<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=richaldo-hariandja-jakarta&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/richaldo-hariandja-jakarta/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2026 11:00:24 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Dorong Perluasan Jeda Tangkap di Kepulauan Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 11:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/27193528/Nelayan-Sinaka-Bergantung-Pada-Gurita_Jaka-HB__1255372-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131180</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan politik, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencenaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penerapan jeda tangkap gurita di Perairan Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) mulai membuahkan hasil. Para nelayan kian menyadari pentingnya menjaga populasi gurita dengan tidak membawa pulang hasil tangkapan di bawah ukuran yang disepakati. Tarsan Samaloisa, Kepala Desa Sinaka katakan, penerapan jeda tangkap itu berangkat dari kesadaran nelayan akan hasil tangkapan gurita yang makin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/">Dorong Perluasan Jeda Tangkap di Kepulauan Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penerapan jeda tangkap gurita di Perairan Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) mulai membuahkan hasil. Para nelayan kian menyadari pentingnya menjaga populasi gurita dengan tidak membawa pulang hasil tangkapan di bawah ukuran yang disepakati. Tarsan Samaloisa, Kepala Desa Sinaka katakan, penerapan jeda tangkap itu berangkat dari kesadaran nelayan akan hasil tangkapan gurita yang makin turun. Karena itu, sejak empat tahun lalu, pemerintah desa menginisiasi peraturan desa (perdes) tentang sistem buka tutup tangkapan gurita. “Meski tantangannya masih besar, tetapi kesadaran nelayan untuk tidak menangkap gurita kecil dan menangkap di daerah yang ditutup sudah mulai muncul,” katanya saat berpidato dalam acara pembukaan kembali area tangkapan gurita, Selasa (7/7/26). Tarsan yang akan  mengakhiri jabatannya sebagai kepala desa itu pun mendorong agar inovasi itu  berlanjut, meski praktik baik belum mendapat apresiasi serius dari pemerintah daerah setempat. Dia katakan, pelanggaran masih sesekali terjadi selama pelaksanaan sistem buka tutup ini tetapi kesadaran warga untuk mendukung upaya pelestarian gurita perlahan tumbuh. “Walaupun masih ada pelanggaran, masyarakat sudah mulai memahami pentingnya menjaga laut,” katanya. Menurut Tarsan, meningkatnya kesadaran itu tercermin dari dukungan untuk memperluas cakupan penerapan jeda tangkap ini. Dari yang hanya dua lokasi, Korit Buah dan Sinaka, makin luas  ke 14 dusun di Sinaka. “Itu yang sangat kita dukung. Harapan kami ke depan program ini terus berlanjut, apakah saya masih menjadi kepala desa atau nanti digantikan Plt atau penjabat. Ini sudah menjadi sebuah progres karena alam ini memang harus kita jaga,” ujarnya. Bagi masyarakat, lanjut Tarsan, laut bukan sekadar ruang hidup, tetapi menjadi penopang utama ekonomi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/dorong-perluasan-jeda-tangkap-di-kepualauan-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Rekayasa Genetik, Lalu Apa Istimewanya Semangka ‘Kotak’ dari Jepang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 10:30:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232210/Square_watermelon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131163</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semangka umumnya tumbuh bulat atau sedikit lonjong. Namun, di Jepang ada semangka yang bentuknya nyaris menyerupai kubus. Buah bernama shikaku suika ini terlihat seperti hasil rekayasa genetika, padahal proses pembuatannya jauh lebih sederhana: pertumbuhan buah diarahkan menggunakan cetakan. Gagasan semangka kotak muncul pada era 1970-an dari Tomoyuki Ono, seorang desainer grafis asal Kota Zentsuji, Prefektur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/">Bukan Rekayasa Genetik, Lalu Apa Istimewanya Semangka ‘Kotak’ dari Jepang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semangka umumnya tumbuh bulat atau sedikit lonjong. Namun, di Jepang ada semangka yang bentuknya nyaris menyerupai kubus. Buah bernama shikaku suika ini terlihat seperti hasil rekayasa genetika, padahal proses pembuatannya jauh lebih sederhana: pertumbuhan buah diarahkan menggunakan cetakan. Gagasan semangka kotak muncul pada era 1970-an dari Tomoyuki Ono, seorang desainer grafis asal Kota Zentsuji, Prefektur Kagawa. Ia merasa semangka bulat sulit disimpan di dalam lemari es. Bentuknya memakan tempat, sukar ditumpuk, dan mudah menggelinding. Tomoyuki kemudian bereksperimen menanam semangka di halaman rumah. Ketika buahnya masih muda, ia memasukkannya ke dalam kotak transparan yang kokoh. Semangka yang terus membesar akan mengikuti ruang di dalam wadah tersebut. Jadi, bentuk kotak itu bukan berasal dari varietas khusus, melainkan hasil manipulasi pertumbuhan fisik. Semangka kotak sebenarnya tidak sepenuhnya bersudut tajam. Bagian tepi dan sudutnya masih memiliki lengkungan. Meski demikian, bentuknya cukup rata sehingga lebih mudah ditumpuk, dipindahkan, dan disimpan tanpa menggelinding. Pada 1978, Tomoyuki memperkenalkan hasil eksperimennya di sebuah galeri seni di Ginza, Tokyo. Buah unik tersebut menarik perhatian masyarakat dan media, lalu mulai dijual di pasar setahun kemudian. Untuk menghasilkan bentuk yang baik, bakal buah ditempatkan dalam cetakan transparan, biasanya berbahan akrilik dengan panjang sisi sekitar 18 sentimeter. Transparansi wadah memastikan buah tetap mendapat cahaya. Selama pertumbuhan, petani harus memantau posisi semangka setiap hari agar corak kulitnya terlihat rapi dan simetris. Retakan kecil saja dapat mengurangi kualitasnya. Proses yang membutuhkan cetakan, tenaga, dan pengawasan ekstra membuat harganya jauh lebih mahal dibandingkan semangka biasa. Di Jepang, satu buah shikaku suika dapat dijual seharga 10.000–20.000&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bukan-rekayasa-genetik-lalu-apa-istimewanya-semangka-kotak-dari-jepang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 08:22:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28082235/Copy-of-Thumbnail-Website-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=131214</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekologi pesisir]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Bajo di Kampung Bajo Tilamuta, laut bukan sekadar sumber penghidupan. Laut adalah ruang hidup yang membentuk identitas, pengetahuan, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, kehidupan yang telah lama bergantung pada laut kini menghadapi berbagai tantangan. Hingga saat ini, masyarakat Bajo belum memiliki sistem pengaturan tenurial atau hak penguasaan wilayah laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/">Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Bajo di Kampung Bajo Tilamuta, laut bukan sekadar sumber penghidupan. Laut adalah ruang hidup yang membentuk identitas, pengetahuan, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, kehidupan yang telah lama bergantung