<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=lili-rambe-jambi&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/lili-rambe-jambi/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 20 Apr 2026 12:19:07 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Mengenal Burung Sekretaris: Predator yang Dapat Melumpuhkan Ular Kobra dengan Sekali Tendang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 10:34:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20102532/auf-der-jagd-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126630</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia burung pemangsa biasanya identik dengan serangan dari langit. Elang atau alap-alap mengandalkan kecepatan menukik dan cengkeraman kuku tajam untuk melumpuhkan mangsa. Namun, burung sekretaris (Sagittarius serpentarius) mematahkan norma tersebut. Predator penghuni sabana Afrika ini memiliki strategi yang jauh lebih brutal sekaligus presisi. Ia membunuh mangsanya dengan tendangan kilat tepat di bagian kepala. Burung sekretaris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/">Mengenal Burung Sekretaris: Predator yang Dapat Melumpuhkan Ular Kobra dengan Sekali Tendang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia burung pemangsa biasanya identik dengan serangan dari langit. Elang atau alap-alap mengandalkan kecepatan menukik dan cengkeraman kuku tajam untuk melumpuhkan mangsa. Namun, burung sekretaris (Sagittarius serpentarius) mematahkan norma tersebut. Predator penghuni sabana Afrika ini memiliki strategi yang jauh lebih brutal sekaligus presisi. Ia membunuh mangsanya dengan tendangan kilat tepat di bagian kepala. Burung sekretaris hidup di padang rumput terbuka sub-Sahara Afrika, di lingkungan yang sangat menantang karena tidak menyediakan banyak tempat persembunyian atau dahan pohon yang tinggi untuk melakukan penyergapan dari udara. Vegetasi yang didominasi rumput tinggi memaksa setiap hewan yang hidup di dalamnya untuk selalu waspada terhadap pergerakan sekecil apa pun. Kondisi geografis yang ekstrem ini membuat strategi klasik burung pemangsa seperti mengintai dari ketinggian menjadi kurang efektif karena mangsa sering kali tersembunyi di balik lebatnya rumput. Kaki jenjang burung sekretaris bukan hanya adaptasi untuk berjalan, melainkan senjata pegas mematikan yang dirancang secara alami untuk membunuh dengan satu hentakan presisi.| Foto oleh Donald Macauley CC BY-SA https://s3.animalia.bio/animals/photos/full/original/c4EhvZ5cCD5DLLf7AaHz.webp Alih-alih terbang mencari mangsa, burung sekretaris berevolusi menjadi pelari darat yang tangguh. Ia melangkah dengan langkah-langkah yang sengaja dibuat gaduh guna mengusik hewan yang bersembunyi di balik vegetasi. Saat tikus, kadal, atau ular muncul karena terkejut, burung ini tidak langsung menerjang dengan paruh yang bisa membahayakan wajahnya. Ia memanfaatkan kakinya yang sangat panjang untuk menjaga jarak aman. Jarak ini menjadi perisai utama yang krusial, terutama saat menghadapi ular berbisa seperti kobra. Dengan tetap berdiri di luar jangkauan serangan ular, burung sekretaris dapat meluncurkan tendangan cepat ke arah kepala sebagai senjata pamungkas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Resahkan Masyarakat Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 08:50:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20084442/Wisata-sungai-di-Desa-Jalin-Tutup-Karena-AIr-sungai-keruh-akibat-tambang-emas-illegal-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126623</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Amiruddin gusar saat menceritakan tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Setahun terakhir, belasan alat berat mengeruk tebing sungai untuk mencari butiran emas. Sebagai kepala desa atau di Aceh disebut Keuchik Desa Barueh, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dia tidak terima kegiatan liar yang merusak hutan di kawasan Ulu Masen itu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/">Tambang Emas Ilegal Resahkan Masyarakat Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Amiruddin gusar saat menceritakan tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Setahun terakhir, belasan alat berat mengeruk tebing sungai untuk mencari butiran emas. Sebagai kepala desa atau di Aceh disebut Keuchik Desa Barueh, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dia tidak terima kegiatan liar yang merusak hutan di kawasan Ulu Masen itu. “Sungai keruh dan mengancam kehidupan masyarakat, terutama kebutuhan air bersih. Ikan kerling atau jurung (Tor tambroides) dan sidat (Anguilla sp) mulai menghilang. Padahal masyarakat Barueh dan 12 desa di Kecamatan Kota Jantho sangat bergantung sungai ini,” terangnya, Senin (13/4/2026). Saat warga tidak memiliki uang, mereka akan mencari ikan di sungai. Sebagian dibawa pulang untuk dimakan, sebagian lagi dijual. Selain itu, ada tradisi gotong royong mencari ikan di sungai untuk membantu warga yang mendapat musibah. “Warga bergiliran mencari ikan selama tujuh hari.” Keruhnya air sungai Krueng, juga berdampak pada tempat wisata air di Desa Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. “Ada warga yang membuat bangunan penunjang wisata. Sekarang tutup, karena tidak ada wisatawan yang datang,” ujar Hamdani, warga Desa Jalin, Senin (13/4/2026). Wisata sungai di Desa Jalin, tutup karena aIr sungai keruh akibat tambang emas ilegal. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Anshari, Ketua Forum Keuchik Kecamatan Kota Jantho, menegaskan tidak pernah ada izin dari pemerintah desa terkait aktivitas tambang tersebut. “Warga desa di Kota Jantho sepakat menolak tambang emas ilegal. Kami tidak mau bencana yang terjadi di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang menimpa kami juga,” jelasnya, Senin (13/4/2026). Penolakan tersebut disepakati dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Nyata Kelompok Perempuan di Tengah Karut Marut Kelola Sampah Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 01:35:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/19080636/Koperasi-Kompos-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126601</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekelompok  perempuan  meriung di kebun sayuran pada Senin (30/3/26). Suka cita, mereka memetik beragam sayuran dengan pupuk kompos limbah rumah tangga. Mereka adalah para perempuan  yang tergabung dalam Kelompok Tani Taman Puspa Elok Lestari RT05/RW16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. “Kami mengolah sampah rumah tangga saat Pandemi COVID-19, pada Februari 2021,’’ kata Shanty Syahril, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/">Aksi Nyata Kelompok Perempuan di Tengah Karut Marut Kelola Sampah Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekelompok  perempuan  meriung di kebun sayuran pada Senin (30/3/26). Suka cita, mereka memetik beragam sayuran dengan pupuk kompos limbah rumah tangga. Mereka adalah para perempuan  yang tergabung dalam Kelompok Tani Taman Puspa Elok Lestari RT05/RW16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. “Kami mengolah sampah rumah tangga saat Pandemi COVID-19, pada Februari 2021,’’ kata Shanty Syahril, Koordinator Koperasi Kompos dalam webinar bertema “Krisis Pangan, Lonjakan Gas Metan dan Tantangan Iklim Indonesia” pada Kamis (12/3/26). Berawal dari 30 orang di lingkup RW16, yang intens diskusi perihal pengolahan sampah, mereka lantas tergerak, memilah dan mengolah sampah rumah tangga. “Mengubah masalah menjadi manfaat. Koperasi kompos menerima sisa sayur dan kulit buah. Petugas menjemput ke rumah anggota setiap Senin, Rabu dan Jumat,” katanya. Santy katakan, hampir semua sampah berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Dengan luas 110,3 hektar, sampah yang tertampung di Bantar Gebang rerata 6.500–7.000 ton per hari.  