- Kebakaran melanda kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Faktor alam diduga jadi pemicu utama.
- Warga melihat api awalnya muncul di sekitar Kawah Wadon. Mereka pun berjibaku memadamkan api hingga bermalam.
- Sadtata Noor Adirahmanta, Kepala Balai Besar TNGGP, mengatakan masih mendalami faktor kebakaran. Berdasarkan hasil pemantauan awal, faktor alam jadi pemicu kebakaran.
- Kebakaran juga terjadi di alun-alun barat Surya Kencana, salah satu lokasi pendaki mendirikan tenda perkemahan, Kamis (6/8/26). Sadtata memperkirakan kebakaran melanda area seluar 1 hektar.
Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung.
Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada berkumpul.
Mereka bergerak cepat ke atas gunung untuk mengecek sumber api. Dia bilang, sebagian warga berangkat pagi, lainnya selepas salat Jumat.
“Ada yang jalan jam 7.00, jam 9.00 pagi. Kalau saya, mah, jalan abis jumatan,” katanya, kepada Mongabay.
Kampung Ading merupakan pemukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Hanya butuh dua jam jalan kaki untuk mencapai Kawah Wadon. Rombongan Acep berjumlah 15 orang itu sampai menjelang sore. Di sana, dia melihat warga lain sudah berjibaku memadamkan api di sekitar kawah.
“Warga padamkan pakai alat seadanya. Ada yang bawa pacul, cangkul, ada yang pakai air.”
Sumber air yang jauh membuat warga kesulitan menjangkau air saat memadamkan api. Mereka mesti berjalan kaki hingga satu jam ke Kandang Badak untuk mengambil air.
Dia mengatakan, warga hanya bisa mengangkut air dengan wadah botol mineral lima liter bekas. Mereka bergantian memikul air dari Kandang Badak hingga ke titik api.
Perlu waktu berjam-jam hingga api padam. Namun, api kembali berkobar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, sebagian warga bermalam di sekitar lokasi sambil terus berusaha padamkan api.
“Nyala lebih besar. Makanya pas malam itu (warga) enggak ada yang tidur. Ada juga yang mungkin enggak kuat, alhamdulillah dikasih oksigen,” ujarnya.
Warga Kampung Gunung Putri juga turut padamkan api. Mereka bergiliran pergi ke gunung dengan membawa tenda dan logistik, seperti makanan, P3K, selimut, dan segala perkakas untuk padamkan api.
Bagi warga yang tidak ikut turun ke lokasi mereka membantu menyumbang uang dan perbekalan logistik. Dadang, misal, pemilik basecamp pendakian ini turut nyumbang uang untuk beli perbekalan.
“Saya nyumbang hampir sejuta. Basecamp lain juga ikut nyumbang, tetapi enggak tau berapa karena sukarela aja,” ucap warga Kampung Gunung Putri ini saat Mongabay hubungi lewat telepon.
Menurut dia, warga dan para relawan masih berjibaku memadamkan api hingga Rabu malam, 12 Agustus 2026. Ada sekitar 13 warga Kampung Gunung Putri yang bersiaga di lokasi.
Nina, warga Kampung Ading, juga nyatakan api masih menyala di sekitar Kawah Wadon. Dia melihat dari kebunnya yang berjarak sekitar 3-4 kilometer ke lokasi kebakaran.
“Sekarang tuh semakin kelihatan gelap gunungnya. Pertama kali mah nggak begitu gelap gunungnya,” katanya kepada Mongabay, Rabu (12/8/26).
Kobaran api juga nampak jelas dia lihat dari Kampung Ading. Bahkan aroma terbakar pun tercium hingga ke pemukiman warga saat angin berhembus. Nina mendesak, pemerintah terutama pihak TNGGP untuk segera memadamkan api.
Dia khawatir skala kebakaran semakin meluas hingga ke perkebunan warga dan mengganggu aktivitas mereka.

Faktor alam?
Sadtata Noor Adirahmanta, Kepala Balai Besar TNGGP, mengatakan masih mendalami faktor kebakaran. Berdasarkan hasil pemantauan awal, faktor alam jadi pemicu kebakaran.
“Kawah Wadon merupakan zona inti TNGGP yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas wisata maupun pendakian, sehingga sangat minim aktivitas manusia,” ucap Sadtata dalam keterangan pers tertulis yang Mongabay terima, Rabu (12/8/26).
Rekaman kamera pengawas milik Pos Pengamatan Gunung Api Gede (PGA) Ciloto, katanya, tidak menemukan keberadaan manusia di lokasi sebelum kebakaran terjadi. Musim kemarau, menurutnya, menyebabkan vegetasi mengering serta suhu tinggi di sekitar kawah.
“Diduga itu menjadi faktor pemicu terjadinya kebakaran.”
Hasil identifikasi sementara menunjukkan vegetasi yang terbakar dominan semak belukar dan rerumputan. Sadtata menegaskan, tidak ada tanaman edelweis–endemik Gunung Gede Pangrango–pada area terdampak kebakaran.
Angka pasti luasan kebakaran masih simpang siur. Dia bilang, luas area terbakar di Kawah Wadon mencapai 5,8 hektar. Sementara pemerintah Kabupaten Cianjur mencatat luas area terbakar mencapai 20 hektar, mencakup Kawah Wadon dan Alun-Alun Suryakencana.
Saat ini, tim sedang menangani 4 titik kepulan asap. Satu titik bara terdapat di tebing di bagian timur kawah yang sulit terakses karena kondisi medan curam. Meski demikian, titik tersebut berada pada area terisolir sehingga potensi api menjalar dinilai relatif kecil.
“Di sekitar lokasi juga telah dibuat sekat bakar dengan lebar sekitar 2 meter, yang membentang dari ujung barat hingga ujung timur area terdampak.”
Menurut dia, petugas sedang melakukan penyisiran kembali untuk memastikan area di sekitar titik bara telah benar-benar padam. TNGGP pun mendirikan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan sebagai pusat komando dan logistik di lapangan. Dia bilang, posko ini untuk memperlancar koordinasi, komunikasi, dan pendataan selama proses pamdaman.
Mereka juga mendirikan dapur umum di Pos Kandang Badak untuk mendukung logistik memenuhi konsumsi tim di lapangan. Sekitar 27 orang yang terdiri dari petugas taman nasional, tentara, serta masyarakat juga berangkat untuk mendukung penanganan kebakaran.
Sebelumnya ratusan personel gabungan dari Pemkab Cianjur, BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni, dan relawan pecinta alam juga terjun memadamkan api.

Kebakaran di lokasi perkemahan
Kebakaran juga terjadi di alun-alun barat Surya Kencana, salah satu lokasi pendaki mendirikan tenda perkemahan, Kamis (6/8/26). Sadtata memperkirakan kebakaran melanda area seluar 1 hektar.
“Vegetasi yang terbakar didominasi oleh hamparan rumput kering dan sebagian vegetasi berkayu,” ucapnya.
Titik kebakaran berada pada radius sekitar 500 meter dari kawasan sabana edelweis menuju ke arah hutan. Petugas bersama relawan dan warga berhasil memadamkan api pada hari itu juga sehingga tidak meluas ke area lain.
Dadang, warga Gunung Putri, turut membantu proses pemadaman api di Surya Kencana. Dia menjelaskan, pemicu kebakaran dari sambaran api gas portable pendaki yang bocor.
“Gas kompornya bocor. Dia kaget dilemparkan ke area kering jadi kebakaran di Surken,” ucapnya.
Akibat kebakaran, jalur pendakian Gunung Gede Pangrango tutup sementara sejak 7–11 Agustus. Kemudian diperpanjang 12–18 Agustus. Penutupan bertujuan memaksimalkan penanganan kebakaran dan menjamin keselamatan para pendaki.

*****
Ketika Perempuan Paling Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalsel