<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=junaidi-hanafiah-subulussalam&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/junaidi-hanafiah-subulussalam/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 24 Jul 2026 13:18:30 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 13:18:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16051601/Diperkirakan-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-akan-terus-berlangsung.-Sebab-terus-dilakukan-pengeringan-rawa-gambut-untuk-perkebunan-dan-pertanian.-Foto-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131049</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan menghantui beberapa wilayah di Indonesia pada masa kemarau, terlebih tahun ini dari prediksi musim panas (El-Nino)  bakal lebih panjang.  Daerah dengan gambut punya tantangan tersendiri,  bagaimana menjaga lahan itu tetap basah demi mencegah kemunculan titik api (hotspot) atau kebakaran. Kementerian Lingkungan Hidup pun meminta seluruh pemegang konsesi memperketat mitigasi, dengan fokus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/">Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan menghantui beberapa wilayah di Indonesia pada masa kemarau, terlebih tahun ini dari prediksi musim panas (El-Nino)  bakal lebih panjang.  Daerah dengan gambut punya tantangan tersendiri,  bagaimana menjaga lahan itu tetap basah demi mencegah kemunculan titik api (hotspot) atau kebakaran. Kementerian Lingkungan Hidup pun meminta seluruh pemegang konsesi memperketat mitigasi, dengan fokus utama pada pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut. Dengan target utama menekan angka kebakaran hingga menyentuh titik nol. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup /Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), bilang, urusan gambut bukan sekedar menjaga lahan. Melainkan melindungi ekosistem yang memiliki jasa besar bagi pelestarian lingkungan, termasuk kemampuannya menyimpan karbon berkali-kali lipat dibanding tanaman biasa. &#8220;Jadi,  sebetulnya kita tidak sekadar menghindari kebakaran, tapi gambut itu sendiri bagian penting daripada ekosistem di lingkungan hidup kita,&#8221; katanya dalam Rapat Kerja Pencegahan dan Antisipasi Karhutla Pada Ekosistem Gambut di Jakarta, Jumat, (10/7/26). Jumhur bilang, strategi mitigasi ini bertumpu pada pengelolaan tata air agar lahan gambut tidak mengering hingga ke lapisan dalam. Perusahaan wajib menyekat kanal-kanal (canal blocking) agar air tak langsung terbuang ke sungai, melainkan tergenang di sekitar konsesi untuk menjaga kelembaban tanah, serta membangun embung-embung air sebagai cadangan. &#8220;Kita ingin memastikan, di konsesi mereka tidak boleh ada kebakaran. Tidak boleh ada titik-titik api yang berpotensi menjadi kebakaran, dan mitigasi itu harus dilakukan dengan berbagai cara.” Sekat kanal, kata Jumhur menjadi bagian dari strategi perlindungan ekosistem gambut sebagai salah satu benteng utama pencegahan karhutla. KLH/BPLH mencatat, hingga kini, pada gambut seluas sekitar 4,15 juta hektar 314 perusahaan kelola, terbangun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 06:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001611/Hiu-Paus-%C2%A9%EF%B8%8F-Konservasi-Indonesia-Ismail-Syakurachman-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130943</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[konservasi laut, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas. Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/">Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas. Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya terdapat sekitar 300–350 deret gigi kecil berukuran hanya sekitar enam milimeter. Meski demikian, gigi-gigi tersebut bukanlah senjata untuk mencabik mangsa besar. Makanan hiu paus terutama berupa plankton dan ikan-ikan kecil yang di Indonesia Timur dikenal sebagai ikan furi. Makanan itu diperoleh dengan cara menyaring air laut melalui lembaran penyaring dan lima pasang insangnya yang besar. Penampilan hiu paus juga mudah dikenali. Tubuhnya berwarna keabu-abuan dengan bagian perut putih serta dihiasi bintik dan garis kekuningan yang membentuk pola menyerupai kotak. Di Indonesia, ciri tersebut membuatnya dikenal sebagai hiu totol atau gurano bintang. Menariknya, pola bintik setiap individu berbeda, layaknya sidik jari pada manusia. Ciri khas ini dapat membantu membedakan satu hiu paus dari individu lainnya. Walaupun mampu hidup hingga sekitar 70 tahun, hiu paus bukan perenang yang cepat. Kecepatannya hanya sekitar lima kilometer per jam. Gerakan yang lambat membuatnya rentan bertabrakan dengan kapal. Namun, di balik gaya berenangnya yang santai, hiu paus merupakan penyelam tangguh. Ikan ini mampu mencapai kedalaman sekitar 1.000 meter, meskipun lebih menyukai perairan dangkal pada kedalaman sekitar 50 meter. Hiu paus hidup di perairan tropis dan hangat. Di Indonesia, kemunculannya tercatat antara lain di Nabire, Kaimana, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sabang, Situbondo,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 03:15:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/04/22025156/Seorang-nelayan-memperoleh-ikan-tenggiri-saat-perjalanan-menuju-Pulau-Gelasa.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131019</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena upwelling telah berlangsung di Indonesia bagian selatan sejak Juni yang puncaknya diperkirakan September 2026. Kejadian alam ini datangnya bersamaan dengan el nino. Widodo Setiyo Pranomo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki kepakaran Oseanografi Terapan, menjelaskan wilayah selatan Indonesia yang sudah mengalami upwelling adalah Laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/">Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena upwelling telah berlangsung di Indonesia bagian selatan sejak Juni yang puncaknya diperkirakan September 2026. Kejadian alam ini datangnya bersamaan dengan el nino. Widodo Setiyo Pranomo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki kepakaran Oseanografi Terapan, menjelaskan wilayah selatan Indonesia yang sudah mengalami upwelling adalah Laut Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Upwelling merupakan fenomena alami yang sangat penting untuk keberlanjutan ekosistem laut. Biasanya, ketika upwelling terjadi, massa air dari kedalaman laut akan naik ke permukaan dengan membawa nutrien, untuk menjadi bahan makanan penting. Nutrien yang mengandung gizi penting itu akan dikonsumsi fitoplankton sebagai fondasi penting rantai makanan di laut. Saat upwelling, ikan-ikan pelagis kecil maupun besar akan mendatangi kawasan tersebut untuk mencari makan. “Kondisi ini penting, karena produktivitas perikanan meningkat tajam,” ungkapnya kepada Mongabay Indonesia, Minggu (19/7/26). Tanda-tanda upwelling adalah menurunnya suhu permukaan laut, meningkatnya salinitas air, arus ke atas, dan konsentrasi klorofil naik. Semua itu menunjukkan nutrien sudah naik ke permukaan. Naiknya klorofil ke permukaan bertujuan menangkap sinar matahari untuk menghasilkan makanan, seperti biomassa karbon dan oksigen. Jika produksi makanan berhasil, fitoplankton akan memakannya. “Semakin banyak fitoplankton maka semakin banyak oksigen. Fitoplankton dimakan zooplankton, dan zooplankton dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan besar. Itulah rantai makanan.” Saat ini, intensitas upwelling lemah dan sedang. Secara spasial belum rata, meski diamati menggunakan parameter oseanografi. Kawasan yang sudah terjadi upwelling, meluas ke Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatera hingga Laut Andaman, dan Selat Makassar mengarah ke&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 00:30:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/11115135/Mahakam-River-Dolhin-RASI-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130889</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai. Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/">Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai. Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. Anak pesut keluar dengan posisi ekor terlebih dahulu. Cara ini membantu mengurangi risiko bayi menghirup air sebelum seluruh tubuhnya berhasil dilahirkan. Bayi pesut juga memiliki rambut-rambut halus di sekitar moncong. Rambut tersebut menjadi penanda bahwa pesut merupakan mamalia, meskipun kemudian menghilang seiring pertumbuhannya. Setelah lahir, bayi akan menyusu melalui kelenjar susu induknya yang berada di bagian bawah tubuh, dekat area anus. Keunikan lain terlihat dari bentuk lehernya yang lentur. Tidak seperti kebanyakan lumba-lumba, pesut dapat menggerakkan kepala ke berbagai arah. Kemampuan ini memudahkannya bermanuver dan mencari mangsa di sungai yang keruh, dangkal, dan memiliki banyak cabang. Penglihatan bukan satu-satunya andalan pesut. Mamalia ini dilengkapi sistem sonar yang sangat canggih. Pesut memancarkan suara ultrasonik berfrekuensi tinggi, lalu membaca pantulannya untuk mengenali benda, menentukan arah, dan menemukan ikan atau udang. Sementara itu, suara berfrekuensi lebih rendah digunakan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Pesut juga memiliki strategi berburu yang menarik. Mereka dapat menyemprotkan air dari mulut untuk mengejutkan atau membingungkan mangsa. Perilaku serupa juga dilakukan saat bermain dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi. Bahkan ketika beristirahat, pesut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Sebagian otaknya tetap aktif agar satwa ini dapat mengendalikan pernapasan dan naik ke permukaan untuk mengambil udara.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Charlie Heatubun, Ahli Palem yang Mendeskripsikan 50 Spesies Baru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 06:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/04025126/Charlie-Heatubun_1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130929</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna, Konservasi, sains dan Teknologi, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, hutan Papua bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati. Hutan merupakan ruang penelitian sekaligus sumber pengetahuan yang dapat menentukan arah pembangunan. Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua ini dikenal sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mempelajari flora [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/">Charlie Heatubun, Ahli Palem yang Mendeskripsikan 50 Spesies Baru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, hutan Papua bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati. Hutan merupakan ruang penelitian sekaligus sumber pengetahuan yang dapat menentukan arah pembangunan. Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua ini dikenal sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mempelajari flora Papua. Ketertarikan Charlie terhadap palem berawal dari keunikan bentuknya. Palem bahkan kerap disebut sebagai “pangeran” dunia tumbuhan karena tampilannya yang anggun, mudah dikenali, dan memiliki banyak manfaat. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1995 dengan penelitian tentang palem. Setahun kemudian, Charlie mulai mengikuti berbagai ekspedisi botani di Papua dan wilayah lain. Pada 2000, ia resmi bergabung dalam proyek Palms of New Guinea, sebuah penelitian besar yang hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku pada 2024. Perjalanan ilmiahnya membawanya ke berbagai medan ekstrem, mulai dari pesisir hingga puncak pegunungan. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia mencari palem zebra atau Caryota zebrina di Pegunungan Cycloop. Charlie dan tim harus mendaki seharian, lalu bertahan hampir satu minggu dengan berlindung di bawah batu tanpa bisa mandi karena tidak tersedia air. Kerja keras itu terbayar ketika palem zebra dipublikasikan sebagai spesies baru pada 2000. Temuan penting lainnya justru bermula secara tidak terduga. Ketika menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan di Raja Ampat, Charlie melihat sebuah palem besar di samping gedung pertemuan. Sampelnya kemudian diteliti melalui analisis filogenetik di Inggris dan terbukti merupakan marga baru yang diberi nama Wallaceodoxa. Hingga kini, Charlie telah memublikasikan 50 spesies baru yang termasuk dalam lima marga baru. Namun,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Burung Langka Terus jadi Buruan di Sumatera?