<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=nuswantoro-kaimana&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/nuswantoro-kaimana/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 03 Oct 2026 10:00:40 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Sulit Ditemukan, Mengapa Ular Sanca Bulan Jadi Incaran Pemburu di Hutan Papua?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/10093157/Sanca-bulan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134410</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam. Hari Suroto, peneliti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/">Sulit Ditemukan, Mengapa Ular Sanca Bulan Jadi Incaran Pemburu di Hutan Papua?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam. Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, mengatakan sanca bulan ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan Papua, termasuk Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, sekitar Danau Wissel, dan Pegunungan Arfak. Sebarannya juga mencakup Papua Nugini. “Sanca bulan termasuk jenis yang sangat susah ditemukan. Populasinya menurun karena rusaknya habitat, perburuan ilegal, dan perdagangan liar,” katanya. Menurut Hari, panjang tubuh sanca bulan berkisar 1,5-3 meter. Pertumbuhannya relatif lambat; ukuran maksimal dapat dicapai pada usia empat hingga enam tahun. Warna tubuhnya juga berubah seiring pertumbuhan. Ular ini cenderung pemalu dan jarang menggigit kecuali diprovokasi. Namun, pengetahuan tentang kehidupannya masih terbatas. “Lingkungan mereka yang terpencil dan sulit diakses, membuat penelitian tentang jenis ini masih terbatas.” Ancaman perdagangan dibahas dalam publikasi Alamsyah Herlambang, Fajrin Shidiq, dan Amir Hamidy pada 2019. Para peneliti menjelaskan bahwa permintaan terhadap satwa langka dan eksotik dapat mendorong eksploitasi berlebihan. Ketika satwa semakin sulit ditemukan, harga pasarnya bisa meningkat dan justru memicu perburuan tambahan. “Perdagangan ular sanca bulan dari Indonesia tercatat pertama kali pada 1989 dan berlangsung sampai saat ini. Dari 1989-2000 Indonesia memberlakukan kuota untuk jenis ini sebanyak 120 kuota tangkap alam setiap tahunnya,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut. Pada 2001-2018, tidak ada kuota tangkap yang diberikan untuk sanca&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Hutan Beutong Ateuh, Burung Langka dan Harimau Sumatera Berbagi Ruang dengan Masyarakat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 05:56:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01085818/Spectacle-Laughingthrush-atau-Poksai-genting-di-pinggir-hutan-Beutong-Ateuh-Banggalang-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134435</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak. Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/">Di Hutan Beutong Ateuh, Burung Langka dan Harimau Sumatera Berbagi Ruang dengan Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak. Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis burung di kawasan ini. Empat di antaranya berstatus Genting, yaitu Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media). “Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh. Tim juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan dan empat jenis Hampir Terancam. Sementara itu, 19 jenis masuk kategori Risiko Rendah dan satu jenis, Sumatran Robin, berstatus Belum Dievaluasi. Catatan tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat berbagai burung dengan kebutuhan hidup yang berbeda. Menurut Heri, burung dapat membantu memberikan gambaran tentang perubahan lingkungan. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan, habitat, dan tingkat toleransi terhadap gangguan yang berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan.” Berkurangnya tutupan hutan atau terpecahnya habitat dapat memengaruhi ruang hidup burung, terutama jenis dengan sebaran terbatas. Hutan Beutong juga menopang kehidupan manusia. Kecamatan ini terdiri atas empat desa dengan sekitar 2.400 penduduk. Masyarakat menggantungkan penghidupan pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo. Hamparan sawah seluas sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan warga. “Kami hidup dari hasil alam. Hutan yang membentengi Beutong Ateuh, sungai yang membelah kecamatan, sawah dan kebun yang mengelilingi kampung kami merupakan harta yang harus dijaga dan tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 04:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/05/22074832/Chilatherina-sentaniensis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134373</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Beberapa ikan berwarna merah atau red devil (Amphilopus labiotus) seukuran jari telunjuk orang dewasa tampak berenang di pinggiran Danau Sentani. Sore itu, beberapa orang memancing ikan di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Angin bertiup dari timur membawa harapan para nelayan untuk membawa pulang ikan, tetapi bukan ikan asing itu. “Itu ikan louhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/">Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Beberapa