<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=donny-iqbal&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/donny-iqbal/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 09:58:04 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 09:57:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18095126/pexels-pyae-phyo-aung-2155057942-34078646-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127975</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/">Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang hampir bersamaan. Akibatnya, ini bukan sekadar gagal panen di satu sudut dunia, melainkan sebuah krisis pangan global yang tersinkronisasi, yang berujung pada kematian antara 30 hingga 60 juta jiwa dalam kurun waktu kurang dari empat tahun. Para ilmuwan kini menyebut peristiwa ini sebagai salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah. Rekonstruksi iklim menggunakan data dari terumbu karang dan cincin pertumbuhan pohon menunjukkan bahwa intensitas El Niño 1877-1878 setara dengan dua peristiwa El Niño paling kuat di era modern, yaitu 1997/98 dan 2015/16. Namun ada satu perbedaan mendasar: dunia pada 1877 tidak memiliki sistem peringatan dini, tidak ada jaringan bantuan internasional yang terorganisasi, dan bahkan tidak ada pemahaman ilmiah yang memadai tentang apa yang sedang terjadi. Pemerintah-pemerintah di berbagai belahan dunia bereaksi terlambat, sering kali dengan kebijakan yang justru memperburuk keadaan. Hasilnya adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah dicatat oleh sejarah, dan ironisnya, salah satu yang paling jarang dibahas. Mengapa El Niño 1877 Begitu Dahsyat? El Niño adalah bagian dari siklus iklim yang disebut El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Dalam kondisi normal, angin pasat di Samudra Pasifik bertiup dari timur ke barat, mendorong air hangat ke arah Asia dan Australia, sementara wilayah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kematian Gajah dan Harimau, Amankah Koridor Satwa di Bentang Alam Seblat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 08:30:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18064833/Gajah-Seblat2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127950</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang Alam Seblat resmi menyandang status Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), akhir 2017 lalu. Koridor ini diharapkan dapat menjamin kehidupan gajah sumatera serta satwa lainnya, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) –yang berada di luar kawasan konservasi. “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/">Kematian Gajah dan Harimau, Amankah Koridor Satwa di Bentang Alam Seblat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang Alam Seblat resmi menyandang status Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), akhir 2017 lalu. Koridor ini diharapkan dapat menjamin kehidupan gajah sumatera serta satwa lainnya, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) –yang berada di luar kawasan konservasi. “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. Ini tanggung jawab kita semua untuk menjaganya,” kata Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, saat mengunjungi Bengkulu pada akhir Desember 2025 lalu. Ironisnya, kematian gajah dan harimau di Bentang Alam Seblat terus berulang. Berdasarkan data Koalisi Selamatkan Bentang Seblat, sejak KEE diresmikan, sekitar tujuh ekor gajah sumatera dan satu ekor harimau sumatera ditemukan mati. Kasus matinya gajah ini, termasuk yang terbaru induk betina dan anak serta satu harimau sumatera (jantan, umur dua tahun)– yang dilaporkan pada Kamis (30/4/2026). “Itu baru yang terekam, jumlah sesungguhnya sangat mungkin lebih besar, mengingat keterbatasan pemantauan di lapangan,” tulis Koalisi Bentang Alam Seblat dalam rilisnya, Jumat (1/5/2026). Koalisi ini terdiri Kanopi Hijau Indonesia, Auriga Nusantara, Genesis Bengkulu, Lingkar Inisiatif Indonesia, dan Save Gajah Seblat. Bentang Alam Seblat merupakan habitat alami gajah sumatera. Foto: Instagram#savegajahseblat Iswadi, Ketua Lingkar Inisiatif Indonesia menambahkan, untuk kematian harimau, yang ditemukan secara lansung memang satu individu. “Tetapi indikasi harimau mati terkena jerat pemburu setidaknya ada 5 kematian,” jelasnya kepada Mongabay Indonesia, Senin (18/5/2026). Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa harimau sudah mati sejak 5–6 hari sebelum ditemukan. Sementara, dua gajah sudah mengalami pembusukan lanjut, dan diperkirakan sudah mati 8–10 hari. Iding Achmad Haidir, Ketua Forum HarimauKita (FHK),&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Saatnya Memperkuat Tata Kelola Perkotaan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 07:10:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233812/PEMBUDIDAYA-KERANG-KELUHKAN-PENCEMARAN-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127923</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusat Kajian Perkotaan Pesisir baru  terbentuk April lalu atas kerjasama Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jawa Tengah (Jateng) dengan Rujak Center for Urban Studies.  Pusat kajian ini sebagai respons atas kompleksitas masalah di wilayah perkotaan pesisir di tengah berbagai tekanan termasuk kerusakan lingkungan maupun  ancaman krisis iklim. “Pendirian Pusat Kajian Perkotaan Pesisir ini mempunyai dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/">Saatnya Memperkuat Tata Kelola Perkotaan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusat Kajian Perkotaan Pesisir baru  terbentuk April lalu atas kerjasama Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jawa Tengah (Jateng) dengan Rujak Center for Urban Studies.  