pada laut kini menghadapi berbagai tantangan. Hingga saat ini, masyarakat Bajo belum memiliki sistem pengaturan tenurial atau hak penguasaan wilayah laut yang disepakati secara formal. Ketidakjelasan batas wilayah tangkap membuat mereka rentan terhadap tekanan dari pihak luar, sementara perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi dan memaksa sebagian nelayan melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Dalam dua dekade terakhir, perubahan juga terjadi pada ekosistem pesisir. Warga mencatat pemutihan karang yang terjadi pada 2022, menurunnya populasi penyu di Pulau Tinumang, serta hilangnya dugong dari perairan Pulau Asiangi. Di sisi lain, perubahan sosial turut memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk berkurangnya minat generasi muda untuk melanjutkan profesi sebagai nelayan. Melalui perjalanan ke Kampung Bajo Tilamuta, Mongabay Indonesia mendokumentasikan kehidupan masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan laut. Film ini mengajak penonton mendengar langsung suara warga, memahami hubungan mereka dengan ruang laut yang telah dijaga secara turun-temurun, serta melihat berbagai tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan budaya, mata pencaharian, dan hak atas wilayah pesisir mereka. &nbsp; The post Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/07/rumah-yang-bernama-laut-cerita-dari-desa-bajo-tilamuta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Lagi di Cikananga, Chiki Kini Hidup Bebas di Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 06:53:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28064750/Chiki_Habituasi-prapelepasliaran-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131205</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Anda masih ingat Chiki? Setelah satu tahun menjalani rehabilitasi di Cikanangan Wildlife Center (CWC) di Cikananga, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kucing kuwuk ini akhirnya kembali ke habitat alaminya. Pelepasan Prionailurus bengalensis yang sejak kecil kehilangan induk ini, menandai berakhirnya proses panjang pemulihan kesehatan dan pengembalian naluri liar Chiki, agar mampu hidup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/">Tidak Lagi di Cikananga, Chiki Kini Hidup Bebas di Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Anda masih ingat Chiki? Setelah satu tahun menjalani rehabilitasi di Cikanangan Wildlife Center (CWC) di Cikananga, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kucing kuwuk ini akhirnya kembali ke habitat alaminya. Pelepasan Prionailurus bengalensis yang sejak kecil kehilangan induk ini, menandai berakhirnya proses panjang pemulihan kesehatan dan pengembalian naluri liar Chiki, agar mampu hidup di hutan. Bagi Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT), pelepasliaran tak hanya membuka pintu kandang. Tahapan ini merupakan hasil evaluasi ketat terhadap kondisi fisik, perilaku, hingga kemampuan bertahan hidup tanpa bantuan manusia. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ YKCT, mengatakan anak kucing yang ditemukan warga di sekitar lapangan golf di Bogor itu, menunjukkan perkembangan positif. Tubuhnya stabil dengan kemampuan bergerak dan memanjat yang baik. Berat badannya juga ideal, sebagai bekal menghadapi alam liar. Namun, aspek terpenting bukan hanya kondisi fisik, melainkan perilaku alami. “Chiki tetap menunjukkan sifat liar. Ia aktif pada peralihan siang dan malam, waspada lingkungan sekitar, serta tidak bergantung pada kehadiran manusia,” jelasnya, Sabtu (25/7/26). Ketika tiba di pusat konservasi seluas 14 hektar pada Juli 2025, Chiki masih anakan yang belum mampu bertahan hidup. Tim harus memastikan kebutuhan nutrisi dan kesehatannya terpenuhi, tanpa membuatnya bergantung pada manusia. Seiring waktu, perubahan perilakunya mulai terlihat, yaitu kemampuan hidup mandiri di habitat aslinya. Bagi Meidi, setiap pelepasliaran selalu menghadirkan perasaan yang sulit digambarkan. Ada rasa syukur, karena satwa yang sebelumnya membutuhkan pertolongan kini memperoleh kesempatan kedua hidup bebas. “Tujuan utama penyelamatan satwa bukan memelihara sepanjang hidup, melainkan mengembalikannya ke alam ketika mereka telah siap.” Chiki merupakan kucing hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/tidak-lagi-di-cikananga-chiki-kini-hidup-bebas-di-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Lebah Memilih Sarang Segi Enam, Bukan Lingkaran atau Memanjang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 05:00:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053513/lebah-Madu-7870-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131090</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat melihat sarang lebah madu, satu pola hampir selalu mencuri perhatian: deretan ruang kecil berbentuk segi enam atau heksagon. Sel-sel tersebut tersusun rapat, saling menopang, dan membentuk bangunan yang kuat. Kerapian itu membuat lebah dijuluki arsitek alam. Namun, apakah lebah benar-benar merancang bentuk heksagon menggunakan perhitungan matematika? Charles Darwin pernah menjelaskan bahwa bentuk sarang merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/">Mengapa Lebah Memilih Sarang Segi Enam, Bukan Lingkaran atau Memanjang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat melihat sarang lebah madu, satu pola hampir selalu mencuri perhatian: deretan ruang kecil berbentuk segi enam atau heksagon. Sel-sel tersebut tersusun rapat, saling menopang, dan membentuk bangunan yang kuat. Kerapian itu membuat lebah dijuluki arsitek alam. Namun, apakah lebah benar-benar merancang bentuk heksagon menggunakan perhitungan matematika? Charles Darwin pernah menjelaskan bahwa bentuk sarang merupakan hasil seleksi alam. Koloni yang mampu membangun sarang kuat dengan lebih sedikit tenaga, sedikit limbah madu, dan penggunaan lilin paling hemat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bentuk heksagonal memungkinkan banyak sel disusun tanpa menyisakan ruang kosong di antaranya. Namun, sejumlah ilmuwan menawarkan penjelasan lain. Menurut penelitian BL Karihaloo, K. Zhang, dan J. Wang, lebah kemungkinan tidak langsung membangun sel berbentuk segi enam. Sel tersebut awalnya berbentuk silinder, lalu berubah menjadi heksagonal akibat sifat fisik lilin. Lebah pekerja menghasilkan panas yang membuat lilin meleleh pada suhu sekitar 45 derajat Celsius. Ketika lilin di persimpangan tiga sel melunak dan mengalir, dinding-dinding sel yang semula melingkar saling menekan dan membentuk sudut tajam. Proses serupa dapat dilihat pada kumpulan sedotan plastik yang dipanaskan hingga mendekati titik leleh. Bidang pertemuan antarlingkaran perlahan berubah menyerupai heksagon. Perubahan tersebut berlangsung cepat. Perhitungan menunjukkan bahwa bentuk lingkaran dapat berubah menjadi heksagonal dalam enam detik jika seluruh lilin dihangatkan, atau sekitar 36 detik jika hanya sebagian yang menerima panas. Meski begitu, fisika bukan satu-satunya penjelasan. Penelitian lain menunjukkan bahwa lebah mampu menyesuaikan rancangan sarangnya ketika menghadapi konstruksi yang tidak sempurna. Mereka dapat mengubah kemiringan, ukuran, dan jumlah dinding agar sel-sel baru tetap tersambung.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-lebah-memilih-sarang-segi-enam-bukan-lingkaran-atau-memanjang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 04:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232438/Sisik-trenggiling-yang-diamankan-dari-tiga-oknum-aparat-dan-seorang-sipil-di-Kabupaten-Asahan-Sumut-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131178</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Trenggiling (Manis javanica) terus jadi target sasaran perdagangan ilegal di Sumatera Utara (Sumut). Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Sumut mencatat, perdagangan ilegal trenggiling mencapai 28% kasus perdagangan ilegal satwa liar periode 2016-2026. Ia bahkan peringkat pertama kasus perdagangan gelap periode 2025-2026. Indra Kurnia, Direktur Perlindungan Spesies dan Habitat Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/">Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Trenggiling (Manis javanica) terus jadi target sasaran perdagangan ilegal di Sumatera Utara (Sumut). Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Sumut mencatat, perdagangan ilegal trenggiling mencapai 28% kasus perdagangan ilegal satwa liar periode 2016-2026. Ia bahkan peringkat pertama kasus perdagangan gelap periode 2025-2026. Indra Kurnia, Direktur Perlindungan Spesies dan Habitat Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL–OIC), dalam diskusi publik akhir Juni lalu, menyebut, Medan dan Tanjung Balai di Asahan jadi dua pintu utama pengumpulan dari seluruh Indonesia sebelum tersebar luas. Jalur penyelundupan lanjut ke Malaysia, kemudian Vietnam atau Kamboja, hingga mencapai Tiongkok sebagai pasar tujuan utama. &#8220;Jalur laut dari Tanjung Balai ini pun diketahui beririsan persis dengan jalur peredaran narkotika, memperlihatkan betapa rapi, terorganisir, dan berbahayanya jaringan kriminal ini,&#8221; katanya. Pola penyitaan pun  berubah drastis. Di Aceh, umumnya meliputi potongan tubuh, 48 kejadian. Di Sumut, tren 2025 menunjukkan dominasi satwa utuh, dan komposisi keduanya hampir seimbang pada 2026. Selama 2024-2026, katanya, aparat  menyita total 3.451,29 kilogram sisik trenggiling. Setiap satu kilogram sisik berasal dari 4-5  trenggiling, berarti setidaknya 13.805 hilang dari alam, dengan kerugian ekologis negara mencapai Rp648,53 miliar. &#8220;Mayoritas yang tertangkap adalah pengepul, sementara pemburu di lapangan umumnya didorong kondisi ekonomi yang sulit. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan ganda: penegakan hukum yang tegas bagi bandar besar, disertai pemberdayaan ekonomi warga sekitar hutan di Sumut.&#8221; Dede Tanjung, Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, menegaskan trenggiling bukan barang dagangan. Peraturan Pemerintah 7/1999, dan  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 106/2018 melindungi hewan ini. Juga, secara internasional,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Fosil Ular Berusia 80 Juta Tahun Ungkap Ular Purba Sudah Hidup di Bawah Tanah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 03:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28032618/efc2a61b-ab5c-4efa-95ab-2f86f4c707a9_0c31085c-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131193</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular merupakan salah satu kelompok reptil paling sukses dan beragam di dunia, dengan lebih dari 4.000 spesies yang tersebar di berbagai benua. Namun asal-usul evolusi mereka, apakah nenek moyang ular pertama hidup di air, di permukaan tanah, atau di bawah tanah, masih menjadi perdebatan ilmiah selama lebih dari seabad. Sebuah fosil ular yang tersimpan dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/">Fosil Ular Berusia 80 Juta Tahun Ungkap Ular Purba Sudah Hidup di Bawah Tanah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular merupakan salah satu kelompok reptil paling sukses dan beragam di dunia, dengan lebih dari 4.000 spesies yang tersebar di berbagai benua. Namun asal-usul evolusi mereka, apakah nenek moyang ular pertama hidup di air, di permukaan tanah, atau di bawah tanah, masih menjadi perdebatan ilmiah selama lebih dari seabad. Sebuah fosil ular yang tersimpan dengan sangat baik dari Brasil memberi para ilmuwan gambaran paling jelas soal bagaimana ular pertama kali berevolusi. Fosil berbentuk tiga dimensi ini menunjukkan bahwa sebagian ular purba sudah beradaptasi hidup di bawah tanah, jauh sebelum spesies ular modern muncul. Spesies baru ini diberi nama Tametara mirim, diambil dari bahasa Tupi-Guarani yang berarti &#8220;berhias&#8221; dan &#8220;kecil&#8221;. Fosil itu ditemukan di batuan berusia sekitar 80 juta tahun di negara bagian São Paulo, Brasil, dan hidup pada Zaman Kapur Akhir, berdampingan dengan burung purba dan dinosaurus sauropoda. Penelitian yang dipimpin Tiago Simões dari Princeton University ini melibatkan peneliti dari University of Helsinki dan Museums Victoria Research Institute, dan telah terbit di jurnal Nature. Fosil Langka yang Tersimpan Utuh Sebagian besar fosil ular hanya berupa lempengan pipih akibat tekanan batuan selama jutaan tahun. Dari hanya sepuluh fosil ular Zaman Mesozoikum yang pernah ditemukan, cuma tiga yang tersimpan dalam bentuk tiga dimensi. Keterbatasan ini membuat asal-usul ular, apakah dari laut, permukaan tanah, atau bawah tanah, masih diperdebatkan selama lebih dari satu abad. Tametara mirim menjadi pengecualian langka. Tengkoraknya yang hanya berukuran 20 milimeter tetap utuh berbentuk tiga dimensi, lengkap dengan rongga otak di dalamnya. Fosil ini juga menjadi kerangka ular berartikulasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/28/fosil-ular-berusia-80-juta-tahun-ungkap-ular-purba-sudah-hidup-di-bawah-tanah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Orang Muda di Bali Jaga Hutan dan Ekowisata Lokal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jul 2026 00:01:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/08082442/Foto-1-Lanskap-Danau-Tamblingan-Kabupaten-Buleleng-Bali-dikelilingi-Alas-Mertajati.-Hutan-ini-memiliki-luas-1.336-hektar.-Foto-I-Gusti-Ayu-Septiari_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131115</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik Hutan Mertajati, ada organisasi Baga Raksa Alas Mertajati (Brasti) yang menjaga kelestarian hutan dan memperjuangkan pengakuan hutan adat. Brasti beranggotakan orang muda dari empat desa (catur desa) yang menjadi wilayah Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (MADT).  Sejak dulu, mereka sudah hidup bersama Danau Tamblingan dan Alas (hutan) Mertajati. Mereka menganggap hutan sebagai amanah leluhur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/">Cerita Orang Muda di Bali Jaga Hutan dan Ekowisata Lokal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik Hutan Mertajati, ada organisasi Baga Raksa Alas Mertajati (Brasti) yang menjaga kelestarian hutan dan memperjuangkan pengakuan hutan adat. Brasti beranggotakan orang muda dari empat desa (catur desa) yang menjadi wilayah Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (MADT).  Sejak dulu, mereka sudah hidup bersama Danau Tamblingan dan Alas (hutan) Mertajati. Mereka menganggap hutan sebagai amanah leluhur dan danau Tamblingan menjadi kunci pengelolaan air di Kabupaten Tabanan.  