- Koro pedang (Canavalia ensiformis) atau dalam bahasa Aceh kacang parang kini mulai kembali menghiasi lahan-lahan pertanian petani di Aceh Besar, Aceh Selatan, hingga Simeulue.
- Sebelumnya, kacang parang hanya sebagai tanaman liar karena keterbatasan pengetahuan masyarakat. Namun, kini masyarakat mulai serius membudidayakan sebagai pengganti kedelai impor.
- Koro pedang menjadi sumber pangan lokal yang tahan iklim, terutama saat musim kemarau. Sehingga, komoditas ini menjadi potensial sebagai alternatif kacang kedelai.
- Tak hanya mendukung kembalinya pangan lokal, produksi tempe koro ini telah memberdayakan para perempuan di Alue Naga, Banda Aceh, untuk memiliki penghasilan mandiri dengan jam kerja yang pendek dan fleksibel.
Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar, kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman ini.
Sejak April 2026, Ruhani mulai menanam koro di kebunnya seluas satu hektar secara tumpang sari, seperempat lahan terdiri dari 2.500 batang koro, sela-selanya ada kunyit, lengkuas, nanas, cabai, kacang tanah dan jenis tanaman lain.
“Pokoknya apa yang ada, kita tanam di sini, sambil menunggu koro panen, juga bisa panen yang lain,” katanya.
Dulu, warga menganggap kacang parang sebagai tanaman liar karena belum banyak yang mengetahui cara mengolahnya dan belum punya nilai ekonomi. Hanya sebagian kecil warga Lamteuba yang mengolah menjadi sayur, menumis dengan u-neulheu—bumbu kuliner khas Aceh yang terbuat dari kelapa parut yang mereka sangrai hingga kecoklatan dan berminyak, lalu menggilingnya sampai halus.
“Kami (sebelumnya) mengenal jenis koro yang bijinya berwarna hitam. Buahnya sama, daunnya sama, bijinya yang warnanya hitam. Bahasa kami reuteuk kacang parang,” katanya, Selasa (18/8/26).

Memasuki bulan kelima, dia bisa memanen perdana sekitar 30 kilogram pada akhir Juli, lalu panen kembali 80 kg dan masih terus berlanjut.
Hampir sama seperti Ruhani, Cut Badriah, menanam koro sekitar akhir April 2026. Dia menanam di kebun seluas satu hektar dan berdampingan dengan jagung seluas empat hektar.
“Tanam koro ini baru sekali aja (tanam), udah bisa panen. Jadi senang, ada ternyata hasilnya, nggak begitu capek lagi,” katanya saat ikut membantu memanen koro pedang di kebun Ruhani, Selasa, (18/8/26).
Sejak 2025, ada lebih dari 150 petani yang membudidayakan koro pedang tersebar di Kabupaten Aceh Besar. Ruhani menjadi satu dari delapan orang petani di Lamteuba. Mereka menjual hasil panen kepada Yayasan Rumoh Pangan Aceh, yayasan ini awalnya terbentuk sebagai solusi untuk menghidupkan kembali pangan alternatif dan ketergantungan pada impor kedelai.
Ruhani bilang tanaman ini bisa jadi pengganti kedelai karena memiliki ekonomi tinggi, lebih tahan iklim dan perawatannya tidaklah sulit.

Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Solusi ketergantungan impor kedelai
Data Kementerian Pertanian menyebutkan, rata-rata produksi kedelai nasional dalam lima tahun terakhir mencapai 227.000 ton per tahun dengan luas tanam 136.000 hektar. Padahal, proyeksi kebutuhan mencapai 2,7 juta ton. Setidaknya, 95% kebutuhan dalam negeri mengandalkan impor.
Data Januari-Juli 2026, Kementan menyebutkan Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 5,84 juta ton atau mencapai USD2.5 Miliar.
Di Indonesia, daerah yang paling berkontribusi terhadap produksi kedelai yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sementara Aceh hanya berkontribusi sekitar 1,9% pada periode 2021-2025.
Basis Data Sistem Pertanian (BSDP) menyebutkan, produksi kedelai Aceh pada 2021 hanya 882 ton kedelai. Jumlah merangkak naik 1.786 ton pada 2022, lalu naik lagi 11.604 ton pada 2023. Namun, pada 2024, jumlah turun menjadi 7.101 ton dan makin merosot hingga sekitar 26 ton pada 2025.
Azanuddin Kurnia, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menyebutkan produksi kedelai di Aceh masih terbilang rendah karena faktor harga kurang kompetitif di tingkat petani. Tahun ini, ada calon petani dan calon lahan 5.000 hektar untuk komoditas kedelai, namun hanya ada 1.500-2.000 hektar saja yang ada.
“Minat petani kurang karena harganya kurang menguntungkan dibandingkan padi dan jagung,” ujarnya kepada Mongabay.
Sebelumnya, Ruhani juga menggarap berbagai jenis kacang-kacangan seperti kacang kedelai, kacang tanah, kacang panjang, dan banyak jenis tanaman lainnya. Sejak mengenal koro pedang, dia tak tanam kacang-kacangan yang lain karena seringkali tidak tahan panas dan hama.
“Saya nggak lanjut karena panennya juga nggak tentu dan buahnya banyak yang busuk,” ujarnya.
Langkah kecil Ruhani bersama petani lain pun makin pasti sejak ada Yayasan Rumoh Pangan Aceh (RPA) menggencarkan inisiatif tempe koro sejak Desember 2025. Mereka menampung hasil panen dan membina para petani untuk budidaya kacang koro pedang. Para mitra petani tersebar di delapan kabupaten dengan sentra utama berada di Aceh Besar. Ruhani menjadi salah satunya.
Rivan Rinaldi, Direktur Eksekutif RPA, menyebutkan, inisiatif RPA ini lahir dari keprihatinan atas tingginya ketergantungan pada kedelai impor yang rentan merugikan masyarakat. Terutama saat nilai tukar dolar naik dan ketersediaan minyak dunia terbatas, biaya produksi akan membengkak sehingga pangan lokal berprotein tinggi nan terjangkau ini akan makin sulit terakses.
Para mitra petani RPA ini menjadi pemasok bahan baku produksi tempe koro untuk Rumoh Tempe Nusa yang berlokasi di Alue Naga (Banda Aceh) dan Naga Umbang (Aceh Besar). Ini menjadi upaya mengurangi ketergantungan pada kedelai impor yang menjadi bahan baku utama industri tempe dan tahu nasional.
“Memang nggak ada lagi petani Aceh yang menanam kedelai tujuannya untuk men-support rumah-rumah tempe. Ini kan ironis ya, makanan tradisional kita tapi bahan bakunya itu bukan dari kita. Jadi tergantung sama impor,” katanya, Senin (10/8/26).
Setelah melalui rangkaian penelitian dan uji coba bersama berbagai pihak, RPA menemukan bahwa kacang koro pedang merupakan alternatif yang paling cocok untuk menggantikan kedelai di Aceh. Baik dari kandungan gizi dan rasa, koro pedang memiliki keunggulan ekologis dan ekonomis yang jauh lebih tinggi bagi petani lokal.

Tahan iklim dan punya produktivitas tinggi
Ruhani bilang, pergeseran masa tanam makin terasa selama dua tahun terakhir yang membuat tanaman menjadi rentan gagal panen. Pada Oktober-November, katanya belum turun hujan, padahal biasa September sudah hujan, lalu Februari-Agustus mengalami kemarau. Tahun ini, musim hujan datang lebih awal pada Juli.
Koro pedang, katanya, merupakan tanaman yang tahan iklim terutama kemarau panjang. Panen pertama hanya butuh waktu 100 hari dan tidak perlu menanam ulang hingga 1-2 tahun. Bahkan, bunga-bunga baru akan langsung bermunculan tiap kali hujan turun.
“Mudah kali tanam ini, nggak perlu disiram, tahan kering, tak perlu banyak pupuk. Kalau tanaman lain sudah kering kerontang karena lagi musim panas gini. Tapi, si koro tetap hidup subur,” katanya.
Keuntungan lain, Ruhani bilang koro menjadi tanaman yang hampir tidak ada hama. “Monyet nggak mau, bahkan kerbau pun masuk pun nggak makan, daunnya pun nggak dimakan, apalagi buahnya. Paling cuma diinjak-injak,” katanya.
Cut Badriah pun setuju. Dia membandingkan dengan tanaman jagung yang butuh pengawasan ekstra hampir seharian agar tidak dimakan monyet, babi, dan ternak lainnya.
“Kalau tanaman ini sepertinya tanpa ada pagar pun bisa ditanam, kalau jagung perlu jaga dari sore sampai malam. Bahkan, perlu bikin kawat listrik agar tidak dirusak babi.”
Elradhie Noor Ambia, mitra petani koro pertama RPA berpendapat sama kalau koro pedang sangat tahan iklim terutama musim kering seperti di Aceh Besar. Dia pun sedang mengembangkan penelitian terkait ketahan koro pedang terhadap banjir.
“Kemarau dia tahan, tapi genangan nggak tahan. Sejauh ini teori sama praktiknya hampir sama, kalau akarnya terganggu cepat mati. Kalau banjirnya cuma selewat, misalnya sehari atau setengah hari cuma genangan sebentar lalu hilang, kayaknya nggak masalah,” katanya, Rabu (12/8/26).

