<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=m-dafi-yusuf&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/m-dafi-yusuf/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 27 Sep 2026 10:00:38 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Megalit Pasemah Merekam Hubungan Manusia Prasejarah, Air, dan Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 10:00:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19030315/Wajah-salah-satu-arca-manusia-Austro-Melanesia.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134112</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah. Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/">Megalit Pasemah Merekam Hubungan Manusia Prasejarah, Air, dan Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah. Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi Hari I, II, dan III. Ketiganya merupakan bagian dari lanskap megalitik Pasemah yang membentang di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang. Di seluruh kawasan tersebut tercatat sekitar 1.165 benda megalitik, termasuk 85 arca dan 25 bilik batu. Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti ialah letak tinggalan-tinggalan itu. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat. Menurutnya, lokasi tersebut menunjukkan pentingnya air bagi masyarakat pada masa itu. Jejak kehidupan dekat air juga terlihat pada guratan dan lukisan di batu-batu tepi sungai. Arkeolog BRIN, Sondang M Siregar, membayangkan masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari di sekitar aliran sungai sambil membuat gambar. “Mereka menikmati kehidupan di tepi aliran sungai,” ujarnya. Selain air, satwa hadir dalam tinggalan Pasemah. Sejumlah arca memperlihatkan manusia bersama gajah, harimau, kerbau, ular, atau buaya. Ada satwa yang digambarkan di samping manusia, ditunggangi, maupun dibopong. “Ini mencerminkan, menggambarkan, bahwa manusia pada masa itu, sudah sangat harmonis hubungannya dengan satwa,” kata Mario. Sondang menjelaskan bahwa arca manusia berkaitan dengan penghormatan kepada nenek moyang. Adapun penggambaran manusia bersama satwa menunjukkan hewan-hewan tersebut disegani dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Air Laut Berubah Warna, Apa yang Terjadi Saat Alga Meledak?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 09:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22042105/Longfin-damselfish-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134187</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, kelautan dan perikanan, pencemaran, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air laut di kawasan pesisir kadang berubah warna menjadi hijau pekat, merah, atau kecokelatan. Permukaannya seolah tertutup lapisan asing. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ledakan alga, yaitu pertumbuhan alga dalam jumlah sangat besar ketika kondisi perairan mendukung. Fenomena ini sudah pernah terjadi di Indonesia, meski menurut pakar ekologi laut BRIN, Tumpak Sidabutar, tidak sering. Ario [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/">Air Laut Berubah Warna, Apa yang Terjadi Saat Alga Meledak?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air laut di kawasan pesisir kadang berubah warna menjadi hijau pekat, merah, atau kecokelatan. Permukaannya seolah tertutup lapisan asing. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ledakan alga, yaitu pertumbuhan alga dalam jumlah sangat besar ketika kondisi perairan mendukung. Fenomena ini sudah pernah terjadi di Indonesia, meski menurut pakar ekologi laut BRIN, Tumpak Sidabutar, tidak sering. Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir IPB University, menjelaskan bahwa pemicunya berkaitan dengan peningkatan nutrien di air. Dari permukiman, lahan pertanian, peternakan, dan kegiatan budi daya perikanan, bahan organik dapat terbawa sungai hingga ke pesisir. Bakteri kemudian menguraikannya menjadi nutrien, antara lain nitrat, nitrit, amonia, dan fosfat. Alga memanfaatkan zat-zat tersebut untuk tumbuh. Ketika nutrien tersedia berlebihan, kondisi perairan disebut mengalami eutrofikasi. Namun, alga tidak hanya membutuhkan nutrien. Cahaya matahari serta keadaan fisik perairan juga mempengaruhi pertumbuhannya. Di tempat yang arusnya relatif tenang, nutrien dapat bertahan lebih lama. Ario menyebut Teluk Jakarta, Teluk Banten, dan Teluk Lampung sebagai contoh wilayah perairan yang perlu diperhatikan. Pertumbuhan alga yang melimpah dapat menimbulkan masalah meskipun alganya tidak menghasilkan racun. Pada siang hari, alga melakukan fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Malam harinya, alga melakukan respirasi dan menggunakan oksigen. Jika jumlah alga sangat banyak, kadar oksigen di air dapat turun drastis. Penguraian bahan organik oleh bakteri juga berkaitan dengan penurunan oksigen tersebut. Bagi ikan dan organisme lain, kekurangan oksigen dapat berakibat fatal. “Ikan dan organisme laut akan sulit bertahan hidup,” kata Tumpak. Ia mengingatkan bahwa perubahan warna air bukan sekadar peristiwa yang tampak di permukaan. “Blooming adalah indikator perairan tidak seimbang,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cemara Laut Bikin Pesisir Kebumen Sejuk dan Lindungi Tanaman Pertanian Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 07:03:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27065557/cemara2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134216</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pepohonan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh di pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, membuat wilayah ini terasa sejuk. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Lembupurwo yang memiliki 15 anggota, mengatakan penghijauan itu dimulai sejak 2008. Sekarang, luasnya mencapai 70 hektar, yang 50 hektar berupa area cemara laut dan 20 hektar wilayah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/">Cemara Laut Bikin Pesisir Kebumen Sejuk dan Lindungi Tanaman Pertanian Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pepohonan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh di pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, membuat wilayah ini terasa sejuk. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Lembupurwo yang memiliki 15 anggota, mengatakan penghijauan itu dimulai sejak 2008. Sekarang, luasnya mencapai 70 hektar, yang 50 hektar berupa area cemara laut dan 20 hektar wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali. Sebelumnya, kawasan ini bekas muara Sungai Wawar yang menjadi daratan setelah terjadi kemarau panjang sekitar 1992,” jelasnya, Sabtu (29/8/26). Kawasan Pantai Lembupurwo di Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kini terasa lebih sejuk dengan banyaknya pohon cemara laut. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Vegetasi tersebut menjadi benteng alami yang melindungi kawasan pantai dan wilayah di belakangnya. Ada tiga manfaat utama cemara laut bagi kawasan pesisir, yakni mengurangi abrasi, menahan angin yang membawa kadar garam, serta membantu meredam dampak angin kencang. Manfaat tersebut paling berdampak pada petani. Sebelum pesisir dihijaukan, angin laut yang langsung menerpa lahan pertanian membuat daun tanaman mudah kering. Terutama, ketika memasuki musim kemarau. “Palawija dan hortikultura yang umumnya gagal panen.&#8221; Setelah lingkungan terlindungi, petani mulai menanam cabai, terong, semangka, dan melon. “Bahkan, kelapa juga sebelumnya mengalami gangguan akibat tingginya paparan kadar garam.” Pengunjung melintasi pepohonan cemara laut yang rumbun di pesisir Pantai Lembupurwo di Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.  Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Pertanian di pinggir pantai Marsono Utomo, petani di Lembupurwo, menanam melon di lahan satu hektar. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, produksinya mencapai 10 ton sekali panen. Melon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 02:33:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/26154700/Warga-Gurabunga-mengambil-air-dari-salah-satu-sumber-air-Ake-Goa-yang-makin-menipis-saat-ini-buat-kebutuhan-foto-An-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134196</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang membuat warga di Kelurahan Gurabunga, Tidore, Maluku Utara (Malut) kelimpungan. Hajar Ibrahim dan Maryam Jafar misalnya. Mereka harus naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih. Membawa keranjang berisi jeriken berukuran 20 liter, mereka berjalan kaki sepanjang satu kilometer menuju Ake Goa, satu-satunya mata air tersisa saat kemarau seperti sekarang ini. “Mau bagaimana, air [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/">Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang membuat warga di Kelurahan Gurabunga, Tidore, Maluku Utara (Malut) kelimpungan. Hajar Ibrahim dan Maryam Jafar misalnya. Mereka harus naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih. Membawa keranjang berisi jeriken berukuran 20 liter, mereka berjalan kaki sepanjang satu kilometer menuju Ake Goa, satu-satunya mata air tersisa saat kemarau seperti sekarang ini. “Mau bagaimana, air ini kebutuhan utama jadi biar susah harus torang ambil. Kalau trada torang mau mandi pake apa,” terang Maryam. Selama ini, air bersih memang menjadi persoalan bagi warga di Gurabunga. Untuk keperluan sehari-hari, warga kerap memanfaatkan air hujan yang mereka tampung di kolam penampungan sekitar rumah. Namun, kemarau panjang membuat bak penampungan berukuran 4&#215;5 meter itu nyaris kosong. Praktis, kini warga hanya mengandalkan pasokan air dari Ake Goa, meski belakangan debitnya terus menurun. Itu pun, mereka harus antre hingga berjam-jam. “Jika sebelumnya kita ambil air di sini –Ake Goa, tidak perlu antri, sekarang warga harus antri,” kata Nurlaila Mahmud saat Mongabay temui di lokasi. Menurut dia, krisis air yang terjadi memaksa warga untuk lebih berhemat karena persediaan yang kian menipis. Air dari Ake Goa hanya warga gunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti memasak. Untuk mencuci pakaian, mereka ke rumah kerabat yang memiliki pasokan melimpah. Bagi Nurlaila, kemarau seperti ini membuat beban perempuan semakin berat. Selain, menyediakan air bersih, juga harus memasak maupun mengurus anak, keluarga dan mencuci.   “Saat kemarau seperti sekarang torang (kita, red) harus saling membantu terutama dengan suami.&#8221; Pemerintah melalui PDAM dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memang mendistribusikan air kepada warga. Namun, jumlahnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buah Terbesar yang Tumbuh di Pohon Ini Dilirik sebagai Pangan Tahan Perubahan Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 01:46:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27013943/abhi_jacob-jackfruit-7222930_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134204</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perubahan iklim menekan sistem pangan dunia dari banyak arah. Gelombang panas, kemarau panjang, dan pola hujan yang sulit ditebak mengganggu produksi tanaman pokok seperti padi, gandum, dan jagung, yang sebagian besar ditanam dalam skala luas dan bergantung pada pasokan air yang stabil. Karena itu, sejumlah peneliti mulai menengok tanaman yang selama ini kurang diperhatikan, terutama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/">Buah Terbesar yang Tumbuh di Pohon Ini Dilirik sebagai Pangan Tahan Perubahan Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perubahan iklim menekan sistem pangan dunia dari banyak arah. Gelombang panas, kemarau panjang, dan pola hujan yang sulit ditebak mengganggu produksi tanaman pokok seperti padi, gandum, dan jagung, yang sebagian besar ditanam dalam skala luas dan bergantung pada pasokan air yang stabil. Karena itu, sejumlah peneliti mulai menengok tanaman yang selama ini kurang diperhatikan, terutama jenis yang bisa tumbuh dengan perawatan minim dan relatif mampu bertahan di bawah tekanan lingkungan. Salah satu yang kini banyak diteliti adalah nangka (Artocarpus heterophyllus), buah terbesar yang tumbuh di pohon. Rekor buah terberat secara keseluruhan memang dipegang labu raksasa, tetapi labu tumbuh merambat di tanah, sedangkan nangka bergantung pada batang pohon untuk menopang buahnya yang bisa mencapai puluhan kilogram. Tanaman yang berasal dari hutan hujan Ghats Barat di India ini sudah lama menyebar ke Asia Tenggara, Afrika tropis, dan Amerika, dan di Indonesia dikenal akrab sebagai bahan gudeg, sayur lodeh, hingga buah meja. Sebuah studi dari India kini menyoroti keragaman nangka sebagai modal untuk mengembangkan tanaman ini di tengah iklim yang berubah. Keragaman Nangka di Wilayah Kering Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports itu meneliti 94 pohon nangka di wilayah kering Karnataka, India selatan. Tim dari ICAR-Indian Institute of Horticultural Research mensurvei pohon-pohon tersebut di distrik Tumkur dan Bengaluru Rural antara 2020 dan 2023. Tumkur dipilih karena memiliki zona iklim yang beragam dan kondisi ekologis yang luas, sementara pohon-pohon yang diteliti tumbuh dari biji di pekarangan rumah dan hutan sekunder dengan perawatan yang sangat minim. Para peneliti mencatat bahwa hampir seluruh bagian pohon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Warga Taliabu jadi Korban Ular Piton, Habitat Terganggu?