Mereka pun berinisiatif mengatasi persoalan sampah skala rumah tangga. Apalagi, sampah yang telah terpilah di rumah, kerap tercampur saat diangkut truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sehingga konsep koperasi kompos ini menjadi alternatif mengolah sampah secara mandiri. Jakarta memang sudah memiliki Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 77 /2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga mengatur masyarakat di lingkup rukun warga untuk mengolah sendiri sampah organik tetapi  tak banyak berjalan efektif. Di lingkungannya, dari 470-an warga, tak sampai 10 rumah  yang melakukan pengomposan. Tim operasional Koperasi Kompos RW 16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur rata-rata setiap pekan mengolah 300–400 kilogram sampah atau 1,5 ton&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 15:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://mongabay.co.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260313_101752_072-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126584</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, komunitas lokal, pangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Amir Hasan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan karena hasil tangkapannya sangat sedikit. Sebagian besar dari 10 jebakan yang dia pasang di dua titik lokasi rawa berbeda pada area Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Bekambit asri, Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kosong. “Tidak ada satu pun. Padahal lukah (perangkap ikan tradisional)-nya masih baik, tidak rusak, tidak ada apa-apanya,” kata  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/">Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Amir Hasan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan karena hasil tangkapannya sangat sedikit. Sebagian besar dari 10 jebakan yang dia pasang di dua titik lokasi rawa berbeda pada area Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Bekambit asri, Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kosong. “Tidak ada satu pun. Padahal lukah (perangkap ikan tradisional)-nya masih baik, tidak rusak, tidak ada apa-apanya,” kata  pria 65 tahun itu. Sebulan lebih alat itu dia tinggalkan, tetapi, hama keong yang justru mendominasi di dalamnya. Pria yang sudah jadi nelayan belasan tahun itu, mendapat 10 ikan haruan gabus (Channa striata) dan kerandang (Channa pleurophthalma) dengan ukuran kecil hingga sedang. Kondisi ini, katanya, jauh beda ketimbang beberapa tahun lalu. Saat itu, lukah bisa terisi setengahnya hanya dalam waktu tiga hari. “Banyak yang mengundurkan diri sudah, tidak sanggup lagi mencari ikan, karena tidak sesuai dengan hasilnya.” Perubahan ini, dia duga, berkaitan erat dengan alih fungsi sungai alami dalam area izin usaha pertambangan (IUP) PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) yang Kementerian Energi dan Sumber Daya Minerak (KESDM) bekukan sementara karena konflik agraria. Padahal sungai-sungai itu tadinya jalur sirkulasi untuk memengaruhi pasang surut, faktor terpenting bagi keberlangsungan hidup ekosistem perikanan. Dulu, Amir bilang, ketersediaan di wilayahnya melimpah, bahkan terkenal sampai Banjarmasin. Para pemancing, dari dalam dan luar kota kerap berkunjung ke sana. Selain mengganggu habitat ikan, pola perubahan sungai karena aktivitas perusahaan ini berimbas pada putusnya jalur transportasi air, fasilitas umum yang biasa nelayan gunakan untuk melintas. Akibatnya, mereka harus menempuh jalur lebih jauh hanya untuk mencapai lokasi tangkap. Biaya operasionalnya pun makin berlipat seiring hasil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misran Toni  Bebas,  Desak Aparat Buru Pembunuh Sesungguhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 06:28:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ms ArdanYuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/19062434/MUARA-KATE-JATAM-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126555</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Energi Bergantung Batubara]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan warga memadati halaman Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur,  sejak pukul 9.00 pagi, 16 April 2026. Warga hendak mengawal sidang putusan pembela lingkungan, Misran Toni alias Imis, yang jadi terdakwa kasus penyerangan yang menewaskan Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Setelah hampir tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/">Misran Toni  Bebas,  Desak Aparat Buru Pembunuh Sesungguhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan warga memadati halaman Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur,  sejak pukul 9.00 pagi, 16 April 2026. Warga hendak mengawal sidang putusan pembela lingkungan, Misran Toni alias Imis, yang jadi terdakwa kasus penyerangan yang menewaskan Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Setelah hampir tiga jam sidang berlangsung, majelis hakim membebaskan Misran Toni dari segala tudingan. Pria berusia 53 tahun itu dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan atas seluruh dakwaan terhadap kasus itu. Abdul Hamid,  Kuasa Hukum Misran Toni, menyebutkan, hakim telah mengetuk palu keadilan dan jeli dalam melihat kebenaran. “Hari ini kebenaran menemukan jalannya, yang artinya, segala tuduhan sejak dari awal terhadap Misran Toni dinyatakan bebas dari segala dakwaan maupun tuntutan,” katanya pasca sidang putusan. Dia bilang, putusan ini merupakan kemenangan untuk seluruh aktivis lingkungan dan masyarakat adat di Kabupaten Paser yang berjuang melawan batubara. Herdiansyah Hamzah,  Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Mulawarman, mengatakan, vonis bebas ini merupakan tamparan bagi aparat penegak hukum. Putusan itu secara otomatis mengkonfirmasi bahwa ada kriminalisasi terhadap Misran Toni dan rekayasa dalam pengungkapan kasus di Muara Kate. Misran Toni, katanya, jadi kambing hitam aparat penegak hukum. “Ini proses hukum yang sesat. Pertanyaannya, siapa pelaku aslinya? Aparat harus menyasar perusahaan yang diduga memiliki keterlibatan dalam konflik di Muara Kate,” kata pria yang akrab disapa Castro itu. Aktivitas batubara di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, yang diduga mengangkut batubara melintasi jalan umum dan perkampungan Muara Kate. Foto: MS Ardan/Mongabay Indonesia Kasus di Muara Kate bermula&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 05:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/19025054/Kanguru-pohon-matschnei.