Pusat kajian ini sebagai respons atas kompleksitas masalah di wilayah perkotaan pesisir di tengah berbagai tekanan termasuk kerusakan lingkungan maupun  ancaman krisis iklim. “Pendirian Pusat Kajian Perkotaan Pesisir ini mempunyai dua sisi strategis: penanganan masalah ekologis dan meningkatkan gerak ekonomi berbasis ekonomi dan budaya pesisir,” kata Sudirman Said, Rektor UHN dalam sambutan saat peluncuran, akhir April. PKPP, katanya,  akan menjadi hub antar pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, dan praktisi dari masyarakat. Dia berharap, hasil riset dari PKPP  dapat menjadi basis kebijakan, sekaligus solusi kontekstual, terukur yang dapat terreplikasi di daerah lain. Menteri ESDM era  Presiden Joko Widodo itu mengatakan, sebagai kawasan yang terus berkembang, pesisir kian hadapi tantangan di tengah perubahan iklim saat ini. PKPP, katanya, hadir sebagai upaya membangun kontribusi relevan dan berdampak dalam menghadapi tantangan itu. Mulai dari perubahan cuaca sampai perencanaan tata kota. “Kota Tegal sebagai kota sekunder di Indonesia  juga kota pesisir dijadikan pusat riset yang dapat menjadi pembelajaran bagi kota-kota di Indonesia,  juga kota kota pesisir di dunia,” kata Sudirman. Agus Dwi Sulistyantono, Sekda Kota Tegal menyambut baik kolaborasi UHN-Rujak Center atas pendirian PKPP ini. Dia meyakini, kebijakan pemerintah akan makin optimal jika berkolaborasi dengan ilmu pengetahuan melalui institusi pendidikan serta pelibatan masyarakat. Sudirman Said, Rektor UHN (kemeja merah), Elisa Sutanudjaja (tengah), Marco Kusumawijaya (empat dari kiri), Raimundus Nggajo, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kearifan Masyarakat Adat Boti Berdaulat Pangan Sekaligus Jaga Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 06:59:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17044414/FOTO-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lahan kapur dan kemarau panjang tak mematahkan semangat Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak kehilangan cara untuk memenuhi pangannya sendiri. Tangan Seo Neolaka bergerak gesit mematahkan pen meto atau jagung-jagung kering di ladang lalu memasukkan ke dalam sau, bakul anyaman lontar di hadapannya.  Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/">Kearifan Masyarakat Adat Boti Berdaulat Pangan Sekaligus Jaga Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lahan kapur dan kemarau panjang tak mematahkan semangat Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak kehilangan cara untuk memenuhi pangannya sendiri. Tangan Seo Neolaka bergerak gesit mematahkan pen meto atau jagung-jagung kering di ladang lalu memasukkan ke dalam sau, bakul anyaman lontar di hadapannya.  Di antara sulur ubi jalar, gadung, singkong, bersama perempuan Boti lain, Seo juga memanen sorgum, kacang tunis dan sayur-sayuran. Setelah hasil panen terkumpul, mereka akan menyimpannya dalam ume kbubu, lumbung tradisional Masyarakat Boti.  “Kalau jagung kurang, masih ada sorgum, ubi, labu, pisang, atau kacang. Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo ditemui sehabis berkebun, April lalu. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  NTT menyebutkan, El Nino tahun ini bisa menjadi ancaman iklim bagi pertanian di provinsi itu. Mulai dari krisis air, gangguan kalender tanam, penurunan produksi padi dan jagung, dan meningkatnya hama tanaman. Meski begitu, masyarakat Boti tak terlalu khawatir karena wilayah mereka memiliki tutupan lahan lebih baik daripada wilayah lain.  “Karena alam di sekitar tempat ini dijaga, sejak dulu sampai sekarang kami tidak alami kesusahan makanan,” kata Raja (Usif) Boti, Nama Benu saat berbincang di pondok kebun, April lalu. Seo Neolaka sedang memanen sisa-sisa jagung yang sudah mengering. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia Satu hamparan ladang masyarakat Boti menanam beragam jenis tanaman. Mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Ubi jalar, singkong dan gadung berada di antara pohon-pohon seperti kemiri, asam, pisang dan lain-lain.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Malaria Merebak dan Lingkungan Rusak Ketika Tambang Emas Ilegal  Marak di Pohuwato</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 01:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/12111310/DJI_0644-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127704</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pertambangan emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya mengubah lanskap, memicu petani gagal panen hingga hilangnya tutupan hutan. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kehidupan yang tak stabil. Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/">Malaria Merebak dan Lingkungan Rusak Ketika Tambang Emas Ilegal  Marak di Pohuwato</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pertambangan emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya mengubah lanskap, memicu petani gagal panen hingga hilangnya tutupan hutan. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kehidupan yang tak stabil. Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan debu menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi seperti itu, membuat malaria tidak lagi sekadar penyakit tropis, tetapi cermin dari kerusakan lingkungan lebih luas di Pohuwato. Iswanto Doda masih ingat malam ketika demam itu tiba-tiba datang seperti badai kecil. Tubuhnya menggigil, lalu panas tinggi menyergap tanpa peringatan. Semula dia mengira hanya kelelahan setelah bekerja.  Ketika demam tak kunjung mereda disertai nyeri di kepala, dia mulai curiga ada sesuatu yang lebih serius. Akhirnya dia dilarikan dari  rumahnya di Pohuwato Timur, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, ke Puskesmas Marisa. Dia terkena malaria. “Saat di Puskesmas, saya langsung ditanya apakah saya penambang atau bukan. Saya menjawab bahwa saya pekerja swasta dan tidak bekerja tambang. Setelah itu, dokter mendiagnosis bahwa saya terpapar malaria,” katanya. Iswanto pun kaget. Tadinya dia hanya mengira cuma masuk angin biasa. “Tapi ternyata malaria,” katanya pelan. Dia bukan satu-satunya. Di wilayahnya, malaria bukan lagi kabar yang hanya muncul dalam laporan kesehatan. Penyakit itu kini hadir di sekitar rumah, di antara tetangga, bahkan di lingkaran pekerja tambang yang setiap hari keluar masuk kawasan hutan dan bukit di Pohuwato. Kawasan permukiman di Pohuwato yang dikelilingi lubang tambang emas ilegal. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Banyak lubang tambang, nyamuk berkembang Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 07:26:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15074202/2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127806</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bedeng-bedeng bambu berderet di samping sepetak sawah. Hamparan tanaman padi pun tampak mulai menguning dan siap memasuki masa panen. Di sampingnya, ragam tanaman hortikultura subur memenuhi kebun pangan  berpembatas bambu di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Aneka tanaman ini dari Kelompok Perempuan Wela Nara perempuan yang berada di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/">Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bedeng-bedeng bambu berderet di samping sepetak sawah. Hamparan tanaman padi pun tampak mulai menguning dan siap memasuki masa panen. Di sampingnya, ragam tanaman hortikultura subur memenuhi kebun pangan  berpembatas bambu di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Aneka tanaman ini dari Kelompok Perempuan Wela Nara perempuan yang berada di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kelompok beranggotakan 10 orang ini merupakan dampingan dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan Amati Indonesia. Yayasan ini banyak mengajari mereka bagaimana mengolah kebun pangan secara organik. “Kami mulai menanam aneka sayuran ini di akhir tahun 2025 lalu,” kata Monika Udis, Ketua Kelompok Perempuan Wela Nara, Jumat (8/5/26). Ada sawi, tomat dan kacang panjang siap panen. Ada juga tanaman wortel, kangkung dan juga pakcoy. Mereka mengatur masa tanam agar pemanenan bisa berlangsung tiap hari. Untuk pengairan, ibu-ibu ini mengambilnya dari mata air Wae Betong di dalam kawasan hutan yang mereka salurkan menggunakan bambu. Kebetulan, lokasi kebun berbatasan langsung dengan hutan Mbeliling. Kawasan hutan ini terdiri dari hutan lindung seluas 72, 4 kilometer persegi dan hutan konservasi  41, 8 kilometer persegi. Mata air dari kawasan hutan ini tak pernah kering meski di musim kemarau. Dengan siklus panen 3-4 bulan, kebun ini sudah 12 kali panen. Sebagian mereka jual, sebagian  untuk bagi-bagi  ke setiap anggota. “Hasil penjualan sudah terkumpul Rp6.000.000. Uangnya akan kami gunakan untuk membeli bibit tanaman lagi,” sebut Monika. Kelompok Kebun Mama Teka Iku,Kabupaten Sikka sedang panen kacang tanah di kebun pangan kelompok yang berada di dekat kawasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hantavirus, Tikus, dan Kebersihan Lingkungan Kita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 02:48:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17023733/Tikus-di-sekitar-kita-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127897</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, pada 1 April 2026 lalu singgah di Ushuaia, ujung selatan Argentina. Kapal berencana meneruskan pelayarannya hingga Antarktika dan mengunjungi beberapa pulau cantik di Samudera Atlantik. Pada 11 April, seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal yang didahului sakit. Pada 26 April, penumpang yang naik kapal pesiar itu juga meninggal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/">Hantavirus, Tikus, dan Kebersihan Lingkungan Kita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, pada 1 April 2026 lalu singgah di Ushuaia, ujung selatan Argentina. Kapal berencana meneruskan pelayarannya hingga Antarktika dan mengunjungi beberapa pulau cantik di Samudera Atlantik. Pada 11 April, seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal yang didahului sakit. Pada 26 April, penumpang yang naik kapal pesiar itu juga meninggal saat hendak boarding di bandara Afrika Selatan dalam perjalanan pulang. Sementara pada 2 Mei, kembali seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal. Mengutip AP, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 4 Mei menyatakan kejadian itu sebagai wabah, setelah penyebab kematian ketiganya dinyatakan positif karena hantavirus. Total, ada 11 laporan kasus hantavirus dengan 3 orang meninggal. Meski kapal pesiar itu tidak singgah di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit tersebut tetap dijalankan. Belum ada laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), penyebab kematian akibat hantavirus seperti yang terjadi di Eropa itu di Indonesia. Namun, Kementerian Kesehatan RI telah mengonfirmasi adanya peningkatan temuan kasus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), akibat hantavirus. Dibanding HPS, risiko kematian HFRS lebih rendah. Tikus yang dapat menjadi vektor pembawa penyakit hantavirus. Foto: Pixabay/Alexas_Fotos Data Kementerian ini menyebutkan, sepanjang 2024-2026 tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan. Dari 1 kasus pada 2024, menjadi 17 kasus pada 2025, dan 5 kasus hingga Mei 2026. Sebuah kajian yang laporannya terbit 12 Maret 2026 di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases menyebutkan bahwa Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Desak Kejelasan Penghentian Proyek Reklamasi Surabaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 01:14:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234920/Surabaya-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Proyek reklamasi untuk bangun Surabaya Waterfront Land (SWL) di Surabaya, Jawa Timur,  masih belum jelas berhenti seterusnya atau lanjut. Para nelayan dan warga pesisir Surabaya masih khawatir proyek bakal lanjut suatu hari. Mereka pun mendesak, pemerintah tegas menghentikan proyek ini. Hingga kini, masih tidak ada keputusan sah dan meyakinkan bahwa proyek ini akan setop sejak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/">Nelayan Desak Kejelasan Penghentian Proyek Reklamasi Surabaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Proyek reklamasi untuk bangun Surabaya Waterfront Land (SWL) di Surabaya, Jawa Timur,  masih belum jelas berhenti seterusnya atau lanjut. Para nelayan dan warga pesisir Surabaya masih khawatir proyek bakal lanjut suatu hari. Mereka pun mendesak, pemerintah tegas menghentikan proyek ini. Hingga kini, masih tidak ada keputusan sah dan meyakinkan bahwa proyek ini akan setop sejak warga tolak dua tahun lalu. Hamuka, Ketua Jamaah Nelayan Muhammadiyah (Jalamu) Surabaya, berharap, rencana reklamasi itu setop sepenuhnya. Ada pernyataan resmi dari pengembang maupun pemerintah. Dia bilang, ada 44 paguyuban dan organisasi sipil yang serempak bersatu menolak rencana itu. Hamuka sudah menemui pengembang, DPRD Surabaya, pemerintah provinsi, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya untuk mengutarakan keresahan dan penolakan warga. “Ke Jakarta dua kali kami, yang terakhir ke KKP,” katanya baru-baru ini. Dia bilang, laut dan pesisir adalah ruang hidup para nelayan, tempat mereka mencari rezeki. Bila rencana ini lanjut, mereka akan tersingkir dari ruang hidup, dan memutus mata pencaharian mereka. “Soalnya lahan yang akan dibangun kan 1084 hektar, itu tempat pencarian sehari-hari,” kata Hamuka. Belum lagi dampak lain rentan terjadi bila reklamasi itu berjalan, seperti erupsi dan banjir.  