Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]
Dua Warga Taliabu jadi Korban Ular Piton, Habitat Terganggu?
Editor26 Sep 2026
Elizabeth Yamalu pergi untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026. Ketika tak kunjung pulang, suaminya, Menjamin Lanto, pergi mencari. Dia menemukan Elizabeth dalam lilitan piton besar. Elizabeth meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, seorang warga Desa Padang juga tewas setelah diserang piton saat hendak pergi ke kebun.
Dua peristiwa itu membuat warga waswas. Mereka mengatakan piton berukuran besar semakin sering ditemukan di kebun, dekat permukiman, sungai, bahkan kantor pemerintahan. Yulius Lait, tokoh adat Desa Natang Kuning, merasa kemunculannya berbeda dari yang pernah ia saksikan. “Sepanjang usia hidup ini, dari muda sampai tua belum ada ular yang keluar sebanyak ini. Apalagi sampe telan orang,” katanya.
Sejumlah warga menduga perubahan hutan di sekitar desa berkaitan dengan kemunculan piton. Desa Padang, misalnya, berbatasan dengan kawasan konsesi pertambangan. Namun, dugaan tersebut masih perlu diuji.
Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara mencatat perubahan tutupan hutan Taliabu seluas 38.257,4 hektar sepanjang 2001–2025. Menurut Irsandi Hidayat, Koordinator JPIK Malut, pembukaan hutan untuk pertambangan dan kegiatan perusahaan kayu dapat mengubah habitat serta memutus hubungan antara kawasan yang digunakan satwa untuk bergerak.
“Ketika ruang jelajah semakin menyempit, satwa berpotensi keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman,” ujarnya. Meski demikian, data perubahan tutupan hutan itu belum membuktikan penyebab setiap kemunculan piton di desa.
Yeni Purnamasari dari BKSDA Maluku-Malut mengatakan berkurangnya mangsa di hutan dapat mendorong piton mencari makanan di tempat lain. BKSDA belum memiliki data resmi mengenai jumlah piton maupun lokasi habitatnya di Taliabu. Karena itu, perubahan pergerakan satwa tersebut belum dapat dipastikan dari pemantauan populasi.
Qomar Arif Madi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Taliabu, juga belum menyimpulkan pertambangan sebagai penyebab langsung. Pemerintah daerah tengah mendata lokasi dan waktu kemunculan piton. Menurutnya, titik-titik itu perlu dibandingkan dengan batas konsesi, pembukaan lahan, tutupan hutan, dan habitat satwa. “Kami belum memiliki data pembanding yang cukup dan terverifikasi,” katanya.
Pihak PT Adidaya Tangguh membantah kemunculan piton di sekitar desa disebabkan aktivitas tambangnya dan menduga cuaca panas turut berperan. Sementara itu, Much. Hidayah Marasabessy, pengajar kehutanan Universitas Khairun, mengatakan kerusakan habitat dan berkurangnya mangsa dapat memengaruhi pergerakan piton, tetapi perubahan cuaca juga mungkin berpengaruh.
Bagi warga Taliabu, ancaman perjumpaan dengan piton sudah terasa. Menjelaskan penyebabnya memerlukan data tentang satwa dan perubahan lahan, agar dugaan yang muncul setelah dua kematian tersebut dapat diperiksa.
Foto utama: Ular piton memiliki kemampuan melilit mangsa yang kuat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.
Bagaimana Cara Semut Temukan Jalan Pulang ke Sarang dengan Jalan Mundur?
Editor26 Sep 2026
Seekor semut gurun spanyol (Cataglyphis velox) menemukan makanan yang terlalu besar untuk dibawa dengan rahangnya. Agar makanan itu sampai ke sarang, ia menyeretnya sambil berjalan mundur. Tetapi, bagaimana semut tahu arah pulang ketika kepalanya tidak menghadap ke tujuan?
Awalnya, ilmuwan menduga semut harus sesekali berbalik untuk melihat jalur yang sudah dikenalnya. Perilaku itu memang terlihat: semut kadang meletakkan makanannya, menghadap ke arah perjalanan, lalu kembali menyeretnya. Namun, penelitian terhadap Cataglyphis velox menunjukkan bahwa semut juga menggunakan informasi yang dikumpulkan selama perjalanan menjauh dari sarang.
