<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=lusia-arumingtyas&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/lusia-arumingtyas/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 05 Jul 2026 13:00:06 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 13:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22035733/Gorilla4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130129</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan tekn, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/">Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera tertawa, maka bisa memicu tawa individu lain. Sama seperti yang dijumpai pada manusia. Di mata peneliti, ini bukan fenomena biasa. Evolusi morfologi memang bisa dilacak dari fosil yang disingkap dari dalam tanah. Tapi bagaimana melacak asal-usul vokal, ucapan, dan bahasa manusia? Kita jelas tidak mungkin mengamati secara langsung keterampilan vokal nenek moyang manusia, karena mereka sudah punah. “Studi komparatif tentang perilaku kera besar (non-manusia) -kerabat terdekat kita yang masih hidup- memberikan satu-satunya model yang masih ada dari kapasitas vokal dan fungsi adaptif yang punah milik nenek moyang manusia,” tulis Chiara De Gregorio, mewakili tim peneliti di artikel sebuah jurnal. Dia adalah doktor yang berafiliasi dengan Departemen Psikologi, Universitas Warwick, Coventry, Inggris. Penelitian mereka ingin menjawab hal itu. Laporannya kemudian diterbitkan di jurnal Nature Communications Biology, Juni 2026, berjudul “Rhythm and timing in laughter reveal that human vocal plasticity falls on a hominid continuum.” &#8220;Bertentangan dengan gagasan klasik bahwa manusia pertama tiba-tiba memperoleh kapasitas kontrol vokal yang sangat berbeda dari pendahulunya. Evolusi tawa memberi tahu kita bahwa manusia terletak pada kontinum, perpanjangan kapasitas kontrol vokal yang sudah diasah secara kumulatif selama 15 juta tahun,&#8221; ungkap Adriano Lameria, peneliti lain rekan De Gregorio dari universitas yang sama,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hydrophis platurus, Kerabat Ular Kobra yang Menghabiskan Seluruh Hidupnya di Laut Lepas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 11:51:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05114821/Hydrophis_platurus_32924548-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130134</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/">Hydrophis platurus, Kerabat Ular Kobra yang Menghabiskan Seluruh Hidupnya di Laut Lepas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom air laut terbuka, jauh dari dasar laut maupun garis pantai, sepanjang hidupnya tanpa pernah menyentuh daratan sekali pun. Spesies yang dahulu diklasifikasikan sebagai Pelamis platurus ini bukan sekadar ular yang pandai berenang. Secara taksonomi, ular ini termasuk famili Elapidae, sekelompok dengan ular kobra dan weling yang dikenal luas di daratan. Namun berbeda dari kerabatnya itu, spesies ini sepenuhnya beradaptasi untuk hidup di air dan tidak lagi bergantung pada daratan sama sekali. Berdasarkan catatan Guinness World Records, ular laut perut kuning tercatat sebagai ular perenang tercepat di dunia, dengan kecepatan hingga 1 meter per detik untuk jarak pendek. Kecepatan ini penting bagi kelangsungan hidupnya, baik untuk menghindari predator maupun saat berburu ikan di permukaan laut. Namun kemampuan ini berbanding terbalik dengan kemampuannya di darat. Tubuhnya tidak lagi memiliki otot dan struktur yang memadai untuk menopang berat badan atau bergerak secara efektif di permukaan padat, sehingga jika terdampar di pantai, ular ini kesulitan bergerak dan rentan terhadap dehidrasi maupun predator. Satu-satunya Ular Laut yang Sepenuhnya Pelagis Keunikan utama yang membedakan spesies ini dari ular laut lain adalah sifat pelagisnya yang total. Sebagian besar ular laut lain, seperti kelompok ular belang laut (Laticauda spp.), masih naik ke daratan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Fitriani Dwi Galang Solidaritas Ungkap Pembunuh Gajah Rahman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 11:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15075222/Ani-pakai-atribut-gajah-saat-Bhayangkara-Run-2025.-Foto-Dokumen-pribadi-708x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127811</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bahu Jalan Jenderal Sudirman, depan Kantor Gubernur Riau, ramai massa awal tahun lalu. Mereka membagikan setangkai bunga krisan putih pada orang-orang yang lalu lalang atau menengok aksi mereka. Fitriani Dwi Kurniasari, pegiat lingkungan, inisiator, berada di tengah massa aksi sunyi itu. Aksi itu merupakan seruan mengungkap kasus kematian gajah Rahman, yang dua tahun lalu mati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/">Upaya Fitriani Dwi Galang Solidaritas Ungkap Pembunuh Gajah Rahman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bahu Jalan Jenderal Sudirman, depan Kantor Gubernur Riau, ramai massa awal tahun lalu. Mereka membagikan setangkai bunga krisan putih pada orang-orang yang lalu lalang atau menengok aksi mereka. Fitriani Dwi Kurniasari, pegiat lingkungan, inisiator, berada di tengah massa aksi sunyi itu. Aksi itu merupakan seruan mengungkap kasus kematian gajah Rahman, yang dua tahun lalu mati kena racun dan sebilah gadingnya hilang. Mereka juga mengkritik penegakan hukum terhadap kejahatan satwa yang masih minim ketimbang jumlah kematiannya, serta mendesak penindakan atas perusahaan yang lalai menjaga area hingga banyak gajah mati di sekitar konsesi. “Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” kata perempuan 34 tahun itu. Ani, panggilan akrabnya, bilang ada 167 kematian gajah di Riau, sepanjang 2004-2025 dengan sebagian besar mati kena racun. Hanya tiga kasus perburuan gajah sampai ke meja hijau. Dua kasus dengan pelaku sama. Untuk kasus gajah Rahman, katanya, janggal ketimbang  kasus serupa. Biasa gajah mati dengan cara mengenaskan, tanpa gading, belalai terpotong, dan ceceran darah cukup banyak. Sedangkan Rahman, masih bertahan hidup, meski sekarat selama delapan jam, saat ditemukan. Pelaku tak mengambil gading secara utuh. Masih ada sisa di kepala bagian dalam. Juga, tidak ada ceceran darah signifikan. Gading yang pelaku curi hanya di bagian kiri. “Itu jadi pertanyaan kami, selama dua tahun ini. Kami harap Kapolda Riau bisa melihat dan prioritaskan kasus kematian gajah Rahman.” Aksi sunyi peringati dua tahun kematian gajah Rahman di Pekanbaru. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia. Ikatan emosional Ingatan Ani selalu terbang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Perkembangan Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling di Jakarta?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 02:34:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05014903/Bea-Cuka-Trenggiling-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130067</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan Tonni T, sebagai tersangka kasus penyelundupan tiga ton sisik trenggiling ke Kamboja. Selain menetapkannya sebagai tersangka, penyidik juga menahan yang bersangkutan di Rutan Salemba. Bambang Ari Wibowo, Koordinator Penyidik Seksi I Jakarta Balai Gakkum Jabalnusra, mengatakan, penetapan Tonni sebagai tersangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/">Bagaimana Perkembangan Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling di Jakarta?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan Tonni T, sebagai tersangka kasus penyelundupan tiga ton sisik trenggiling ke Kamboja. Selain menetapkannya sebagai tersangka, penyidik juga menahan yang bersangkutan di Rutan Salemba. Bambang Ari Wibowo, Koordinator Penyidik Seksi I Jakarta Balai Gakkum Jabalnusra, mengatakan, penetapan Tonni sebagai tersangka setelah penyidik peroleh sedikitnya dua alat bukti. Bukti-bukti itu mencakup pengakuan tersangka, keterangan saksi dari Bea Cukai, perusahaan jasa kepabeanan, dan perusahaan eksportir. “Tonni sudah mengaku sejak awal mengetahui barang yang akan dikirim adalah sisik trenggiling. Dari saksi Bea Cukai, PPJK (Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan), maupun perusahaan eksportir juga menyebut pengiriman dilakukan oleh Tonni,” katanya kepada Mongabay, Selasa (23/6/26). Penyidik masih memburu dua  pemilik sisik trenggiling, yakni,  Andi Agung M dan Vu Xuan Ha alias Anthony, warga negara Vietnam.  Petugas juga masih mendalami kemungkinan keterlibatan PPJK dan perusahaan eksportir yang terlibat rencana pengiriman itu. Berkas perkara mereka serahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) guna  pemeriksaan sebelum akhirnya pendaftaran ke pengadilan. Gakkum menjerat Tonni dengan Pasal 40A ayat (1) huruf f juncto Pasal 21 ayat (2) huruf c Undang-undang Nomor 32/2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelanggaran ketentuan ini terancam pidana penjara 3–15 tahun serta denda Rp200 juta-Rp5 miliar. Petugas Bea Cukai Tanjung Priok melakukan pemeriksaan sisik trenggiling yang hendak diselundupkan ke Kamboja. Foto: Humas Bea Cukai Tanjung Priok. Ganti nama barang Bambang katakan, dari hasil penyelidikan terungkap bila sisik trenggiling yang hendak dikirim ke Kamboja itu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buntut Kasus Muara Kate, Misran Toni Cari Keadilan ke Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 15:52:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakt adat]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/04154733/Muara-Kate-Misran-Toni--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130104</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Misran Toni lega setelah vonis bebas Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur atas tuduhan kasus penyerangan yang melenyapkan nyawa Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser 16 April lalu. Setelah putusan itu, Imis, sapaan akrabnya,  langsung mengurus administrasi di Rutan Kelas II Muara Komam agar segera tancap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/">Buntut Kasus Muara Kate, Misran Toni Cari Keadilan ke Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Misran Toni lega setelah vonis bebas Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur atas tuduhan kasus penyerangan yang melenyapkan nyawa Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser 16 April lalu. Setelah putusan itu, Imis, sapaan akrabnya,  langsung mengurus administrasi di Rutan Kelas II Muara Komam agar segera tancap gas ke rumahnya. Setelah sembilan bulan mendekam di jeruji besi, dia tak sabar ingin menjalani kehidupan seperti biasanya lagi. Sudah lebih dari seminggu setelah putusan tingkat pertama keluar, tak ada satupun surat pemberitahuan kasasi datang ke rumahnya. Dia pun yakin kalau Jaksa Penuntut Umum (JPU) tak kasasi hingga putusan bebas itu segera berkekuatan hukum tetap (inkrah). Ternyata, ketika tim kuasa hukum pergi ke pengadilan pada 18 Mei lalu, ternyata jaksa sudah layangkan banding. Tim kuasa hukum lalu meminta Imis mengecek ulang ke Kantor Pos Muara Komam. Imis pergi bersama anaknya, Andre pada hari itu juga. Ternyata, surat pemberitahuan kasasi nyangkut di sana. Misran Toni, bersama Warta, Aswi, teman seperjuangannya di Muara Kate, bersama LBH Samarinda dan Jatam Kaltim, pergi ke Jakarta dan ikut aksi Kamisan. Foto: Yulia Adiningsih/Mongabay Indonesia Surat tak sampai, tetapi sudah bertanda tangan Anehnya, sudah terbubuh tanda tangan Imis di lembar pemberitahuan itu. Padahal, Imis tak pernah menandatangani apapun. Tanda tangan pun berbeda dengan milik Imis. Surat itu bukan yang pertama. Sudah ada tiga surat yang dialamatkan ke rumahnya, tetapi tak pernah sampai. Kantor Pos Muara Komam beralasan tidak ada kendaraan dan ongkos untuk mengantar ke rumah Imis. “Saya pikir alasannya tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kukri Gunung Jawa, Gigitannya Tajam Meski Tidak Berbisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 11:37:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/04113152/Ular-Kukri-gunung-Jawa-Agus-Nurrofik-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130098</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor ular kecil bergerak di antara serasah daun di hutan sekunder Wonosalam, lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur. Bagi Muhammad Asyraf Rijalullah (26), lulusan Magister Biologi Universitas Brawijaya, ini pengalaman pertamanya melihat ular kukri gunung jawa. Asyraf, peneliti independen yang pernah berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society Indonesia, tidak menyangka survei lapangan 5-6 April 2026 itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/">Ular Kukri Gunung Jawa, Gigitannya Tajam Meski Tidak Berbisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor ular kecil bergerak di antara serasah daun di hutan sekunder Wonosalam, lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur. Bagi Muhammad Asyraf Rijalullah (26), lulusan Magister Biologi Universitas Brawijaya, ini pengalaman pertamanya melihat ular kukri gunung jawa. Asyraf, peneliti independen yang pernah berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society