- Sepanjang 2024 hingga April 2026, BKSDA Yogyakarta menerima serahan enam individu kucing kuwuk dari masyarakat. Sebagian merupakan peliharaan dan lainnya ditemukan tidak sengaja di sekitar permukiman.
- Meski berukuran kecil, Leopard Cat punya peran ekologis penting sebagai predator. Keberadaanya membantu mengontrol populasi hewan kecil seperti tikus, burung, dan reptil. Peran ini jadi krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
- Ancaman utama kehidupan kucing kuwuk adalah hilangnya habitat yang dapat meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Selain itu, potensi perdagangan ilegal tetap jadi ancaman nyata.
- Pendekatan berbasis ilmiah sangat penting, agar kebijakan yang diambil benar-benar efektif dan tidak salah arah. Tanpa data yang kuat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran, bahkan berpotensi merugikan kucing kuwuk.
Bagaimana kesadaran masyarakat Yogyakarta terhadap kelestarian kucing kuwuk?
Darmanto, Kepala BKSDA Yogyakarta, mengatakan sebagian masyarakat kini paham bahwa Prionailurus bengalensis bukan hewan peliharaan. Kucing ini jenis dilindungi dan habitatnya di hutan.
“Secara sukarela mereka menyerahkan ke kami,” jelasnya melalui keterangan tertulis kepada Mongabay, Rabu (1/4/2026).
Sukarela yang dimaksud Darmanto merujuk penyerahan kucing kuwuk oleh Fitria, warga Sleman, kepada BKSDA Yogyakarta, Senin (2/3/2026) lalu. Fitria menyerahkan kucing hutan yang didapat dari temannya itu dan sempat ia pelihara tiga minggu.
“Perubahan sikap tersebut jadi penanda penting dalam upaya konservasi satwa liar, khususnya di Yogja yang luas kawasan hutanya tersisa antara 18-19 ribu hektar.”
Sepanjang 2024 hingga Maret 2026, BKSDA Yogyakarta menerima serahan enam individu kucing kuwuk dari masyarakat. Sebagian merupakan peliharaan dan lainnya ditemukan tidak sengaja di sekitar permukiman.
Darmanto menjelaskan, kucing ini sulit dijumpai secara langsung di habitatnya. Aktivitasnya cenderung nokturnal dan sifat soliternya membuat satwa ini lebih sering ‘tertangkap’ kamera dibanding terlihat manusia. Keberadaannya juga diketahui secara tidak langsung melalui kotoran/feses.
“Kucing hutan yang terekam di kawasan konservasi dalam kondisi sehat, meski data populasinya di alam liar terbatas.”

Sebagai predator alami
Meski berukuran kecil, Leopard Cat punya peran ekologis penting sebagai predator. Keberadaanya membantu mengontrol populasi hewan kecil seperti tikus, burung, dan reptil. Peran ini jadi krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Tanpa predator alami, populasi mangsa bisa meningkat dan berdampak pada kerusakan lingkungan.
Dalam konteks pertanian, kehadiran keluarga Felidae juga berkontribusi mengendalikan hama, terutama tikus yang merusak tanaman.
“Kucing kuwuk adalah predator yang berperan mengontrol populasi mangsanya di alam.”
Satu andalannya adalah kemampuan beradaptasi dengan berbagai habitat. Ia bisa hidup di hutan hujan tropis, hutan sekunder, semak belukar, juga kawasan pertanian.
“Di Yogja, satwa ini tercatat berada di beberapa lokasi seperti hutan adat Wonosadi dan hutan pendidikan Wanagama, juga kawasan konservasi lain,” lanjut Darmanto.
Kemampuan adaptasi memungkinkannya bertahan di tengah perubahan lanskap. Namun, kedekatannya dengan manusia juga meningkatkan potensi interaksi yang tidak selalu menguntungkan. Fenomena pemeliharaan satwa liar, termasuk kucing kuwuk di masyarakat, umumnya berakar dari ketidaktahuan.
Kucing congkok, sebutannya juga, kerap disalahartikan sebagai kucing biasa. Hal ini karena penampilannya mirip kucing domestik. Padahal, sosoknya punya naluri liar yang kuat.
Seiring meningkatnya sosialisasi, pemahaman warga mulai berubah. Informasi mengenai status perlindungannya makin diketahui.
“Upaya kami mulai dari pendidikan lingkungan di sekolah hingga pertemuan warga membuahkan hasil.”
Walau belum ditemukan kasus perburuan di Yogyakarta, ancaman terhadap kucing ini tetap ada, terutama hilangnya habitat yang dapat meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Perubahan penggunaan lahan seperti pembangunan dan pertanian juga bisa mengurangi ruangnya. Selain itu, potensi perdagangan ilegal tetap jadi ancaman nyata.
“Ada sanksi hukum terhadap satwa dilindungi. Pemahaman ini kami berikan terus ke warga.”

Minim data ilmiah
Zulqarnain Assiddiqi, Direktur Eksekutif Endemic Indonesia Society, menuturkan meski kesadaran publik mulai tumbuh, tantangan tak kalah penting adalah minimnya data ilmiah keberadaannya di Jawa.
Hingga kini, informasi dasar seperti jumlah populasi belum diketahui pasti.
“Lalu, bagaimana kita bicara soal erosi genetik?” jelasnya, Rabu (8/4/2026).
Isu seperti fragmentasi habitat dan dampaknya terhadap pertukaran genetik antarpopulasi memerlukan penelitian mendalam. Menurutnya, belum tentu habitat yang terpisah secara geografis benar-benar teriolasi secara ekologis.
“Jika masih ada konektivitas, maka pertukaran genetik masih bisa terjadi.”
Zulqarnain menilai, langkah paling mendasar saat ini adalah mengumpulkan dan menyatukan data yang ada, serta mendorong penelitian lebih lanjut.
Pendekatan berbasis ilmiah sangat penting, agar kebijakan yang diambil benar-benar efektif dan tidak salah arah. Tanpa data yang kuat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran, bahkan berpotensi merugikan satwa itu sendiri.
“Kalau spesies ini hilang, keanekaragaman hayati kita berkurang.”
Dia contohkan, jika peran kucing kuwuk sebagai pengendali hama di alam optimal, maka kebutuhan terhadap pestisida bisa berkurang.
Berbeda dengan satwa ikonik seperti elang jawa yang punya nilai simbolik kuat bagi negara, kucing kuwuk, kata Zulqarnain, tidak punya ‘posisi politik’ yang sama dalam narasi konservasi.
Meski demikian, setiap spesies punya nilai penting dalam ekosistem. Ketiadaan status ikonik tidak berarti satwa tersebut kurang penting untuk dilindungi.
*****