Dia uji coba di Blang Bintang, Aceh Besar, pada musim kemarau tahun lalu yang sangat kering tanpa hujan. Tanaman koro tetap bertahan hidup dan berbuah, meski produktivitasnya menurun.
“Paling satu batang itu hanya dapat 1-2 ons dari potensinya sebenarnya itu bisa sampai 1 kg per batang,” katanya.
Meski begitu, di tengah musim yang tak menentu, Rivan bilang produktivitas koro lebih tinggi daripada kedelai. Kedelai lokal, misal, bisa panen satu ton per hektar dengan perkiraan harga Rp15.000 per kg. Sementara itu, koro pedang dengan perawatan jauh lebih mudah mampu menghasilkan produktivitas 3-7 kali lipat lebih banyak tergantung tingkat perawatan.
Jika petani memanen tiga ton koro per hektar dengan harga Rp7.000 per kg, petani sudah mengantongi Rp21 juta. Hasil panen koro justru lebih tinggi karena produktivitas melimpah. “Akhirnya, harganya tetap bisa ditekan agar bersaing di pasaran,” kata Rivan.
Meskipun begitu, dia lihat pengembangan tempe koro pedang ini masih dalam tahap pengenalan kepada masyarakat. Masih ada perbedaan rasa antara tempe dari kedelai dan koro pedang. Rasa tempe koro lebih lembut dan lemak. “Belum semua lidah masyarakat kita beradaptasi dengan rasa ini,” katanya.
Karena itu, tempe koro yang mereka pasarkan selama ini merupakan campuran 70% kedelai dan 30% koro. Sementara, produksi tempe 100% kacang koro hanya berdasarkan pesanan.
“Sebelum menghasilkan tempe, kita lakukan riset dulu. Ternyata berdasarkan uji organoleptik, orang-orang lebih suka yang campuran untuk dimakan sehari-hari. Tapi sekarang kita sudah mulai produksi yang 100% kacang koro, cuma pasarnya baru terbatas,” katanya.
Hingga kini, Rivan bilang permintaan alternatif kedelai ini sudah melampaui kapasitas pasokan koro dari petani. Dalam per bulan, mereka membutuhkan koro hingga 100-150 kg per hari dan menghasilkan tempe 22 ton per bulan.
“Jadi, kebutuhan kita tuh sangat tinggi. Sementara biji yang masuk masih di bawah itu,” kata Rivan.

Pemberdayaan ekonomi warga
Sejak menanam koro pedang, Ruhani merasakan dampak secara ekonomi dan lingkungan. Selain bisa menanam tumpang sari, budidaya ini, katanya bisa lebih menjanjikan karena modalnya kecil. Apalagi, RPA memastikan untuk menampung hasil panen, mulai harga Rp7.000-Rp10.000 per kg.
Dia membandingkan dengan kacang kedelai, masih perlu mengeluarkan mulai dari pupuk hingga pengepul untuk menjualnya. Dengan luasan kebun sama, dia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan menanam koro.
Tak hanya Ruhani, kehadiran Rumoh Tempe Nusa di Alue Naga juga membawa angin segar bagi para ibu rumah tangga. Yusniar, Samiyati, Nurmawati, dan Jamilah, misal, sehari-hari biasa mencari tiram, kini dia punya kesempatan bekerja menjadi perajin tempe.
Ada enam orang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pengrajin tempe di Rumoh Tempe Nusa. Mereka terbagi menjadi dua kelompok masing-masing, untuk sif pagi dan siang dengan durasi 2-5 jam. Shift pagi bertugas pemilahan biji serta perebusan, sedangkan pada shift siang bertanggung jawab untuk peragian, pengemasan, hingga penjemuran.

Setiap pagi, kecuali Minggu, Yusniar, pekerja sif pagi bertugas memilih, memilah dan merebus bahan baku tempe koro. Dia bersyukur bisa bekerja dengan jadwal yang fleksibel sambil mengurus anak dan rumah.
“Kalau kedelai, hari pertama direndam satu jam, lalu direbus dan direndam lagi sehari semalam. Sedangkan koro direndam sehari semalam, lalu direbus, baru direndam lagi sehari semalam. Sementara proses fermentasi tempe koro butuh waktu total dua hari dua malam,” katanya.
Hasil produksi dari tangan ibu-ibu Alue Naga ini kini rutin menyuplai berbagai kebutuhan tempe masyarakat. Setiap hari, mereka memproduksi 155-165 tempe koro, biasa juga meningkat hingga 460 untuk kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).
Rivan juga bilang, RPA juga membuka akses bagi siapa saja yang ingin menjadi agen penjual tempe koro ini. Tujuannya, terbuka peluang ekonomi seluas-luasnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Azanuddin Kurnia mengapresiasi upaya ini untuk menjadi pendapatan warga. Meski begitu, katanya sampai saat ini pemerintah belum bisa memberikan dukungan anggaran. Dia bilang, rencananya dinas akan meninjau langsung terkait kebun koro pedang untuk melihat potensi dan perbenihan yang ada.
*****