Indonesia, tidak menyangka survei lapangan 5-6 April 2026 itu, mempertemukan dirinya dengan jenis yang jarang terdokumentasikan. “Kami sebenarnya hanya melakukan pengecekan awal dan melihat satwa apa saja yang ada di lokasi,” jelasnya, Kamis (2/7/26). Hari pertama pengamatan berlalu tanpa temuan istimewa. Kondisi hutan sekunder di lereng Anjasmoro yang tak terlalu lembap, namun berbeda dibandingkan dataran rendah, menjadi perhatian tim selama survei berlangsung. Perjumpaan tak terduga itu terjadi hari kedua. Sekitar pukul 10 pagi, tim memutuskan kembali ke camp setelah menyusuri sejumlah titik di hutan. Jalur yang dilalui licin, karena hujan turun malam sebelumnya. Saat menuruni lereng, Asyraf melihat pergerakan kecil di bawah sepotong kayu di tepi jalur. “Saya buka dan ternyata ular.” Ular kukri gunung jawa yang keberadaannya belum banyak diketahui. Foto: Dok. Agus Nurrofik/Sahabat Alam Indonesia. Tidak berbahaya Sebagai peneliti yang biasa mengamati reptil, Asyraf dan rekan tetap waspada. Bentuk fisik Oligodon bitorquatus ini, sekilas mengingatkan mereka pada beberapa jenis ular berbisa. “Saya selalu menganggap, setiap ular yang ditemukan itu berbahaya hingga identitasnya benar-benar diketahui.” Dengan bantuan snake hook, Asyraf dan tim mengamati pola tubuh, bentuk kepala, hingga bagian bawah tubuh ular itu. Setelah memastikan jenis ini bukan anggota kelompok ular berbisa, penanganan lebih lanjut dilakukan. “Saya baru berani memegang setelah yakin ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Ular Buta Brahmin, Spesies Ular yang Seluruh Populasinya Betina</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 05:02:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/04045922/Indotyphlops_braminus_Brahminys_blind_snake_-_Kaeng_Krachan_District_Phetchaburi_51043248827-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130094</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari sekitar 3.900 spesies ular yang telah teridentifikasi di dunia, hampir semuanya membutuhkan pejantan dan betina untuk berkembang biak. Namun ular buta Brahmin, dengan nama ilmiah Indotyphlops braminus, adalah sebuah pengecualian. Spesies kecil yang hidup di dalam tanah ini sering disangka cacing tanah oleh orang yang belum familiar dengannya. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/">Mengenal Ular Buta Brahmin, Spesies Ular yang Seluruh Populasinya Betina</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari sekitar 3.900 spesies ular yang telah teridentifikasi di dunia, hampir semuanya membutuhkan pejantan dan betina untuk berkembang biak. Namun ular buta Brahmin, dengan nama ilmiah Indotyphlops braminus, adalah sebuah pengecualian. Spesies kecil yang hidup di dalam tanah ini sering disangka cacing tanah oleh orang yang belum familiar dengannya. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya spesies ular yang seluruh populasinya terdiri dari betina. Meski demikian, ular ini sama sekali tidak berbahaya bagi manusia. Indotyphlops braminus tidak berbisa dan tidak memiliki gigi yang cukup besar untuk melukai kulit manusia. Sebuah studi genom yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data terbitan Nature menegaskan bahwa Indotyphlops braminus adalah satu-satunya spesies ular yang diketahui bereproduksi lewat partenogenesis obligat. Studi yang sama mencatat bahwa belum ada individu jantan dari spesies ini yang pernah ditemukan, baik di alam maupun di penangkaran. Betina dewasa bertelur dan telur tersebut berkembang menjadi individu baru tanpa proses pembuahan oleh jantan, sehingga setiap individu baru pada dasarnya merupakan salinan genetik dari induknya. 1Ular buta Brahmin (Indotyphlops braminus) melingkarkan tubuhnya di atas permukaan batu, memperlihatkan sisik tubuhnya yang halus dan mengilap.  Foto: MH Herpetology/Wikimedia Commons (CC BY 4.0) Untuk memastikan temuan ini, tim peneliti menyusun draf genom pertama Indotyphlops braminus, salah satu dari sedikit spesies dalam kelompok ular primitif Scolecophidia yang pernah dipetakan genomnya secara lengkap. Hasil pemetaan tersebut memperkuat status spesies ini sebagai satu-satunya ular yang diketahui bergantung sepenuhnya pada partenogenesis untuk berkembang biak. Studi tersebut juga menjelaskan aspek genetiknya. Ular buta ini bersifat allotriploid, memiliki tiga set kromosom, dan diduga muncul lewat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Masyarakat Sipil Desak Rombak Total UU Kehutanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 04:14:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15014807/Hutan-Kawasan-Ekosistem-Leuser-yang-merupakan-salah-satu-habitat-Siamang-dan-sejumlah-primata-lainnya-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130088</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Koalisi Regional Sumatera mendesak pemerintah dan DPR merombak UU  Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan agar   berpihak pada pemulihan ekosistem, pengakuan hak masyarakat adat dan lokal, serta penyelesaian konflik tenurial. Desakan itu koalisi sampaikan saat Deklarasi Pembacaan Masukan terhadap Revisi UU Kehutanan dari Koalisi Masyarakat Sipil dan Komunitas Regional Sumatera, Senin (29/5/26) di Padang. Koalisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/">Koalisi Masyarakat Sipil Desak Rombak Total UU Kehutanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Koalisi Regional Sumatera mendesak pemerintah dan DPR merombak UU  Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan agar   berpihak pada pemulihan ekosistem, pengakuan hak masyarakat adat dan lokal, serta penyelesaian konflik tenurial. Desakan itu koalisi sampaikan saat Deklarasi Pembacaan Masukan terhadap Revisi UU Kehutanan dari Koalisi Masyarakat Sipil dan Komunitas Regional Sumatera, Senin (29/5/26) di Padang. Koalisi menilai perubahan UU Kehutanan tidak boleh berhenti pada revisi teknis, tetapi lebih penting pada wilayah substantif. Menurut koalisi, bencana ekologis berulang di Sumatera menunjukkan  tata kelola hutan selama ini gagal melindungi ruang hidup rakyat dan fungsi ekologis hutan. Termasuk, bencana besar pada akhir 2025 yang tewaskan 1.190 orang lebih, bagi koalisi adalah penanda paling keras. Koalisi menilai, peristiwa yang sebabkan 131.500 warga mengungsi itu bukan semata bencana alam, melainkan akibat rapuhnya daya dukung lingkungan Sumatera. Deforestasi, perubahan bentang alam, dan tata kelola sumber daya alam yang terlalu lama tunduk pada kepentingan ekstraktif. “Bencana ekologis di Sumatera memperlihatkan satu hal, kerusakan hutan tidak pernah berhenti di batas konsesi. Ia berubah menjadi banjir, longsor, gagal panen, hilangnya sumber penghidupan, dan konflik yang terus diwariskan kepada masyarakat,” kata Nora Hidayati, Manajer Advokasi Hukum Rakyat Perkumpulan HuMa Indonesia. Hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan habitat siamang beserta orangutan sumatera. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Dalam tiga dekade terakhir, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kehilangan sekitar 1,2 juta hektar kawasan hutan. Sekitar 690.777 hektar di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Angka ini menunjukkan krisis kehutanan bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan akumulasi panjang dari kebijakan pembangunan yang memprioritaskan ekspansi perkebunan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Berjalan Raja Ampat, Apakah Jenis Ini Tidak Berenang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 09:12:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/03090536/Hiu-berjalan-raja-ampat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130073</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hemiscyllium freycineti merupakan hiu berjalan endemik Raja Ampat, banyak mendiami perairan Selat Dampier. Populasinya, diperkirakan mencapai 2.462 individu per kilometer. Lokasi tersebut ada di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. “Angka itu bukan saja banyak, namun juga menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk genus Hemiscyllium,” jelas Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/">Hiu Berjalan Raja Ampat, Apakah Jenis Ini Tidak Berenang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hemiscyllium freycineti merupakan hiu berjalan endemik Raja Ampat, banyak mendiami perairan Selat Dampier. Populasinya, diperkirakan mencapai 2.462 individu per kilometer. Lokasi tersebut ada di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. “Angka itu bukan saja banyak, namun juga menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk genus Hemiscyllium,” jelas Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/26). Temuan baru yang penelitiannya memerlukan waktu 14 bulan itu sudah diterbitkan pada laman jurnal internasional Frontiers in Fish Science. Di antara temuan krusial, adalah peran terumbu karang sebagai nursery atau habitat asuhan bagi spesies itu. Meskipun hiu berjalan sudah dilindungi penuh Indonesia, namun informasi mengenai biologi, struktur populasi, dan ekologi spasialnya masih terbatas. “Sehingga menghambat upaya konservasi yang efektif,” jelas laporan tersebut. Tim peneliti melakukan 64 survei malam hari sepanjang Februari 2024 hingga April 2025 di enam lokasi. Menggunakan identifikasi foto dan penandaan transporder terintegrasi pasif, tim berhasil mengidentifikasi 736 individu unik, dari total 1.191 penampakan. Sebagian besar penampakan itu, berasal dari Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta. Menariknya, individu yang teridentifikasi didominasi betina (415 individu), dengan panjang mencapai 19,4-75 sentimeter. Tim peneliti yang terlibat aktif adalah Elasmobranch Institute Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Kepulauan Raja Ampat, Konservasi Indonesia, Masyakakat Arborek, dan Re:wild. Hiu berjalan (Hemiscyllium freycineti) ini merupakan jenis endemik Raja Ampat. Foto: Dok. Edy Setyawan/Elasmobranch Institute Indonesia. Habitat utama Peran terumbu karang sebagai nursery  diketahui karena sebanyak 69 persen individu muda memilih ekosistem tersebut sebagai habitat. Sementara hiu dewasa, memillih menghuni padang lamun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Pasir Laut Usik Ketenangan Warga Bintan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 06:08:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi E Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02020112/Penampakan-perkampungan-di-Pulau-Numbing-Kabupaten-Bintan-Provinsi-Kepulauan-Riau.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana pesisir desa Pulau Numbing, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau terlihat lengang sore itu, Mei 2026. Hanya ada beberapa nelayan yang sibuk memperbaiki jaring di teras rumah mereka. Suasana lengang itu seolah mengkonfirmasi kondisi kampung yang sedang “bergejolak” sejak rencana tambang pasir laut mencuat di sekitar pulau. Para nelayan terbelah. Sebagian menerima aktivitas berbalut proyek pembersihan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/">Tambang Pasir Laut Usik Ketenangan Warga Bintan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana pesisir desa Pulau Numbing, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau terlihat lengang sore itu, Mei 2026. Hanya ada beberapa nelayan yang sibuk memperbaiki jaring di teras rumah mereka. Suasana lengang itu seolah mengkonfirmasi kondisi kampung yang sedang “bergejolak” sejak rencana tambang pasir laut mencuat di sekitar pulau. Para nelayan terbelah. Sebagian menerima aktivitas berbalut proyek pembersihan sedimentasi itu, yang lain menolak. “Rumah ini menolak (tambang pasir), ini [menunjuk rumah lain] menerima, karena dia kerja sebagai perangkat desa,” kata seorang nelayan,  sore itu. Kehadiran tambang pasir laut itu, katanya,  memicu ketegangan sosial antar warga. Bukan hanya antar penghuni pulau  juga  sesama anggota keluarga dekat tidak saling tegur karena perbedaan sikap. “Termasuk saya, saya sama saudara tidak teguran gara-gara ini.” Aksi unjuk rasa sebagian nelayan Numbing atas masuknya perusahaan adalah titik awal dari ketegangan itu. Warga  protes setelah mengetahui bahwa rencana penambangan dengan dalih pengelolaan sedimentasi itu tidak hanya satu, tetapi 13 perusahaan. “Ada 13 perusahaan yang  akan melakukan penambangan itu,” kata Rudi Herdiawan, Ketua Aliansi Nelayan Pesisir Bintan-Lingga. Menyadar risiko berbagai dampak buruk dari aktivitas itu, dia pun menggalang gerakan penolakan. Bersama nelayan lain, mulai dari Pulau Numbing, Karimun dan Lingga berunjuk rasa ke Kantor Gubernur dan DPRD Kepri. Tak semua nelayan menolaknya.  Klaim dari pihak Desa Pulau Numbing menyebut,  hanya ada 13 keluarga yang menolak. Padahal, berdasar data yang dia kumpulkan, di satu RT saja ada  50 keluarga yang menyatakan penolakan. “Kami sudah kumpulkan data yang menolak, lengkap dengan KK (kartu keluarga)-nya. Di RT saya saja sudah 50 KK menolak,” kata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hadapi Berbagai Tantangan, Garam Kusamba Terancam Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 03:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01035446/Nengah-Bantat-menunjukkan-garam-metode-geomembran-yang-hampir-siap-panen.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129974</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, produk kelautan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lembaran plastik berwarna hitam menutup sebagian area pesisir Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Nengah Bantat bersama istrinya, Ketut Keprug, menutup lembaran plastik itu perlahan. Meski punggung mereka sudah membungkuk karena usia, tangan pria 71 tahun itu  cekatan melipat geomembran. Geomembran merupakan lembaran pelapis sintetis berbahan polimer, kedap air dan cairan. Di sisi kanan berdiri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/">Hadapi Berbagai Tantangan, Garam Kusamba Terancam Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lembaran plastik berwarna hitam menutup sebagian area pesisir Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Nengah Bantat bersama istrinya, Ketut Keprug, menutup lembaran plastik itu perlahan. Meski punggung mereka sudah membungkuk karena usia, tangan pria 71 tahun itu  cekatan melipat geomembran. Geomembran merupakan lembaran pelapis sintetis berbahan polimer, kedap air dan cairan. Di sisi kanan berdiri tiga gubuk mereka. Satu gubuk berisiko berkarung-karung garam. Satu gubuk berisi palung yang sudah usang. Gubuk satunya terbuka sebagai tempat istirahat. Tempat Bantat berdiri, laut tak lagi terlihat. Tertutup tanggul pantai yang menahan gelombang pasang. Siang itu, Jumat (19/6/26), ombak masih bersahabat. Namun terkadang ombak itu bisa melewati tanggul dan menghantam gubuknya. Bantat, salah satu pewaris dan generasi terakhir petani garam. Dia pertama kali mengenal garam pada 1979, saat usia 24 tahun. “Sane dumunan waktu tahun 1990-an nike ajak ratusan ngae uyah, uli dini ked Pesinggahan (kalau dulu waktu tahun 1990-an itu ada ratusan orang yang jadi petani garam, dari pesisir Kusamba sampai Pesinggahan),” kata Bantat. Petani garam di Desa Kusamba tengah melipat geomembran berisi air laut yang belum siap panen. Foto: I Gusti Ayu Septiari/Mongabay Indonesia Dia berasal dari Banjang Tribuana, Desa Kusamba. Dulu, ayahnya petani garam secara otodidak. Lalu menikah pada usia 24 tahun dan belajar membuat garam dari mertuanya. Sayangnya, kini tak ada yang meneruskan lahan penggaramannya. Anaknya, Nengah Sudarmini, hanya membantu di sela-sela waktunya sebagai ibu rumah tangga. “Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harimau Sumatera Si Penjaga Hutan, Tapi Stigma Agresif Melekat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 01:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Tuah Ananda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24090150/HS-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130030</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Perkebunan, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ancaman deforestasi hingga perburuan liar kian mengancam populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan lainnya membuat habitatnya terpecah-pecah. Kondisi ini membuat perjumpaan dengan harimau sering terjadi. Kemunculannya ini sering kali dianggap tanda bahaya atau ancaman. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/">Harimau Sumatera Si Penjaga Hutan, Tapi Stigma Agresif Melekat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ancaman deforestasi hingga perburuan liar kian mengancam populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan lainnya membuat habitatnya terpecah-pecah. Kondisi ini membuat perjumpaan dengan harimau sering terjadi. Kemunculannya ini sering kali dianggap tanda bahaya atau ancaman. Banyak yang mengira mereka adalah agresif, tapi apa itu benar atau hanya sebatas mitos? Padahal banyak penelitian menyebutkan spesies endemik ini cenderung menghindari manusia dan konflik yang muncul umumnya karena habitat menyempit dan sumber pakan yang berkurang di hutan. Padahal, harimau sumatera menjadi subspesies terakhir dari tiga subspesies endemik Indonesia. Harimau jawa dan harimau bali, misalnya yang kini sudah punah. Yuk, mari kita kenali subspesies endemik Indonesia ini lebih dekat lagi! 1. Paling kecil di antara subspesies lainnya Harimau sumatera yang terekam kamera jebak di hutan Kawasan Ekosistem Leuser, pada Oktober 2023. Foto: Figel dan kolega /Frontiers Harimau sering disebut sebagai “kucing besar”. Namun, tiap subspesies memiliki ciri fisik yang berbeda. Harimau sumatera, misalnya, termasuk subspesies harimau terkecil dibandingkan dengan subspesies harimau lainnya di dunia. Selain itu, ia juga memiliki loreng yang lebih padat dengan warna yang lebih gelap pula. Penelitian Fathoni (2022) menyebutkan harimau sumatera jantan memiliki bobot dan tubuh yang lebih besar dari betina. Jantan memiliki berat 100-140 kg dengan panjang tubuh 140-280 cm, sedangkan betina 100-140 kg dengan ukuran 80–90 cm. Ciri-ciri fisik ini bukan terjadi tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk adaptasi harimau terhadap habitatnya yang berada di iklim tropis tepat di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Sumbawa Barat Ketika Tambang dan Smelter Tembaga Datang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 23:40:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02233536/sumbawa-tambang-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130049</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat dan sumbawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara deru alat berat mengiringi azan magrib di Dusun Otak Keris, Desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), medio Mei lalu. Mata Jumari berkaca-kaca ketika bercerita kondisi mereka yang tinggal di sekitar pabrik peleburan mineral tembaga, emas dan ikutannya itu. “Kita manusia, bukan binatang! Jadi, harapan kita datang baik-baik, tapi ini ndak. Jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/">Nasib Warga Sumbawa Barat Ketika Tambang dan Smelter Tembaga Datang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara deru alat berat mengiringi azan magrib di Dusun Otak Keris, Desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), medio Mei lalu. Mata Jumari berkaca-kaca ketika bercerita kondisi mereka yang tinggal di sekitar pabrik peleburan mineral tembaga, emas dan ikutannya itu. “Kita manusia, bukan binatang! Jadi, harapan kita datang baik-baik, tapi ini ndak. Jadi Otak Keris itu dibelinya dipaksa!” katanya kepada Mongabay Indonesia. Jumari menuturkan kembali hal yang mengubah hidup warga Dusun Otak