<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=a-asnawi-pasuruan&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/a-asnawi-pasuruan/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 26 Sep 2026 00:15:38 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Bagaimana Cara Semut Temukan Jalan Pulang ke Sarang dengan Jalan Mundur?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/#respond</comments>
					<pubDate>26 Sep 2026 00:15:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22004817/semut-bawa-makanan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134150</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor semut gurun spanyol (Cataglyphis velox) menemukan makanan yang terlalu besar untuk dibawa dengan rahangnya. Agar makanan itu sampai ke sarang, ia menyeretnya sambil berjalan mundur. Tetapi, bagaimana semut tahu arah pulang ketika kepalanya tidak menghadap ke tujuan? Awalnya, ilmuwan menduga semut harus sesekali berbalik untuk melihat jalur yang sudah dikenalnya. Perilaku itu memang terlihat: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/">Bagaimana Cara Semut Temukan Jalan Pulang ke Sarang dengan Jalan Mundur?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor semut gurun spanyol (Cataglyphis velox) menemukan makanan yang terlalu besar untuk dibawa dengan rahangnya. Agar makanan itu sampai ke sarang, ia menyeretnya sambil berjalan mundur. Tetapi, bagaimana semut tahu arah pulang ketika kepalanya tidak menghadap ke tujuan? Awalnya, ilmuwan menduga semut harus sesekali berbalik untuk melihat jalur yang sudah dikenalnya. Perilaku itu memang terlihat: semut kadang meletakkan makanannya, menghadap ke arah perjalanan, lalu kembali menyeretnya. Namun, penelitian terhadap Cataglyphis velox menunjukkan bahwa semut juga menggunakan informasi yang dikumpulkan selama perjalanan menjauh dari sarang. Saat berjalan maju, semut dapat mengingat tikungan, belokan, dan langkah yang telah ditempuh. Dalam artikel, cara ini disebut “integrasi jalur”. Semut juga menggunakan sudut matahari untuk menentukan posisinya dan mengenali patokan di sepanjang perjalanan. Pertanyaan bagi peneliti ialah bagaimana informasi tersebut digunakan ketika semut harus pulang dengan berjalan mundur. Sebastian Schwarz dan rekan-rekannya mengamati semut yang telah berjalan dari sarang menuju makanan pengumpan di gurun. Mereka kemudian memberi semut remah kue berukuran besar untuk diseret pulang. Di beberapa percobaan, peneliti mengubah pemandangan di sepanjang jalur dengan menempatkan kantong plastik hitam dan terpal. Perubahan itu memengaruhi kapan semut berhenti untuk melihat arah perjalanan. Semut yang menghadapi pemandangan baru berbalik setelah menyeret makanan sekitar 3,2 meter di jalur sepanjang delapan meter. Sebaliknya, semut di jalur yang biasa dilalui dapat bergerak hampir enam meter tanpa berbalik. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa semut memanfaatkan petunjuk visual di sekitarnya saat berjalan mundur. Menurut Schwarz, mereka cenderung mengambil informasi dari samping dan belakang ketika berjalan menjauh dari sarang. “Kemudian menggunakannya untuk membimbing kembali&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-cara-semut-temukan-jalan-pulang-ke-sarang-dengan-jalan-mundur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Ledakan Alga Bisa Ganggu Ekosistem Laut Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 17:20:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22042105/Longfin-damselfish-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134165</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekelompok peneliti dari University of South Florida dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan fenomena ledakan alga (bloomings algae) yang titiknya meluas di lautan dunia. Temuan itu dibantu kecerdasan buatan (AI). Penelitian itu menjelaskan, ledakan alga juga memicu munculnya bau tidak sedap, menimbulkan kerusakan ekologis, dan merugikan ekonomi wilayah pesisir. Bagaimana Indonesia? Saat terjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/">Mengapa Ledakan Alga Bisa Ganggu Ekosistem Laut Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekelompok peneliti dari University of South Florida dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan fenomena ledakan alga (bloomings algae) yang titiknya meluas di lautan dunia. Temuan itu dibantu kecerdasan buatan (AI). Penelitian itu menjelaskan, ledakan alga juga memicu munculnya bau tidak sedap, menimbulkan kerusakan ekologis, dan merugikan ekonomi wilayah pesisir. Bagaimana Indonesia? Saat terjadi ledakan alga, perairan Indonesia akan mengalami perubahan warna dari biru menjadi hijau pekat atau merah kecokelatan. Secara kasat mata, permukaan air laut tampak tertutup lapisan warna asing. Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir dari IPB University, menjelaskan ledakan alga terjadi karena meningkatnya kandungan nutrien di perairan yang berasal dari daratan. “Ledakan alga selalu terjadi di perairan berdekatan permukiman penduduk,” ucapnya, Sabtu (18/9/26). Penyebab melimpahnya alga karena meningkatnya pasokan limbah domestik dari permukiman, aktivitas pertanian, peternakan, hingga kegiatan budi daya perikanan. Semua aktivitas itu membawa bahan organik masuk ke pesisir melalui sungai. Bahan organik tersebut mengalami proses penguraian bakteri, sehingga berubah menjadi nutrien seperti nitrat (NO₃⁻), nitrit (NO₂⁻), amonia (NH₃/NH₄⁺), dan fosfat (PO₄³⁻) yang dapat dimanfaatkan langsung alga untuk tumbuh. Kondisi itu disebut eutrofikasi, atau meningkatnya kandungan nutrien berlebihan di perairan. Ario mengatakan, nutrien bukan satu-satunya faktor. Pertumbuhan alga juga dipengaruhi cahaya matahari dan kondisi fisik perairan. Wilayah yang memiliki arus relatif tenang, memungkinkan nutrien bertahan lebih lama, sehingga alga bisa berkembang lebih cepat. Wilayah perairan seperti Teluk Jakarta, Teluk Banten, atau Teluk Lampung adalah beberapa contohnya. Ikan longfin damselfish [Stegastes diencaeus] yang juga disebut ikan petani, membudidayakan alga dengan memanfaatkan kotorannya untuk dijadikan pupuk penyubur.