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126562</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, papua, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, terdapat satwa unik dan endemik yang selama 90 tahun dianggap telah lenyap. Bulu keemasannya berpadu dengan lumut di dahan-dahan pohon, menciptakan kamuflase sempurna yang membuatnya nyaris tak terlihat. Inilah kanguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri), spesies yang pertama kali didokumentasikan oleh ahli biologi Ernst [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/">Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, terdapat satwa unik dan endemik yang selama 90 tahun dianggap telah lenyap. Bulu keemasannya berpadu dengan lumut di dahan-dahan pohon, menciptakan kamuflase sempurna yang membuatnya nyaris tak terlihat. Inilah kanguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri), spesies yang pertama kali didokumentasikan oleh ahli biologi Ernst Mayr pada 1928. Keberadaannya yang menghilang hampir satu abad, akhirnya difoto kembali oleh botanis asal Inggris, Michael Smith, pada tahun 2018. Kanguru pohon bukan sekadar memanjat pohon. Mereka adalah keajaiban evolusi yang berbeda secara fundamental dari sepupu darat mereka di Australia. Kanguru pohon memiliki kaki belakang lebih pendek dan lengan depan lebih kuat dibandingkan kanguru darat. Adaptasi ini memberi mereka kelincahan luar biasa di atas pohon, tetapi juga membuat mereka canggung saat berada di tanah. Cakar melengkung di keempat kakinya berfungsi seperti kait pengaman, sementara telapak kaki dilapisi kulit kasar seperti bantalan yang memberikan cengkeraman kuat pada batang licin sekalipun. Ketika bergerak di atas dahan, mereka tidak melompat seperti kanguru darat. Mereka berjalan dengan keempat kaki seperti kucing, menggunakan ekor panjangnya antara 40–94 cm sebagai penyeimbang sekaligus berfungsi seperti tungkai untuk mencengkeram cabang. Kangguru pohon matschie (Dendrolagus matschiei) yang hidup di hutan asli mereka di Semenanjung Huon, Papua Nugini. Foto: Wikimedia Commons/Jaganath/GNU Free Documentation License Sebagai satwa arboreal (penghuni pohon), kanguru pohon menghabiskan lebih dari 90 persen hidupnya di atas pepohonan. Mereka aktif pada waktu fajar dan senja, memanfaatkan suhu yang lebih sejuk untuk mencari makan. Di kebun binatang Woodland Park Zoo, Seattle, Amerika Serikat, empat ekor kangguru pohon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suaka Terakhir Sang Naga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 04:00:10 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/10/22043659/4-14-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126572</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Suaka Terakhir Sang Naga]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Varanus komodoensis bukan sekadar satwa, melainkan penyintas tangguh yang membawa jejak evolusi empat juta tahun dari daratan Eropa hingga menetap di kepulauan Nusantara. Di balik sosoknya yang purba, Komodo kini berdiri di garis depan peradaban yang kian menghimpit. Keberadaannya kini terkepung oleh ancaman nyata, mulai dari jaringan penyelundupan internasional hingga dampak tak terelakkan dari krisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/">Suaka Terakhir Sang Naga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Varanus komodoensis bukan sekadar satwa, melainkan penyintas tangguh yang membawa jejak evolusi empat juta tahun dari daratan Eropa hingga menetap di kepulauan Nusantara. Di balik sosoknya yang purba, Komodo kini berdiri di garis depan peradaban yang kian menghimpit. Keberadaannya kini terkepung oleh ancaman nyata, mulai dari jaringan penyelundupan internasional hingga dampak tak terelakkan dari krisis iklim global. Di tanah asalnya sendiri, sang naga terjebak dalam pusaran ketegangan antara ambisi pariwisata skala besar dan kebijakan pemerintah yang kerap berbenturan dengan hak masyarakat lokal serta prinsip konservasi. Narasi ini menyatukan perspektif ilmiah dengan fakta lapangan yang tajam untuk mengingatkan dunia bahwa suaka yang tersisa ini adalah benteng terakhir bagi kelangsungan hidup predator paling ikonik di planet bumi. The post Suaka Terakhir Sang Naga appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Merkuri sampai Kerusakan Hutan Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 03:13:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/18064857/Foto15-eskavator-brimobAyat-S-Karokaro-1-768x448.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126538</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatara dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas tambang emas ilegal di Mandailing Natal (Madina) yang berlangsung sejak lama memicu berbagai dampak tak berkesudahan. Selain ekonomi, degradasi lingkungan dan kerusakan hutan kian meluas. Sementara ancaman kesehatan akibat lingkungan tercemar terus menghantui. Syarifah Ainun, Permanent Member of the Chemical Engineering Degree Region Sumatera, mengatakan, pada 2014,  sempat melakukan penelitian kualitas air di aliran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/">Jejak Merkuri sampai Kerusakan Hutan Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas tambang emas ilegal di Mandailing Natal (Madina) yang berlangsung sejak lama memicu berbagai dampak tak berkesudahan. Selain ekonomi, degradasi lingkungan dan kerusakan hutan kian meluas. Sementara ancaman kesehatan akibat lingkungan tercemar terus menghantui. Syarifah Ainun, Permanent Member of the Chemical Engineering Degree Region Sumatera, mengatakan, pada 2014,  sempat melakukan penelitian kualitas air di aliran Sungai Batang Gadis yang diduga terkontaminasi material tambang. Hasilnya, kualitas air sangat buruk dan layak pakai. Padahal, sungai ini banyak warga manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. “Hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas air sangat buruk. jadi, tidak boleh digunakan untuk keperluan air minum, mencuci atau juga mandi karena bisa terpapar pada kulit. Apalagi terkena mata akan sangat berbahaya,” katanya, Senin (6/4/26). Ainul katakan, pemeriksaan fokus pada beberapa parameter kimia seperti merkuri, timbal, arsenik, kadmium, tembaga, nikel, dan seng. Parameter itu dipilih seturut dengan potensi kontaminasi dari aktivitas tambang. Proses pengolahan material emas dengan menggunakan mesin glundung. Foto: Roby Ayat Karokaro/Mongabay Indonesia. Selama ini, seperti di banyak tempat, proses amalgamasi (pemisahan emas) oleh para penambang menggunakan merkuri. Bahkan, limbah sisa pengolahan juga mereka buang langsung ke media lingkungan terbuka, termasuk sungai. Dari hasil uji laboratorium, terang Ainun, kandungan merkuri mencapai 1,22 mg/l. Padahal, ambang batas senyawa ini hanya 0,025 mg/l. Akhir 2024, Ainun kembali melakukan penelitian serupa. Kali ini, dengan cakupan lebih luas, meliputi tujuh sungai di Madina yang diduga kuat terdampak aktivitas tambang emas. Selain Batang Gadis, pengambilan sampel juga dilakukan di Sungai Tanoman, Batang Natal, Simalagi, Aek Namora, Muara Sipongi dan Aek Kapesong. &#8220;Sampel air kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Gaboon Viper, Ular dengan Taring Terpanjang di Dunia yang Mengalirkan Bisa Mematikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/18/ular-gaboon-viper-ular-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-mengalirkan-bisa-mematikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/18/ular-gaboon-viper-ular-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-mengalirkan-bisa-mematikan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Apr 2026 11:37:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/18114429/5079504246_a9bd7967e7_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126549</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah rimbunnya hutan tropis, lantai hutan menyimpan sistem pertahanan dan perburuan yang sangat kompleks. Berbagai spesies predator telah berevolusi selama jutaan tahun untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari keseimbangan ekosistem, sering kali dengan mengandalkan penyamaran yang nyaris sempurna di antara serasah daun. Keberadaan pemangsa puncak di dasar hutan ini berfungsi sebagai pengendali populasi alami, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/18/ular-gaboon-viper-ular-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-mengalirkan-bisa-mematikan/">Ular Gaboon Viper, Ular dengan Taring Terpanjang di Dunia yang Mengalirkan Bisa Mematikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah rimbunnya hutan tropis, lantai hutan menyimpan sistem pertahanan dan perburuan yang sangat kompleks. Berbagai spesies predator telah berevolusi selama jutaan tahun untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari keseimbangan ekosistem, sering kali dengan mengandalkan penyamaran yang nyaris sempurna di antara serasah daun. Keberadaan pemangsa puncak di dasar hutan ini berfungsi sebagai pengendali populasi alami, memastikan bahwa rantai makanan tetap stabil dan kesehatan vegetasi tetap terjaga dari ledakan jumlah hewan pengerat. Salah satu representasi paling ekstrem dari evolusi tersebut adalah Gaboon viper (Bitis gabonica). Spesies ini memegang rekor sebagai ular dengan taring terpanjang di dunia yang ukurannya bisa mencapai 5 sentimeter. Selain taringnya yang masif, ular ini merupakan salah satu viper terberat di dunia dengan bobot yang bisa melampaui 10 kilogram. Kombinasi ukuran dan persenjataan biokimianya menjadikan ular ini spesialis penyergap yang sangat efektif di habitat aslinya di Afrika sub-Sahara. Gaboon viper (Bitis gabonica) berkamuflase di lantai hutan tropis Afrika. Pola warna kepalanya yang menyerupai daun kering membuat ular ini sangat sulit terdeteksi oleh mangsa maupun manusia. Taring panjangnya, yang tersimpan di dalam rahang, dapat mencapai panjang 5 sentimeter—rekor terpanjang di dunia ular.