<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=nuswantoro-kaminana&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/nuswantoro-kaminana/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 02 Oct 2026 14:25:35 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 14:25:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/02141719/Kukang-Foto-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134460</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini? Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini  kembali muncul. “Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/">Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini? Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini  kembali muncul. “Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena krisis iklim, termasuk fenomena El Nino. Iklim yang berubah mempengaruhi kondisi hutan, termasuk ketersediaan buah yang menjadi sumber pakan kukang,” jelasnya, Senin (21/9/26). Kukang satwa arboreal, sebagian besar aktivitasnya berlangsung di pepohonan. Primata ini punya kemampuan bergerak dari satu pohon ke pohon  dan sangat jarang turun ke permukaan tanah. Saat sumber makanan di hutan berkurang, pilihan satwa dilindungi ini jadi tidak sederhana. Kukang jawa merupakan primata yang hanya hidup di Pulau Jawa. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Dugaannya, kondisi iklim yang lebih panas, termasuk saat El Nino, bisa mempengaruhi musim berbuah tumbuhan di hutan. Saat buah-buahan hutan gagal berproduksi seperti biasa, kukang diduga terdorong keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan lain. “Mereka keluar dari hutan, melewati kabel-kabel listrik untuk cari makan.” Kukang memang bisa bergerak di pepohonan, namun lanskap di luar hutan tidak selalu ada jalur alami berupa tajuk pohon yang terhubung. Di kawasan terfragmentasi jalan, permukiman, perkebunan, maupun infrastruktur manusia, kabel listrik jadi jalur yang dilalui kukang. “Kabel listrik akhirnya jadi semacam jembatan buatan bagi kukang yang pindah. Namun, jalur tersebut punya risiko mematikan.” Kukang merupakan satwa arboreal yang hidup di pohon. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Luka sengatan listrik Indri menjelaskan, untuk kasus kukang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 10:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25154643/1288709-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134275</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, ikomunitas lokal, poiitik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/">Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan. “Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008. Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak. BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan. “Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat. Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi. Analisis WALHI mencatat sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 08:52:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233702/Ikan-badut-jantan-dan-betina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134437</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina. Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/">Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina. Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan individu dominan memperoleh akses lebih baik terhadap sumber daya dan kesempatan berkembang biak. Kemampuan mengubah jenis kelamin membantu kelompok menyesuaikan diri ketika kehilangan anggota yang berperan dalam reproduksi. Penelitian yang dipimpin Laura Casas menelusuri proses itu melalui analisis ekspresi gen, yakni bagaimana gen bekerja selama perubahan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi sekaligus di seluruh tubuh. “Perubahan kelamin melibatkan perubahan ekspresi gen yang sangat kompleks dan cepat. Otak ikan badut mengalami perubahan signifikan terlebih dahulu, diikuti perubahan pada gonad,” ungkap Casas dan koleganya. Gonad merupakan organ reproduksi. Peneliti menemukan aktivitas tinggi pada gen yang mengkode enzim aromatase, yang berperan dalam produksi estrogen. Aktivitas tersebut ditemukan di otak maupun gonad ikan yang sedang berubah jenis kelamin, menunjukkan pentingnya pengaturan hormon dalam proses ini. Kehidupan ikan badut juga erat dengan anemon laut. Di terumbu karang dangkal, tentakel anemon menyediakan tempat berlindung dari predator. Lapisan lendir khusus pada tubuh ikan badut membantu melindunginya dari sengatan inangnya. Hubungan tersebut menguntungkan kedua pihak. Ikan badut mendapat perlindungan dan makanan, sementara anemon memperoleh bantuan untuk mengusir pengganggu serta membersihkan parasit. Sebelum menetap, ikan badut melakukan gerakan menyerupai “tarian” untuk menyesuaikan