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/25/mengapa-ledakan-alga-bisa-ganggu-ekosistem-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Gurita, Menjaga Penghidupan Nelayan Maurongga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 10:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21081049/1A-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134110</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, nusa tenggara, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan. “Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran. Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/">Menjaga Gurita, Menjaga Penghidupan Nelayan Maurongga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan. “Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran. Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan batu hijau di pesisir. Batu itu dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Satu karung berisi 25 kilogram batu dihargai sekitar Rp20.000. Imran mulai menangkap gurita di Maurongga pada 2015. Ia mempelajari pekerjaan itu ketika tinggal di kampung asalnya, di pantai selatan Kota Ende. Setelah menetap di Maurongga, ia melihat peluang yang belum digarap nelayan setempat. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,” ujarnya. Pada 2019, setelah pendampingan Yayasan Tananua, jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang, dua di antaranya perempuan. Nelayan kemudian memperoleh bantuan perahu. Data Yayasan Tananua Flores menunjukkan gurita menjadi hasil tangkapan terbesar Maurongga pada 2025, yakni 479,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp16,07 juta. Untuk menjaga perairan tempat mereka bekerja, nelayan menerapkan sistem buka tutup wilayah tangkap melalui skema Loi. Ismail Isman, ketua kelompok nelayan LMMA Embo Angi, menjelaskan bahwa perairan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian ditutup selama tiga bulan, sementara nelayan tetap bisa mencari gurita di bagian lainnya. Penutupan lalu dilakukan bergantian. Menurut Imran, sistem itu memberi waktu bagi gurita untuk berkembang biak. Ia mengatakan berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat dan rata-rata bisa mencapai tiga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-gurita-menjaga-penghidupan-nelayan-maurongga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Utang Perburuk Kondisi Pekerja Kapal Perikanan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 06:59:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita RaissaNiko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/24085957/fxn-2026-08-15-111207F80814156191-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134113</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan Rajasa, bukan nama sebenarnya, sibuk menarik tali tambat kapal yang baru saja bersandar di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut). Setelah kapal terparkir, dia bergegas mengoper nasi bungkus kepada awak kapal lainnya. “Lapar, makan dulu. Dari subuh angkut-angkut cumi,” ujarnya sambil menyantap nasi bungkus. Sekitar 15 tom cumi Rajasa turunkan dari lambung kapal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/">Jerat Utang Perburuk Kondisi Pekerja Kapal Perikanan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan Rajasa, bukan nama sebenarnya, sibuk menarik tali tambat kapal yang baru saja bersandar di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut). Setelah kapal terparkir, dia bergegas mengoper nasi bungkus kepada awak kapal lainnya. “Lapar, makan dulu. Dari subuh angkut-angkut cumi,” ujarnya sambil menyantap nasi bungkus. Sekitar 15 tom cumi Rajasa turunkan dari lambung kapal bersama rekan-rekannya yang bekerja sejak subuh. Melaut sejatinya bukan pekerjaan yang Rajasa impikan. Sulitnya mendapat pekerjaan  membuatnya memilih menjadi awak kapal perikanan (AKP). “Dari pada kelamaan nganggur, saya terima aja tawaran kerja dari teman. Jadi saya melaut, meski upah kecil,” katanya kepada Mongabay pertengahan Agustus. Terhitung sudah lima bulan ini dia bekerja di kapal cumi berbobot 30 gross tonnage (GT) itu. Sekali berangkat, kapal membawa 12 AKP dan satu kapten. Area tangkap berada di perairan Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur atau Laut Flores. Di kapal itu, dia dan AKP lain mendapat upah harian Rp35.000. Dalam sebulan, gaji pokok Rajasa dan teman-temannya berkisar Rp900.000-Rp1.000.000. Aktivitas bongkar muat hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Muara Angke. Foto: Niko Wicaksana/Mongabay Indonesia. Selain harian, dia dan teman-temannya juga mendapat premi Rp8.000 setiap kilogram. Dengan begitu, makin banyak cumi yang dia dapat, makin besar pula premi yang AKP peroleh. Dengan sistem premi, pendapatan Rajasa sepenuhnya bergantung pada jumlah cumi yang dia dapat. Saat cuaca bersahabat, dia bisa mendapat 10-15 kilogram cumi. Sebaliknya, saat musim paceklik, dia hanya bisa mendapat dua kilogram. Para AKP mengaku kerap mendapat perlakuan kurang mengenakkan ketika hasil tangkapan tak penuhi target. Mulai dari makian, hingga kekerasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/25/jerat-utang-perburuk-kondisi-pekerja-kapal-perikanan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 04:25:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25042117/cover-sungai-lesan-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134137</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/">Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat orangutan kalimantan, termasuk lokasi pelepasliaran individu yang telah direhabilitasi. Hutan ini dapat dimasuki melalui beberapa kampung, salah satunya Desa Lesan Dayak yang dihuni masyarakat Dayak. Dalam kegiatan penelitian dan ekowisata, masyarakat tidak sekadar menjadi pelengkap. Mereka terlibat sejak persiapan, menyediakan rumah singgah dan kawasan perkemahan, menyambut pengunjung, serta bekerja sebagai pemandu lokal. Pengetahuan mereka mengenai jalur hutan dan lokasi perjumpaan satwa membantu penelitian burung, mamalia, kupu-kupu, herpetofauna, kelelawar, vegetasi, serta cadangan karbon. Penelitian selama hampir tiga bulan mencatat 55 jenis herpetofauna, 38 jenis mamalia darat, 112 jenis kupu-kupu, 187 jenis burung, dan 15 jenis kelelawar. Hasil tersebut memperlihatkan pentingnya Sungai Lesan bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. Kegiatan ini juga menghasilkan buku panduan kupu-kupu yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenalkan kekayaan hutan kepada pengunjung. Meski berstatus hutan lindung, Sungai Lesan menghadapi tekanan pembukaan lahan dan dikelilingi perkebunan sawit. Koridor yang menghubungkannya dengan kawasan hutan lebih luas juga berisiko dialihfungsikan. Dalam situasi ini, penelitian dan ekowisata berbasis masyarakat diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat alasan untuk mempertahankan hutan. Bagaimana masyarakat dapat ditempatkan sebagai pelaku utama penelitian dan konservasi? Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/ekowisata-berbasis-riset-untuk-menjaga-hutan-sungai-lesan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 04:16:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22053048/Kukang-Nycticebus-bancanusyang-berada-di-PPS-Alobi-Kepualauan-Bangka-Belitung.--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134111</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis. “Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/">Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis. “Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan seperti nyatoh, ulin, dan ara,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Pohon-pohon itu menjadi bagian dari lingkungan yang masih dapat digunakan kukang, sementara habitatnya di tempat lain menghadapi perubahan. Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2017 hingga November 2018, Randi menemukan kukang bangka di sekitar berbagai jenis pohon. Di antaranya karet, petai, nangka, cempedak, pisang, durian, duku, rambutan, dan pelawan. “Semua pohon tersebut terdapat di kelekak,” jelasnya. Penelitian itu dilakukan di sejumlah desa di Kabupaten Bangka. Hubungan kukang dengan pepohonan tidak berhenti pada kebutuhan akan tempat hidup. Menurut Randi, kukang turut membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan di alam. Satwa ini juga berperan mengendalikan serangga yang dapat menyerang tanaman produktif milik masyarakat maupun tumbuhan hutan. Dengan demikian, keberadaan kukang berkaitan pula dengan kelangsungan tumbuhan di sekitarnya. Meski demikian, belum ada data pasti mengenai jumlah kukang bangka yang hidup di alam. IUCN Red List menempatkannya dalam kategori Kritis dan menyoroti hilangnya habitat akibat deforestasi, terutama perluasan perkebunan sawit. Randi mengatakan perubahan hutan dan kelekak menjadi perkebunan, wilayah tambang, serta permukiman mengancam kukang di Pulau Bangka. “Secara umum, populasinya menurun dan terancam, akibat perubahan habitat menjadi perkebunan sawit, daerah tambang, dan perumahan,” ujarnya. Selain&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kelekak-kukang-bangka-yang-terancam-punah-masih-punya-tempat-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Martha Haran Suarakan Pesan Jaga Lingkungan Lewat Telimaa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 03:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vitri Angreni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25031810/Screenshot-2026-09-24-at-00.35.18-1-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134078</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Martha Haran melangkah perlahan. September ini, perempuan Dayak Kayan Mendalam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu berusia 70 tahun. Meski begitu, usia tak menyurutkan semangatnya, suaranya kuat dan jernih, ketika sedang menuturkan telimaa dengan iringan sape, alat musik petik tradisional Dayak. Ine Martha, sapaan akrabnya, adalah seorang penelimaa atau penutur syair telimaa, sastra lisan Kayan. Sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/">Martha Haran Suarakan Pesan Jaga Lingkungan Lewat Telimaa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Martha Haran melangkah perlahan. September ini, perempuan Dayak Kayan Mendalam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu berusia 70 tahun. Meski begitu, usia tak menyurutkan semangatnya, suaranya kuat dan jernih, ketika sedang menuturkan telimaa dengan iringan sape, alat musik petik tradisional Dayak. Ine Martha, sapaan akrabnya, adalah seorang penelimaa atau penutur syair telimaa, sastra lisan Kayan. Sebagai penelimaa, dia bertugas memberikan saran pada generasi penerus untuk menjaga tanah warisan leluhur. “Kepada anak-anak agar jangan merusak yang dititipkan para leluhur untuk kita. Nah, apabila dihancurkan oleh kita, nanti akan ada dampaknya sebagai hukuman bagi kita,” katanya. Namun, terima atau tidaknya pesan itu tergantung orang yang mendengarkan. Menurut dia, orang yang tidak mau merusak pasti mendengar. Beda dengan yang mau merusak, dan mementingkan diri sendiri, akan tetap membangkang. Dia mencontohkan iming-iming pada masyarakat kampung yang mau menjual tanah pada perusahaan. “Seandainya perusahaan masuk, kita yang tidak punya mobil, bisa punya. Kita tidak punya motor, bisa punya.” Uang yang perusahaan tawarkan untuk membeli tanah warga bisa habis. Meski mereka yang menjual dapat bibit, pupuk, dan racun rumput, itu tidak sebanding dengan tanah warisan leluhur. “Tanah kalau hak leluhur kita ini, kita piara untuk selama-lamanya. Turun-temurun kita punya. Kalau mobil, kalau motornya sudah beberapa lama hancur. Nah, mau cari apa lagi?” Baginya, lebih baik tidak dapat bibit dan lapar daripada menukar tanah dengan kesenangan yang hanya sementara. Namun, sikap itu tidak selalu bisa masyarakat terima. “Kadang-kadang mereka itu benci juga dengan saya karena saya itu seorang pembangkang.” Ine Martha melantunkan Telimaa diiringi Sape yang dimainkan budayawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/25/martha-haran-suarakan-pesan-jaga-lingkungan-lewat-telimaa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>25 Sep 2026 00:04:02 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121329/Siswa-terpapar-kabut-asap-di-Kalsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=134123</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/">Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten dan kota terpapar kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi terparah. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut ( ISPA)  pun menggila. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat dalam periode 18 Agustus sampai 21 September 2026, terjadi 174.694 kasus ISPA di daerah terdampak karhutla. Dari angka itu, sekitar  40.363 kasus menimpa balita. Apa usaha negara lindungi warga? Hak warga negara mendapatkan lingkungan hidup yang sehat termasuklah menghirup udara segar bukan racun. The post Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/nestapa-warga-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 10:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21175859/IMG_1160-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134028</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan nusa tenggara]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/">Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang membuat mata air menyusut dan sawah mengering. Melalui Nunas Nede, mereka memohon hujan sekaligus mengingatkan diri untuk menjaga sumber air. Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di desa. Air tersebut kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Warga membawa hasil bumi, berdoa, berzikir, lalu menikmati makanan bersama. Amaq Marni, pemangku adat berusia 73 tahun, mengatakan ritual ini mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan. “Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya. Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bersama. Warga membersihkan kawasan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran, serta menanam pohon. Anak muda membantu membawa perlengkapan dan membersihkan aliran yang tersumbat. Masyarakat juga mempertahankan aturan tidak tertulis, termasuk larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan. Pepohonan di sekitar mata air dijaga karena warga memahami hubungannya dengan keberlangsungan pasokan air. “Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” ujar Marni. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan musim menambah kecemasan petani. Hujan semakin sulit diperkirakan, debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam menjadi tidak menentu. “Dulu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 05:10:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230214/PTPN-Paser-1-INI-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134094</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Akhirnya,  Indonesia punya Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA).  UU yang baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  sahkan pada rapat paripurna 22 September lalu ini bukan datang tiba-tiba, ia hasil perjuangan panjang berbagai organisasi masyarakat sipil selama 34 tahun. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai, UU menjadi kado manis bagi rakyat di Hari Tani Nasional, 24 September [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/">Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Akhirnya,  Indonesia punya Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA).  UU yang baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  sahkan pada rapat paripurna 22 September lalu ini bukan datang tiba-tiba, ia hasil perjuangan panjang berbagai organisasi masyarakat sipil selama 34 tahun. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai, UU menjadi kado manis bagi rakyat di Hari Tani Nasional, 24 September ini. Dewi Kartika, Sekjen KPA mengatakan, proses pengesahan UU itu tidak mudah. Selama berpuluh-puluh tahun, gagasan UU Reforma Agraria berulang kali menghadapi kebuntuan. Sejak masuk Prolegnas 27 Agustus pun, pembahasan RUU ini terdapat begitu banyak perdebatan, termasuk keberatan dari pemerintah. Sejumlah substansi sempat jadi perdebatan akhirnya kembali masuk pada proses yang lebih substansial. “Kita mendiskusikan kenapa reforma agraria harus terus jalan menurut Undang-undang,” katanya dalam siaran pers yang Mongabay terima. UUPRA memuat sejumlah pengaturan penting dan strategis bagi penyelenggaraan reforma agraria. Antara lain, jaminan pemenuhan, pemulihan, dan pengakuan hak rakyat atas tanah dan sumber agraria. Lalu, penetapan lokasi prioritas reforma agraria (LPRA), pengaturan objek dan subjek reforma agraria, serta pembentukan lembaga khusus reforma agraria. UU ini, juga mengatur mekanisme penyelesaian konflik agraria dan pemulihan hak atas tanah, redistribusi tanah, pemberdayaan subjek reforma agraria, serta perlindungan hukum bagi rakyat yang mempertahankan hak atas tanah. “Hal penting lainnya adalah penataan, pengendalian, dan pembatasan penguasaan serta pemilikan tanah untuk mencegah konsentrasi penguasaan tanah, baik oleh negara maupun swasta,” ujar Dewi. UUPRA juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam reforma agraria,  membentuk dewan pengawas,  dan membangun sistem data dan pelaporan reforma agraria. Serta mengatur pendanaan, ketentuan pidana, dan ketentuan peralihan. Dewi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 05:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/11075252/Ular-Siput-Jerapah-Saktyari-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134049</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/">Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika itu. Individu dewasa yang ditemuinya berukuran sekitar 40 sentimeter, bertubuh ramping, dan tidak menunjukkan perilaku agresif. Pola tubuhnya yang samar membantu ular ini menyatu dengan serasah di lantai hutan. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, membenarkan bahwa kemampuan tersebut membuatnya sulit ditemukan. “Kamuflasenya memang sangat baik,” ujarnya. Selain penampilannya, cara ular ini makan juga menarik perhatian. Ular siput jerapah memiliki rahang yang beradaptasi untuk mengambil tubuh siput dari dalam cangkangnya. Leonardus menggambarkannya, “Seperti menyedot daging siput dari cangkangnya.” Kebutuhannya akan mangsa dan kondisi tempat hidup tertentu membuat ular ini peka terhadap perubahan di sekitarnya. “Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” kata Leonardus. Karena itu, perjumpaannya di antara serasah tebal dan tanah yang lembab memberi gambaran tentang tempat hidup yang dibutuhkan ular tersebut. Namun, temuan satu ular tidak cukup untuk menyatakan seluruh hutan berada dalam kondisi sehat. Ganjar mengingatkan, “Bila hanya satu spesies, agak susah dijadikan kesimpulan umum sebagai indikator kesehatan hutan.” Menurutnya, penilaian seperti itu perlu melihat kumpulan spesies atau komunitas. Ganjar juga meluruskan anggapan bahwa ular siput jerapah hanya hidup di pegunungan. Meski dijumpai di Gunung Slamet, catatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Megalitikum Pasemah, Budaya Masyarakat Prasejarah Jaga Lingkungan dan Hormati  Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 03:01:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/24025104/Wajah-arca-manusia-yang-menjelaskan-wajah-Austro-Melanesia-dibandingkan-Austronesia.-Wajah-bulat-panjang-rambut-ikal-atau-keriting-mata-besar-hidung-pesek-dan-bibir-tebal.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134096</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perjalanan menuju Situs Tinggi Hari membawa kita masuk perlahan ke lanskap perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jalan berkelok dan menanjak, meninggalkan kawasan permukiman yang lebih padat. Di kejauhan, bentang Bukit Barisan terlihat. Gunung Dempo berdiri sebagai penanda terbesar lanskap Pasemah, sementara lembah-lembah di bawah perbukitan dialiri Sungai Liem yang terhubung Sungai Lematang. Di tengah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/">Megalitikum Pasemah, Budaya Masyarakat Prasejarah Jaga Lingkungan dan Hormati  Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perjalanan menuju Situs Tinggi Hari membawa kita masuk perlahan ke lanskap perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jalan berkelok dan menanjak, meninggalkan kawasan permukiman yang lebih padat. Di kejauhan, bentang Bukit Barisan terlihat. Gunung Dempo berdiri sebagai penanda terbesar lanskap Pasemah, sementara lembah-lembah di bawah perbukitan dialiri Sungai Liem yang terhubung Sungai Lematang. Di tengah bentang alam inilah, manusia ribuan tahun lalu meninggalkan jejaknya. Kawasan Tinggi Hari terdiri tiga situs utama, yakni Tinggi Hari I, II dan III, tersebar di bentang perbukitan sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Di dalamnya terdapat arca manusia, menhir, batu tegak, batu datar, lumpang, lesung, tetralith dan berbagai tinggalan batu lainnya. Situs Tinggi Hari merupakan bagian kecil dari lanskap peradaban Megalitikum Pasemah –yang luas totalnya mencapai 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, hingga Kabupaten Empat Lawang. Tercatat, sekitar 1.165 benda megalitik. Di antaranya 85 arca, 25 bilik batu, serta ratusan lesung batu, lumpang batu, dan lainnya. Wajah arca manusia yang menjelaskan Austro-Melanesia dibandingkan Austronesia. Wajah bulat panjang, rambut ikal atau keriting, mata besar, hidung pesek, dan bibir tebal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Hidup dekat air Megalitik Pasemah mempunyai 15 ragam bentuk, seperti arca, arca menhir, menhir, monolith, trilith, tetralith, batu datar, dolmen, lesung batu, lumpang batu, batu bergores, batu temu gelang, bilik batu, lukisan di bilik batu, dan tempayan kubur. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat, kepada Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sulitnya Akses Air Bersih di Pemukiman Padat Jakarta Munculkan Beban Berlapis Perempuan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 01:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/03/22025653/AKSI-TOLAK-PRIVATISASI-AIR-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133908</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat di permukiman padat di Jakarta masih berjuang mendapatkan hak akses air bersih. Tak hanya kualitas air buruk, mereka juga mengeluhkan sulit akses air bersih dan harga mahal, apalagi di musim kemarau panjang tahun ini. Titin Sumiyati, warga Pesanggrahan Timur, Kelurahan Pademangan Timur, Jakarta Utara, misal, air dari keran hanya menetes pelan. Dia pun harus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/">Sulitnya Akses Air Bersih di Pemukiman Padat Jakarta Munculkan Beban Berlapis Perempuan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat di permukiman padat di Jakarta masih berjuang mendapatkan hak akses air bersih. Tak hanya kualitas air buruk, mereka juga mengeluhkan sulit akses air bersih dan harga mahal, apalagi di musim kemarau panjang tahun ini. Titin Sumiyati, warga Pesanggrahan Timur, Kelurahan Pademangan Timur, Jakarta Utara, misal, air dari keran hanya menetes pelan. Dia pun harus bergantian dengan tetangga yang sama-sama menggunakan master meter. “Airnya kuning banget. Kalau mati air nggak sehari dua hari, tapi dua minggu.” katanya, Senin (24/8/26). Rumah Titin satu dari 1.500 keluarga yang mendapatkan bagian program master meter atau layanan sambungan air perpipaan komunal melalui satu meteran induk untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat berpenghasilan rendah di permukiman padat. Meski begitu, program itu tak menyelesaikan masalah air bersih hingga hari ini. “Airnya cuman netes tapi meterannya tetap jalan terus, jadi keluarga bayarnya besar,” katanya. Dalam satu bulan, kata Titin, seminggu, air bisa mati 2-3 kali. Saat mengalir, terkadang air keruh. Padahal, air  itu jadi kebutuhan utama di rumah, untuk mencuci, mandi hingga beribadah. Tak ada pilihan, saat air berhenti mengalir, Titin harus membeli air pikulan. Harga satu pikul jerigen air sekitar Rp6.000, setidaknya sehari dia perlu delapan pikul atau Rp48.000. Baginya, harga senilai itu terbilang mahal dan menguras kantong. “Kami udah bayar ke master meter, beli pikulan iya. Kan jadinya lebih boros,” ujarnya. Ilustrasi Master Meter RW022 Kampung Sengon, Jakarta Utara. Foto: Indra Nugraha/ Mongabay Indonesia Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Air bersih mahal Perjuangan akses bersih atas nama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Dekolonialisasi Konservasi Benteng,  Menuju Konservasi Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 23:41:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Cahyono*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05134644/Dalam-kawasan-Hutan-Adat-2048x1155-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134077</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Planet bumi tempat manusia berpijak hari ini tengah berada dalam cengkeraman krisis ekologi yang kian mendalam. Di tengah ancaman nyata perubahan iklim global dan kemerosotan keanekaragaman hayati masif, memaksa manusia merenungkan kembali hakekat dasar dari upaya penyelamatan lingkungan. Penyelamatan ekosistem tak akan pernah bisa lepas dari perjuangan menegakkan hak asasi manusia dan keadilan sosial. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/">Opini: Dekolonialisasi Konservasi Benteng,  Menuju Konservasi Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Planet bumi tempat manusia berpijak hari ini tengah berada dalam cengkeraman krisis ekologi yang kian mendalam. Di tengah ancaman nyata perubahan iklim global dan kemerosotan keanekaragaman hayati masif, memaksa manusia merenungkan kembali hakekat dasar dari upaya penyelamatan lingkungan. Penyelamatan ekosistem tak akan pernah bisa lepas dari perjuangan menegakkan hak asasi manusia dan keadilan sosial. Gagasan mendasar inilah yang mengemuka dalam Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1–3 September 2026. Berhimpunnya masyarakat adat, komunitas lokal, petani, nelayan, perempuan, pemuda, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil melahirkan manifesto politik dan moral penting,  “Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia” dengan tajuk &#8220;Memulihkan Bumi, Menegakkan Keadilan: Mengembalikan Konservasi ke Pangkuan Rakyat.&#8221; Pesan utama konferensi ini adalah kritik mendasar terhadap model konservasi arus utama (mainstream conservation) usungan negara. Praktik konservasi konvensional selama ini cenderung mengasingkan manusia dari alam, memisahkan ruang hidup dari ekosistemnya, dan memproduksi ketidakadilan agraria yang berulang. Perempuan warga Nagari Kamang Mudiak, Sumatera Barat memilah cengkeh hasil panen. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Akar epistemik: kolonisasi pengetahuan dan benteng konservasi negara Secara teoritis, kritik dalam Deklarasi Yogyakarta menelanjangi keberlanjutan skema fortress conservation (konservasi benteng) warisan rasionalitas sains kolonial. Model ini memandang hutan dan lanskap alam sebagai &#8220;wilayah tak berpenghuni&#8221; (terra nullius) atau semata-mata komoditas dan tegakan kayu. Implikasinya, negara hadir sebagai entitas pemilik mutlak yang berhak menentukan peruntukan ruang, sembari menyingkirkan masyarakat lokal sebagai penonton di tanah kelahirannya sendiri. Konsep konservasi benteng atau model konservasi arus utama (mainstream conservation) adalah pendekatan perlindungan alam yang berakar dari warisan keilmuan kolonial dan menempatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Kelekak di Bangka Belitung, Sumber Air Bersih dan Ruang Hidup Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 10:31:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/23102145/Kelekak-yang-dikelola-Komunitas-Kelekak-Bangka-menjadi-rumah-sejumlah-jenis-satwa.-Foto-drone-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134067</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang tahun 2015, membuat sebagian besar hutan dan kebun sawit di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengalami kekeringan, dan sebagian terbakar. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur, sungai, serta paya atau rawa kecil, sebagian besar mengering. Setelah musim kemarau berakhir, Asmadi (60) dan Andre, anaknya, secara bertahap menebangi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/">Jejak Kelekak di Bangka Belitung, Sumber Air Bersih dan Ruang Hidup Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang tahun 2015, membuat sebagian besar hutan dan kebun sawit di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengalami kekeringan, dan sebagian terbakar. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur, sungai, serta paya atau rawa kecil, sebagian besar mengering. Setelah musim kemarau berakhir, Asmadi (60) dan Andre, anaknya, secara bertahap menebangi puluhan pohon sawit yang sudah berusia lima tahun di kebun mereka. Alasannya, mereka tidak ingin pohon sawit sawit yang membutuhkan banyak air akan membuat kebun mereka kembali kering. Hanya pohon durian, rambutan, dan duku dibiarkan tumbuh. Sebelum ditanami sawit, kebun Asmadi adalah kelekak berusia ratusan tahun, yang luasnya satu hektar. Kelekak itu dibuat buyutnya. Beragam buah ditanam, seperti durian, rambutan, manggis, puren, ketapi, pelen, tampui, duku, windu, nyatoh, cempedak, ketep, dan lainnya. Saat dijadikan kebun sawit, sebagian besar pohon buah tersebut ditebang. “Bapak saya menginginkan kebun kembali menjadi kelekak,” kata Andre (30), akhir Agustus 2026. Mereka kemudian menanam bibit pohon nyatoh, pelawan, aren, puren, durian, mentaon, binjai puspa, dan langsat. Kelekak adalah agroforestry, hutan adat masyarakat melayu di Kepulauan Bangka Belitung. Hutan adat ini dimiliki setiap klan atau keluarga, yang diwariskan turun menurun. Kelekak berada di sekitar kebun lada dan karet. Selama ratusan tahun tidak ada kelekak yang berubah menjadi kebun karet atau lada. Tapi, sejak berkembangnya perkebunan sawit dan penambangan timah liar di Kepulauan Bangka Belitung, banyak kelekak yang hilang atau berubah fungsi. Kelekak yang dikelola Komunitas Kelekak Bangka menjadi rumah berbagai jenis satwa liar. Foto drone: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Perubahaan bentang alam di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belasan Bekantan Mati Terbakar Akibat Karhutla, Peringatan Perlindungan Satwa di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/27060154/proboscis-monkey-1-1536x1024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133987</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam manusia. Di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bekantan ditemukan mati terbakar pada Minggu, 13 September 2026. Tragedi ini memperlihatkan rentannya satwa ketika api mengepung habitat mereka. Alamsyah, Kepala Desa Balimau, menyebut warga dan petugas menemukan 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/">Belasan Bekantan Mati Terbakar Akibat Karhutla, Peringatan Perlindungan Satwa di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam manusia. Di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bekantan ditemukan mati terbakar pada Minggu, 13 September 2026. Tragedi ini memperlihatkan rentannya satwa ketika api mengepung habitat mereka. Alamsyah, Kepala Desa Balimau, menyebut warga dan petugas menemukan 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh dewasa dan satu anakan. Sementara itu, BKSDA Kalimantan Selatan mencatat 12 bekantan terdampak, bersama satu ular piton dan satu king kobra. Alamsyah menduga api berasal dari desa tetangga, lalu menyeberangi sungai melalui percikan yang terbawa angin. Vegetasi kering di padang rumbia membuat kobaran cepat membesar. Bekantan diperkirakan kesulitan melarikan diri karena api berada di satu sisi, sementara petugas dan warga berkumpul di sisi lain. Pemadaman juga terkendala sumber air yang mengering. Warga hanya memiliki pompa portabel sehingga harus meminta bantuan petugas dan kendaraan tangki dari luar desa. Menurut Alamsyah, permintaan perlindungan habitat bekantan sudah disampaikan sejak 2016, tetapi belum mendapat respons. Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya muncul setelah satwa mati. Ancaman serupa membayangi habitat bekantan di Desa Sungai Rutas Hulu dan Sungai Rutas, Kabupaten Tapin. Meski tidak ada bekantan dilaporkan menjadi korban dalam kebakaran terbaru, vegetasi yang menjadi tempat hidup dan sumber pakan mereka ikut terbakar. Pemulihannya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Sepanjang Januari hingga 15 September 2026, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 3.256 kejadian kebakaran dengan luas terdampak 21.696 hektar. Di tengah kebakaran yang meluas, perlindungan satwa menghadapi persoalan pembagian kewenangan. Data BKSDA pada 2025 mencatat 3.757 bekantan tersebar di 11 kabupaten/kota. Hanya 1.281 individu berada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laut Sargasso, Satu-satunya Laut Tanpa Pantai di Dunia dengan Hutan Terapung di Samudra Atlantik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 09:14:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/23090033/00_GP0SU0O4I_PressMedia-2500px-1920x0-c-default-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134058</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hampir semua laut di dunia dapat dikenali dari garis pantainya. Laut Jawa dibatasi oleh Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, sementara Laut Mediterania dikelilingi oleh Eropa, Afrika, dan Asia Barat. Di Indonesia, banyak laut lain yang batasnya ditentukan oleh gugusan pulau, seperti Laut Banda dan Laut Flores. Bahkan laut yang terbuka ke samudra, seperti Laut Karibia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/">Laut Sargasso, Satu-satunya Laut Tanpa Pantai di Dunia dengan Hutan Terapung di Samudra Atlantik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hampir semua laut di dunia dapat dikenali dari garis pantainya. Laut Jawa dibatasi oleh Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, sementara Laut Mediterania dikelilingi oleh Eropa, Afrika, dan Asia Barat. Di Indonesia, banyak laut lain yang batasnya ditentukan oleh gugusan pulau, seperti Laut Banda dan Laut Flores. Bahkan laut yang terbuka ke samudra, seperti Laut Karibia, tetap memiliki daratan di sebagian sisinya, baik berupa benua maupun rangkaian pulau. Dalam pemetaan resmi, garis pantai dan garis khayal yang menghubungkan tanjung atau pulau terluar menjadi acuan utama untuk menandai di mana sebuah laut berakhir. Di Samudra Atlantik Utara, ada satu laut yang tidak memenuhi ketentuan tersebut. Laut Sargasso membentang sekitar 1.100 kilometer lebarnya dan 3.200 kilometer panjangnya di sebelah timur Amerika Utara, dengan Kepulauan Bermuda berada di dalam kawasannya. Batasnya ditentukan oleh empat arus, yaitu Arus Teluk atau Gulf Stream di barat, Arus Atlantik Utara di utara, Arus Kenari di timur, dan Arus Khatulistiwa Utara di selatan. Digerakkan oleh angin pasat, angin barat, dan rotasi Bumi, keempat arus itu berputar searah jarum jam dan membentuk pusaran subtropis Atlantik Utara. Laut Sargasso berada di bagian tengah pusaran ini, dengan air yang relatif tenang, lebih asin daripada perairan di sekitarnya, dan sangat jernih karena miskin nutrisi. Karena posisi arus bergeser dari waktu ke waktu, batas dan luas laut ini juga tidak pernah benar-benar tetap. Tanpa bersentuhan dengan daratan mana pun, laut ini disebut sebagai satu-satunya laut di dunia tanpa pantai. Hamparan Sargassum sebagai Tempat Berlindung dan Memijah Nama laut ini berasal dari rumput laut cokelat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Kekeringan Hantui Nusa Tenggara Barat  </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 02:40:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fathul Rahman]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22155947/Foto-C-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134029</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang mulai menyebabkan kekeringan di berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tiga kabupaten di NTB, yakni, Bima, Sumbawa dan Lombok Timur,  menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Sedangkan enam kabupaten dan kota lainnya  status siaga darurat kekeringan. Status siaga darurat pemerintah tetapkan untuk memaksimalkan mitigasi dengan tengah ancaman kekeringan yang kian meluas. Sementara tanggap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/">Kemarau Panjang, Kekeringan Hantui Nusa Tenggara Barat  </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang mulai menyebabkan kekeringan di berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tiga kabupaten di NTB, yakni, Bima, Sumbawa dan Lombok Timur,  menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Sedangkan enam kabupaten dan kota lainnya  status siaga darurat kekeringan. Status siaga darurat pemerintah tetapkan untuk memaksimalkan mitigasi dengan tengah ancaman kekeringan yang kian meluas. Sementara tanggap darurat, pemerintah maksudkan agar penanganan bencana kekeringan yang terjadi lebih maksimal. Sadimin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyatakan, berdasar hasil monitoring dampak bencana kekeringan sementara tercatat 66 kecamatan, 227 desa, 84.837 keluarga dan 263.310 jiwa. Hingga 10 September 2026, tercatat 3.3 juta liter air bersih telah BPBD distribusikan ke berbagai daerah. Lombok Timur, kata Sadimin,  menjadi lokasi terparah dampak kekeringan kali ini dengan 92.999 jiwa dan 41 desa terdampak. Menyusul Sumbawa dengan 26 desa 10.703 keluarga/42.728 jiwa di 13 kecamatan terdampak. Lalu, Kabupaten Bima dengan 14 kecamatan, 42 desa dan 9.222 keluarga atau 28.894 jiwa terdampak. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,’’ katanya. Untuk kabupaten,kota yang berstatus siaga darurat, di Kabupaten Lombok Tengah  tercatat sembilan kecamatan, 48 desa dengan warga terdampak 11.232 keluarga,33.695 jiwa. Di Kabupaten Dompu tercatat empat kecamatan, 10 desa dengan warga terdampak  3.235 keluarga atau 8.940 jiwa. Di  Lombok Utara, lima kecamatan, 18 desa dengan 5.315 keluarga  atau 17.855 jiwa terdampak. Lombok Barat enam kecamatan, 21 desa, 7.474 keluarga, 27. 090 jiwa. Kota Bima ada empat kecamatan, 12 desa dengan warga terdampak  1.129 keluarga, 3.287 jiwa. Debit air di bendungan di Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara telah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Tandang Kembali Terekam Setelah 30 Tahun Tak Terpantau di Thailand, Bagaimana di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/19090827/Kucing-tandang2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133986</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor kucing tandang betina berjalan perlahan pada malam hari di hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan. Seekor anak mengikuti di belakangnya. Momen yang terekam kamera jebak pada akhir 2025 itu menjadi catatan penting karena spesies tersebut tidak terpantau di Thailand selama 30 tahun. Kucing tandang (Prionailurus planiceps) terakhir kali tercatat di negara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/">Kucing Tandang Kembali Terekam Setelah 30 Tahun Tak Terpantau di Thailand, Bagaimana di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor kucing tandang betina berjalan perlahan pada malam hari di hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan. Seekor anak mengikuti di belakangnya. Momen yang terekam kamera jebak pada akhir 2025 itu menjadi catatan penting karena spesies tersebut tidak terpantau di Thailand selama 30 tahun. Kucing tandang (Prionailurus planiceps) terakhir kali tercatat di negara itu pada 1995. Penemuan kembali ini merupakan hasil survei Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand bersama organisasi konservasi Panthera. Sebanyak 13 rekaman diperoleh sepanjang 2024 dan 16 rekaman tambahan pada 2025. Kemunculan induk bersama anaknya mengindikasikan bahwa kucing tandang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di hutan gambut Thailand Selatan. “Penemuan kembali ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika sains dan perlindungan kuat berpadu,” kata Kritsana Kaewplang, Direktur Panthera Thailand. Kucing tandang merupakan salah satu kucing liar yang paling sedikit dipahami. Tubuhnya mungil dengan berat dewasa sekitar 1,5-2,5 kilogram. Namanya berasal dari bentuk kepala yang datar dan memanjang, dengan mata besar serta jarak antar mata yang sempit. Berbeda dengan kebanyakan kucing, spesies ini menjalani kehidupan semiakuatik. Jari-jarinya berselaput, sedangkan giginya pipih dan runcing untuk menangkap ikan serta katak. Habitatnya berada di sekitar sungai, rawa gambut, dan mangrove. Populasi globalnya diperkirakan tidak lebih dari 2.500 individu dewasa. Persebarannya meliputi Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, dan Thailand Selatan. IUCN menetapkannya berstatus Genting, sedangkan CITES memasukkannya dalam Apendiks I. Penemuan di Thailand juga menjadi pengingat penting bagi Indonesia. Kalimantan dinilai sebagai benteng utama kucing tandang di dunia, disusul Sumatera. Namun, penelitian mengenai keberadaannya di Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>PTUN Jakarta Putuskan Data Izin Nikel Raja Ampat yang Kena Cabut Terbuka bagi Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 16:40:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230835/GP0SU5K08_Medium-res-1200px-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134039</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan Indonesaia, Kelautan perikanan, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Angin segar keterbukaan data pemerintah sedikit berhembus pada pertengahan September ini. Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 14 September 2026, menguatkan keputusan Komisi Informasi tertanggal 10 Juni lalu soal keterbukaan dokumen pencabutan empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Raja Ampat. Dalam putusan PTUN Jakarta Nomor 242/G/KI/2026/PTUN.Jkt ini menegaskan kalau informasi empat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/">PTUN Jakarta Putuskan Data Izin Nikel Raja Ampat yang Kena Cabut Terbuka bagi Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Angin segar keterbukaan data pemerintah sedikit berhembus pada pertengahan September ini. Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 14 September 2026, menguatkan keputusan Komisi Informasi tertanggal 10 Juni lalu soal keterbukaan dokumen pencabutan empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Raja Ampat. Dalam putusan PTUN Jakarta Nomor 242/G/KI/2026/PTUN.Jkt ini menegaskan kalau informasi empat IUP itu merupakan informasi publik alias bukan rahasia dan menolak keberatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Greenpeace Indonesia sebagai pengaju gugatan informasi menyatakan putusan itu menjadi kemenangan penting dalam sengketa informasi yang menelan waktu berbulan-bulan. Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia kepada Mongabay pada Senin (14/5/26) mengatakan, ada beberapa hal dalam putusan itu. Pertama, menolak keberatan dari BKPM. Kedua, menguatkan putusan Komisi Informasi Pusat. Ketiga, menghukum BKPM atau pemohon biaya perkara Rp419.000. “Bagi pihak yang tidak sependapat dengan putusan ini tetap dapat mengajukan upaya hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Anggi bilang, Greenpeace masih menunggu apakah BKPM akan mengajukan kasasi dalam tenggat waktu peraturan perundangan. Greenpeace menilai,  keputusan majelis hakim ini sudah sesuai keinginan publik.  “Segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kelola  sumber daya alam seperti perizinan usaha harus transparan.” Karena itu,  berkaitan dengan dampak-dampak atau risiko-risiko yang akan atau mungkin timbul dari tata kelola itu, kalau tertutup khawatir Raja Ampat akan makin rusak. “Kemudian juga ada izin-izin baru yang mungkin akan terbit jika tidak dilakukan perubahan ke arah tata kelola yang lebih baik,” kata Anggi. Laguna Wayag, Raja Ampat, Papua Barat. Foto : Konservasi Indonesia Tanya dokumen pencabutan Sengkarut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>