Warga, katanya, pasti akan alami dampak. Ada sekitar 8.000 keluarga di lima kecamatan di Surabaya yang rentan terdampak proyek ini. Dia ingin pemerintah tegas menghentikan proyek itu. “Soalnya dasarnya di KPRL (kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut) itu, loh, (pemerintah) menyetujui, sehingga dia (perusahaan) bersikeras untuk, apa, lanjut berhasil untuk reklamasi itu,” kata Hamuka. Miftahul Huda, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>John Wompere, Penjaga Pohon Gaharu dari Kampung Imbari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/john-wompere-penjaga-pohon-gaharu-dari-kampung-imbari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/john-wompere-penjaga-pohon-gaharu-dari-kampung-imbari/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 00:10:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/16233950/Gaharu-Biak-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127882</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di halaman rumahnya di Kampung Imbari, Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, John Wompere (67) berdiri di samping sebuah bedeng persemaian berukuran sekitar empat kali empat meter. Deretan bibit kecil berjajar rapi di dalam polybag hitam. Dengan tangan yang sigap, ia menunjuk satu per satu tanaman muda itu. “Ini bibit gaharu yang saya kembangkan dari biji,” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/john-wompere-penjaga-pohon-gaharu-dari-kampung-imbari/">John Wompere, Penjaga Pohon Gaharu dari Kampung Imbari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di halaman rumahnya di Kampung Imbari, Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, John Wompere (67) berdiri di samping sebuah bedeng persemaian berukuran sekitar empat kali empat meter. Deretan bibit kecil berjajar rapi di dalam polybag hitam. Dengan tangan yang sigap, ia menunjuk satu per satu tanaman muda itu. “Ini bibit gaharu yang saya kembangkan dari biji,” katanya sambil tersenyum. “Gaharu ini menarik sekali.” Di samping persemaian itu, beberapa peralatan penyulingan sederhana tersusun rapi. Dari tempat yang tampak sederhana inilah, selama lebih dari dua dekade, John menanam harapan—ribuan pohon gaharu yang perlahan mengubah hidupnya, juga wajah kampungnya. Semua bermula dari rasa penasaran. John pertama kali mengenal gaharu saat merantau ke Papua Nugini pada awal 2000-an. Saat itu, ia melihat banyak orang keluar-masuk hutan mencari gaharu—komoditas yang disebut-sebut bernilai tinggi. “Saya dengar kalau dijual harganya mahal. Itu yang bikin saya penasaran,” ujarnya. Awalnya, motivasinya sederhana: memperoleh uang cepat. Namun saat itu, ia belum benar-benar memahami seperti apa pohon gaharu, bagaimana menanamnya, atau bagaimana memperoleh manfaat dari tanaman itu. Rasa ingin tahu itulah yang kemudian mendorongnya belajar sendiri. Secara autodidak, John mulai memahami pembibitan, penanaman, perawatan, hingga pengolahan hasil tanaman gaharu. Satu pelajaran penting yang dia pahami kemudian: gaharu bukan tanaman untuk mereka yang ingin hasil cepat. “Tidak ada yang instan. Gaharu itu mengajarkan kesabaran,” katanya. Bibit gaharu. Gaharu adalah tanaman hutan berpotensi nilai tambah tinggi, selain gubal, maka daun, batang, hingga kulitnya dapat dimanfaatkan. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia Budidaya yang Bertumbuh Bersama Waktu Dari awalnya hanya mencoba-coba, gaharu perlahan berubah menjadi jalan hidup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/john-wompere-penjaga-pohon-gaharu-dari-kampung-imbari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/john-wompere-penjaga-pohon-gaharu-dari-kampung-imbari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Pemanah, Predator yang Memburu Mangsa di Darat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/16/ikan-pemanah-predator-yang-memburu-mangsa-di-darat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/16/ikan-pemanah-predator-yang-memburu-mangsa-di-darat/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mei 2026 10:29:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/16102124/Toxotes_jaculatrix-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127871</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk wilayah Indonesia, hidup ikan unik berukuran tidak lebih dari 20 sentimeter yang memiliki kemampuan luar biasa. Namanya ikan pemanah (Archer Fish), dikenal sebagai predator air yang berburu mangsa di alam berbeda. Itu bisa terjadi karena makanan utamanya serangga. Ya, ikan ini akan berburu mangsanya di dedaunan, namun dengan senjata yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/16/ikan-pemanah-predator-yang-memburu-mangsa-di-darat/">Ikan Pemanah, Predator yang Memburu Mangsa di Darat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk wilayah Indonesia, hidup ikan unik berukuran tidak lebih dari 20 sentimeter yang memiliki kemampuan luar biasa. Namanya ikan pemanah (Archer Fish), dikenal sebagai predator air yang berburu mangsa di alam berbeda. Itu bisa terjadi karena makanan utamanya serangga. Ya, ikan ini akan berburu mangsanya di dedaunan, namun dengan senjata yang tidak biasa, yaitu semburan air. Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) merupakan jenis yang berwarna keperakan, bertubuh pipih, dan memiliki kepala bermoncong segitiga. Jenis ini memiliki totol khas berbentuk semi-segitiga sepanjang sisi tubuhnya. Kemampuan semburan air bukanlah sekadar meludah biasa. Ikan ini seperti memanah dan dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Ia melakukannya dengan menyemburkan tetesan air yang dirancang secara presisi untuk mencapai target dengan daya hantam maksimal. Tantangan utama bukanpada kekuatan semburan, melainkan fisika itu sendiri. Ketika melihat mangsa dari dalam air, posisi serangga yang sebenarnya berbeda dari yang tampak akibat pembiasan cahaya. Penelitian klasik berjudul “Refraction and the spitting behavior of the archerfish (Toxotes chatareus), yang dilakukan Lawrence M. Dill pada 1977, menemukan bahwa ikan pemanah mampu mengoreksi efek refraksi dengan akurasi tinggi. Ikan tidak menembak langsung dari bawah mangsa, tetapi menyesuaikan sudut tembakannya secara presisi untuk berbagai posisi mangsa berbeda. &#8220;Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengkompensasi refraksi. Ikan dapat mengoreksi efek refraksi besar terhadap elevasi semu atau tinggi semu mangsa,&#8221; tulis Dill dalam jurnal Behavioral Ecology and Sociobiology. Selain pembiasan cahaya, ikan pemanah juga harus memperhitungkan kelengkungan lintasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/16/ikan-pemanah-predator-yang-memburu-mangsa-di-darat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/16/ikan-pemanah-predator-yang-memburu-mangsa-di-darat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perburuan Satwa Liar Bakal Makin Menggila di Sumatera