<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=falahi-mubarok-demak&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/falahi-mubarok-demak/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 14:45:19 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Petani Banyuwangi Waswas Tambang Emas Ilegal [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 14:45:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/31034611/IMG_20260718_140652-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132709</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan poiitik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pondok kayu berdiri di kawasan hutan Gunung Lompongan, Banyuwangi. Dinding terbuat dari papan, beratap seng, dengan beberapa peralatan tani menggantung di sudut ruangan. Di tempat itulah Suroto menghabiskan sebagian besar waktunya. Rambutnya pun kini telah memutih. Lebih dari seperempat abad warga Dusun Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menghabiskan waktunya disana. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/">Petani Banyuwangi Waswas Tambang Emas Ilegal [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pondok kayu berdiri di kawasan hutan Gunung Lompongan, Banyuwangi. Dinding terbuat dari papan, beratap seng, dengan beberapa peralatan tani menggantung di sudut ruangan. Di tempat itulah Suroto menghabiskan sebagian besar waktunya. Rambutnya pun kini telah memutih. Lebih dari seperempat abad warga Dusun Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menghabiskan waktunya disana. Saban pagi, dia awali hari dengan menyusuri lorong koridor kebun buah naga yang dia tanam. Suroto bukanlah petani yang baru datang ketika buah naga sedang naik daun. Lima tahun setelah tsunami melanda Dusun Pancer, 1994, Suroto menjadi petani dan mengelola kawasan yang masuk dalam skema perhutanan sosial itu. &#8220;Dari tahun 1999, saya menggarap lahan di sini,&#8221; katanya, Sabtu (18/7/26). Saat itu, warga masih banyak menanam palawija sebagai komoditas. Sedang buang naga, baru mulai warga tanam beberapa tahun kemudian, termasuk Suroto. Lelaki 76 tahun itu mulai membangun pondokan, sekaligus memasang lampu-lampu sebagai rekayasa agar buah naga tetap berbunga pada musim kemarau. &#8220;Modalnya besar. Untuk lampu, kabel, sama listrik habis sekitar Rp40 juta  untuk kapasitas 5.500 watt,&#8221; ujarnya. Saat harga baik, Suroto bisa raup Rp60 juta sekali panen. Beberapa petani lain dengan lahan lebih luas bisa lebih dari itu. Namun di balik cerita itu, keresahan meliputi Suroto dan petani lain. Bukan hanya lahan yang mereka kelola masuk konsesi PT Damai Suksesindo Indonesia (DSI), juga aktivitas penambangan emas ilegal yang kian marak. DSI, merupakan anak perusahaan PT Bumi Suksesindo (BSI) dengan kepemilikan saham 99%. IUP eksplorasi DSI, sesuai SK Gubernur Jawa Timur No. P2T/83 tertanggal 17 Mei 2018&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 11:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30155418/Iguana-laut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132630</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/">Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup dengan kulit berwarna abu-abu kehitaman dan deretan sisik berbentuk piramida di sepanjang punggung. Kuku tajam serta penampilannya yang garang semakin membuat satwa ini terlihat seperti Godzilla. Meski tampil menyeramkan, iguana laut bukan pemakan daging. Satwa ini merupakan herbivora yang memakan alga dan rumput laut. Iguana laut juga menjadi satu-satunya spesies kadal yang mencari makanan di laut. Untuk memperoleh makanan, iguana laut menyelam hingga kedalaman 30 meter. Tubuhnya dapat tumbuh sepanjang 1,2 meter. Ekornya yang berbentuk pipih membantu satwa ini berenang dan bergerak dengan lincah di dalam air. Namun, iguana laut merupakan hewan eksotermik yang mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur panas tubuh. Karena tidak dapat terlalu lama berada di air dingin, iguana harus kembali ke daratan dan berjemur di bawah sinar matahari setelah menyelam. Tubuhnya juga memiliki kelenjar yang membantu menyaring dan membuang kelebihan garam. Kemampuan tersebut penting karena iguana laut menghabiskan banyak waktu untuk mencari makanan di perairan laut. Ketergantungannya terhadap alga membuat iguana laut rentan terhadap perubahan suhu laut. Ketika El Niño terjadi, suhu air meningkat dan menyebabkan ganggang merah serta hijau yang menjadi makanan utamanya menghilang. Ganggang cokelat memang bertambah, tetapi sulit dicerna dan kemungkinan beracun bagi iguana. Kelangkaan makanan dapat mengakibatkan kematian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Tragis Burung Hantu di NTT, Dibakar Hidup-hidup karena Dianggap Pembawa Petaka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 09:47:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074543/Serak-Jawa-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132719</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[gotontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas. Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas. Kedua, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/">Nasib Tragis Burung Hantu di NTT, Dibakar Hidup-hidup karena Dianggap Pembawa Petaka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas. Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas. Kedua, pada Agustus 2026, seekor burung hantu yang diduga celepuk flores (Otus alfredi), dipukul dan dibakar hidup-hidup oleh tiga pria di Manggarai Barat. Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, menyayangkan tindak kekerasan tersebut. Menurutnya, perbuatan melukai atau membunuh satwa dilindungi merupakan pelanggaran berat. Pelaku dapat terancam 15 tahun penjara sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. &#8220;Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,&#8221; ujar Adhi, dikutip dari detik.com, Kamis (13/8/26).Namun yang paling mengkhawatirkan adalah alasan di balik aksi tersebut. Ketika diperiksa, ketiga pelaku mengaku membakar burung hantu karena percaya kehadirannya merupakan pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Dengan aksi membakar burung hantu tersebut, para pelaku meyakini ancaman sihir dapat dilenyapkan. Serak jawa, jenis burung hantu yang merupakan sahabat petani karena kemampuan hebatnya memburu tikus. Foto: Asep Ayat. Kenapa dijuluki burung hantu? Nama burung hantu bukan sekadar julukan seram tanpa dasar. Ada dua alasan biologis yang sudah dibuktikan lewat riset ilmiah bertahun-tahun. Alasan pertama adalah gaya hidupnya yang benar-benar nokturnal alias aktif malam hari. Studi genom komparatif terhadap 11&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 02:26:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26045337/C0251T01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132417</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua  hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu,  pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/">Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua  hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu,  pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana. Tim menempuh beberapa jembatan gantung yang  rusak dan rapuh, perbukitan curam, bebatuan licin, sungai deras dengan lebar beragam, hutan lebat, dan lembah dengan jurang yang dalam untuk mewujudkan akses energi bersih bagi Masyarakat Adat Meratus di sana. Perjalanan panjang mulai dari Desa Hinas Kiri, batas RW05/RW03 tempat terakhir masih terjangkau kendaraan bermotor. Kemudian tim menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Arloji mencatat jarak tempuh sekitar 18,59 kilometer, total tanjakan curam 1.343 meter dan turunan menukik 1.711 meter. Titik awal di koordinat -2.703160, 115.673370, perjalanan berakhir di -2.622290, 115.581510. Jika tim perlu dua hari, warga desa yang terbiasa hanya butuh 18 jam sekali jalan, Sejak meninggalkan Puncak Tiranggan, persimpangan menuju Gunung Halau-Halau, tim berada di bawah arahan Pinan, tetua  adat Dayak Meratus yang  turun gunung untuk menjemput. Sehari sebelumnya, kami berempat menemuinya di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ada juga Ketua Rubi, Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PW AMAN) Kalsel. Sepanjang perjalanan, Pinan selalu mengambil posisi paling depan sebagai penunjuk arah, susunan kelompok harus tetap terjaga. Tidak seorang pun boleh mendahului atau tertinggal. “Jangan ada yang mendahului, pamali (tabu),” ucapnya. Saat itu, akhir Juli 2026, musim kemarau tengah berlangsung. Di bawah rapatnya kanopi hutan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari IKN hingga Rempang, Warga Tagih Makna Kemerdekaan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 00:30:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/17162701/Merauke-food-estate--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132617</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun. Namun, bagi masyarakat adat dan warga yang hidup di sekitar proyek pembangunan berskala besar, kemerdekaan belum selalu berarti rasa aman, lingkungan sehat, dan kebebasan mempertahankan ruang hidup. Di Kampung Sepaku Lama, Kalimantan Timur, masyarakat adat Balik menghadapi perubahan akibat pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Proyek Intake Sepaku disebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/">Dari IKN hingga Rempang, Warga Tagih Makna Kemerdekaan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun. Namun, bagi masyarakat adat dan warga yang hidup di sekitar proyek pembangunan berskala besar, kemerdekaan belum selalu berarti rasa aman, lingkungan sehat, dan kebebasan mempertahankan ruang hidup. Di Kampung Sepaku Lama, Kalimantan Timur, masyarakat adat Balik menghadapi perubahan akibat pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Proyek Intake Sepaku disebut mempersulit warga mengakses air sungai. Ketika musim hujan, mereka menghadapi banjir, sedangkan kemarau panjang memicu krisis air. Situasi serupa berlangsung di Lelilef Sawai, Halmahera Tengah. Sebelum industri pengolahan nikel berkembang, masyarakat menggantungkan hidup pada kebun, hutan, dan laut. Ekspansi industri memang membawa pekerjaan dan aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus mempersempit ruang hidup sebagian warga. Bagi Oktaviana Takuling, Ketua Komunitas Fagawene, kemerdekaan tidak cukup diperingati melalui upacara tahunan. “Bukan sekadar pembacaan Proklamasi, melainkan regulasi yang melindungi kepentingan seluruh masyarakat dan kelompok adat,” katanya. Di Kepulauan Aru, masyarakat Marafenfen dan Popjetur juga menghadapi pembatasan akses terhadap wilayah adat. Kehadiran Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut membuat warga khawatir membuka kebun dan mengakses tempat berburu. Rencana investasi peternakan sapi menambah kecemasan bahwa lahan mereka akan semakin dikuasai perusahaan. Tekanan industri juga dirasakan masyarakat Sulawesi Tenggara. Warga di sekitar kawasan pengolahan nikel menghadapi pencemaran air, banjir berlumpur, serta kerusakan tambak dan sawah. Di Desa Lamedai, Kolaka, hasil panen menurun setelah lumpur mengendap di lahan pertanian. Air bersih berubah keruh dan berbau sehingga warga harus membeli air atau mengambilnya dari sumur yang jauh. Sementara itu, masyarakat Rempang masih hidup dalam kekhawatiran kehilangan tanah akibat proyek Rempang Eco City dan pembangunan Sekolah Terintegrasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 22:33:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30223005/image_9470_1-Aquilolamna-milarcae.