| Foto oleh Clément Bardot &#8211; Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=135217020 Secara fisik, Bitis gabonica cukup unik. Tubuhnya yang sangat gemuk memungkinkan ular ini menyimpan cadangan energi dalam jumlah besar, yang sangat penting bagi hewan dengan metabolisme lambat. Kepalanya yang lebar dan berbentuk segitiga menyerupai sehelai daun kering yang jatuh, lengkap dengan garis tengah yang meniru tulang daun. Pola geometris pada punggungnya terdiri dari rangkaian persegi panjang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/18/ular-gaboon-viper-ular-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-mengalirkan-bisa-mematikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/18/ular-gaboon-viper-ular-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-mengalirkan-bisa-mematikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Sulit Berantas Tambang Pasir Ilegal di Batam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/18/mengapa-sulit-berantas-tambang-pasir-ilegal-di-batam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/18/mengapa-sulit-berantas-tambang-pasir-ilegal-di-batam/#respond</comments>
					<pubDate>18 Apr 2026 09:52:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/17084031/Penampakan-udara-tambang-pasir-ilegal-di-Nongsa-Kota-Batam-Provinsi-Kepulauan-Riau.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126513</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tingginya permintaan pasir untuk reklamasi dan pembangunan di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mendorong praktik penambangan pasir secara ilegal. Inspeksi mendadak (sidak) Li Claudia Chandra, Wakil Wali Kota Batam pada Minggu (12/4/26) temukan empat lokasi tambang pasir ilegal. Salah satunya di Kampung Jabi, Kecamatan Nongsa. Li membagikan agenda sidaknya di media sosial. Terlihat tambang yang porak-poranda [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/18/mengapa-sulit-berantas-tambang-pasir-ilegal-di-batam/">Mengapa Sulit Berantas Tambang Pasir Ilegal di Batam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tingginya permintaan pasir untuk reklamasi dan pembangunan di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mendorong praktik penambangan pasir secara ilegal. Inspeksi mendadak (sidak) Li Claudia Chandra, Wakil Wali Kota Batam pada Minggu (12/4/26) temukan empat lokasi tambang pasir ilegal. Salah satunya di Kampung Jabi, Kecamatan Nongsa. Li membagikan agenda sidaknya di media sosial. Terlihat tambang yang porak-poranda dengan lubang bekas galian disana-sini. “Apa yang dilakukan ini tidak boleh, ini bapak korek ini, makin dikorek rusak, bisa menelan korban jiwa, ini harus setop, tidak boleh,” katanya kepada para penambang di lokasi. Sejumlah petugas dari jajaran Polda Kepri turut dalam sidak itu. Menurut Li, aktivitas tambang tak berizin itu tak hanya merusak ekosistem dan mengganggu keseimbangan alam, tetapi juga meningkatkan risiko bencana. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga membebani generasi mendatang. Li sepakat upaya penindakan tidak hanya berhenti pada penghentian aktivitas. Para pelaku yang tebukti melanggar, kata dia, harus diproses secara hukum. “Jika terbukti melanggar, harus diproses secara pidana agar memberikan efek jera,. Tidak hanya peringatan” katanya. BP Batam, katanya, akan memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait agar penertiban berjalan efektif. Pengawasan di wilayah rawan juga akan ditingkatkan melalui patroli rutin serta pelibatan masyarakat dalam pelaporan aktivitas ilegal. Kombes Pol. Silvester Mangombo Marusaha Simamora, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Kepri belum bisa menyampaikan jumlah pelaku dan barang bukti yang diamankan dalam kasus ini karena masih dalam penyelidikan. &#8220;Masih dalam proses ya,&#8221; katanya, Selasa (14/4/26). Li Claudia Chandra, Wakil Kepala BP Batam menertibkan tambang pasir di Kota Batam.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/18/mengapa-sulit-berantas-tambang-pasir-ilegal-di-batam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/18/mengapa-sulit-berantas-tambang-pasir-ilegal-di-batam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Monyet Ekor Panjang Baik-baik Saja di Habitatnya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/18/apakah-monyet-ekor-panjang-baik-baik-saja-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/18/apakah-monyet-ekor-panjang-baik-baik-saja-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>18 Apr 2026 03:43:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/18033932/Monyet-ekor-panjang-Falahi-Mubarok_Mongabay-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126533</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengapa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang tersebar luas di Indonesia, kehidupannya relatif aman dibandingkan Genus Macaca lainnya? Puji Rianti, peneliti dari IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group sekaligus pemimpin kajian Macaca National Red List Assesment (NRLA) Macaca Indonesia, menjelaskan perbedaan ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Melainkan, konsekuensi dari cara penilaian yang berbeda antara tingkat global [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/18/apakah-monyet-ekor-panjang-baik-baik-saja-di-habitatnya/">Apakah Monyet Ekor Panjang Baik-baik Saja di Habitatnya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengapa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang tersebar luas di Indonesia, kehidupannya relatif aman dibandingkan Genus Macaca lainnya? Puji Rianti, peneliti dari IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group sekaligus pemimpin kajian Macaca National Red List Assesment (NRLA) Macaca Indonesia, menjelaskan perbedaan ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Melainkan, konsekuensi dari cara penilaian yang berbeda antara tingkat global dan nasional. Satu contoh menarik, Macaca fascicularis yang secara global mengalami tekanan populasi di berbagai negara, dikategorikan Genting atau Endangered. Namun, di Indonesia, spesies yang sama justru masuk kategori Risiko Rendah atau Least Concern. Kondisi tersebut disebabkan populasi di Indonesia yang relatif masih besar dan tersebar luas di berbagai habitat alaminya. “Spesies ini dikenal sangat adaptif, dengan struktur sosial multijantan dan multibetina, serta tak punya musim kawin tertentu. Bisa berkembang biak sepanjang waktu, populasinya stabil, dan cenderung meningkat di berbagai wilayah Indonesia,” paparnya, Minggu (12/4/2026). Namun, penilaian status konservasi tak hanya bergantung pada jumlah individu, tetapi