Selama bertahun-tahun, mereka menjaga kelestarian hutan, keputusan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup pada 1996 mengubah Alas Mertajari menjadi Taman Wisata Alam, yang malahan membuka celah bagi ancaman hutan tersebut. Tak hanya itu, pada 2008, ada rencana pemekaran desa yang berpotensi mengaburkan nilai sejarah dan hak adat kawasan.  Menjawab tantangan tersebut, mereka membentuk Brasti yang terdiri dari perwakilan masing-masing desa. Brasti menyadari pentingnya hutan adat dan memperjuangkannya ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  “Hutan adalah sumber utama hidup kalian, tidak boleh diutak-atik, hanya boleh mengambil rembesannya saja,”  kata Ardana menirukan pesan leluhur.  Perjuangannya tentu tidak mudah. Sejak 2019 hingga saat ini, Brasti masih menunggu langkah Pemkab Buleleng yang masih belum membentuk tim verifikasi untuk menjadikannya hutan adat.  Dalam perjalanannya, Brasti menjawab persoalan ekonomi yang sering menjadi alasan warga untuk masuk dan mengambil hasil hutan. Brasti membentuk Baga Sri Sedana yang bertugas melakukan penguatan ekonomi di luar kawasan hutan dengan ekonomi konservasi, kreatif, dan pemanfaatan sumber daya lokal.  Salah satu strategi mereka adalah mengajak petani beralih untuk menanam tanaman keras yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga menguatkan bentang alam luar kawasan Alas Mertajati. Saat ini, kopi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/cerita-orang-muda-di-bali-jaga-hutan-dan-ekowisata-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Sungai yang Hilang di Dalam Konsesi Sawit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 23:58:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Windrawan Inantha]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/09/22033140/Perkebunan-di-bantaran-sungai-Aceh-Utara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131186</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada pertengahan Mei 2026, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menetapkan satu korporasi sawit sebagai tersangka karena menanami kawasan sempadan Sungai Air Hitam, anak Sungai Nilo, di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Penyidik menemukan barisan sawit tumbuh hanya dua sampai lima meter dari tepi sungai, jauh di dalam ruang yang menurut aturan seharusnya dibiarkan kosong sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/">Opini: Sungai yang Hilang di Dalam Konsesi Sawit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada pertengahan Mei 2026, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menetapkan satu korporasi sawit sebagai tersangka karena menanami kawasan sempadan Sungai Air Hitam, anak Sungai Nilo, di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Penyidik menemukan barisan sawit tumbuh hanya dua sampai lima meter dari tepi sungai, jauh di dalam ruang yang menurut aturan seharusnya dibiarkan kosong sebagai pelindung. Taksiran kerugian ekologis mendekati Rp188 miliar. Kasus ini menyentuh persoalan yang jauh lebih luas daripada satu perusahaan, yaitu, nasib sungai-sungai kecil yang perlahan lenyap dari pengelolaan di dalam perkebunan sawit tua. Di banyak lanskap sawit lama, sungai jarang lenyap dalam satu peristiwa, yang terjadi adalah penyusutan perlahan dari pengelolaan kebun. Mula-mula satu anak sungai hilang dari peta kerja, lalu raib dari desain blok tanam, kemudian luput dari pemahaman pekerja lapangan. Akhirnya,  lepas dari tanggung jawab pada saat batas baru hak guna usaha tidak lagi memasukkan sempadannya. Airnya boleh jadi masih mengalir, tetapi sungai itu tidak lagi sebagai ekosistem. Ketika produksi sawit tak jarang abaikan keberadaan sungai di dalamnya . Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Sungai yang hilang Status yang melekat pada sungai menyusut menjadi sekadar alur teknis di tengah kawasan produksi. Inilah yang dimaksud sungai yang hilang,  bukan air yang menguap, melainkan sungai yang kehilangan pengakuan, perlindungan, dan pemiliknya. Persoalan ini berakar jauh ke tahap perencanaan perkebunan. Ketika kebun dibuka beberapa dekade lalu, peta topografi, peta izin, peta hidrologi, peta tata ruang, dan peta operasional perusahaan kerap tidak saling terbaca. Anak sungai kecil, rawa musiman, alur limpasan, dan cekungan air dianggap kurang penting dibanding&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/opini-sungai-yang-hilang-di-dalam-konsesi-sawit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dung Beetle, Si ‘Petugas Kebersihan’ Ekosistem yang Menggelindingkan Kotoran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dung-beetle-si-petugas-kebersihan-ekosistem-yang-menggelindingkan-kotoran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dung-beetle-si-petugas-kebersihan-ekosistem-yang-menggelindingkan-kotoran/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 11:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21233111/Kumbang-kotoran1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131062</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi manusia, kotoran hewan mungkin hanya limbah yang harus disingkirkan. Namun, bagi kumbang kotoran dari famili Scarabaeidae yang dikenal melalui karakter unik dalam serial film kartun komedi terkenal “Larva”, benda tersebut merupakan sumber makanan, tempat berkembang biak, sekaligus bagian penting dari kehidupannya. Kebiasaan menggulung, menggelindingkan, dan mengubur kotoran ternyata juga memberi manfaat besar bagi lingkungan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dung-beetle-si-petugas-kebersihan-ekosistem-yang-menggelindingkan-kotoran/">Dung Beetle, Si ‘Petugas Kebersihan’ Ekosistem yang Menggelindingkan Kotoran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi manusia, kotoran hewan mungkin hanya limbah yang harus disingkirkan. Namun, bagi kumbang kotoran dari famili Scarabaeidae yang dikenal melalui karakter unik dalam serial film kartun komedi terkenal “Larva”, benda tersebut merupakan sumber makanan, tempat berkembang biak, sekaligus bagian penting dari kehidupannya. Kebiasaan menggulung, menggelindingkan, dan mengubur kotoran ternyata juga memberi manfaat besar bagi lingkungan. Di dunia terdapat sekitar 7.000 spesies kumbang kotoran. Berdasarkan cara makan dan bersarang, kumbang ini terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok “penghuni” menetap, berkembang biak, dan membesarkan larva langsung di tumpukan kotoran. Kelompok “pembuat terowongan” menggali tanah di bawah kotoran, lalu menyeret sebagian tinja ke dalamnya. Sementara itu, kelompok “penggulung” membentuk kotoran menjadi bola dan membawanya ke tempat aman untuk dikubur. Bola tersebut bukan sekadar bekal makanan. Sebagian juga berfungsi sebagai bola induk, tempat kumbang meletakkan telur dan larvanya berkembang. Dengan memindahkannya dari lokasi awal, kumbang mengurangi persaingan dengan kumbang lain sekaligus melindungi calon anaknya. Aktivitas yang tampak sederhana ini membuat kumbang kotoran dijuluki “petugas kebersihan” ekosistem. Mereka mencegah tinja menumpuk di satu tempat dan mempercepat