalimantan Timur, yang berada di zona IKN tak luput dari kepungan asap. Dia panik Jakiyah, ibu Deden mengidap penyakit radang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/">Ketika IKN Tak Luput dari Kepungan Karhutla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai daerah di Kalimantan,  juga terjadi di kawasan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) termasuk di zona intinya.  Pada tengah Agustus, Deden Wahyudi, warga Kampung Sepaku Lama, Penajam Paser, Kalimantan Timur, yang berada di zona IKN tak luput dari kepungan asap. Dia panik Jakiyah, ibu Deden mengidap penyakit radang paru. Situasi itu membuatnya sulit bernapas saat beriringan dengan asap dan debu. “Kuatir juga. Kalau asapnya makin tebal, nasib saya bagaimana,” katanya kepada Mongabay, akhir Agustus. Nuni, warga Sepaku Lama yang lain sampaikan kekhawatiran serupa. Apalagi,  baru-baru ini, dia melihat langsung kondisi api menyala dari lahan konsesi hutan tanaman industri (HTI) PT ITCI Hutani Manunggal (IHM) pada malam hari. Wilayah yang terbakar itu, juga masuk dalam kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN. “Hari itu kebakaran, di atas (kawasan konsesi IHM). Baru-baru aja, belum seminggu,” katanya  sambil menyikat pakaiannya, Jumat (21/8/26). Di kota penyangga IKN seperti Balikpapan, sudah dua hari belakangan karhutla terjadi. Kabut asap tipis mulai menyelimuti langit. Paling tampak, pagi hari sesaat setelah matahari terbit. Pendar cahaya matahari tak memencar, membuatnya tampak seperti lingkaran kemerahan dari kejauhan. Bau asap menyengat. Emi, ibu hamil asal Balikpapan Selatan yang juga memiliki anak dengan usia rentan, turut merasa terancam. “Saya kira embun, tapi kok agak tebal. Terus bau-bau asap bakaran, kayak gosong gitu,” katanya  kepada Mongabay, Minggu (30/8/26). Situasi itu memaksa Emi membatasi aktivitas di luar ruangan. Apalagi, usia kehamilannya sudah mencapai 5 bulan. “Kabar karhutla di Kalimantan memang mengkhawatirkan. Ada juga kejadian di sini, tapi memang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Burung-burung Ini Mencuri Kulit Ular, Ilmuwan Butuh 1 Abad Pecahkan Misterinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 04:06:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09040217/Troglodytes_aedon_Cucarachero_comun_House_Wren_8990750963-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133266</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kulit ular yang terselip di antara ranting dan rerumputan sarang burung sering dianggap kebetulan, sisa material yang tak sengaja terbawa saat burung membangun sarangnya. Kebiasaan ini juga bukan perilaku segelintir spesies saja, sebab puluhan jenis burung di berbagai belahan dunia diketahui melakukan hal serupa, termasuk House Wren (Troglodytes aedon) yang bersarang di rongga pohon dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/">Burung-burung Ini Mencuri Kulit Ular, Ilmuwan Butuh 1 Abad Pecahkan Misterinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kulit ular yang terselip di antara ranting dan rerumputan sarang burung sering dianggap kebetulan, sisa material yang tak sengaja terbawa saat burung membangun sarangnya. Kebiasaan ini juga bukan perilaku segelintir spesies saja, sebab puluhan jenis burung di berbagai belahan dunia diketahui melakukan hal serupa, termasuk House Wren (Troglodytes aedon) yang bersarang di rongga pohon dan Blue Grosbeak (Passerina caerulea) yang membangun sarang cangkir terbuka. Namun fenomena ini sebenarnya telah membingungkan peneliti dan naturalis selama lebih dari satu abad, sebab kulit ular yang kering dan kaku itu jelas tidak menawarkan kehangatan atau kenyamanan bagi telur yang akan menetas. Mengapa burung bersusah payah mencari dan membawa material yang tidak lazim ini ke dalam sarangnya, alih-alih menggunakan bahan yang lebih mudah didapat di sekitarnya? Studi terbaru yang dipimpin Vanya Rohwer, kurator di Cornell University Museum of Vertebrates, akhirnya menjawab teka-teki tersebut. Kulit ular bukan bahan sarang yang tercecer begitu saja, melainkan alat pertahanan yang sengaja dicari burung untuk melindungi telur dan anak-anaknya dari predator. Rohwer mencatat bahwa kulit ular tergolong material yang jarang ditemukan begitu saja di alam bebas, sehingga upaya burung memburunya menunjukkan bahwa benda ini memang sengaja dikejar sebagai aset berharga, bukan sekadar dipungut karena kebetulan tersedia di sekitar sarang. Jejak dari Kartu Kolektor Telur Kuno Untuk menguji dugaan ini, Rohwer dan timnya menelusuri data dari 78 spesies burung dari 22 famili berbeda yang tercatat pernah membawa kulit ular ke sarangnya. Mereka memanfaatkan sumber sejarah yang tak biasa, yaitu kartu catatan telur dari koleksi Western Foundation of Vertebrate Zoology yang berasal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 02:08:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09020018/Salah-satu-anakan-siamang-yang-dirawat-di-Pusat-Rehabilitasi-Satwa-Punti-Kayu-Palembang.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133255</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/">Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. &#8220;Respon paling kuat terhadap suara lalu lintas dan mesin pemecah beton,&#8221; tulis D’Agostino dan kolega melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025. Para peneliti mengamati tujuh kelompok siamang di empat lokasi di Sumatera Utara, yakni Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya. Mereka kemudian melakukan eksperimen pemutaran suara berulang atau playback experiment. Anakan siamang ini dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Ada empat suara yang digunakan. Pertama, suara jackhammer, mesin pemecah beton. Kedua, suara lalu lintas kendaraan. Ketiga, musik rock. Sebagai pembanding, peneliti menggunakan suara tonggeret atau cicada, suara alami yang biasa ditemukan di hutan. Keempat, suara itu diperdengarkan sekitar tiga menit dengan tingkat suara mendekati 90 desibel. Dengan menggunakan suara alami sebagai kontrol, peneliti dapat melihat apakah siamang sekadar bereaksi terhadap suara keras, atau memang menunjukkan respon berbeda terhadap suara yang berasal dari aktivitas manusia. Hasilnya menarik. Setelah mendengar suara antropogenik, kelompok siamang cenderung meningkatkan jarak perjalanannya dan bergerak menjauh dari sumber suara. Respons paling jelas terlihat setelah paparan suara lalu lintas dan jackhammer. Dalam salah satu pengukuran, siamang bergerak rata-rata sekitar 103,86 meter dari sumber suara lalu lintas, dibandingkan sekitar 51,14 meter setelah mendengar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 00:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07044031/Pelepasan-kukang-di-BTNUK-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon. “Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya. Enam kukang yang dibawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/">Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon. “Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya. Enam kukang yang dibawa terdiri dari satu jantan dan lima betina bernama Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka menempuh perjalanan sekitar enam jam dari pusat rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia di Bogor menuju Ujung Kulon. Sebagian besar kukang tersebut merupakan serahan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam, kemudian dititipkan kepada YIARI untuk menjalani perawatan. Namun, membawa mereka kembali ke hutan bukan perkara sederhana. Menurut Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kukang hanya dapat dilepasliarkan jika sehat secara fisik dan perilaku. Setiap individu harus menjalani pemeriksaan fisik, darah, rontgen, serta pemeriksaan dan penanganan parasit. Setelah dinyatakan sehat, kukang menjalani karantina selama sekitar enam minggu. Mereka kemudian dipindahkan ke kandang sosialisasi agar perilaku alaminya dapat diamati. Penilaian mencakup cara makan, grooming, kondisi sosial, dan kemampuan berpindah. Pengamatan perilaku dilakukan selama sekitar 200 jam. Proses rehabilitasi tidak selalu berjalan mulus. Jika kukang mengalami diare, kebotakan, tidak mau makan, atau perubahan kondisi lainnya, satwa tersebut harus kembali diperiksa di klinik. “Tantangan terbesar justru saat kukang datang dalam kondisi parah, terutama akibat sengatan listrik,” kata Indri. Luka berat dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih. Dalam kasus tertentu, penyembuhan bekas amputasi akibat sengatan listrik berlangsung hingga 10 bulan, belum termasuk pemulihan perilakunya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 10:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000035/Anggrek03-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133093</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sulawesi, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga. Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/">Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga. Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 tahun, kelompok ini memperbanyak anggrek secara vegetatif melalui metode stek, yakni memisahkan rumpun atau cabang dari batang maupun pseudobulb. Dalam satu tanaman induk dapat tumbuh hingga 50 anakan. Bibit kemudian dipindahkan ke wadah berbahan sabut kelapa dan ditempatkan pada pohon-pohon rindang, seperti rambutan, langsat, dan cengkeh. Anggrek tumbuh baik pada musim hujan dan biasanya berbunga menjelang musim kemarau. Pada awalnya, anggota kelompok mengambil anggrek dari Hutan Campaga untuk dipelihara atau dijual. Usaha tersebut mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah per bulan. Namun, mereka kemudian menyadari populasi anggrek di hutan semakin berkurang, terutama anggrek bulan. “Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan,” kata Asri. Kelompok tersebut kini justru mengembalikan anggrek ke habitatnya. Sekitar 1.500 bibit telah ditanam kembali di Hutan Campaga. Anggrek juga ditempelkan pada pohon-pohon di sepanjang jalan desa dan kawasan wisata permandian Erbol. Hutan Campaga seluas 23 hektar dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis anggrek, pohon beringin tua Erasa Lego-lego, dan mata air Tombolo. Keberadaannya juga menjaga pasokan air bagi ratusan hektar sawah serta kebun di sekitarnya. Perbanyakan anggrek dipusatkan di sebuah greenhouse berukuran 10 × 12 meter. Tempat tersebut menampung sekitar 78&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air, Hutan Adat Pertahanan Terakhir Suku Mapur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 07:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08065955/Areal-hutan-benak-yang-tersisa-yang-terhimpit-perkebunan-sawit.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133220</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nek Aso (72), tampak kebingungan di dapur, saat kedatangan sejumlah tamu di pondoknya, pertengahan Agustus 2026. Dia ingin menyajikan teh dan kopi, tapi air bersih yang ingin dimasak tinggal setengah liter di jerigen. “Kalian mau kopi atau teh?” Para tamu yang sebagian besar mahasiswa dari Pangkalpinang sadar dengan pertanyaan itu. Mereka menjawab, “Tidak Nek, kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/">Krisis Air, Hutan Adat Pertahanan Terakhir Suku Mapur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nek Aso (72), tampak kebingungan di dapur, saat kedatangan sejumlah tamu di pondoknya, pertengahan Agustus 2026. Dia ingin menyajikan teh dan kopi, tapi air bersih yang ingin dimasak tinggal setengah liter di jerigen. “Kalian mau kopi atau teh?” Para tamu yang sebagian besar mahasiswa dari Pangkalpinang sadar dengan pertanyaan itu. Mereka menjawab, “Tidak Nek, kami sudah bawa air minum sendiri.” Nek Aso tersenyum. Nek Aso merupakan perempuan Suku Mapur yang masih hidup di sekitar hutan larangan Bukit Tabun, Dusun Pejem, Desa Gunung Pelawan, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hutan larangan Bukit Tabun yang luasnya dua hektar itu, dikelilingi perkebunan sawit perusahaan dan masyarakat. Hutan larangan Bukit Tabun bagian dari kawasan hutan adat Benak milik Suku Mapur sekitar 2.876 hektar. Hutan larangan di Benak, selain Bukit Tabun, juga hutan larangan Gunung Cundong (Condong) luasnya mencapai 320 hektar. Saat ini kawasan hutan adat Benak dikuasai perusahaan sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Negara mengakuinya sebagai kawasan hutan produksi. Belum ada pengakuan wilayah adat Suku Mapur oleh negara. Saat ini, sebagian besar masyarakat Suku Mapur berkebun atau menetap di kawasan hutan adat Benak yang belum dijadikan perkebunan sawit. Sudah dua bulan lebih hujan tidak turun di kawasan hutan adat Benak. Sejumlah anak sungai mulai mengering. Bahkan, sudah setengah bulan beberapa sumur kering. “Air buat kebutuhan sehari-hari kami dari dusun, yang dibawa anak kami.” Dijelaskan Nek Aso, sumur kering di Benak jarang sekali terjadi. Terakhir, pada 1997. Itu pun hanya berlangsung beberapa hari, sebelum hujan. “Semoga hujan turun pada September atau Oktober, jadi kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 06:21:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Abdul Haq]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053404/Tambang-Tumpang-Pitu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132969</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/">Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk Agama untuk Semesta, diskusi di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Jombang, Senin (29/8/26) itu berlangsung dalam dua sesi. Jagat merupakan akronim dari Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi. Jay Akhmad, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, mengatakan,  forum itu berangkat dari kegelisahan tentang minimnya gerakan sosial keagamaan menyikapi pelbagai krisis sosial ekologi di Indonesia. “Ini berangkat dari kegelisahan kami tentang situasi bagaimana agama, kami melihat dan merasakan masih jauh bicara dan berperan dalam isu-isu lingkungan,” ujarnya. “Gus Dur mengatakan, merusak alam sama dengan merusak kemanusiaan.” Inayah Wahid, Dewan Pengawas Greenpeace Indonesia soroti lemahnya political will negara dalam upaya perbaikan lingkungan. Foto: Abdul Haq/Mongabay Indonesia. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya menyebutkan, forum itu sebagai oase perjumpaan, yang mengingatkannya pada kisah Santo Fransiskus dari Asisi dan Sultan Malik al-Kamil. Perjumpaan itu yang menginspirasi Paus Fransiskus melahirkan dokumen seruan moral lingkungan hidup berjudul laudato si’. Salah satu misi dari penerbitan dokumen itu adalah menyelamatkan bumi. Sebab, prinsip dasarnya adalah semua makhluk adalah wajah Allah yang diciptakan dengan cinta kasih dan saling terhubung satu sama lain. Menurut dia, ada interdependensi antara manusia dan alam. “Kita semua ada di dalam satu kapal, satu rumah bersama. Agama sehebat apapun nanti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari PCS 2026: Belajar Konservasi dari Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 06:01:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08055225/Cibedug-7-scaled-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133205</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mata Mikael Ane menerawang. Dua tahun lalu, Mahkamah Agung memutus bebas perkaranya. Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Ruteng menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara terhadapnya. Mikael didakwa menggunakan atau memanfaatkan hutan secara tidak sah. Di tingkat kasasi, dia menang. Bersama sekitar 300 kepala keluarga, Mikael tinggal di wilayah adat Lok Pahar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/">Dari PCS 2026: Belajar Konservasi dari Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mata Mikael Ane menerawang. Dua tahun lalu, Mahkamah Agung memutus bebas perkaranya. Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Ruteng menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara terhadapnya. Mikael didakwa menggunakan atau memanfaatkan hutan secara tidak sah. Di tingkat kasasi, dia menang. Bersama sekitar 300 kepala keluarga, Mikael tinggal di wilayah adat Lok Pahar, Desa Ngkiong Dora, Lambaleda Timur, Manggarai Timur. “Leluhur kami tinggal di sana ribuan tahun. Lalu datang mereka dan mengatakan itu bukan hak kami. Saya bilang tidak. Karena saya bersikeras dan mempertahankan, akhirnya ditangkap,” ujar Mikael. Mikael Ane, warga Masyarakat Adat Ngkiong, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Perjuangannya mempertahankan wilayah adat pernah membawanya ke pengadilan sebelum Mahkamah Agung memutusnya bebas. Foto diambil saat People’s Conservation Summit (PCS) 2026 di Yogyakarta. Foto: Nuswantoro/Mongabay Indonesia Pengalaman berbeda datang dari Sukinah, petani asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Pada 2017, dia berdiri di depan Istana Presiden dengan kaki disemen. Itu kali kedua Sukinah bersama para perempuan Kendeng melakukan aksi tersebut untuk memprotes pendirian pabrik semen di Pati. Sebelum dikenal sebagai “Kartini Kendeng”, Sukinah adalah petani yang menggantungkan kehidupan pada tanah dan air. “Kami tidak ada lahan tidak bisa bertani, ada lahan tapi tidak ada air tidak bisa bertani juga. Maka harus sinkron. Gunung biarlah tetap menjadi gunung,” katanya. Mikael dan Sukinah ditemui secara terpisah dalam People’s Conservation Summit (PCS) 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1-3 September 2026. Forum tersebut mempertemukan masyarakat adat, komunitas lokal, akademisi, peneliti, dan pegiat konservasi untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan hutan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 04:22:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051902/Asap-dari-Gunung-Anak-Krakatau-semakin-pekat-awal-April-2020.-Foto-KPHK-Kepulauan-Krakatau.-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133196</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, msyarakat adat, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, mengatakan,  debu vulkanik mulai masuk ke halaman rumah sejak 5 September malam. Kondisi itu membuat perempuan 60 tahun ini memutuskan mengungsi ke rumah keluarga di lokasi lebih tinggi. Dia memilih mengungsi lantaran cukup trauma tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, anak krakatau menyebabkan longsoran material ke laut yang memicu tsunami dan menghantam pesisir di sekitar Selatan Sunda, yaitu pesisir Banten dan Lampung. “Rumah saya terdampak tsunami. Saya mengungsi hampir dua minggu,” kata Maryana kepada Mongabay di rumahnya, 6 September lalu. Abu vulkanik juga penuhi air sungai di Kampung Tancang. Warga khawatir karena sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Nurhayat, warga Tancang mengatakan,  kondisi air berubah setelah abu vulkanik mulai turun. Dia khawatir abu yang masuk ke aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air. “Cuci piring, baju, mandi, semua di sini. Abu ini masuk ke sungai sejak kemarin,” katanya. Abu vulkanik juga menempel di lokasi rumah dan sekitar. Aktivitas warga terganggu. Dia harus sering membersihkan teras rumah. Maryana berharap,  pemerintah segera memberikan bantuan masker medis kepada warga yang terdampak abu vulkanik. “Ini sudah berkali-kali disapu, abunya ada lagi, ada terus.” Kondisi lantai rumah warga di Desa Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>