Saat berjalan maju, semut dapat mengingat tikungan, belokan, dan langkah yang telah ditempuh. Dalam artikel, cara ini disebut “integrasi jalur”. Semut juga menggunakan sudut matahari untuk menentukan posisinya dan mengenali patokan di sepanjang perjalanan. Pertanyaan bagi peneliti ialah bagaimana informasi tersebut digunakan ketika semut harus pulang dengan berjalan mundur.
Sebastian Schwarz dan rekan-rekannya mengamati semut yang telah berjalan dari sarang menuju makanan pengumpan di gurun. Mereka kemudian memberi semut remah kue berukuran besar untuk diseret pulang. Di beberapa percobaan, peneliti mengubah pemandangan di sepanjang jalur dengan menempatkan kantong plastik hitam dan terpal.
Perubahan itu memengaruhi kapan semut berhenti untuk melihat arah perjalanan. Semut yang menghadapi pemandangan baru berbalik setelah menyeret makanan sekitar 3,2 meter di jalur sepanjang delapan meter. Sebaliknya, semut di jalur yang biasa dilalui dapat bergerak hampir enam meter tanpa berbalik.
Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa semut memanfaatkan petunjuk visual di sekitarnya saat berjalan mundur. Menurut Schwarz, mereka cenderung mengambil informasi dari samping dan belakang ketika berjalan menjauh dari sarang. “Kemudian menggunakannya untuk membimbing kembali ketika menyeret makanan.”
Sebagian semut dalam percobaan memang tersesat. Namun, ada pula yang tetap menemukan sarang meski tidak dapat mengikuti jalur utamanya. Peneliti menduga sudut matahari turut membantu mereka menentukan arah. Mata semut yang memiliki sudut pandang luas juga memungkinkan mereka melihat lingkungan di luar arah hadap tubuhnya.
Pauline Fleischmann, ahli neuroetologi yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut pengamatan ini sebagai “eksperimen perilaku luar biasa”. Bagi peneliti, kemampuan semut menyeret makanan sambil bernavigasi mundur membuka pertanyaan lanjutan: petunjuk visual mana yang paling mereka andalkan? Schwarz berencana menguji hal itu dengan mengubah apa yang dapat dilihat semut selama bergerak.
Foto utama: Semut membawa makanannya. Foto: Wikimedia Commons.
Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan.
“Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran.
Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan batu hijau di pesisir. Batu itu dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Satu karung berisi 25 kilogram batu dihargai sekitar Rp20.000.
Imran mulai menangkap gurita di Maurongga pada 2015. Ia mempelajari pekerjaan itu ketika tinggal di kampung asalnya, di pantai selatan Kota Ende. Setelah menetap di Maurongga, ia melihat peluang yang belum digarap nelayan setempat. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,” ujarnya.
Pada 2019, setelah pendampingan Yayasan Tananua, jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang, dua di antaranya perempuan. Nelayan kemudian memperoleh bantuan perahu. Data Yayasan Tananua Flores menunjukkan gurita menjadi hasil tangkapan terbesar Maurongga pada 2025, yakni 479,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp16,07 juta.
Untuk menjaga perairan tempat mereka bekerja, nelayan menerapkan sistem buka tutup wilayah tangkap melalui skema Loi. Ismail Isman, ketua kelompok nelayan LMMA Embo Angi, menjelaskan bahwa perairan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian ditutup selama tiga bulan, sementara nelayan tetap bisa mencari gurita di bagian lainnya. Penutupan lalu dilakukan bergantian.
Menurut Imran, sistem itu memberi waktu bagi gurita untuk berkembang biak. Ia mengatakan berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat dan rata-rata bisa mencapai tiga hingga empat kilogram per ekor.
Namun, nelayan Maurongga masih menghadapi praktik penangkapan yang merusak. Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi, mengatakan kelompoknya kerap berhadapan dengan nelayan luar daerah yang menggunakan bom dan potasium. Imran menyebut ada pula yang menebarkan racun serangga ke perairan.
Kelompok nelayan terus mengawasi wilayah tangkap dan melaporkan pelaku kepada aparat. Pekerjaan itu berisiko: menurut mereka, pelaku dapat bertindak agresif dan kerap membuang barang bukti ketika patroli datang.
“Kita harus jaga laut, ladang uang kita,” kata Nuhu. Yayasan Tananua Flores juga terus mendampingi nelayan, termasuk melalui edukasi tentang alat tangkap yang tidak merusak serta dampak sampah bagi laut.
Foto utama: Pesisir pantai Desa Maurongga, Kecamatan Nangapanda,Kabupaten Ende yang memiliki potensi gurita. Foto : Muhammad Riszky/Jaring Nusa.
Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup
Editor25 Sep 2026
Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis.
“Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan seperti nyatoh, ulin, dan ara,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Pohon-pohon itu menjadi bagian dari lingkungan yang masih dapat digunakan kukang, sementara habitatnya di tempat lain menghadapi perubahan.
Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2017 hingga November 2018, Randi menemukan kukang bangka di sekitar berbagai jenis pohon. Di antaranya karet, petai, nangka, cempedak, pisang, durian, duku, rambutan, dan pelawan. “Semua pohon tersebut terdapat di kelekak,” jelasnya. Penelitian itu dilakukan di sejumlah desa di Kabupaten Bangka.
Hubungan kukang dengan pepohonan tidak berhenti pada kebutuhan akan tempat hidup. Menurut Randi, kukang turut membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan di alam. Satwa ini juga berperan mengendalikan serangga yang dapat menyerang tanaman produktif milik masyarakat maupun tumbuhan hutan. Dengan demikian, keberadaan kukang berkaitan pula dengan kelangsungan tumbuhan di sekitarnya.
Meski demikian, belum ada data pasti mengenai jumlah kukang bangka yang hidup di alam. IUCN Red List menempatkannya dalam kategori Kritis dan menyoroti hilangnya habitat akibat deforestasi, terutama perluasan perkebunan sawit. Randi mengatakan perubahan hutan dan kelekak menjadi perkebunan, wilayah tambang, serta permukiman mengancam kukang di Pulau Bangka.
“Secara umum, populasinya menurun dan terancam, akibat perubahan habitat menjadi perkebunan sawit, daerah tambang, dan perumahan,” ujarnya. Selain kehilangan tempat hidup, kukang bangka menghadapi ancaman dari pemanfaatannya sebagai media praktik sihir. Randi menyebut minyak kukang digunakan untuk tujuan tersebut di Pulau Bangka.
Langka Sani, Ketua Pusat Penangkaran Satwa Alobi Foundation, mengatakan perburuan serta jual beli kukang bangka melalui media sosial juga masih terjadi. Dalam tiga tahun menjelang 2022, PPS Alobi menerima sekitar 50 kukang bangka, baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Sebagian besar merupakan serahan masyarakat. Pada Februari 2022, Alobi bersama sejumlah pihak melepasliarkan empat kukang bangka di kawasan Hutan Lindung Bangka Island Outdoor.
Bagi Langka, penyelamatan kukang tidak cukup berhenti ketika satwa itu dilepasliarkan. Pohon dan kawasan tempatnya hidup juga perlu dijaga. “Hal terpenting perlindungan habitat itu sendiri. Kelekak harus dipertahankan dan dilestarikan,” katanya.
Kelekak menunjukkan bahwa tanah warisan masyarakat dapat menyediakan tempat bagi pohon hutan, tanaman yang dimanfaatkan warga, dan kukang bangka sekaligus. Ketika kelekak berubah menjadi penggunaan lahan lain, kukang kehilangan bagian dari ruang hidup yang selama ini masih tersisa baginya.
Foto utama: Kukang bangka [Nycticebus bancanus] yang berada di PPS Alobi, Bangka, Kepualauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.
Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede
Editor24 Sep 2026
Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan.
Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang membuat mata air menyusut dan sawah mengering. Melalui Nunas Nede, mereka memohon hujan sekaligus mengingatkan diri untuk menjaga sumber air.
Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di desa. Air tersebut kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Warga membawa hasil bumi, berdoa, berzikir, lalu menikmati makanan bersama.
Amaq Marni, pemangku adat berusia 73 tahun, mengatakan ritual ini mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan.
“Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya.
Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bersama. Warga membersihkan kawasan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran, serta menanam pohon. Anak muda membantu membawa perlengkapan dan membersihkan aliran yang tersumbat.
Masyarakat juga mempertahankan aturan tidak tertulis, termasuk larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan. Pepohonan di sekitar mata air dijaga karena warga memahami hubungannya dengan keberlangsungan pasokan air.
“Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” ujar Marni.
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan musim menambah kecemasan petani. Hujan semakin sulit diperkirakan, debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam menjadi tidak menentu.
“Dulu musim gampang ditebak. Sekarang kadang hujan terlambat, kadang terlalu deras. Kami petani jadi bingung,” kata Amaq Sati, yang mengikuti ritual sejak kecil.
Muhamad Kadri, Kepala Desa Kesik, mengatakan sebagian besar lahan pertanian desa bergantung pada irigasi dari mata air alami. Karena itu, kehilangan sumber air berarti kehilangan penghidupan.
Nunas Nede sekaligus menjadi ruang mempererat gotong royong dan mewariskan pengetahuan lingkungan. Anak-anak serta remaja diajak mengikuti prosesi, membersihkan mata air, dan mendengarkan cerita para tetua tentang sejarah sumber air desa.
“Kalau anak muda tidak dikenalkan sejak sekarang, nanti mereka hanya tahu air keluar dari keran tanpa tahu bagaimana menjaganya,” kata Kadri.
Meski mulai menarik perhatian pengunjung dari luar desa, warga berusaha mempertahankan makna ritual agar tidak berubah menjadi sekadar pertunjukan wisata. Bagi mereka, merawat Nunas Nede berarti menjaga pengetahuan leluhur tentang air, pepohonan, dan pertanian. Tradisi itu terus hidup melalui pekerjaan bersama untuk memastikan mata air tetap mengalir bagi kehidupan desa dan generasi mendatang.
Foto utama: Prosesi ritual Nunas Nede di Lombok. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia.
Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet
Editor24 Sep 2026
Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah.
“Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika itu. Individu dewasa yang ditemuinya berukuran sekitar 40 sentimeter, bertubuh ramping, dan tidak menunjukkan perilaku agresif.
Pola tubuhnya yang samar membantu ular ini menyatu dengan serasah di lantai hutan. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, membenarkan bahwa kemampuan tersebut membuatnya sulit ditemukan. “Kamuflasenya memang sangat baik,” ujarnya.
Selain penampilannya, cara ular ini makan juga menarik perhatian. Ular siput jerapah memiliki rahang yang beradaptasi untuk mengambil tubuh siput dari dalam cangkangnya. Leonardus menggambarkannya, “Seperti menyedot daging siput dari cangkangnya.” Kebutuhannya akan mangsa dan kondisi tempat hidup tertentu membuat ular ini peka terhadap perubahan di sekitarnya.
“Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” kata Leonardus. Karena itu, perjumpaannya di antara serasah tebal dan tanah yang lembab memberi gambaran tentang tempat hidup yang dibutuhkan ular tersebut.
Namun, temuan satu ular tidak cukup untuk menyatakan seluruh hutan berada dalam kondisi sehat. Ganjar mengingatkan, “Bila hanya satu spesies, agak susah dijadikan kesimpulan umum sebagai indikator kesehatan hutan.” Menurutnya, penilaian seperti itu perlu melihat kumpulan spesies atau komunitas.
Ganjar juga meluruskan anggapan bahwa ular siput jerapah hanya hidup di pegunungan. Meski dijumpai di Gunung Slamet, catatan koleksi dan temuan lapangan menunjukkan spesies bernama ilmiah Aplopeltura boa ini juga dapat ditemukan di dataran rendah, bahkan gambut.
Bagi Leonardus, ancamannya tidak terbatas pada perubahan alami. Ia melihat longsor di beberapa titik jalur observasi, sementara aktivitas manusia turut menjadi perhatian. “Beberapa laporan menyebut ular ini kadang diburu untuk dipelihara karena bentuknya yang unik.”
Perjumpaan malam itu memperlihatkan betapa mudahnya ular siput jerapah luput dari pandangan. Di balik kamuflasenya, kelangsungan hidupnya berkaitan erat dengan kondisi tempat ia berlindung dan mencari makan.
Foto utama: Ular siput jerapah yang jago kamuflase di lantai hutan. Foto: Dok. Leonardus Adi Saktyari.
Berlangganan
Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam