- Kucing kuwuk yang disebut juga kucing hutan merupakan satwa dilindungi yang sering terpantau malam hari di pinggiran hutan.
- Edukasi mengenai kucing kuwuk penting dilakukan karena masih banyak kesalahpahaman masyarakat terhadap satwa liar bernama latin Prionailurus bengalensis ini.
- Memelihara kucing hutan tanpa izin juga punya risiko. Selain berpotensi melanggar aturan, kucing hutan juga bisa mengalami perubahan perilaku, terpapar penyakit, maupun tidak mendapatkan kebutuhan hidup sebagaimana di alam.
- Bentuk penyelamatan terbaik kucing kuwuk adalah memastikan habitatnya tetap tersedia dan menjalani hidupnya di alam.
Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba melihat kucing kuwuk tengah malam? Bagi Burhanuddin Ihsan Alfani (26), jawabannya sederhana. “Seperti jackpot” merujuk hadiah utama permainan game.
Alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) University itu, sudah biasa pengamatan satwa liar malam. Namun, menjumpai kucing liar dilindungi ini tetap pengalaman berbeda.
Prionailurus bengalensis bukan target utama pengamatan Ihsan dan rekannya empat tahun lalu. Mereka biasa mencari reptil, amfibi, serangga, dan burung nokturnal.
“Malam itu seperti biasa,” terangnya, Jum’at (18/9/26).
Mereka awalnya melihat sepasang mata menyala di ujung jalan, yang dianggap burung. Sebab, ukurannya kecil dan cahaya yang dipantulkan terlihat kekuningan pucat.
Mereka mendekat. Setelah diperhatikan lebih jelas, terlihat corak tubuhnya.
“Kucing hutan.”
Kamera dikeluarkan. Satu jepretan dilakukan. Namun, flash kamera membuat satwa itu lari dan hilang.
Mereka tidak mengecar, hanya menunggu di tempat semula. Beberapa saat kemudian, kucing kuwuk yang disebut kucing hutan juga, kembali terlihat meski berjalan di antara semak.

Kemunculan kucing kuwuk sulit diprediksi
Perjumpaan dengan kucing kuwuk merupakan pengalaman paling diingat Ihsan, karena kemunculannya tak pernah benar-benar bisa diprediksi.
Pada suatu kesempatan, kucing kuwuk pernah di lihat menyebrang jalan. Jaraknya sekitar enam hingga tujuh meter. Namun, cahaya kendaraan membuatnya menghilang di tutupan vegetasi.
Kucing kuwuk kadang muncul secara tiba-tiba, berjalan sebentar, lalu berlari sebelum kamera sempat diarahkan.
“Ukurannya kecil, malam dan gelap, mau keluarkan kamera juga susah.”
Menurut Ihsan, waktu kemunculan kucing kuwuk beragam. Ada yang dijumpai sekitar pukul 20.00. Ada yang terpantau pukul 22.00 hingga 23.00. Bahkan, pernah terlihat sekitar 03.00-04.-00 dini hari.
Karakternya yang sensitif membuat perjumpaan langsung jadi hal istimewa.
“Ketemu ular, kodok, serangga atau reptil sudah biasa.”
Satu lokasi perjumpaan ada di kawasan Taman Hutan Kampus IPB, yang punya pepohonan besar dan semak belukar. Lokasi juga tidak jauh dari sungai. Felidae penyendiri ini terlihat diantara semak-semak.
“Kucing kuwuk tidak sama dengan kucing domestik. Kemiripan bentuk tubuh tidak berarti satwa liar tersebut bisa ditangkap, dipelihara, atau diperlakukan seperti kucing rumahan.”

Kucing kuwuk beda dengan kucing domestik
Erwin Wilianto, Independent Conservation Practitioner dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, menilai edukasi mengenai kucing kuwuk penting dilakukan karena masih banyak kesalahpahaman masyarakat terhadap satwa liar tersebut.
Kucing kuwuk, kerap jadi korban logika yang keliru. Kerusakan hutan, misalnya, sering dijadikan alasan untuk menangkap dan memelihara satwa yang ditemukan di alam.
Di media sosial, Erwin kerap membaca pernyataan seperti “Hutannya saja digunduli, dibakar. Lebih baik diselamatkan dan dipelihara ketimbang di hutan.”
Menurut Erwin, cara berpikir tersebut hanya menawarkan satu solusi terhadap persoalan kerusakan habitat, yakni membawa satwa ke rumah.
Padahal, jika persoalannya adalah hilangnya habitat, solusi yang perlu diperkuat justru perlindungan dan pemulihan habitat.
“Kalau ingin memberikan rumah yang baik, perbaiki dan perkuat habitatnya,” terang Erwin, Jumat (18/9/26).
Memelihara kucing hutan tanpa izin juga punya risiko.
Selain berpotensi melanggar aturan, kucing hutan juga bisa mengalami perubahan perilaku, terpapar penyakit, maupun tidak mendapatkan kebutuhan hidup sebagaimana di alam. Makanan yang mahal dan kandang bagus, kata Erwin, belum tentu menjamin kesejahteraan satwa menyeluruh.
Interaksi sosial, ruang jelajah, perilaku berburu, hingga kesempatan menjalankan perilaku alaminya tidak selalu bisa digantikan di lingkungan manusia.

Kesalahpahaman lain muncul, tatkala kucing kuwuk terlihat di sekitar tepi hutan atau kawasan yang berbatasan dengan kebun.
Kehadiran mereka tidak serta-merta menunjukkan hutan dalam kondisi buruk.
Sebagai mesopredator, kucing kuwuk memang bisa memanfaatkan kawasan peralihan atau ekoton yang menyediakan mamalia kecil, reptil, dan burung sebagai sumber pakan.
“Kawasan pinggiran hutan yang berbatasan dengan kebun juga bisa jadi bagian ruang jelajahnya.”
Begitu pula tatkala masyarakat menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Kondisi ini tidak otomatis berarti anak ditinggalkan induknya.
Induk bisa meninggalkan anak untuk sementara waktu saat mencari makan. Oleh karenanya, Erwin ingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membawa anak kucing kuwuk ke rumah. Niat menyelamatkan harus disertai pemahaman mengenai perilaku satwa.
“Edukasi penting, agar kepedulian kita terhadap kucing kuwuk tidak berujung pada tindakan merugikan.”
Dalam banyak kasus, bentuk penyelamatan terbaik adalah memastikan habitatnya tetap tersedia dan kucing kuwuk bisa menjalani hidupnya di alam.
*****
Dari Hutan ke Kebun Sawit, Bagaimana Cara Kucing Kuwuk Beradaptasi?