Keris. Tujuh tahun silam, warga harus angkat kaki dari rumah dan lahan mereka. Pemukiman mereka yang masuk Desa Maluk itu, tergusur pabrik pemurnian tembaga dan emas PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Semula bupati datang ke dusun, bicara dengan warga rencana pembangunan smelter bakal menggusur pemukiman dan kebun. Menurut Jumari, bupati meminta warga mendukung proyek tambang itu. Bupati pun menasehati warga agar rela melepas ruang hidup mereka dan berjanji memberikan kehidupan layak. Citra satelit lahan pertanian Otak Keris sebelum (2017) dan sesudah (2026) menjadi smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia diolah dari Google Earth. Hari demi hari berlalu. Tibalah saat penggusuran itu. Bupati tak pernah kembali ke Dusun Otak Keris. Warga justru berhadapan dengan preman, yang bertindak sewenang-wenang. “[Kala itu] saya melihat preman menutup (akses) jalan pakai pagar bambu. Saya nggak tau tujuannya apa,” ucapnya. Warga menolak penggusuran. Mereka memasang spanduk penolakan di sudut dusun. Penolakan itu tak berlangsung lama. Warga tak kuasa menahan tekanan dari preman–mereka akhirnya melepas rumah dan tanah. Tak ada catatan pasti total warga Otak Keris&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tragedi Berdarah,  Petugas Keamanan Agrinas Tewaskan Warga Labuhanbatu Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 11:31:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/30005920/Kebun-sawit-milik-cukong-dalam-TNTN-yang-disitas-Satgas-PKH.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130017</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tragedi berdarah terjadi di Desa Sukarame Baru, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut).  Seorang warga tewas, dan tiga luka-luka dalam insiden dengan petugas keamanan Agrinas Palma Nusantara, 16 Juni lalu. Organisasi masyarakat sipil mendesak, usut tuntas kasus ini tanpa pengecualian terhadap dua personel TNI yang jadi bagian dari petugas keamanan. Korban tewas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/">Tragedi Berdarah,  Petugas Keamanan Agrinas Tewaskan Warga Labuhanbatu Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tragedi berdarah terjadi di Desa Sukarame Baru, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut).  Seorang warga tewas, dan tiga luka-luka dalam insiden dengan petugas keamanan Agrinas Palma Nusantara, 16 Juni lalu. Organisasi masyarakat sipil mendesak, usut tuntas kasus ini tanpa pengecualian terhadap dua personel TNI yang jadi bagian dari petugas keamanan. Korban tewas ialah Luis David Hutabarat (32), tukang timbang buah sawit. Tiga  buruh tani yang luka-luka adalah Jhoni (28), Doni Romadan (29), dan Sutomi alias Tomi (31). Berdasarkan temuan KontraS Sumut, Luis tidak sadarkan diri dengan lidah terjulur keluar di Jalan Perkebunan Kelapa Sawit Blok K33 Jalur 3, wilayah kelola Agrinas. Tim Advokasi Rakyat Melawan Impunitaswe (ARMI) yang terdiri dari KontraS Sumut, LBH, Bakumsu, Huta Keadilan Associates, Fordam Susuba, GMNI Cabang Medan, dan GMKI Cabang Rantau Prapat merilis laporan awal dan menyoroti keterlibatan Sersan Mayor (Serma) Buana Delly, anggota TNI AD aktif yang bertugas di Kodam I/Iskandar Muda, Aceh, dan bertugas mengamankan BUMN itu, serta Budiono, purnawirawan TNI yang juga merupakan pekerja Agrinas. Seorang saksi menceritakan kronologi. Dia bilang, konflik bermula saat keempat korban hendak pulang setelah bekerja membersihkan ladang Ramlan Nainggolan, ayah mertua Luis. Sekitar pukul 16.00, sekelompok oknum bersenjata parang dan gancu menghentikan para korban yang menggunakan sepeda motor langsir. &#8220;Saat pengadangan, saya melihat mereka menabrakkan motor ke arah korban hingga jatuh. Kemudian dilakukan pemukulan terhadap Doni dan Tomi menggunakan gancu dan tangan kosong,&#8221; katanya, 24 Juni. Menurut dia, sebelum insiden,  Buana  melontarkan ancaman pada Luis.  &#8220;Sini turun kau Luis, maen kita, ku bunuh kau,&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 09:47:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21231103/Coelacanth-L.-manadoensis_-Chappuis-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130033</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, kelautan dan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap 2 Juli, Indonesia memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1972, era Presiden Soeharto. Latar belakangnya sederhana: dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Tahun ini, hari istimewa tersebut datang dengan konteks jauh lebih hidup dari sekadar peringatan tahunan. Akhir Juni [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/">Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap 2 Juli, Indonesia memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1972, era Presiden Soeharto. Latar belakangnya sederhana: dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Tahun ini, hari istimewa tersebut datang dengan konteks jauh lebih hidup dari sekadar peringatan tahunan. Akhir Juni 2026, dunia maya ramai dengan foto dan video ikan purba yang ditemukan mengapung di perairan Manado. Penemuan itu berawal Jumat pagi, 26 Juni 2026. Soni Pontoh, nelayan dari Pulau Siladen, Manado, melaut seperti biasa. Sekitar 100 meter dari tubir terumbu karang, matanya menangkap sesuatu yang aneh mengapung di permukaan laut: seekor ikan besar, bersisik cokelat keemasan, dengan sirip lebih mirip kaki kecil ketimbang sirip ikan biasa. Dia tidak tahu, dia menemukan makhluk paling langka di planet ini, ikan yang sempat dianggap punah selama 66 juta tahun. Ikan yang ditemukan Soni adalah Coelacanth Sulawesi, atau dalam bahasa lokal disebut &#8220;raja laut&#8221; (Latimeria menadoensis). Spesies ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU) dalam Daftar Merah IUCN dan masuk Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasionalnya untuk tujuan komersial dilarang. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, spesimen ini memiliki panjang sekitar 105 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan berat sekitar 30 kilogram. Ikan Latimeria menadoensis yang ditemukan di perairan Maluku Utara menunjukkan persebarannya yang lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Foto: Alexis Chappuis/Scientific Reports. Penemuan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, spesimen lain ditemukan nelayan bernama Oskar Kaluku di perairan Gorontalo Utara pada Januari 2025, dalam kondisi mati dengan panjang sekitar satu meter dan berat 41 kilogram.