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132701</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tambang batu kapur Vallecillo, Meksiko, sebuah temuan fosil membuat sejumlah ahli paleontologi kesulitan mengklasifikasikannya. Bentuk tubuhnya tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok hiu mana pun yang pernah dikenal, dan setelah diteliti lebih jauh, spesies yang diberi nama Aquilolamna milarcae ini ternyata memiliki ciri gabungan dari dua kelompok hewan laut yang berbeda. Fosil tersebut pertama kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/">Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tambang batu kapur Vallecillo, Meksiko, sebuah temuan fosil membuat sejumlah ahli paleontologi kesulitan mengklasifikasikannya. Bentuk tubuhnya tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok hiu mana pun yang pernah dikenal, dan setelah diteliti lebih jauh, spesies yang diberi nama Aquilolamna milarcae ini ternyata memiliki ciri gabungan dari dua kelompok hewan laut yang berbeda. Fosil tersebut pertama kali ditemukan oleh pekerja tambang pada 2012, kemudian digali secara hati-hati oleh ahli paleontologi setempat, sebelum akhirnya dideskripsikan secara ilmiah  dalam jurnal Science oleh tim peneliti dari Universitas Rennes dan Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS). Perpaduan Ciri Pari Manta dan Hiu Fosil Aquilolamna milarcae diperkirakan berasal dari pertengahan periode Kapur, sekitar 93 juta tahun lalu, atau lebih tua dari Tyrannosaurus rex. Pada masa itu, permukaan air laut global jauh lebih tinggi dibanding sekarang akibat minimnya lapisan es di kutub, sehingga benua Amerika Utara terbagi menjadi dua daratan besar yang dipisahkan oleh jalur laut luas. Vallecillo, yang kini berupa dataran semi-kering, dulunya merupakan bagian dari dasar laut yang cukup jauh dari garis pantai. Hewan ini memiliki rentang sirip dada mencapai hampir 1,9 meter, sementara panjang tubuhnya dari kepala hingga ekor hanya sekitar 1,6 meter, sehingga tubuhnya lebih lebar daripada panjang. Kepala yang lebar dan sirip dada yang memanjang membuat bagian depan tubuhnya sangat mirip pari manta. Namun bagian belakang tubuhnya bercerita lain. Sirip ekor Aquilolamna milarcae berbentuk khas hiu, dan berdasarkan struktur tulang belakang serta sirip ekor tersebut, tim peneliti mengelompokkan spesies ini ke dalam ordo Lamniformes, kelompok yang juga mencakup hiu pemakan plankton, hiu mako,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebijakan Dekarbonisasi Buka Jalan Langgengkan Industri Fosil?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 11:22:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/16175024/Sungai-Batanghari-Jambi-jadi-jalur-pengangkutan-batubara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132690</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alih-alih mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap fosil, berbagai kebijakan berlabel ‘dekarbonisasi’ makin membuka jalan bagi keberlanjutan industri batubara maupun minyak dan gas (migas).  Skema regulasi, pembiayaan, dan proyek-proyek malah memungkinkan industri fosil tetap bertahan dalam jangka panjang. Kecenderungan itu, tertuang dalam laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)  berjudul Serigala Fosil Berbulu Dekarbonisasi: Regulasi dan Pembiayaan Transisi Energi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/">Kebijakan Dekarbonisasi Buka Jalan Langgengkan Industri Fosil?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alih-alih mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap fosil, berbagai kebijakan berlabel ‘dekarbonisasi’ makin membuka jalan bagi keberlanjutan industri batubara maupun minyak dan gas (migas).  Skema regulasi, pembiayaan, dan proyek-proyek malah memungkinkan industri fosil tetap bertahan dalam jangka panjang. Kecenderungan itu, tertuang dalam laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)  berjudul Serigala Fosil Berbulu Dekarbonisasi: Regulasi dan Pembiayaan Transisi Energi Melanggengkan Dominasi Energi Fosil di Indonesia. Melalui laporan ini, Jatam membongkar bagaimana narasi “dekarbonisasi” dan “solusi palsu” justru menjadi alat untuk memperpanjang umur industri fosil, bukan menghentikannya. Laporan itu menyoroti sejumlah proyek sebagai bagian dari transisi energi, mulai dari  carbon capture and storage, carbon capture, utilization, and storage (CCS, CCUS), co-firing biomassa, hidrogen, amonia, biometana, hingga gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME). Fanny Tri Jambore, peneliti Jatam Nasional mengatakan,  berbagai teknologi itu sebagai strategi dekarbonisasi dalam sejumlah dokumen resmi negara. Namun, arah kebijakan itu tidak untuk mengakhiri ekstraksi energi fosil. “Merujuk pada etimologi, dekarbonisasi memang mekanisme untuk mengurangi jejak emisi karbon,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Mongabay. Idealnya, dekarbonisasi sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil justru bersalin rupa menjadi instrumen mempertahankan batubara, minyak bumi, dan gas dalam jangka panjang. Jatam mencatat, berbagai dokumen seperti rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) 2025–2045, long term strategy for low carbon and climate resilience (LTS-LCCR) 2050. Lalu, second nationally determined contribution (SNDC), Peraturan Pemerintah Nomor 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Kemudian, Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), hingga RUPTL 2025–2034. Secara konsisten, katanya, rencana dan kebijakan itu memasukkan CCS, CCUS, DME, hidrogen, amonia, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sekilas Mirip, Apa Perbedaan Musang Air dan Berang-berang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 10:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011123/Berang-berang-cakar-kecil-yang-berhasil-ditemukan-oleh-tim-Asta-Indonesia-di-segmen-4-sungai-Ciliwung-Depok.