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 05:52:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22132942/Pelaku-perdagangan-burung-langka-KZ-ditangkap-di-Kabupaten-Agam.-Dok-BKSDA-Agam-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130994</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim Gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) dan Satreskrim Polres Agam  gagalkan perdagangan burung langka lintas provinsi, Sabtu (18/7/26). Selain amankan KZ, terduga pelaku, petugas juga sita 225 burung dari berbagai jenis. Ade Putra, Kepala BKSDA Resor Agam, Sumbar katakan, saat petugas amankan, pelaku berencana mengirim ratusan satwa itu  ke Lampung. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/">Mengapa Burung Langka Terus jadi Buruan di Sumatera?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim Gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) dan Satreskrim Polres Agam  gagalkan perdagangan burung langka lintas provinsi, Sabtu (18/7/26). Selain amankan KZ, terduga pelaku, petugas juga sita 225 burung dari berbagai jenis. Ade Putra, Kepala BKSDA Resor Agam, Sumbar katakan, saat petugas amankan, pelaku berencana mengirim ratusan satwa itu  ke Lampung. “Burung-burung itu  menggunakan kendaraan roda empat dari Pasaman Barat, dengan tujuan akhir Lampung,” katanya. Hasil identifikasi petugas, ratusan burung terdiri atas kapodang, kutilang emas, kapas tembak, burung kacamata atau pleci, kolibri, cica daun besar, dan cica daun kecil. Pelaku, kata Ade, membeli burung-burung  dari sejumlah toko serta para pemburu di Pasaman Barat dan Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut). Nilai burung bervariasi, mulai  Rp20.000 hingga jutaan rupiah per ekor, tergantung jenisnya. &#8220;Untuk paket burung yang diamankan sekarang nilainya mencapai puluhan juta rupiah,&#8221; katanya. Ade menduga, KZ bukan sekadar kurir yang mengantar barang orang lain, melainkan bagian dari jaringan yang menanam modal sendiri, meski sebagian modal juga berasal dari pihak lain. BKSDA bersama kepolisian juga sudah mengantongi informasi awal tentang pihak lain dalam jaringan itu. Menurut dia, dari pemeriksaan, terungkap KZ sudah beberapa kali mengirim burung ke luar daerah. Dua dia lakukan tahun ini. Bagi BKSDA Resor Agam, ini  pertama kali berhasil ungkap kasus perdagangan burung lintas provinsi dalam lima tahun terakhir. Pada September 2025, BKSDA menggelar sosialisasi kepada hampir seluruh pedagang burung di Kabupaten Agam, Pasaman, Pasaman Barat, dan Kota Bukittinggi mengenai aturan pemanfaatan satwa liar dan jenis-jenis yang dilindungi. &#8220;Kami sudah melakukan sosialisasi kepada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tokek Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan di Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 01:30:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22110344/Tokek-rumah-Foto-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130983</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tokek rumah diperjualbelikan terbuka di sejumlah marketplace di Indonesia. Hasil penelusuran Mongabay Indonesia menunjukkan, sedikitnya satu penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Di etalase produk, penjual mencantumkan stok mencapai 493 ekor dan telah menjual beberapa kali. Selain menawarkan tokek hidup, penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, mulai dari meningkatkan stamina, mengatasi asma, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/">Tokek Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan di Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tokek rumah diperjualbelikan terbuka di sejumlah marketplace di Indonesia. Hasil penelusuran Mongabay Indonesia menunjukkan, sedikitnya satu penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Di etalase produk, penjual mencantumkan stok mencapai 493 ekor dan telah menjual beberapa kali. Selain menawarkan tokek hidup, penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, mulai dari meningkatkan stamina, mengatasi asma, hingga membantu mengobati kanker. Pertanyaannya adalah, apakah Gekko gecko itu berasal dari penangkaran atau tangkapan alam? Jika dari alam, bagaimana aturan pengambilannya? Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan perhatian terhadap perdagangan tokek meningkat setelah reptil ini masuk Appendix II CITES pada 2019. “Status ini bukan berarti tokek terancam punah, namun perdagangan internasionalnya harus diatur agar pemanfaatannya tetap legal. Selain dapat ditelusuri asal-usulnya (traceable), juga sifatnya berkelanjutan (sustainable),” jelasnya, Sabtu (11/7/26). Masuknya tokek dalam Appendix II CITES membuat Indonesia wajib memastikan setiap perdagangan internasional tidak mengancam populasi liar. Salah satu syaratnya adalah penyusunan Non-Detriment Finding (NDF), yaitu kajian ilmiah untuk memastikan pemanfaatan tokek tidak berdampak pada kelestarian spesies. Dalam Daftar Merah IUCN, tokek rumah masih berstatus Least Concern atau Berisiko Rendah terhadap kepunahan. Menurut Amir, penyusunan NDF diawali dengan survei populasi di berbagai wilayah Indonesia. Survei tersebut jadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan jumlah tokek yang boleh dimanfaatkan setiap tahun. “Kita harus mengetahui dulu berapa populasinya, bagaimana penyebarannya, bagaimana kemampuan berkembang biaknya. Lalu, dihitung berapa yang boleh dimanfaatkan.” Tokok rumah yang sering terlihat di sekitar kita. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Kuota pengambilan dari alam Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Konservasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gharonk, Merintis Wisata Selam untuk Meneliti Hiu di Morotai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 00:30:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/04/22063914/Screen-Shot-2019-04-20-at-5.12.35-PM-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130894</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Konservasi, konservasi laut, konservasi satwa laut, satwa laut, tokoh, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Darmawan Ahmad Mukharror, yang akrab disapa Gharonk, memulai perjalanannya mengenal dunia bawah laut pada usia 34 tahun. Meski terbilang terlambat belajar menyelam, pengalaman itu justru mengubah arah hidupnya. Ketertarikannya terhadap hiu tumbuh setelah menonton film The Sharkman, yang memperlihatkan sisi lain predator laut tersebut. Selama ini, hiu lebih sering digambarkan sebagai hewan ganas yang mengancam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/">Gharonk, Merintis Wisata Selam untuk Meneliti Hiu di Morotai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Darmawan Ahmad Mukharror, yang akrab disapa Gharonk, memulai perjalanannya mengenal dunia bawah laut pada usia 34 tahun. Meski terbilang terlambat belajar menyelam, pengalaman itu justru mengubah arah hidupnya. Ketertarikannya terhadap hiu tumbuh setelah menonton film The Sharkman, yang memperlihatkan sisi lain predator laut tersebut. Selama ini, hiu lebih sering digambarkan sebagai hewan ganas yang mengancam manusia. Padahal, informasi mengenai perilaku dan peran pentingnya bagi ekosistem laut masih jarang diketahui masyarakat. Hal inilah yang mendorong Gharonk untuk mengenal hiu secara lebih mendalam. Pada 2014, ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang memiliki sertifikat PADI AWARE Shark Conservation Diver Instructor, yaitu instruktur selam spesialis konservasi hiu. Insinyur Teknik Kimia lulusan Institut Teknologi Bandung itu kemudian melanjutkan pendidikan magister di bidang Ilmu Kelautan, Universitas Indonesia. Gharonk menemukan bahwa kebanyakan penelitian hiu di Indonesia masih berfokus pada individu yang ditangkap nelayan dan didaratkan di pelabuhan. Penelitian semacam itu umumnya mengkaji bentuk tubuh, aspek biologi, dan makanan hiu. Sementara, perilaku hiu di habitat alaminya belum banyak diteliti. Padahal, studi perilaku membutuhkan pengamatan jangka panjang, bahkan hingga puluhan tahun. Untuk membiayai penelitian secara berkelanjutan, Gharonk mendirikan Shark Diving Indonesia di Morotai, Maluku Utara. Pendapatan dari wisata selam dan dana pribadinya digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati perjumpaan dengan hiu, tetapi juga belajar memahami perilakunya di alam. Penelitiannya berfokus pada hiu karang dan interaksinya dengan manusia di Morotai dan Halmahera. Ia menggunakan metode kamera bawah air dengan umpan atau BRUV serta sensus video bawah air. Teknik ini dapat merekam perilaku, keragaman, dan kelimpahan ikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8216;Ular Berkepala Dua&#8217;: Siasat Bertahan Ular Piton Calabar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 23:31:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22232612/2560px-calabar-serpent2-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131000</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai spesies ular memiliki cara berbeda untuk menghindari predator, mulai dari kamuflase warna tubuh, gerakan cepat menghindar, hingga bentuk tubuh yang menyerupai bagian tubuh lain untuk mengecoh serangan. Salah satu contoh strategi terakhir ditemukan pada piton Calabar (Calabaria reinhardtii), ular yang hidup di hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Piton Calabar memiliki bentuk kepala dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/">&#8216;Ular Berkepala Dua&#8217;: Siasat Bertahan Ular Piton Calabar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai spesies ular memiliki cara berbeda untuk menghindari predator, mulai dari kamuflase warna tubuh, gerakan cepat menghindar, hingga bentuk tubuh yang menyerupai bagian tubuh lain untuk mengecoh serangan. Salah satu contoh strategi terakhir ditemukan pada piton Calabar (Calabaria reinhardtii), ular yang hidup di hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Piton Calabar memiliki bentuk kepala dan ekor yang hampir sama, keduanya tumpul dan berbentuk oval. Kemiripan ini merupakan adaptasi pertahanan diri. Ular ini panjangnya tidak lebih dari satu meter dan menggunakan kemiripan bentuk ekor dengan kepala sebagai salah satu cara utama menghindari serangan predator. Nama &#8220;piton&#8221; pada spesies ini tidak sesuai dengan klasifikasi ilmiahnya. Calabaria reinhardtii bukan anggota famili Pythonidae seperti sanca kembang atau sanca bola, melainkan anggota famili Boidae, kelompok yang sama dengan boa. Ular ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya dan hanya ditemukan di kawasan hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Nama umum &#8220;piton Calabar&#8221; bertahan karena alasan historis, bukan karena kekerabatan taksonomi. Ular ini hidup di bawah permukaan tanah dan menggali lorong di tanah gembur serta serasah daun, berbeda dari kerabatnya di genus Eryx yang menggali di pasir. Piton Calabar berburu dengan masuk ke liang tikus untuk memangsa anak tikus yang masih muda. Perilaku ini membuat ular terpapar risiko serangan balik dari induk tikus, yang giginya dapat melukai tubuh ular. Menyembunyikan Kepala, Menonjolkan Ekor Ketika terancam, piton Calabar menekan kepalanya ke tanah dan menutupinya dengan lilitan tubuh, sementara ekornya diangkat dan digerakkan untuk menarik perhatian predator. Ekornya berwarna lebih terang dibanding bagian tubuh lain, kadang disertai lingkaran pucat,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 11:59:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21183310/Lanskap-Menoreh_Arif-Rudiyanto-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130953</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/">Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya cukup banyak peminatnya karena karakter suaranya yang digemari penghobi burung kicau. “Peminat paling banyak dari luar daerah, terutama Jogja dan Magelang. Mereka minta warga sini untuk menangkapnya, nanti dijual dengan harga yang cukup mahal juga,” katanya, pertengahan Juni. Sewaktu masih aktif jadi pemburu burung, dia mengincar burung yang masih anakan yang masih belum bisa terbang. Memeliharanya, lalu jual setelah dewasa. “Lima tahun