Utara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/16/perburuan-satwa-liar-bakal-makin-menggila-di-sumatera-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/16/perburuan-satwa-liar-bakal-makin-menggila-di-sumatera-utara/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mei 2026 08:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030332/Kukang-Sumatera-INI-dipelihara-warga-Medan-selama-6-bulan-BBKSDA-Sumut-menerima-dari-pemilik-tanpa-ada-memproses-hukum-Ayat-S-karokaro-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127852</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, hutan indonesia, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar dilindungi di Sumatera Utara (Sumut) makin mengkhawatirkan. Catatan for Madina, selama Januari-Mei 2026, terdapat enam kasus terbongkar. Tahun lalu, terbongkar tujuh kasus selama 12 bulan. Arbi Sani, tim Identifier Wildlife Crime for Madina, menyebut kondisi ini peringatan keras. Karena, Sumut merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang kaya. &#8220;Jika dibiarkan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/16/perburuan-satwa-liar-bakal-makin-menggila-di-sumatera-utara/">Perburuan Satwa Liar Bakal Makin Menggila di Sumatera Utara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar dilindungi di Sumatera Utara (Sumut) makin mengkhawatirkan. Catatan for Madina, selama Januari-Mei 2026, terdapat enam kasus terbongkar. Tahun lalu, terbongkar tujuh kasus selama 12 bulan. Arbi Sani, tim Identifier Wildlife Crime for Madina, menyebut kondisi ini peringatan keras. Karena, Sumut merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang kaya. &#8220;Jika dibiarkan, ancaman kepunahan berbagai jenis satwa langka akan semakin nyata di depan mata,&#8221; katanya, Senin (4/5/26). Secara matematis, katanya, angka kejahatan perburuan dan perdagangan satwa liar itu mengindikasikan intensitas kejahatan saat ini mengalami lonjakan lebih 120% ketimbang rata-rata per bulan tahun sebelumnya. Apabila,  berlanjut hingga akhir tahun, potensi kasus  2026 mencapai 14-15 kasus. “Kondisi demikian menjadi alarm bahaya keras, menunjukkan jaringan perdagangan ilegal semakin berani dan gencar beroperasi, membawa ancaman nyata sangat serius bagi kelestarian satwa liar di wilayah ini.&#8221; Sejak 2025, trenggiling menjadi spesies yang paling banyak menjadi korban perburuan. Total tujuh kali kejadian, dengan berat sisik sitaan mencapai 107,6 kilogram. Satwa ini, katanya, menjadi incaran utama karena tingginya permintaan pasar gelap yang mengincar sisiknya untuk pengobatan tradisional dan dagingnya sebagai makanan eksklusif.  Sedang status konservasinya kategori sangat terancam punah. Penelitian tim ahli dari IPB University, menyebut, untuk mendapatkan satu kilogram sisik, perlu sekitar 4-5  trenggiling. Artinya, dari sitaan 107,6 kilogram itu, setidaknya ada 430-538 trenggiling yang menjadi korban pembantaian. Arbi bilang, urutan kedua hewan yang banyak jadi korban buruan adalah burung eksotis, seperti kakatua dan nuri. Hewan ini jadi incaran karena keindahannya jadi hewan peliharaan dengan harga fantastis. Sementara urutan ketiga ialah mamalia besar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/16/perburuan-satwa-liar-bakal-makin-menggila-di-sumatera-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/16/perburuan-satwa-liar-bakal-makin-menggila-di-sumatera-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/ikan-ikan-dari-era-pra-sejarah-di-perairan-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/ikan-ikan-dari-era-pra-sejarah-di-perairan-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mei 2026 02:10:19 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21231102/Coelacanth-L-manadoensis_Chappuis-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=127847</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perairan Nusantara menyimpan rahasia besar berupa spesies &#8220;fosil hidup&#8221; yang sanggup bertahan melewati berbagai kepunahan massal, termasuk letusan dahsyat gunung api purba. Di tengah arus modernitas, kedalaman laut dan sungai pedalaman Indonesia menjadi benteng terakhir bagi satwa yang melampaui waktu. Mulai dari kemunculan kembali Coelacanth yang sempat dianggap punah jutaan tahun silam hingga keberadaan predator [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/ikan-ikan-dari-era-pra-sejarah-di-perairan-nusantara/">Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perairan Nusantara menyimpan rahasia besar berupa spesies &#8220;fosil hidup&#8221; yang sanggup bertahan melewati berbagai kepunahan massal, termasuk letusan dahsyat gunung api purba. Di tengah arus modernitas, kedalaman laut dan sungai pedalaman Indonesia menjadi benteng terakhir bagi satwa yang melampaui waktu. Mulai dari kemunculan kembali Coelacanth yang sempat dianggap punah jutaan tahun silam hingga keberadaan predator purba lainnya, narasi ini merangkai kepingan data ilmiah tentang ketangguhan ekosistem yang masih terjaga sejak era pra-sejarah. The post Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/ikan-ikan-dari-era-pra-sejarah-di-perairan-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/ikan-ikan-dari-era-pra-sejarah-di-perairan-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Longsor Tewaskan 9 Penambang Emas Ilegal di Sumatera Barat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/16/saat-longsor-tewaskan-9-penambang-emas-ilegal-di-sumbar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/16/saat-longsor-tewaskan-9-penambang-emas-ilegal-di-sumbar/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mei 2026 01:33:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15170840/7a5Fg8RuEHEkPx2hNLO6QiVBooRgRIijU7Hmo71W-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127838</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebanyak 12 penambang emas ilegal di Nagari Guguk, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) tertimbun saat tebing setinggi 30 meter longsor, Kamis (14/4/26). Sembilan  orang tewas,  tiga lainnya selamat. “Tiga orang berhasil selamat, sementara sembilan lain tertimbun dan sudah dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia,” kata Kombes Pol. Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/16/saat-longsor-tewaskan-9-penambang-emas-ilegal-di-sumbar/">Longsor Tewaskan 9 Penambang Emas Ilegal di Sumatera Barat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebanyak 12 penambang emas ilegal di Nagari Guguk, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) tertimbun saat tebing setinggi 30 meter longsor, Kamis (14/4/26). Sembilan  orang tewas,  tiga lainnya selamat. “Tiga orang berhasil selamat, sementara sembilan lain tertimbun dan sudah dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia,” kata Kombes Pol. Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar, Jumat (15/5/26). Polisi telah menutup lokasi tambang  dan tengah melakukan penyelidikan atas peristiwa ini. Zainal, Wali Nagari Guguk, mengaku sebelumnya sudah mengimbau para penambang menghentikan aktivitasnya karena cuaca ekstrem dan debit air sungai meningkat. Namun, peringatan itu tak mereka indahkan sampai insiden itu terjadi. “Sudah diingatkan, tapi aktivitas tetap berjalan,” katanya. Area tambang yang beroperasi sejak dua tahun itu memang berada di sekitar titik pertemuan tiga aliran sungai, yakni Batang Sinamar, Batang Ombilin, dan Batang Kuantan, sehingga rawan longsor. Namun, tingginya harga emas belakangan ini mengaburkan nalar sehat dan mengabaikan keselamatan. “Kian marak seiring naiknya harga emas,” kata Zainal. Deretan ponton yang beroperasi di sungai di kawasan Geopark Silokek sebelum hanyut. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Kesulitan berantas tambang emas ilegal Beberapa hari terakhir, hujan deras melanda wilayah Sijunjung dan sekitarnya. Sehari sebelumnya, Rabu (13/5/26), puluhan ponton milik penambang emas ilegal yang beroperasi di kawasan Geopark Silokek, juga hanyut terbawa arus. “Rabu pukul 00.30 debit air mulai naik, para pekerja di ponton mulai mengalihkan ponton-nya ke pinggir sungai. Namun, sekira pukul 05.00 tali penambat mulai putus satu persatu, saya lihat ada sekitar 30 rakik hanyut terbawah arus,” kata Rio, warga Silokek. Dia menyebut, praktik penambangan emas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/16/saat-longsor-tewaskan-9-penambang-emas-ilegal-di-sumbar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/16/saat-longsor-tewaskan-9-penambang-emas-ilegal-di-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kuda Dompu, Pertaruhan Tradisi dan Ruang Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/15/kuda-dompu-pertaruhan-tradisi-dan-ruang-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/15/kuda-dompu-pertaruhan-tradisi-dan-ruang-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mei 2026 14:08:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anton Wisuda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15135920/kuda-dompu-di-doroncanga-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127830</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman hayati flora dan fauna. Satu di antaranya adalah kuda dompu. Kuda dompu umumnya adalah kuda sumbawa atau juga disebut jenis Sandalwood Pony. “Pada masa lalu, kuda dompu digunakan sebagai alat transportasi,” terang Muhammad Iradat, tokoh budaya Dompu, kepada Mongabay, Minggu (25/4/2026 ). Kuda tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/kuda-dompu-pertaruhan-tradisi-dan-ruang-hidup/">Kuda Dompu, Pertaruhan Tradisi dan Ruang Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman hayati flora dan fauna. Satu di antaranya adalah kuda dompu. Kuda dompu umumnya adalah kuda sumbawa atau juga disebut jenis Sandalwood Pony. “Pada masa lalu, kuda dompu digunakan sebagai alat transportasi,” terang Muhammad Iradat, tokoh budaya Dompu, kepada Mongabay, Minggu (25/4/2026 ). Kuda tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Dompu. Ketika jalanan berbukit dan mendaki, saat tidak ada transportasi lain yang bida digunakan, maka kuda adalah pilihan utama. “Berfungsi sebagai alat angkut manusia ataupun hasil pertanian.” Kuda dompu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Dompu, Nusa Tenggara Barat. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Meski zaman berubah dan alat transportasi berkembang, namun kuda tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Bagi orang dompu, memiliki kuda, berarti mempunyai status sosial yang baik. “Selain juga sebagai budaya dan gaya hidup,” lanjutnya. Menurut data Badan Pusat Statistik, Pemerintah Nusa Tenggara Barat, jumlah ternak kuda di Kabupaten Dompu tahun 2025 sekitar 5.333 ekor. Ini bercampur antara kuda asli Dompu dengan kuda persilangan dengan kuda australia. Ini jauh menurun jika dibandingkan dengan jumlahnya pada 1979 yang mencapai hampir separuh penduduk Dompu, yaitu 45.000 ekor. Persilangan kuda di Dompu, tidak terhindarkan karena kebutuhan level status sosial dan budaya Pacoa Jara. Hasil dari persilangan itu, menghasilkan kuda dengan bentuk fisik lebih besar sehingga dapat berlari lebih cepat. Kuda dompu di Doro Ncanga, di kaki Gunung Tambora. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Kuda sandalwood sendiri asli Indonesia. Meski mempunyai fisik lebih kecil, namun jenis ini mempunyai ketahanan fisik lebih bagus dibandingkan kuda impor atau silang,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/kuda-dompu-pertaruhan-tradisi-dan-ruang-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/15/kuda-dompu-pertaruhan-tradisi-dan-ruang-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mei 2026 04:15:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/24032238/Pterygoplichthys_sp-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127777</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di  perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/">Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di  perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk. Kilas balik ke belakang, periode 1970-an menjadi momen awal masuknya ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) ke Indonesia. Ikan asli sungai Amazon di Amerika Selatan itu, masuk melalui jalur perdagangan ikan hias untuk kebutuhan akuarium yang saat itu sedang populer. Di dalam akuarium, sapu-sapu menjadi primadona karena kemampuan yang unik dengan membersihkan kaca. Tak pelak, para pecinta ikan hias langsung memburunya dan menjadikan ikan ini sebagai komoditas ikan hias paling dicari. Walau belum terungkap di pulau mana sapu-sapu pertama kali masuk, kini Sulawesi tercatat menjadi pemilik populasi terbesar di Indonesia. “Sayangnya, perkembangan yang pesat itu tidak dibarengi dengan edukasi yang baik tentang sapu-sapu,” kata Gema Wahyudewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum lama ini. Saat ikan itu tumbuh besar dalam bak akuarium, pemiliknya segera mengeluarkan, karena mereka nilai sudah tidak cocok menghiasi bak lagi. “Mungkin, karena kurangnya pengetahuan, saat itu ikan kemudian dilepaskan di sungai. Padahal, itu ikan asing yang belum tahu seperti apa dampaknya jika ada di perairan kita,” katanya. Dia menduga, selain perdagangan ikan hias, sapu-sapu masuk ke perairan darat Indonesia karena ada program pengisian kembali (restocking) ikan pada ekosistem sungai atau danau (situ). Mengingat kemampuan kemampuan adaptasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jutaan Ular Menginvasi Pulau Kecil ini, Burung Hilang dan  Hutan Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mei 2026 03:13:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15030551/1280px-20140402-APHIS-UNK-0004_13592983734-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127796</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Keseimbangan ekosistem hutan tropis terbentuk melalui hubungan yang sangat kompleks antarspesies. Burung membantu menyebarkan biji, serangga menjaga siklus dekomposisi, sementara predator mengontrol populasi mangsa agar tetap stabil. Ketika satu spesies asing masuk ke lingkungan yang tidak memiliki mekanisme pertahanan alami, seluruh jaringan ekologis dapat terganggu. Dalam banyak kasus, dampaknya tidak langsung terlihat. Namun di Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/">Jutaan Ular Menginvasi Pulau Kecil ini, Burung Hilang dan  Hutan Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Keseimbangan ekosistem hutan tropis terbentuk melalui hubungan yang sangat kompleks antarspesies. Burung membantu menyebarkan biji, serangga menjaga siklus dekomposisi, sementara predator mengontrol populasi mangsa agar tetap stabil. Ketika satu spesies asing masuk ke lingkungan yang tidak memiliki mekanisme pertahanan alami, seluruh jaringan ekologis dapat terganggu. Dalam banyak kasus, dampaknya tidak langsung terlihat. Namun di Pulau Guam, sebuah wilayah kecil milik Amerika Serikat di Pasifik Barat, perubahan itu terjadi secara drastis dan kini menjadi salah satu contoh paling ekstrem invasi spesies di dunia. Pulau seluas sekitar 544 kilometer persegi tersebut mengalami krisis ekologis akibat ledakan populasi ular pohon cokelat (Boiga irregularis). Spesies asal Papua Nugini dan Australia bagian utara itu diduga masuk ke Guam melalui pengiriman logistik militer setelah Perang Dunia II. Pada masa itu, Guam menjadi pusat aktivitas militer penting di kawasan Pasifik. Beberapa ekor ular yang terbawa dalam kargo diperkirakan berhasil bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan baru yang hampir tidak memiliki predator alami. Lokasi pulau Guam | Sumber: WorldMap Dalam beberapa dekade, populasi ular meningkat sangat cepat. Berbagai penelitian memperkirakan jumlahnya mencapai  jutaan ekor. Di beberapa area hutan, kepadatan ular dilaporkan dapat mencapai ribuan individu per kilometer persegi. Kondisi tersebut menciptakan tekanan predator yang sangat tinggi terhadap fauna lokal, terutama burung yang sebelumnya berevolusi tanpa ancaman predator semacam ini. Banyak spesies burung di Guam terbiasa bersarang di tempat terbuka dan tidak memiliki perilaku defensif terhadap ular arboreal yang aktif berburu pada malam hari. Burung Menghilang dari Hutan Guam Dampak paling terlihat dari invasi ini adalah hilangnya populasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laporan Sebut Krisis Energi Rakyat Buntung, Industri Raup Untung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 23:56:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230703/IMG_3607-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127784</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kenaikan harga energi global tak hanya terasa di SPBU, tetapi merembet hingga ke dapur rumah tangga. Mulyati, ibu dua anak di Tangerang Selatan biasa menghabiskan Rp100.000 untuk tiga kali memasak. Belakangan ini, jumlah sama bahkan tak cukup untuk satu kali. “Bumbu-bumbu aja udah Rp60.000, belum lauk,” katanya. Sebagai pengelola keuangan keluarga, Mulyati dan banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/">Laporan Sebut Krisis Energi Rakyat Buntung, Industri Raup Untung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kenaikan harga energi global tak hanya terasa di SPBU, tetapi merembet hingga ke dapur rumah tangga. Mulyati, ibu dua anak di Tangerang Selatan biasa menghabiskan Rp100.000 untuk tiga kali memasak. Belakangan ini, jumlah sama bahkan tak cukup untuk satu kali. “Bumbu-bumbu aja udah Rp60.000, belum lauk,” katanya. Sebagai pengelola keuangan keluarga, Mulyati dan banyak perempuan lain bertanya-tanya. “Apakah kami yang boros? Apakah ini ada kaitannya dengan ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah, selain kondisi pasokan dan distribusi domestik?” Bagi Indonesia, situasi ini menjadi kerentanan ketahanan energi nasional karena masih bertumpu pada impor energi fosil seperti minyak dan gas. Ketika harga minyak dunia terus naik seiring memanasnya situasi di Selat Hormuz–salah satu jalur utama transportasi minyak dunia– risiko gangguan distribusi meningkat dan menimbulkan tekanan besar terhadap biaya impor energi, nilai tukar dan keuangan negara. Ketika biaya transportasi naik, harga barang di pasar pun ikut naik. Sebuah laporan terbaru dari 350.org berjudul Out of Pocket yang terbit tahun ini menunjukkan, masyarakat menanggung beban berlapis dari sistem energi fosil.  Saat yang sama perusahaan energi fosil justru meraup keuntungan besar dari situasi ini. “Ada dampak yang tidak terlihat dari krisis ini, yaitu,  kenaikan seluruh biaya hidup rumah tangga. Ini paling dirasakan oleh kelompok rentan yaitu nelayan, petani, pekerja informal, dan terutama perempuan yang mengelola ekonomi keluarga,” kata Sisilia Nurmala Dewi, Indonesia Country Manager 350.org saat diskusi laporan ini di Jakarta akhir April lalu. Krisis ini, katanya,  bukan sekadar statistik, tetapi kenyataan sehari-hari. Di Indonesia, pemerintah mengalokasikan Rp381 triliun pada APBN 2026&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 10:26:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14082438/3-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127765</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Balinar tengah sibuk merapikan kayu di dapurnya yang dalam perbaikan usai terdampak banjir bandang akhir 2025 di Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Kota Padang, Selasa (5/5/26). Satu rumah yang ada di belakang tempat tinggalnya hilang tersapu banjir. Memang, galado yang terjadi jelang tutup tahun itu tak sampai menghancurkan rumah Balinar. Namun, gara-gara peristiwa itu, kini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/">Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Balinar tengah sibuk merapikan kayu di dapurnya yang dalam perbaikan usai terdampak banjir bandang akhir 2025 di Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Kota