proses penguraiannya. Ketika kotoran dibenamkan, unsur-unsur seperti nitrogen, fosfor, dan kalsium ikut masuk ke tanah. Proses tersebut meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki sirkulasi udara, dan mempercepat daur ulang nutrisi. Di kawasan pertanian dan peternakan, keberadaan kumbang kotoran alias Dung Beetle membantu menjaga padang rumput tetap sehat. Kotoran yang dibiarkan di permukaan dapat merusak rumput serta menjadi tempat berkembangnya lalat dan parasit. Sebuah uji coba menunjukkan bahwa kehadiran kumbang ini meningkatkan jumlah kotoran yang terurai sekitar 53 persen, sekaligus mengurangi sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dung-beetle-si-petugas-kebersihan-ekosistem-yang-menggelindingkan-kotoran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dung-beetle-si-petugas-kebersihan-ekosistem-yang-menggelindingkan-kotoran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bekantan, Arsitek Ekosistem Hutan Mangrove Kalimantan yang Terlupakan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/bekantan-arsitek-ekosistem-hutan-mangrove-kalimantan-yang-terlupakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/bekantan-arsitek-ekosistem-hutan-mangrove-kalimantan-yang-terlupakan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 06:08:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Founder’s Briefs]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/27060154/proboscis-monkey-1-1536x1024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131168</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan dengan ciri khas hidung unik dan perut agak besar. Di balik penampilannya yang jenaka, bekantan memiliki peran serius: ia adalah arsitek utama rimbunnya hutan mangrove Kalimantan. Bekantan (Nasalis larvatus) adalah satwa yang habitatnya berada di hutan mangrove, rawa gambut, dan hutan riparian di sepanjang sungai. Selain hidungnya yang mencolok, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/bekantan-arsitek-ekosistem-hutan-mangrove-kalimantan-yang-terlupakan/">Bekantan, Arsitek Ekosistem Hutan Mangrove Kalimantan yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan dengan ciri khas hidung unik dan perut agak besar. Di balik penampilannya yang jenaka, bekantan memiliki peran serius: ia adalah arsitek utama rimbunnya hutan mangrove Kalimantan. Bekantan (Nasalis larvatus) adalah satwa yang habitatnya berada di hutan mangrove, rawa gambut, dan hutan riparian di sepanjang sungai. Selain hidungnya yang mencolok, satwa ini gampang dikenali dari warna rambut punggung cokelat kemerahan yang berpadu dengan warna putih keabuan di bagian perut. Bekantan tidak sembarangan memilih tempat tinggal. Ketersediaan sungai, pepohonan tinggi untuk tidur, dan kelimpahan pakan seperti daun muda, buah, dan kulit pohon mangrove menjadi penentu utama di mana kelompok bekantan bisa bertahan hidup. Kondisi ini membuat mereka sangat bergantung pada kualitas ekosistem lahan basah yang meliputi hutan mangrove dan rawa air tawar di sepanjang aliran sungai. Sebagai pemakan daun sekaligus buah, bekantan menggigit, memangkas, dan mengunyah dedaunan mangrove setiap hari. Kebiasaan makan yang intensif ini secara perlahan mengubah struktur tajuk hutan, mempengaruhi pola pertumbuhan cabang baru, dan bahkan menggeser persaingan antarjenis pohon mangrove dalam memperebutkan cahaya matahari. Peran bekantan sebagai arsitek ekosistem paling jelas terlihat dari cara mereka makan. Bekantan adalah pemakan daun dan biji-bijian dari puluhan jenis pohon bakau, mulai dari Rhizophora, Bruguiera, hingga Sonneratia. Proses makan yang tampak sepele ini ternyata punya konsekuensi ekologis besar bagi regenerasi hutan. Penelitian sebelumnya dalam studi ilmiah bertajuk “Seed dispersal by proboscis monkeys: the case of Nauclea spp” secara khusus membuktikan bahwa biji tumbuhan yang dikonsumsi dan dikeluarkan melalui kotoran bekantan, memiliki tingkat keberhasilan germinasi (perkecambahan) jauh lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/bekantan-arsitek-ekosistem-hutan-mangrove-kalimantan-yang-terlupakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/bekantan-arsitek-ekosistem-hutan-mangrove-kalimantan-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rahasia di Balik Gerakan Menyamping Kepiting Sejak 200 Juta Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 03:11:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131037</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Konservasi, konservasi laut, sains dan Teknologi, dan satwa laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pernahkah Anda memperhatikan kepiting yang bergerak cepat di pantai? Alih-alih berjalan lurus ke depan, hewan ini justru melesat ke kanan atau kiri. Gerakannya terlihat janggal, tetapi bukan tanpa alasan. Cara berjalan tersebut merupakan hasil evolusi yang diperkirakan bermula sekitar 200 juta tahun lalu. Rahasia gerakan kepiting terletak pada susunan sendi kakinya. Struktur tersebut membuat kaki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/">Rahasia di Balik Gerakan Menyamping Kepiting Sejak 200 Juta Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pernahkah Anda memperhatikan kepiting yang bergerak cepat di pantai? Alih-alih berjalan lurus ke depan, hewan ini justru melesat ke kanan atau kiri. Gerakannya terlihat janggal, tetapi bukan tanpa alasan. Cara berjalan tersebut merupakan hasil evolusi yang diperkirakan bermula sekitar 200 juta tahun lalu. Rahasia gerakan kepiting terletak pada susunan sendi kakinya. Struktur tersebut membuat kaki lebih mudah digerakkan ke samping daripada ke depan. Dengan bentuk tubuh yang lebar dan pipih, kepiting dapat menghasilkan langkah menyamping yang lebih panjang dan cepat. Kemampuan ini sangat berguna ketika harus melarikan diri dari predator tanpa membuang waktu untuk memutar tubuh. Penelitian berjudul Evolution of Sideways Locomotion in Crabs menelusuri asal-usul perilaku tersebut. Para peneliti mengamati 50 spesies kepiting hidup dari lapangan, laboratorium, koleksi pribadi, hingga pasar ikan. Pergerakan setiap kepiting direkam, lalu dibagi menjadi dua kelompok: 35 spesies berjalan menyamping, sedangkan 15 lainnya bergerak maju. Tidak ditemukan jenis gerakan yang berada di antara keduanya. Data perilaku itu kemudian dipadukan dengan pohon filogenetik berbasis data genomik. Hasilnya menunjukkan bahwa semua kepiting yang berjalan menyamping berasal dari leluhur yang berjalan maju. Dalam beberapa garis keturunan, ada spesies yang kemudian kembali berjalan ke depan karena menyesuaikan diri dengan kondisi ekologis tertentu. Para peneliti memperkirakan leluhur kepiting yang berjalan menyamping muncul pada awal periode Jurassic, sekitar 200 juta tahun lalu, setelah kepunahan Trias–Jurassic. Masa itu ditandai oleh pecahnya benua raksasa Pangea, meluasnya habitat laut dangkal, serta meningkatnya persaingan antara pemangsa dan mangsa di laut. Gerak menyamping memberi kepiting keunggulan untuk bertahan. Mereka dapat melarikan diri dengan cepat ke&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Rawa Paminggir Merajut Asa di Tengah Susutnya Tangkapan Ikan Rawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 