diri dengan anemon. Makanan ikan badut antara lain zooplankton dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita di Hari Tani,  dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L DarmawanLuh De SuriyaniTriyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[petambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22002417/Petani-Pati--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134425</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Tani jatuh pada 24 September. Di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), warga dari 22 kabupaten dan kota menggelar aksi  suarakan berbagai kerusakan lingkungan karena tambang semen, proyek panas bumi dan lain-lain. Zainuddin, warga  Karanganyar, Jateng nekat lari ratusan kilometer menuju Kantor Gunernur Jateng.  Aksinya itu dia bilang sebagai bagian dari kampanye tolak proyek panas bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/">Cerita di Hari Tani,  dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Tani jatuh pada 24 September. Di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), warga dari 22 kabupaten dan kota menggelar aksi  suarakan berbagai kerusakan lingkungan karena tambang semen, proyek panas bumi dan lain-lain. Zainuddin, warga  Karanganyar, Jateng nekat lari ratusan kilometer menuju Kantor Gunernur Jateng.  Aksinya itu dia bilang sebagai bagian dari kampanye tolak proyek panas bumi di Gunung Lawu. Pemandu pendakian Gunung Lawu ini tak sendirian. Dia bersama rombongan warga dengan rute Solo, Boyolali, Salatiga, hingga Semarang. “Kalau proyek ini berjalan, risikonya besar bagi pendaki Gunung Lawu terutama ancaman kebocoran gas beracun seperti yang sudah terjadi di Dieng. Bukan hanya pendaki, kami sebagai warga juga terancam,” katanya. Aksi lari ratusan kilometer ini berlangsung selama tiga hari. Aan Shopanudin, Koordinator Jaga Lawu, menyebut, sebelum sampai Semarang, rombongan mampir ke pemukiman warga di sekitar Gunung Ungaran yang juga hadapi ancaman serupa. Warga sekitar Gunung Ungaran menyambut mereka dengan penuh suka cita. Aksi lari itu, katanya,  sekaligus upaya menggalang dukungan lebih luas untuk menolak geothermal dan menjaga kelestarian kawasan sakral. “Kami di Karanganyar sudah sejak 2016, sedangkan di Lawu sejak 2010. Ternyata suara kami ini tidak pernah didengar maka kami akan terus menolaknya,” kata Aan. Di Jateng ada  enam lokasi yang pemerintah tetapkan sebagai wilayah kerja panas bumi (WKP). Keenam lokasi itu meliputi WKP Dieng, Banjarnegara, WKP Guci, Tegal, WKP Baturaden (Banyumas,) WKP Ungaran dan Telomoyo di Semarang serta sekitar, dan WKP Jenawi di Karanganyar. Dari enam WKP ini yang sudah beroperasi adalah Dieng, menurut Aan banyak menimbulkan dampak bagi warga sekitar terutama Kabupaten Banjarnegara.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 22:38:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01223406/bungarus-candidus-blue-krait-cha-am-district-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134440</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/">Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari 2,5 juta orang setiap tahun dan menyebabkan sekitar 81.000 hingga 138.000 kematian. Pada 2017, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan keracunan akibat gigitan ular ke dalam daftar penyakit tropis terabaikan dengan prioritas tinggi. Salah satu ular yang hidup berdampingan dengan manusia adalah ular weling (Bungarus candidus), anggota famili Elapidae yang berbisa tinggi. Di Indonesia, ular ini tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali, sementara di luar Indonesia ia ditemukan di Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Thailand, weling tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi akibat gigitan ular, dan dalam satu studi jumlah korbannya setara dengan ular tanah (Calloselasma rhodostoma). Meski berbahaya, informasi tentang pergerakan ular ini masih terbatas, karena sebelumnya hanya ada empat studi yang masing-masing melacak satu individu. Untuk mengisi kekosongan itu, tim peneliti melacak 14 ekor ular weling di kampus Suranaree University of Technology di Provinsi Nakhon Ratchasima, timur laut Thailand, dan menerbitkan hasilnya di jurnal Scientific Reports. Berlindung di Bawah Gedung dan Saluran Beton Kampus seluas sekitar 11 kilometer persegi itu dihuni lebih dari 15.000 mahasiswa, dengan ribuan di antaranya tinggal di asrama. Di sela gedung kuliah, laboratorium, rumah sakit, dan sekolah dasar, masih tersisa 37 petak hutan gugur campuran, sementara di luar kampus terbentang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:58:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134413</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/">Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga laut dan hasil tangkapan mereka, hutan yang menghadapi tekanan dari proyek panas bumi, hingga kisah tentang gajah dan pentingnya menjaga habitat tempat mereka hidup. Di Aceh, petani mulai melirik kacang koro pedang sebagai pangan lokal yang dinilai mampu bertahan di tengah musim kering. Sementara itu, dari Jabodetabek, kemarau panjang membuat sejumlah sungai mengalami penurunan debit, bahkan mengering. Kondisi ini ikut mengingatkan kembali betapa pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Penasaran dengan cerita lengkapnya? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps bulan September. 1. Nelayan Ende jaga laut dengan sistem buka-tutup  Aswan nelayan gurita Kodim Ocotpus Desa Kotodirumali, Nagekeo menangkap gurita di dasar laut dengan menyelam dan gunakan peralatan tradisional. Foto : Mia Margaretha Holo/Mongabay Indonesia. Gelombang tinggi membuat nelayan di Maurongga, Ende, Nusa Tenggara Timur, harus menarik perahu ke daratan. Namun, di tengah kondisi itu, mereka tetap berupaya menjaga sumber penghidupan dari laut. Masyarakat Maurongga menerapkan sistem buka-tutup wilayah tangkapan gurita. Wilayah ini ditutup secara bergantian selama tiga bulan agar gurita memiliki waktu untuk berkembang biak. Upaya ini, kata nelayan, membuat ukuran gurita hasil tangkapan meningkat. Meski begitu, mereka masih menghadapi ancaman penangkapan destruktif seperti bom, potasium, dan racun serangga. &nbsp; 2. Panas bumi masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01090009/Karhutla-Kalsel-Riyad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila. Tanah Papua menjadi salah satu daerah dengan karhutla parah. Bahkan, lebih masif ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, penanganan karhutla dan dampak kabut asapnya seakan tak terdengar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan, indikasi karhutla di Papua mencapai lebih 30.000 hektar sepanjang 2026. Dengan paling luas karhutla di Papua Selatan—lokasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/">Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila. Tanah Papua menjadi salah satu daerah dengan karhutla parah. Bahkan, lebih masif ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, penanganan karhutla dan dampak kabut asapnya seakan tak terdengar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan, indikasi karhutla di Papua mencapai lebih 30.000 hektar sepanjang 2026. Dengan paling luas karhutla di Papua Selatan—lokasi PSN—mencapai 25.838,53 hektar, Papua Tengah 2.519,88 hektar, dan Papua Barat 2.496,39 hektar. &#8220;Dari beberapa data yang kami peroleh, kejadian karhutla, terutama di Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya terindikasi meningkat,&#8221; kata Angky Samperante, Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Selasa (29/9/26). Sebagian titik kebakaran, katanya, di sekitar konsesi perkebunan sawit dan konsesi pemegang izin pemanfaatan kayu di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan. Pusaka juga menemukan indikasi keterkaitan kebakaran dengan aktivitas pembukaan lahan untuk proyek strategis nasional (PSN). Di area food estate dan sekitar perusahaan tebu di Merauke, misal, dokumentasi drone dan lapangan yang mendapati pola pembukaan lahan dengan membakar. &#8220;Dari pemantauan kami, kayu dan sisa vegetasi hasil bukaan lahan tersebut ditumpuk dalam petak-petak tertentu sebelum dibakar. Sementara pola kebakaran terlihat mengikuti lokasi tumpukan material itu.&#8221; Pengerahan helikopter water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8). Dokumentasi BNPB Temuan Yayasan Pusaka terkait karhutla itu sejalan dengan analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua. &#8220;Kebakaran kini tak lagi muncul sporadis di satu-dua wilayah. Sejumlah provinsi terbakar masif hampir bersamaan,&#8221; kata Maikel Peuki, Direktur Eksekutif Walhi Papua, Selasa (29/9/26). Walhi Papua mencatat, 3.000 lebih hotspot per Agustus 2026. Peningkatan signifikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:05:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01085545/Red-bearded-Bee-eater-atau-Cirik-cirik-Kumbang-di-Beutong-Ateuh-Banggalang-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134414</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/">Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media). “Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh, Senin (24/8/26). Tim KSLH juga juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan (Vulnerable/VU), yakni Schneider&#8217;s Pitta (Hydrornis schneideri), Graceful Pitta (Erythropitta venusta), dan Hoogerwerf&#8217;s Pheasant (Lophura hoogerwerfi). Empat jenis masuk kategori Hampir Terancam (Near Threatened/NT), yaitu Sumatran Babbler (Pellorneum buettikoferi), Sumatran Green Pigeon (Treron oxyurus), Sumatran Drongo (Dicrurus sumatranus), dan Sumatran