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dua-warga-taliabu-jadi-korban-ular-piton-habitat-terganggu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dua-warga-taliabu-jadi-korban-ular-piton-habitat-terganggu/#respond</comments>
					<pubDate>26 Sep 2026 10:00:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230058/ULAR-PITON-YANG-MELILIT-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134131</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, maluku, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Elizabeth Yamalu pergi untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026. Ketika tak kunjung pulang, suaminya, Menjamin Lanto, pergi mencari. Dia menemukan Elizabeth dalam lilitan piton besar. Elizabeth meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, seorang warga Desa Padang juga tewas setelah diserang piton saat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dua-warga-taliabu-jadi-korban-ular-piton-habitat-terganggu/">Dua Warga Taliabu jadi Korban Ular Piton, Habitat Terganggu?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Elizabeth Yamalu pergi untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026. Ketika tak kunjung pulang, suaminya, Menjamin Lanto, pergi mencari. Dia menemukan Elizabeth dalam lilitan piton besar. Elizabeth meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, seorang warga Desa Padang juga tewas setelah diserang piton saat hendak pergi ke kebun. Dua peristiwa itu membuat warga waswas. Mereka mengatakan piton berukuran besar semakin sering ditemukan di kebun, dekat permukiman, sungai, bahkan kantor pemerintahan. Yulius Lait, tokoh adat Desa Natang Kuning, merasa kemunculannya berbeda dari yang pernah ia saksikan. “Sepanjang usia hidup ini, dari muda sampai tua belum ada ular yang keluar sebanyak ini. Apalagi sampe telan orang,” katanya. Sejumlah warga menduga perubahan hutan di sekitar desa berkaitan dengan kemunculan piton. Desa Padang, misalnya, berbatasan dengan kawasan konsesi pertambangan. Namun, dugaan tersebut masih perlu diuji. Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara mencatat perubahan tutupan hutan Taliabu seluas 38.257,4 hektar sepanjang 2001–2025. Menurut Irsandi Hidayat, Koordinator JPIK Malut, pembukaan hutan untuk pertambangan dan kegiatan perusahaan kayu dapat mengubah habitat serta memutus hubungan antara kawasan yang digunakan satwa untuk bergerak. “Ketika ruang jelajah semakin menyempit, satwa berpotensi keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman,” ujarnya. Meski demikian, data perubahan tutupan hutan itu belum membuktikan penyebab setiap kemunculan piton di desa. Yeni Purnamasari dari BKSDA Maluku-Malut mengatakan berkurangnya mangsa di hutan dapat mendorong piton mencari makanan di tempat lain. BKSDA belum memiliki data resmi mengenai jumlah piton maupun lokasi habitatnya di Taliabu. Karena itu, perubahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dua-warga-taliabu-jadi-korban-ular-piton-habitat-terganggu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dua-warga-taliabu-jadi-korban-ular-piton-habitat-terganggu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/26/kebakaran-hutan-bahayakan-kesehatan-masyarakat-dan-rugikan-ekonomi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/26/kebakaran-hutan-bahayakan-kesehatan-masyarakat-dan-rugikan-ekonomi/#respond</comments>
					<pubDate>26 Sep 2026 08:48:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011038/karhutla-riyad-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134190</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Tursih menyudahi kelas di depan layar komputer jinjingnya,  17 September lalu. “Sekian dulu untuk hari ini..,” katanya, menutup kelas daring. Sudah sekitar satu bulan ini, guru SMP di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ini tak mengajar tatap muka. Kepungan kabut asap pekat karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian mengkhawatirkan di Kalimantan Barat. Kualitas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/26/kebakaran-hutan-bahayakan-kesehatan-masyarakat-dan-rugikan-ekonomi/">Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Tursih menyudahi kelas di depan layar komputer jinjingnya,  17 September lalu. “Sekian dulu untuk hari ini..,” katanya, menutup kelas daring. Sudah sekitar satu bulan ini, guru SMP di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ini tak mengajar tatap muka. Kepungan kabut asap pekat karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian mengkhawatirkan di Kalimantan Barat. Kualitas udara makin buruk bahkan berbahaya. Siswa pun pun tak masuk sekolah alias pembelajaran jarak jauh sejak 24 Agustus 2026 di Kota Pontianak, serta wilayah terdampak lain di Kalimantan Barat. “Parah sekali (asap) yang sekarang (tahun ini). Mangkannya sampai sekarang masih online sekolahnya,”  kata perempuan 47 tahun ini kepada Mongabay, Kamis, (17/9/26). Pontianak, menjadi daerah dengan tingkat kualitas udara paling buruk karena asap karhutla. Dalam pemantauan indeks kualitas udara, Pontianak selalu berstatus berbahaya dengan tingkat polutan utama, PM 2.5 yang tinggi. Berdasarkan data SiPongi, luas karhutla di Indonesia hingga Juli 2026 mencapai lebih 202.000 hektar, terjadi di 240 kabupaten/kota, 36 provinsi. Karhutla tahun ini lebih mengkhawatirkan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kementerian Kehutanan mencatat, dalam periode sama (Januari-Juli), luas karhutla tahun ini meningkat 47% (64.996,88 hektar) dari tahun 2019 dan 