01:30:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26202336/toman1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131149</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hingga matahari di atas kepala, hasil tangkapan Lamsah, warga Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak memuaskan. Berjibaku sejak subuh, perempuan 50 tahun ini baru mendapat empat kilogram ikan kecil dari hasil menarik rengge (jaring insang yang terbentang memanjang di bawah air). &#8220;Sudah sejak subuh di sini dan belum dapat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/">Nelayan Rawa Paminggir Merajut Asa di Tengah Susutnya Tangkapan Ikan Rawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hingga matahari di atas kepala, hasil tangkapan Lamsah, warga Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak memuaskan. Berjibaku sejak subuh, perempuan 50 tahun ini baru mendapat empat kilogram ikan kecil dari hasil menarik rengge (jaring insang yang terbentang memanjang di bawah air). &#8220;Sudah sejak subuh di sini dan belum dapat banyak ikan,&#8221; katanya akhir Juni. Paminggir adalah padang rawa raksasa. Luas 156 kilometer², setara satu setengah Kota Banjarmasin. Kawasan ini habitat berbagai ikan air tawar–mulai dari puyau, papuyu, haruan, seluang, sepat, sanggi, sanggang, lais, pipih, biawan, baung, hingga jelawat. Tangkapan di kampung ini sudah berkurang. Jika dahulu bisa memperoleh puluhan kilogram ikan dengan gampang, kini mencari lima kilogram saja terasa sulit. &#8220;Lima tahun belakangan hasil tangkapan terus berkurang. Apalagi tahun ini, susah sekali.&#8221; Dahulu, katanya, sehari bisa dapat Rp100.000 sampai Rp150.000. Itu waktu harga ikannya murah. Sekarang mencari Rp50 ribu saja berat.&#8221; Padahal, rawa itu tumpuan hidup mayoritas penduduk Paminggir. Lamsah telah menjadi nelayan sejak remaja. Awalnya, dia hanya membantu ibundanya, lalu mulai mandiri di kemudian hari. Ibu 3 anak ini masih mencari ikan untuk menambal penghasilan suaminya yang juga nelayan. &#8220;Sekarang kalau cuma berharap dari pendapatan abahnya (suami), bisa tidak cukup untuk kebutuhan hidup.” Rusmiati, tetangganya, bernasib sama. Meski sudah memasang rengge sebelum matahari terbit, perempuan 53 tahun itu hanya mengumpulkan sekitar 2,5 kilogram ikan. &#8220;Dapat Rp25.000 tetap disyukuri. Memang susah mencari ikan dalam lima tahun terakhir. Beberapa jenis ikan, seperti lais, pipih, dan sanggang, bahkan sudah jarang ditemui,&#8221; kata ibu tiga anak itu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Banda Aceh Upaya Jaga Tradisi Tarek Pukat di Tengah Tantangan Sampah Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 01:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/24100202/Foto-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131038</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah matahari pagi yang mulai menyengat, tujuh orang berdiri di bibir Pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Aceh. Kaki mundur seirama, menarik jaring sepanjang 700 meter yang sebelumnya mereka tebar di laut. “Terus.. teruss.. mundur!,” kata Surya Abid, Ketua Kelompok Nelayan Gampong Jawa berdiri di barisan paling depan memberi aba-aba. Suaranya memecah debur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/">Nelayan Banda Aceh Upaya Jaga Tradisi Tarek Pukat di Tengah Tantangan Sampah Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah matahari pagi yang mulai menyengat, tujuh orang berdiri di bibir Pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Aceh. Kaki mundur seirama, menarik jaring sepanjang 700 meter yang sebelumnya mereka tebar di laut. “Terus.. teruss.. mundur!,” kata Surya Abid, Ketua Kelompok Nelayan Gampong Jawa berdiri di barisan paling depan memberi aba-aba. Suaranya memecah debur ombak, mengatur ritme tarikan hingga jaring sampai ke daratan. Pagi itu, hari ketiga mereka melaksanakan tradisi tarek pukat setelah sudah hampir sebulan absen. Angin barat membawa timbulan sampah berupa batang kayu, ranting, dan plastik yang membuat mereka enggan melaut. “Kalau ada sampah, kami hanya bisa menjadi penonton. Kalau tetap labuh bikin jaring robek sementara hasil nggak ada. Habis itu, kami juga capek buat jaring lagi. Kadang bisa 3-4 hari. Belum lagi sekali rehab biayanya sampai Rp7 juta,” kata Surya, Kamis (9/7/26). Efendi, apid atau pembantu panglima laot sedang menjahit pukat yang sobek. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Upaya pertahankan tradisi Tradisi tarek pukat sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir sejak masa Kesultanan Aceh. Di Banda Aceh, sudah tak banyak terapkan cara menangkap ikan secara gotong royong ini. Selain di Gampong Jawa, tradisi ini juga ada di empat kecamatan pesisir, yakni, Syiah Kuala, Kuta Alam, Kutaraja, dan Meuraxa. Tarek pukat biasa mereka lakukan selama 2–3 hari sekali tergantung cuaca, mulai dari pukul 9.00, selepas tengah hari dan sekitar pukul 15.00-an. Surya bilang, mereka berupaya mempertahankan tradisi  leluhur ini di tengah banyaknya pilihan alat tangkap. Tak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Flamingo Tidak Jatuh Saat Berdiri Satu Kaki, Bahkan Ketika Tidur?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 23:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/11/22043130/Flamingo-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131015</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dengan leher panjang, bulu merah jambu, dan kaki kurus menjulang, flamingo merupakan salah satu burung yang paling mudah dikenali. Namun, ada satu perilakunya yang terus mengundang rasa penasaran: burung ini mampu berdiri dengan satu kaki dalam waktu lama, bahkan ketika sedang tidur. Bagi manusia, mempertahankan posisi seperti itu membutuhkan kerja otot dan konsentrasi. Pada flamingo, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/">Mengapa Flamingo Tidak Jatuh Saat Berdiri Satu Kaki, Bahkan Ketika Tidur?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dengan leher panjang, bulu merah jambu, dan kaki kurus menjulang, flamingo merupakan salah satu burung yang paling mudah dikenali. Namun, ada satu perilakunya yang terus mengundang rasa penasaran: burung ini mampu berdiri dengan satu kaki dalam waktu lama, bahkan ketika sedang tidur. Bagi manusia, mempertahankan posisi seperti itu membutuhkan kerja otot dan konsentrasi. Pada flamingo, justru sebaliknya. Berdiri dengan satu kaki ternyata membutuhkan lebih sedikit energi dibandingkan berdiri dengan kedua kaki. Rahasia kemampuan tersebut terletak pada struktur tubuhnya. Penelitian yang dipimpin Young Hui Chang dari Georgia Institute of Technology dan Lena H. Ting dari Emory University menemukan bahwa sendi kaki flamingo memiliki posisi istirahat yang dapat “terkunci”. Mekanisme ini memungkinkan berat tubuhnya bertumpu pada satu sisi tanpa memerlukan aktivitas otot untuk terus menjaga keseimbangan. Temuan itu diperoleh melalui pengamatan terhadap flamingo hidup dan mati. Dari rekaman flamingo remaja di Kebun Binatang Atlanta, peneliti melihat bahwa gerakan tubuh burung berkurang ketika tertidur sambil berdiri dengan satu kaki. Eksperimen lain memberikan hasil yang lebih mengejutkan. Dua flamingo yang telah mati dari Kebun Binatang Birmingham dapat ditempatkan dalam posisi berdiri dengan satu kaki tanpa penyangga. Tubuh mereka tetap tegak meskipun tidak ada otot yang bekerja. Fenomena ini disebut mekanisme berdiam gravitasional pasif. Selain menghemat energi, berdiri dengan satu kaki diduga membantu flamingo menjaga suhu tubuh. Kaki menjadi salah satu bagian tubuh yang dapat melepaskan panas dengan cepat, terutama ketika berada di air. Dengan mengangkat dan menyembunyikan salah satu kakinya di balik bulu, flamingo dapat mengurangi bagian tubuh yang terpapar udara atau air dingin.