lalu sudah susah sekali dapat burung disini, lalu berhenti dan pilih fokus ternak kambing saja.” Namun, berhenti cari sarang burung untuk mengambil anakan itu ternyata tidak membuat populasi burung di Donorejo pulih. Pasalnya, pemburu dari luar desa justru tambah banyak. Hal ini memaksa desa memberlakukan pelarangan penangkapan burung dengan model apapun dua tahun terakhir. Kondisi ini sempat membuahkan hasil, burung, terutama sikatan cacing, mulai muncul, walau sedikit. Untuk membuat upayanya optimal, Parman dan belasan orang lain membentuk Kelompok Girimukti. Mereka mencatat dan memetakan burung Perbukitan Menoreh di desanya. “Data-data ini jadi bahan kami untuk menyelamatkan koridor burung disini.” Koridor burung ini penting sebagai jalur dan habitat satwa ini berkembanh biak. Menurutnya, banyak lanskap di desa yang turut berubah seiring waktu. “Kami juga sadar bahwa burung-burung ini tidak sepenuhnya tinggal di Donorejo, tapi terhubung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 04:49:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20084804/Sungai-Krueng-Aceh-di-Desa-Jalin-Berair-keruh-akibat-tambang-emas-illegal-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130972</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) telah merambah Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menunjukkan, sekitar 14,36 hektar kawasan Cagar Alam Jantho rusak akibat kegiatan ilegal tersebut sepanjang 2023 hingga Mei 2026. Walhi mencatat, berdasarkan analisis citra satelit, luas kawasan terdampak PETI di Kecamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/">Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) telah merambah Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menunjukkan, sekitar 14,36 hektar kawasan Cagar Alam Jantho rusak akibat kegiatan ilegal tersebut sepanjang 2023 hingga Mei 2026. Walhi mencatat, berdasarkan analisis citra satelit, luas kawasan terdampak PETI di Kecamatan Jantho mencapai 102,69 hektar, melonjak tajam dibandingkan awal 2023 yang hanya 4,87 hektar. Kerusakan tersebut meliputi hutan lindung (58,85 hektar), Cagar Alam Jantho (14,36 hektar), hutan produksi (19,12 hektar), serta badan air (10,35 hektar). &#8220;Hasil pemantauan kami, ada puluhan ekskavator yang diduga beroperasi di kawasan hutan Jantho,&#8221; ujar Afifuddin, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, Senin (29/6/26). Kekhawatiran terbesar adalah ancaman terhadap DAS Krueng Aceh. Sedimentasi akibat pengerukan tanah dapat menurunkan kualitas air, sementara penggunaan merkuri berpotensi mencemari aliran sungai hingga ke hilir. “Dampaknya bukan hanya dirasakan di lokasi tambang, tetapi juga masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai sumber air bersih, irigasi pertanian, hingga perikanan.” Air sungai keruh akibat tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Hanif, Juru Bicara Aliansi Jantho Bergerak, mengatakan aktivitas tambang ilegal telah berlangsung tiga tahun dengan kerusakan yang meningkat. Berdasarkan informasi dari masyarakat, akses menuju lokasi tambang diduga berasal dari wilayah Tangse, Kabupaten Pidie, sebelum masuk ke kawasan Aceh Besar. Dari titik perbatasan, diperkirakan telah masuk sekitar 12 kilometer ke wilayah Jantho. &#8220;Cagar alam saja sudah dirambah, kondisi wilayah lain bisa lebih parah,&#8221; ujarnya, Senin (29/6/2026). Masyarakat Jantho secara tegas menolak tambang emas ilegal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Dalam Rahim, Satu Embrio Hiu Harimau Pasir Memangsa Saudara-saudaranya. Ini Fakta Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 03:28:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22032019/7108173803_f82bc577cd_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130967</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Carcharias taurus memiliki salah satu cara berkembang biak paling tidak biasa di antara hewan bertulang belakang. Ketika beberapa embrio tumbuh bersamaan dalam rahim induknya, embrio yang berkembang lebih cepat akan menyerang dan memakan saudara-saudaranya sendiri sebelum lahir. Fenomena ini dikenal sebagai kanibalisme intrauterin, dengan dua istilah teknis yaitu embryophagy dan adelphophagy, yang secara harfiah berarti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/">Di Dalam Rahim, Satu Embrio Hiu Harimau Pasir Memangsa Saudara-saudaranya. Ini Fakta Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Carcharias taurus memiliki salah satu cara berkembang biak paling tidak biasa di antara hewan bertulang belakang. Ketika beberapa embrio tumbuh bersamaan dalam rahim induknya, embrio yang berkembang lebih cepat akan menyerang dan memakan saudara-saudaranya sendiri sebelum lahir. Fenomena ini dikenal sebagai kanibalisme intrauterin, dengan dua istilah teknis yaitu embryophagy dan adelphophagy, yang secara harfiah berarti memakan saudara sendiri. Perilaku ini pertama kali diketahui secara tidak sengaja pada 1948, saat seorang peneliti yang memeriksa rahim seekor hiu harimau pasir yang hampir melahirkan digigit oleh embrio di dalamnya. Hingga kini, bentuk kanibalisme seekstrem ini hanya diketahui terjadi pada spesies tersebut, meskipun bentuk kanibalisme dalam rahim yang lebih ringan, yaitu memakan telur yang tidak dibuahi tanpa memangsa saudara, juga ditemukan pada beberapa spesies hiu lain. Proses di Dalam Rahim Hiu betina memiliki dua rahim yang terpisah dan menghasilkan telur secara bertahap selama beberapa bulan, sehingga pada awal kehamilan satu rahim bisa berisi lebih dari satu embrio hasil pembuahan dari kapsul telur yang berbeda-beda. Telur yang telah dibuahi masuk ke kedua rahim itu, namun tidak selalu berkembang pada waktu yang bersamaan. Embrio yang lebih dulu menetas dari kapsul telurnya mendapat keuntungan berupa pertumbuhan lebih cepat serta perkembangan gigi dan mata yang lebih awal dibanding embrio lain di rahim yang sama, sehingga ia mampu bergerak dan menyerang lebih dulu sebelum saudara-saudaranya sempat berkembang sejauh itu. Hiu harimau pasir (Carcharias taurus) berenang di perairan dangkal. Sirip punggung ganda yang hampir sama besar dan tubuh berwarna abu-abu kecokelatan