ikan berwarna merah atau red devil (Amphilopus labiotus) seukuran jari telunjuk orang dewasa tampak berenang di pinggiran Danau Sentani. Sore itu, beberapa orang memancing ikan di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Angin bertiup dari timur membawa harapan para nelayan untuk membawa pulang ikan, tetapi bukan ikan asing itu. “Itu ikan louhan (red devil). Setelah ikan-ikan baru seperti ikan louhan itu masuk (ke danau), hampir semua ikan asli kita terdesak. Sekarang tidak kelihatan lagi dan jarang sekali dapatkan,” kata Yanpit Wally, Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Kampung Nendali sembari menunjukkan ke pinggiran danau, Selasa (22/9/26). Dulu, kata Yanpit, dia dan warga Danau Sentani menggantungkan hidup dari mencari ikan di Danau Sentani. Jumlah ikan-ikannya melimpah, namun kini makin berkurang bahkan menghilang. Kini, dia pun beralih menggantungkan hidup dengan berkebun. “Dulu ikan asli banyak, kalau cari ikan dapatnya banyak. Dulu kita punya alat tangkap sederhana saja,” ujarnya. Mulai dari ikan gete-gete kecil (Glossamia beauforti), gete-gete besar (Glossamia wichmanni), kayou (gabus asli sentani), hingga himen (Glossogobius sentaniensis). Yanpit Wally (72) Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Kampung Nendali, Selasa (22/9/26) Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (22/9/2026). Foto: Larius Kogoya/Mongabay Bernard Mebri juga merasakan hal sama. Pria 77 tahun dari Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua ini menghabiskan hari tua di Danau Sentani. Biasanya, dia menjaring dan memancing ikan dengan satu perahu kecil yang terbuat dari kayu. “Dulu, kita hanya molo (menyelam) atau pancing saja bisa dapat banyak ikan dan cukup buat makan keluarga. Kalau sekarang ini susahnya kita&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 02:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/03020857/KKP-IKBAL-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134469</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan nelayan  dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi), Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu (Jatayu) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggeruduk Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Kamis (24/9/26). Mereka menuntut KKP membatalkan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak di pesisir utara Jawa Barat (Jabar). Rustam, nelayan yang ikut aksi mengatakan, salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/">Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan nelayan  dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi), Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu (Jatayu) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggeruduk Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Kamis (24/9/26). Mereka menuntut KKP membatalkan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak di pesisir utara Jawa Barat (Jabar). Rustam, nelayan yang ikut aksi mengatakan, salah satu alasan penolakan lantaran proyek itu minim libatkan warga. “Sejak awal proyek ini tidak melibatkan warga. Jangankan dipekerjakan, untuk sosialisasi saja tidak,” katanya di sela aksi. Revitalisasi tambak merupakan satu dari 77 PSN era Pemerintahan Prabowo Subianto.  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bertugas sebagai pelaksana proyek dengan tahap awal seluas 20.000 hektar tersebar di Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu, Jawa Barat. Rustam sayangkan sikap pemerintah yang tak libatkan warga dalam proyek bernilai triliunan rupiah ini, kendati wilayah mereka masuk dalam rencana proyek. Mereka khawatir, kehadiran proyek dapat merugikan dan mengancam sumber mata pencaharian mereka. Ratiman, nelayan asal Kampung Cantigi, Indramayu ungkapkan hal senada. Demi suarakan aspirasinya itu, dia rela urunan Rp250.000 untuk berangkat ke Jakarta. Dia mengatakan, punya  lahan tambak bandeng seluas empat hektar yang dia warisi dari orang tuanya. “Dari saya belum lahir lahan ini sudah ada, ini memang turun temurun kami garap untuk menghidupi keluarga, bukan untuk kaya,” ujarnya. Dari hasil tambak itu, dia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia butuh waktu sekitar enam bulan untuk panen bandeng dari tambak. Sekali panen, dia bisa mendapat Rp20 juta yang sebagian dia pakai modal benih dan pakan. Sisanya, untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk menutup utang selama menunggu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 02:22:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/08/22033559/Leang-Paningnge-_-Bagian-Kepala-tengkorak-Besse-_-DOKUMENTASI-Departemen-Arkeologi-Universitas-Hasanuddin-Makassar-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134449</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jejak kehidupan manusia purba tidak hanya tersimpan dalam artefak batu atau lukisan gua. Tulang belulang yang terkubur selama ribuan tahun juga dapat menyimpan informasi genetik tentang asal-usul, migrasi, dan perjumpaan antarpopulasi manusia. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, DNA purba sangat sulit bertahan karena suhu, kelembapan, air, dan mikroorganisme dapat mempercepat kerusakannya. Karena itu, temuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/">Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jejak kehidupan manusia purba tidak hanya tersimpan dalam artefak batu atau lukisan gua. Tulang belulang yang terkubur selama ribuan tahun juga dapat menyimpan informasi genetik tentang asal-usul, migrasi, dan perjumpaan antarpopulasi manusia. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, DNA purba sangat sulit bertahan karena suhu, kelembapan, air, dan mikroorganisme dapat mempercepat kerusakannya. Karena itu, temuan rangka perempuan muda di Leang Panninge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memiliki arti penting. Rangka yang ditemukan pada 2015 tersebut diberi nama Bessé, sebutan yang umum digunakan untuk perempuan dalam masyarakat Bugis. Ia diperkirakan meninggal ketika berusia 17–18 tahun dan hidup sekitar 7.200–7.300 tahun lalu. Bessé hidup dalam lingkungan budaya Toalean, kelompok pemburu dan peramu yang berkembang di selatan Sulawesi sekitar 8.000 hingga 1.500 tahun lalu. Jejak kebudayaan mereka antara lain terlihat melalui mata panah bergerigi yang dikenal sebagai Maros Point, mikrolit, dan alat dari tulang. Kebudayaan ini sejauh ini hanya ditemukan di wilayah selatan Sulawesi. Analisis terhadap tulang telinga Bessé berhasil mengungkap DNA yang bertahan selama lebih dari tujuh milenium. Hasilnya memperlihatkan hubungan genetik dengan populasi Papua dan Aborigin Australia, sekaligus jejak percampuran dengan Denisovan, kelompok manusia purba yang pertama kali dikenali melalui temuan di Siberia. Temuan tersebut membuka pertanyaan baru tentang perjalanan manusia menuju Wallacea serta perjumpaan berbagai populasi pada masa lalu. Siapakah Bessé dan bagaimana DNA-nya dapat bertahan di lingkungan tropis? Apa hubungan perempuan Toalean ini dengan Denisovan dan manusia yang hidup di Indonesia sekarang? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Basran Burhan, arkeolog dan kandidat doktor Griffith University, Australia, saat diskusi berlangsung. Percakapan ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebih Pendek 2 Meter, Anaconda Bisa Seberat Sanca Sulawesi, Ular Terpanjang di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 02:04:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234432/Northern-green-anaconda-feeding.-Credit-Jesus-Rivas-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134477</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ukuran ular raksasa selama ini lebih sering dibicarakan lewat cerita warga, foto yang sulit diperiksa, dan angka yang terus membesar dari satu sumber ke sumber lain. Bagi peneliti, angka yang dapat dipakai hanyalah hasil pengukuran langsung yang disertai saksi dan dokumentasi. Dengan syarat itu, daftar ular liar terbesar yang terverifikasi menjadi jauh lebih pendek daripada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/">Lebih Pendek 2 Meter, Anaconda Bisa Seberat Sanca Sulawesi, Ular Terpanjang di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ukuran ular raksasa selama ini lebih sering dibicarakan lewat cerita warga, foto yang sulit diperiksa, dan angka yang terus membesar dari satu sumber ke sumber lain. Bagi peneliti, angka yang dapat dipakai hanyalah hasil pengukuran langsung yang disertai saksi dan dokumentasi. Dengan syarat itu, daftar ular liar terbesar yang terverifikasi menjadi jauh lebih pendek daripada yang beredar di internet. Dua nama hampir selalu berada di puncaknya, yaitu sanca kembang (Malayopython reticulatus) dari Asia Tenggara sebagai ular terpanjang dan anaconda hijau dari Amerika Selatan sebagai ular terberat. Pada awal 2026, Guinness World Records mengonfirmasi seekor sanca kembang betina bernama Ibu Baron dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara terverifikasi. Ular yang ditemukan pada akhir 2025 itu diukur pada 18 Januari 2026 dengan hasil 7,22 meter dari kepala hingga ujung ekor dan bobot 96,5 kilogram dalam kondisi perut kosong. Ketika angka itu disandingkan dengan data lapangan anaconda hijau, selisih bobot keduanya ternyata jauh lebih kecil daripada selisih panjangnya. Anaconda terbesar dalam penelitian lapangan di Venezuela tercatat sekitar 2 meter lebih pendek daripada Ibu Baron, tetapi bobotnya hampir sama. Rekor Ibu Baron dan Catatan Lama dari Kalimantan Timur Rekor Ibu Baron menggeser catatan lama yang dipublikasikan pada 2005. Catatan itu berasal dari Kalimantan Timur dan dilaporkan oleh peneliti beruang madu Gabriella Fredriksson di jurnal Raffles Bulletin of Zoology, untuk seekor sanca betina sepanjang 6,95 meter dengan bobot 59 kilogram. Ular tersebut tercatat karena menelan seekor beruang madu (Helarctos malayanus) betina dewasa yang sedang dipantau dengan kalung radio,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 14:25:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/02141719/Kukang-Foto-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134460</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini? Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini  kembali muncul. “Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/">Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini? Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini  kembali muncul. “Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena krisis iklim, termasuk fenomena El Nino. Iklim yang berubah mempengaruhi kondisi hutan, termasuk ketersediaan buah yang menjadi sumber pakan kukang,” jelasnya, Senin (21/9/26). Kukang satwa arboreal, sebagian besar aktivitasnya berlangsung di pepohonan. Primata ini punya kemampuan bergerak dari satu pohon ke pohon  dan sangat jarang turun ke permukaan tanah. Saat sumber makanan di hutan berkurang, pilihan satwa dilindungi ini jadi tidak sederhana. Kukang jawa merupakan primata yang hanya hidup di Pulau Jawa. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Dugaannya, kondisi iklim yang lebih panas, termasuk saat El Nino, bisa mempengaruhi musim berbuah tumbuhan di hutan. Saat buah-buahan hutan gagal berproduksi seperti biasa, kukang diduga terdorong keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan lain. “Mereka keluar dari hutan, melewati kabel-kabel listrik untuk cari makan.” Kukang memang bisa bergerak di pepohonan, namun lanskap di luar hutan tidak selalu ada jalur alami berupa tajuk pohon yang terhubung. Di kawasan terfragmentasi jalan, permukiman, perkebunan, maupun infrastruktur manusia, kabel listrik jadi jalur yang dilalui kukang. “Kabel listrik akhirnya jadi semacam jembatan buatan bagi kukang yang pindah. Namun, jalur tersebut punya risiko mematikan.” Kukang merupakan satwa arboreal yang hidup di pohon. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Luka sengatan listrik Indri menjelaskan, untuk kasus kukang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 10:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25154643/1288709-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134275</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, ikomunitas lokal, poiitik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/">Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan. “Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008. Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak. BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan. “Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat. Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi. Analisis WALHI mencatat sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 08:52:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233702/Ikan-badut-jantan-dan-betina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134437</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina. Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/">Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina. Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan individu dominan memperoleh akses lebih baik terhadap sumber daya dan kesempatan berkembang biak. Kemampuan mengubah jenis kelamin membantu kelompok menyesuaikan diri ketika kehilangan anggota yang berperan dalam reproduksi. Penelitian yang dipimpin Laura Casas menelusuri proses itu melalui analisis ekspresi gen, yakni bagaimana gen bekerja selama perubahan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi sekaligus di seluruh tubuh. “Perubahan kelamin melibatkan perubahan ekspresi gen yang sangat kompleks dan cepat. Otak ikan badut mengalami perubahan signifikan terlebih dahulu, diikuti perubahan pada gonad,” ungkap Casas dan koleganya. Gonad merupakan organ reproduksi. Peneliti menemukan aktivitas tinggi pada gen yang mengkode enzim aromatase, yang berperan dalam produksi estrogen. Aktivitas tersebut ditemukan di otak maupun gonad ikan yang sedang berubah jenis kelamin, menunjukkan pentingnya pengaturan hormon dalam proses ini. Kehidupan ikan badut juga erat dengan anemon laut. Di terumbu karang dangkal, tentakel anemon menyediakan tempat berlindung dari predator. Lapisan lendir khusus pada tubuh ikan badut membantu melindunginya dari sengatan inangnya. Hubungan tersebut menguntungkan kedua pihak. Ikan badut mendapat perlindungan dan makanan, sementara anemon memperoleh bantuan untuk mengusir pengganggu serta membersihkan parasit. Sebelum menetap, ikan badut melakukan gerakan menyerupai “tarian” untuk menyesuaikan diri dengan anemon. Makanan ikan badut antara lain zooplankton dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita di Hari Tani,  dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L DarmawanLuh De SuriyaniTriyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[petambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22002417/Petani-Pati--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134425</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Tani jatuh pada 24 September. Di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), warga dari 22 kabupaten dan kota menggelar aksi  suarakan berbagai kerusakan lingkungan karena tambang semen, proyek panas bumi dan lain-lain. Zainuddin, warga  Karanganyar, Jateng nekat lari ratusan kilometer menuju Kantor Gunernur Jateng.  