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketekunan Harisyah Pulihkan Mangrove Tanjung Kuras</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 17:42:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26173136/Harisyah-menancapkan-kayu-penanda-lokasi-tanam-mangrove.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131140</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Petang awal Juli lalu, Harisyah belum juga selesai dengan pekerjaannya. Di tepi Sungai Siak, dia mengayunkan parang, menebas ranting dan menancapkan puluhan batang kayu, berderet, jarak sekitar 1,5 meter. Harisyah bekerja sejak pagi. Muka berpeluh. Baju pun basah. Lumpur sudah menempel di celananya. Dia sedang siapkan lahan untuk tanam mangrove. Lokasi itu tak jauh dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/">Ketekunan Harisyah Pulihkan Mangrove Tanjung Kuras</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Petang awal Juli lalu, Harisyah belum juga selesai dengan pekerjaannya. Di tepi Sungai Siak, dia mengayunkan parang, menebas ranting dan menancapkan puluhan batang kayu, berderet, jarak sekitar 1,5 meter. Harisyah bekerja sejak pagi. Muka berpeluh. Baju pun basah. Lumpur sudah menempel di celananya. Dia sedang siapkan lahan untuk tanam mangrove. Lokasi itu tak jauh dari rumahnya di Kampung Tanjung Kuras, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Persiapan itu untuk sambut tamu dari Malaysia dan Pekanbaru. Pada 6 Juli 2026 itu akan tanam mangrove. Saat momen tiba, puluhan warga dan siswa sekolah—kebetulan hari itu masih libur kenaikan kelas—berbondong-bondong mereka menyusuri lumpur, mengisi lubang tanam dengan bibit bakau yang sudah tertumpk di sana. “Lokasi ini juga akan kita jadikan rumah bibit baru. Anak-anak generasi alam akan lebih dekat belajar dan memahami mangrove. Bermain sekaligus berkegiatan,” katanya. Pria 53 tahun ini, berharap ada generasi. Untuk itu, dia libatkan anak-anak. Kalau sudah usia dewasa, bahkan berumah tangga, orang-orang akan sibuk memikirkan ekonomi. “Pak Haris, sudah tua. Beberapa tahun lagi tidak tahu kondisi tenaganya. Tapi kalau adik-adik ini, pada fase pertumbuhan sudah mengetahui mangrove, harapannya ke depan ikut peduli dengan alam yang ada di desanya,” kata Mulyadi, Direktur Yayasan Gambut. Yayasan Gambut (YG) gandeng Haris untuk rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat. Program ini kerjasama Global Environment Center (GEC) dukungan Aramco Asia Singapura. Tanjung Kuras, adalah satu dari empat lokasi target, tiga di Bengkalis. Kolaborasi di Tanjung Kuras sudah berlangsung lama. Sebelum pemulihan mangrove, kerja sama lingkungan ini juga pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Upaya Jawa Timur Siaga Kemarau Panjang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 13:03:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22003922/Pertanian-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131118</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah  Jawa Timur (Jatim) meningkatkan kesiapsiagaan antisipasi dampak kemarau panjang (El-Nino)  Godzila. Mulai dari terbitkan status siaga sampai melihat kerentanan daerah-daerah di Jatim saat kemarau dan cari cara tanganinya. Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim   terbitkan surat status siaga kekeringan di tujuh daerah, meliputi Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/">Bagaimana Upaya Jawa Timur Siaga Kemarau Panjang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah  Jawa Timur (Jatim) meningkatkan kesiapsiagaan antisipasi dampak kemarau panjang (El-Nino)  Godzila. Mulai dari terbitkan status siaga sampai melihat kerentanan daerah-daerah di Jatim saat kemarau dan cari cara tanganinya. Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim   terbitkan surat status siaga kekeringan di tujuh daerah, meliputi Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi. Sebanyak 40 juta jiwa berisiko terdampak krisis air. Data BMKG menyebutkan,  puncak musim panas di Jatim terjadi pada Agustus-September. BPBD  telah melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan menghadapi El Nino 2026. “Penanganan yang bersifat tanggap darurat, sementara dan jangka pendek. Seperti di Bondowoso dengan mendistribusikan air bersih sebanyak 10.000 liter,” ujar Gatot. Antisipasi juga BPBD lakukan terhadap sekitar 373.053 hektar lahan potensi kekeringan, mulai tingkat sedang hingga tinggi. Gatot menyebut, Bondowoso dan Situbondo sebagai wilayah yang setiap tahun rawan kekeringan. Jadi,  setiap tahun ada distribusi air bersih ke permukiman. “Kami pernah mengebor di wilayah Bondowoso, sangat dalam. Alhamdulillah airnya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan sehari-hari,” kata Gatot. Kekeringan di Desa Badur, Sumenep, Madura, yang menyebabkan kekeringan hingga warga krisis air beberapa tahun lalu. Foto: Moh Tamimi/ Mongabay Indonesia Untuk penanganan kekeringan dalam jangka panjang perlu keterlibatan semua pihak, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya, perguruan tinggi dan swasta membuat embung, pipanisasi, di daerah yang langganan kekeringan, seperti di Singosari, Kabupaten Malang,  pasang pipa dari sumber air di lereng Gunung Arjuna ke perkampungan. Dia mengimbau,  wali kota dan bupati di Jatim mengoptimalkan embung, sumur resapan, dan kolam untuk memanen air hujan. Tujuannya, menyimpan air hujan untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kelapa yang Menjadi Andalan Masyarakat Flores Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 10:03:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26095821/PENJEMURAN-KELAPA-DI-DALAM-REM-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131122</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi bisnis, hutan indonesia, nusa tenggara, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan kebun kelapa membentang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Data BPS NTT menyebutkan, tahun 2025 produksi kelapa Flores Timur mencapai 18.639,13 ton, diikuti Kabupaten Sikka 13.625,34 ton dan Kabupaten Ende 8.969,78 ton. “Kelapa dari Adonara dijual ke luar daerah melalui Kota Maumere, Sikka, berupa gelondongan dan kopra,“ ucap Eman Waton, warga Kota Larantuka, akhir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/">Kelapa yang Menjadi Andalan Masyarakat Flores Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan kebun kelapa membentang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Data BPS NTT menyebutkan, tahun 2025 produksi kelapa Flores Timur mencapai 18.639,13 ton, diikuti Kabupaten Sikka 13.625,34 ton dan Kabupaten Ende 8.969,78 ton. “Kelapa dari Adonara dijual ke luar daerah melalui Kota Maumere, Sikka, berupa gelondongan dan kopra,“ ucap Eman Waton, warga Kota Larantuka, akhir Juni 2026. Kelapa menjadi bagian penting masyarakat Flores Timur, sebagai sumber pangan, ekonomi, maupun energi. “Kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekonomi hijau yang mendukung transisi energi,” sebut Melki Koli Baran, Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), awal Juli 2026. YPPS mendorong perempuan menjadi aktor utama pengembangan ekonomi hijau dan energi terbarukan di tingkat komunitas. Mereka dilatih mengolah kopra putih memanfaatan energi surya, mengembangkan briket tempurung kelapa, serta membuat usaha produktif berbasis sumber daya lokal. “Transisi energi tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas,” ungkapnya. Rumah penjemuran kelapa menggunakan energi matahari di Desa Adobala, Flores Timur, NTT. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Rumah jemur energi matahari Sebanyak 16 anggota Konten Kaka Rindu, Desa Adobala, tengah mencungkil daging kelapa yang dikeluarkan dari rumah penjemuran menggunakan energi matahari. Rumah jemur terbuat dari balok kelapa bertingkat dua, berbentuk setengah lingkaran. Di dalamnya ada rak bambu belah untuk meletakkan kelapa, di bagian tengah dan kedua sisi rumah. Lapisan plastik ultra violet bening, menutupi rumah jemur yang berfungsi menyerap sinar mentari. “Sebelum menggunakan rumah ini, kelapa kami jemur di tanah beralaskan terpal. Butuh waktu minimal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Tanpa Cahaya di Dalam Gua, Ikan Ini Kehilangan Rongga Matanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 06:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233456/Ikan-wader-jenis-baru-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131006</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[karst, Konservasi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh di dalam gua karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seekor ikan kecil yang tidak pernah melihat cahaya. Namanya Barbodes klapanunggalensis, ikan wader endemik yang telah beradaptasi begitu jauh hingga bukan hanya kehilangan mata, tetapi juga seluruh rongga matanya. Ikan ini menghuni kolam-kolam kecil berisi air jernih yang merembes dari lantai gua. Siripnya transparan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/">Hidup Tanpa Cahaya di Dalam Gua, Ikan Ini Kehilangan Rongga Matanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh di dalam gua karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seekor ikan kecil yang tidak pernah melihat cahaya. Namanya Barbodes klapanunggalensis, ikan wader endemik yang telah beradaptasi begitu jauh hingga bukan hanya kehilangan mata, tetapi juga seluruh rongga matanya. Ikan ini menghuni kolam-kolam kecil berisi air jernih yang merembes dari lantai gua. Siripnya transparan, sementara tubuhnya memiliki warna keperakan dengan garis kemerahan. Di dalam air, ikan tersebut cenderung berenang tenang. Namun, ketika mendeteksi gangguan, ia dapat bergerak cepat. Kemampuan itu menunjukkan bahwa kehilangan mata bukan berarti kehilangan kepekaan terhadap lingkungan. Dalam kegelapan total, penglihatan tidak lagi memberikan manfaat. Melalui proses evolusi, B. klapanunggalensis justru mengandalkan indra lain untuk mengenali gerakan, getaran, gelombang air, dan perubahan di sekitarnya. Spesies ini pertama kali terlihat oleh para penelusur gua pada 2020. Dua tahun kemudian, tim peneliti kembali ke lokasi dan mengambil dua spesimen, masing-masing satu jantan dan satu betina. Setelah melalui penelitian selama tiga tahun, ikan tersebut resmi diperkenalkan sebagai spesies baru dalam jurnal ZooKeys pada Februari 2025. Menariknya, kedua spesimen ditemukan di dua kolam berbeda yang tidak terhubung oleh aliran air. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang cara keduanya berpindah dan berkembang biak. Hingga kini, kehidupan ikan tersebut masih menyimpan banyak teka-teki. Gua tempatnya hidup merupakan laboratorium alami untuk mempelajari evolusi. Lingkungan tanpa cahaya dan sumber energi yang terbatas memaksa organisme mengembangkan strategi khusus agar dapat bertahan. Hampir seluruh spesies khas gua juga memiliki tingkat endemisitas tinggi. Sebagian bahkan hanya ditemukan di satu gua atau lorong tertentu. Keunikan itu sekaligus membuat B.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebakaran TPA, Solusi Pemerintah Tak Jawab Persoalan Sampah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 03:18:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamMuhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26030300/Jatiwaringin-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131016</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Tamil melihat kilauan cahaya merah dari timbulan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipayung, sekitar pukul 19.30  WIB, kamis (16/7/26). Api segera membesar setinggi dua meter melahap gunungan sampah tepat di depan gubuk ketika dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di gubuknya malam itu. Perempuan 45 tahun itu bergegas keluar gubuk. “Kebakaran! kebakaran!” Cucunya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/">Menyoal Kebakaran TPA, Solusi Pemerintah Tak Jawab Persoalan Sampah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Tamil melihat kilauan cahaya merah dari timbulan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipayung, sekitar pukul 19.30  WIB, kamis (16/7/26). Api segera membesar setinggi dua meter melahap gunungan sampah tepat di depan gubuk ketika dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di gubuknya malam itu. Perempuan 45 tahun itu bergegas keluar gubuk. “Kebakaran! kebakaran!” Cucunya segera lapor ke pos satpam TPA di Kota Depok, Jawa Barat ini. “Api langsung gede. Tiba-tiba api merah bae!” ujar Tamil ketika Mongabay temui Jumat (17/7/26). Saat si jago merah melahap timbulan sampah kondisi sekitar tampak sepi. Hanya terdapat beberapa truk terparkir di sekitar gunungan sampah itu. Dia melihat api juga menyambar truk berisi sampah. Satpam dan supir truk berjibaku memadamkan api dengan alat seadanya. Tak lama, delapan mobil pemadam kebakaran tiba. Reni Siti Nuraeni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok bilang, api pada 30-45 menit sebelum sempat meluas membakar kawasan pembuangan sampah itu. “Yang terbakar luasnya sekitar 20-25 meter pesegi. Karena itu tadi segera kami lokalisir,”  katanya kepada Mongabay. Dia mengatakan, tidak ada korban jiwa atau luka-luka akibat insiden kebakaran. Hanya dua truk Pemerintah Kota Depok (Pemkot) ikut tersambar panas api. Pantauan Mongabay pada Jumat siang,  area timbulan sampah setinggi sekitar lima meter menghitam seperti bekas terbakar. Truk berbaris antre hingga keluar gerbang TPA menunggu giliran pembuangan sampah. Lima eksavator berbaris vertikal mengeruk sampah, pemulung sibuk memilah sampah bernilai ekonomi di sela alat berat itu. Mobil antre membuang sampah di TPA Cipayung Depok pasca kebakaran. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Penyebab&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>