Woodpecker (Picus dedemi). Sementara itu, 19 jenis berstatus Risiko Rendah (Least Concern/LC) dan 1 jenis, Sumatran Robin (Myiomela sumatrana), berstatus Belum Dievaluasi (Not Evaluated/NE). “Hutan Beutong Ateuh sangat penting untuk pelestarian burung-burung endemik Aceh,” kata Heri. Burung Red bearded Bee eater atau Cirik-cirik Kumbang ini terpantau di hutan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Burung-burung yang ditemukan, tidak hanya dari satu kelompok atau satu lapisan habitat. Ada jenis  yang aktif di tajuk pohon, mencari buah dan serangga di antara vegetasi, atau berada di lantai hutan. “Keberadaan mereka berkaitan dengan ketersediaan pakan, tempat berlindung, pohon bertengger, maupun lokasi berkembang biak.” Menurut Heri, burung juga dapat menjadi indikator perubahan ekosistem. Setiap jenis memiliki kebutuhan habitat, pakan dan tingkat toleransi terhadap gangguan berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29041137/Kucing-kuwuk3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134331</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara. Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/">Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara. Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan banyak kejadian yang merugikan kucing kuwuk berawal dari kurangnya pengetahuan kita tentang satwa tersebut. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” ujarnya. Salah satu risiko muncul dari cara masyarakat menangani hewan yang dianggap mengganggu tanaman. Jerat tidak dapat memilih satwa yang akan tertangkap. Begitu pula penggunaan racun untuk membasmi tikus atau bajing: hewan yang terpapar racun berpotensi dimangsa kucing kuwuk. Padahal, kucing kuwuk sendiri memangsa hewan kecil, termasuk kelompok pengerat, sehingga berpotensi membantu mengendalikan tikus di sekitar lahan pertanian. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, menekankan bahwa risiko keracunan tersebut tidak boleh dianggap pasti terjadi dalam setiap kasus. “Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.” Kesalahpahaman lain muncul saat warga menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Menurut Meidi, anak satwa itu belum tentu ditelantarkan; induknya mungkin sedang mencari makan. Kemiripannya dengan kucing peliharaan juga dapat membuat orang mengira kucing kuwuk bisa dirawat di rumah. Jika satwa tersebut terluka, Meidi menyarankan warga menghubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar. Sejauh ini, Yayasan Cikananga belum memiliki catatan sistematis mengenai jumlah kucing kuwuk yang menjadi korban penangkapan, jerat, atau racun. “Jadi, kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 03:57:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000606/Tarantula-berbulu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134350</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang. Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/">Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang. Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut. “Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.” Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh. Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut. Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut. Tim peneliti juga menyoroti hubungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 02:34:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17101119/Macan-tutul-jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134183</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan orang mengerumuni  macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terperangkap jebakan di kebun warga di Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/26). Jebakan itu sebenarnya warga pasang untuk babi hutan yang kerap merusak kebun warga. Tetapi, justru macan tutul yang terjebak. Warga pun lantas menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/">Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan orang mengerumuni  macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terperangkap jebakan di kebun warga di Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/26). Jebakan itu sebenarnya warga pasang untuk babi hutan yang kerap merusak kebun warga. Tetapi, justru macan tutul yang terjebak. Warga pun lantas menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor. “Waktu itu pagi-pagi tim dikontak masyarakat sekitar. Ada macan tutul terjebak di belakang rumah,” kata Imam Purwadi, Kurator Satwa Senior Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, di sela-sela Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) gelaran Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) akhir Agustus di TSI Bogor. Imam memimpin tim Life Science TSI Bogor yang terdiri dari dokter hewan dan kurator dan berhasil mengevakuasinya. Dari hasil observasi, tim memastikan kondisi macan tutul stabil dan sehat. “Jerat karet, membekas di kulit tapi tidak menimbulkan luka terbuka.  