Aksinya itu dia bilang sebagai bagian dari kampanye tolak proyek panas bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/">Cerita di Hari Tani,  dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Tani jatuh pada 24 September. Di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), warga dari 22 kabupaten dan kota menggelar aksi  suarakan berbagai kerusakan lingkungan karena tambang semen, proyek panas bumi dan lain-lain. Zainuddin, warga  Karanganyar, Jateng nekat lari ratusan kilometer menuju Kantor Gunernur Jateng.  Aksinya itu dia bilang sebagai bagian dari kampanye tolak proyek panas bumi di Gunung Lawu. Pemandu pendakian Gunung Lawu ini tak sendirian. Dia bersama rombongan warga dengan rute Solo, Boyolali, Salatiga, hingga Semarang. “Kalau proyek ini berjalan, risikonya besar bagi pendaki Gunung Lawu terutama ancaman kebocoran gas beracun seperti yang sudah terjadi di Dieng. Bukan hanya pendaki, kami sebagai warga juga terancam,” katanya. Aksi lari ratusan kilometer ini berlangsung selama tiga hari. Aan Shopanudin, Koordinator Jaga Lawu, menyebut, sebelum sampai Semarang, rombongan mampir ke pemukiman warga di sekitar Gunung Ungaran yang juga hadapi ancaman serupa. Warga sekitar Gunung Ungaran menyambut mereka dengan penuh suka cita. Aksi lari itu, katanya,  sekaligus upaya menggalang dukungan lebih luas untuk menolak geothermal dan menjaga kelestarian kawasan sakral. “Kami di Karanganyar sudah sejak 2016, sedangkan di Lawu sejak 2010. Ternyata suara kami ini tidak pernah didengar maka kami akan terus menolaknya,” kata Aan. Di Jateng ada  enam lokasi yang pemerintah tetapkan sebagai wilayah kerja panas bumi (WKP). Keenam lokasi itu meliputi WKP Dieng, Banjarnegara, WKP Guci, Tegal, WKP Baturaden (Banyumas,) WKP Ungaran dan Telomoyo di Semarang serta sekitar, dan WKP Jenawi di Karanganyar. Dari enam WKP ini yang sudah beroperasi adalah Dieng, menurut Aan banyak menimbulkan dampak bagi warga sekitar terutama Kabupaten Banjarnegara.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 22:38:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01223406/bungarus-candidus-blue-krait-cha-am-district-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134440</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/">Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari 2,5 juta orang setiap tahun dan menyebabkan sekitar 81.000 hingga 138.000 kematian. Pada 2017, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan keracunan akibat gigitan ular ke dalam daftar penyakit tropis terabaikan dengan prioritas tinggi. Salah satu ular yang hidup berdampingan dengan manusia adalah ular weling (Bungarus candidus), anggota famili Elapidae yang berbisa tinggi. Di Indonesia, ular ini tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali, sementara di luar Indonesia ia ditemukan di Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Thailand, weling tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi akibat gigitan ular, dan dalam satu studi jumlah korbannya setara dengan ular tanah (Calloselasma rhodostoma). Meski berbahaya, informasi tentang pergerakan ular ini masih terbatas, karena sebelumnya hanya ada empat studi yang masing-masing melacak satu individu. Untuk mengisi kekosongan itu, tim peneliti melacak 14 ekor ular weling di kampus Suranaree University of Technology di Provinsi Nakhon Ratchasima, timur laut Thailand, dan menerbitkan hasilnya di jurnal Scientific Reports. Berlindung di Bawah Gedung dan Saluran Beton Kampus seluas sekitar 11 kilometer persegi itu dihuni lebih dari 15.000 mahasiswa, dengan ribuan di antaranya tinggal di asrama. Di sela gedung kuliah, laboratorium, rumah sakit, dan sekolah dasar, masih tersisa 37 petak hutan gugur campuran, sementara di luar kampus terbentang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:58:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134413</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/">Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga laut dan hasil tangkapan mereka, hutan yang menghadapi tekanan dari proyek panas bumi, hingga kisah tentang gajah dan pentingnya menjaga habitat tempat mereka hidup. Di Aceh, petani mulai melirik kacang koro pedang sebagai pangan lokal yang dinilai mampu bertahan di tengah musim kering. Sementara itu, dari Jabodetabek, kemarau panjang membuat sejumlah sungai mengalami penurunan debit, bahkan mengering. Kondisi ini ikut mengingatkan kembali betapa pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Penasaran dengan cerita lengkapnya? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps bulan September. 