-Foto_-Dokumentasi-Averroes-Oktaliza--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132583</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Musang air dan berang-berang sering dianggap sebagai satwa yang sama. Keduanya hidup di sekitar perairan, pandai berenang, serta memiliki bentuk tubuh yang sekilas serupa. Namun, musang air sebenarnya bukan anggota keluarga berang-berang. Musang air bernama ilmiah Cynogale bennettii. Satwa yang juga dikenal sebagai otter civet ini termasuk keluarga musang atau Viverridae. Sementara itu, berang-berang merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/">Sekilas Mirip, Apa Perbedaan Musang Air dan Berang-berang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Musang air dan berang-berang sering dianggap sebagai satwa yang sama. Keduanya hidup di sekitar perairan, pandai berenang, serta memiliki bentuk tubuh yang sekilas serupa. Namun, musang air sebenarnya bukan anggota keluarga berang-berang. Musang air bernama ilmiah Cynogale bennettii. Satwa yang juga dikenal sebagai otter civet ini termasuk keluarga musang atau Viverridae. Sementara itu, berang-berang merupakan anggota keluarga Lutrinae. Musang air tersebar dari Malaysia, Sumatera, Kalimantan, hingga Thailand Selatan. Keberadaannya sangat sulit ditemukan. Bukti foto satwa ini pernah diperoleh pada 2009 di hutan rawa gambut Sebangau dan pada 2023 di Bentang Alam Rungan Kahayan. Peneliti IPB University kemudian berhasil merekam musang air menggunakan kamera jebak dan pesawat nirawak atau drone. “Teknologi mempermudah proses deteksi dan pemantauan satwa yang sebelumnya sulit dilakukan melalui pengamatan lapangan secara langsung mengandalkan deteksi mata manusia. Satwa-satwa seperti ini memiliki morfologi tersamarkan di habitatnya dan cenderung pemalu dan sensitif terhadap keberadaan manusia,” ungkap Dede Aulia Rahman, pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), dikutip dari laman IPB University, Selasa (24/6/25). Berbeda dari musang lain yang umumnya hidup di daratan atau pepohonan, musang air mampu hidup di darat dan perairan. Kakinya memiliki selaput sebagian, sedangkan moncongnya lebar dan dilengkapi kumis sensorik panjang. Ciri fisik tersebut membuatnya terlihat mirip dengan berang-berang. Kemiripan itu terbentuk karena keduanya beradaptasi dengan lingkungan perairan. Musang air merupakan perenang dan penyelam yang andal. Satwa nokturnal ini mencari makanan di sungai, rawa, dan hutan yang tergenang air. Musang air juga dapat memanjat serta kemungkinan menggunakan rongga pohon sebagai tempat bersarang. Satwa ini cenderung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Karhutla Riau Jerat Puluhan Tersangka Perorangan,  Bagaimana Perusahaan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 04:01:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30011416/Karhutla-Gakum-KLH--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132671</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka kebakaran hutan dan lahan seluas 904 hektar sepanjang 2026. Dari jumlah itu, semua tersangka perorangan, tak ada perusahaan. Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, mengatakan,  pengungkapan kasus terus mereka lakukan seiring masih ada titik panas di sejumlah wilayah Riau. &#8220;Penyidikan tidak berhenti hanya pada siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/">Kasus Karhutla Riau Jerat Puluhan Tersangka Perorangan,  Bagaimana Perusahaan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka kebakaran hutan dan lahan seluas 904 hektar sepanjang 2026. Dari jumlah itu, semua tersangka perorangan, tak ada perusahaan. Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, mengatakan,  pengungkapan kasus terus mereka lakukan seiring masih ada titik panas di sejumlah wilayah Riau. &#8220;Penyidikan tidak berhenti hanya pada siapa yang berada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Kami mengonstruksikan setiap perkara secara menyeluruh untuk memastikan bagaimana api bermula, apa motifnya, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah terdapat pihak lain yang berkaitan dengan peristiwa itu,&#8221; katanya seperti dikutip dari CNN Indonesia. Proses hukum, katanya, mereka lakukan dengan pendekatan scientific criminal investigation. Penyidik mendasarkan penyelidikan dan penyidikan pada fakta serta alat bukti untuk mengurai unsur perbuatan melawan hukum maupun unsur kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. &nbsp; Bekas karhutla di konsesi PT SPM. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia Temuan karhutla di konsesi Sedangkan temuan Walhi Riau, sekitar Mei lalu, sedikitnya karhutla terjadi pada empat konsesi perusahaan di Riau. Antara lain, di Bengkalis, PT Sekato Pratama Makmur (SPM) dan PT Meskom Agro Sarimas (MAS). Kemudian PT Arara Abadi (AA), Pelalawan; serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Siak. Penghujung Juli lalu, Eko Yunanda, Direktur Eksekutif Walhi Riau menyerahkan hasil temuan dan kajian mereka terhadap empat perusahaan itu pada kepolisian. Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Riau, menerimanya langsung. Mongabay, mengirim surat permintaan tanggapan melalui WhatsApp, 21 Agustus 2026 tetapi tak ada respon. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), membenarkan temuan itu, setelah Mongabay konfirmasi. “Berdasarkan pemantauan titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 02:26:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30022604/Cretoxyrhina_mantelli_21DB_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132677</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/">Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun barat Mesir. Sebuah studi paleontologi terbaru mengungkap bahwa dataran tinggi yang kini tandus di gurun barat Mesir dahulu merupakan bagian dari laut dangkal yang menjadi rumah bagi setidaknya tujuh spesies hiu purba. Temuan ini berasal dari analisis gigi-gigi fosil yang dikumpulkan di Dataran Tinggi Abu-Tartur, sekitar 650 kilometer barat daya Kairo, dan dipublikasikan dalam jurnal Cretaceous Research oleh tim yang dipimpin ahli paleontologi Tarek Yassin dari Universitas Kairo. Analisis 14 Gigi Fosil Ungkap Lima Spesies Baru Yassin dan rekannya Alhussein Ibrahim mengumpulkan 14 gigi hiu dari lapisan fosfat hitam dan kuning di sektor Maghrabi-Liffiya, bagian dari Formasi Duwi yang berumur Kapur Akhir. Gigi-gigi tersebut memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari yang ramping dan memanjang hingga yang melengkung tajam dan bergerigi, menunjukkan perbedaan strategi makan di antara spesies yang pernah hidup berdampingan di perairan itu. Gigi-gigi fosil yang menjadi bukti utama studi ini: sebagian mewakili lima spesies hiu yang baru tercatat di Abu-Tartur, termasuk dua yang merupakan catatan pertama untuk Mesir. Kredit: Cretaceous Research (2026). DOI: 10.1016/j.cretres.2026.106476 Setelah membandingkan bentuk dan anatomi gigi dengan deskripsi ilmiah yang sudah dipublikasikan serta spesimen pembanding di koleksi museum Swiss, tim mengidentifikasi lima spesies yang belum pernah tercatat di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Emas Ilegal Sumatera Barat Menembus Pasar Internasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 02:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/23151028/Jumpa-pers-perdagangan-emas-ilegal-di-Polda-Sumbar-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132570</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, Pertambangan, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penangkapan seorang warga India berinisial A membuka dugaan jaringan perdagangan emas ilegal dari Sumatera Barat hingga ke luar negeri. Polda Sumatera Barat menangkap A pada 20 Agustus 2026 dan menyita tiga batang emas murni di Koto Baru. Polisi juga mengamankan dua telepon seluler, timbangan digital, uang tunai sekitar Rp6 juta, dan satu mobil. Emas tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/">Jalan Emas Ilegal Sumatera Barat Menembus Pasar Internasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penangkapan seorang warga India berinisial A membuka dugaan jaringan perdagangan emas ilegal dari Sumatera Barat hingga ke luar negeri. Polda Sumatera Barat menangkap A pada 20 Agustus 2026 dan menyita tiga batang emas murni di Koto Baru. Polisi juga mengamankan dua telepon seluler, timbangan digital, uang tunai sekitar Rp6 juta, dan satu mobil. Emas tersebut diduga berasal dari pertambangan emas tanpa izin atau PETI di Kabupaten Sijunjung dan Garabak Data, Kabupaten Solok. Penyidik menduga emas yang dikumpulkan A dikirim ke Malaysia melalui jaringan kurir. A mengaku tidak mengenal kurir yang mengambil barang. Ia hanya menerima informasi dari seseorang berinisial N setelah emas pesanan terkumpul. Dalam prosesnya, N disebut mengerahkan dua hingga tiga kurir yang tidak saling mengenal. A diduga menjalankan bisnis tersebut sejak Maret–April 2026. Pada periode itu, ia membeli emas urai rata-rata sekitar 40 gram per hari. Aktivitas tersebut kembali berlangsung sejak Juli, tetapi emas yang dibeli sudah berbentuk batangan dengan rata-rata mencapai satu kilogram per hari. Tommy Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat, menilai penangkapan A membuktikan bahwa emas ilegal dari provinsi itu tidak hanya beredar di pasar lokal. Kepolisian perlu membongkar pihak yang terlibat dari lokasi tambang hingga pembeli akhir. “Jangan hanya menindak pelaku di tingkat tapak,” katanya. Menurut Walhi, PETI di Sumatera Barat telah berkembang menjadi kegiatan terstruktur yang melibatkan alat berat, mesin dompeng, modal besar, dan penggunaan merkuri. Aktivitas tersebut diperkirakan telah membuka sekitar 1.100 hektar kawasan hutan. Lebih dari 50 orang juga dilaporkan meninggal akibat tambang emas ilegal sepanjang 2012 hingga Mei 2026. Riset&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kawasan Konservasi Teluk Moramo, Habitat Penting Napoleon Dalam Ancaman Tambang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 01:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27145647/2.-Aktivitas-tambang-batu-gamping-berbatasan-langsung-dengan-KKD-Teluk-Moramo-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132461</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, pencemaran, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekas bukaan tambang batu gamping pada gugusan perbukitan tampak dari permukiman di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di sekitar dermaga desa, air laut keruh berwarna cokelat kemerahan. Teluk Moramo, kawasan konservasi perairan yang jadi rumah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), salah satu spesies dilindungi, itu pun tercemar. “Di daerah tercema&#8230; ikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/">Kawasan Konservasi Teluk Moramo, Habitat Penting Napoleon Dalam Ancaman Tambang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekas bukaan tambang batu gamping pada gugusan perbukitan tampak dari permukiman di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di sekitar dermaga desa, air laut keruh berwarna cokelat kemerahan. Teluk Moramo, kawasan konservasi perairan yang jadi rumah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), salah satu spesies dilindungi, itu pun tercemar. “Di daerah tercema&#8230; ikan ini pasti hilang. Ia akan pergi jauh ke kedalaman. Ikan itu punya feeling,” kata Sasanti Retno Suharti, peneliti ekologi ikan terumbu karang, Sabtu (1/8/26). Hilangnya napoleon akan berdampak pada keseimbangan ekosistem terumbu karang. Sebab, napoleon sebagai puncak rantai makanan dan predator utama bintang laut berduri atau bulu seribu (Acanthaster planci) pemakan terumbu karang. “Role-nya menjaga kestabilan ekosistem terumbu karang untuk tetap sehat. Jika dia tidak ada, akhirnya bulu seribu merajai atau memakan karang. Rusaklah ekosistemnya,” kata Sasanti yang juga meneliti napoleon sejak 2006. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat napoleon berasal dari famili Labridae dengan ukuran maksimum lebih dari dua meter dan berat 190 kilogram. Usia betina dapat mencapai 32 tahun dan umur lebih panjang dari jantan. Pertumbuhannya sangat lambat atau sekitar tiga inci dalam lima bulan. Reproduksinya juga rendah dengan kematangan seksual (gonad) di usia 5–7 tahun. “Ia tidak seperti ikan-ikan lain. Ia matang gonadnya aja tujuh tahun, sedangkan ikan-ikan karang lainnya satu tahun,” tambah Sasanti. Ikan napoleon semakin jarang terlihat di habitat terumbu karang TN Wakatobi. Foto: Riza Salman/Mongabay Indonesia Napoleon muda (juvenil) berwarna putih dengan garis sisik gelap dan hitam di dekat mata, tetapi berubah biru kehijauan atau keunguan ketika dewasa. Bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 00:11:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30000451/Hana-Fitri-27-dan-Yustika-51-mencuci-pakaian-dan-beras-di-salah-satu-kolam-yang-tersisa-di-sekitar-Desa-Zed-Kabupaten-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132663</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Lahan Basah, pencemaran, Pertambangan, sawit, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. “Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/">Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. “Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. Masih bertahan, mungkin karena ada mata airnya,” kata Mang Yan, Minggu (22/8/26). Setiap tahun, warga Desa Zed membuka pintu bagi keluarga dan kerabat dari luar daerah. Warga desa mulai sibuk memasak ketupat, serta menyiapkan beragam kue, mirip lebaran. Tak jarang, jalan raya Desa Zed dipenuhi kendaraan dari pagi hingga malam. Ini dilakukan untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Yustika mengatakan, warga khawatir menyambut maulid tahun ini. Sebab, sebagian besar  mereka kesulitan air. “Sumur-sumur mulai kering, air sungai menyusut,” jelasnya. Warga Desa Zed bergantung pada air yang disalurkan melalui pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Namun, sejak dua minggu terakhir, air tersebut tidak mengalir merata ke seluruh rumah. Dalam sehari, hanya seratusan kepala keluarga yang mendapat jatah. “Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” kata Hana Fitri, tetangga Yustika. Hana Fitri dan Yustika mencuci pakaian dan beras di kolam air tersisa di sekitar Desa Zed, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Tidak hanya di Desa Zed, hal serupa terjadi di sejumlah desa tetangga mereka. Seperti Desa Puding Besar, Desa Paya Benua, dan Desa Kemuja. Di sepanjang jalan menuju Kota Pangkalpinang, Mongabay Indonesia beberapa kali melihat warga mandi di sejumlah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Perempuan dan Generasi Muda Dadap di Tengah Kerusakan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 18:33:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29183137/Dadap-Azam-15555-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132610</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Tangan Ida, cekatan mengupas kerang hijau pagi itu. Perempuan pesisir Dadap, Tangerang, Banten ini memisahkan daging kerang dari cangkangnya lalu memasukkan ke kantong. Sehari Ida bisa “ngopek kerang” 12–15 kilogram dengan upah Rp4.000 untuk sekilogram kerang. Dalam sehari, perempuan dua anak itu hasilkan uang Rp50.000–Rp60.000. “Dari dulu orang Dadap ngopek kerang. Kalo banyak kerangnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Upaya Perempuan dan Generasi Muda Dadap di Tengah Kerusakan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Tangan Ida, cekatan mengupas kerang hijau pagi itu. Perempuan pesisir Dadap, Tangerang, Banten ini memisahkan daging kerang dari cangkangnya lalu memasukkan ke kantong. Sehari Ida bisa “ngopek kerang” 12–15 kilogram dengan upah Rp4.000 untuk sekilogram kerang. Dalam sehari, perempuan dua anak itu hasilkan uang Rp50.000–Rp60.000. “Dari dulu orang Dadap ngopek kerang. Kalo banyak kerangnya hasilnya lebih besar lagi,” katanya saat ditemui Mongabay Indonesia medio Juli 2026. Sepanjang perjalanan mengitari Kampung Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten, aktivitas “ngopek kerang” jadi rutinitas perempuan. Pagi hingga sore mereka sibuk mengupas kerang berkarung-karung. Para lelaki memanen kerang dan merebus hingga matang, juga memasang dan merawat keramba jaring. Perahu-perahu nelayan di Pesisir Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: Achmad R Azam/Mongabay Indonesia Dulu nelayan tangkap di laut, kini buruh keramba Dadap sebagai penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Mereka budidaya kerang hijau dengan metode keramba jaring apung, terbuat dari jeriken-jeriken plastik terikat mengitari perairan. Mayoritas keramba apung punya orang luar sebagai pemodal. Nelayan Dadap hanya menjadi buruh kupas dan mengurus budidaya itu. Bikin keramba perlu modal besar, itu juga alasan nelayan lokal tak memiliki keramba kerang sendiri. Investasi awal untuk budidaya kerang hijau mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dulu, nelayan Dadap mencari kerang hijau di alam tanpa harus budidaya. Seiring perubahan lanskap pesisir dan Teluk Jakarta, nelayan kini kesulitan mencari kerang di alam. Rico saputra, nelayan Dadap, mengatakan,  pembangunan di pesisir, termasuk reklamasi Teluk Jakarta merusak ekosistem laut. Aktivitas itu membuat laut jadi dangkal dan air tercemar. Hutan mangrove, rumah bagi biota laut termasuk kerang hijau,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan Tokek di Alam Liar?