menjadi ciri khas spesies ini. Foto: D Ross Robertson/Smithsonian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 02:14:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fathul Rahman]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21172515/A-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130945</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat dan sumbawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aroma daging ikan hiu kering menyengat hidung ketika berkunjung ke Pulau Medang, sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bawah kolong, sisa-sisa banjir rob yang menerjang rumah warga masih menggenang dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Bagi warga, pemandangan itu sudah biasa. Saking biasanya, warga tak pernah menganggap banjir rob yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/">Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aroma daging ikan hiu kering menyengat hidung ketika berkunjung ke Pulau Medang, sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bawah kolong, sisa-sisa banjir rob yang menerjang rumah warga masih menggenang dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Bagi warga, pemandangan itu sudah biasa. Saking biasanya, warga tak pernah menganggap banjir rob yang terjadi sebagai bencana. Maklum, bagi penduduk Suku Bajo ini, laut adalah tempat mereka hidup. Tidak mengherankan pula masyarakat suku ini lekat dengan sebutan suku laut. Karena alasan itu pula, warga memiliki mendekatkan bangunan rumah-rumah mereka ke laut. Sementara bagian pulau yang lain mereka manfaatkan untuk kebun. Secara administratif, Pulau Medang terbagi menjadi dua desa; Desa Bajo Medang di sisi timur dengan dominasi warga dari Suku Bajo. Sedangkan sisi barat, Desa Bugis Medang yang mayoritas penduduknya dari Suku Bugis. Pada sisi Desa Bugis, rumah warga memanjang mengikuti jalan desa, sementara di sisi Desa Bajo rumah warga terkonsentrasi di pesisir bagian selatan-timur. Sebagian bahkan berada di atas laut. “Begitulah kehidupan kami warga Bajo. Sudah biasa ketika air laut naik, cuma yang terganggu adalah sumur karena air laut masuk,’’ kata Jufrin, Kepala Desa Bajo Medang kepada Mongabay. Dari daratan utama Pulau Sumbawa, butuh dua jam menggunakan perahu kayu Tak semua bangunan rumah di Medang terbuat dari kayu. Sebagian adalah bangunan permanen yang materialnya warga ambil dari laut, termasuk batu-batu karang untuk pondasi. “Karang mati yang diambil,” lanjut Kades. Berada di pulau kecil, terisolir dari daratan utama membuat biaya hidup di pulau ini relatif mahal. Itu karena daya dukung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terkesan Menakutkan tapi Bukan Sekadar Predator, Inilah Peran Besar Buaya Muara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 01:30:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12040542/Buaya-muara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130888</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai. Indonesia mencatat angka konflik manusia dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/">Terkesan Menakutkan tapi Bukan Sekadar Predator, Inilah Peran Besar Buaya Muara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai. Indonesia mencatat angka konflik manusia dan buaya yang tinggi. Sepanjang 2020–2024, terdapat 820 serangan buaya dengan 414 korban meninggal. Lebih dari 95 persen kasus melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus). Hampir separuh serangan berkaitan dengan aktivitas mencari ikan, sedangkan sekitar sepertiganya terjadi ketika masyarakat melakukan kegiatan domestik seperti mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sanitasi. Konflik tersebut tidak memiliki penyebab tunggal. Hilangnya habitat, menyusutnya ruang hidup, dan berkurangnya mangsa alami membuat buaya semakin sering memasuki wilayah aktivitas manusia. Pada saat bersamaan, pertumbuhan penduduk dan memudarnya pengetahuan lokal membuat manusia semakin tidak terbiasa berbagi ruang dengan satwa ini. Penyempitan habitat bahkan dapat meningkatkan intensitas perjumpaan, bukan menguranginya. Padahal, buaya muara memiliki peran penting dalam ekosistem. Saat masih berupa telur hingga berumur satu tahun, buaya rentan menjadi mangsa berbagai satwa. Tingkat kelangsungan hidupnya pada tahun pertama bahkan dapat kurang dari lima persen. Setelah tumbuh, buaya beralih menjadi predator yang membantu mengendalikan populasi satwa lain, termasuk ikan toman, ikan tapah, dan ular. Sebagai predator yang resilien, buaya muara memiliki toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi habitat. Pergerakan buaya dari perairan tawar menuju daratan, pesisir, hingga laut juga membantu memindahkan biomassa dan nutrien antar ekosistem. Buaya dewasa mengaduk sedimen dasar perairan sehingga nutrien dapat terlepas kembali. Betina yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selain Kepala yang Dapat Berputar 270 Derajat, Ini 10 Keunikan Burung Hantu Lainnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 00:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09075444/Celepuk-Enggano-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130864</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, ilmiah popular, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Burung hantu sering digambarkan sebagai penghuni malam yang misterius. Tatapannya tajam, kepalanya dapat berputar jauh, sementara kepakan sayapnya nyaris tak terdengar. Namun, keunikan burung ini tidak berhenti di situ. Berikut 10 fakta menarik yang memperlihatkan kemampuan luar biasa burung hantu. Burung hantu ternyata bisa berenang Burung hantu tanduk besar pernah terlihat berenang menyeberangi danau di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/">Selain Kepala yang Dapat Berputar 270 Derajat, Ini 10 Keunikan Burung Hantu Lainnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Burung hantu sering digambarkan sebagai penghuni malam yang misterius. Tatapannya tajam, kepalanya dapat berputar jauh, sementara kepakan sayapnya nyaris tak terdengar. Namun, keunikan burung ini tidak berhenti di situ. Berikut 10 fakta menarik yang memperlihatkan kemampuan luar