juga pada konteks sebaran dan tekanan lokal. Penilaian nasional hanya melihat kondisi dalam batas wilayah Indonesia. Sementara, penilaian global pertimbangkan kondisi di seluruh wilayah, seperti di berbagai negara Asia Tenggara. “Perbedaan ini sah secara ilmiah, karena menggunakan skala dan data yang berbeda. Dalam kajiannya,  data populasi dari wilayah non-alami atau introduksi tidak dimasukkan dalam penilaian, sesuai standar IUCN.” Monyet ekor panjang yang tersebar luas di Indonesia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Spesies endemik terancam Hal berbeda, terjadi peningkatan ancaman pada lima spesies Macaca endemik Sulawesi, yaitu Macaca nigrescens, Macaca hecki, Macaca tonkeana, Macaca ochreata, dan Macaca brunnescens. Kelimanya dikategorikan Endangered&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/18/apakah-monyet-ekor-panjang-baik-baik-saja-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/18/apakah-monyet-ekor-panjang-baik-baik-saja-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Muara Enggelam Gerakkan Ekonomi Desa Manfaatkan Energi Surya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/17/para-perempuan-muara-enggelam-gerakkan-ekonomi-desa-manfaatkan-energi-surya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/17/para-perempuan-muara-enggelam-gerakkan-ekonomi-desa-manfaatkan-energi-surya/#respond</comments>
					<pubDate>17 Apr 2026 15:21:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/17145935/F-MUARA-ENGGELAM-1-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126524</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Listrik hidup siang maupun malam hari, halusin bumbu pakai blender sampai jualan online di media sosial bisa warga Desa Muara Enggelam,  rasakan setelah gunakan energi bersumber matahari. Para perempuan desa melihat peluang ketersediaan energi ini dengan menciptakan berbagai sumber ekonomi keluarga. Sebelum ada energi surya, kondisi jauh berbeda. Asniah,  masih ingat ketika malam pertama di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/para-perempuan-muara-enggelam-gerakkan-ekonomi-desa-manfaatkan-energi-surya/">Para Perempuan Muara Enggelam Gerakkan Ekonomi Desa Manfaatkan Energi Surya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Listrik hidup siang maupun malam hari, halusin bumbu pakai blender sampai jualan online di media sosial bisa warga Desa Muara Enggelam,  rasakan setelah gunakan energi bersumber matahari. Para perempuan desa melihat peluang ketersediaan energi ini dengan menciptakan berbagai sumber ekonomi keluarga. Sebelum ada energi surya, kondisi jauh berbeda. Asniah,  masih ingat ketika malam pertama di Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,  tiga dekade lalu. Begitu mentari membenamkan diri di arah barat, desa itu larut dalam kegelapan. Perlahan temaram menyapa dari pelita kecil menyala di rumah-rumah kayu yang masih berjarak. Suara jangkrik, percikan air, dan desah angin menjadi lagu malam yang tak pernah putus. Terkadang suara dari mesin perahu yang membelah jalur air ikut mengusir sepi di permukiman. Bagi Asniah, hidup tanpa penerangan cukup sudah lama menjadi kawan hidup. Asniah lahir di Desa Teluk Muda, Kecamatan Kenohan,  Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada 1980. Sejak awal 1990-an, dia pindah ke Muara Enggelam bersama orangtuanya. Desa di pertemuan Sungai Enggelam dan Danau Melintang itu benar-benar unik.  Tak ada daratan, sebagian besar permukiman terapung. Luas mencapai 10.000 hektar. Perahu menjadi satu-satunya transportasi utama di sana. Sebanyak 195 keluarga atau 750 jiwa hidup di Desa Muara Enggelam. Untuk menuju daratan, warga harus menempuh perjalanan satu hingga dua jam dengan perahu bermesin menuju Kota Bangun. Asniah, warga Muara Enggelam, berbagi cerita kepada media tentang peningkatan ekonominya sejak listrik tersedia selama 24 jam. Akses energi yang stabil memberi ruang lebih besar bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Foto:Yuda Almerio/Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/para-perempuan-muara-enggelam-gerakkan-ekonomi-desa-manfaatkan-energi-surya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/17/para-perempuan-muara-enggelam-gerakkan-ekonomi-desa-manfaatkan-energi-surya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Zebra Biasa, Bukan Pula Kuda: Kisah Tragis Quagga di Ujung Afrika</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/17/bukan-zebra-biasa-bukan-pula-kuda-kisah-tragis-quagga-di-ujung-afrika/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/17/bukan-zebra-biasa-bukan-pula-kuda-kisah-tragis-quagga-di-ujung-afrika/#respond</comments>
					<pubDate>17 Apr 2026 09:10:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/10/22021241/Quagga-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126519</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jika kita memiliki kesempatan untuk mengunjungi daratan Afrika Selatan hari ini, kita mungkin akan beruntung bisa melihat berbagai spesies zebra yang berkeliaran bebas di padang rumput yang luas. Namun, jika kita datang sebelum akhir abad ke-19, kita akan menemukan salah satu penghuni paling ikonik yang kini telah hilang dari muka bumi. Satwa itu adalah quagga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/bukan-zebra-biasa-bukan-pula-kuda-kisah-tragis-quagga-di-ujung-afrika/">Bukan Zebra Biasa, Bukan Pula Kuda: Kisah Tragis Quagga di Ujung Afrika</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jika kita memiliki kesempatan untuk mengunjungi daratan Afrika Selatan hari ini, kita mungkin akan beruntung bisa melihat berbagai spesies zebra yang berkeliaran bebas di padang rumput yang luas. Namun, jika kita datang sebelum akhir abad ke-19, kita akan menemukan salah satu penghuni paling ikonik yang kini telah hilang dari muka bumi. Satwa itu adalah quagga (Equus quagga quagga), seekor herbivora besar yang penampilannya menyerupai perpaduan misterius antara zebra dan kuda. Secara visual, quagga memiliki karakteristik yang sangat unik dibandingkan kerabat dekatnya. Ia memiliki garis-garis cokelat yang kuat pada bagian kepala dan leher, namun pola garis ini perlahan memudar mulai dari bahu hingga ke bagian belakang tubuhnya. Hal ini membuat separuh tubuh bagian belakang quagga tampak polos dengan warna dasar cokelat kasta yang elegan, sehingga dari kejauhan ia tampak menyerupai kuda liar daripada zebra pada umumnya. Foto quagga betina di London Zoo tahun 1870 ini memperlihatkan pola garis unik yang hanya ada pada bagian depan tubuhnya, sebuah ciri khas yang membedakannya dari zebra dataran lainnya. (Foto: Frederick York/Wikimedia Commons) Dahulu kala, populasi quagga sangat melimpah di wilayah Karoo dan bagian selatan Provinsi Cape, Afrika Selatan. Wilayah ini sebenarnya juga menjadi habitat bagi berbagai jenis zebra lain yang beberapa di antaranya masih bisa kita jumpai sekarang, seperti zebra dataran (Equus quagga), zebra Burchell (Equus quagga antiquorum), hingga zebra gunung Hartmann (Equus zebra hartmannae). Sayangnya, nasib quagga berubah drastis sepanjang abad ke-19 akibat eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh para pendatang. Quagga diburu secara intensif bukan hanya karena kebutuhan komersial untuk mendapatkan daging dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/bukan-zebra-biasa-bukan-pula-kuda-kisah-tragis-quagga-di-ujung-afrika/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/17/bukan-zebra-biasa-bukan-pula-kuda-kisah-tragis-quagga-di-ujung-afrika/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waspadai Modus Baru Penyelundupan Komodo ke Thailand</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/17/waspadai-modus-baru-penyelundupan-komodo-ke-thailand/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/17/waspadai-modus-baru-penyelundupan-komodo-ke-thailand/#respond</comments>
