- Penyakit yang disebabkan hantavirus tidak mudah menular seperti COVID-19. Penyakit ini umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus atau curut, baik melalui gigitan maupun paparan cairan tubuh seperti air liur, urine, dan feses yang mengandung virus.
- Terdapat dua manifestasi klinis utama infeksi hantavirus. Pertama, Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan masa inkubasi sekitar satu hingga dua minggu. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan dapat berkembang dengan cepat.
- Hantavirus yang ditemukan di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan diketahui menyebabkan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) atau juga dikenal sebagai HPS. Sementara itu, hantavirus yang ditemukan di Eropa dan Asia umumnya menyebabkan HFRS. Hingga saat ini, penularan antarmanusia untuk tipe tersebut belum pernah tercatat.
- Ancaman hantavirus bukan hanya soal virus, melainkan juga tentang manusia menjaga kebersihan lingkungan hidup. Sebab terkadang, wabah besar bisa berawal dari sudut rumah yang lembap, gudang yang jarang dibersihkan, atau jejak tikus yang dibiarkan begitu saja.
Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, pada 1 April 2026 lalu singgah di Ushuaia, ujung selatan Argentina. Kapal berencana meneruskan pelayarannya hingga Antarktika dan mengunjungi beberapa pulau cantik di Samudera Atlantik.
Pada 11 April, seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal yang didahului sakit. Pada 26 April, penumpang yang naik kapal pesiar itu juga meninggal saat hendak boarding di bandara Afrika Selatan dalam perjalanan pulang. Sementara pada 2 Mei, kembali seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal.
Mengutip AP, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 4 Mei menyatakan kejadian itu sebagai wabah, setelah penyebab kematian ketiganya dinyatakan positif karena hantavirus. Total, ada 11 laporan kasus hantavirus dengan 3 orang meninggal.
Meski kapal pesiar itu tidak singgah di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit tersebut tetap dijalankan. Belum ada laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), penyebab kematian akibat hantavirus seperti yang terjadi di Eropa itu di Indonesia. Namun, Kementerian Kesehatan RI telah mengonfirmasi adanya peningkatan temuan kasus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), akibat hantavirus. Dibanding HPS, risiko kematian HFRS lebih rendah.

Data Kementerian ini menyebutkan, sepanjang 2024-2026 tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan. Dari 1 kasus pada 2024, menjadi 17 kasus pada 2025, dan 5 kasus hingga Mei 2026.
Sebuah kajian yang laporannya terbit 12 Maret 2026 di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases menyebutkan bahwa Indonesia merupakan hotspot nomor satu hantavirus di Asia Tenggara. Urutan selanjutnya adalah Singapura.
Laporan dengan judul “Studies on prevalence of Hantavirus in small mammals in Southeast Asia: A systematic review and meta-analysis” itu menyatakan, tingkat prevalensi gabungan hantavirus pada mamalia kecil di Asia Tenggara sebesar 6,07 persen. Indonesia menjadi yang tertinggi yaitu 17,49 persen, sementara Singapura 10,53 persen.
“Memahami prevalensi HV pada mamalia kecil sangat penting untuk menilai risiko kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan keanekaragaman hayati tinggi dan perdagangan internasional yang sering,” tulis Zixiao Guo, penulis pertama laporan itu, mewakili rekan peneliti. Dia merupakan peneliti dari Hainan Medical University, Haikou, Hainan, China.

Metaanalisis
Metaanalisis itu seperti menggabungkan potongan puzzle. Sebuah metode penelitian yang menghubungkan hasil beberapa riset berbeda, namun dengan topik yang sama. Selanjutnya, dianalisis secara statistik untuk mendapatkan kesimpulan baru yang kuat dan akurat.
Studi yang dilakukan oleh Zixiao Guo dan tim, disebut merupakan tinjauan sistematis metaanalisis pertama yang fokus pada prevalensi hantavirus di seluruh Asia Tenggara.
Dalam studi ini, para peneliti ingin mengetahui seberapa besar prevalensi hantavirus pada mamalia kecil di Asia Tenggara, sekaligus mengidentifikasi spesies hewan yang paling berperan dalam penyebarannya. Dengan menggabungkan berbagai penelitian dari banyak negara, mereka berharap dapat melihat pola penyebaran hantavirus secara lebih menyeluruh, sesuatu yang sulit diperoleh bila hanya mengandalkan satu penelitian tunggal.
Untuk itu, mereka mencari hasil penelitian di Web of Science, PubMed, Embase, Scopus, dan Cochrane Library yang diterbitkan hingga 6 Februari 2025. Mereka mencari publikasi penelitian dengan kata kunci antara lain, tikus, kelelawar, hantavirus, HPS, juga HFRS. Lokasi penelitian meliputi Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Myanmar, Malaysia, Brunei, Singapura, Timor Leste, Filipina, dan Indonesia.
Sebanyak 403 laporan penelitian ditemukan. Setelah dilakukan penyaringan, akhirnya diperoleh 28 bahan untuk dikaji lebih lanjut. Setelah dilakukan analisis, prevalensi hantavirus di Indonesia mencapai angka 17,49 persen, Singapura (10,53 persen), Thailand (4,36 persen), Kamboja (5,50 persen), Malaysia (4,32 persen), dan Vietnam (4,25 persen). Sisa negara Asia Tenggara lainnya tidak dinilai karena tidak signifikan secara statistik.
“Indonesia memiliki lahan pertanian luas dan iklim yang sesuai, sementara Singapura padat penduduk dan menghasilkan limbah besar,” tulis laporan itu.
Kedua faktor ini menyediakan habitat ideal bagi mamalia kecil. Selain itu, secara geografis posisi Indonesia dan Singapura berada di lintang rendah yang membuat iklimnya lebih hangat dan lembap. Hal ini menciptakan kondisi ideal bagi mamalia kecil untuk berkembang biak sehingga populasinya lebih tinggi. Kelangsungan hidup hantavirus pun lebih panjang.
Penelitian itu juga menyoroti meningkatnya interaksi manusia dengan hewan pengerat. Lingkungan permukiman yang padat, kawasan pasar, gudang penyimpanan makanan, hingga area pertanian merupakan lokasi potensial manusia bersentuhan dengan urine, kotoran, atau air liur hewan pembawa hantavirus.
Terkait spesies pembawa hantavirus, hasil penelitian menunjukkan Ratus norvegicus (tikus got), Bandicota indica (tikus wirok), R. rattus (tikus rumah), dan Suncus murinus (celurut rumah) merupakan vektor utama penularan hantavirus di Asia Tenggara. Di antara spesies ini, R. norvegicus menunjukkan prevalensi hantavirus tertinggi karena statusnya sebagai spesies dominan dengan distribusi luas dan kemampuan beradaptasinya tinggi.
Hanya saja, penelitian ini tidak mendapatkan data cukup untuk hantavirus yang disebarkan kelelawar. Kelelawar diketahui merupakan inang banyak virus, termasuk hantavirus. Namun jumlah penelitiannya kecil dan datanya masih terbatas.

Pencegahan
Penyakit yang disebabkan hantavirus tidak mudah menular seperti COVID-19. Penyakit ini umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus atau curut, baik melalui gigitan maupun paparan cairan tubuh seperti air liur, urine, dan feses yang mengandung virus.
Mengutip keterangan Kementerian Kesehatan, terdapat dua manifestasi klinis utama infeksi hantavirus. Pertama, Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan masa inkubasi sekitar satu hingga dua minggu. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan dapat berkembang dengan cepat.
Hera Nirwati, Guru Besar Departemen Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa penyakit zoonosis akibat hantavirus sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi urine, tinja, atau air liur tikus yang mengandung virus. Risiko meningkat saat membersihkan gudang, rumah kosong, atau ruangan lembap dan berdebu yang banyak terdapat tikus. Penularan juga dapat terjadi melalui makanan yang telah terkontaminasi.
“Jaga kebersihan rumah dan tempat makan. Tutup akses masuk tikus, serta gunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang banyak kotoran tikus. Jangan menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering karena partikel virus dapat beterbangan ke udara. Basahi terlebih dahulu dengan disinfektan sebelum dibersihkan,” jelasnya, dikutip dari Reels FKKMK UGM.
Hingga kini belum ada obat khusus yang benar-benar menyembuhkan infeksi hantavirus. Penanganan medis, umumnya dilakukan secara suportif dan simtomatis sesuai gejala yang muncul. Penanganan dini menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien.
Mengutip keterangan dari Kementerian Kesehatan, varian hantavirus yang beredar di Indonesia berasal dari kelompok varian Asia dengan tingkat kematian sekitar 5-15 persen. Angka ini memang lebih rendah dibanding varian Andes di Amerika Selatan yang menyerang paru-paru dengan risiko kematian mencapai 50-60 persen. Namun demikian, hantavirus tetap tidak bisa dianggap remeh karena infeksinya dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat.
Penanganan pasien suspek hantavirus umumnya difokuskan pada pemantauan kondisi klinis secara ketat, terutama untuk mengantisipasi komplikasi pada paru-paru, jantung, dan ginjal. Pada kasus berat, pasien bahkan dapat memerlukan bantuan oksigen hingga perawatan intensif.

Penjelasan dari World Health Organization menyebutkan bahwa hantavirus termasuk keluarga Hantaviridae dalam Ordo Bunyavirales. Meski banyak spesies hantavirus telah ditemukan di berbagai belahan dunia, hanya sebagian kecil yang diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Hantavirus yang ditemukan di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan diketahui menyebabkan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) atau juga dikenal sebagai HPS. Salah satu yang paling dikenal adalah virus Andes yang dilaporkan dapat menular antarmanusia dalam kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di Argentina dan Chili.
Sementara itu, hantavirus yang ditemukan di Eropa dan Asia umumnya menyebabkan HFRS. Hingga saat ini, penularan antarmanusia untuk tipe tersebut belum pernah tercatat.
Pada akhirnya, ancaman hantavirus bukan hanya soal virus, melainkan juga tentang bagaimana manusia menjaga kebersihan lingkungan hidupnya. Sebab terkadang, wabah besar bisa berawal dari sudut rumah yang lembap, gudang yang jarang dibersihkan, atau jejak tikus yang dibiarkan begitu saja.
Referensi:
Guo, Z., Pan, H., Wang, N., Xiao, Y., Zhang, Q., Ren, C., Liu, P., Wu, Q., Cai, L., Cheng, Y. and Li, W., 2026. Studies on prevalence of Hantavirus in small mammals in Southeast Asia: A systematic review and meta-analysis. PLOS Neglected Tropical Diseases, 20(3), p.e0014075. DOI:10.1371/journal.pntd.0014075
*****