Kesimpulannya aman untuk dilepaskan,” ujar Imam. Foto udara lansekap hutan Pasir Panjang di Desa Tundagan, Kecamatan Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia TSI memiliki kadang rehabilitasi yang saat ini berisi satu macan tutul berwarna atau  sebutan macan kumbang. Macan kumbang merupakan spesies yang sama dengan macan tutul. Macan kumbang merupakan fenomena melanisme, yakni,  kelainan genetik yang menyebabkan peningkatan produksi pigmen melanin pada tubuh macan tutul. Jadi  kulit, rambut, atau bulu berwarna hitam pekat. Imam katakan, TSI telah membuat program pengembangbiakan, termasuk untuk macan. “Masuk program breading,” kata Imam. Program&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 14:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27065906/melon2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134283</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi bisnis, jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/">Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri atas 50 hektare area cemara laut dan 20 hektare wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali,” katanya. Sebelum pohon-pohon tumbuh, angin dari laut membawa pasir dan kadar garam ke lahan pertanian. Daun tanaman mudah mengering, terutama saat musim kemarau. Menurut Munadi, palawija dan tanaman hortikultura kerap gagal panen. Kelapa pun mengalami gangguan akibat paparan garam. Tegakan cemara laut membantu mengubah kondisi tersebut. Pohon menghalangi sebagian angin yang membawa pasir dan uap garam. Pasir yang tertahan kemudian mengendap di sekitar tegakan, sementara tanaman di belakangnya mendapat ruang yang lebih terlindungi. Cemara laut juga disebut membantu mengurangi abrasi dan meredam dampak angin kencang. Perubahan itu dirasakan Marsono Utomo, petani yang kini menanam melon di lahan seluas satu hektare. “Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, ia mengatakan hasil panennya bisa mencapai 10 ton. Namun, saat kemarau, melon tetap memerlukan penyiraman intensif. Petani lain juga memanfaatkan lahan di kawasan tersebut. Ada yang menanam cabai, terong, semangka, dan pepaya. Tumijo, misalnya, menanam pepaya di lahan seluas 5.000 meter persegi. Ketika produksinya tinggi, hasil panennya dapat mencapai dua ton. Kehadiran pepohonan membuka peluang bertani, meski hasilnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 13:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17071924/Gigi-manusia-purba-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134285</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi. Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/">Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi. Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia memeriksa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama berasal dari Leang Bulu Bettue dan diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari Leang Cappalombo dan hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya hidup sebelum masyarakat setempat mengenal pertanian. Pada gigi kedua individu itu, peneliti menemukan alur dan goresan melingkar yang berbeda dari keausan akibat mengunyah makanan. Mereka menafsirkan pola tersebut sebagai bekas kebiasaan menempatkan buah pinang utuh di mulut dan menghisapnya berulang kali. Bentuk gigi saja belum cukup untuk memastikan apa yang mereka konsumsi. Peneliti kemudian memeriksa jaringan gigi untuk mencari arekolin, senyawa dalam pinang yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Hasil analisis menemukan jejak senyawa tersebut pada sampel dari kedua situs. Bukti kimia itu memperkuat penafsiran terhadap pola keausan gigi. “Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Adam Brumm dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Science Advances. Temuan individu dari Leang Bulu Bettue menunjukkan bahwa penggunaan pinang di Sulawesi mungkin telah berlangsung sejak sekitar 25.000 tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 12:59:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/23143754/382b58f2-094b-424c-8259-1bcb574397af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134370</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tata kelola tambang masih karut marut begitu juga di Kalimantan Timur, sebagai produsen utama batubara Indonesia. Pertambangan batubara menciptakan multi masalah dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, sosial ekonomi sampai keselamatan warga. Kini, ketika masyarakat mengadu, atau laporan kasus,  pemerintah daerah berdalih tak bisa berbuat banyak karena sesuai UU Pertambangan Mineral dan Batubara kewenangan ada