- Meski hidup di lingkungan ekstrem dengan curah hujan yang rendah, masyarakat di Desa Tapobali, Provinsi NTT, diberkahi oleh keragaman jenis kacang-kacangan yang menjadi penyelamat mereka saat diterpa gagal panen.
- Secara turun-temurun, mereka juga memiliki pengetahuan mengelola sejumlah jenis kacang beracun yang tumbuh liar di sekitar kebun dan hutan pegunungan berbatu yang kering di Selatan Pulau Lembata.
- Rata-rata jenis kacang-kacangan lokal NTT memiliki kisaran kadar protein sebesar 2,93–39,24 persen, dan merupakan komponen tertinggi setelah karbohidrat. Nutrisi ini penting bagi negara–negara berkembang yang akan, atau tengah menghadapi krisis pangan dan iklim.
- Di banyak negara termasuk Indonesia, jenis kacang-kacangan liar masih kurang dimanfaatkan. Memasukkan mereka dalam sistem pertanian regeneratif dapat menjadi jawaban atas praktik pertanian konvensional yang monokultur dan sering merusak kesuburan tanah.
Dari kejauhan, gemuruh ombak Laut Sawu terdengar jelas, menghantam pesisir berbatu di selatan Pulau Lembata. Suara itu bersahutan dengan ritme pukulan batu bulat yang saling beradu, memipihkan jagung yang baru diangkat dari perapian.
“Ini jagung titi,” kata Benedikta Ose, perempuan keturunan Suku Tobil -suku di Desa Tapobali, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), akhir Agustus 2025 lalu.
Secara adat, Suku Tobil diakui sebagai pemilik dan pengelola tunggal tanah di sekitar Tanjung Sarang Walet, sehingga hanya mereka yang berhak bermukim di sana. Mereka adalah sebagian kecil dari total 367 jiwa populasi Desa Tapobali (seluas 553 hektar).

Mayoritas penduduk lain, seperti Suku Fatobua (yang berstatus tuan tanah/pemilik ulayat), Suku Mudaj, dan Suku Ledun, menetap di Dusun Lelawiti dan Ina Tua Wato –tepat di kaki Gunung Ililabalekan (1018 mdpl).
Mirip seperti masyarakat Suku Lamalera di Desa Lamalera yang hanya berjarak dua kilometer ke arah timur, masyarakat Tapobali juga hidup multikultural. Selain berkebun, mereka mencari hasil laut berupa kerang dan siput.
“Lamalera itu memang orang laut, berkebun hanya sampingan. kami justru sebaliknya.”
Meski demikian, hasil laut pernah menyelamatkan masyarakat Tapobali dari kelaparan ekstrim sekitar1970-an.
“Saat itu, tumbuh mati semua. Beruntung kami punya laut. Bisa makan kerang, minum pakai tuak yang didapat dari pohon lontar,” kenang Benedikta Ose.
Hidup di Pulau Lembata harus siap menghadapi fenomena iklim tak tentu. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), wilayah Lembata memiliki tipe iklim sabana tropis yang ditandai musim kemarau lebih panjang (sekitar 7-8 bulan), serta curah hujan rendah tidak merata. Pada 2024, Kabupaten Lembata hanya mencatat 92 hari hujan setahun. Bulan basah hanya terjadi selama 4 bulan (Desember–Maret).
“Kondisi ini berpotensi menimbulkan bencana seperti kekeringan, kebakaran lahan, banjir, anomali iklim, bahkan pemanasan global yang dapat mengancam kehidupan.”
Topografinya bergunung dengan tanah berbatu yang tingkat kesuburannya rendah. Situasi ini membuat aktivitas pertanian masyarakat Lembata cukup terbatas. Bahkan, tanaman jagung dan padi lokal yang terkenal tahan banting di lahan kering sempat gagal panen.
Patrisius Jengi, tokoh adat di Dusun Walet mengatakan, pada 1969, 1971, 2003, dan 2014 lalu, kebun jagung dan padi tak kunjung berbunga karena diterpa kemarau panjang.
“Ini diperparah kebakaran yang sering terjadi di Gunung Ililabalekan. Kami percaya, kalau gunung terbakar, hama ulat pasti turun ke bawah, habis tanaman kami.”
Selain hasil laut, masyarakat Tapobali saat itu diselamatkan beragam jenis kacang-kacangan, yang termasuk keluarga Fabaceae (Leguminosae). Misalnya uta inan atau kacang hutan, uta knoing atau kacang nasi, serta kacang bengo yang terkenal beracun.
“Kacang-kacang ini tumbuh liar di sekitar ladang kami. Biasanya, dipanen saat musim kemarau.”
Masyarakat Tapobali serta NTT secara umum, dibekali berbagai pengetahuan untuk mengolah tanaman beracun. Misalnya, dalam mengolah kacang bengo, mereka diharuskan merebus tujuh kali, agar bisa dikonsumsi.
“Kacang ini hanya dikonsumsi keluarga, tidak dijual di pasar,” kata Jengi.

Dikutip dari katongntt.com, di Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, kacang ini disebut kacang ipe. Proses mengolahnya melalui tahapan panjang.
Dimulai dari mengupas kulit luar berbulu dengan hati-hati karena bisa menyebabkan gatal dan iritasi, direbus hingga matang (huna), kemudian disimpan dalam wadah anyaman daun lontar (teli dan ledi), lalu direndam di aliran sungai mengalir selama empat hari (na’in).
Di Tapobali, jenis tanaman legume seperti uta inan, uta tanah, uta knoing, kacang nasi, kacang bengo, serta jeis tanaman dari keluarga Poaceae (padi-padian), seperti kfar lefonen (jagung lokal), jali-jali (delaj), dan jewawut (fetem), juga digunakan sebagai bahan utama dalam kegiatan ritual “Ferulolo” (syukuran panen).
Menurut Ambrosia Ero, pemuda di Tapobali, berbagai tanaman pangan yang jadi bahan utama ritual syukuran, merupakan tanda bahwa leluhur ingin menunjukkan betapa penting dan bernilainya tumbuhan-tumbuhan tersebut.
“Tanpanya, mungkin masyarakat Tapobali tidak akan mampu melewati masa-masa krisis pangan atau gagal panen yang telah terjadi berkali,” lanjut Ambrosia Ero, atau akrab disapa Onci, anggota Gebetan–sebuah komunitas pemuda yang sejak tahun 2022, aktif melakukan campaign dan gerakan pelestarian pangan lokal di Desa Tapobali.

Nutrisi tinggi
Hingga saat ini, belum ada data pasti jumlah kacang-kacangan di NTT. Beberapa penelitian hanya fokus pada sejumlah kabupaten. Misalnya, disebutkan dalam buku Sebaran Tanaman Golongan Kacang-Kacangan (Leguminosae) di NTT (Ngginak, 2024), ditemukan 11 jenis kacang-kacangan di Kabupaten Timor Tengah, 5 jenis di Kabupaten Sabu Raijua, 7 jenis di Kabupaten Rote Ndao, dan 9 jenis di Kabupaten Sumba Timur.
Jenis tersebut adalah kacang kedelai, kacang tanah, kacang tanah, kacang hijau, kacang tunggak, kacang nasi, kacang turi, kacang kecipir, kacang arbila (jenis kacang bengo beracun), kacang buncis, kacang panjang, kacang merah, kacang komak, kacang gude, dan kacang bogor.
Setiap kacang memiliki banyak varietas dengan beragam warna, seperti kacang arbila yang memiliki 11 varietas yang salah satunya beracun.
“Biji yang tidak beracun memiliki karakter putih bintik hitam, putih bintik kuning, putih kecil, putih besar, putih bercak merah kecil, putih bercak merah besar, putih bercak hitam, merah bergaris putih, cokelat bergaris putih, dan merah,” tulis penelitian tersebut.

Penelitian Palimbong dan kolega (2018) mencatat, sekitar 29 jenis kacang-kacangan terdapat di NTT. Menariknya, dari lima jenis yang diteliti kandungan nutrisinya, tiga jenis kacang mengandung nutrisi tertinggi, yakni arbila merah (protein 18,55 persen), arbila biji besar (karbohidrat 76,16 persen), dan arbila biji loreng (lemak 1,85 persen).
“Hasil analisis ini dapat menjadi rekomendasi pengolahan makanan berbasis kacang-kacangan untuk meningkatkan nilai tambah dan nutrisi masyarakat,” tulis Palimbong dan kolega.
Temuan ini diperkuat hasil penelitian Naisali dan kolega (2023) yang menelusuri sejumlah kajian potensi protein kacang-kacangan di NTT. Hasilnya, rata-rata kacang-kacangan lokal memiliki kadar protein sebesar 2,93–39,24 persen, dan merupakan komponen tertinggi setelah karbohidrat.
Dalam kebudayaan masyarakat NTT, kacang-kacangan dimanfaatkan sebagai campuran bahan pangan utama seperti jagung. Namun, melihat potensi besar nutrisi yang terkandung di dalamnya, sejumlah penelitian menyarakan untuk melakukan inovasi produk olahan berbahan dasar kacang.
“Kacangan-kacangan lokal dapat dijadikan bahan baku pangan lokal darurat, termasuk food bar atau snack bar dengan tujuan tertentu,” tulis penelitian tersebut

Penting namun terbaikan
Penelitian Vilakazi dan kolega (2025) menunjukkan, kacang-kacangan yang terabaikan adalah tanaman budidaya dengan sifat-sifat berguna tetapi kurang penting dibandingkan tanaman utama dunia. Ini dikarenakan keterbatasan pasokan dan penggunaan.
Kacang-kacangan yang terabaikan ini termasuk kacang marama, kacang kuda, kacang beras, kacang rumput, kacang ngengat, kacang tepary, lupin andes, kacang merpati, kacang tanah bambara, dan kacang tunggak yang banyak ditemukan di Indonesia.
Seperti disebutkan sebelumnya, jenis kacang-kacangan ini tinggi protein –nutrisi penting bagi negara-negara berkembang yang akan menghadapi tantangan iklim serta kerawanan pangan di masa depan.
Kerawanan pangan dipicu proyeksi akan tingginya permintaan produk pangan yang sejalan dengan peningkatan populasi manusia (9,7 miliar pada 2050). Buruknya lagi, pemenuhan pangan saat ini banyak berasal dari praktik pertanian konvensional yang bergantung pada monokultur dan pupuk sintetis, yang berkontribusi terhadap degradasi lingkungan, termasuk emisi gas rumah kaca dan penurunan kesehatan tanah.
“Legum (kacang-kacangan) terabaikan sangat penting untuk masalah ini karena menyediakan berbagai layanan sambil mematuhi standar keberlanjutan,” tulis Vilakazi dan kolega.

Legum terabaikan memiliki potensi besar dalam pertanian, karena kemampuan efektifnya memindahkan nitrogen terikat ke tanaman pendamping, yang secara signifikan menurunkan biaya pupuk.
Sangat penting untuk mendorong diversifikasi tanaman ini mengingat potensi hasil panen dan nilai gizinya yang tinggi, yang pada gilirannya krusial untuk meningkatkan gizi nasional, mencapai kedaulatan pangan 100 persen, dan meningkatkan keuntungan ekonomi petani.
Bagi petani kecil yang terbatas sumber daya, legum yang digunakan dalam rotasi tanaman dapat memperbaiki kondisi keuangan.
“Ketika diintensifkan dalam sistem tumpang sari, legum terabaikan mampu meningkatkan hasil panen dan stabilitas produksi serta memberikan jaminan perlindungan petani. Legum juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan penanganan tantangan iklim,” tegas penelitian tersebut.
Sebagai informasi, Ambrosia Ero bersama sejumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas Gebetan, secara konsisten menyuarakan dan melakukan gerakan pelestarian pangan lokal termasuk kacang-kacangan di Desa Tapobali.
“Kami percaya, pengetahuan leluhur tentang pangan lokal ini akan sangat berguna ditengah ketidakpastian iklim saat ini dan masa depan,” paparnya.
Referensi:
Naisali, H., Witoyo, J., & Utoro, P. (2023). Local Legumes from Dry Land of East Nusa Tenggara: Diversity, Nutritional Composition, and Their Use in Society -A Literature Study. JITIPARI (JurnalIlmiah Teknologi Dan Industri Pangan UNISRI), 8, 155–166. https://doi.org/10.33061/jitipari.v8i2.9054
Ngginak, J. (2024). Sebaran Tanaman Golongan Kacang-Kacangan (Leguminosae) di NTT. Penerbit NEM.
Palimbong, S., Pratamaningtyas, N., Prasetyo, K., Pangan, T., Kedokteran, F., Gizi, F., & Kedokteran. (2018). Analisis Proksimat Berbagai Jenis Kacang-kacangan yang Tumbuh di Pulau Timor-NTT.
Vilakazi, B., Mafongoya, P. L., Odindo, A. O., & Phophi, M. M. (2025). The role of neglected grain legumes in food and nutrition security and human health. Sustainability, 17(1), 350.
*****