80% (109.080,25 hektar) pada 2023. Kalau membandingkan dengan 2025, luas karhutla 2026 naik 69% (82.791,04 hektar). Karhutla terluas di Kalimantan Barat sekitar 38.310,86 hektar, lalu Papua Selatan (25.838,53), Nusa Tenggara Timur (19.565,16) Nusa Tenggara Barat (17.406,46), Riau (15.738,92), Maluku (14.677) dan Jawa Timur (10.310,86 hektar). Tursih bilang,  suasana mencekam ketika kabut asap menyelimuti kota. Hal ini membawa dampak multidimensi. Tak hanya melumpuhkan aktivitas sosial-ekonomi dan transportasi,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/26/kebakaran-hutan-bahayakan-kesehatan-masyarakat-dan-rugikan-ekonomi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/26/kebakaran-hutan-bahayakan-kesehatan-masyarakat-dan-rugikan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Banjir Bandang Terjang Solok, Dampak Alih Fungsi Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/26/banjir-bandang-terjang-solok-dampak-alih-fungsi-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/26/banjir-bandang-terjang-solok-dampak-alih-fungsi-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Sep 2026 05:31:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra BaittriVinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25154643/1288709-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134157</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banjir bandang menerjang Arosuka, pusat ibu kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar) setelah hujan deras mengguyur, Senin ()21/9/26) malam, sekitar pukul 20. 00.  Satu orang  meninggal dunia, sejumlah infrastruktur dan perkantoran juga rusak parah. Ali Priyono, penjual gorengan  di jembatan tak jauh dari Kantor Bupati Solok ceritakan bagaimana detik-detik peristiwa itu terjadi. Malam itu, Ali yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/26/banjir-bandang-terjang-solok-dampak-alih-fungsi-hutan/">Banjir Bandang Terjang Solok, Dampak Alih Fungsi Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banjir bandang menerjang Arosuka, pusat ibu kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar) setelah hujan deras mengguyur, Senin ()21/9/26) malam, sekitar pukul 20. 00.  Satu orang  meninggal dunia, sejumlah infrastruktur dan perkantoran juga rusak parah. Ali Priyono, penjual gorengan  di jembatan tak jauh dari Kantor Bupati Solok ceritakan bagaimana detik-detik peristiwa itu terjadi. Malam itu, Ali yang sibuk melayani pembeli kaget dengan suara gemuruh yang datang dari arah hulu sungai. Hanya dalam hitungan detik, sungai yang sebelumnya terlihat tenang penuh oleh air bah dengan kayu-kayu berukuran besar. Menyadari apa yang terjadi, Ali bergegas mengambil langkah seribu menuju rumahnya di seberang gerobak. Dia teringat istri dan tiga anaknya yang tengah beristirahat. “Kalau bukan nyawa apalagi yang penting diselamatin terlebih dahulu,” katanya, Selasa (22/9/26). Sementara suara dari kayu-kayu berukuran besar dan bebatuan terus berdentuman memecah dinding rumah sekitar sungai, Ali sekuat tenaga membawa anaknya dan membawa istrinya berlari menjauhi jembatan. Dia dan keluarganya pun selamat, meski rumahnya penuh lumpur dan bebatuan.  Selama tinggal di Solok sejak 2008, katanya,  baru kali ini banjir bandang terjadi. “Belum pernah terjadi seperti ini,” ujarnya. Salah satu rumah warga yang penuh oleh batu dan lumpur sisa banjir bandang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Perkantoran penuh lumpur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar mencatat, sekitar 10 kantor pemerintahan rusak karena kejadian ini. Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN) rusak berat dan tertimbun material sekitar 30 sentimeter. Kantor DPRD bahkan lebih parah dengan timbunan material setinggi 60 sentimeter. Begitu juga dengan kantor&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/26/banjir-bandang-terjang-solok-dampak-alih-fungsi-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/26/banjir-bandang-terjang-solok-dampak-alih-fungsi-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Punah dan yang Masih Hidup Ditemukan Berdampingan di Dasar Samudra Hindia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/26/paus-punah-dan-yang-masih-hidup-ditemukan-berdampingan-di-dasar-samudra-hindia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/26/paus-punah-dan-yang-masih-hidup-ditemukan-berdampingan-di-dasar-samudra-hindia/#respond</comments>
					<pubDate>26 Sep 2026 04:07:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/26040604/MBNMS_Whale_Fall_at_Davidson_Seamount_49639154888-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134172</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara mamalia besar yang hidup saat ini, paus paruh termasuk kelompok yang paling sedikit dipahami ilmuwan. Famili Ziphiidae ini mencakup sekitar 24 spesies yang umumnya hidup di laut lepas yang dalam, jauh dari garis pantai. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah permukaan dan hanya muncul sebentar untuk bernapas, sehingga jarang teramati. Akibatnya, banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/26/paus-punah-dan-yang-masih-hidup-ditemukan-berdampingan-di-dasar-samudra-hindia/">Paus Punah dan yang Masih Hidup Ditemukan Berdampingan di Dasar Samudra Hindia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara mamalia besar yang hidup saat ini, paus paruh termasuk kelompok yang paling sedikit dipahami ilmuwan. Famili Ziphiidae ini mencakup sekitar 24 spesies yang umumnya hidup di laut lepas yang dalam, jauh dari garis pantai. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah permukaan dan hanya muncul sebentar untuk bernapas, sehingga jarang teramati. Akibatnya, banyak spesies lebih dikenal dari bangkai yang terdampar dan tengkorak di koleksi museum daripada dari pengamatan langsung di alam. Karena itu, temuan di Zona Fraktur Diamantina, barat daya Australia, penting bagi penelitian kelompok paus ini. Di dasar laut kawasan tersebut, pada kedalaman 4.616 hingga 7.001 meter, tim peneliti menemukan tulang paus paruh yang sudah punah jutaan tahun lalu tergeletak di area yang sama dengan sisa spesies yang masih hidup hingga kini. Tim dari Institute of Deep-sea Science and Engineering, Chinese Academy of Sciences, itu melakukan 32 penyelaman dengan kapal selam berawak Fendouzhe pada 8 Februari hingga 17 Maret 2023 dan mencatat 485 titik berisi fosil maupun bangkai paus. Hasil penelitian ini terbit di jurnal Nature pada Juni 2026. Arsip Tulang dari Lima Juta Tahun Dua spesies paus paruh yang masih hidup teridentifikasi di situs ini, yaitu paus paruh Andrews (Mesoplodon bowdoini) dan paus paruh bergigi tali (Mesoplodon layardii). Di sekitarnya terdapat fosil dua spesies punah, Pterocetus benguelae dan Izikoziphius rossi. Tim juga mendeskripsikan satu spesies punah yang sebelumnya tidak dikenal, dan menamainya Pterocetus diamantinae. Analisis isotop strontium menunjukkan umur fosil berkisar antara 120.000 hingga 5,26 juta tahun. Artinya, bangkai paus telah mengendap di kawasan ini setidaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/26/paus-punah-dan-yang-masih-hidup-ditemukan-berdampingan-di-dasar-samudra-hindia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/26/paus-punah-dan-yang-masih-hidup-ditemukan-berdampingan-di-dasar-samudra-hindia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Cara Semut Temukan Jalan Pulang ke Sarang dengan Jalan Mundur?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/#respond</comments>
					<pubDate>26 Sep 2026 00:15:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22004817/semut-bawa-makanan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134150</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor semut gurun spanyol (Cataglyphis velox) menemukan makanan yang terlalu besar untuk dibawa dengan rahangnya. Agar makanan itu sampai ke sarang, ia menyeretnya sambil berjalan mundur. Tetapi, bagaimana semut tahu arah pulang ketika kepalanya tidak menghadap ke tujuan? Awalnya, ilmuwan menduga semut harus sesekali berbalik untuk melihat jalur yang sudah dikenalnya. Perilaku itu memang terlihat: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/">Bagaimana Cara Semut Temukan Jalan Pulang ke Sarang dengan Jalan Mundur?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor semut gurun spanyol (Cataglyphis velox) menemukan makanan yang terlalu besar untuk dibawa dengan rahangnya. Agar makanan itu sampai ke sarang, ia menyeretnya sambil berjalan mundur. Tetapi, bagaimana semut tahu arah pulang ketika kepalanya tidak menghadap ke tujuan? Awalnya, ilmuwan menduga semut harus sesekali berbalik untuk melihat jalur yang sudah dikenalnya. Perilaku itu memang terlihat: semut kadang meletakkan makanannya, menghadap ke arah perjalanan, lalu kembali menyeretnya. Namun, penelitian terhadap Cataglyphis velox menunjukkan bahwa semut juga menggunakan informasi yang dikumpulkan selama perjalanan menjauh dari sarang. Saat berjalan maju, semut dapat mengingat tikungan, belokan, dan langkah yang telah ditempuh. Dalam artikel, cara ini disebut “integrasi jalur”. Semut juga menggunakan sudut matahari untuk menentukan posisinya dan mengenali patokan di sepanjang perjalanan. Pertanyaan bagi peneliti ialah bagaimana informasi tersebut digunakan ketika semut harus pulang dengan berjalan mundur. Sebastian Schwarz dan rekan-rekannya mengamati semut yang telah berjalan dari sarang menuju makanan pengumpan di gurun. Mereka kemudian memberi semut remah kue berukuran besar untuk diseret pulang. Di beberapa percobaan, peneliti mengubah pemandangan di sepanjang jalur dengan menempatkan kantong plastik hitam dan terpal. Perubahan itu memengaruhi kapan semut berhenti untuk melihat arah perjalanan. Semut yang menghadapi pemandangan baru berbalik setelah menyeret makanan sekitar 3,2 meter di jalur sepanjang delapan meter. Sebaliknya, semut di jalur yang biasa dilalui dapat bergerak hampir enam meter tanpa berbalik. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa semut memanfaatkan petunjuk visual di sekitarnya saat berjalan mundur. Menurut Schwarz, mereka cenderung mengambil informasi dari samping dan belakang ketika berjalan menjauh dari sarang. “Kemudian menggunakannya untuk membimbing kembali&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Ledakan Alga Bisa Ganggu Ekosistem Laut Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 17:20:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22042105/Longfin-damselfish-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134165</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekelompok peneliti dari University of South Florida dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan fenomena ledakan alga (bloomings algae) yang titiknya meluas di lautan dunia. Temuan itu dibantu kecerdasan buatan (AI). Penelitian itu menjelaskan, ledakan alga juga memicu munculnya bau tidak sedap, menimbulkan kerusakan ekologis, dan merugikan ekonomi wilayah pesisir. Bagaimana Indonesia? Saat terjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/">Mengapa Ledakan Alga Bisa Ganggu Ekosistem Laut Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekelompok peneliti dari University of South Florida dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan fenomena ledakan alga (bloomings algae) yang titiknya meluas di lautan dunia. Temuan itu dibantu kecerdasan buatan (AI). Penelitian itu menjelaskan, ledakan alga juga memicu munculnya bau tidak sedap, menimbulkan kerusakan ekologis, dan merugikan ekonomi wilayah pesisir. Bagaimana Indonesia? Saat terjadi ledakan alga, perairan Indonesia akan mengalami perubahan warna dari biru menjadi hijau pekat atau merah kecokelatan. Secara kasat mata, permukaan air laut tampak tertutup lapisan warna asing. Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir dari IPB University, menjelaskan ledakan alga terjadi karena meningkatnya kandungan nutrien di perairan yang berasal dari daratan. “Ledakan alga selalu terjadi di perairan berdekatan permukiman penduduk,” ucapnya, Sabtu (18/9/26). Penyebab melimpahnya alga karena meningkatnya pasokan limbah domestik dari permukiman, aktivitas pertanian, peternakan, hingga kegiatan budi daya perikanan. Semua aktivitas itu membawa bahan organik masuk ke pesisir melalui sungai. Bahan organik tersebut mengalami proses penguraian bakteri, sehingga berubah menjadi nutrien seperti nitrat (NO₃⁻), nitrit (NO₂⁻), amonia (NH₃/NH₄⁺), dan fosfat (PO₄³⁻) yang dapat dimanfaatkan langsung alga untuk tumbuh. Kondisi itu disebut eutrofikasi, atau meningkatnya kandungan nutrien berlebihan di perairan. Ario mengatakan, nutrien bukan satu-satunya faktor. Pertumbuhan alga juga dipengaruhi cahaya matahari dan kondisi fisik perairan. Wilayah yang memiliki arus relatif tenang, memungkinkan nutrien bertahan lebih lama, sehingga alga bisa berkembang lebih cepat. Wilayah perairan seperti Teluk Jakarta, Teluk Banten, atau Teluk Lampung adalah beberapa contohnya. Ikan longfin damselfish [Stegastes diencaeus] yang juga disebut ikan petani, membudidayakan alga dengan memanfaatkan kotorannya untuk dijadikan pupuk penyubur.