di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/">Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tata kelola tambang masih karut marut begitu juga di Kalimantan Timur, sebagai produsen utama batubara Indonesia. Pertambangan batubara menciptakan multi masalah dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, sosial ekonomi sampai keselamatan warga. Kini, ketika masyarakat mengadu, atau laporan kasus,  pemerintah daerah berdalih tak bisa berbuat banyak karena sesuai UU Pertambangan Mineral dan Batubara kewenangan ada di pemerintah pusat. Kondisi ini pun makin mempersulit masyarakat terdampak. Bambang Arwanto,  Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur (Kaltim), menyatakan, sejak kewenangan pertambangan di pemerintah pusat, pemerintah provinsi hanya berfungsi sebagai koordinator apabila ada persoalan di lapangan. “Mulai dari perizinan, pembinaan, pengawasan, termasuk pengawasan terhadap void atau lubang tambang semuanya sudah berada di pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM,” katanya dalam wawancara dengan Mongabay Indonesia belum lama ini. Kondisi itu, katanya, membuat pemerintah provinsi tak bisa langsung memeriksa ketika menerima laporan dugaan pelanggaran di area pertambangan. Bila ada laporan masyarakat atau temuan lapangan, katanya, pemerintah daerah lebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Setelah itu, kementerian mengeluarkan surat penugasan kepada inspektur tambang, baru pemerintah provinsi ikut pemeriksaan bersama. “Kalau kami mau turun, harus bersurat dulu ke kementerian. Setelah kementerian menugaskan inspektur tambang mendampingi, baru kami bisa masuk ke lokasi. Karena kewenangannya memang bukan lagi di pemerintah provinsi,” kata Bambang. Kendati tak lagi memiliki kewenangan pengawasan langsung, Dinas ESDM Kaltim tetap berkoordinasi setiap kali terjadi kecelakaan di area pertambangan. Setiap insiden, katanya, menjadi bahan evaluasi bersama inspektur tambang agar perusahaan memperkuat sistem pengamanan di area berisiko tinggi. Salah satu yang terus pemerintah ingatkan ialah kewajiban&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 10:19:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30101307/Ikan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134359</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/">Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya dunia di luar alga dan mikroalga, diproyeksikan meningkat hingga 10 persen. FAO menyebut, akuakultur akan menjadi komponen penting sistem pangan masa depan, karena produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Sementara, permintaan terhadap pangan akuatik terus meningkat. Proyeksi besar yang juga sudah masuk Indonesia ini, harus dilakukan dengan prinsip lebih produktif, lebih inklusif, lebih tangguh terhadap krisis iklim, dan lebih berkelanjutan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan jika krisis iklim tidak diantisipasi, maka gangguan produksi ikan hanya menunggu waktu. Dalam orasi ilmiah pengukuhan gelar Guru Besar, Senin (27/6/26), dia mengatakan reproduksi ikan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Terutama, pelepasan hormon reproduksi agar pemijahan optimal. Ancaman ini sudah nyata, karena pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk di unit pembenihan (hatchery) tidak matang gonad. “Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya dalam laman resmi IPB Satu solusi yang ditawarkan pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) itu adalah dengan mengadopsi teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan yang diyakini bisa menjaga ketersediaan benih. “Produksi perikanan budi daya tak akan terganggu.” Krisis iklim dapat berdampak pada pola reproduksi ikan. foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. I Ketut Sugama, Profesor Riset&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 07:47:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29082105/DSC4525-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134326</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan poltiik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air kecoklatan mengalir deras menutupi jalan lingkungan di Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (25/8/26) malam. Tak hanya menutupi jalan, lumpur pekat bercampur pasir dan batu itu bahkan menutup saluran hingga masuk ke halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat berusaha membersihkan material yang mengendap menggunakan sekop dan cangkul. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/">Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air kecoklatan mengalir deras menutupi jalan lingkungan di Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (25/8/26) malam. Tak hanya menutupi jalan, lumpur pekat bercampur pasir dan batu itu bahkan menutup saluran hingga masuk ke halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat berusaha membersihkan material yang mengendap menggunakan sekop dan cangkul. Sedang sebagian hanya bisa memandangi jalan yang berubah menjadi hamparan lumpur. Mereka heran karena malam itu hujan tak begitu deras. Bagi warga, pemandangan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan turun, jalan kampung berubah menjadi hamparan lumpur yang kuat dugaan berasal dari tambang galian C di daerah hulu. Celakanya, luberan lumpur itu juga menyasar lahan-lahan pertanian warga. Muhammad Yunus,  warga Lenek katakan, selain menutupi jalan, material sisa tambang juga picu sedimentasi irigasi dan menyumbat aliran ke sawah. Akibatnya, petani harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk membersihkan saluran sebelum musim tanam maupun saat masa pengairan berlangsung. Tak jarang, pasir dan batu yang terbawa air bahkan masuk hingga ke petak-petak sawah. Kondisi itu mengubah struktur tanah dan mempengaruhi pertumbuhan padi. &#8220;Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,&#8221; ujar Yunus. Dampak dari situasi itu, produktivitas padi pun turun, sedang biaya pemeliharaan meningkat. “Banyak petani yang rugi.&#8221; Yunus sudah berulang kali sampaikan persoalan itu kepada pemerintah. Warga bahkan pernah berunjuk rasa menuntut pemerintah tertibkan tambang yang menimbulkan berbagai dampak pada warga sekitar. Hingga  kini, balum ada respons berarti. &#8220;Dulu,  warga sempat demo. Hanya beberapa hari saja dampaknya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 03:20:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/02024101/FinkeR8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134344</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/">Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana bergantung pada kolam yang tidak pernah benar-benar kering dan pada kemampuan menoleransi kondisi air yang ekstrem. Sungai Finke di Australia Tengah, yang oleh masyarakat Arrernte Barat disebut Larapinta, kerap dijuluki sungai tertua di dunia dengan perkiraan usia 300 hingga 400 juta tahun. Sungai ini berhulu di Pegunungan MacDonnell, Northern Territory, dan membentang sekitar 600 kilometer hingga tepi barat Gurun Simpson. Kini alirannya hanya muncul beberapa hari dalam setahun, dan airnya hampir selalu menghilang ke pasir sebelum mencapai Danau Eyre. Meski begitu, survei sistematis sejak 2011 mencatat sembilan spesies ikan di daerah aliran sungai ini. Tiga di antaranya endemik, yaitu Finke goby, Finke hardyhead, dan desert mogurnda, dan keberadaan mereka berkaitan erat dengan sejarah panjang lembah sungai itu sendiri. Ngarai Purba yang Menjadi Tempat Berlindung Julukan sungai tertua berangkat dari cara Finke memotong tegak lurus punggungan kuarsit Pegunungan MacDonnell dan Krichauff, yang terangkat dalam Orogeni Alice Springs sekitar 400 hingga 300 juta tahun lalu. Jalur yang menembus batuan keras itu ditafsirkan sebagai tanda bahwa sungai ini sudah mengalir sebelum atau bersamaan dengan pengangkatan tersebut. Dalam geologi, sungai seperti ini disebut antecedent. Angka ratusan juta tahun itu merupakan tafsiran, bukan hasil penanggalan langsung. Penanggalan kosmogenik dengan berilium-10&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 03:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/07/22061843/JUAL-BELI-SATWA-DI-PASAR-SPLINDID-MALANG-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134284</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup. Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/">Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup. Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa menjadi pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Para pelaku meyakini dengan membakarnya dapat menghilangkan ancaman sihir. Adhi Nurul Hadi, Kepala BKSDA NTT menegaskan, tindakan tersebut melanggar UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyebutkan pelaku terancam pidana hingga 15 tahun. Sebutan ‘burung hantu’ bukan sekadar julukan. Ada alasan biologis yang membuat burung ini lekat dengan gambaran hantu. Satwa ini memiliki sejumlah adaptasi untuk berburu pada malam hari. Dia punya pendengaran dan kemampuan penglihatan yang tajam dalam kondisi cahaya redup, dan kemampuan terbang nyaris tanpa suara. Di balik kesan seramnya, burung hantu memiliki peran penting dalam ekosistem. Berdasarkan riset Tirsyanto dkk, lebih dari 90% makanan Tyto alba adalah tikus sawah. Seekor burung dewasa bisa memangsa hingga 1.300 ekor per tahun. Bahkan, riset yang sama menunjukkan keberadaan rubuha (rumah burung hantu) dapat menekan kerusakan tanaman akibat tikus secara signifikan. Meski banyak yang mengaitkan dengan pertanda buruk, di sejumlah wilayah lain di Indonesia burung hantu justru dihormati, bukan ditakuti. Misalnya, di Minahasa, Sulawesi