					<pubDate>17 Apr 2026 08:14:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski dan Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/17075915/komodo-purba-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126503</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Suaka Terakhir Sang Naga]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, nusa tenggara, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkap modus baru penyelundupan tiga anakan komodo dari Nusa Tenggara Timur ke Thailand. Hanif Fatih Wicaksono, Kepala Sub Bidang Tipiter Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Polda Jawa Timur, mengatakan pihak kepolisian telah menetapkan sebanyak 6 tersangka kasus penyelundupan komodo. Sebanyak 2 tersangka ditangkap saat turun dari kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/waspadai-modus-baru-penyelundupan-komodo-ke-thailand/">Waspadai Modus Baru Penyelundupan Komodo ke Thailand</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkap modus baru penyelundupan tiga anakan komodo dari Nusa Tenggara Timur ke Thailand. Hanif Fatih Wicaksono, Kepala Sub Bidang Tipiter Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Polda Jawa Timur, mengatakan pihak kepolisian telah menetapkan sebanyak 6 tersangka kasus penyelundupan komodo. Sebanyak 2 tersangka ditangkap saat turun dari kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, yaitu penjual dan pembeli. “Terhitung Januari 2025 hingga Februari 2026, para tersangka telah menyelundupkan 17 anakan komodo ke luar negeri,” terang Hanif di Mapolda Jawa Timur, Rabu (15/4/2026). Anakan komodo didapatkan dari pemburu dan pemasok di wilayah Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Satu individu dibeli seharga Rp5,5 juta lalu dijual di Surabaya seharga Rp31,5 juta. Anakan komodo tersebut  juga hendak dijual ke Solo, Jawa Tengah, dengan harga per individu Rp41,5 juta, namun terungkap di Surabaya, Februari 2026 lalu. “Penyelundupan ini menggunakan paralon, yang juga menjadi media untuk menjebak anakan komodo di alam liar.” Penyelundupan komodo untuk diperdagangakan ke luar negeri terjadi, dengan cara memasukkan anak komodo ke dalam pipa paralon. Foto: Rhett Butler/Mongabay Hanif menambahkan, alur penyelundupan dimulai dari Manggarai Timur menuju Surabaya melalui jalur laut. Dari Surabaya, dikirim ke Jakarta melalui jalur darat menggunakan kereta api dan bus serta dikirim juga menggunakan kargo atau ekspedisi melalui jalur udara di Bandara Juanda, Sidoarjo. Sementara, komodo yang dikirim ke Medan, Sumatera Utara, selanjutnya diselundupkan ke Thailand menggunakan kapal laut. “Kami masih mendalami jalur pengiriman ke luar negeri, ada yang melalui jalur darat maupun laut dari Medan ke Thailand. Ada juga informasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/waspadai-modus-baru-penyelundupan-komodo-ke-thailand/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/17/waspadai-modus-baru-penyelundupan-komodo-ke-thailand/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenang Kejayaan Nelayan Kepiting Sebelum Industri Nikel Datang ke Konawe</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/17/prahara-nelayan-kepiting-di-balik-kilau-industri-nikel-di-konawe/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/17/prahara-nelayan-kepiting-di-balik-kilau-industri-nikel-di-konawe/#respond</comments>
					<pubDate>17 Apr 2026 02:09:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/16094211/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-06.54.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126473</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, produk laut, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Budi melesatkan motor skutiknya di jalan hauling berlumpur menuju fasilitas pembangkit listrik smelter PT Obsidian Stainless Steel (OSS) di Konawe, Sulawesi Tenggara, sore awal 2026. Dia memburu waktu sampai sebelum magrib demi tidak terkena sanksi keterlambatan yang dapat berakibat pemotongan upah hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Sudah lima tahun Budi, nama samaran, menjadi buruh industri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/prahara-nelayan-kepiting-di-balik-kilau-industri-nikel-di-konawe/">Mengenang Kejayaan Nelayan Kepiting Sebelum Industri Nikel Datang ke Konawe</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Budi melesatkan motor skutiknya di jalan hauling berlumpur menuju fasilitas pembangkit listrik smelter PT Obsidian Stainless Steel (OSS) di Konawe, Sulawesi Tenggara, sore awal 2026. Dia memburu waktu sampai sebelum magrib demi tidak terkena sanksi keterlambatan yang dapat berakibat pemotongan upah hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Sudah lima tahun Budi, nama samaran, menjadi buruh industri pengolahan bijih nikel perusahaan asal Tiongkok itu. Keseharian bekerja rata-rata 12 jam tanpa lembur. Sistem itu tak sesuai ketentuan aturan ketenagakerjaan yang mewajibkan pemberian upah lembur untuk waktu kerja melebihi delapan jam. Kendati begitu, tiada alasan baginya kecuali bertahan. Bukan tanpa alasan  Budi beralih dari nelayan telah menghidupinya selama puluhan tahun. Belakangan, hasil tangkapan kepiting  kian merosot dari hari ke hari akibat lingkungan dan ekosistem kepiting yang terus memburuk setelah industri smelter hadir. “Setengah mati. Jadi untung-untungan menangkap, kadang saya pergi nda dapat sama sekali.” Budi pun  terpaksa menjadi pekerja smelter. Apalagi, tagihan utang berbunga terus mengejarnya.“Sebenarnya sudah empat kali dapat panggilan (bekerja di smelter) tapi tidak mau karena saya masih senang tangkap kepiting. Sekarang ya, gimana lagi,” katanya. Dua perempuan nelayan mendayung sampan melewati bawah jembatan di jalan hauling OSS. Foto: La Ode Muhlas/Mongabay Indonesia. *** Sebelumnya, Budi relatif mudah meraup rupiah dari menangkap kepiting. Secara akumulasi, pendapatan bahkan lebih besar ketimbang upah mengemudikan kendaraan operasional smelter. Dulu, dia kerap mendapat 50 kilogram kepiting beraneka ukuran hanya dalam beberapa hari. “Kalau dulu enak sebelum ada perusahaan masih banyak hutan, masih lancar mencari di mana-mana. Dua tiga hari mengumpul saya bisa dapat Rp800.000-Rp900.000. Harus sering&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/17/prahara-nelayan-kepiting-di-balik-kilau-industri-nikel-di-konawe/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/17/prahara-nelayan-kepiting-di-balik-kilau-industri-nikel-di-konawe/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Buaya Siam dan Buaya Badas Hitam Jenis yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/16/apakah-buaya-siam-dan-buaya-badas-hitam-jenis-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/16/apakah-buaya-siam-dan-buaya-badas-hitam-jenis-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>16 Apr 2026 15:54:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/16154752/Buaya-siam-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126493</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kalimantan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nama buaya siam (Crocodylus siamensis) mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di sekitar Danau Mesangat, Kalimantan Timur. Namun, jika disebut buaya badas hitam, warga lokal mengenalnya dengan baik. Keduanya spesies yang sama dan merupakan fauna akuatik khas Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Indonesia memiliki satwa tersebut di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/apakah-buaya-siam-dan-buaya-badas-hitam-jenis-yang-sama/">Apakah Buaya Siam dan Buaya Badas Hitam Jenis yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nama buaya siam (Crocodylus siamensis) mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di sekitar Danau Mesangat, Kalimantan Timur. Namun, jika disebut buaya badas hitam, warga lokal mengenalnya dengan baik. Keduanya spesies yang sama dan merupakan fauna akuatik khas Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Indonesia memiliki satwa tersebut di Danau Mesangat yang luasnya 7.142 hektar. Jenis ini terkenal di dunia, karena berbeda secara fisik dan morfologi dengan buaya muara. Penyematan nama siam, diberikan karena Thailand disebut menjadi negara asal satwa tersebut. Panjang tubuhnya sekitar 2-3 meter, meskipun pernah ditemukan sepanjang 4 meter dengan berat hingga 350 kilogram. Kepalanya terlihat lebih besar dari tubuhnya, beserta mata dan lubang hidung yang lebih tinggi dari permukaan air. Saat muncul ke permukaan, tubuhnya hampir tak terlihat. Buaya siam yang dikenal juga dengan sebutan buaya badas hitam di Danau Mesangat, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Foto: Dok. Konsorsium KEE Lahan Basah Mesangat Suwi Amir Hamidy, Direktur Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati Badan Riset dan Inovasi Nasional (SKIKH BRIN), menjelaskan meski diduga berasal dari Thailand, namun buaya siam sudah menjadi satwa asli Indonesia, di Danau Mesangat yang memiliki karakteristik air tawar. Habitat yang cuma ditemukan di danau tersebut, bisa terjadi karena dulunya danau ini  daratannya menyatu dengan daratan Benua Asia lain, khususnya Asia Tenggara. Kemudian terjadi proses isolasi yang menyebabkan buaya ini terperangkap di sana. “Meski ada danau air tawar lain di Indonesia, namun tidak berarti buaya siam bisa dipindahkan,” ungkap ahli herpetologi ini, Rabu (15/4/2026). Meski berasal dari daratan yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/apakah-buaya-siam-dan-buaya-badas-hitam-jenis-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/16/apakah-buaya-siam-dan-buaya-badas-hitam-jenis-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar dari Kasus Monyet Peliharaan Serang Balita di Madura</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/16/belajar-dari-kasus-monyet-peliharaan-serang-balita-di-madura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/16/belajar-dari-kasus-monyet-peliharaan-serang-balita-di-madura/#respond</comments>
					<pubDate>16 Apr 2026 14:00:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Gafur Abdullah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/19180027/Monyet-Azam--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126476</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Balita tewas kena serang monyet peliharaan tetangganya terjadi di Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, 1 April lalu. Pegiat satwa menyesalkan kematian balita karena serangan monyet peliharaan ini dan menilai seharusnya tak terjadi kalau pemerintah tegas mengatur jual-beli maupun pemeliharaan primata itu. Kejadian bermula saat korban  dan dua anak lain tengah asyik bermain di sekitar rumahnya, lalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/belajar-dari-kasus-monyet-peliharaan-serang-balita-di-madura/">Belajar dari Kasus Monyet Peliharaan Serang Balita di Madura</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Balita tewas kena serang monyet peliharaan tetangganya terjadi di Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, 1 April lalu. Pegiat satwa menyesalkan kematian balita karena serangan monyet peliharaan ini dan menilai seharusnya tak terjadi kalau pemerintah tegas mengatur jual-beli maupun pemeliharaan primata itu. Kejadian bermula saat korban  dan dua anak lain tengah asyik bermain di sekitar rumahnya, lalu seekor monyet berlari dan menyerang mereka dengan agresif. Monyet itu merupakan peliharaan warga lain yang terlepas dari ikatan.  Naas, satu anak tidak sempat menyelamatkan diri dan menjadi sasaran gigitan monyet  itu. “Akibat serangan itu, korban mengalami luka robek pada paha kanan dan luka robek pada tangan kanan,” kata AKP Gunarto, Kapolsek Pasean, dalam keterangan tertulis yang Mongabay terima. Dia bilang, keluarga langsung membawa korban ke RSUD Waru. Setibanya di sana, balita itu sudah tak bernyawa. Mengutip Detik.com, Gunarto, menyebut, pemilik sudah menangkap dan membunuh monyet itu. &#8220;Sudah mati dibunuh oleh pemiliknya. Monyetnya memang kembali ke pemiliknya.&#8221; Benvika, Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan, monyet peliharaan lepas kemudian menyerang manusia sering terjadi di Indonesia. “Monyet serang manusia bukan kasus baru. Kejadian seperti ini sering terjadi dan terulang lagi. Kali ini pada akhirnya jatuh korban,” katanya kepada Mongabay, Sabtu (4/4/26). Dalam banyak kasus, katanya, penyebab kejadian karena masih bebasnya perdagangan monyet baik daring maupun luring. Hal ini terlihat di pasar hewan seperti di Jatinegara, Jakarta, pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta (PASTY) dan lain-lain. Di sana, bayi-bayi monyet maupun beruk bebas terpajang. Selain itu, penjualan daring pun menjamur lewat media sosial ataupun marketplace. Parahnya, ada komunitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/belajar-dari-kasus-monyet-peliharaan-serang-balita-di-madura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/16/belajar-dari-kasus-monyet-peliharaan-serang-balita-di-madura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Studi Sebutkan Indeks Transisi Energi Desa Menurun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/16/studi-ungkap-indeks-transisi-energi-desa-menurun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/16/studi-ungkap-indeks-transisi-energi-desa-menurun/#respond</comments>
					<pubDate>16 Apr 2026 08:39:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232204/DJI_0067-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126432</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali dan Denpasar]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Greenpeace merilis laporan Indeks Kesiapan Transisi Energi Desa 2026 belum lama ini di Bali. Hasilnya,  Indeks Transisi Energi Desa (ITED) melambat karena masih tinggi ketergantungan pada energi fosil serta ketimpangan fiskal dan teknologi. Studi ini mengukur kesiapan transisi energi desa dan kelurahan melalui tiga dimensi utama, yaitu,  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/studi-ungkap-indeks-transisi-energi-desa-menurun/">Studi Sebutkan Indeks Transisi Energi Desa Menurun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Greenpeace merilis laporan Indeks Kesiapan Transisi Energi Desa 2026 belum lama ini di Bali. Hasilnya,  Indeks Transisi Energi Desa (ITED) melambat karena masih tinggi ketergantungan pada energi fosil serta ketimpangan fiskal dan teknologi. Studi ini mengukur kesiapan transisi energi desa dan kelurahan melalui tiga dimensi utama, yaitu,  inisiatif energi bersih, ketahanan ekonomi, dan kapasitas pemerintahan desa, dengan menggunakan data Potensi Desa (Podes) 2021 dan 2024. Hasilnya, meski terdapat perbaikan dalam tata kelola desa, keberlanjutan inisiatif energi bersih dan kekuatan ekonomi lokal masih sangat tidak merata. Temuan utama di antaranya ada penurunan 1.100 desa dan kelurahan yang secara dominan menggunakan tenaga surya di skala rumah tangga. Dari 4.176 pada 2021 menjadi 3.076 pada 2024. Namun begitu, jumlah desa yang menggunakan lampu penerangan jalan bertenaga surya meningkat. Data lainnya adalah penurunan 217 desa dan kelurahan yang memiliki kredit ketahanan pangan dan energi, dari 1.862 pada 2021 menjadi 1.645 di 2024. Secara nasional, kesiapan transisi energi desa dan kelurahan menunjukkan dinamika yang beragam sepanjang 2021–2024. Sejumlah provinsi mencatat kemajuan, namun