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/03/22014557/Tokek-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132537</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tokek rumah (Gekko gecko) diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah marketplace Indonesia. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, seorang penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Stok yang dicantumkan mencapai 493 ekor dan beberapa di antaranya telah terjual. Penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, seperti meningkatkan stamina, mengatasi asma, dan membantu mengobati kanker. Namun, tidak ada penjelasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/">Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan Tokek di Alam Liar?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tokek rumah (Gekko gecko) diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah marketplace Indonesia. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, seorang penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Stok yang dicantumkan mencapai 493 ekor dan beberapa di antaranya telah terjual. Penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, seperti meningkatkan stamina, mengatasi asma, dan membantu mengobati kanker. Namun, tidak ada penjelasan yang memastikan apakah tokek tersebut berasal dari penangkaran atau ditangkap langsung dari alam. Perdagangan tokek mulai mendapat perhatian lebih besar setelah reptil ini masuk Appendix II CITES pada 2019. Status tersebut bukan berarti tokek telah terancam punah. Dalam Daftar Merah IUCN, tokek rumah masih berstatus Risiko Rendah atau Least Concern. Meski demikian, perdagangan internasionalnya harus diatur agar legal, dapat ditelusuri asal-usulnya, dan tidak mengancam populasi liar. Indonesia juga wajib menyusun Non-Detriment Finding atau NDF, yakni kajian ilmiah untuk memastikan pemanfaatan tokek tidak membahayakan kelestarian spesies. Menurut Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, penentuan jumlah tokek yang boleh dimanfaatkan harus didahului survei populasi. Peneliti perlu mengetahui jumlah, persebaran, dan kemampuan berkembang biaknya. Pada 2026, pemerintah menetapkan kuota pengambilan tokek rumah dari alam sebanyak 2.509.362 ekor. Sebanyak 2.487.750 ekor dialokasikan untuk konsumsi dalam bentuk tokek kering, sedangkan 21.612 ekor diperuntukkan bagi perdagangan sebagai satwa hidup atau peliharaan. Jawa Timur memperoleh kuota konsumsi terbesar, yakni 480.000 ekor. Provinsi ini juga mendapat kuota tertinggi untuk perdagangan tokek hidup sebanyak 5.035 ekor. Selain jumlah, pemerintah mengatur ukuran tokek yang boleh ditangkap. Untuk kebutuhan konsumsi, panjang tubuh dari moncong hingga kloaka minimal 15 sentimeter, dengan lebar dada sedikitnya 13&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Batubara NU Bisa Perburuk Nasib Masyarakat Dayak Basap dan Picu Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 09:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29065641/WhatsApp-Image-2026-07-26-at-10.53.27-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132595</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masri, Masyarakat Adat Dayak Basap tengah asyik menyeruput air rebusan akar-akar tumbuhan dari gelasnya yang mengepul, suatu siang di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kalimantan Timur (Kaltim). Panas terik tidak menyurutkan tradisinya itu, apalagi, Panding, sang istri, yang membuatkannya. Pria lanjut usia ini percaya, rutin minum rebusan akan membuat stamina tubuh  tak mudah loyo. Terbukti, pria [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/">Tambang Batubara NU Bisa Perburuk Nasib Masyarakat Dayak Basap dan Picu Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masri, Masyarakat Adat Dayak Basap tengah asyik menyeruput air rebusan akar-akar tumbuhan dari gelasnya yang mengepul, suatu siang di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kalimantan Timur (Kaltim). Panas terik tidak menyurutkan tradisinya itu, apalagi, Panding, sang istri, yang membuatkannya. Pria lanjut usia ini percaya, rutin minum rebusan akan membuat stamina tubuh  tak mudah loyo. Terbukti, pria itu masih sehat di usia yang menginjak 113 tahun. Hanya daya dengar saja yang menurun. Tidak hanya Masri, mayoritas warga di sana  biasa menggunakan akar-akar pohon sebagai obat demam, flu, hingga sesak napas. Kini, akar-akar pepohonan obat itu kini sulit mereka dapatkan di sekitar rumah. Pasalnya, wilayah itu sudah terkepung tambang. Masri bilang, harus jauh ke dalam hutan untuk menemukan akar jenis pohon tertentu. “Kita ini di tengah-tengah perusahaan sudah,” katanya, 19 Februari. Siang itu, kami melihat truk-truk tambang batubara hilir mudik, menyebabkan debu beterbangan sepanjang jalan. Kendaraan tonase besar itu lebih sering terlihat ketimbang warga, meskipun data kecamatan mencatat populasi penduduk ada 256 jiwa. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukan sejumlah perusahaan tambang ada di Tebangan Lembak, antara lain PT Rahmat family Group, PT Perkasa Inakakerta, PT Kobexindo Limestone, PT Bengalon Limestone, PT Tawabu Mineral Resource (TMR), PT Damanka Prima, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Selaju Nusantara Bersama, dan terbaru PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMNU). Lahan yang tereksploitasi pertambangan mencapai 14.187,74 hektar dari luas Desa Tebangan Lembak 37.000 hektar. Peta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menunjukkan rumah Panding dan Masri tumpang tindih dengan konsesi BUMNU, perusahaan ormas keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 02:42:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29023820/Bull-headed_Dung_Beetle_imported_from_iNaturalist_photo_308636278_on_6_August_2024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132584</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/">Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, ternyata tidak dipegang oleh semut, melainkan oleh kumbang. Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B menemukan bahwa kumbang kotoran memiliki rasio kekuatan yang jauh melampaui semua serangga lain yang pernah diuji, termasuk kumbang badak yang sebelumnya dianggap sebagai pemegang rekor. Penelitian ini mengukur kekuatan tarik beberapa jenis kumbang menggunakan alat uji sederhana yang dipasang di dalam terowongan buatan, menyerupai kondisi pertarungan yang sesungguhnya terjadi di alam liar. Studi yang sama juga menemukan bahwa kekuatan kumbang sangat dipengaruhi oleh kualitas makanan yang mereka konsumsi sejak masa larva, sehingga kumbang dengan asupan gizi buruk cenderung memiliki kekuatan tarik yang jauh lebih rendah meski berasal dari spesies yang sama. Kumbang Kotoran, Pemegang Rekor Kekuatan Kumbang kotoran jantan dari spesies Onthophagus taurus tercatat sebagai serangga dengan rasio kekuatan tertinggi yang pernah diukur secara ilmiah. Dalam eksperimen yang dilakukan Robert Knell dari Queen Mary University of London bersama Leigh Simmons dari University of Western Australia, kumbang ini mampu menarik beban hingga 1.141 kali berat tubuhnya sendiri. Sebagai perbandingan, kekuatan itu setara dengan seorang manusia dewasa seberat 70 kilogram yang mampu menarik beban seberat 80 ton, atau setara enam bus tingkat penuh penumpang. Kumbang kotoran jantan Onthophagus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 02:07:35 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015329/Semut-zombie-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=132582</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/">Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang untuk menguasai lingkungan. Adaptasi yang mengagumkan dan peran ekologis yang vital secara perlahan memperlihatkan bagaimana makhluk mungil ini tumbuh menjadi raksasa sejati di skala dunia kecil. The post Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Niño Godzilla dan Ancaman Kekeringan di Dataran Tinggi Dieng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 00:45:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25154215/Telaga3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132415</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi. Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/">El Niño Godzilla dan Ancaman Kekeringan di Dataran Tinggi Dieng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi. Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa Karangtengah, Butuh, dan Bakal. Setiap hari, ribuan liter air dipompa menuju lahan pertanian di kawasan Dataran Tinggi Dieng, terutama kebun kentang. Zaenuri, petani asal Karangtengah, telah menyedot air dari telaga selama dua bulan. Untuk mengairi lahan kentang seluas sekitar 2.500 meter persegi, dia membutuhkan tujuh liter pertalite setiap hari. “Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” katanya. Petani lain juga menghadapi persoalan serupa. Mereka harus mengoperasikan mesin pompa dan mengalirkan air hingga sejauh satu kilometer. Biaya bahan bakar membuat ongkos produksi meningkat dibandingkan musim hujan. Namun, penyiraman tidak dapat dihentikan karena tanaman kentang memerlukan pasokan air berkala agar produktivitasnya tidak menurun. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis. Puncak kemarau terjadi pada Agustus, sedangkan durasinya diperkirakan berlangsung sekitar lima hingga tujuh bulan sejak Mei atau Juni. “Artinya, kemarau tahun ini diperkirakan bisa terjadi hingga Oktober–November mendatang.” Petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam, menggunakan varietas tahan kering, dan memprioritaskan pengelolaan cadangan air. Langkah tersebut penting karena penurunan debit Telaga Merdada diperkirakan terus berlangsung apabila hujan belum turun dalam beberapa bulan mendatang. Selain menghadapi tekanan akibat kemarau, Telaga Merdada juga terancam aktivitas pertanian intensif di kawasan sekitarnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 15:02:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145823/Anggota-Manggala-Agni-wilayah-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel-tengah-memadamkan-api-di-lahan-gambut-terbakar-di-Desa-Babatan-Saudagar-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132573</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/">Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Minggu (23/8/26). Masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan dalam memanfaatkan atau mengelola lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan, saat ini mulai memahaminya. Mereka tidak hanya mengelola lahan mineral, juga gambut. Pengetahuan ini mereka dapatkan dari aktivitas perusahaan yang memanfaatkan gambut, seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). “Berdasarkan pemantauan saya di beberapa desa atau dusun di Sumatera Selatan yang wilayahnya terdapat gambut, sebagian besar masyarakat sudah memanfaatkan lahan ini untuk berkebun sawit. Luasannya mulai setengah hektar hingga puluhan hektar. Gambut bukan lagi dipahami sebagai hutan,” jelas Yulion, yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian restorasi gambut di Sumatera Selatan. Kebakaran lahan gambut di Desa Babatan Saudagar, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, awal Agustus 2026. Foto: Ahmad Rizki Prabu/Mongabay Indonesia. Kedua, pengetahuan atau teknologi mengelola lahan mineral dan lahan gambut yang baik, tidak terlihat. Membakar lahan tetap dipahami sebagai tindakan terbaik dalam mengelola lahan. Cepat dan murah. Bahkan, bukan hanya lahan gambut yang mereka olah menjadi perkebunan. Rawa dan mangrove turut diubah menjadi perkebunan. Pengeringan lahan dengan cara membangun kanal sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat desa. Dua hal ini yang menyebabkan lahan mineral dan lahan gambut terus mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>