- Papua merupakan wilayah yang mendukung keanekaragaman reptil. Pulau ini memiliki hutan hujan tropis, pegunungan tinggi, rawa, dan pesisir yang menjadi rumah berbagai jenis ular.
- Sekumpulan peneliti dari Amerika, Australia, Papua Nugini, dan Inggris baru-baru ini mengumumkan penemuan spesies baru ular tanah dari Papua. spesies baru ini diberi nama salah satu personel Guns N’ Roses, sebuah grup band rock asal Amerika yang pernah menghasilkan lagu “Welcome to the Jungle.”
- Nama ilmiah ular tanah spesies baru itu adalah Lielaphis slashi. Secara morfologi, tampilan L. Slashi terbilang sederhana sebagaimana umumnya ular tanah. Warna punggung cokelat polos kemerahan tanpa pola mencolok. Bagian bawah berwarna putih hingga krem. Bentuk kepala sederhana. Dari kepala sampai ekor, panjangnya sekitar 60-70 cm.
- Ular tanah Slash memang tidak mengancam manusia. Namun, justru aktivitas manusia yang berpotensi jadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya dan makhluk lain di hutan sekunder Papua.
Papua merupakan wilayah yang mendukung keanekaragaman reptil. Pulau ini memiliki hutan hujan tropis, pegunungan tinggi, rawa, dan pesisir yang menjadi rumah berbagai jenis ular. Medan yang sulit dan luas menjadi tantangan tersendiri bagi ilmu pengetahuan untuk menguak tabir kekayaan hayati pulau terbesar kedua di dunia ini.
Sekumpulan peneliti dari Amerika, Australia, Papua Nugini, dan Inggris baru-baru ini mengumumkan penemuan spesies baru ular tanah dari Papua. Hasil penelitian mereka dimuat dalam jurnal Zootaxa, Agustus 2026, dengan judul “A new species of Papuan groundsnake (Squamata: Colubridae: Lielaphis) from New Guinea.”
Dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern, mereka berhasil mengidentifikasi spesies ular tanah baru. Uniknya, spesies baru ini diberi nama salah satu personel Guns N’ Roses, sebuah grup band rock asal Amerika yang pernah menghasilkan lagu “Welcome to the Jungle.”
“Guns N’ Roses merupakan band favorit saya sejak saya kelas satu, dan pada kelas lima, saya sudah mengatakan kepada guru saya bahwa saya ingin menjadi herpetologi–ilmuwan yang mempelajari reptil–saat saya dewasa,” kata Sara Ruane, peneliti dan penulis laporan itu mewakili rekan-rekannya, dikutip dari Phys.org.
Suatu ketika Ruane menerima majalah Reptiles, dan ada foto Slash (Saul Hudson), gitaris Guns N’. Roses sedang memegang ular phyton. Ruane terkesan dengan tampilan Slash dan menganggapnya keren.
“Saya membaca ulang wawancaranya, dan dia berbicara tentang betapa dia mencintai museum, kebun binatang, dan sejarah alam, dan tentang bagaimana saat dia kecil, dia keluar dan mencari ular–semua itu adalah hal yang sangat saya hubungkan, dan itu membuat saya berpikir bahwa dia akan menjadi orang yang tepat untuk menamai spesies baru,” kata Ruane.
Nama ilmiah ular tanah spesies baru itu adalah Lielaphis slashi.
“Epitet spesies ini merupakan sebuah patronim untuk menghormati Saul Hudson, yang lebih dikenal secara populer dan profesional sebagai musisi “Slash”, atas dukungannya seumur hidup terhadap museum dan kebun binatang, khususnya atas kecintaannya terhadap ular. Slash sering mempromosikan dan bertindak sebagai pembela bagi ular melalui berbagai media selama bertahun-tahun,” tulis laporan di jurnal itu.
Apa komentar Slash saat tahu dirinya dijadikan nama spesies ular?
“Sebagai seorang herpefil lama, saya sangat terhormat dan terharu karena ular tanah Lielaphis slashi dari Papua Nugini dinamai sesuai nama saya. Ini benar-benar sesuatu yang menggembirakan, saya tidak pernah membayangkan momen ini akan datang,” kata Slash, seperti dikutip Phys.org.

Nokturnal
Secara morfologi, tampilan L. Slashi terbilang sederhana sebagaimana umumnya ular tanah. Warna punggung cokelat polos kemerahan tanpa pola mencolok. Bagian bawah berwarna putih hingga krem. Bentuk kepala sederhana. Dari kepala sampai ekor, panjangnya sekitar 60-70 cm.
Ular yang diteliti berasal dari Desa Utai, Provinsi Sanduan, Papua Nugini. Ada pula dari Tanjung Kalibobo, Provinsi Madang, Papua Nugini.
“Informasi sejarah alami spesies ini masih kurang, tetapi individu yang ditemukan berasal dari hutan sekunder yang sebagian besar belum terganggu. Saat ini, spesies tersebut diketahui dari wilayah utara pegunungan tengah di Provinsi Sanduan, East Sepik, dan Madang, Papua Nugini, dan mungkin juga terdapat di Provinsi Papua, Indonesia, (khususnya) di utara pegunungan tengah,” tulis laporan itu.
Sebagian ular yang diteliti berasal dari tangkapan Chris Austin, herpetolog Louisiana State University, saat melakukan penelitian lapangan pada 2006 lalu.
“Ular tanah New Guinea ini aktif malam hari. Mereka biasanya ditemukan tepat setelah matahari terbenam di pangkal pohon besar, saat berburu mangsa,” kata Austin.