sebagian besar lainnya justru mengalami penurunan. Ketimpangan terjadi antara wilayah Indonesia Barat dan Timur. Wilayah perkotaan dan provinsi dengan investasi besar, seperti Jakarta dan Kalimantan Timur (Kaltim) meningkat pesat. Sementara kawasan timur dan pedesaan tertinggal jauh. Media Wahyudi Askar, Direktur Fiskal Celios menjelaskan, desa seringkali terpinggirkan dalam konteks kebijakan energi. Padahal desa memiliki potensi yang sangat besar. Dia katakan, sejak 2021 hingga hari ini itu terjadi penurunan inisiatif energi bersih. “Sebelumnya banyak desa-desa sudah punya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/studi-ungkap-indeks-transisi-energi-desa-menurun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/16/studi-ungkap-indeks-transisi-energi-desa-menurun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Agraria Menahun di Kebun Sawit Sinar Mas,  Padang Halaban Ricuh Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/16/konflik-agraria-menahun-di-kebun-sawit-sinar-mas-padang-halaban-ricuh-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/16/konflik-agraria-menahun-di-kebun-sawit-sinar-mas-padang-halaban-ricuh-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>16 Apr 2026 02:40:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/14062319/padang-halaban-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126398</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria di Padang Halaban, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut), yang melibatkan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) dan warga yang tinggal puluhan tahun di sana, kembali pecah, Kamis (9/4/26). Setidaknya ratusan keamanan dan buruh perkebunan datang ke lahan tempat tinggal ratusan petani, dan mengusir mereka, dua  petani pun jadi korban penculikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/konflik-agraria-menahun-di-kebun-sawit-sinar-mas-padang-halaban-ricuh-lagi/">Konflik Agraria Menahun di Kebun Sawit Sinar Mas,  Padang Halaban Ricuh Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria di Padang Halaban, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut), yang melibatkan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) dan warga yang tinggal puluhan tahun di sana, kembali pecah, Kamis (9/4/26). Setidaknya ratusan keamanan dan buruh perkebunan datang ke lahan tempat tinggal ratusan petani, dan mengusir mereka, dua  petani pun jadi korban penculikan. Sekitar pukul 08.00 waktu setempat, ratusan orang itu masuk dan menghancurkan pondok-pondok yang petani bangun kembali. Aksi itu mengejutkan anak-anak dan kelompok lanjut usia (lansia) yang masih tertidur, karena dinding rumah mereka tumbang. Seketika, anak-anak menangis dan berlarian ke luar rumah dengan wajah penuh ketakutan. Orang tua berdiri di depan rumah mereka, menolak penggusuran. Adu mulut yang terjadi berujung pada saling dorong dan tunjuk muka. Dalam waktu singkat, warga  kena pukul, injak, dan tendang, di bagian punggung, perut dan wajah. Mereka masih bertahan. Sekitar 45 menit, ratusan petugas keamanan dan buruh perkebunan memporak-porandakan pertahanan para petani. &#8220;Ngapain kalian di sini, ini bukan HGU kalian! Komisi XIII DPR juga tidak memenangkan kalian, kan,&#8221; kata  Yusrizal, anggota Kelompok Tani Padang Halaban (KTPH), menirukan ucapan dari orang perusahaan. Bentrokan fisik yang terjadi menyebabkan setidaknya 12 petani luka-luka. Kebanyakan  petani perempuan. Suasana pembongkaran paksa hunian petani di Padang Halaban. Sumber: tangkapan layar video dokumentasi warga. Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Sumut, menyebut, dua dari 12 petani yang luka-luka itu hilang, dugaan kuat diculik. Suardi, Ketua IKOHI Sumut, saat Mongabay wawancara, Kamis (9/4/26) malam, bilang, petani yang hilang itu adalah Harry Prantoko dan Benny Kumala. Hal itu dia ketahui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/16/konflik-agraria-menahun-di-kebun-sawit-sinar-mas-padang-halaban-ricuh-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/16/konflik-agraria-menahun-di-kebun-sawit-sinar-mas-padang-halaban-ricuh-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Hukum 3 Petani Enrekang Buntut Konflik Berlarut dengan PTPN XIV Maroangin</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/15/jerat-hukum-3-petani-enrekang-buntut-konflik-berlarut-dengan-ptpn-xiv-maroangin/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/15/jerat-hukum-3-petani-enrekang-buntut-konflik-berlarut-dengan-ptpn-xiv-maroangin/#respond</comments>
					<pubDate>15 Apr 2026 22:47:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Rusdianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/15223142/Petani-yang-tergabung-dalam-Aliansi-Masyarakat-Massenrempulu-AMPU-berunjuk-rasa-di-depan-PN-Enrekang-untuk-membebaskan-tiga-petani-yang-dikriminalisasi.-FOTO_-Eko-Rusdianto.-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126456</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sidi, Herman dan Amir bergegas dari Desa Botto Malangga, Kecamatan Maiwa,  menempuh perjalanan sekitar 30 km menuju pusat kota Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan,  pagi 1 April lalu.  Ketiga petani ini menggunakan dua motor beriringan.  Hari itu,  mereka  akan jalani persidangan di Pengadilan Negeri Enrekang sebagai terdakwa atas kasus perusakan dan penganiayaan di Kantor PTPN XIV [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/15/jerat-hukum-3-petani-enrekang-buntut-konflik-berlarut-dengan-ptpn-xiv-maroangin/">Jerat Hukum 3 Petani Enrekang Buntut Konflik Berlarut dengan PTPN XIV Maroangin</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sidi, Herman dan Amir bergegas dari Desa Botto Malangga, Kecamatan Maiwa,  menempuh perjalanan sekitar 30 km menuju pusat kota Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan,  pagi 1 April lalu.  Ketiga petani ini menggunakan dua motor beriringan.  Hari itu,  mereka  akan jalani persidangan di Pengadilan Negeri Enrekang sebagai terdakwa atas kasus perusakan dan penganiayaan di Kantor PTPN XIV Maroangin, Enrekang. Kepolisian Enrekang menetapkan mereka sebagai tersangka pada peristiwa kisruh 17 Januari 2026. Polisi mendakwa dengan Pasal 262 Ayat (1) KUHP atau Pasal 466 Ayat (1) KUHP Jo Pasal 20 huruf c UU Nomor 1/2023 Jo UU Nomor 1/2026. Para petani itu dinyatakan melakukan kekerasan terhadap orang atau barang secara bersama-sama di muka umum. Dalam dokumen Berita Acara Pendapat (BAP) yang kepolisian keluarkan tertulis aksi Sidi, Herman dan Amir, membuat kaca dan meja Kantor PTPN XIV Maroangin rusak. Juga seorang karyawan perusahaan, Suparman (40) mengalami pemukulan. Kerugian perusahaan tertulis Rp6.500.000. Agenda pertama sidang PN Enrekang untuk tiga petani itu pada 1 April 2026, adalah pemeriksaan terdakwa. Pengadilan menjadwalkan pada pukul 10.00. Sidang ditunda hingga pukul 13.00. Tiga petani Enrekang menghadapi persidangan melawan PTPN XIV Maroangin. Sidi, 57 tahun (baju kotak biru), Amir 49 tahun (Baju putih) dan Herman 43 tahun (baju coklat). Foto: Eko Rusdianto/Mongabay Indonesia Sekitar pukul 11.00 seratusan petani dari Aliansi Masyarakat Massenrempulu (AMPU) unjuk rasa di depan PN Enrekang. Para petani membentangkan spanduk. “Tidak hanya ilegal tapi PTPN XIV Enrekang merampas tanah dan memenjarakan kami.” “Bebaskan 3 petani Ampu.” Penjara tak menyelesaikan konflik agraria.” Aksi itu berlangsung sekitar satu jam dominan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/15/jerat-hukum-3-petani-enrekang-buntut-konflik-berlarut-dengan-ptpn-xiv-maroangin/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/15/jerat-hukum-3-petani-enrekang-buntut-konflik-berlarut-dengan-ptpn-xiv-maroangin/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>