Padang, Selasa (5/5/26). Satu rumah yang ada di belakang tempat tinggalnya hilang tersapu banjir. Memang, galado yang terjadi jelang tutup tahun itu tak sampai menghancurkan rumah Balinar. Namun, gara-gara peristiwa itu, kini dia tak punya penghasilan setelah sawahnya yang berada tak jauh dari sungai porak-poranda. Praktis, perempuan 73 tahun itu bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan. Sebelum peristiwa itu terjadi, Balinar hidup dari tujuh petak sawah, delapan pohon kelapa dan puluhan tanaman kakao miliknya. Setahun, dia bisa dua kali panen dari sawah dengan rata-rata hasil panen 10 karung. Dengan harga Rp400.000 untuk satu karung gabah, Balinar merasa cukup. Apalagi, dia masih bisa mendapat tambahan dari kelapa yang biasa dia panen setiap dua bulan sekali. “Tapi sekarang sudah tidak ada yang bisa saya panen, satu petak pun tidak ada sisanya,” kata Balinar, Selasa (5/5/26). Ironisnya, saat kondisi ekonominya berantakan, nyaris tak ada bantuan dari pemerintah yang dia terima. Rumah warga di Batu Busuak Kecamatan Pauh hancur dihantam banjir bandang akhir November 2025. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Balinar berulang kali mengadukan kondisi sawahnya itu ke kantor kelurahan tetapi tak ada hasil. “Belum ada (respons) sampai sekarang, memang mati mata pencaharian kami,” ujarnya. Saat pembahasan lahan pertanian di kantor kelurahan, suaminya sempat mendapat bantuan bibit kelapa. Namun, dia tak ambil karena tak ada lahan untuk menanamnya. Meski begitu, dia tetap berharap pemerintah dapat mencarikan solusi atas lahan sawah yang hilang itu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Oranye dari Poso, Spesies Baru Rhododendron Abadikan Nama Pendeta Yombu Wuri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 05:20:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14014949/Orangye-Poso-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127749</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Temuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso. Temuan ini rilis dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/">Oranye dari Poso, Spesies Baru Rhododendron Abadikan Nama Pendeta Yombu Wuri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Temuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso. Temuan ini rilis dalam jurnal ilmiah Taiwania International Journal of Biodiversity dengan judul “Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia” oleh P. W. K. Hutabarat, Zulfadli, K. P. Bandjolu, Basrul, M. R. Hariri, A. Senatama dan S. H. Larekeng. Dalam publikasi itu, para peneliti menyajikan deskripsi morfologi terperinci, pengamatan mikroskopis komparatif, catatan mengenai distribusi, habitat, dan ekologi, serta penilaian konservasi awal. Sebelumnya, spesies ini berasal dari bahan koleksi di Pegunungan Tokorondo, sebelah barat laut Danau Poso. Saat ini dibudidayakan di ketinggian lebih rendah dekat Air Terjun Saluopa, tempat ia tumbuh secara menumpang pada tumbuhan lain (epifit) dan menghasilkan bunga-bunga kecil berwarna oranye cerah. Para peneliti menyebut spesies ini merupakan anggota baru subgenus Vireya, kelompok Rhododendron tropis yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara. Pemberian nama spesies “yombuwurii” sebagai penghormatan kepada almarhum Pendeta Yombu Wuri, aktivis, tokoh agama dan budaya terkemuka dari Suku Pamona, yang dikenal karena perjuangan dalam melawan perusakan lingkungan dan kampanye pada upaya pelestarian keanekaragaman hayati, kebudayaan dan perdamaian di Poso. &nbsp; Sumber: dokumen penelitian Yombu Wuri meninggal dunia pada 20 Mei 2024. Hingga akhir hayat Yombu Wuri kerap membawa isu perdamaian, lingkungan, keanekaragaman hayati dan kebudayaan Suku Pamona pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Pucuk, Penjaga Keseimbangan Ekosistem Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 01:30:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14012100/Ular-Pucuk-Daun-Foto-Clarissa-Amelia-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127744</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Untuk sebagian orang, ular identik sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut. Namun, bagi Clarissa Amelia (22), mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), pengalaman bertemu langsung ular pucuk, mengubah cara pandangnya terhadap reptil yang kerap disalahpahami ini. Ketua GARDA Nymphaea ITB itu, pertama kali mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung. Lokasinya bukan hutan lebat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/">Ular Pucuk, Penjaga Keseimbangan Ekosistem Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Untuk sebagian orang, ular identik sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut. Namun, bagi Clarissa Amelia (22), mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), pengalaman bertemu langsung ular pucuk, mengubah cara pandangnya terhadap reptil yang kerap disalahpahami ini. Ketua GARDA Nymphaea ITB itu, pertama kali mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung. Lokasinya bukan hutan lebat, melainkan area cukup dekat aktivitas manusia dan di tengah kota. Ada juga di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi, Sumedang, wilayah konservasi yang vegetasinya relatif terjaga. “Dapat bertahan hidup di dua kondisi habitat berbeda,” ujarnya, Senin (12/5/2026). Di kawasan konservasi, ular pucuk hidup di antara pepohonan. Sementara, di wilayah yang mengalami gangguan manusia, reptil tersebut mampu bertahan. “Sungai Cikacika itu cukup dekat dengan manusia, tapi ularnya hidup di sana.” Ahaetulla prasina dikenal sebagai jenis arboreal atau lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Tubuhnya ramping memanjang dengan warna hijau terang yang membuatnya mudah berkamuflase di dedaunan. “Melingkar di batang atau di dedaunan.” Ular pucuk yang memiliki peran penting bagi ekosistem alam. Foto: Clarissa Amelia Perjumpaan malam hari Perjumpaan ular pucuk sebagian besar terjadi malam hari. Menariknya, saat Clarissa kembali ke lokasi yang sama pagi hari, ular yang tersebar luas di Asia Selatan ini, masih berada di tempat semula. “Kemungkinan tidurnya di situ. Setahu saya, ular ini justru lebih aktif siang hari,” ucapnya. Meski dikenal berbisa (lemah), ular pucuk, tidak menunjukkan perilaku agresif selama proses pengamatan. Clarissa mengaku bisa memotretnya dari jarak cukup dekat, kurang dari satu meter. “Cenderung diam dan tenang.” Ada satu detail yang membuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>