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Gurita, Menjaga Penghidupan Nelayan Maurongga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 10:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21081049/1A-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134110</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, nusa tenggara, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan. “Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran. Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/">Menjaga Gurita, Menjaga Penghidupan Nelayan Maurongga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan. “Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran. Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan batu hijau di pesisir. Batu itu dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Satu karung berisi 25 kilogram batu dihargai sekitar Rp20.000. Imran mulai menangkap gurita di Maurongga pada 2015. Ia mempelajari pekerjaan itu ketika tinggal di kampung asalnya, di pantai selatan Kota Ende. Setelah menetap di Maurongga, ia melihat peluang yang belum digarap nelayan setempat. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,” ujarnya. Pada 2019, setelah pendampingan Yayasan Tananua, jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang, dua di antaranya perempuan. Nelayan kemudian memperoleh bantuan perahu. Data Yayasan Tananua Flores menunjukkan gurita menjadi hasil tangkapan terbesar Maurongga pada 2025, yakni 479,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp16,07 juta. Untuk menjaga perairan tempat mereka bekerja, nelayan menerapkan sistem buka tutup wilayah tangkap melalui skema Loi. Ismail Isman, ketua kelompok nelayan LMMA Embo Angi, menjelaskan bahwa perairan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian ditutup selama tiga bulan, sementara nelayan tetap bisa mencari gurita di bagian lainnya. Penutupan lalu dilakukan bergantian. Menurut Imran, sistem itu memberi waktu bagi gurita untuk berkembang biak. Ia mengatakan berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat dan rata-rata bisa mencapai tiga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Utang Perburuk Kondisi Pekerja Kapal Perikanan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 06:59:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita RaissaNiko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/24085957/fxn-2026-08-15-111207F80814156191-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134113</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan Rajasa, bukan nama sebenarnya, sibuk menarik tali tambat kapal yang baru saja bersandar di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut). Setelah kapal terparkir, dia bergegas mengoper nasi bungkus kepada awak kapal lainnya. “Lapar, makan dulu. Dari subuh angkut-angkut cumi,” ujarnya sambil menyantap nasi bungkus. Sekitar 15 tom cumi Rajasa turunkan dari lambung kapal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/">Jerat Utang Perburuk Kondisi Pekerja Kapal Perikanan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan Rajasa, bukan nama sebenarnya, sibuk menarik tali tambat kapal yang baru saja bersandar di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut). Setelah kapal terparkir, dia bergegas mengoper nasi bungkus kepada awak kapal lainnya. “Lapar, makan dulu. Dari subuh angkut-angkut cumi,” ujarnya sambil menyantap nasi bungkus. Sekitar 15 tom cumi Rajasa turunkan dari lambung kapal bersama rekan-rekannya yang bekerja sejak subuh. Melaut sejatinya bukan pekerjaan yang Rajasa impikan. Sulitnya mendapat pekerjaan  membuatnya memilih menjadi awak kapal perikanan (AKP). “Dari pada kelamaan nganggur, saya terima aja tawaran kerja dari teman. Jadi saya melaut, meski upah kecil,” katanya kepada Mongabay pertengahan Agustus. Terhitung sudah lima bulan ini dia bekerja di kapal cumi berbobot 30 gross tonnage (GT) itu. Sekali berangkat, kapal membawa 12 AKP dan satu kapten. Area tangkap berada di perairan Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur atau Laut Flores. Di kapal itu, dia dan AKP lain mendapat upah harian Rp35.000. Dalam sebulan, gaji pokok Rajasa dan teman-temannya berkisar Rp900.000-Rp1.000.000. Aktivitas bongkar muat hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Muara Angke. Foto: Niko Wicaksana/Mongabay Indonesia. Selain harian, dia dan teman-temannya juga mendapat premi Rp8.000 setiap kilogram. Dengan begitu, makin banyak cumi yang dia dapat, makin besar pula premi yang AKP peroleh. Dengan sistem premi, pendapatan Rajasa sepenuhnya bergantung pada jumlah cumi yang dia dapat. Saat cuaca bersahabat, dia bisa mendapat 10-15 kilogram cumi. Sebaliknya, saat musim paceklik, dia hanya bisa mendapat dua kilogram. Para AKP mengaku kerap mendapat perlakuan kurang mengenakkan ketika hasil tangkapan tak penuhi target. Mulai dari makian, hingga kekerasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 04:25:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25042117/cover-sungai-lesan-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134137</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/">Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat orangutan kalimantan, termasuk lokasi pelepasliaran individu yang telah direhabilitasi. Hutan ini dapat dimasuki melalui beberapa kampung, salah satunya Desa Lesan Dayak yang dihuni masyarakat Dayak. Dalam kegiatan penelitian dan ekowisata, masyarakat tidak sekadar menjadi pelengkap. Mereka terlibat sejak persiapan, menyediakan rumah singgah dan kawasan perkemahan, menyambut pengunjung, serta bekerja sebagai pemandu lokal. Pengetahuan mereka mengenai jalur hutan dan lokasi perjumpaan satwa membantu penelitian burung, mamalia, kupu-kupu, herpetofauna, kelelawar, vegetasi, serta cadangan karbon. Penelitian selama hampir tiga bulan mencatat 55 jenis herpetofauna, 38 jenis mamalia darat, 112 jenis kupu-kupu, 187 jenis burung, dan 15 jenis kelelawar. Hasil tersebut memperlihatkan pentingnya Sungai Lesan bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. Kegiatan ini juga menghasilkan buku panduan kupu-kupu yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenalkan kekayaan hutan kepada pengunjung. Meski berstatus hutan lindung, Sungai Lesan menghadapi tekanan pembukaan lahan dan dikelilingi perkebunan sawit. Koridor yang menghubungkannya dengan kawasan hutan lebih luas juga berisiko dialihfungsikan. Dalam situasi ini, penelitian dan ekowisata berbasis masyarakat diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat alasan untuk mempertahankan hutan. Bagaimana masyarakat dapat ditempatkan sebagai pelaku utama penelitian dan konservasi? Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 04:16:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22053048/Kukang-Nycticebus-bancanusyang-berada-di-PPS-Alobi-Kepualauan-Bangka-Belitung.--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134111</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis. “Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/">Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis. “Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan seperti nyatoh, ulin, dan ara,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Pohon-pohon itu menjadi bagian dari lingkungan yang masih dapat digunakan kukang, sementara habitatnya di tempat lain menghadapi perubahan. Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2017 hingga November 2018, Randi menemukan kukang bangka di sekitar berbagai jenis pohon. Di antaranya karet, petai, nangka, cempedak, pisang, durian, duku, rambutan, dan pelawan. “Semua pohon tersebut terdapat di kelekak,” jelasnya. Penelitian itu dilakukan di sejumlah desa di Kabupaten Bangka. Hubungan kukang dengan pepohonan tidak berhenti pada kebutuhan akan tempat hidup. Menurut Randi, kukang turut membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan di alam. Satwa ini juga berperan mengendalikan serangga yang dapat menyerang tanaman produktif milik masyarakat maupun tumbuhan hutan. Dengan demikian, keberadaan kukang berkaitan pula dengan kelangsungan tumbuhan di sekitarnya. Meski demikian, belum ada data pasti mengenai jumlah kukang bangka yang hidup di alam. IUCN Red List menempatkannya dalam kategori Kritis dan menyoroti hilangnya habitat akibat deforestasi, terutama perluasan perkebunan sawit. Randi mengatakan perubahan hutan dan kelekak menjadi perkebunan, wilayah tambang, serta permukiman mengancam kukang di Pulau Bangka. “Secara umum, populasinya menurun dan terancam, akibat perubahan habitat menjadi perkebunan sawit, daerah tambang, dan perumahan,” ujarnya. Selain&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Martha Haran Suarakan Pesan Jaga Lingkungan Lewat Telimaa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 03:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vitri Angreni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25031810/Screenshot-2026-09-24-at-00.35.18-1-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134078</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Martha Haran melangkah perlahan. September ini, perempuan Dayak Kayan Mendalam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu berusia 70 tahun. Meski begitu, usia tak menyurutkan semangatnya, suaranya kuat dan jernih, ketika sedang menuturkan telimaa dengan iringan sape, alat musik petik tradisional Dayak. Ine Martha, sapaan akrabnya, adalah seorang penelimaa atau penutur syair telimaa, sastra lisan Kayan. Sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/">Martha Haran Suarakan Pesan Jaga Lingkungan Lewat Telimaa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Martha Haran melangkah perlahan. September ini, perempuan Dayak Kayan Mendalam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu berusia 70 tahun. Meski begitu, usia tak menyurutkan semangatnya, suaranya kuat dan jernih, ketika sedang menuturkan telimaa dengan iringan sape, alat musik petik tradisional Dayak. Ine Martha, sapaan akrabnya, adalah seorang penelimaa atau penutur syair telimaa, sastra lisan Kayan. Sebagai penelimaa, dia bertugas memberikan saran pada generasi penerus untuk menjaga tanah warisan leluhur. “Kepada anak-anak agar jangan merusak yang dititipkan para leluhur untuk kita. Nah, apabila dihancurkan oleh kita, nanti akan ada dampaknya sebagai hukuman bagi kita,” katanya. Namun, terima atau tidaknya pesan itu tergantung orang yang mendengarkan. Menurut dia, orang yang tidak mau merusak pasti mendengar. Beda dengan yang mau merusak, dan mementingkan diri sendiri, akan tetap membangkang. Dia mencontohkan iming-iming pada masyarakat kampung yang mau menjual tanah pada perusahaan. “Seandainya perusahaan masuk, kita yang tidak punya mobil, bisa punya. Kita tidak punya motor, bisa punya.” Uang yang perusahaan tawarkan untuk membeli tanah warga bisa habis. Meski mereka yang menjual dapat bibit, pupuk, dan racun rumput, itu tidak sebanding dengan tanah warisan leluhur. “Tanah kalau hak leluhur kita ini, kita piara untuk selama-lamanya. Turun-temurun kita punya. Kalau mobil, kalau motornya sudah beberapa lama hancur. Nah, mau cari apa lagi?” Baginya, lebih baik tidak dapat bibit dan lapar daripada menukar tanah dengan kesenangan yang hanya sementara. Namun, sikap itu tidak selalu bisa masyarakat terima. “Kadang-kadang mereka itu benci juga dengan saya karena saya itu seorang pembangkang.” Ine Martha melantunkan Telimaa diiringi Sape yang dimainkan budayawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 00:04:02 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121329/Siswa-terpapar-kabut-asap-di-Kalsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=134123</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/">Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten dan kota terpapar kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi terparah. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut ( ISPA)  pun menggila. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat dalam periode 18 Agustus sampai 21 September 2026, terjadi 174.694 kasus ISPA di daerah terdampak karhutla. Dari angka itu, sekitar  40.363 kasus menimpa balita. Apa usaha negara lindungi warga? Hak warga negara mendapatkan lingkungan hidup yang sehat termasuklah menghirup udara segar bukan racun. The post Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 10:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21175859/IMG_1160-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134028</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan nusa tenggara]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/">Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang membuat mata air menyusut dan sawah mengering. Melalui Nunas Nede, mereka memohon hujan sekaligus mengingatkan diri untuk menjaga sumber air. Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di desa. Air tersebut kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Warga membawa hasil bumi, berdoa, berzikir, lalu menikmati makanan bersama. Amaq Marni, pemangku adat berusia 73 tahun, mengatakan ritual ini mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan. “Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya. Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bersama. Warga membersihkan kawasan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran, serta menanam pohon. Anak muda membantu membawa perlengkapan dan membersihkan aliran yang tersumbat. Masyarakat juga mempertahankan aturan tidak tertulis, termasuk larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan. Pepohonan di sekitar mata air dijaga karena warga memahami hubungannya dengan keberlangsungan pasokan air. “Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” ujar Marni. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan musim menambah kecemasan petani. Hujan semakin sulit diperkirakan, debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam menjadi tidak menentu. “Dulu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 05:10:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230214/PTPN-Paser-1-INI-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134094</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Akhirnya,  Indonesia punya Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA).  UU yang baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  sahkan pada rapat paripurna 22 September lalu ini bukan datang tiba-tiba, ia hasil perjuangan panjang berbagai organisasi masyarakat sipil selama 34 tahun. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai, UU menjadi kado manis bagi rakyat di Hari Tani Nasional, 24 September [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/">Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Akhirnya,  Indonesia punya Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA).  UU yang baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  sahkan pada rapat paripurna 22 September lalu ini bukan datang tiba-tiba, ia hasil perjuangan panjang berbagai organisasi masyarakat sipil selama 34 tahun. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai, UU menjadi kado manis bagi rakyat di Hari Tani Nasional, 24 September ini. Dewi Kartika, Sekjen KPA mengatakan, proses pengesahan UU itu tidak mudah. Selama berpuluh-puluh tahun, gagasan UU Reforma Agraria berulang kali menghadapi kebuntuan. Sejak masuk Prolegnas 27 Agustus pun, pembahasan RUU ini terdapat begitu banyak perdebatan, termasuk keberatan dari pemerintah. Sejumlah substansi sempat jadi perdebatan akhirnya kembali masuk pada proses yang lebih substansial. “Kita mendiskusikan kenapa reforma agraria harus terus jalan menurut Undang-undang,” katanya dalam siaran pers yang Mongabay terima. UUPRA memuat sejumlah pengaturan penting dan strategis bagi penyelenggaraan reforma agraria. Antara lain, jaminan pemenuhan, pemulihan, dan pengakuan hak rakyat atas tanah dan sumber agraria. Lalu, penetapan lokasi prioritas reforma agraria (LPRA), pengaturan objek dan subjek reforma agraria, serta pembentukan lembaga khusus reforma agraria. UU ini, juga mengatur mekanisme penyelesaian konflik agraria dan pemulihan hak atas tanah, redistribusi tanah, pemberdayaan subjek reforma agraria, serta perlindungan hukum bagi rakyat yang mempertahankan hak atas tanah. “Hal penting lainnya adalah penataan, pengendalian, dan pembatasan penguasaan serta pemilikan tanah untuk mencegah konsentrasi penguasaan tanah, baik oleh negara maupun swasta,” ujar Dewi. UUPRA juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam reforma agraria,  membentuk dewan pengawas,  dan membangun sistem data dan pelaporan reforma agraria. Serta mengatur pendanaan, ketentuan pidana, dan ketentuan peralihan. Dewi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 05:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/11075252/Ular-Siput-Jerapah-Saktyari-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134049</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/">Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika itu. Individu dewasa yang ditemuinya berukuran sekitar 40 sentimeter, bertubuh ramping, dan tidak menunjukkan perilaku agresif. Pola tubuhnya yang samar membantu ular ini menyatu dengan serasah di lantai hutan. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, membenarkan bahwa kemampuan tersebut membuatnya sulit ditemukan. “Kamuflasenya memang sangat baik,” ujarnya. Selain penampilannya, cara ular ini makan juga menarik perhatian. Ular siput jerapah memiliki rahang yang beradaptasi untuk mengambil tubuh siput dari dalam cangkangnya. Leonardus menggambarkannya, “Seperti menyedot daging siput dari cangkangnya.” Kebutuhannya akan mangsa dan kondisi tempat hidup tertentu membuat ular ini peka terhadap perubahan di sekitarnya. “Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” kata Leonardus. Karena itu, perjumpaannya di antara serasah tebal dan tanah yang lembab memberi gambaran tentang tempat hidup yang dibutuhkan ular tersebut. Namun, temuan satu ular tidak cukup untuk menyatakan seluruh hutan berada dalam kondisi sehat. Ganjar mengingatkan, “Bila hanya satu spesies, agak susah dijadikan kesimpulan umum sebagai indikator kesehatan hutan.” Menurutnya, penilaian seperti itu perlu melihat kumpulan spesies atau komunitas. Ganjar juga meluruskan anggapan bahwa ular siput jerapah hanya hidup di pegunungan. Meski dijumpai di Gunung Slamet, catatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>