biasa burung hantu. Burung hantu ternyata bisa berenang Burung hantu tanduk besar pernah terlihat berenang menyeberangi danau di Chicago, Amerika Serikat. Burung tersebut masuk ke dalam air untuk menghindari serangan dua ekor elang pemangsa. Tidak semuanya aktif pada malam hari Meski dikenal sebagai satwa nokturnal, beberapa jenis burung hantu justru berburu pada siang hari. Jenis tersebut antara lain burung hantu abu-abu besar, burung hantu elang utara, dan burung hantu kerdil utara. Kebiasaan ini kemungkinan mengikuti aktivitas mangsanya, seperti burung penyanyi dan mamalia kecil. Kepalanya dapat berputar hingga 270 derajat Burung hantu mempunyai 14 ruas tulang leher, dua kali lebih banyak dibandingkan manusia. Susunan anatomi ini membuat kepalanya mampu berputar hingga 270 derajat. Kemampuan tersebut penting karena matanya tidak dapat bergerak bebas. Jenis terbesar telah punah Burung hantu terbesar yang pernah tercatat adalah Ornimegalonyx dari Kuba. Tingginya mencapai sekitar 1,1 meter. Kaki yang panjang dan kuat menunjukkan bahwa burung ini kemungkinan merupakan pelari cepat, meski para ahli belum mengetahui secara pasti kemampuannya untuk terbang. Membantu kerja sama petani di Timur Tengah Burung hantu serak atau barn owl merupakan pemangsa alami tikus. Sepasang burung hantu dapat memakan hingga 6.000 tikus dalam setahun. Kemampuan ini mendorong petani dan ilmuwan di Yordania serta wilayah Palestina bekerja sama menyediakan kotak sarang sekaligus mengurangi penggunaan pestisida. Memiliki “mata palsu”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 12:05:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/18091755/Keisha-sedang-membakar-kapurut-di-rumahnya-Desa-Malancan-Siberut-Utara-Kepulauan-Mentawai.-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130757</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indinesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar. Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/">Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar. Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun sagu yang terbakar memenuhi dapur rumahnya. Malam itu,  sekitar 20 batang kapurut tersaji bersama lauk sebagai makan malam kami yang menginap di rumahnya. Rasanya gurih alami, berpadu aroma harum daun sagu yang dibakar. Sederhana, tetapi menghadirkan kehangatan yang jarang ada pada makanan lain. Di banyak daerah di nusantara ini, nasi menjadi makanan pokok yang nyaris tak tergantikan. Namun di pedalaman Kepulauan Mentawai, kapurut masih menjadi bagian dari keseharian sebagian keluarga. Makanan lokal berbahan dasar sagu itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan warisan yang menghubungkan masyarakat Mentawai dengan hutan yang selama berabad-abad menopang kehidupan mereka. Bagi Keisha, kapurut adalah makanan yang membesarkannya. Dia pun ingat betul ketika ketika beras belum menjadi santapan utama masyarakat di kampungnya. &#8220;Dulu sebelum ada beras, kami makan sagu, keladi, sama ubi,&#8221; katanya. Hingga kini dia masih rutin memasak sagu, terutama ketika ada ikan sebagai lauk makan keluarga. &#8220;Kalau ada ikan, saya masak sagu. Lebih enak makan kapurut pakai ikan daripada makan nasi.&#8221; Sagu juga membuat rasa kenyang lebih lama ketimbang nasi. Selain mengolahnya menjadi kapurut, masyarakat Mentawai mengenal berbagai makanan lain berbahan sagu. Salah satunya kombong, adonan sagu yang dimasukkan ke dalam batang bambu, lalu membakarnya. &#8220;Kalau mau bikin kombong, bambunya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 10:29:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21101738/Trimeresurus-insularis-Foto-Annisa-Ramdani-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130930</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja. Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/">Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja. Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dia bersama tim berhasil mendokumentasikan Trimeresurus insularis. Ular berbisa ini dikenal punya kemampuan kamuflase sangat baik. Perjumpaan itu terjadi pukul 21.00 malam, tidak lama setelah hujan reda. Kawasan yang mereka telusuri berupa hutan lebat dengan aliran sungai tenang. Menurut Annisa, individu pertama yang ditemukan di atas batu, sekitar 100-200 meter dari sungai. “Awalnya kami tidak sadar jika ular tersebut di atas batu,” ujarnya, Senin (20/7/26). Trimeresurus insularis berwarna hijau di hutan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Tiga puluh menit kemudian, tim kembali menemukan individu lain dari spesies yang sama. Lokasinya di tepian sungai. Meski terbiasa survei keanekaragaman hayati, Annisa mengaku tetap gugup ketika berhadapan langsung dengan ular berbisa. Dia memilih mengamati dan memotret dari jarak aman, sementara rekan-rekannya yang punya pengalaman menangani ular memastikan seluruh proses dokumentasi dilakukan sesuai prosedur keselamatan. “Saya senang karena bisa mendokumentasikan ular berbisa langsung di habitat alaminya.” Trimeresurus insularis berwarna hijau yang jago kamuflase. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Daya tarik Menurut Annisa, daya tarik reptil berdarah dingin ini adalah warna tubuhnya yang hijau cerah dengan ujung ekor kemerahan. Di habitat alaminya, warna tersebut justru jadi kamuflase efektif, sehingga sulit dikenali di antara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 08:35:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21065231/FOTO-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130860</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/">Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau Kera berada di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mayoritas warga adalah Suku Bajo dari Buton dan Wakatobi. Tiap hari, Novry bersama para nelayan menangkap ikan tuna, cakalang, tongkol yang mereka pancing dari rumpon. “Pulau Kera ini anugerah Tuhan. Hal yang penting, kami bisa hidup berdampingan dengan laut saja sudah cukup,” kata Novry, Ketua Serikat Nelayan Pulau Kera (SNPK), Senin (26/6/26). Sebagai generasi kelima yang tinggal dan besar di Pulau Kera, Novry bersama warga Pulau Kera menggantungkan hidup pada laut. Mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak. Tak hanya jenis ikan laut, mereka juga seringkali menangkap gurita, beragam jenis karang dan budidaya rumput laut. Nana, nelayan perempuan Pulau Kera sejak subuh sudah mulai bekerja. Dia membersihkan perahu suaminya, memperbaiki tali-tali rumpon hingga sesekali ikut melaut. Saat siang tiba, dia menyusuri pesisir memanen rumput laut hingga petang. “Dari laut inilah kami bisa hidup. Hasil ikan dan rumput (laut) cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” katanya, Minggu (28/6/26). Novry bersama istri dan tetangganya menggunakan perahu menuju Pulau Kera, usai menjual hasil tangkapan, membeli air bersih, dan belanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Oeba. Mobilitas laut seperti ini menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gugatan Hukum Warga Rancapinang saat Kebun jadi Batalyon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 07:35:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21072517/Batalyon-Rancapinang_Anggita-Raissa_Foto8-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130907</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memadati Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang, 7 Juli lalu. Gugatan warga kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan karena mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) di tanah mereka kepada Kementerian Pertahanan seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar). Kini, lahan itu sudah terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/">Gugatan Hukum Warga Rancapinang saat Kebun jadi Batalyon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memadati Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang, 7 Juli lalu. Gugatan warga kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan karena mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) di tanah mereka kepada Kementerian Pertahanan seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar). Kini, lahan itu sudah terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP). Agenda persidangan hari itu adalah sidang pemeriksaan saksi fakta gugatan warga Rancapinang dalam perkara pembatalan SHP. Inah, menangis di hadapan Majelis Hakim PTUN Serang saat memberikan kesaksian pada perkara itu. Ibu dua anak itu harus mengingat kembali peristiwa awal tahun lalu ketika beko TNI menimbun perkebunannya. “Saya nggak kuat kalau cerita soal tanah itu, karena kebun saya sudah ditimbun. Padi sudah menguning dan beberapa hari bakal panen, ditimbun sama beko,” katanya saat memberikan kesaksian kepada Majelis Hakim PTUN Serang. Dia bilang, kebunnya sudah masuk dalam lahan untuk batalyon itu. Kebun dia tanami kelapa, melinjo, pisang, dan bambu. Kebun itu, satu-satunya sumber penghidupannya selama ini. Sebagai orang tua tunggal, Inah kelimpungan membiayai putranya untuk kuliah di perguruan tinggi. Setelah kebun kena timbun, dia tak punya penghasilan lagi. “Saya benar-benar nggak ada penghasilan sekarang. Saya bilang ke anak, jangan kuliah dulu. Dari mana uangnya kalo mau kuliah?” Meski penghasilan dari bertani tak tetap, kata Inah, setidaknya dari bertani bisa mencukupi kebutuhan harian dan masih bisa menabung. Saat ini, untuk penuhi kebutuhan makan, dia bekerja ngoyos padi di lahan tetangganya. Per hari, Inah mendapatkan upah dua kilogram beras. “Kadang juga upahnya cuma sepiring nasi. Yah, namanya juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Viral Tren Peluk Beligo Raksasa untuk Mendinginkan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 04:38:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21042840/27.jpg-19-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130903</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gelombang panas yang melanda China dalam beberapa pekan terakhir, muncul cara unik warga menghadapi udara panas: memeluk beligo atau winter melon berukuran besar saat tidur. Video dan foto yang menampilkan anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran berukuran hampir sebesar tubuh mereka menyebar luas di media sosial di China dan seluruh dunia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/">Viral Tren Peluk Beligo Raksasa untuk Mendinginkan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gelombang panas yang melanda China dalam beberapa pekan terakhir, muncul cara unik warga menghadapi udara panas: memeluk beligo atau winter melon berukuran besar saat tidur. Video dan foto yang menampilkan anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran berukuran hampir sebesar tubuh mereka menyebar luas di media sosial di China dan seluruh dunia, dengan salah satu topik terkait mencatat jutaan penayangan (views). Gelombang panas ini bukan kejadian biasa. Otoritas Meteorologi China (CMA) terus mengeluarkan peringatan suhu tinggi sepanjang Juli 2026, dengan sejumlah wilayah seperti Mongolia Dalam bagian barat, Xinjiang, Shaanxi bagian selatan, hingga Shanghai dan Chongqing mencatat suhu antara 35 hingga 39 derajat Celsius. Bahkan di Xinjiang, suhu diperkirakan bisa menembus 50 derajat Celsius, salah satu angka tertinggi yang tercatat tahun ini. Kondisi ini mendorong warga mencari cara mendinginkan tubuh tanpa bergantung pada pendingin udara, salah satunya lewat metode yang diklaim sebagai warisan turun-temurun tersebut. Kandungan Air Tinggi Jadi Kunci Efek Pendinginan Beligo adalah sayuran asli Asia Selatan dan Tenggara yang bisa tumbuh hingga panjang sekitar 60 sentimeter dan berat lebih dari 9 kilogram. Sayuran ini mengandung lebih dari 95 persen air, jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan buah dan sayur lain seperti apel (sekitar 84 persen air) atau wortel (sekitar 88 persen air). Kandungan air setinggi itu berkaitan langsung dengan sifat fisika yang disebut kapasitas panas jenis, yaitu jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu suatu benda sebesar satu derajat Celsius. Air memiliki kapasitas panas jenis yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan material lain, termasuk logam, kayu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>