Utara, menganggap burung hantu sebagai pembawa pesan leluhur. Mereka percaya suaranya di malam hari sebagai petunjuk, bukan petaka. Pandangan tersebut turut melindungi burung hantu dari perburuan sehingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 02:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134269</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai kalangan masyarakata sipil mengkritik dan mempertanyakan arah kebijakan lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menyoroti tiap keputusan hingga lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan. Ade Indriani Zuhri, dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan Universitas Nasional heran rezim Prabowo masih bergantung industri ekstraktif, seperti batubara dan nikel. Karena, keduanya merupakan perusak lingkungan Pun dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/">Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai kalangan masyarakata sipil mengkritik dan mempertanyakan arah kebijakan lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menyoroti tiap keputusan hingga lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan. Ade Indriani Zuhri, dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan Universitas Nasional heran rezim Prabowo masih bergantung industri ekstraktif, seperti batubara dan nikel. Karena, keduanya merupakan perusak lingkungan Pun dalam hitungan keuntungan ekonomi, industri tersebut masih kalah dengan sektor pertanian dan kebun. Catatannya, sektor mineral/energi ekstraktif hanya menyumbang 8–10% PDB, sementara sektor pertanian dan perkebunan menyumbang 12–15%. Dia menilai kebijakan Prabowo dalam tata kelola dan penguasaan sumber daya terlalu berpihak pada oligarki, hingga mengabaikan fakta yang telanjang di lapangan. Oligarki pemerintah biarkan mengkavling hutan. “Sumber daya alam kita untuk kepentingan mereka [oligarki], tidak dikembalikan kepada rakyat.” Sisi lain, pemerintah pun meminggirkan pemulihan lingkungan. Seharusnya, pemulihan lingkungan bisa terjadi dengan merestorasi hutan yang terdegradasi lebih 10 juta hektar. Saat ini, katanya, ada lima provinsi yang teridentifikasi alami kehancuran sumber daya alam. Kalimantan Timur, salah satunya, karena masifnya pertambangan. Lalu, Sumatera Utara karena dominasi sawit. Riau karena industri pulp and paper. Papua karena eksploitasi mineral, begitu pun di Sulawesi Tengah. Malem Sambat (MS) Kaban, Menteri Kehutanan periode 2004-2009, menilai, tidak ada satu poin pun dalam Asta Cita yang fokus minimalisasi kerusakan lingkungan. Tak heran, sejak Prabowo jadi presiden, kerusakan lingkungan terus terjadi. Dia menyoroti sungai-sungai yang makin dangkal dan biodiversitas terancam. Hal ini bahkan terjadi di Jawa Barat, provinsi yang dekat dengan ibu kota. Laju deforestasi juga memperlihatkan tren kenaikan. Kaban menyebut, saat dia jadi menhut, luas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 00:01:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08043752/WhatsApp-Image-2026-05-07-at-6.22.13-PM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134281</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak.  Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/">Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak.  Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun melayangkan protes keras dengan mendatangi Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Papua.  Bagi nelayan pesisir Papua, rumpon bukan hanya alat tangkap ikan namun juga “dapur” untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Rumpon yang mereka buat dari rudal besi bekas, tali, dan daun kelapa. Biasanya, ikan-ikan akan bertelur dan tinggal di sana, lalu nelayan memancing di sekitarnya.  “Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur,” ujar Kosmos Kendi, salah satu nelayan dari kelompok BW Woi.  Wilayah pesisir Distrik Jayapura Utara dan Selatan menjadi satu dari 10 area potensi blok migas baru yang  juga merupakan “piring makan” bagi masyarakat. Pemutusan rumpon ini membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong. Padahal, sekitar 4.200 keluarga menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan mereka merupakan pemasok penting ikan di pasar Jayapura.  “Saat (migas) belum beroperasi saja, rumpon dibasmi. Tak ada hasil sekarang. Kalau sudah beroperasi, kami tak bisa makan apa-apa.” kata Asbani, koordinator nelayan. Selain tidak ada sosialisasi pemutusan rumpon, mereka juga tidak menerima informasi terkait potensi proyek migas tersebut. Mereka khawatir akan dampak jangka panjangnya hingga ke anak cucu. Oleh karenanya, mereka menolak tegas karena nelayan yang menanggung kerugian jangka panjang. Seperti, tumpahan minyak akibat kebocoran kecil, pemasangan pipa dan pemasangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>