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 05:41:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02053736/csiro-scienceimage-10442-golden-whistler-jamieson-victoria-1-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130023</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark menemukan dua spesies burung beracun baru selama ekspedisi ke pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023 dan menjadi catatan penting karena tidak ada spesies burung beracun baru yang ditemukan dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir. Dua spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/">Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark menemukan dua spesies burung beracun baru selama ekspedisi ke pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023 dan menjadi catatan penting karena tidak ada spesies burung beracun baru yang ditemukan dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir. Dua spesies yang dimaksud adalah kancilan obuhai, atau regent whistler (Pachycephala schlegelii) dan rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha). Keduanya termasuk burung yang umum dijumpai di kawasan tersebut, sehingga sifat beracun pada bulu dan kulitnya baru terungkap setelah dilakukan analisis laboratorium terhadap sampel yang dikumpulkan di lapangan. Racun yang ditemukan pada kedua burung ini adalah batrachotoxin, salah satu neurotoksin paling kuat yang diketahui sains. Nama batrachotoxin berasal dari bahasa Yunani batrachos yang berarti katak, karena senyawa ini pertama kali diidentifikasi pada katak panah beracun (poison dart frog) di Amerika Tengah dan Selatan. Batrachotoxin diketahui sekitar 250 kali lebih toksik dibanding strychnine, dan pada konsentrasi tinggi seperti yang ditemukan di kulit katak emas beracun (golden poison frog), racun ini dapat menyebabkan kejang otot hebat dan kegagalan jantung dalam hitungan menit setelah kontak. Diagram hasil penelitian yang memetakan keragaman burung beracun di Papua Nugini. (a) Pohon filogenetik famili burung yang diuji kandungan batrachotoxin (BTX)-nya, dengan famili beracun ditandai huruf tebal, termasuk dua spesies yang baru diketahui beracun (kancilan obuhai dan rufous-naped bellbird). (b) Peta panas kadar BTX pada bulu tiap individu burung. (c) Struktur kimia enam turunan BTX yang ditemukan. (d) Jejaring molekuler yang mengonfirmasi keterkaitan antarturunan BTX tersebut. Ilustrasi burung:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 03:30:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02032401/Akademisi-orang-rimba-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129753</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, penyebutan &#8216;Orang Rimbo&#8217; pertama kali secara akademis Muntholib Soetomo publikasikan melalui disertasinya di Universitas Padjajaran tahun 1995. Judulnya, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”. Muntholib ceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang kehidupan Orang Rimba. “Hutan itu hidup dan kehidupan mereka, Orang Rimba,” kata akademisi yang menghabiskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/">Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, penyebutan &#8216;Orang Rimbo&#8217; pertama kali secara akademis Muntholib Soetomo publikasikan melalui disertasinya di Universitas Padjajaran tahun 1995. Judulnya, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”. Muntholib ceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang kehidupan Orang Rimba. “Hutan itu hidup dan kehidupan mereka, Orang Rimba,” kata akademisi yang menghabiskan pengabdiannya sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha, Jambi itu.  Orang Rimba, katanya,  memiliki tradisi tersendiri tentang bagaimana melindungi perempuan, memilih pemimpin, hingga menjaga lingkungannya. “Orang Rimba tidak buang air (kotoran manusia) ke sungai. Karena itu tempat minum mereka,” katanya. Tidak itu saja. Orang Rimba juga menganggap sungai adalah tempat suci yang mereka yakini sebagai tempat berjalannya para dewa. Peraih gelar profesor ilmu sosial di Universitas Padjajaran ini pertama kali berkenalan dengan  Orang Rimba awal 1980-an. Saat itu dia mendapat tugas dari sebuah lembaga untuk meneliti kemungkinan ada pemukiman Orang Rimba yang berpotensi menjadi desa. Kala itu, akses ke lokasi sangat sulit. “Saya bergerak sendiri, mencari informasi sendiri.&#8221; Selanjutnya pada awal 1990-an dia memulai penelitian disertasinya dan tinggal secara intens di Makekal Kabupaten Tebo kurang lebih 4,5 tahun. “Saya tinggal di lokasi, biaya sendiri, tidak ada yang membantu,” katanya. Sungai Air Hitam Sarolangun, Jambi. Foto; Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Selama tinggal bersama Orang Rimba, pria berdarah Trenggalek ini menemukan banyak praktik yang  menunjukkan hubungan  sangat dekat antara Orang Rimba dan lingkungan hidup. Contoh, ada aturan mengenai lokasi permukiman, larangan mengganggu kuburan anak, hingga larangan buang air di sungai karena dianggap mencemari sumber air minum. Nilai-nilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 17:15:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Barita News Lumbanbatu]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01170111/Amphilophus_citrinellus_2015_G5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129997</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Red devil bukan ikan asli Danau Toba. Ikan ini berasal dari Amerika Tengah, yaitu di aliran Sungai San Juan, Kosta Rika, serta beberapa danau di Nikaragua, seperti Danau Nikaragua dan Danau Managua. Di beberapa daerah, jenis ini disebut ikan oskar, setan merah, lohan merah, dan nonong. Di Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sebagian warga menyebutnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/">Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Red devil bukan ikan asli Danau Toba. Ikan ini berasal dari Amerika Tengah, yaitu di aliran Sungai San Juan, Kosta Rika, serta beberapa danau di Nikaragua, seperti Danau Nikaragua dan Danau Managua. Di beberapa daerah, jenis ini disebut ikan oskar, setan merah, lohan merah, dan nonong. Di Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sebagian warga menyebutnya ikan tayo-tayo. “Di sini red devil tidak kami konsumsi,” kata Br. Malau (47), istri nelayan di Danau Toba, sambil menimbang ikan tersebut untuk dijual ke penampung. Pagi itu, suaminya, Oloan Simanullang, baru menarik jaring ke atas solu, perahu kayu tradisional Batak. Targetnya ikan mas, nilai, mujair, dan pora-pora, tetapi yang didapat red devil. Harganya murah, 5-10 ribu rupiah per kilogram. Warga tidak terbiasa mengkonsumsi, kadang ada yang beli untuk pakan ternak. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata wanita asal Desa Simangulampe, Baktiraja, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Senin (15/6/26). Galumbang Rajagukguk (53), nelayan Desa Binangaringit, Muara, Tapanuli Utara, menyatakan hal senada. Lebih tiga puluh tahun, dia menjaring ikan di Danau Toba yang kini didominasi red devil. “Kadang dilepas, atau saya berikan ke tetangga yang punya ternak,” ujarnya, Senin (15/6/26). Amphilophus citrinellus atau yang dikenal red devil, merupakan ikan invasif yang berkembang cepat di Danau Toba. Foto: Wikimedia Commons/George Chernilevsky/CC BY-SA 4.0. Ikan akuarium berkembang di danau Charles P.H. Simanjuntak, iktiologis dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, menjelaskan ikan ini belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Untuk red devil di Danau Toba, tim IPB University mengidentifikasinya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 09:29:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22004941/suralaya-greenpeace-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129915</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemadaman listrik bergilir di sejumlah kota-kota di Jawa, dan Sumatera belum lama ini membuat warga kelimpungan. Sejumlah usaha besar dan kecil termasuk manufaktur mengalami kerugian akibat terputusnya pasokan listrik ini. Berbagai kalangan pun mengingatkan beratap rentan menggantungkan listrik kepada energi fosil dan dorong beralih ke energi terbarukan. “Biaya rumah tangga dan produksi bisa naik, memicu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/">Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemadaman listrik bergilir di sejumlah kota-kota di Jawa, dan Sumatera belum lama ini membuat warga kelimpungan. Sejumlah usaha besar dan kecil termasuk manufaktur mengalami kerugian akibat terputusnya pasokan listrik ini. Berbagai kalangan pun mengingatkan beratap rentan menggantungkan listrik kepada energi fosil dan dorong beralih ke energi terbarukan. “Biaya rumah tangga dan produksi bisa naik, memicu peningkatan biaya, secara makro mempengaruhi kepastian akses investasi,” kata Berly Martawardaya, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam diskusi daring bertajuk &#8220;Di Balik Pemadaman Listrik: Menelisik Keandalan Sistem Energi dan Urgensi Transisi Energi Berkeadilan”, Jumat (25/6/26). Bagi dia, fenomena pemadaman listrik sebagai anomali di tengah produksi setrum yang kelebihan kapasitas  dalam 10 tahun terakhir. Apalagi, berdasar data INDEF, konsumsi perkapita listrik Indonesia atau rata-rata penggunaan listrik penduduk per kwh per tahun masih di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dia soroti sikap pemerintah yang masih memprioritaskan pembangkit berbahan fosil, seperti gas dan batubara ketimbang memberi ruang pada energi terbarukan. Padahal, perhitungan biaya energi terbarukan seperti surya dan angin lebih murah. Dampaknya, ketika harga batubara naik dan pasokan berkurang, produksi listrik turun yang berujung pada pemadaman bergilir. “Batubara kini mahal karena ketidakpastian konflik, supply minyak terganggu. Produsen batubara Indonesia mengekspor dua kali lebih banyak dibanding dalam negeri karena harga jual ke luar lebih mahal,” katanya. Sejak 2019,  dalam data terlihat produksi batubara meningkat. Pada 2024 misal, produksi batubara capai 836 juta, 11% di atas target 711 juta ton. Dari angka itu, volume ekspor capai 555 juta ton, pasokan dalam negeri (domestic market obligation/DMO)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8220;Laba-Laba Ketapel&#8221; Punya Perangkap Sutra dengan Daya Lontar Tercepat dan Terkuat di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 03:07:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01030628/default-768x484.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129969</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alam kerap menyimpan strategi predasi yang tidak terduga, dan laba-laba termasuk kelompok hewan yang paling banyak mengembangkan cara unik untuk menangkap mangsa, mulai dari jaring lengket, jaring pelontar, hingga jebakan yang meniru gerakan mangsanya sendiri. Sebagian besar strategi ini berevolusi untuk menghadapi mangsa yang jauh lebih kecil dan lemah dibanding pemangsanya. Namun, temuan terbaru menunjukkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/">&#8220;Laba-Laba Ketapel&#8221; Punya Perangkap Sutra dengan Daya Lontar Tercepat dan Terkuat di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alam kerap menyimpan strategi predasi yang tidak terduga, dan laba-laba termasuk kelompok hewan yang paling banyak mengembangkan cara unik untuk menangkap mangsa, mulai dari jaring lengket, jaring pelontar, hingga jebakan yang meniru gerakan mangsanya sendiri. Sebagian besar strategi ini berevolusi untuk menghadapi mangsa yang jauh lebih kecil dan lemah dibanding pemangsanya. Namun, temuan terbaru menunjukkan ada laba-laba yang justru mengembangkan perangkap untuk menaklukkan mangsa yang jauh lebih berbahaya daripada dirinya sendiri. Di Australia, para peneliti menemukan spesies laba-laba yang membangun perangkap sutra dengan mekanisme pegas paling kuat yang pernah tercatat pada laba-laba. Perangkap ini dirancang khusus untuk menangkap satu jenis mangsa saja, yaitu semut rangrang atau green tree ant (Oecophylla smaragdina), salah satu semut paling agresif di benua tersebut. Spesies laba-laba yang belum diberi nama ilmiah lengkap ini disebut sementara sebagai &#8220;ballista spider&#8221; atau &#8220;laba-laba ketapel&#8221; dan masuk dalam genus Propostira. Penelitian yang dipimpin Ajay Narendra dari Macquarie University dan Jonas O. Wolff dari University of Greifswald ini dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 2026. Semut rangrang dikenal sangat teritorial dan mampu mencengkeram permukaan dengan kekuatan lebih dari seratus kali bobot tubuhnya sendiri. Koloninya bisa mencapai lima juta pekerja dalam satu sarang. Bagi kebanyakan predator, mengambil satu ekor semut dari kerumunan seagresif ini bukan perkara mudah. Namun laba-laba ini justru memanfaatkan sifat agresif semut tersebut sebagai pemicu perangkapnya sendiri. Cara Kerja Perangkap Pengamatan dilakukan pada pohon-pohon di sepanjang jalur jelajah semut rangrang. Pada siang hari, laba-laba bersembunyi di balik daun. Sekitar 30 menit setelah matahari terbenam, laba-laba mulai bekerja membangun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>