1. Nelayan Ende jaga laut dengan sistem buka-tutup  Aswan nelayan gurita Kodim Ocotpus Desa Kotodirumali, Nagekeo menangkap gurita di dasar laut dengan menyelam dan gunakan peralatan tradisional. Foto : Mia Margaretha Holo/Mongabay Indonesia. Gelombang tinggi membuat nelayan di Maurongga, Ende, Nusa Tenggara Timur, harus menarik perahu ke daratan. Namun, di tengah kondisi itu, mereka tetap berupaya menjaga sumber penghidupan dari laut. Masyarakat Maurongga menerapkan sistem buka-tutup wilayah tangkapan gurita. Wilayah ini ditutup secara bergantian selama tiga bulan agar gurita memiliki waktu untuk berkembang biak. Upaya ini, kata nelayan, membuat ukuran gurita hasil tangkapan meningkat. Meski begitu, mereka masih menghadapi ancaman penangkapan destruktif seperti bom, potasium, dan racun serangga. &nbsp; 2. Panas bumi masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01090009/Karhutla-Kalsel-Riyad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila. Tanah Papua menjadi salah satu daerah dengan karhutla parah. Bahkan, lebih masif ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, penanganan karhutla dan dampak kabut asapnya seakan tak terdengar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan, indikasi karhutla di Papua mencapai lebih 30.000 hektar sepanjang 2026. Dengan paling luas karhutla di Papua Selatan—lokasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/">Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila. Tanah Papua menjadi salah satu daerah dengan karhutla parah. Bahkan, lebih masif ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, penanganan karhutla dan dampak kabut asapnya seakan tak terdengar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan, indikasi karhutla di Papua mencapai lebih 30.000 hektar sepanjang 2026. Dengan paling luas karhutla di Papua Selatan—lokasi PSN—mencapai 25.838,53 hektar, Papua Tengah 2.519,88 hektar, dan Papua Barat 2.496,39 hektar. &#8220;Dari beberapa data yang kami peroleh, kejadian karhutla, terutama di Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya terindikasi meningkat,&#8221; kata Angky Samperante, Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Selasa (29/9/26). Sebagian titik kebakaran, katanya, di sekitar konsesi perkebunan sawit dan konsesi pemegang izin pemanfaatan kayu di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan. Pusaka juga menemukan indikasi keterkaitan kebakaran dengan aktivitas pembukaan lahan untuk proyek strategis nasional (PSN). Di area food estate dan sekitar perusahaan tebu di Merauke, misal, dokumentasi drone dan lapangan yang mendapati pola pembukaan lahan dengan membakar. &#8220;Dari pemantauan kami, kayu dan sisa vegetasi hasil bukaan lahan tersebut ditumpuk dalam petak-petak tertentu sebelum dibakar. Sementara pola kebakaran terlihat mengikuti lokasi tumpukan material itu.&#8221; Pengerahan helikopter water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8). Dokumentasi BNPB Temuan Yayasan Pusaka terkait karhutla itu sejalan dengan analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua. &#8220;Kebakaran kini tak lagi muncul sporadis di satu-dua wilayah. Sejumlah provinsi terbakar masif hampir bersamaan,&#8221; kata Maikel Peuki, Direktur Eksekutif Walhi Papua, Selasa (29/9/26). Walhi Papua mencatat, 3.000 lebih hotspot per Agustus 2026. Peningkatan signifikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:05:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01085545/Red-bearded-Bee-eater-atau-Cirik-cirik-Kumbang-di-Beutong-Ateuh-Banggalang-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134414</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/">Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media). “Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh, Senin (24/8/26). Tim KSLH juga juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan (Vulnerable/VU), yakni Schneider&#8217;s Pitta (Hydrornis schneideri), Graceful Pitta (Erythropitta venusta), dan Hoogerwerf&#8217;s Pheasant (Lophura hoogerwerfi). Empat jenis masuk kategori Hampir Terancam (Near Threatened/NT), yaitu Sumatran Babbler (Pellorneum buettikoferi), Sumatran Green Pigeon (Treron oxyurus), Sumatran Drongo (Dicrurus sumatranus), dan Sumatran Woodpecker (Picus dedemi). Sementara itu, 19 jenis berstatus Risiko Rendah (Least Concern/LC) dan 1 jenis, Sumatran Robin (Myiomela sumatrana), berstatus Belum Dievaluasi (Not Evaluated/NE). “Hutan Beutong Ateuh sangat penting untuk pelestarian burung-burung endemik Aceh,” kata Heri. Burung Red bearded Bee eater atau Cirik-cirik Kumbang ini terpantau di hutan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Burung-burung yang ditemukan, tidak hanya dari satu kelompok atau satu lapisan habitat. Ada jenis  yang aktif di tajuk pohon, mencari buah dan serangga di antara vegetasi, atau berada di lantai hutan. “Keberadaan mereka berkaitan dengan ketersediaan pakan, tempat berlindung, pohon bertengger, maupun lokasi berkembang biak.” Menurut Heri, burung juga dapat menjadi indikator perubahan ekosistem. Setiap jenis memiliki kebutuhan habitat, pakan dan tingkat toleransi terhadap gangguan berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29041137/Kucing-kuwuk3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134331</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara. Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/">Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara. Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan banyak kejadian yang merugikan kucing kuwuk berawal dari kurangnya pengetahuan kita tentang satwa tersebut. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” ujarnya. Salah satu risiko muncul dari cara masyarakat menangani hewan yang dianggap mengganggu tanaman. Jerat tidak dapat memilih satwa yang akan tertangkap. Begitu pula penggunaan racun untuk membasmi tikus atau bajing: hewan yang terpapar racun berpotensi dimangsa kucing kuwuk. Padahal, kucing kuwuk sendiri memangsa hewan kecil, termasuk kelompok pengerat, sehingga berpotensi membantu mengendalikan tikus di sekitar lahan pertanian. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, menekankan bahwa risiko keracunan tersebut tidak boleh dianggap pasti terjadi dalam setiap kasus. “Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.” Kesalahpahaman lain muncul saat warga menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Menurut Meidi, anak satwa itu belum tentu ditelantarkan; induknya mungkin sedang mencari makan. Kemiripannya dengan kucing peliharaan juga dapat membuat orang mengira kucing kuwuk bisa dirawat di rumah. Jika satwa tersebut terluka, Meidi menyarankan warga menghubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar. Sejauh ini, Yayasan Cikananga belum memiliki catatan sistematis mengenai jumlah kucing kuwuk yang menjadi korban penangkapan, jerat, atau racun. “Jadi, kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 03:57:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000606/Tarantula-berbulu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134350</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang. Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/">Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang. Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut. “Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.” Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh. Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut. Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut. Tim peneliti juga menyoroti hubungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 02:34:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17101119/Macan-tutul-jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134183</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan orang mengerumuni  macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terperangkap jebakan di kebun warga di Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/26). Jebakan itu sebenarnya warga pasang untuk babi hutan yang kerap merusak kebun warga. Tetapi, justru macan tutul yang terjebak. Warga pun lantas menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/">Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan orang mengerumuni  macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terperangkap jebakan di kebun warga di Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/26). Jebakan itu sebenarnya warga pasang untuk babi hutan yang kerap merusak kebun warga. Tetapi, justru macan tutul yang terjebak. Warga pun lantas menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor. “Waktu itu pagi-pagi tim dikontak masyarakat sekitar. Ada macan tutul terjebak di belakang rumah,” kata Imam Purwadi, Kurator Satwa Senior Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, di sela-sela Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) gelaran Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) akhir Agustus di TSI Bogor. Imam memimpin tim Life Science TSI Bogor yang terdiri dari dokter hewan dan kurator dan berhasil mengevakuasinya. Dari hasil observasi, tim memastikan kondisi macan tutul stabil dan sehat. “Jerat karet, membekas di kulit tapi tidak menimbulkan luka terbuka.  Kesimpulannya aman untuk dilepaskan,” ujar Imam. Foto udara lansekap hutan Pasir Panjang di Desa Tundagan, Kecamatan Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia TSI memiliki kadang rehabilitasi yang saat ini berisi satu macan tutul berwarna atau  sebutan macan kumbang. Macan kumbang merupakan spesies yang sama dengan macan tutul. Macan kumbang merupakan fenomena melanisme, yakni,  kelainan genetik yang menyebabkan peningkatan produksi pigmen melanin pada tubuh macan tutul. Jadi  kulit, rambut, atau bulu berwarna hitam pekat. Imam katakan, TSI telah membuat program pengembangbiakan, termasuk untuk macan. “Masuk program breading,” kata Imam. Program&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 14:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27065906/melon2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134283</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi bisnis, jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/">Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri atas 50 hektare area cemara laut dan 20 hektare wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali,” katanya. Sebelum pohon-pohon tumbuh, angin dari laut membawa pasir dan kadar garam ke lahan pertanian. Daun tanaman mudah mengering, terutama saat musim kemarau. Menurut Munadi, palawija dan tanaman hortikultura kerap gagal panen. Kelapa pun mengalami gangguan akibat paparan garam. Tegakan cemara laut membantu mengubah kondisi tersebut. Pohon menghalangi sebagian angin yang membawa pasir dan uap garam. Pasir yang tertahan kemudian mengendap di sekitar tegakan, sementara tanaman di belakangnya mendapat ruang yang lebih terlindungi. Cemara laut juga disebut membantu mengurangi abrasi dan meredam dampak angin kencang. Perubahan itu dirasakan Marsono Utomo, petani yang kini menanam melon di lahan seluas satu hektare. “Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, ia mengatakan hasil panennya bisa mencapai 10 ton. Namun, saat kemarau, melon tetap memerlukan penyiraman intensif. Petani lain juga memanfaatkan lahan di kawasan tersebut. Ada yang menanam cabai, terong, semangka, dan pepaya. Tumijo, misalnya, menanam pepaya di lahan seluas 5.000 meter persegi. Ketika produksinya tinggi, hasil panennya dapat mencapai dua ton. Kehadiran pepohonan membuka peluang bertani, meski hasilnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 13:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17071924/Gigi-manusia-purba-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134285</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi. Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/">Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi. Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia memeriksa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama berasal dari Leang Bulu Bettue dan diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari Leang Cappalombo dan hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya hidup sebelum masyarakat setempat mengenal pertanian. Pada gigi kedua individu itu, peneliti menemukan alur dan goresan melingkar yang berbeda dari keausan akibat mengunyah makanan. Mereka menafsirkan pola tersebut sebagai bekas kebiasaan menempatkan buah pinang utuh di mulut dan menghisapnya berulang kali. Bentuk gigi saja belum cukup untuk memastikan apa yang mereka konsumsi. Peneliti kemudian memeriksa jaringan gigi untuk mencari arekolin, senyawa dalam pinang yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Hasil analisis menemukan jejak senyawa tersebut pada sampel dari kedua situs. Bukti kimia itu memperkuat penafsiran terhadap pola keausan gigi. “Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Adam Brumm dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Science Advances. Temuan individu dari Leang Bulu Bettue menunjukkan bahwa penggunaan pinang di Sulawesi mungkin telah berlangsung sejak sekitar 25.000 tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 12:59:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/23143754/382b58f2-094b-424c-8259-1bcb574397af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134370</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tata kelola tambang masih karut marut begitu juga di Kalimantan Timur, sebagai produsen utama batubara Indonesia. Pertambangan batubara menciptakan multi masalah dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, sosial ekonomi sampai keselamatan warga. Kini, ketika masyarakat mengadu, atau laporan kasus,  pemerintah daerah berdalih tak bisa berbuat banyak karena sesuai UU Pertambangan Mineral dan Batubara kewenangan ada di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/">Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tata kelola tambang masih karut marut begitu juga di Kalimantan Timur, sebagai produsen utama batubara Indonesia. Pertambangan batubara menciptakan multi masalah dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, sosial ekonomi sampai keselamatan warga. Kini, ketika masyarakat mengadu, atau laporan kasus,  pemerintah daerah berdalih tak bisa berbuat banyak karena sesuai UU Pertambangan Mineral dan Batubara kewenangan ada di pemerintah pusat. Kondisi ini pun makin mempersulit masyarakat terdampak. Bambang Arwanto,  Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur (Kaltim), menyatakan, sejak kewenangan pertambangan di pemerintah pusat, pemerintah provinsi hanya berfungsi sebagai koordinator apabila ada persoalan di lapangan. “Mulai dari perizinan, pembinaan, pengawasan, termasuk pengawasan terhadap void atau lubang tambang semuanya sudah berada di pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM,” katanya dalam wawancara dengan Mongabay Indonesia belum lama ini. Kondisi itu, katanya, membuat pemerintah provinsi tak bisa langsung memeriksa ketika menerima laporan dugaan pelanggaran di area pertambangan. Bila ada laporan masyarakat atau temuan lapangan, katanya, pemerintah daerah lebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Setelah itu, kementerian mengeluarkan surat penugasan kepada inspektur tambang, baru pemerintah provinsi ikut pemeriksaan bersama. “Kalau kami mau turun, harus bersurat dulu ke kementerian. Setelah kementerian menugaskan inspektur tambang mendampingi, baru kami bisa masuk ke lokasi. Karena kewenangannya memang bukan lagi di pemerintah provinsi,” kata Bambang. Kendati tak lagi memiliki kewenangan pengawasan langsung, Dinas ESDM Kaltim tetap berkoordinasi setiap kali terjadi kecelakaan di area pertambangan. Setiap insiden, katanya, menjadi bahan evaluasi bersama inspektur tambang agar perusahaan memperkuat sistem pengamanan di area berisiko tinggi. Salah satu yang terus pemerintah ingatkan ialah kewajiban&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>