Warnanya yang tersamar tanah, aktif malam hari, dan kemampuannya meluncur cepat membuat pengamatan di alam liar sulit dilakukan. Akibatnya, pengetahuan tentang spesies baru ini masih terbatas. Namun, fitur-fitur anatomi ular ini telah memberi beberapa petunjuk.
“Ular dalam genus ini sering memiliki gigi besar di bagian belakang mulut mereka, yang dapat digunakan untuk menangkap dan memakan kadal kecil bersisik licin serta telur reptil lain,” lanjut Ruane.
Meski ular spesies baru ini tidak berbisa, namun sebaiknya tetap berhati-hati saat bertemu malam hari.
“Saat bekerja malam hari di Papua Nugini, Anda harus hati-hati, karena ada beberapa spesies sangat berbisa yang sangat mirip dengan ular tanah yang tidak berbisa,” kata Austin.
Ular tanah Slash memang tidak mengancam manusia. Namun, justru aktivitas manusia yang berpotensi jadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya dan makhluk lain di hutan sekunder Papua.
Meski bukan hutan primer, lokasi ini masih menyediakan tempat alami bagi spesies endemik. Saat ini usaha pertambangan dan budidaya kopi mengancam habitat ular Slash.
“Itulah salah satu alasan mengapa mendeskripsikan spesies yang hidup di sana penting. Setiap spesies harus diakui agar kita dapat lebih memahami bagaimana ekosistem bekerja, bagaimana segala sesuatu cocok dengan lingkungan. Kita tidak bisa melestarikan hewan atau makhluk hidup lain yang tidak kita ketahui,” ujar Ruane.

Ular Papua
Papua memang bukan hanya rumah bagi burung cenderawasih, kasuari, atau berbagai jenis mamalia unik lain. Di antara pepohonan, semak, sungai, hingga perairan laut, hidup pula kelompok reptil yang sering kali justru dihindari manusia.
Meski dihindari, ular berfungsi amat penting. Yaitu, menjaga keseimbangan rantai makanan dan pengendali alami populasi hama. Tanpa ular, ekosistem bisa terganggu karena ledakan populasi tikus, burung kecil, atau hewan lain yang mereka mangsa.
Bahkan, meski sebagian besar jadi momok dan sangat berbahaya bagi manusia, ternyata ada pula yang kanibal. Yaitu, memangsa ular lain termasuk jenisnya sendiri. Hal ini berperan dalam menjaga keseimbangan jumlah predator kunci di habitat hutan tropis.
Contohnya adalah ular putih Papua (Micropechis ikaheka), yang disebut sebagai spesies paling berbahaya di dunia, bahkan lebih mematikan daripada kobra. Ular ini diketahui endemik Papua dan Papua Nugini, hidup di hutan tropis dataran rendah hingga pegunungan.
Tubuhnya berwarna putih kekuningan dengan kepala kecokelatan, sehingga mudah dikenali. Meski penampilannya unik, reputasinya menakutkan karena bisa menimbulkan kematian dalam waktu singkat. Racunnya bekerja sangat cepat. Gigitannya dapat menyebabkan kelumpuhan otot, gangguan pernapasan, hingga kematian. Hingga kini, belum ada antivenom khusus efektif untuk mengatasi bisanya.

Penelitian Keliopas Krey dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Jurnal Biologi Vogelkop memberikan gambaran mengenai keragaman ular Papua. Penelitian tersebut memeriksa koleksi spesimen ular dari Laboratorium Zoologi Universitas Papua (LZU) di Manokwari dan membandingkannya dengan koleksi dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) di Cibinong, Jawa Barat.
Setidaknya, terdapat 83 spesies ular yang telah dilaporkan dari Papua. Penelitian menemukan 30 spesies di antaranya ada dalam koleksi LZU dan 43 spesies lainnya dalam koleksi MZB. Sementara 10 spesies tidak terdapat dalam koleksi. Salah satu bagian paling menarik dari penelitian ini adalah sebagian besar ular papua adalah pemangsa reptilia, disusul amfibia, mamalia, dan ikan bertulang sejati. Keragaman makanan tersebut menunjukkan betapa fleksibelnya ular di Papua dalam memanfaatkan sumber makanan yang tersedia.
Referensi:
Allison, A., Austin, C. C., Oliver, P. M., Kraus, F., & Richards, S. J. (2026). A new species of Papuan groundsnake (Squamata: Colubridae: Lielaphis) from New Guinea. Zootaxa, 5866(2), 251–266. https://doi.org/10.11646/zootaxa.5866.2.6
*****
Lebih Mematikan dari Kobra, Ular Putih Papua Belum Ada Antivenomnya